Lontong

Pikiran itu terbesit begitu saja. Tiba-tiba, tanpa tanda waspada. Dan imbasnya cukup besar.

Bukan tentang pelajaran. Bukan tentang agama. Bukan tentang anime. Bukan tentang steker speaker saya yang patah sehingga memaksa saya untuk memakai headphone untuk sementara waktu. Bukan pula tentang tombol telepon seluler saya yang lepas sehingga sekarang mesti saya tambal dengan selotip (Hape diselotip? Harga dirimu mana bung?). Bukan pula masalah sandal Nike orisinil yang saya beli, yang sudah tua dan datar tapaknya — menyebabkannya licin dan potensial untuk mempermalukan saya dengan menggelincirkan diri.

yummy~
“Selera makan yang tiba-tiba? Lho, apa salah?”

Lalu apa?

Lontong.

Ya. Saya tiba-tiba merasa tidak puas dengan adat istiadat saya yang selepas bangun pagi makan roti lapis ham, mi instan, atau tidak makan sama sekali (yang ini lebih sering). Saya tidak puas berjalan kaki menuju kampus, merogoh kocek demi roti canai yang agung itu, dan menyantapnya sebelum kelas dimulai. Saya ingin lontong! Saya ingin makanan ajaib itu, yang didapat dengan menyantroni warung lontong depan SMA saya di Pekanbaru. Sembari mengendarai sepeda motor Suzuki Shogun yang bugil tanpa strapping. Sembari mendengarkan lagu-lagu lawas Rancid di telinga.

Di sekitar tempat tinggal saya, TIDAK ADA makanan surgawi seperti itu. Huahahahaha, tidak ada. Tidak ada. Kalaupun ada yang bergelar sama, sejauh pengetahuan saya, rasanya di lidah ngelantur lumayan jauh. Kalaupun ada, saya ragu dapat disantap sampai perut penuh dan sulit bergerak dengan harga empat ribu rupiah seperti yang saya harapkan. Dunia memang kejam.

Di atas bumi sejauh ingatan saya hanya ada dua warung lontong yang mampu membuat saya terpaku, terpana, dan takjub dengan kelezatannya. Yang pertama ya yang di depan SMA saya itu. Yang kedua saya tidak tahu di mana letaknya. Ayah saya yang biasa membelinya, terutama di hari Minggu pagi atau hari libur lainnya. Konon dibeli di sebuah jalan besar yang dekat dengan rumah kami. Izinkan saya bercerita tentang lontong misterius ini dulu.

Lontong sayur misterius nan surgawi yang biasa dibeli ayah saya itu, biasanya setelah diboyong ke teritorial dapur, akan segera diletakkan ibu saya di sebuah mangkuk besar, untuk kemudian dimangsa seisi rumah. Untuk bagian-bagian lontong yang kemudian berpindah ke piring saya, jangan mengharapkan sisa. Lontong, mi, sayur, kuah, dan segala komponen sistemnya sudah dapat dipastikan akan saya santap. Untuk komponen lainnya yang disisakan seisi rumah, juga akan mengalami nasib yang sama. Saya akan datang dua-tiga jam kemudian untuk mengecek apakah masih ada sisa-sisa lontong yang ternyata belum dikonsumsi. Setelah itu, saya dan adik saya akan segera bertindak sebagai seksi bersih-bersih.

*ngelap liur pake tisu*

Ahem.

Lontong berikutnya adalah lontong yang dibeli di warung lontong depan SMA saya.

Begini. Saya akan mengaku. Kantin SMA saya dulu memang mempunyai jasa menjual lontong yang berada di dalam sekolah. Seingat saya malah dua. Yang pertama ada sekitar beberapa meter dari sekretariat klub pecinta alam. Yang satu lagi di seberang tempat wudhu. Dua-duanya bisa mengisi perut, tapi tidak terlalu mengesankan bagi saya (maafkan saya, ibu-ibu penjual lontong intra sekolah…). Itu yang di dalam batas pagar sekolah. Nah, di luar pagar, ada satu lagi. Bagaimana saya sampai berkenalan dengan produk lontong yang satu ini?

Begini, alkisah pada akhir-akhir masa kelas satu, sahabat saya memberi kabar gembira bagi seisi kelas. Ada lontong enak. Surgawi, adiktif, dan ekonomis. Letaknya di luar sekolah. Jauh? Tidak. Anda cukup mengunjungi bangunan WC kami yang pada masa itu masih baru dan mengkilap. Hanya sekitar dua meter dari WC itu, ada pagar. Di luar pagar itu, langsung berbatasan dengan bagian belakang warung lontong yang ditargetkan. Surga ternyata dekat.

Bagaimana metode memesannya? Nah, ini sedikit ruwet. Anda mesti berkumpul di sekitar WC itu (apa ini alasannya kenapa tidak ada kaum hawa yang meminati lontong surgawi ini waktu itu?), lalu berteriak-teriak memanggil abang pengurus warung tersebut. Abang yang terkenal suka cemberut ini pun akan datang dan anda tinggal memesan. Tidak lama, lontong pun datang. Lontong sayur atau pecel, silahken pilih. Memesannya gampang. Yang sedikit menyulitkan justru menyelipkan piring itu dari pagar. Ah, jangan lupa membayar! Dan setelah anda selesai makan, mohon berganti jaga — kalau ada guru yang lewat, bisa berbahaya. Membeli makanan dari luar batas pagar adalah tindakan kriminal.

Lontong yang ini kuahnya gurih, tidak kental, tidak cair, dengan kadar viskositas optimal. Diperkaya seonggok bakwan kalau anda berniat membayar lebih. Sulit dibayangkan. Kalau anda tidak terbiasa memakannya, mungkin anda akan terhipnotis di hadapan daya magisnya yang fenomenal, sensasional, dan kontroversial. Saya biasanya pesan dengan dua onggok bakwan. Sewaktu makan lontong ini semua orang menjadi khusyuk. Mengobrol sambil makan lontong sekelas lontong ini bagi kami adalah blasphemy.

Sayangnya, pihak sekolah tidak menyenangi konsumerisme gerilya kami. Setiap upacara bendera, hampir pasti masalah ini akan disinggung (Apa iya, ya? Tidak tahu juga, saya tidak pernah memperhatikan pidato-pidatonya). Pihak sekolah tidak munafik. Para guru juga sering mampir ke warung tersebut. Tapi, LEWAT DEPAN. Bukan melalui buntut warung via pagar dan WC. Pakai keluar batas pagar. Pastinya di luar jam-jam sekolah, jam-jam di mana kami tentu tidak diperbolehkan keluar batas pagar hanya demi lontong surgawi.

Tapi kepala sekolah kami tidak bodoh. Awal kelas dua, seisi sekolah geger. Apa pasal?

Pada suatu hari, seorang teman saya berlari sekencang Gundala setelah bel tanda istirahat dikumandangkan. Saya menyempatkan diri untuk bertanya. Menurut beliau, perutnya sudah tidak tahan untuk diisi dengan ‘lontong WC’. Ya, itulah gelar yang disematkan ke lontong surgawi itu. Ironis? Mungkin. Tapi tidak mengubah kenyataan bahwa untuk membelinya memang lewat sebelah bangunan WC.

Lalu reaksi saya? Ikut berlari, tentu😀 Menyongsong lontong surgawi kembali di usus dan lambung kami.

Dan ketika sudah dekat, terlihatlah benda itu.

Pagar seng.

Betul. Bagian pagar di sekitar WC yang berbatasan langsung dengan warung lontong itu disegel. Dengan pagar seng. Kami pun terdiam. Hati kami hancur. Remuk redam. Bak pasukan kalah perang.

Teman saya bergumam; pihak sekolah telah menutup rezeki orang, katanya. Pihak sekolah sudah semena-mena menutup sumber penghasilan tambahan warung lontong tersebut. Kedengarannya memang suci. Tapi saya tahu, walau mulut kami mengucapkan kutukan atas nama ‘penutupan sumber penghasilan’, yang berdengung di jiwa kami tetaplah nafsu menyantap lontong surgawi. Lontong WC.

Yah, sebenarnya tidak semenyedihkan itu. Toh setelah itu, lebih kurang satu setengah tahun sesudahnya, saya terbiasa bangun cepat, lalu menyempatkan diri mampir dan memarkir sepeda motor saya di samping warung tersebut dan makan hampir tiap paginya. Kali ini legal, tanpa khawatir dikejar-kejar guru yang kebetulan sok patroli. Toh saya, dan kami semuanya setelah insiden tembok berlin itu masih makan lontong yang bermasalah ini — entah dengan mengunjunginya pagi-pagi, atau datang di hari libur. Dan tentunya menyantap lontongnya pada pagi hari memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Kelebihannya, jelas lontong yang lebih hangat dan segar. Kekurangannya? Terkadang pasokan bakwan (malah kadang mi) belum tersedia pada jam tujuh ke bawah. Saya mesti harap-harap cemas. Makan lontong surgawi tanpa bakwan dua onggok, rasanya belum afdhal.

Bagaimana dengan makan di sekolah? Tanpa lontong WC, saya terbukti masih mampu bertahan. Apalagi setelah itu bermunculan dua warung siomay dan batagor baru. Dua-duanya memiliki cita rasa sendiri. Yang satu mewah bermarwah, dan yang satu murah meriah. Yang mewah terasa khas siomay dan batagor sejati dan hakiki, yang murah menawarkan cita rasa asing yang memikat.

Begitulah. Itulah sepenggal kisah bagaimana saya bertemu lontong surgawi ini, bergerilya memangsanya, kalah perang, lalu mulai menyantapnya secara legal, halal, tanpa kontroversi dan rasa waswas.

*ngelap liur pake tisu*

* * *

Kembali ke kamar asrama saya. Lupakan memori SMA🙂

.

Sekarang, mesti dengan cara apa saya mengobati rindu? Di sini lontong setara tak tersedia.
Sekarang, mesti dengan cara apa saya mengobati rindu? Di sini lontong setara tak tersedia.
Sekarang, mesti dengan cara apa saya mengobati rindu? Di sini lontong setara tak tersedia.
Sekarang, mesti dengan cara apa saya mengobati rindu? Di sini lontong setara tak tersedia.
Sekarang, mesti dengan cara apa saya mengobati rindu? Di sini lontong setara tak tersedia.
Sekarang, mesti dengan cara apa saya mengobati rindu? Di sini lontong setara tak tersedia.
Sekarang, mesti dengan cara apa saya mengobati rindu? Di sini lontong setara tak tersedia.

.

Sengaja saya tanyakan tujuh kali sebab saya lahir di bulan Juli😛

Saya hanya berharap semoga saya bisa melupakan lontong surgawi tersebut (baik yang di depan SMA ataupun lontong misterius langganan ayah saya) setidaknya sampai saya bisa pulang ke Indonesia. Kalau tidak, saya tidak bisa konsentrasi. Tidak bisa konsentrasi memahami materi kuliah saya. Kalau sewaktu ujian saya jadi menjawab sekenanya lantaran depresi, bagaimana? Kalau saya disuspend kampus selama setahun karena ujian saya gagal semua, bagaimana? Hanya karena lontong? Kalau sudah begini, saya memang hanya bisa berdoa.

.

.

.

“Sekarang, mesti dengan cara apa saya mengobati rindu? Di sini lontong setara tak tersedia.”

In God We Trust. RosenQueen, company.

80 thoughts on “Lontong

  1. Saya tidak tahu, Pak. Bisa jadi bagi saya berlipat-lipat lezatnya karena beberapa faktor — kenangan, selera, de es te, de es te😛

    Bukankah hampir semua artikel kulineradalah subyektif?🙂

  2. wah istimewa tuh lonthong,
    biasanya kalo kebanyakan, efeknya kekenyangan
    efek kekenyangan ya BAB, nah sarananya tinggal disebelah

    paling nggak enak kan pas BAB dikejar-kejar guru, nggak manusiawikah? ngalami juga tho? he..he..he..

  3. laper laper laper,,

    Ma sih ga suka makan lontong,, emang enak banget ya,,??😉 jadi pengen nyoba juga nih,,

    *hiyyaa,, perut Ma krucuk krucuk!!*

    kalo buat orang Palembang sih, makanan fave yang bisa dimakan pagi-siang-malem, jadi makanan berat-snack,, itu cuma satu,, PEMPEK!!

  4. wah… ternyata.. :p

    jadi laper juga yah.. :p

    *ubek2 hape cari pic lontong sayur kemaren..*

    kalo dikasi liat picnya itu membantu meringankan kerinduan apa menyiksa yah ?

    met makan :p :p

  5. @ peyek
    Wah, sayang kami dulu nggak berpikir sejauh itu, Pak😀

    @ calupict
    Kejauhan, mah. E-Mail, deh😛

    @ Shan-in Lee
    Saya paham rasa gundahmu, tuanku😥
    Lontong… Oh lontong…

    @ Titah
    Iya, iya😥

    @ Rizma Fadlia
    Di sini pempek juga nggak ada. Suatu penderitaan, bukan?😉

    @ irdix
    Itu sih menyiksa!😆

  6. Sampai segitunya…? (o_0)”\

    Saya juga punya pengalaman yang mirip sih; tapi yang terlibat ibu penjual batagor. Beliau selalu dateng di gerbang belakang mesjid waktu SMA…

    …dan, suatu ketika, gerbang belakang SMA dirantai sehingga transaksi jual beli pun terhambat.😥

    (hehehe, tapi saya masih lebih beruntung. soalnya ada lubang kecil buat melewatkan sepiring batagor di sana.😆 )

  7. tapi Ma punya kebiasaan waktu SMP kalo ampe jajan, biasanya berakhir jadi diare atau faringitis (sakit tenggorokan),, sedih deh,,
    begitu di SMA ga bisa ga jajan,, wong ngekos kok,, nasiibb,,

  8. Lah, Pempek ama Lontong bukannya bisa diimpor dr Indo yah? Kan deket tuh. Di Malaysia (Malaysia bagian mana?), kalo ga salah emang banyak makanan2 nyerempet ke lontong, walopun rasanya gak sama sih, hihihi.
    Googling aja resto Lontong sayur di Malaysia😄.

    Huhu, di Copenhagen parah lagi, nyari sambel pedes aja ngga ada =S.Smua makanan rasanya tawar, tapi gapapa ada hikmahnya, jadi kurus kering😄.

  9. @ Apret
    Yeh, di sini mah, namanya sama tapi rasa ngelantur jauh, neng. Susah.

    @ Rizma Adlia
    Apanya yang manis? Kuahnya? Apa nggak aneh, tuh?😐

  10. @ Shan-in Lee
    Pernah makan lontong sini, sih. Nggak sama😛

    @ bank al
    Yah, bisa jadi ini akibat kebodohan saya saja sih mas. Orang normal mungkin nggak segitunga:mrgreen:

  11. Lontong ya….. Apa bedanya lontong sana ama lontong sini??

    apakah lontong rasanya sebegitu surgawinya…. *membayangkan tiap hari disuguhi lontong…*

  12. jadi laper…setelah baca yang di atas (saia..juga…suka…lontong…)
    bagaimana kalau Mr.Geddoe cari aja penjual lontong tersebut..sampe ketemu kalau perlu keliling kota..ha..ha..ha..(demi LONTONG)

  13. tulisannya ada pengaruhnya! saya jadi pengen makan lontong juga🙂 .

    Jika seorang ‘food photographer’ dituntut untuk membuat orang ‘ngiler’ melihat foto makanan yang dipotretnya, maka mas geddoe yang membuat tulisan tentang lontong ini sukses, karena membuat orang jadi mau makan lontong.🙂

  14. Pingback: Mous dan kibor-ku

  15. kalau nggak ada lontong nggak bisa/susah konsentrasi?

    wah berarti alamat bakal cepet pulang ke indonesia tuh (dipulangkan😛 ) hehehe……..

  16. wah…jadi inget jaman2 sma. ada juga tuh lontong sayur di sma saya. pake telor n murah cuma cenggo. paling asik kalo di kelas bergerilya belajar sambil makan. saya pernah makan nasi goreng di kelas (bawa sampe piring2nya ke kelas) trus makannya pas belajar huehehehe…bikin adrenalin mengingkat karena nyantapnya pas pelajaran guru killer hohoho:mrgreen:
    duh…jadi pengen makan jajanan sma… *menerawang*

  17. minta kirim lontong dari pekanbaru aja mister…
    pake fedEx, paling sehari nyampe…

    [OOT]
    theme : terinspirasi oleh si wak somad?
    ahahhaha
    [/OOT]

  18. @ irdix
    Hehe, btw hari ini dapat sebungkus IndoMie Goreng. Lumayan ‘kan😀

    @ antobilang
    Buset, FedEx…😆

    [OOT]
    Kok banyak yang bilang begitu, ya😦😆
    [/OOT]

  19. Ehhehehe… selamat.. akhirnya ada sedikit aroma khas Indonesia.. :p

    – makan Mie Rebuz ala irdix – *ups, hampir muncrat ke kibor*😀

  20. Busyett,..baca Lontongnya Geddoe,..jadi ingat lontong yang sering aku konsumsi di Medan,..eh..jadi ingat Lontong Medan yang bervariasi itu,..mmmh..taucho udang yg pedasssssss…wuih..jadi kepengen neh masakan Lontong ibuku..Mother how are you today..I miss you..
    Ya..Robb Bahagiakan Ibuku..Bapakku dan kaum Mukminin

  21. @ irdix
    Nah, sekarang saatnya Mi Gorengnya dimasak…:mrgreen:

    @ calupict
    Sudah nggak ada lagi.

    @ dwi
    Punten juga😛

    @ abagaga
    Lontong Medan… Buset, bikin tambah ngiler, nih😆

    Ah, ya, bahagiakanlah semua orang di dunia… Dari yang paling suci sampai yang paling batil, masukkanlah ke surga😦🙂

  22. Pingback: Baca...baca....baca...! « Chaos Region

  23. Jangan banyak makan Indomie, enggak baik.

    Btw, di Pekanbaru ada gado-gado, enggak?
    Emangnya di Sunway enggak ada yang jual sate atau sebangsanya, ya?

  24. @ cK
    GRAAAAAAAAHHHH!!!!😈
    Sialan! Ga liat pertandingannya, kenapa Chelsea yang harus kalah???!!!
    Tapi biarlah, toh di Premiership kami masih terbaik.

  25. Lha kenapa enggak dibeli aja?

    Btw, jam di kamar saya masih jam Juventus. *malas beli baru*

    Oh, ya akhirnya MU juara Premiership.

  26. Pingback: Mous dan Kiborku » Blog Archive » Membantu Mr. Geddoe

  27. Pingback: Interrobang « RosenQueen Company

  28. Pingback: Travelogue « RosenQueen Company

  29. bikin ngiler..

    yah, walaupun tersasngka utama naeknya berat badan saya yah lontong bersejarah ini😛

  30. Pingback: $anchor$basketball Betting,final Four,final Four Betting,final Four Gambling,final Four Sports Book,final Four Sportsbook,march Madness,march Madness Betting,march Madness Gambling,march Madness Sports Book,march Madness Sportsbook,ncaa,ncaa Betting,ncaa

  31. Pingback: Top Ten: Pulang Kampung Edisi 2009 « RQC.

Comments are closed.