Distortion and Conformity

PERINGATAN : SANGAT PANJANG

Sejauh ini, entry saya kali ini adalah entry yang menurut saya paling ‘berbahaya’.

Anda hanya punya dua pilihan;

  • Membaca dan memahami entry ini sampai habis.
  • Tidak membacanya sama sekali.

Kalau anda membacanya setengah-setengah, resikonya adalah persepsi anda mungkin akan melantur jauh dari apa yang ingin saya sampaikan. Sebagian dari anda mungkin sudah tahu apa yang akan saya tulis. Sebagian mungkin tidak. Saya tidak tahu.

Jadi kalau mau baca, tolong sampai habis.

masa depan kelam
“Sebenarnya apa yang menghantui kita sekarang ini?”

Tarik napas. Tulisan ini terdiri dari empat bagian. Tiga bagian pertama berdiri sendiri, dan bagian keempat bertugas merekatkan mereka menjadi sebuah kesatuan. Baca semuanya sekaligus atau tidak sama sekali. Sebab kalau anda baca setengah-setengah, mungkin anda akan terjebak fenomena mutilasi ayat, menyebabkan makna yang anda tangkap jauh dari yang ingin disampaikan penulis. Dan fenomena ini tidak langka.
Tutup mata dan berdoalah terlebih dahulu…

Buka mata anda. Selamat datang di kenyataan yang sesungguhnya.

* * *

BAGIAN I : SKENARIO RAKSASA

Bismillahirrahmanirrahim.

Pernahkah anda ‘dihantui’ oleh beberapa oknum yang menodong anda dengan pernyataan; “Anda belum menjalankan hukum Islam.”? Pernahkah anda dihadapkan pada sentimen bahwa anda tidak termasuk pada golongan yang ‘menjalankan hukum Islam’? Pada saat seperti itulah anda mungkin merasa diposisikan sebagai pihak yang salah. Pihak yang mengedepankan hawa nafsu.

Kita berasal dari Indonesia. Pola beragama Islam yang berkembang di Indonesia sangat jauh dari pola agama ortodoks, yang mungkin disebabkan oleh kekayaan budaya yang sudah dimiliki oleh Indonesia sebelumnya. Oleh sebab itulah, cara berislam orang Indonesia, berbeda dengan cara berislam orang di Saudi Arabia, Afghanistan, ataupun beberapa bagian di Timur Tengah.

Singkat kata, Indonesia sangat moderat dalam berislam. Hukum yang dijalankan di Indonesia pun merupakan hukum sekuler. Imbasnya, munculnya beberapa kaum yang berniat ‘memurnikan’ ajaran Islam ditanggapi dengan tidak siap. Indonesia tercengang.

Ya, Indonesia tercengang.

Indonesia tercengang melihat betapa beratnya aturan yang mereka harus tanggung. Tercengang melihat ‘hukum Islam’ yang diperkenalkan kaum-kaum ‘pemurni’. Tercengang betapa peraturan tersebut harus memaksa mereka menjadi (menurut Milton Viorst) ‘kaum rendahan global secara permanen’. Indonesia tercengang melihat para ‘pemurni’ yang mengharamkan mereka mencukur jenggotnya. Mengharamkan mereka memakai emas dan sutera. Mengharamkan mereka mendengarkan musik. Mengharamkan mereka berfoto dan menggambar. Indonesia terpaku.

Penolakan pun kemudian dimulai. Indonesia berusaha berkompromi dengan para ‘pemurni’.
Terdapat tiga golongan besar;

  • Golongan pertama memberi stempel fanatik pada para ‘pemurni’ dan memilih menghindari mereka, lalu kembali ke buku-buku pelajaran agama mereka sewaktu kecil, mengabaikan ‘pemurnian’ yang didakwahkan para ‘pemurni’.
  • Golongan kedua tidak berdaya dengan beberapa dalil-dalil yang dikemukakan para ‘pemurni’, yang memang memojokkan mereka. Mereka lalu berlindung di balik alasan ‘adaptasi’. Mereka berhasil melobi para ‘pemurni’ — hasilnya? Mereka mengakui kebenaran beberapa ajaran ‘pemurni’ tersebut, namun belum melaksanakannya dengan sempurna karena alasan ‘adaptasi’.
  • Golongan ketiga menjadi ‘pemurni’ itu sendiri. Kebanyakan bukan karena kesadaran spiritual melainkan krisis jati diri.

Implikasinya adalah berkembangnya paham fatalisme dan asketisme. Menurut penuturan yang saya baca dari suatu sumber, paham ini sangatlah sulit dibendung. Paham bahwa apapun yang terjadi di dunia, umat akan dibalas berlipat-lipat di akhirat, berhasil menarik minat ribuan orang yang kebanyakan berasal dari kelas ekonomi mengengah ke bawah. Paham itu memberi harapan. Paham itu memberi mereka secercah alasan untuk berbusung dada di hadapan kaum ekonomi mapan. Janji-janji yang ditebar memang fantastik — sebuah istana dengan luas sepuluh kali dunia, lengkap dengan tujuh puluh ribu selir yang siap disantap, misalnya, digambarkan sebagai hadiah minimal. Porno dan terbelakang? Tidak. Mereka akan menunjukkan dalilnya di depan mata anda. Tetap menolak? Selamat dikafirkan.

Tidakkah anda merasa ada yang salah?

Pertanyaan ini mungkin akan semakin sering anda pertanyakan kalau anda seorang wanita. Walaupun demikian, anda yang pria juga mungkin pernah bergumam.

Apa yang salah dengan mencukur jenggot?
Apa yang salah dengan memperlihatkan muka anda di depan umum?
Apa yang salah dengan menggambar makhluk hidup?
Apa yang salah dengan mendengarkan musik?
Apa yang salah dengan mengambil foto?

Pertanyaan anda manusiawi. Seandainya dalil yang diberikan tidaklah kuat, semua larangan di atas tidak lain dan tidak bukan adalah lelucon. Bukankah demikian?

…Tapi dalil itu ada.

…Oleh sebab itulah, aturan-aturan diatas berubah derajat dari lelucon menjadi doktrin. Doktrin tidak membutuhkan alasan.

Dalil itu tercantum dalam kitab-kitab fiqh dan berbagai buku-buku Islam. Anda bisa baca. Dan anda akan kembali terpojok.

Dua lembar kartu truf : ‘hawa nafsu’ dan ‘keterbatasan pemikiran manusia’

Ada dua lembar kartu truf yang bisa ditarik oleh para ‘pemurni’. Pertama, hawa nafsu. Anda akan dihipnotis. Ya, pembenaran akan selalu ada. Se-absurd apapun suatu hukum, pembelaan akan selalu ada (walau level kekuatannya akan bervariasi). Dan ‘hawa nafsu’ adalah pembelaan yang kuat. Kenapa anda menolak mencukur jenggot? Karena nafsu anda untuk tampil tampan, misalnya. Kenapa anda menolak memakai cadar? Karena anda ingin tampil cantik. Kenapa anda menolak untuk mengikuti ‘hukum Tuhan’? Karena hawa nafsu. kalau sudah dihadapkan pada cara berpikir seperti ini, ya itu dia, paham asketisme-lah yang akan anda anut.

Kartu kedua adalah ‘keterbatasan pemikiran manusia’. Mungkin anda lalu bertanya, (maaf, topik yang agak vulgar๐Ÿ˜› ) kenapa istri tidak boleh menolak berhubungan intim dengan suami, sementara suami memiliki hak menolak tersebut? Jawaban yang akan disodorkan para ‘pemurni’ untuk menyumpal mulut anda adalah bahwa pikiran manusia itu terbatas. Tuhan lebih tahu. Itulah yang lebih adil. Lagi, kalau sudah begini, apapun usaha anda untuk memberikan masukan demi mengkompromi sentimen itu akan diposisikan sebagai bentuk perlawanan terhadap Tuhan.

Mungkin ada di antara kita yang kemudian bertanya;
“Masalah hawa nafsu, apa Tuhan sediktator itu? Bukankah Tuhan menyayangi umatnya?”
“Lalu soal keterbatasan pikiran, bukankah kita memang diperintahkan Tuhan untuk berpikir, berarti~”

Hohoho, maaf, anda sudah ‘kafir’๐Ÿ˜†

Teori Konspirasi

Ketika anda dihadapkan pada hukum yang ketat seperti ini, apakah yang anda pikirkan? Taliban, barangkali. Di satu sisi anda tahu hukum yang ditawarkan oleh kaum puritan itu sangat keras, dan terkesan terbelakang. Sadis. Bengis. Belum lagi opresif, fatalis, tidak mendukung hak-hak wanita, dan… Aneh. Tapi di satu sisi, anda sudah termakan doktrin bahwa; “Ini ajaran agama saya. Ini pasti yang paling baik.”

Ya. Anda akan memaksa otak anda untuk menjustifikasi tindakan ‘polisi syariat’ Taliban yang mencambuk seorang ibu di depan anaknya. Sebab apabila anda tidak setuju, anda percaya bahwa anda akan mempertanyakan Tuhan. Itulah kekuatan doktrin.

Sayang banyak yang lupa bahwa doktrin tidak sama dengan kebenaran (!).

Sekarang, lupakan dulu Taliban. Alihkan pandangan anda ke arah gerakan yang menuntut syariat Islam di Indonesia. Janji mereka adalah ‘berdirinya keadilan’. Ya, segala pandangan bahwa hukum yang akan diterapkan itu buruk, langsung serta merta dicap sebagai hasil konspirasi Yahudi, Amerika Serikat, atau dunia barat (klise, eh?๐Ÿ™„ ).

Ha, sekarang saya tanya; anda suka teori konspirasi?๐Ÿ˜‰

Bagus kalau anda suka. Selamat datang di teori konspirasi yang langsung ada di depan mata kita. Kali ini bukan masalah konspirasi NASA atau Perang Salib, melainkan Islam.

Distorsi hukum Islam.

Pertanyaan besarnya; “Apa benar, hukum yang opresif itu, hukum Islam? Atau, hasil konspirasi musuh-musuh Islam?”

Cukup menarik bagi anda? Inilah skenario besarnya.

  • Para musuh Islam meracuni syariat Islam dengan men-deform syariat yang merupakan hukum yang sempurna, menjadi hukum yang terbelakang dan primitif.
  • Pada akhirnya, hukum Islam yang diperjuangkan untuk tegak, adalah hukum Islam hasil plesetan para musuh Islam. Orang pun mati-matian memperjuangkan keterbelakangan mereka. Seru, bukan?
  • Orang yang bukan Islam, tidak sudi melirik Islam. Sedang sebagian orang Islam sendiri yang kebetulan berakal dan kritis, memilih untuk menjauhi Islam. Mission complete๐Ÿ˜‰

Pertanyaannya, apakah ini tidak mungkin terjadi? Atau, mungkin? Atau malah sudah terjadi?

* * *

BAGIAN II : FAKTA YANG TIDAK POPULER

Sekarang, kita perlu tahu, dari mana semua ‘hukum Islam’ itu bersumber. Ada empat sumber pokok dalam hukum Islam; Al-Qur’an, Hadith, dan dua sumber minor yang berkaitan dengan hadith, yaitu Qiyas(analogi) dan Ijma(konsensus).

Pertanyaannya, apakah semua sumber ini bisa dipertanggung jawabkan?

Jawabannya tidak, kecuali Al-Qur’an. Seperti yang kita tahu, hadith itu bisa valid bisa tidak. Ada hadith yang dhaif, bahkan palesu. Qiyas dan Ijma, tentunya sangat bergantung pada hadith. Hadithnya tidak beres, Qiyas dan Ijma-nya juga bakal belepotan. Hubungannya dengan konspirasi distorsi Islam? Pemalsuan hadith.

Nah, sampai saat ini mungkin kebanyakan orang akan bergumam;

“Gitu aja kok repot tho, nyet…? Al-Qur’an ‘kan selalu aseli, nah kalo hadith, cari aja yang sahih… Selama ini ulama ‘kan pada meneliti hadith, tuh. Jadi ada ilmunya tuh buat ngetes hadithnya bener apa ngibul. Gak usah paranoid lu, ulama ‘kan pada pinter…”

Kalau anda berpendapat seperti di atas, berarti anda belum pernah mempelajari hadith๐Ÿ˜‰

Selamat datang di kumpulan fakta-fakta yang tidak populer.

Sejarah hadith sebagai dasar hukum kedua Islam

Mungkin impresi yang anda tangkap sampai saat ini adalah bahwa hadith merupakan kumpulan literatur yang dikumpulkan oleh para sahabat terus menerus sejak zaman Rasullah. Ini salah kaprah. Buku kumpulan hadith pertama dipublikasikan oleh Bukhari, yang nota bene lahir 178 tahun setelah wafatnya Rasulullah.

Ya. Kebanyakan buku hadith baru dikumpulkan dan diterbitkan sekitar 220 sampai 270 tahun setelah wafatnya Rasulullah. Atau, lebih dari 150 tahun sejak wafatnya para tabi’i tabi’in sekalipun.

Kenapa?

Harap diketahui, Rasulullah semasa hidupnya melarang pengumpulan hadith. Bahkan terdapat hadith dari sahih Muslim, Abu Dawud, dan Al-Baghdadi yang jelas mengisahkan hal ini. Beberapa ulama berdalih bahwa yang dimaksudkan oleh Rasulullah adalah supaya penulisan hadith dan Al-Qur’an tidak tercampur, namun dalih ini gagal menjelaskan kenapa Zaid bin Tsabit menolak menuliskan hadith untuk Muawiya dari Ummayad tiga puluh tahun setelah wafatnya Rasulullah (Muawiya bahkan belakangan menghapus hadith-hadith yang ia perintahkan untuk ditulis).

Faktanya, Abu Bakar As-Shiddiq tercatat membakar koleksi hadithnya — dan Umar bin Khattab tercatat membatalkan semua rencana pengumpulan hadith yang pernah ia rencanakan. Lebih jauh, khalifah Umar menurut sejarah pernah merencanakan pemusnahan hadith besar-besaran. Sayang saya tidak mendapat informasi apakah rencana itu terealisasi atau tidak. Sikap tegas atas pengumpulan hadith juga dipegang oleh Utsman dan Ali. Padahal Rasulullah mengambil kebijakan untuk menulis semua dokumen seperti piagam Madinah atau konstitusi-konstitusi selama hidupnya. Tapi, hadith tidak! Jadi kalau anda menemukan hadith dari masa-masa awal Islam, kemungkinannya cuma dua, palesuโ„ข atau hasil gerilya.

Apa alasan di balik usaha para sahabat menghalangi penulisan hadith? Karena kasus pemalsuan. Hadith sangat rentan untuk dipalsukan. Patut dicatat bahwa dengan metode mirip-mirip beginilah agama tauhid yang dibawa Jesus dimetamorfosis menjadi agama nasrani (menurut pandangan Islam, tentu).

Hukum Islam sendiri tidak menganggap hadith sebagai sumber resmi sampai era Shafi. Abu Hanifah, salah seorang ahli hukum Islam paling terkemuka, bahkan boleh dikatakan mengabaikan hadith sama sekali dalam menulis hukum Islam. Padahal, koleksi hadith tersedia. Kenapa? Kekhawatiran yang sama dengan Rasulullah dan para sahabat — hadith terlalu rentan dipalsukan!

Sebenarnya bagaimana cara menyaring hadith yang tidak valid?

Sejatinya anda akan merasa aman apabila mengetahui bahwa ada usaha penyaringan hadith, bukan? Berarti, hadith-hadith yang beredar saat ini bisa dipertanggungjawabkan validitasnya. Oh, nanti dulu. Tahu tidak, bagaimana cara menyaring hadith? Perkenalkan Ilm Al-Jarh wa Al-Ta’dil, ilmu/metode menyaring hadith. Kenyataan yang membuat saya sendiri sempat terpana ketakutan.

Metode penyaringan ini mulai ramai dipergunakan setelah pada abad ketiga Hijriah Bukhari sukses menyaring dan menyisakan hanya sekitar 7,000 hadith dari sekitar 600,000 hadith yang beliau kumpulkan. Lalu diteruskan oleh Muslim, Abu Dawud, Ibnu Maja, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan seterusnya. Empat nama terakhir inilah yang banyak berurusan dengan masalah halal-haram. Beberapa koleksi hadith yang diterima Islam Syiah bahkan keluar lebih lama lagi daripada itu.

Seperti apa metode itu…?

Metode yang dipergunakan adalah, mencari hadith, lalu mengecek validitasnya dengan membuat isnad/rantai penutur. Jadi apabila pengumpul hadith mendengar hadith dari si Abu, si Abu akan ditanyai, dia mendengarnya dari mana. Misalnya dia menjawab dari Abdul, nah, giliran Abdul yang ditanyai ia mendapatnya dari mana. Terus sampai ada yang menjawab bahwa salah satu bagian rantai penutur itu mendengar dari Rasulullah. Kemudian nama-nama yang terlibat ini diperiksa, apakah orangnya jujur atau tidak. Kalau rantai dari suatu hadith semua orangnya dianggap jujur, maka disahihkan.

…Aneh…?๐Ÿ™„

Ingat;

  • Boleh dikatakan nyaris nyaris nyaris tidak ada catatan tertulis akan hadith. Semuanya dilakukan secara oral. Mulut ke mulut.
  • Kegiatan ini dimulai pada abad ketiga H. Artinya minimal satu mata rantai pasti sudah wafat.
  • Bukankah penilaian bahwa ‘apakah A tergolong jujur’ terlalu lemah? Karena ini validitas hadith bisa berbeda tergantung pengumpulnya. Bukhari bisa saja tidak setuju bahwa A dianggap jujur, sementara Muslim setuju. Kasus Abu Huraira di sini sedikit unik. Abu Huraira adalah penutur pertama (originator) dari lebih dari 5000 hadith, padahal dia baru masuk Islam tiga tahun sebelum kematian Rasulullah (oke, kita berprasangka baik dulu). Menurut beberapa kisah, Umar bin Khattab menyebutnya pembohong. Aisha juga dikisahkan turut mengkritisi Abu Huraira yang menyebarkan hadith padahal ia masih sangat kecil semasa hidup Rasulullah. Curiga? Ada kabar bahwa ingatannya sangat jelek, namun tidak lama kemudian ramai beredar hadith bahwa ‘Rasulullah menyembuhkan ingatan jeleknya secara ajaib’. Lucu…?
  • Apakah bisa semudah itu dilacak rantainya sampai ke Rasulullah? Jumlah mata rantai ada yang mencapai ratusan.
  • Bukankah terlalu mudah bagi musuh Islam untuk mengada-ngada…? Dia bahkan bisa berbohong sembari bersumpah dengan Al-Qur’an, toh dia non-Muslim.
  • Mayoritas orang Arab masa itu buta huruf. Semua proses penuturan hadith itu dari mulut ke mulut. Katakanlah semuanya jujur. Apa bisa mengingat dengan sempurna? Menurut ilmu psikologi modern, pesan singkat 15 kata bisa berubah maknanya setelah ditransmisikan melalui 5 orang. APALAGI, Al-Qur’an sudah mengingatkan bahwa sebaiknya kita jangan mengikuti perkataan orang begitu saja (QS Al-An’am 116).

Buat menambah seram cerita ini, pemalsuan hadith sendiri pada waktu itu sedemikian maraknya, sampai-sampai beberapa penutur hadith bisa terheran-heran menemukan hadith baru di mana nama mereka tertera sebagai salah satu penutur, padahal mereka tidak ingat pernah menuturkannya๐Ÿ˜ˆ

Penulisan hadith dipopulerkan pemimpin-pemimpin Umayyad dan Abbasid. Duncan MacDonald bahkan berani menulis bahwa pemalsuan hadith direstui pemimpin-pemimpin pada waktu itu demi kepentingan teologis. Beberapa hadith tipe ini antara lain berbunyi ‘berhaji bisa dilakukan di Jerusalem selain di Makkah’ dan ‘ibadah di Baitul Maqdis Jerusalem seratus kali lebih baik dari ibadah di manapun’. Saya tidak mendalami politik timur tengah klasik, jadi saya tidak tahu keuntungan apa yang bisa ditarik. Kalau tidak salah untuk mengurangi kemungkinan dekatnya para kaum Muslimin dengan penguasa Makkah ketika itu, yang nota bene rival politis oknum tertentu (penguasa Jerusalem misalnya).

Jadi, kesimpulan yang ingin saya tarik sederhana saja;

Hadith yang dicap sahih pun, belum tentu valid.

Begini, saya bukan termasuk kaum inkar hadith, saya tetap mempercayai hadith, tapi seleksi itu tidak lagi sekadar melalui cap yang diberikan oleh oknum tertentu. Lha, lihat sendiri metodenya terlalu cacat. Tidak ada jaminan yang bisa ditarik apakah suatu hadith itu valid atau tidak — yang isinya bagus sekalipun. Salah-salah, kita menyambut perangkap yang dimaksudkan untuk mendistorsi Islam itu.

Lho, masih tidak percaya kalau hadith masih bisa salah? Oke, perhatikan…

Hadith-hadith yang aneh

Nah, ini dia beberapa koleksi hadith yang aneh. Kebanyakan umat mungkin hanya memperhatikan hadith secara individu, alias melihat hadith puasa di artikel-artikel tentang puasa, dan seterusnya. Sehingga tidak banyak yang sadar akan hadith-hadith yang terlalu aneh sampai penulis artikel emoh menuliskannya di artikelnya๐Ÿ˜›

Kalau masih ragu dan sibuk menjustifikasi metode Ilm Al-Jarh wa Al-Ta’dil itu, mari kita lihat sendiri hasil-hasilnya๐Ÿ™‚

> Pemanasan : Hadith lalat yang populer dan sibuk dijustifikasi

“Kalau ada lalat yang jatuh ke dalam minumanmu, celupkan seluruh badannya sebelum dibuang sebab satu sayapnya mengandung racun, dan satunya mengandung obat.” (dari Bukhari Vol. 2)

Saya lihat banyak teman-teman yang sibuk menjustifikasi hadith ini. Menurut mereka, sudah terdapat bukti secara medis bahwa memang mencelupkan semua badannya bisa menetralisir racun. Lha bukan itu masalahnya, walaupun iya, mestinya saran yang baik adalah supaya jangan diminum lagi๐Ÿ˜† Lagipula jorok, akhi…๐Ÿ˜†

Hahaha, soal hadith begini memang bisa dicari-cari alasannya, sih๐Ÿ˜• Ah, itu pemanasannya saja.

> Main Event : Hadith-hadith aneh

Rasul bersabda, “Seorang anak akan menyerupai ayahnya kalau (dalam prosesnya) ayahnya orgasme terlebih dahulu. Kalau sebaliknya, ia akan menyerupai ibunya.” (dari Bukhari Vol. 2)

Hehe, kalau mirip keduanya, berarti ibu dan ayahnya jago, ya๐Ÿ˜†
Ah, saya juga menemukan hadith itu di Volume keempat… Abdullah bin Salam bahkan terpana dan bersaksi bahwa Rasulullah adalah pesuruh Allah. Kok, bisa, ya?๐Ÿ˜†

Dari Abu Huraira, Rasulullah bersabda; “Neraka mengadu pada Allah, ‘Wahai Tuhanku, aku tercekik, biarkanlah aku bernapas.’ Allah berfirman, ‘Engkau hanya boleh bernapas dua kali dalam setahun’. Dari sanalah terbentuk musim panas dari satu napas dan musim dingin dari napas kedua. Tetapi panas dunia jauh lebih tidak berarti dibandingkan panas neraka.”(dari Bukhari Vol. 2)

Masih ngotot kalau ini cuma perumpamaan?:mrgreen:

Dari Aisha; “Apa-apa saja yang membatalkan shalat disebutkan dihadapanku. Mereka berkata;’Shalat dibatalkan oleh anjing, keledai, dan wanita’. Aku berkata, ‘Kamu menyamakan kami (wanita) dengan anjing. Aku melihat Rasul shalat sementara aku berbaring di antara ia dan kiblat. Kalau aku mempunyai urusan, aku akan pergi. Sebab aku tidak suka menghadap dia.'” (dari Bukhari Vol. 1, 9, 940)

Apa-apaan ini?๐Ÿ˜ฏ

dari Said bin Jubair; “Ibnu Abbas berkata kepadaku, ‘Apa engkau menikah’? Kujawab, ‘Tidak’. Ia berkata, ‘Menikahlah. Orang terbaik di negeri ini adalah yang memiliki jumlah istri paling banyak.'” (dari Bukhari Vol. 7, 62, 7)

Pantas para ulama doyan menikah, ya. Eh, kalau istrinya banyak tapi jahat, masih yang terbaik juga? Kok di Qur’an nggak ada, ya, katanya malah yang terbaik itu yang paling takwa?๐Ÿ˜›

Dari Mahmood bin Rabe; “Aku masih ingat sewaktu aku berusia lima tahun, Rasul mencuci mulutnya dan meludahkan airnya ke mulutku.” (Bukhari, Kitabul Ilm Vol. 2, 77)

Rasul shotacon? Blasphemy!๐Ÿ˜ก

Rasul selalu mengunjungi kesembilan istrinya setiap malam (Bukhari, Book of Nikah 3:52)

Rasul berhubungan intim dengan semua istrinya dalam satu jam, siang dan malam (tanpa mandi) dan jumlah istrinya adalah sebelas. Rasul bertenaga (seksual) setara 30 pria biasa (Bukhari, Book of Nikah 1:189)

Rasul bersabda bahwa sebaik-baik pengikutnya adalah yang beristri paling banyak (Bukhari, Book of Nikah 3:52)

…Percaya…?๐Ÿ˜ฆ

Matahari terbit di antara dua tanduk dari setan (dari Bukhari 2:134)

Nggak paham.

Setelah jatuhnya Khyber, orang membicarakan kecantikan Safia binti Hui, pengantin baru salah seorang prajurit musuh yang tewas. Rasul memilihnya. Di perjalanan ke Madinah ia berhenti dan berhubungan intim dengannya. Sahabat tidak tahu apakah ia istri atau selir, kemudian sebuah tabir ditarik di antara mereka dan mereka paham bahwa ia adalah istri. (Bukhari, Book of Sales, Book of Nikah 3:59)

Hare gene percaya hoax…?๐Ÿ˜ฏ

“Setelah waktuku, bencana terbesar bagi pria adalah wanita.” (Bukhari, Book of Nikah 3:61)

Tuh, ‘kan, bukan Yahudi atau kristenisasi…?๐Ÿ˜†
…Bohong!

“Kulihat yang banyak memasuki neraka adalah wanita.” (Bukhari, Book of Nikah 3:97)

Suaminya bersama bidadari di surga?๐Ÿ˜† Eh, bidadari di surga betulan ada atau…?๐Ÿ˜›

Seorang pria bertanya ‘Kami mendapat untung dari budak-budak wanita ini, bolehkah kami bersetubuh tanpa menghamili mereka?’. Rasul bersabda; ‘Tidak ada dosa dalam berbuat demikian’ (Bukhari, Kitabul-Qadr 3:543)

Ada yang mau jadi budak Mr. Geddoe ini?๐Ÿ˜†

Beberapa orang jatuh sakit di Madinah. Rasul menyarankan mereka minum air seni dan susu unta. Setelah mereka sehat, mereka membunuh seorang penggembala. Rasul memerintahkan tangan dan kaki mereka dipotong dan mata mereka dicungkil keluar. Mereka diletakkan di atas pasir panas. Ketika mereka meminta air permintaan mereka ditolak. Mereka pun merasakan pasir sampai ajal menjemput (Bukhari, Kitabul Mahrabain dan Kitabul Tib)

Itu Rasul, lho. Percaya?๐Ÿ˜‰

Tikus adalah suku yang hilang dari Israel, sebab mereka memilih minum susu kambing daripada susu unta (Bukhari, Beginning of Creation 2:244)

Kalau susu sapi bagaimana?๐Ÿ˜•

Lima binatang adalah berdosa; tikus, kalajengking, elang, gagak, dan anjing yang menggigit (Bukhari, Beginning of Creation 2:245)

Bilang ke FPI, biar disapu.

Rasul memerintahkan supaya membunuh anjing (Bukhari, Beginning of Creation 2:247)

Berarti setelah ‘dianjingkan’, memang mesti dibunuh…๐Ÿ˜€

Maimuna berkata bahwa ia memperhatikan Rasul mandi setelah berhubungan intim, sampai ia melihatnya membersihkan bagian pribadinya (Bukhari, Book of Bath 1:193).

Nggak penting amat…?๐Ÿ˜•

Ketika istri menolak naik ke atas ranjang suaminya, para malaikat mengutuknya sampai ia kembali (Bukhari, Book of Nikah p96)

Ouch…๐Ÿ˜ฆ

Suatu ketika Rasul meminta semangkuk air. Ia mencuci tangan dan wajahnya. Kemudian mencuci mulutnya dan memerintahkan Abu Musa dan Bilal untuk meminum airnya (Bukhari, Hadith 185)

Tidak ada penyakit yang menular (Hadith 649, page 435, vol. 7)

Ada yang belajar ilmu kedokteran di sini?

Abu Salma dan kakak laki-laki Aisha pergi menemui Aisha untuk mempelajari cara mandi setelah berhubungan intim. Aisha menyiapkan air dan mandi. Di antara mereka ada tirai (Bukhari, Book of Bath 246)

Bukankah ini pornografi yang bersifat fitnah? Atau anda percaya akan validnya cerita ini?๐Ÿ‘ฟ
Kenapa tidak bertanya pada sesama pria? Kenapa pakai silhouette live show?
Seharusnya hadith seperti ini langsung dibuang tanpa ampun, bukan?

Uh, saya sudah sedikit capek mengetik. Anda sudah dapat gambarannya ‘kan? Melalui proses filtrasi tidak berarti hadith jadi benar. Sebab seperti yang sudah saya coba utarakan, proses filtrasi itu sendiri tidaklah memenuhi syarat obyektivitas. Percaya buta pada semua hadith yang melalui filtrasi bisa ekuivalen dengan pernyataan bahwa anda setuju kalau Rasul itu seorang mata keranjang yang sadis. Saya? Saya tidak setuju…๐Ÿ™‚ Banyak pihak yang langsung serta-merta menolak hadith sama sekali, namun saya sendiri belum pada taraf itu…

Berarti, hadith tidak bisa dijadikan harga mati. Bukankah begitu? Begini, kalau anda tidak setuju, bolehkah saya menganggap anda rela Rasulullah dijadikan bahan ejekan? Apa pilihan ini terlalu keras? Apakah anda ‘agnostik’ dalam konteks ini? Maksudnya, ragu-ragu akan menerima pemikiran ini? Itulah yang disebut dengan konformitas (uh, apakah itu bahasa Indonesia dari conformity?๐Ÿ˜• ). Saya akan coba membahas fenomena ini melalui kacamata saya.

* * *

BAGIAN III : CONFORMITY : SEBUAH BENTUK INERSIA

Bayangkan anda sedang membaca sebuah tulisan yang berisi fakta-fakta trivial. Di hadapan anda tertera berbagai fakta aneh yang membuat anda senyum-senyum sendiri. Di sana tertulis; “Manusia tidak bisa bernapas sambil menelan. Apabila manusia bersin sambil menutup hidung dan mulut, matanya bisa muncrat ke luar. Di beberapa restoran Cina, ada hidangan semut. Di Papua Nugini, makan sambil berdiri bisa dihukum mati.” Anda berhenti. Masa makan sambil berdiri saja bisa dihukum mati? Tapi anda percaya saja. Kenapa? Karena anda tidak berada di Papua Nugini (asumsi saya sih begitu๐Ÿ™„ ). Verifikasi tidak mungkin dilakukan, dan fakta lainnya masuk akal. Anda percaya saja. Lalu anda melanjutkan membaca.

“Di Indonesia, hari kemerdekaan biasanya dimeriahkan dengan lomba makan ayam hidup-hidup.” Nah, anda tahu bahwa ini salah. Konsekuensinya, anda seharusnya meragukan perkara Papua Nugini tadi. Karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Berangkat dari analogi itu, inilah dilema yang terkadang meliputi kajian hadith. Kecuali anda cukup brutal dan bengis untuk mengakui perlakuan Rasulullah seperti digambarkan di atas, tentunya hal ini berlanjut menjadi kaburnya batas antara hadith yang valid dengan yang tidak. Masalahnya begini; anda tidak punya lagi suatu instansi yang bisa anda andalkan untuk melakukan tes validitas itu untuk anda. Dari hasil proses validitas para pengumpul hadith kelas wahid pun, ternyata bisa ditemukan kejanggalan.

Lalu, pertanyaan kemudian tentunya ditujukan pada berbagai pernyataan kontroversial yang diterima validitasnya hanya karena statusnya sebagai hasil kerja keras para pengumpul kelas wahid. Kalau hadith soal membantu sesama, misalnya, mungkin bisa diterima. Tapi bagaimana dengan hadith yang mengharamkan musik misalnya? Dari mana kita bisa yakin bahwa hadith itu bukan hasil distorsi dari luar? Toh dari sumber yang sama saja Rasul bisa dijadikan jahat dan bengis?

Anda bisa melakukan beberapa hal;

  • Yang paling gampang, langsung menganjingkanโ„ข saya. Langsung tuduh saya korban konspirasi Yahudiโ„ข, baratโ„ข, atau Amerikaโ„ข. Langsung cap kafirโ„ข. Langsung bilang ahlul bid’ahโ„ข. Lalu ngeloyor pergi. Kenapa? Karena gampang. Dengan begitu, anda tidak perlu berpikir.
  • Membaca sampai selesai, lalu memasukkan gagasan ini sebagai ‘arsip’. Memperkaya wawasan anda. Tidak perlu disikapi lebih lanjut. Bukankah semua orang bebas berpendapat? Ya, anda akan menganggap opini ini sebagai suatu bentuk dari itu. Selanjutnya? Misteri.
  • Mulai berpikir akan hidup dan kehidupan. Ini sedikit susah. Apalagi pakai berpikir. Ini tidak semudah langsung menelan secara instan literatur yang ada. Tidak semudah membebek buta. Ya itu tadi, karena anda jadi perlu berpikir. Allah menyuruh kita berpikir (QS Sad 29). Tapi perintah Allah yang ini tidak semudah memanjangkan jenggot (yang katanya perintah Allah juga).
  • Senyum sendiri. Ternyata anda pernah baca jurnal senada sebelumnya:mrgreen:

Kebanyakan dari anda tidak akan memperhatikan tulisan saya, sebagaimana saya sendiri malas memperhatikannya. Sekarang saya akan coba mengkaitkannya dengan psikologi. Sekalian sebagai media introspeksi diri.

Kemungkinan besar anda akan berusaha mengabaikan tulisan ini. Kenapa? Mungkin karena konformitas.

Hillary Clinton pernah berkata bahwa manusia malas untuk berubah. Dan itu menurut saya memang benar.

Pernahkah anda mendengar tentang tes konformitas yang pernah digelar Solomon Asch pada tahun 1951? Mungkin kalau anda memilih untuk mengabaikan kemungkinan distorsi hadith, anda bisa merenung. Mungkin, inilah penyebabnya.

Pada percobaan itu, Asch mengumpulkan orang untuk dipertunjukkan pada sebuah teka-teki. Di antara orang-orang yang akan menjawab, diselipkan beberapa ‘mata-mata’ yang sengaja diperintahkan oleh beliau untuk menjawab pertanyaan yang gampang tersebut dengan jawaban yang salah. Nah, coba…

Berikut pertanyaan sederhana yang beliau ajukan;

grafik percobaan Solomon Asch

Sederhana. Cocokkan apakah garis A, B, atau C yang sama panjang, lebih panjang, dan lebih pendek dengan garis di sebelah kiri?

…Gampang? Memang, sekali lihat pun anda pasti sudah bisa menebak bahwa C sama panjang, B lebih panjang, dan A lebih pendek. Tapi, tunggu dulu. Konformitas sangat mengerikan, anda jangan meremehkan kekuatannya๐Ÿ˜ˆ

Kehadiran para ‘mata-mata’ yang sengaja menjawab dengan jawaban yang salah telah mengacaukan para peserta tes. Sebanyak 32% peserta menjawab secara salah. Pertanyaan yang sederhana, namun jumlah yang menjawab salah sangat besar. Hmm…?๐Ÿ™„

Menurut sebuah sumber, studi lanjut di tahun 2005 menunjukkan bahwa aktivitas otak ketika mengalami kejadian seperti itu memang cenderung mengarah ke kesadaran spatial. Pusing? Saya pun tidak mengerti, yang pasti terbukti secara klinis, deh๐Ÿ˜†

Kesimpulannya, kita akan selalu mengikuti mayoritas. Bahkan ketika sebagian kecil audiens merespon dengan cara berbeda, kita juga akan merasakan ketidaknyamanan. Aplikasi dari hukum ini? No soap radio. Pernah mendengar istilah ini?

No soap radio adalah trik unik di mana situasi tidak lucu bisa menjadi lucu. Yang dibutuhkan adalah sebuah lelucon yang tidak lucu sama sekali (biasanya di dalamnya terdapat kata-kata “No soap radio”) dan beberapa ‘agen/mata-mata’. Ketika sebuah lelucon yang tidak lucu itu ditayangkan, sebagian penonton (mata-mata-nya) diperintahkan untuk tertawa. Hasilnya? Penonton tertawa beramai-ramai seolah-olah itu lucu. Hal ini juga berlaku untuk teater dan bioskop. Kemungkinan orang akan tertawa melihat sebuah lelucon tidak lucu jauh lebih tinggi di bioskop ketimbang di rumah. Ah, mungkin kemudian anda boleh mencoba eksperimen No soap radio ini. Lebih dahsyat lagi kalau jumlah ‘agen’-nya jauh lebih banyak dari jumlah korban๐Ÿ˜‰

Lalu intinya? Manusia cenderung ingin sama dengan orang lain dan cenderung merasa nyaman apabila sama dengan sesamanya.

Imbasnya, mungkin hanya segelintir orang yang benar-benar mencari kebenaran dalam hal-hal yang masih sedikit abstrak. Hanya segelintir orang yang mengubah agamanya, bukan? Pengubahan agama pun, biasanya dilakukan dalam lingkungan yang mendukung. Seorang yang orang tuanya beragama A, kecil kemungkinan mengubah agamanya ke agama B. Dan kemungkinan itu, semakin kecil lagi apabila di lingkungannya, ternyata agama B adalah agama minoritas. Mungkin sedikit di antara orang yang mau melawan arus adalah beberapa tokoh seperti Sa`ad ibn Abi Waqqas atau Cat Stevens, untuk contoh dari agama Islam.

Salah satu pertanyaan besarnya, apabila anda Islam, anda yakin akan mengikuti Rasulullah apabila anda diposisikan sebagai salah seorang kafir Quraisy dulu? Atau anda akan mempertahankan berhala-berhala anda dengan justifikasi-justifikasi tertentu?๐Ÿ˜‰ Saya sendiri, cukup ragu saya akan mengikuti Rasulullah, karena saya, biasanya, ragu-ragu dalam bertindak. Yang akan lahir adalah justifikasi demi justifikasi. Proses justifikasi ini akan selalu ada dalam diri setiap individu, untuk menjaga ketentraman jiwanya. Dan ini akan terus berlaku dalam menentukan hal-hal yang tidak bisa dipastikan secara langsung (bukan ilmu pasti).

Nah, itu dia, salah satu justifikasi paling kuat adalah konformitas ini. Kalau dalam masalah yang ‘kecil’ seperti pilihan pola pakaian, mungkin orang masih akan bisa mengatakan bahwa ia ingin ‘beda’. Sayang untuk urusan ‘besar’, untuk menjadi ‘sama’ menjanjikan kenyamanan yang lebih besar. Kalau dilarikan ke dalam konteks agama, bisa jadi, sama dengan orang kebanyakan, berarti merasa nyaman karena kalaupun pilihan tersebut salah, ia tidak akan melenggang sendirian ke gelanggang hukuman (baca : neraka)๐Ÿ˜ฏ

Kesimpulannya? Manusia merasa nyaman dengan dogma dan mengikuti sekelilingnya (setidaknya dalam hal ‘besar’ seperti agama dan kepercayaan). Praktek sosial ini bertentangan dengan Al-Qur’an (QS Yunus 36, QS Al-Isra’ 36) yang memerintahkan kita supaya berpikir dan mengecek kebenaran suatu hal ketimbang mengikuti khalayak banyak. Pada kenyataannya, ini perintah yang jauh lebih sulit ketimbang sekadar memelihara jenggot atau memakai jubah a la juragan minyak (yang konon menurut beberapa oknum juga merupakan perintah dari Tuhan), karena manusia pada hakikatnya penakut akan perubahan.

* * *

BAGIAN IV : KONKLUSI

Mungkin anda sudah lelah membaca. Sedikit lagi saya akan selesai — saatnya merekatkan ketiga bagian di atas menjadi satu kesatuan. Dari situ kita bisa menarik beberapa kesimpulan.

Pada bagian pertama, saya telah menjelaskan tentang beberapa sudut pandang yang meragukan status hukum Islam yang sekarang dipropagandakan sebagai hukum Islam yang hakiki. Hukum Islam ini sendiri ternyata ditarik dari berbagai sumber, di mana dua sumber utamanya adalah Al-Qur’an dan Hadith. Nah, hukum ini menjadi valid sebagai hukum Islam karena validnya kedua sumber hukum ini. Pertanyaannya, apakah keduanya benar-benar valid? Yang pertama tentu. Yang kedua?

Nah, Bagian II menjelaskan tentang hal ini. Bagaimana hadith ternyata memiliki tiga alasan di mana ia bisa menjadi dasar hukum yang lemah. Pertama, status ab initio-nya sebagai dasar hukum adalah tidak diakui. Kedua, metode filtrasinya yang subyektif dan tidak ilmiah. Ketiga, beberapa teksnya yang dikatakan valid ternyata salah. Pada poin ini, kalau anda masih memilih untuk yakin akan metode filtrasi (isnad)-nya, anda mesti berpikir masak-masak untuk menerima beberapa ‘hasil matang’-nya berupa hadith-hadit aneh yang saya suguhkan di atas. Kalau sampai poin ini anda masih mengakui kebenaran cerita-cerita absurd di atas, maka saya sudah tidak akan memaksa anda untuk berpikir lagi.

Setelah melewati Bagian II, anda *mungkin* sudah menentukan arah pemikiran anda. Faktor yang terkumpul adalah; ‘hukum Islam yang kontroversial berbasis hadith’, dan ‘hadith berbasis lemah’. Implikasi logikanya, ‘hukum Islam yang kontroversial berbasis lemah’. Nah, sekarang anda bisa memilih, apakah anda akan berpikir lagi apakah akan menerima hukum Islam yang dipropagandakan saat ini (dengan resiko hukum tersebut sudah terdistorsi), atau menolak semua kemungkinan yang saya kemukakan dan kembali ke pangkuan mayoritas. Pada pangkuan mayoritas terdapat aksiom bahwa ‘hadith berbasis kuat’, sehingga secara tidak langsung semua hipotesis saya di atas luntur.

Ya, Bagian II merupakan esensinya, apakah anda akan berpikir lagi atau tidak.

Bagian III sedikit nyeleneh dengan membahas tentang konformitas. Membahas kecenderungan manusia berpikir dengan otak budaya selain otak kepunyaan sendiri. Pada bagian ini, saya hanya mengingatkan saja, kalau-kalau anda masih memilih untuk mengikuti mayoritas (berikut aksiom dan dogmanya bahwa ‘hadith berbasis kuat’) dan mendukung hukum Islam yang dipropagandakan saat ini dengan prinsip take it for granted, bisa jadi itu akibat dorongan konformitas, bukan kebenaran.

Bagaimana?

Kalau anda tidak bingung, bagus. Kalau bingung pun tidak apa. Saya pun bingung dibuatnya. Masalah ini skalanya raksasa. Terlalu besar. Jadi, ya… Saya berharap saja semoga anda bisa mendapat bahan pertimbangan yang cukup bagus. Juga semoga sebuah alternatif pikiran ini bisa menambah wawasan dan kesadaran anda. Cernalah secara obyektif tanpa campur tangan konformitas dan faktor pengganggu lainnya. Mencari kebenaran tidak mudah, apalagi yang tidak jelas dan kabur statusnya semaca hadith. Saya jadi ingat suatu wejangan yang diberikan ustadz H. Ahmad Sarwat, Lc. bahwa Allah tidak akan main siksa dan main kayu pada hambanya sendiri dengan memaksakan hambanya mencari kebenaran secara sempurna dari aturan-aturan yang memang kabur dan tidak jelas statusnya (nah, bukankah hadith memang banyak yang palsu?). Itu sama saja dengan membuat jebakan pada hambanya, dan Tuhan tidak seperti itu.

Susah mencari kebenaran? Memang susah, tidak usah menghibur dengan menggampang-gampangkan. It’s a wicked world we live in:mrgreen: Mari kita sama-sama merendah di hadapan Tuhan dan memohon perlindungan. Memohon petunjuk. Agar dimudahkan jalannya๐Ÿ™‚

Ah, kalau anda membaca dari awal sampai akhir, terima kasih banyak. Nah, akhir kata, mungkin ada baiknya saya kutip lirik lagu One People, One Struggle, sebuah lagu dari band punk Anti-Flag yang dimuat dalam album 2003 mereka, The Terror State. Kutipan lirik ini, mungkin bisa membuat sedikit merenung.

.
.
“Every revolutionary, was once considered an enemy.”
.
.

Walhamdulillahirabbilaalamin, wassalamualaikum wr wb๐Ÿ˜›

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

catatan: Tulisan ini mungkin sedikit banyak terinspirasi dari sini.

Sebagian wacana diambil dari tulisan berbagai pemikir, yang berhasil membuat saya ikut berpikir, WALAUPUN saya tidak sepenuhnya setuju dengan semua tulisan-tulisan mereka; Dr. Shabbir Ahmed, Edip Yuksel, dan Abdur Rab.

In God We Trust. RosenQueen, company.

223 thoughts on “Distortion and Conformity

  1. contoh konformitas : memilih untuk tidak komentar di sini.๐Ÿ™‚

    apakah benar?

    Sebenarnya saya mau komentar, tapi biarkan saya mencari lebih banyak lagi..

    permisi๐Ÿ™‚

  2. Tulisannya bagus dan sangat komprehensif… dapet A deh.๐Ÿ™‚

    …tapi, ada kelemahan besarnya, yaitu nabrak konformitas itu sendiri.๐Ÿ˜ฆ

    Disadari atau nggak, kebanyakan warga Indonesia sekarang terkena ‘doktrin’ payah bahwa “panjang = bikin males”. Orang2 yang cukup mau berpikir sih bakal bilang bahwa artikel ini lumayan brilyan. Tapi… mereka yang tidak terbiasa berpikir bakal kalah mental duluan loh.

    Mas, kayaknya perlu dibikin versi lazy-guys-friendly-nya nih tulisannya. Sayang kalau tinjauan yang mateng kayak gini mentok, gara2 nggak conform sama kebiasaan segmen pembacanya… (@_@)”\

  3. ini ternyata hasil bertapa kemaren itu ya,,๐Ÿ™‚ bagus bagus,, tapi mata Ma agak sakit bacanya,,

    Jaman sekarang, nentuin hadist shahih susah,, kalo mau diliat dari perawinya (urutan yang ngasi hadist) dan dicek satu satu tsiqah apa ngga,, standar ke-tsiqahan perazi aja beda beda banget,,
    contoh, di Sunni, Abu Hurairah itu Tsiqah banget, di Syi’ah, dha’if (bukan mau nyampurin dengan mahzab lagi, tapi kita butuh basic buat mulai meneliti kan,,) karena tiap bagian punya batasan apa yang harus mereka percaya dan apa yang ngga,, (aneh ya??)

    btw, Bukhari itu shahih di perawi, tapi ga di matan (isi hadist,,) itu ada di pembukaan kitabnya lho,,

    Makanya, kita harus rajin rajin baca,, rajin rajin mikir, biar ga gampang disuruh nurut ama orang,, hehehe,,

    Cerita dari guru agama SMA Ma,,
    ‘Saya seneng kalo ada orang yang percaya anjing sama lukisan itu ngebikin malaikat menjauh, saya pasang aja lukisan di mana mana, bawa anjing kemana mana,, ntar saya ga bakal meninggal (gara gara malaikat ga bisa ngedeket),,’๐Ÿ™‚

    sekali lagi,, postingannya keren,,!!

  4. Umm, gw jadi inget hadist yang kira2 isinya begini.
    Ada dua pria bersengketa dan kemudian mereka minta ke Rasulullah untuk menyelesaikan sengketa. Kedua pihak yang bersengketa itu lalu tidak setuju dengan hasil keputusan Nabi. Umar kemudian membunuh kedua pria tersebut karena dianggap tidak mematuhi hukum Allah.

    Do you feel something strange here? Umm, nanti gw cari deh sumbernya.

  5. Kok bisa sih akhi menulis sefanjang ini? *tersefona, ngundang fara abu untuk membaca*

    Mantafff, ngajak mikir, mencerahkan. Sayangnya fanjang sekali, fara femalas yang waktu atau otaknya dikit sudah fasti kabur duluan. Fadahal kalau mau membacanya fasti mereka tidak akan menyesal.

    Sekarang bagaimana ide akhi untuk menyebarkan fakta-fakta yang tak fofuler ituh?

  6. @ halludba72623
    Ya. Itu adalah bentuk konformitas:mrgreen:
    Ah, ya, saya memang mengepost tiga postingan sekaligus. Rencananya dua postingan ringan lainnya itu untuk mengimbangi artikel berat yang satu ini…๐Ÿ™‚

    @ sora9n
    Lha iya, saya juga mikir ini kayaknya kepanjangan๐Ÿ˜ฆ Tapi mau gimana lagi mas, masalah kayak gini nggak bisa dikompres jadi singkat…๐Ÿ˜ฆ

    …Kecuali dibikin komik atau filmnya:mrgreen:

    @ Rizma Adlia
    Iya. Memang status hadith sangat sulit dilacak. Nyatanya Bukhari yang (regardless ini itu) dipercaya sebagai sumber hukum Islam (Sunni) yang paling terpercaya setelah Al-Qur’an saja, masih cacat hasil karyanya. Pikiran yang menghantui saya waktu itu sederhana saja, ‘Orang-orang besar yang jenius saja sulit mencari kebenaran hukum, bagaimana yang otaknya biasa-biasa saja? Apa mencari kebenaran sesulit itu? Atau hanya disulit-sulitkan?’๐Ÿ˜‰

    Btw, coba selalu bawa gantungan kunci berupa boneka kecil mbak. Biar nggak mati-mati๐Ÿ˜†

    @ calupict
    Palesuโ„ข itu! Puasti!๐Ÿ˜ก

    @ wadehel
    Ana bayangin kalo itu abu-abu fada samfe ke halaman ini, belio-belio bakal ngelihat itu zudul, terus geleng-geleng kefala sambil ngelus zenggot. Sehabis itu belio-belio bakal ngelihat bahuwa ini artikel zangat fanzang… Terus karena ngelihat ana mempertanyakan hadith, ana bakal dikafirkan๐Ÿ˜†

    Zuzah, akhi… Ini artikel ‘kan kalau nggak fakai mikir nggak samfe fesannya…๐Ÿ˜ฆ

    Akhi mau menyebarkan fakta-fakta tak fofuler ituh? Link ini blog dari blog zeleb punya akhi bagaimana kalau akhi tulis artikel kumpulan hadith-hadith yang ‘humoris’ dan ‘bengis’? Ana dukung tuh…

    …Uh, rasanya minimal kalau para puritan berdebat dengan memakai hadith aneh kita tak perlu gentar lagi๐Ÿ˜›

  7. Lha, gambar tiga dimensi ‘kan dilarang orang puritan๐Ÿ˜›

    Ada sih fatwa yang membolehkan boneka kecil untuk anak-anak karena ada hadith di mana Aisha sewaktu kecil bermain boneka dan Rasul membolehkannya. Tapi, menurut banyak catatan, teori Rasul menikahi Aisha yang masih kecil sangat lemah.

    Padahal di Al-Qur’an umat nabi Sulaiman yang pandai bersyukur itu membangun patung-patung indah melalui perintah nabi Sulaiman a.s.๐Ÿ˜†

  8. Wuih, panjang amet,edyan….

    hehe, ya itu sih gimana orangnya aja, kalau mau maju ya berubah!

    Kalau mau dikadalin terus, jadi nyamuk aja….Buaya dikadalin, ya dicaploklah….

    kayaknya juga banyak hadith yang di hiperboliskan….

  9. Manusia ‘kan cenderung menghindari perubahan yang berkesan melawan arus… 8)

    Hadith hiperbola banyak sekali, seperti misalnya, hadith populer di mana nilai pahala shalat akan dikalikan tujuh puluh apabila sebelum wudlu menyikat gigi dengan siwak.

  10. wahh,, Ma mau deh sikat gigi pake siwak,, beli dimana siwaknya ??๐Ÿ™‚

    hehehe,, kan udah diajarin Geddoe jangan itung itungan sama Allah,,

  11. Mantafff, ngajak mikir, mencerahkan. Sayangnya fanjang sekali, fara femalas yang waktu atau otaknya dikit sudah fasti kabur duluan. Fadahal kalau mau membacanya fasti mereka tidak akan menyesal.

    Mau buat kefala ane meledak ya…?๐Ÿ˜€

    Biasanya untuk tulisan maha-panjang seperti ini, saya save lalu baca di rumah, lalu komentar besoknya.๐Ÿ˜†

  12. Maha-panjang…?๐Ÿ˜ฏ๐Ÿ˜†

    Ah, silakan baca di rumah, kalau tidak memang saya hanya akan memberatkan ongkos warnet๐Ÿ˜†

  13. Kesimpulannya, kita akan selalu mengikuti mayoritas. Bahkan ketika sebagian kecil audiens merespon dengan cara berbeda, kita juga akan merasakan ketidaknyamanan

    anu,istilah mudahnya konformitas itu kira2 psikologi massa..

  14. @ calonorangtenarsedunia
    Tidak tahu persis, tapi sepertinya iya.

    @ halludba72623
    Enam belas halaman dengan setting default OpenOffice. Belum termasuk gambar, sih.

  15. distortion and conformity..yang nge-posting Islam ato bukan??coz jaman sekarang kan banyak yang bikin tuLisan aneh2 kaya gitu, tapi emank dia sendiri bkan Islam. banyak Lho yang nuLis kaya gini, bagian dari cara orang2 Yahudi dan Nasrani pLus orang2 barat buat bikin pikiran orang2 Islam jadi kacau baLau so mereka iman mereka juga ikut2an kacau deh..

  16. @ reznik
    Aha, akhirnya datang juga suara sinis yang meragukan keislaman saya:mrgreen: Lengkap dengan atribut khas suara sinis; tanpa url. Apakah dengan komentar barusan status saya sudah menjadi selebriti?๐Ÿ˜†

    Hmm, anyway, saya Islam. Hanya saja, saya menyembah Tuhan, bukan mahdzab. Semoga tidak berbeda dengan anda๐Ÿ™‚

    Tanggapa saya begini saja. Apakah saya Islam atau Kristen, atau Yahudi, atau ateis — apakah saya keturunan Imam Malik, murid Abu Bakar Baasyir, antek-antek Mr. Bush, misionaris, atau agen Zionis — apakah saya manusia atau alien, itu tidak akan mengubah kualitas tulisan. Apabila tulisan saya benar dan jujur, tidak akan menjadi salah dan penuh tipu muslihat hanya karena saya ini Islam atau bukan. Itu yang dinamakan dengan obyektivitas. Sekarang review anda terhadap pengamatan saya sendiri bagaimana?๐Ÿ˜€

    @ halludba72623
    Ano… Mana ada yang mau menerbitkan tulisan manusia seperti saya?๐Ÿ˜†

  17. bismillahirrahmaanirrahim.
    assalamuโ€™alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    sgala puji bagi alloh subhanahu wataโ€™ala, sholawat serta salam smg slalu tercurah kpd rasululloh shollallohu alaihi wasallam serta para sahabat, tabiโ€™in dan tabiโ€™ut tabiโ€™in, dan juga kpd pr penegak sunnah hingga hari kiamat.

    fara abu-abu itu niscaya sangat kecil kemungkinannya membaca artikel antum samfai habist!๐Ÿ˜‰

    mau minta izin. artikel akhi geddoe ini bakal ana cofy trus ana sebarkan di defan hidung fara abu di kamfus ana boleh atau tidak?

    ana doakan semoga al akh geddoe cefat menjadi selebblog. amin.

    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

  18. Kalau disebarkan dalam bentuk tertulis pun, rasanya akan disobek-sobek sebelum habis dibaca…๐Ÿ˜• Tapi kalau akhi niat sih nggak apa-apa juga. Kita lihat apa mereka memilih menyalahkan pengumpul hadith, atau Rasulullah๐Ÿ™‚

  19. Berarti pertanyaannya adalah…

    Sampai sejauh mana kita harus membentangkan iman kita sebelum bertabrakan dengan akal sehat?

    Ini sih kembali ke diri masing-masing. Tidak adakah guideline kolektif untuk hal-hal macam ini? Graaaa!
    (Orang malas)

  20. Kemungkinannya bisa tak terbatas. Ketika iman dan akal sehat bertabrakan, ada kalanya orang mengedepankan iman dan doktrin (kaum puritan), dan ada yang mengedepankan akal sehat (kritisi agama?). Saya sendiri menganggap agama tidak akan bertabrakan dengan akal sehat. Makanya kalau ada doktrin yang kontroversial, kemungkinan doktrin itu untuk benar sangat lemah.

    Guideline? Graaa! Saya juga butuh! Bagi yang bisa membuatnya, buat sekarang juga…!:mrgreen:

  21. Itulah manusia, dan itulah dunia.

    Kalau saya… “odd one out”, cari yang bener, sekalipun terasingkan…

    nanti akan saya print, dan kasih liat anak2 DKM….(liat reaksi mereka..)

  22. wih panjangnya…
    mas, aku print dulu ya …biar lebih teliti bacany …kalo udah selesai baru komen … hehehe..

  23. Hmmm…tulisan yang panjang dan berisi..
    apa isinya ya ???
    mestinya jangan terlalu banyak kesalahan
    misalnya
    “Hadith” => “Hadist”
    “Aisha” => “Aisyah”

    “Muawiya dari Ummayad”
    siapa itu ??? kayaknya yang ada “Muawiyah dari Ummayah”
    “pemimpin-pemimpin Umayyad dan Abbasid”
    mana lagi tu ???
    kalo nda banyak salah”nya khan bisa lebih meyakinkan…Hue hue hue…
    pernah belajar hadist tho ??? belajar bahasa arab dulu jadi nulis nama gitu ga bakalan salah, coz tau bahasa arabnya kayak apa.
    “apalah arti sebuah nama ???”
    Ga penting ya ??? Emang, tapi cukup kok wat menjelaskan….
    hue hue hue….

  24. @ Death Berry
    Hahaha, saya kuper, ya๐Ÿ˜€
    Eh, dibelain…๐Ÿ˜›

    @ Zothai
    Setahu saya, itu namanya romanisasi. Ejaan Aisha, misalnya, bisa jadi Aisyah, Aishah, Aisya, dan seterusnya. Sampai detik ini tidak terdapat suatu kata sepakat dalam romanisasi. Shalat, misalnya. Pada EYD tercatat ‘Salat’, namun masih banyak yang menyapanya ‘Shalat’.

    Jadi sebenarnya aneh kalau anda mengatakan romanisasi ada hubungannya dengan kemampuan bahasa Arab. Tahukah anda kalau Ahmed Deedat, juru pengislam yang legendaris itu mengeja ‘Muhammad’ dengan ejaan ‘Muhummed’?๐Ÿ˜‰

    Yang saya gunakan adalah romanisasi yang umum dipakai dalam jurnal-jurnal bahasa Inggris, sebab lebih sesuai dengan selera saya.

    @ p4ndu_454kura
    Wah, dibawa tidur saja mas…๐Ÿ™‚

  25. @Zothai

    No biggie kali,, emang kalo orang yang belajar bahasa arab bakal bisa bikin posting bagus kaya gini?? (halah,, muji,,)
    kalo sekedar kritik membangun aja gpp sih,,

    btw quote yang Ma suka,,
    Itโ€™s a wicked world we live in,,
    banget!!

  26. Saya Tertarik dengan fakta-fakta “Hadith-hadith yang aneh”.
    Anda punya link-nya untuk saya verifikasi. Atau ebook, file whateverlah yang bisa saya liat untuk crosscheck ?

    Kalau disuruh ke perpus ato beli buku-nya ogah ah๐Ÿ˜›

  27. Ini saya jadikan bacaan sebelum UAN.

    Uhh… Benar-benar menambah wawasan Shan-in.

    Awal-awal Shan-in mempelajari Islam, Shan-in sempat bingung antara Al-Quran dan Hadith, lho. Untunglah pembimbing Shan-in dengan sabar menuntun Shan-in. Awalnya Shan-in bingung dengan banyaknya larangan dan perintah aneh dalam Hadist. Inilah yang Shan-in tahu, sebagai cara menyerang Islam oleh golongan lain.

    Ahh, pokoknya awal-awal Shan-in ‘merasuk’ ke Islam, benar-benar membingungkan. @___@
    Apalagi dengan para ‘pemurni’ yang dituliskan tersebut… Malah membuat Shan-in makin kacau…

    (untung sekarang sudah lumayan memahami)

  28. Saya Tertarik dengan fakta-fakta โ€œHadith-hadith yang anehโ€.
    Anda punya link-nya untuk saya verifikasi. Atau ebook, file whateverlah yang bisa saya liat untuk crosscheck ?

    Just it.
    Di University of Southern Californiaโ€ฆ atau LexicOrient
    saya tidak menemukannya๐Ÿ˜›

  29. Kok besok…? SMA Bandung sudah mulai tadi pagi.๐Ÿ˜€

    Ged, resepnya menulis sepanjang ini apa sih Ged….?

    Saya jadi tertarik membahas hadis palsu dan Islam palsu.๐Ÿ˜€

  30. @ Shan-in Lee
    Sepertinya bapak sudah benar-benar siap๐Ÿ™‚

    @ Death Berry
    Wah, coba saja tulis, saya jadi ingin baca…๐Ÿ˜›

    @ Tendo-Soji
    Itu wallahualam deh…๐Ÿ˜• Jalani sajalah…๐Ÿ˜•

  31. Memancing keributan?
    Bilang saja: “begitu ya… ajaran beragama yang benar itu harus ribut ya…”

    Tapi percuma, ah. Orang Indonesia yang hanya bisa ikut-ikutan itu telinganya sudah bebal.๐Ÿ˜†

  32. @ reznik

    banyak Lho yang nuLis kaya gini, bagian dari cara orang2 Yahudi dan Nasrani pLus orang2 barat buat bikin pikiran orang2 Islam jadi kacau baLau so mereka iman mereka juga ikut2an kacau deh..

    Makanya, Tuhan memberikan kita akal supaya bisa memfilter kebenaran. Bujuk rayu dari para zionis, misonaris, atau malah iblis sekalipun pasti mental kok, kalau kita mencoba mengurai kebenarannya.๐Ÿ™‚

    Sekarang, coba baca dengan seksama artikel ini, dan pikirkan: apakah maksudnya menjatuhkan Islam, atau mengingatkan?๐Ÿ˜‰

    @ Zothai

    Itu namanya transliterasi. Karena dari bahasa lain diterjemahkan ke huruf latin, maka ini digolongkan sbg romanisasi/latinisasi, yang juga sudah disebut sama Mr. Geddoe.

    Intinya mengubah suatu kata dari suatu bahasa ke sistem penulisan yang berbeda dari bahasa asalnya. Contoh dari bahasa Arab, “Muhammad” berubah jadi “Mohammed” (Inggris) atau “Mahomet” (aksen Eropa).

    Kalau di bahasa Jepang malah banyak banget tuh, e.g. “Sanctuary” — “sankyuutari”, “flight” — “furaito”, dll.๐Ÿ˜‰

    @ Mr. Geddoe

    Segala perintah aneh itu menurut keyakinan saya bukan bagian dari Islamโ€ฆ๐Ÿ˜€

    Hmm, ini perlu hati-hati lho. Harus mempertimbangkan keadaan waktu munculnya hadis tsb… e.g. sikat gigi dengan siwak itu sekarang aneh, tapi dulu kan itu adat di sana.

    Yang aneh kalau pahala perbuatannya dilipat2 gara siwak semata, tentunya — tapi tidak ada bukti bahwa kata2 tsb tidak pernah diucapkan oleh Rasul. Ingat, sejauh ini kita cuma bisa berasumsi, lho. (@_@)”\

    @ Tendo-Soji

    Salam kenal,

    Buat menghindari ribut sih, ya harus disampaikan sama orang yang dekat sama DKM-nya (a.k.a Rohis), tapi yang berpikiran terbuka. Tentunya sambil persuasi… (jangan gradak-gruduk bilang “itu salah!!”, itu sih pasti gagal).๐Ÿ™‚

    Kalau pas saya SMA, ya dateng aja ke mesjid. Untung temen di Rohis banyak, jadi saya bisa ngomong dengan santai. Padahal waktu itu ngomongin teologi lho.๐Ÿ˜€

    Kalau gagal ya… tau deh. Susah kalau udah kena stigma ‘kafirโ„ข’ duluan.๐Ÿ˜ฆ

    @ Shan-in

    Besok kan UAN? Kok masih ada di sini sih…???๐Ÿ˜ฏ

    *bingung*

    Ingat, 12 tahun perjuangan ditentukan dalam 3 hari, lho… (nakut-nakutin๐Ÿ‘ฟ )

  33. Menjawab komentator di atas.

    Seperti yang Suhu Geddoe bilang, Shan-in mungkin sudah siap.
    7 hari sebelum UAN Shan-in bahkan sudah tidak belajar lagi.

    Bicara Teologi di Mesjid?
    Masalah Teologi, Shan-in sering mendiskusikannya dengan teman-teman saya (yang Islam). Meskipun Shan-in yang menjadi narasumber… – -a
    Tapi Shan-in senang juga, mereka jadi tidak hanya melihat dengan kacamata kuda mengenai masalah agama. ^^

  34. Ho, begitu ya. Baguslah… ^^

    Itu termasuk cara belajar yang bagus pra-ujian lho. H-1 nggak usah belajar, karena semua materi udah siap sebelum itu. (tips SPMB)

    Tentunya ini nggak berlaku kalau orangnya nggak siap.๐Ÿ˜›

    Tapi Shan-in senang juga, mereka jadi tidak hanya melihat dengan kacamata kuda mengenai masalah agama. ^^

    Kalau anak SMA sih umumnya memang pandangannya lebih terbuka soal itu. Seenggaknya, mereka kan di sekolah umum, terbiasa sama budaya plural. Jangan bandingin lah, sama mereka yang dididik untuk taklid buta pada kyai & hadits.๐Ÿ™‚

  35. Mas Geddoe, saya belum mau ngomentari keseluruhan tulisan mas geddoe, tapi saya ingin komentari salah satu bagiannya, tentang “Lalat dicelup” itu.

    Quote :

    “”””” โ€œKalau ada lalat yang jatuh ke dalam minumanmu, celupkan seluruh badannya sebelum dibuang sebab satu sayapnya mengandung racun, dan satunya mengandung obat.โ€ (dari Bukhari Vol. 2)

    Saya lihat banyak teman-teman yang sibuk menjustifikasi hadith ini. Menurut mereka, sudah terdapat bukti secara medis bahwa memang mencelupkan semua badannya bisa menetralisir racun. Lha bukan itu masalahnya, walaupun iya, mestinya saran yang baik adalah supaya jangan diminum lagi๐Ÿ˜† Lagipula jorok, akhiโ€ฆ๐Ÿ˜†

    Hahaha, soal hadith begini memang bisa dicari-cari alasannya, sih๐Ÿ˜• Ah, itu pemanasannya saja.”””””

    Ini thread forum-nya :

    http://myquran.org/forum/index.php/topic,18633.0.html

    Ini link ke Sains-nya (download pdf, bhs.inggris.)

    http://www.jem.org/cgi/content/abstract/45/6/1037

    Kalo mas geddoe ga setuju ya gpp…

    wass.

  36. Ya, di SMA memang begitu. Shan-in belum tahu kalau di pesantren atau sekolah-sekolah agama. ^^;

    Tapi kalau di sekolah agama non-islam (Shan-in dari SDK Don Bosco), memang pandangan mereka seperti kacamata kuda. Shan-in mengalami benar, bagaimana yang mereka (Shan-in dulu ogah jelek-jelekin agama lain, lho) membicarakan keburukan Islam.

    Tapi Shan-in melihat hal yang mirip di kalangan para pemurni _ _ ;;

  37. @ p4ndu_454kura
    Hohoho, kita lihat saja UAN tahun ini seperti apa kira-kira hasilnya…๐Ÿ™‚

    @ soran9n
    Ah, ada benarnya juga. Menurut saya soal siwak itu sih memang baik digunakan, apalagi niatnya memperbagus ibadah. Tapi kalau pahalanya jadi segitu, nggaklah…๐Ÿ˜•

    @ Shan-in lee
    Jangan jadi besar kepala, lho, nanti nggak lulus๐Ÿ˜ˆ

    @ halludba72623
    Sebentar, ya…

  38. haahh,, siapa itu yang mau UAN,, samaan dengan Sarah dong,, (adeknya Ma,,)

    itu masalah belajar H-1 udah dibahas kemaren kayanya ya Geddoe,,๐Ÿ˜‰

    anw, Ma sekolah di SMU yang agak ke-pesantren-pesantrenan lhoo,, tapi malah banyak dapet pelajaran buat jadi lebih toleran sama orang dan agama lain,, Makanya Ma cinta berat sama sekolah Ma, sayangnya dianggep sekolah sesat,, hiks,,

  39. @ halludba72623
    Mungkin saja mencelupkan ke minuman bisa menangkal, tapi intinya seharusnya adalah bahwa hal itu kotor dan air yang ada lebih baik dibuang.

    @ Rizma Adlia
    Sesat…?๐Ÿ˜•

  40. sabda : Menarik-menarik persoalana agama lagi!
    Agama = keyakinan, keyakinan bukan masalah benar dan salah, karena keduanya sulit di buktikan, dan sebuah kebanaran sekalipun tidah bisa mudah merubah keyakinan,m jadi apa fungsi kebenaran dalam sebuah keyakinan?

    Hadist = adalah segala perkataan dan perbuatan nabi, bahkan diamnya nabi di jadikan hadist, betuul?
    taukan kita nabi itu adalah manusia? yang punya nafsu birahi. Amarah, sedih, bahagia dll. .. setiap perkataan nabi dan perbuatan akan terpengaruh dengan itu karena nabi adalah manusia.

    Contoh nabi sedang marah karena banyak masalah di rumahtangganya.tiba ada sahabat membawa tahanan seorang. kafir yang membunuh salah satu anak buah nabi maka pasti keluar sabda HUKUM PANCUNG DIA, manusiawi dan ini di jadikan hukum islam sekarang he he,

    kesimpulan Hadist bisa di jadikan informasi tambahan untuk menjalankan syariat Islam tapi tidak wajib.. boleh percaya boleh tidak ,,itu hak anda

    Informasi dukun saja kaadang2 kita percaya kok,masak sih informasi dari orang baik seperti bukhori dan kawan2 tidak.

    ya udahlah,,,semua di kembalikan pada daya kritis kita toh tuhan sudah memberikan Lampu yang berharga untuk kita, Otak dan Hati, itu sudah lebih dari cukup.

  41. @mbah keman bersabda

    “taukan kita nabi itu adalah manusia? yang punya nafsu birahi. Amarah, sedih, bahagia dll. .. setiap perkataan nabi dan perbuatan akan terpengaruh dengan itu karena nabi adalah manusia.”

    menurut Ma nabi itu maksum kok,, dan semua ke-manusia-an rasul itu berdasarkan ke-maksumannya,,

    “Contoh nabi sedang marah karena banyak masalah di rumahtangganya.tiba ada sahabat membawa tahanan seorang. kafir yang membunuh salah satu anak buah nabi maka pasti keluar sabda HUKUM PANCUNG DIA, manusiawi dan ini di jadikan hukum islam sekarang he he,”

    emang beneran ada ini..??

    “masak sih informasi dari orang baik seperti bukhori dan kawan2 tidak.”

    masa sekedar kaya gitu doang cara kita buat mencari sesuatu yang buat dipercaya,,? ini kan bukan masalah kecil, tapi faith kita,,

  42. @ Mbah Keman

    Agama = keyakinan, keyakinan bukan masalah benar dan salah, karena keduanya sulit di buktikan, dan sebuah kebanaran sekalipun tidah bisa mudah merubah keyakinan,m jadi apa fungsi kebenaran dalam sebuah keyakinan?

    Fungsinya? Memangnya Anda rela punya keyakinan yang belum tentu benar?๐Ÿ˜•

    taukan kita nabi itu adalah manusia? yang punya nafsu birahi. Amarah, sedih, bahagia dll. .. setiap perkataan nabi dan perbuatan akan terpengaruh dengan itu karena nabi adalah manusia.

    Pertanyaannya sekarang, hadist itu betul bersumber dari nabi/tidak? Perlu diketahui bahwa usaha pengumpulan hadist baru dimulai pada abad ke-2 atau 3 H. Pasti sudah ada periwayat yang meninggal (kecuali semua orang itu hidup sejak masa Rasul sampai 2-3 abad setelahnya).

    Kedua, selain rantai riwayatnya, benarkah isinya nggak berubah? Mungkin Anda pernah melakukan permainan ‘cerita berantai’, yaitu satu orang menyampaikan cerita pada orang lain sampai orang kelima. Nah, kemudian orang kelima itu dicocokkan ceritanya dengan orang pertama.

    Pengalaman saya, games macam itu saja banyak yang gagal. Nah, sekarang coba bayangkan: dari belasan/puluhan orang yang meriwayatkan hadist, apa tidak mungin ada perubahan isi, walaupun sedikit demi sedikit? Dan sedikit2 itu lama2 jadi bukit, lho.

    kesimpulan Hadist bisa di jadikan informasi tambahan untuk menjalankan syariat Islam tapi tidak wajib.. boleh percaya boleh tidak ,,itu hak anda

    Bukannya boleh percaya boleh tidak, tapi benar valid atau tidak, itu masalahnya. Kalau memang ada jaminan bahwa itu valid, maka tentu saja kita harus percaya. Rasulullah kan teladan utama kaum muslim.๐Ÿ˜‰

    Informasi dukun saja kaadang2 kita percaya kok,masak sih informasi dari orang baik seperti bukhori dan kawan2 tidak.

    Mungkin bisa dibaca komentarnya Mbak Risma di komentar #4. Bukhari itu shahih di perawi (sanad-nya bagus), tapi matan (isi hadis-nya) banyak diragukan. Beliau memang hebat dan cerdas; tapi kalau beliau sendiri saja mengakui bahwa matan-nya lemah, masa kita langsung percaya saja?

    Padahal sudah diingatkan lho (katanya) di pembukaan kitabnya sendiri.

  43. @ mbah keman bersabda
    Umm, kabar yang anda terima itu lurus apa tidak? Sebenarnya saya kurang sreg dengan prinsip anda, tapi prakteknya mungkin saya sedikit setuju. Gunakan hati… Apa begitu?๐Ÿ˜‰

    @ Rizma Adlia, @ sora9n
    Wah, pendapat saya sudah diwakili, nih. Nggak bisa ngomong lagi, deh:mrgreen:

  44. ulasan yang menarik,16 halaman, 8 ribu buat ngprint, 8 menit buat baca, kurang lebih 8 jam memahami maksud tulisan saudara, akhirnya ada juga tulisan yang menggugah di sini, thanks buat Mr. Geddoe yang punya waktu buat kasih telaah sama kita yang punya pertanyaan yang sama,
    Allah sudah menurunkan 25 Nabi yang wajib dikenal, berarti minimal 25 Agama yang berbeda tapi intinya mengakui ke Esaan Allah, 24 Agama sebelumnya diturunkan 3 kitab yang kesohor, Zabur, Taurat, Injil.
    sebelum Rasulullah turun tidak ada terdengar larangan Nabi tidak boleh diwujudkan dalam bentuk patung, lukisan, etc.
    hasilnya muncul lah empat berhala kaum Quraisy yang merupakan empat sahabat/ atau orang suci dari jaman Nabi Luth or Nabi Nuh (Sorry saya gak punya data otentik Nabi yang mana, tapi 5 Nabi pertama dalam urutan Islam), lalu Nabi Isa pun diwujudkan dalam sosok kristus yang di Salib (Ajaran Islam menerangkan yang di salib adalah Judas yang diserupai Nabi Isa), mungkin dari sinilah kita dengar kita gak boleh punya patung/lukisan mahluk bernyawa dirumah. cos takut kejadian kita kembali menyembah sesuatu yang berwujud layaknya sebelum Allah menyempurnakan semua agama menjadi satu yaitu Islam.
    dogma dari penafsiran injil pun mampu mengubah bahwa hakikat Injil adalah yang ditemui umat nya sekarang, sama seperti contoh hadist yang dikemukakan blogger kita ni, kalo kita mampu menganalisa hadist menggunakan akal yang diberikan Allah kenapa kita musti terjebak dalam doktrin, yang nantinya menjadi dogma karena anak cucu kita tidak mempunyai jawaban arti hadist yang dibuat manusia, pertanyaan yang terus menghantui saya yaitu apakah tidak menutup kemungkinan ada ‘Al Quran perjanjian Baru’ kalo ulama kita tetap menggunakan hadist? kenapa kita begitu malas untuk menafsirkan sendiri Al Quran (penyempurna), kenapa kita terjebak dalam konformitas atau ekstrimnya ‘pemalas yang tidur dalam buaian singa’.
    Al Quran memang kompleks karena dibuat oleh sang Khalik yang menciptakan kita, manusia ibarat sesosok robot yang berusaha membaca panduan manual ‘cara mengaktifkan robot instant’.
    btw asketisme itu sifat dasar manusia, seperti halnya makan dan suatu kebutuhan proteksi diri dari celaan. buat mr. Geddoe: saya suka teori konspirasi anda terutama hasil akhir hipotesa ke TIGA anda,. yang dapat saya bantu cuma : Allah punya 99 sifat (lampirkan untuk bukti bahwa hukum Islam tidak se opresif itu), dan tolong dimaknai benar hijrah Rasul ke Madinah yang merupakan titik balik perjuangan Islam .
    moga aja ini blog ini bisa membangunkan inspiratif anak Indonesia yang sekian tahun menikmati budaya tanpa berusaha mengetahui kenapa harus ada budaya?
    ( tulisan ini dibuat anak manusia yang terlahir sebagai muslim, maaf bila non muslim tidak berkenan karena apabila anda cerdas maka pelajarilah Al Quran yang juga menjelaskan tentang agama anda, Al Quran diturunkan universal for human kind, bukan paten muslim )neraka dan surga ibarat permen dan rotan dari orang tua kita. doain saya dapat menggapai level mukmin secara akal dan akidah.
    Palembang, 17 April 2007

  45. Yang penting pegangan kita itu yang tingkat tinggi Al-Quran…. Ya, kepercayaan itu datangnya dari dalam, bukan dari ceramah-ceramah para ulama agama itu….hehe….

  46. @ reinrush
    Fenomena yang ada adalah terperangkapnya sebuah kepercayaan menjadi paket ritual yang terlalu baku. Hukum yang opresif itu menjadi opresif kalau tujuannya sendiri sudah diabaikan dan hanya menjadi paket seremonial saja. Yang kemudian lahir adalah justifikasi.

    Sebenarnya bagi saya yang perlu diluruskan adalah sentimen bahwa hanya ada satu jalan yang benar… Apa kita tidak memanusiakan Tuhan dengan memanusiawikan prinsip keadilannya? Do this, do not do that, ada pahala, ada dosa, hitung, bandingkan… Masuk surga, masuk neraka… Semestinya tidak sesederhana itu. Tuhan bukan diktator megalomaniak…

    @ ื‘ืจืชื•ืœื•ืžืื•ืก
    Tentu, jangan membebek buta. Ingat QS Al-An’am 116๐Ÿ˜›

  47. Hukum itu sendiri pada esensinya ada dua macam yang saling berhubungan. Hukum materiil dan hukum formil. Materiil yaitu apa yang dilaksanakan dan formil adalah bagaimana cara pelaksanaannya. Yang sulit adalah bagaimana melaksanakan suatu hukum secara seimbang tanpa harus terjebak pada formalitas namun tetap melaksanakan hukum tersebut dengan cara yang benar.

    Yah, mungkin bisa dibandingkan dengan hal di atas.

  48. Pingback: Demi Indonesia kok dibilang konyol? « w a d e h e l

  49. haduhh, saya benar2 tersepona dan agak tercerahkan, mas.. buat orang bodo kayak saya ini ketika membaca paling tidak butuh 1 jam 20 menit, satu gelas kopi berikut ampasnya, dan 4 batang rokok (3 punya sendiri + 1 batang minta teman)..

    apa kesimpulannya? ah.. buat saya sendiri ajah.

  50. Bung, kalo ada tidak percaya hadits, bagaimana anda menjalankan sholat, jangan-jangan khabar tentang tata cara sholat itu tidak benar? Wa iyadzubillah.

    Istighfar sebelum maut di ujung tenggorokan.

    (eh, kayaknya ini juga hadist, ente juga nggak percaya khan?)

  51. Saya tidak pernah bilang saya tidak percaya hadith?๐Ÿ˜€
    Saya kutip dari tulisan saya di atas;

    Begini, saya bukan termasuk kaum inkar hadith, saya tetap mempercayai hadith, tapi seleksi itu tidak lagi sekadar melalui cap yang diberikan oleh oknum tertentu.

    Mengenai shalat, sebenarnya kenyataan yang ada, hadith sendiri selalu bertentangan tentang cara shalat. Kalau anda kira dengan hadith anda bisa shalat tanpa kontroversi, berarti anda hanya menutup mata tentang kenyataan yang ada.

    Solusinya? Bagi saya, saya hanya menjalankan shalat sebagaimana saya diajarkan saja. Saya tidak ambil pusing dengan hadith-hadith yang mewajibkan takbir dengan tangan setinggi pundak atau setinggi telinga (bertentangan, bukan?). Kenapa? Karena bagi saya Tuhan cukup pandai dan lapang dada untuk disembah dengan berbagai cara.

    Hohoho~๐Ÿ˜‰

  52. makasih atas tulisannya, aku juga ingin yahu tanggapan sekitarku dengan wacana ini, makanya tak add ke blog saya

  53. entar dulu,
    kak reinrush, islam tidak melarang untuk membuat patung (dan gambar)….
    asalkan itu tidak dibuat untuk :

    1. untuk disembah.
    2. direncanakan disembah.
    3. kemungkinan akan disembah.

    ada kok referensinya. dari bukunya A. Hassan.
    sekitar 8 halaman. (atau 6?)
    sudah hampir selesai menyalin.

    80% diselesaikan 3 minggu lalu,
    20%-nya ditunda sampai kini. kekekekeke!!!

    seperti kata mas geddoe :

    “tiadanya motivasi. malas.”
    ๐Ÿ™‚

  54. Yah, harus dipahami juga bahwa masih banyak golongan garis keras yang mengharamkan gambar apalagi dan patungโ€ฆ๐Ÿ˜•

    Nyinggung gambar patungku nih?โ“โ—
    *Sambil manggil Lym dan menyuruhnya menggunakan Sun Rune ke RQc*

  55. Pingback: Ringkasan "Lentera Hati" Edisi "Maulid Nabi" « yet another pramur

  56. saya ragu-ragu apakah reply saya ini masih akan dibahas…mengingat pemilik situsnya mengklaim bahwa ia memang ogah membaca tulisannya kembali…ya well, sedikit mencoba tidak ada salahnya…
    Otre…saya tidak lantas membenarkan atau mensalahkan penulis artikel panjang ini, masalahnya memang ada hadist yang diungkapkan di atas ada yang membuat saya mengerutkan dahi. Tapi saya hanya ingin mempertanyakan:
    1. kalau memang menurut penulis bahwa hadist yang diriwayatkan tadi itu salah, maka apa buktinya? Masalahnya ketika hadist itu menggunakan satu metode, saya lihat di tulisan ini tidak ada metode yang untuk mencegah metode tadi selain hasil pola pikir si penulis….kalau dibilang perawi itu bisa salah dan dipalsukan kenapa saya harus percaya pikiran si penulis…sama sekali tidak ada metodenya? atau saya yang gak nangkep?
    Jadi analoginya saya tidak setuju dengan pernyataan bahwa bumi bundar…Lah alasannya apa? pokoknya menurut pemikiran rasional saya ndak mungkin bumi itu bundar…kenapa? pokoknya ndak mungkin…tanpa saya menjelaskan metode yang saya pakai kenapa menjadi tidak mungkin…
    atau analogi lain…ketika ada orang bilang bahwa 5 dalah hasil penjumlahan 4 dan 1…lalu saya mensalahkan maka harusnya saya juga menggunakan sebuah metode untuk menyalahkan ini…misalnya…11-6=5…jadi sebuah teori harus dilunturkan pula oleh sebuah teori…
    2. Di awal tulisan penulis seolah menolak bahwa ada bukti ilmiah yang membenarkan hadist lalat tadi…tapi untuk membatalkan teori pengusutan hadist, penulis justru menggunakan metode ilmiah (dari orang lain tentunya dan bukan dari penulis)?
    3. Baiklah kalau memang penulis beranggapan semua harus bisa kita tangkap dengan pikiran…coba tolong jelaskan…
    Waktu adalah ciptaan Allah SWT…
    lantas sepeti apa posisi Allah yang tidak terikat waktu…seperti apa kehidupan kita jika tiba-tiba waktu dimusnahkan oleh Allah…kita jadi berhenti selamanya (selamanya juga memakai produk waktu), kita jadi kekal (kekal juga memiliki relevansi dengan waktu)…sampai saat ini otak saya belum sampai untuk menjelaskan ciptaan Allah yang paling istimewa ini…tapi memang mungkin saya yang bodoh…๐Ÿ™‚

  57. Boleh dibilang masalah komitmen, mas/mbak๐Ÿ™‚

    Dalam hadith-hadith di atas Rasulullah digambarkan begitu bengis dan porno. Apa saya mesti percaya? Saya tidak butuh bukti, bagi saya itu salah.

    Kenapa anda mesti percaya? Wah, saya tidak memaksa anda untuk percaya๐Ÿ˜‰ Kalau anda merasa nyaman dengan apa yang anda anut sekarang dan menganggap saya mengada-ada, silakan.

    1. Bukti yang saya berikan adalah metode yang lemah, sejarah yang tidak mendukung, serta hadith yang ngelantur. Nah, kalau ada yang tidak menerima cara berpikir saya, itu wajar. Itu hak. Kalau menurut rasio anda ternyata gosip yang dikumpulkan dua ratus tahun setelah kejadian dari mulut ke mulut tanpa tulisan sama sekali itu pasti tidak ada yang meleset, saya mau bilang apa? Kalau menurut rasio anda Umar bin Khattab itu membakar semua lembaran hadith cuma buat cari sensasi, saya mau bilang apa? Kalau menurut rasio anda Rasul itu betul setiap malam kerjanya cuma esek-esek sama istri-istrinya, saya mau bilang apa?๐Ÿ™‚

    2. Suatu rebuttal tidak terkungkung hanya dengan sains. Kalau bisa dibantah dengan satu saja antara norma, akal sehat, atau sains, suatu dasar bisa dilemahkan.

    3. Analogi tersebut sedikit kurang tepat. Yang kita bicarakan sekarang itu hukum Islam. Hukum Islam, sesuai dengan yang dinyatakan Al-Qur’an, bisa dijangkau akal. Kalau hakikat Allah, tidak. Memahami hakikat alam semesta secara detil atau tidak, bukan kewajiban seorang muslim. Yang pasti, kita disuruh berpikir, di dalam Al-Qur’an.

    Terima kasih:mrgreen:

  58. @ reza gardino

    Salam kenal,

    Cuma mau nambahin aja soal keterikatan Tuhan dan waktu. (umm, saya menulis “Tuhan” di sini, soalnya ini merupakan masalah yang umum dibahas di agama manapun).๐Ÿ™‚

    Analogi yang cukup kena kira2 seperti pengarang yang membuat dunia di novelnya sendiri. Karakter adalah ciptaan pengarang di dalam dunia tsb. Di dunia tersebut, waktu malam dan siang terjadi, tetapi apakah waktu tersebut mempengaruhi si pengarang?

    Tidak, karena si pengarang berada di dimensi yang berbeda. Malah, si pengarang bisa membuat cerita dari endingnya dulu, baru awalnya. Kalau dirasa kurang, bagian yang ditengah2 cerita pun bisa didatangi olehnya.

    Jadi, esensi tak terikat waktunya adalah bahwa Tuhan tak terikat oleh waktu manusia. Lha, Dia kan maha kuasa, maka pastinya Dia bisa pergi ke bagian waktu manapun yang Dia ciptakan.๐Ÿ˜‰

    Adapun soal kekekalan Tuhan, itu terjadi karena Dia selalu ada di awal, di akhir, dan segala di antara waktu kita. Tuhan tidak pernah absen dalam waktu kehidupan manusia.

    Umm, setidaknya itulah yang saya pikir sejauh ini. Mohon masukannya kalau ada yang salah.๐Ÿ™‚

  59. well, menurut saya tetap tidak terjawab…apalagi urusan yang ketiga, saya paham bahwa yang dimaksud pengarang menciptakan buku diambil dari buku dunia shopie…tapi tetap…saya gak nangkep gimana bisa tuhan itu berada diluar jalur waktu…maksud saya kita semua bergerak-gerak itu khan pakai waktu…begitu juga dengan diam semua pakai waktu…nah saya gak nangkep gimana Tuhan ini bisa berada diluar waktu…
    oke kembali ketulisan…
    nah…mas bilang sendiri kalau menurut saya…gosip…(ini istilah mas loh) bisa bertahan pasti tidak meleset…mas bisa bilang apa? Lah disini mas bisa bilang itu semua salah…gimana? dari mana? apanya? maksud saya begini…oke misalnya…tentang rosul yang cabul di atas tadi…mas bisa gak membuktikan bahwa hadist itu salah…
    analoginya gini kalau saya bilang sayalah pembunuh jhon F Kennedy, trus mas bilang gak percaya? apa dasarnya? apa mas tahu dimana keberadaan saya waktu Jhon F Kennedy dibunuh dan lain sebagainya? tapi ditulisan itu mas hanya sekedar menjelaskan…ah ndak mungkin Gardino ini membunuh Jhon F Kennedy saya kenal betul Gardino ini khan orang baik…lah ndak ada hubungannya toh…sebab akibatnya saling tidak berhubungan…
    Oh iya mohon dipahami saya ini baru belajar Islam (mualaf) jadi saya memang tidak paham yang dimaksud…bukan bermaksud menantang isi tulisan di atas…

  60. btw saya dapat ini dari blog tetangga:
    Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Aku biasa menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam keinginanku untuk menghapalnya. Lalu sebagian kaum Quraisy melarangku dan mereka berkata: apakah (patut) engkau mencatat segala sesuatu yang engkau dengar dari beliau, padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam seorang manusia yang dapat berbicara didalam keadaan marah dan ridha/senang?

    Lalu akupun berhenti menulis (dari hadits-hadits beliau), kemudian hal itu aku khabarkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau mengisyaratkan dengan jarinya ke mulutnya kemudian bersabda, โ€Tulislah! Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, tidak akan keluar dari sini (beliau mengisyaratkan kemulutnya) โ€“didalam riwayat yang lain : tidak keluar dariku- melainkan kebenaran. (Hadits Shahih Riwayat Imam Abu Dawud 3646, Ahmad, juz 2 hal 162 &192, Hakim)

    Inilah dalil , sekuat-kuatnya dalil, bahwa penulisan hadits Nabi sudah ada โ€“bahkan- pada saat Nabi masih hidup, sehingga subhat bahwa hadits baru ditulis setelah Rasulullah wafat akan menjadi sirna!

    http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/547?mark_read=thetrueideas:journal:547&replies_read=20

  61. Begini, masalah seperti ini tidak bisa begitu saja dibakukan. Ini bukan soal harus ada bukti atau tidak. Mengapa? Karena ini adalah kejadian yang sangat lama; segala bukti yang ada pun menjadi kabur.

    Coba saya bantu sedikit:
    1. Dalam hal hadits, Mr. Geddoe hanya menjelaskan bahwa metode klarifikasi keabsahannya lemah. Berarti wajar dong kalau kita meragukannya? Bukan berarti sekonyong-konyong hadits-hadits tersebut salah, namun ini berarti mereka belum tentu benar. Tak ada pembuktian, memang. Maka dari itu…

    3. … kita harus menangkap segala sesuatu dengan akal. Ini bukan berarti kita harus mengerti benar mengenai konsep ke-Tuhan-an dan merumuskannya. Ini berarti kita harus mencoba menyaring informasi yang masuk dan tidak mempercayai secara membabi-buta.
    Mari kita ambil contoh dari Anda:

    Jika Anda mengaku sebagai pembunuh John F. Kennedy, jelas saya tidak percaya. Bukan karena saya memiliki bukti nyata, namun melalui proses nalar. Siapa pula Gardino ini? Mengapa namanya tidak pernah muncul dalam sejarah John F. Kennedy? Kok dia baru mengaku-ngaku sekarang, apa untungnya? Dsb, dsb.

    Begitu pula dengan hadits-hadits tersebut. Rasul cabul dan kejam? Apa iya? Bukankah Al-Qur’an menggambarkannya sebagai orang yang arif? Apa iya dia bisa dicintai dan dihormati kalau dia seperti itu? Dsb, dsb. Nah dengan nalar tersebut saya mengambil kesimpulan bahwa hadits yang satu itu salah. Itu tidak ada buktinya dan hanya opini pribadi. Namun, berhubung keabsahan hadits-hadits memang meragukan, sah-sah saja kan?

    Tentu semua orang bebas untuk tidak sependapat dengan saya mengenai hadits itu. Toh memang tak ada bukti apa pun. Itulah yang Mr. Geddoe coba sampaikan di sini: pakailah nalar, jadilah kritis dan putuskanlah sendiri untuk segala sesuatu. Jangan memukul rata semuanya dan jangan membabi-buta mengikuti pendapat sekitar.

    (Catatan: yang saya maksud dengan “akal” dan “nalar” bukan hanya “otak”, melainkan juga “hati”)

  62. Hm, mengenai Tuhan dan waktu, penjelasan mas Sora sudah sangat menggambarkan jalan pikiran saya๐Ÿ™‚

    Kembali ke permasalahan awal.

    1. Saya tidak pernah mengatakan semua dari koleksi hadith itu salah. Yang saya katakan adalah, bahwa dengan gugurnya kepercayaan saya akan beberapa hadith, otomatis hadith itu secara keseluruhan tidak bisa dijadikan harga mati. Analoginya sudah saya sertakan berupa ‘buku berisi trivia unik’ pada paragraf awal bagian ketiga.

    Begini, mas. Anda punya guru bela diri. Dia mengajarkan dua hal yang anda kira aneh; pertama, katanya ikan mas bisa terbang. Kedua, katanya dia tidak akan bisa mati. Besoknya, dia mati. Nah, setelah apa anda akan percaya bahwa ikan mas bisa terbang?๐Ÿ˜‰

    Nah, tapi tentunya hal ini tidak membuat anda mengira semua teori bela diri yang diajarkannya adalah salah, bukan?๐Ÿ™‚

    2. Dalam Islam, taklid buta dilarang. Kita tidak boleh main percaya saja tanpa mengecek kebenarannya (QS Yunus 36, QS Al-Israโ€™ 36). Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mempercayai begitu saja hadith yang kebenarannya tidak bisa dicek? Apa Tuhan memaksa kita menerka-nerka?

    3. Bagi saya, implikasinya adalah bahwa hadith sangat rentan bila dijadikan dasar hukum. Ini bukannya tidak beralasan — pada praktek hukum Islam masa-masa awal, hadith tidak dipergunakan sama sekali.

    4. Silakan baca kembali tulisan saya. Penulisan hadith memang sudah ada sejak zaman awal Rasulullah๐Ÿ™‚ Hanya saja, dilarang. Kalau masih ada sampai saat ini, kalau tidak palsu, adalah hasil gerilya.

    5. Saya lihat anda hanya berputar-putar mencari justifikasi. Sekarang anda percaya tidak bahwa Rasulullah itu betul seperti yang digambarkan dalam hadith-hadith aneh yang saya gambarkan di atas? Kalau anda masih percaya, saya tidak akan berargumen lagi. Silakan berbuat sesuka anda. Saya lebih mencintai Rasulullah daripada pengumpul hadith dan ulama-ulama.๐Ÿ˜›

    6. Nah, kesimpulannya bagi saya, hadith adalah bacaan yang bagus, tapi kita harus berhati-hati menjadikannya sebagai sumber hukum… Cek terlebih dulu. Sesuai Al-Qur’an apa tidak? Lagipula Al-Qur’an jelas-jelas menulis bahwa sebagai kitab ia itu jelas dan lengkap. Segala yang perlu diketahui dalam hukum beragama, ada di situ.

    Btw, salam kenal๐Ÿ™‚

  63. Aduh. Pak Bebek ngepost toh, saya nggak ngelihat๐Ÿ˜›

    Ah, silakan lihat argumen Pak Bebek juga, beliau bisa menjelaskan argumen-argumen lebih baik dari saya๐Ÿ™‚

    Intinya saya tidak memaksakan cara pandang saya pada mas (ini cowok ‘kan?๐Ÿ˜• ). Cuma mas harus tahu, di dunia ini cara pandang ada banyak. Ada yang percaya Tuhan, ada yang nggak. Di antara yang percaya, ada yang agamanya ini, ada yang agamanya itu. Di antara yang agamanya sama, ada yang cara pandangnya begini, ada yang cara pandangnya begitu๐Ÿ™‚

  64. Loh…saya khan tidak membabi buta…siapa bilang bahwa saya tidak setuju dengan pendapat di atas…justru karena saya tidak membabi buta…saya justru ingin mencari kebenaran dibalik tulisan itu….khan dari awal saya sudah bilang, bahwa hadist yang disajikan di atas memang mengernyitkan dahi saya…
    tapi kalau saya bersikap sama dengan pembaca situs ini bahwa apa yang diungkap Mr. Geddoe ‘benar-benar’ mencerahkan tanpa menyelidikinya lebih lanjut…ya berarti ini sama saja dengan menerima doktrin hadist yang semula dipertentangkan. Justru tulisan ini mencoba mengarahkan kita untuk lebih kritis memandang sesuatu yang dihamparkan kepada kita…Lah kalau perawi saja boleh dipertanyakan…kenapa tulisan ini tidak boleh dipertanyakan?
    Sekali lagi…penulis dan pemilik situs ini berhal mengungkapkan apa saja…tapi saya juga punya hak untuk bertanya khan? supaya saya tidak membabi buta begitu saja…
    Kalau Mr. Geddoe yang bilang bahwa minum jamu itu cuma menyusahkan karena pahit dan membuat mulut kebas jadi jamu tidak termasuk obat…mosok saya harus langsung percaya? khan saya berhak dong tahu, alasannya apa? semua orang juga dah tahu bahwa jamu itu pahit…sama seperti semua orang tahu…minum dan meludah ke mulut orang lain itu jorok…tapi kalau lantas itu dipertanyakan sebagai sebuah hadist yang sah, ini yang saya pertanyakan…
    tidak ada korelasinya antara jamu pahit dan statusnya sebagai obat…

Comments are closed.