Satu Ringgit Dua Puluh Sen

Ah, hari ini sedang ingin berbicara yang ringan-ringan saja. Lama-lama saya lelah berkutat dengan filosofi berat setiap harinya. Selain menurunkan produktivitas (walaupun menajamkan pikiran), rasanya juga saya seperti menyiksa diri sendiri. Dan itu, tidak bagus. Oleh sebab itu, hahaha, mari membicarakan yang relatif lebih ringan…😛

vending machine...
“Perampokaaan…! Penipuaaan…!”

Oh, tunggu, mungkin tidak se-ringan itu…

Nah, begini. Kali ini saya bermasalah dengan sebuah kotak raksasa yang bergelar vending machine. Kotak-kotak raksasa ini pada hakikatnya bertugas untuk menyajikan transaksi swalayan yang benar-benar sejati; para pelanggan akan memasukkan sendiri uang, mengambil barang, dan bahkan memungut sendiri uang kembaliannya. Swalayan yang benar-benar sejati, bukan? Anak emas revolusi industri? Mungkin

…Atau mungkin tidak juga. Sebab menurut sumber yang saya baca, vending machine ini justru ditemukan pada abad pertama masehi. Lebih kurang dua ribu tahun silam. Cukup mengejutkan juga, walau wujudnya pada saat itu bisa dipastikan sangat buruk rupa dan (kemungkinan besar) rawan error.

Tapi sudahlah, saya tidak tertarik membicarakan sejarah kotak raksasa ini. Mari, biar saya ceritakan saja sebuah kisah sedih yang berhubungan dengan mesin laknat ini…

* * *

Pada suatu malam, saya sedang dalam perjalanan menuju kamar asrama saya. Sebelum melewati tangga, pandangan saya tertuju ke arah vending machine Pepsi yang ada di lantai satu. Karena pada waktu itu uang recehan yang saya miliki cukup banyak, saya memutuskan untuk membeli sekaleng minuman. Setidaknya untuk mengusir kantuk, karena malam itu saya memiliki suatu hal yang harus dikerjakan.

Harga minuman-minuman yang dijual di dalam kotak raksasa itu nyaris seragam; hampir semuanya satu ringgit dua puluh sen. Terdapat beberapa pilihan minuman, namun sebagaimana kebiasaan saya, saya berencana untuk memasukkan uang sejumlah satu ringgit dua puluh sen tersebut ke dalam kotak terlebih dahulu, baru kemudian memilih (terkadang malah dengan mata tertutup)😛

Terdapat beberapa ‘aturan main’ yang mesti dipatuhi apabila seseorang ingin menggunakan jasa kotak raksasa ini;

  • Boleh menggunakan uang recehan 10, 20, dan 50 sen, atau
  • Boleh menggunakan uang kertas pecahan satu ringgit.
  • Uang kertas hanya boleh dipakai sekali. Dimaksudkan supaya selalu ada kembalian berupa recehan nantinya.
  • Apabila ingin membatalkan transaksi, uang receh akan dikembalikan, tetapi
  • Uang kertas tidak bisa dikembalikan!

Maka, metode yang paling sering saya gunakan adalah, memasukkan uang kertas pecahan satu ringgit terlebih dahulu, lalu diikuti uang recehan sebesar dua puluh sen.

Tapi, bencana terjadi.

Pada malam itu, tanpa rasa curiga saya memasukkan uang kertas pecahan satu ringgit tersebut ke dalam kotak raksasa tersebut. Bip, bip. Satu ringgit sudah terdonasikan. Nah, ketika saya ingin menambahkan recehan sisanya, uang recehan tersebut tidak mau masuk, melainkan langsung terjatuh di bawah layaknya uang kembalian. Saya coba berkali-kali, namun tidak berhasil, kotak keparat ini rusak; tidak menerima uang recehan!

Berarti, keadaannya menjadi sangat buruk;

  • Uang kertas tidak bisa dikembalikan, jadi saya tidak bisa membatalkan transaksi, harus membeli, kalau tidak mau rugi.
  • Untuk membeli, satu ringgit tadi mesti ditambah. Sebab, harga minuman termurah adalah satu ringgit dua puluh sen.
  • Untuk menambah, tidak bisa menggunakan uang receh, sebab mesinnya rusak dan tidak menerima uang receh.
  • Gawatnya, saya tidak bisa memakai uang kertas, sebab uang kertas hanya boleh dipakai sekali!
  • Kesimpulannya, saya hanya bisa memasukkan satu ringgit ke dalam kotak tersebut, tidak lebih, tidak kurang.
  • Dan saya tidak bisa membeli apa-apa, yang saya lakukan hanya memberikan sedekah.
  • Perampokan!

Saya adalah orang yang cukup pelit berprinsip keadilan cukup kuat, jadi saya tidak terima diperlakukan sewenang-wenang. Saya tetap berusaha melakukan usaha darurat; terus memasukkan uang receh dua puluh sen sampai kotak tersebut menerimanya.

Tidak ada hasil.

Saya kemudian mulai mengeluarkan jurus-jurus rahasia; memukul-mukul mengaplikasikan tekanan demi tekanan ke arah kotak tersebut. Tetap nihil. Lalu dengan penuh harap, saya melakukan usaha terakhir; memasukkan uang recehan dua puluh sen tersebut untuk terakhir kalinya.

*plung*

Berhasil! Tidak tembus ke bagian bawah, dalam artian ‘ditelan’ oleh mesin. Berarti, saya sekarang bisa membawa pulang sekaleng minuman…!

Atau tidak?

Hmm, ternyata koin laknat tadi sekadar ‘masuk’ saja ke dalam kotak keparat ini. Keterangan uang yang saya masukkan tetap menunjukkan jumlah satu ringgit, tidak bertambah! Artinya, saya hanya menambah uang sumbangan saya!😦

Terpana dengan hilangnya satu ringgit dua puluh sen di depan kotak raksasa itu, saya pun menyerah. Apa boleh buat, apa mau dikata? Mencoba-coba, salah-salah malah kehilangan uang lagi😦 Padahal, satu ringgit dua pukuh sen tidaklah murah. Yak, sekitar tiga ribu rupiah uang yang melayang sia-sia. Pelajaran yang didapat: Apabila ingin memakai vending machine, masukkan koin terlebih dahulu!😀 Dengan demikian, setidaknya kalau mesin tersebut rusak, kita tidak akan rugi, kecuali kalau koinnya sekadar ‘ditelan’ saja seperti kasus terakhir di atas. Kalau sudah demikian, memang nasib saja yang sedang apes.

Lucunya, keesokan harinya saya menemukan seorang siswi yang kebingungan di depan kotak yang sama. Ia sibuk berusaha memasukkan recehan, walau belum berhasil, sebab mesin tersebut masih menolak ‘diberi makan’ recehan. Tulisan yang tertera pada layar kotak tersebut sangat familiar; Satu ringgit.

In God We Trust. RosenQueen, company.

39 thoughts on “Satu Ringgit Dua Puluh Sen

  1. Ringgit? hmmm…* manggut-manggut sambil mikir*
    kasus mr. Geddhoe vs vending machine ini di Malaysa bukan?😀
    *Sok nebak*

    Saya juga pernah kejadian yg mirip2…, bedanya vending machinenya masih mau kompromi ngasi minumannya🙂

    Lain kali hati-hati aja Mas, eh malahan udah dapat trik juga tuh ya…🙂

  2. Ah, iya, saya di Malaysia🙂

    Wah, kalau mbak ‘kan minumannya dapat, kalau saya ini betul-betul dirampok😛 Hahaha, ya, diikhlaskan sajalah🙂

  3. karena malam itu saya memiliki suatu hal yang harus dikerjakan.

    Pasti ngeblog… ya kan?😀

    Saya kemudian mulai mengeluarkan jurus-jurus rahasia; (memukul-mukul) mengaplikasikan tekanan demi tekanan ke arah kotak tersebut.

    Keluar deh… tradisi Indonesianya…😛

  4. Pasti ngeblog… ya kan?😀

    Sebenarnya nggak, tapi, ya, nggak usah dibahas, deh😛

    Keluar deh… tradisi Indonesianya… 😛

    Sekadar informasi, sewaktu teman saya mencoba memukul-mukul kotak-kotak itu dulu, keluarlah koin banyak sekali😛

  5. Difo, harusnya kamu protes juga jatah internet dikurangi. Masa tempat kayak kamu bisa sampai fakir benwit gini, sih. Torrent diblock cumi gpp, tapi kalau messenger putus2 keterlaluan itu namanya.

  6. Masih untung Mr. Geddoe tidak berakhir memalukan seperti saya waktu itu…

    Waktu kelas 6 SD, saya mencoba vending machine. waktu itu saya teken Diet Coke yang lampunya nyala (maklum anak SD,belum tau lampu nyala artinya abis).Terus habis kesabaran, saya pukul-pukul ampe kena tombol coca cola yang lampunya gak nyala.Eeee, coca cola keluar. terus securiti bilang: “Dek, kalau yang lampunya nyala artinya habis”… Malu langsung…..

  7. kalo di Indonesia kembaliannya nggak berupa koin tapi permen he..he… omong-omong kalo di Indonesia juga bisa ancur tuh mesin

  8. @peyek

    kalo di Indonesia kembaliannya nggak berupa koin tapi permen

    Waah… kalo gitu waktu mo beli, bayar aja penjualnya dengan permen. Terus kalo orangnya marah, bilang aja gini:
    [imut mode on:]
    Bapak/ibu penjual yang baik, kan biasanya uang kembaliannya berupa permen, jadi ga salah dong kalau saya membayar juga pakai permen.😛
    [imut mode off:]
    Dengan gitu, si penjual akan kapok dengan sendirinya.

  9. kapan2 orang indo kudu buat Vending Machine yang isinya sekoteng, jamu beras kencur gitu bagus d kayakna…
    hihihihi

    #joe, udah bau tanah kamu..nggak usah nanya2in siswi smp gitu…kekekekek…

  10. Makanya gak usah pakai vending machine, beli saja di asongan😀
    Di Malaysia ada pedagang asongan tak? Kalau tak ada maka itu bisa jadi prospek bisnis. Tanya saja sama anTOBILang, dijamin setuju dia

  11. waaalllah aku juga sering di rampook, udah hauss recehan tinggal sgitu2anya, duitnya di telen pulaak, seperti di padang saharaa… padahal klo pas minum suka lupa bersyukur, alhamdulillah bisa minum rejekii..

  12. *kok, banyak yang ganti avatar, ya?*

    @ deKing
    Waktu itu ‘kan tengah malam, mas, sudah tutup semua, makanya…😦

    @ Evy
    Hehehe, iya, ya, Bu😛 Cobaan kecil saja sih sebenarnya😛

    :::::::::UPDATE:::::::::

    Mesinnya sudah ramai dipergunakan lagi kemarin, saya juga sudah coba dan lancar-lancar saja😛

    …Tapi barusan ini saya coba untuk kedua kalinya, dan rusak lagi, lima puluh sen lenyap ditelan😦

  13. @Mr. Geddoe

    Mesinnya sudah ramai dipergunakan lagi kemarin, saya juga sudah coba dan lancar-lancar saja😛

    …Tapi barusan ini saya coba untuk kedua kalinya, dan rusak lagi, lima puluh sen lenyap ditelan😦

    [Error mode on]
    Maaf, vending machine ini ga mau sama Mr. Geddoe. Silahkan coba di mesin lain.
    [Error mode off]
    Berarti nasib baik lagi ga berpihak sama kamu.😛

  14. Mesinnya gutung bawa kerumah aja mas.. wakakak.. butuh bantuan tenaga? *siap membantu* hehehehe..

  15. anda harusnya lebih teliti…

    …😛

    biasanya ada palu yang digunakan di saat2 darurat bkan???

    PRANG!!!

    cess…

    Glekk… glekk… glek…

    …😛

    bcanda2…

    mungkin 10 tahun lagi Anda bangkrut dan jadi gembel tuna wisma… [it’s possible… lol]
    dan akan ada orang yang hanya ingin bersedekah 500, tapi karna Anda tak ada kembalian, terpaksa dikasih 1000…😛

    lol
    berkidding doank…

    heheheh…

  16. Geddoe:
    “Pelajaran yang didapat: Apabila ingin memakai vending machine, masukkan koin terlebih dahulu!”

    sbenernya…

    Jabizri:
    “Pelajaran yang didapat: Apabila ingin memakai vending machine, pikirkan dulu minuman apa yang akan di beli… :P”

    hehehhe…😛

  17. Pingback: Menutup Kemungkinan Lain « sora-kun.weblog()

Comments are closed.