Berislam Cara Ninja?

Oh, tidak. Ini bukan masalah niqab yang kontroversial itu, walau memang yang memakainya sekilas menyerupai ninja. Bukan pula bermakna berislam secara sembunyi-sembunyi. Atau Islam yang bunuh-bunuhan secara diam-diam. Oh,bukan.

mas uzumaki, sok dramatis
“Lho, apa salahnya mencoba mencari hikmah dari Naruto?
Bukankah hal apapun yang kita lihat mengandung pelajaran,
seperti perkataan Imam Musa Al-Kadhim?”

Hmm, para penikmat anime di sekitar saya saat ini, cukup banyak yang mengikuti alur serial baru Naruto. Sayangnya saya sendiri tidak terlalu berminat mengikutinya, mengingat reputasi buruk serial sebelumnya yang berjejal dengan berbagai filler yang memperpanjang cerita dan menyematkan kesan bertele-tele. Yak, menyerupai sinetron-sinetron khas Indonesia. Jadi, ya, itu. Saya tidak berniat menonton animenya. Cukup manganya saja. Tentunya selain lebih konsisten dalam penceritaanya, versi manganya lebih ringan, lebih up-to-date, dan bisa didaur ulang (dibuat sebagai bahan membuat wallpaper atau avatar, misalnya).

Nah, entah dapat wahyu dari mana, saya menyempatkan diri membaca kembali chapter-chapter awal dari manga Naruto ini. Yak, Naruto. Manga yang sangat mainstream. Pasaran! Padahal niatnya, saya ingin mendownload kelanjutan serial manga lainnya, yaitu Gantz. Yang ini tentunya jauh lebih kontroversial dan dewasa. Tapi, karena koneksi internet saya saat ini sebegitu menyedihkannya, saya hanya bisa mengaduk-aduk koleksi lama saya. Uh…

Bagian yang tidak sengaja terbaca adalah chapter 8. Sudah lama sekali, memang. Ya, ujian pertama para bocah di bawah pimpinan sang guru. Hohoho, jangan bilang anda tidak tahu bagian ini, sebab sejauh pengetahuan saya, bocah-bocah yang masih TK pun, banyak yang sudah hapal kejadian-kejadiannya.

Ah, tapi demi formalitas, biarlah saya mendongengkannya kembali…

Alkisah tiga bocah yang sedang menjalani pelatihan menjadi shinobi ini ‘diplonco’ oleh sang guru. Ketiganya diperintahkan untuk tidak sarapan sebelum tes, lalu disuruh untuk merebut dua buah lonceng kecil yang dipegang oleh sang guru. Bagaimana caranya terserah. Namun karena ada dua lonceng, tentunya tidak semua murid akan dapat merebutnya. Minimal satu di antara mereka akan gagal, sebab, ya, jatahnya cuma ada dua. Hukuman buat yang tidak mampu mendapatkan lonceng barang sebiji pun, sangat imoral dan kejam; tidak diberi jatah makan siang. Berhubung ketiga bocah tersebut sayang pada perut masing-masing, mereka pun mencoba dengan segala daya upaya.

Namun, nyatanya, tidak ada yang sanggup merebutnya dari sang guru. Tentunya, membuat mereka sangat kecewa pada kemampuan mereka sendiri sebagai calon shinobi. Salah satu bocah, ternyata memikirkan urusan perut di atas segalanya, dan memilih mencuri makan siang yang disediakan sang guru. Hasilnya, ia pun tertangkap basah sebelum sebutir nasipun berhasil ia kunyah. Sang guru, semakin prihatin dengan kualitas anak-anak didiknya, akhirnya mengeluarkan fatwa pernyataan bahwa mereka tidak akan lulus, dan sebaiknya, pulang saja. Sebab, menurut sang guru, berusaha pun tidak ada gunanya. Para murid ini pun tertunduk malu mendengarnya.

Namun kemudian, setelah berpidato, sang guru memutuskan untuk memberi mereka satu kesempatan lagi. Mereka boleh mencoba, ya, mencoba sekali lagi. Sedikit iba, sang guru pun memperbolehkan mereka makan. Yap, sang pencuri makanan tadi, tidak diperbolehkan makan. Walhasil, sang murid mengamuk, karena lapar dan merasa dipermalukan. Muka sang guru berubah serius. Murid-muridnya yang sudah ketakutan, tambah merinding ketika ia memperkuat ancamannya, bahwa siapapun yang memberi si pencuri sesuap nasi, bakal diazab oleh sang guru. Karena sang guru mengucapkannya dengan sorot mata yang sangat tajam, menjadi ciutlah nyali para murid tersebut. Sang guru pun kemudian meninggalkan mereka bertiga untuk makan sambil merenungi kesalahn mereka. Dan di hadapan si bocah maling yang kelaparan, makanlah dua orang murid temannya dengan lahap. Sepanjang waktu, perut si bocah maling terus berbunyi. Tapi apa daya, sang guru sudah memberi peraturan ketat dengan wajah buas, bahwa dia tidak boleh dikasih makan.

Namun lama kelamaan, kedua temannya merasa iba, dan mulai menawarkannya makanan. Dan kemudian mereka bertiga pun makan… Ya, melanggar peraturan… Memberi makan, yang seharusnya, tidak diberi makan…

Lalu muncullah sang guru dari kejauhan, sambil berteriak-teriak murka. Wajahnya ganas, buas, dan siap menerkam. Para murid pun menggigil ketakutan. Tapi sang guru terus berjalan mendekat dengan air muka menahan marah, karena melanggar aturan sang guru. Dan sang guru pun akhirnya berdiri di hadapan mereka. Lalu, tidak disangka-sangka, sang guru tersenyum lebar. Mereka semua diluluskan, katanya.

Terang saja ketiganya terdiam, menerka-nerka apakah sang guru sedang bercanda. Dan guru mereka tidak bercanda. Mereka langsung diluluskan. Menurut sang guru, memang orang yang melanggar peraturan itu sesat, tapi, yang membiarkan rekannya menderita, lebih sesat lagi. Begitulah, dan mereka pun lulus.

Terdengar klise? Mungkin.

Sepertinya sudah cukup banyak cerita serupa yang kita dengar. Terutama, apabila menyangkut masalah ujian. Apalagi ujian dari suatu pembelajaran yang tidak lazim, katakanlah ilmu bela diri. Bagaimana seseorang yang sudah pasrah tidak lulus karena tidak memenuhi prosedur baku yang ada, justru diluluskan karena ternyata memenuhi sebuah kriteria berbau filosofis. Tipikal cerita-cerita bijak.

Hmm… Mungkin contoh lain yang agak membumi; seisi kelas pada suatu sekolah saling menyontek saat ujian. Semua curang, kecuali seorang murid yang tergolong goblog kurang cerdas, tapi berniat bekerja secara jujur. Namun ternyata ibu guru yang mengajar, menganut ‘ideologi ninja’ di atas. Seisi kelas yang mendapat nilai tinggi, diperintahkan mengulangi ujian. Murid jujur yang goblog kurang cerdas tadi, yang nilainya nota bene rusak binasa, dianggap lulus ujian. Sebagai hadiah kejujuran! Hohoho, tentunya akan lebih keren lagi kalau ternyata ujian yang dimaksud adalah ujian mata pelajaran agama atau kewarganegaraan…😛

Bijak? Yah, kalau anda memperlihatkan cerita ini ke berbagai orang, saya rasa rata-rata akan mengangguk setuju. Bahkan cerita seperti ini bisa jadi berpotensi menjadi bahan renungan abadi. Dalam artian, bisa diadaptasi ke sana-sini dengan tetap mempertahankan kualitasnya. Silakan ganti temanya menjadi pelatihan prajurit Majapahit untuk disiarkan dalam episode sebuah sinetron bersetting Nusantara kuno. Atau menjadi ujian SMA untuk sinetron ABG genit. Pelatihan karyawan buat episode sinetron dakwah. Atau ujian berlatar belakang dunia samurai untuk dijadikan manga yang ditempel di mading sekolah. Malah kalau anda kreatif, pelintir menjadi cerita padang pasir buat konsumsi mushalla. Percantik dengan ayat yang sesuai dan jadilah cerita yang Islami. Saya tidak sedang menyindir atau bercanda. Serius, itu sangat baik dalam pandangan saya🙂 Sebuah petuah untuk mengedepankan hati nurani. Sebuah cerita yang mencerahkan.

Bukan, inti entry kali ini, bukan hanya soal filosofi itu, tapi lebih pada analogi yang bisa diaplikasikan olehnya dalam konteks religi😮

Nah, lalu, setelah membaca, tiba-tiba pikiran iseng terlintas di otak saya. Bagaimana dengan sang Maha Bijak?

Hmm… Sang Maha Bijak tentunya lebih bijak dari itu, bukan? Kemudian terbayangkanlah bagaimana pada hari pembalasan, beberapa makhluk yang tidak memenuhi ‘prosedur baku’, ‘diluluskan’ karena memenuhi kriteria filosofis tertentu. Dan sebaliknya. Makhluk-makhluk yang terpaku pada mengikuti prosedur baku, tapi tidak memenuhi ‘sesuatu’ yang diperlukan, atau justru dianggap melanggar esensi dari ‘jalan ninja’ yang diajarkan, dibuat ‘tidak lulus’.

Teringat sesuatu? Kalau anda teringat pada cerpen klasik karya A. A. Navis, ya, Robohnya Surau Kami (1955), maka pemikiran saya sama dengan anda. Memang filosofi cerita yang disajikan di sana saya nilai kelewat ekstrim, dan agak berlebihan, tapi big picture-nya saya rasa bisa ditangkap di sana.

Apa jalan menuju ‘kelulusan’ (baca: gol masuk surga) itu mesti dengan mengikuti prosedur yang ada dengan sempurna? Saya rasa tidak. Apa tanggapan anda tentang seorang wanita ‘hiperaktif’ yang meninggal menyelamatkan anak kecil dari tabrakan? Atau pemuda yang menggemari minuman keras, namun sering menangis tersedu-sedu mendoakan orang tuanya? Hmm? Atau, pemuda yang sesekali mencicipi barang imoral, namun selalu tergerak hatinya menafkahkan anak-anak yatim?

Atau, sebagai perbandingan, bagaimana anda membandingkan orang yang sepanjang hayatnya terus beribadah, namun tidak peka secara sosial? Apalagi, cenderung brutal? Bandingkan dengan orang yang ibadahnya hanya melaksanakan yang wajib saja, namun aktif dalam masyarakat? Kalau menurut A.A. Navis di atas, anda tahu sendiri, mana yang beliau anggap lebih mulia.

Bukankah, ‘kelulusan’ itu akan melalui timbangan? Jadi, semestinya, kesempurnaan bukan harga mutlak. Apalagi, untuk hal yang relatif seperti ini. Kesempurnaan mengikuti prosedur-prosedur, memang patut dianugerahi ‘kelulusan’, tapi, apa sekaku itu? Sekarang kita sedang berbicara dalam konteks keadilan sang Maha Adil! Kalau yang ‘diluluskan’ hanya yang semata-mata senantiasa bersujud saja, dan sebaliknya yang berjasa bagi masyarakat — namun katakanlah, masih menikmati dunia — kemudian didiskreditkan, wah… Lalu apa yang membedakan Tuhan dengan para tiran yang mabuk dipuja? Tuhan bukan zat megalomania yang kebetulan punya kekuasaan tiada batas. Ia zat Maha Sempurna. Maha Adil.

Setelah memikirkan ini, berbagai filosofi tentang ‘keadilan’ berseliweran di pemikiran saya. Tidak, intinya bukan berarti ‘kita boleh melanggar peraturan’. Lebih dalam lagi, yang dikedepankan adalah prioritas. Segala atribut dan peraturan yang ada, tujuannya adalah untuk mengusung nilai-nilai dasar yang sudah ditanamkan. Nilai budi pekerti luhur. Karena keterbatasan manusia, ada kalanya suatu atribut justru tidak mendukung nilai fundamental yang ada. Di sinilah prinsip prioritas itu diuji.

Haha, tentunya ini hanya serpihan filosofi saya saja. Boleh diikuti, boleh tidak. Yang pasti, tentunya Dia adalah yang paling adil, paling penyayang, dan paling baik.

Salam ninja😛

In God We Trust. RosenQueen, company.

63 thoughts on “Berislam Cara Ninja?

  1. Keadilan itu kan tergantung dari sisi mana kamu melihatnya, terkadang bila kepalang kepepet dan otak tidak keruan, mencontek itu bisa dianggap benar oleh orang tersebut…hehe…….Dan ada yang bilang kalau melanggar peraturan itu secara absolut pasti salah… tdak peduli se”bejat” apapun peraturan itu….

    Itu menurut saya..

  2. wadoh..panjang bgt mister…
    hem…aku pikir tuh tadinya mau cerita tentang penghuni masjid yang bercadar2 kayak ninja..wakakakak

    btw, bagus juga pemikiran mister, dan siap2 dihujat ya…

    *kabooor*

  3. fffuuiih…selesai juga akhirnya…*lap keringat*
    ga nyesal baca panjang-panjang…🙂
    Coba kalau tiap orang itu selalu berusaha melihat sisi positif di tiap kejadian ya…atau juga selalu terinspirasi untuk berfikir (atau paling nggak berusaha melakukannya) lalu bikin satu review (ga mesti dlm tulisan, jadi minset pun gpp) walau dengan setting penyampaian yang unik dan khas gaya masing-masing…Pasti kontribusi dan itikad baiknya juga akan tercitrakan dengan baik

    Ya ding, Yang Maha Bijak itu juga pasti punya kriteria sendiri dalam menilai makhluk-Nya, kita aja ya yang sering salah menilai dan terkadang tergesa-gesa menjatuhkan vonis…

    Btw, saya juga jadi suka nonton Naruto ini belakangan😀

    @ Antobilang
    kok pesannya jadi seram gitu pak?🙂

  4. Betul, mbak. Kita mesti terus belajar untuk melihat apa pun dari segi positif. Hidup ini dinamis, tidak statik. Sistem-Nya pun, tidak sesederhana itu. Banyak yang bisa diperbuat di hidup ini.

    Btw, saya juga jadi suka nonton Naruto ini belakangan😀

    Saya nggak, tuh🙂 Isi HDD sudah penuh. Nggak bisa donlot😛

    @ Antobilang
    kok pesannya jadi seram gitu pak?🙂

    Ah, jangan dipikirkan…😕

  5. Maksudnya, biar saya saja yang memikirkannya, Mbak Jejakpena ini tidak usah turut resah…😛

    Oi, jangan mengadu domba…😀

    Salah-salah saya termasuk golongan yang darahnya dihalalkan lagi… Sudah berapa orang tho…?😕🙂

  6. Kayaknya tinggal tunggu waktu nih, sebelum Mas Geddoe masuk halaman link saya.😀

    Btw, baru saya mau nulis soal falsafah damai ala Gundam, ternyata di sini ngomongin Naruto…😕 (kebetulan?)

    (lagian, perangnya mulai dingin. Jadi nulisnya ditunda dulu deh😛 )

  7. Wah, makasih, segitunya…😛

    Ya, itu memang salah satu misi saya. Memungut filsafat dari karya seni. Termasuk anime/manga. Sebab, segala yang ada mengandung pelajaran. Hehehe, mau nulis Gundam? Kelihatannya menarik, sayang saya nggak nonton Gundam sama sekali😦

    (Hehehe, bagus, ‘kan kalau perangnya mendingin. Keresahan saya juga mulai mereda. Alhamdulillah😛 )

  8. Uh, saya bukannya malas update blog, mas. Koneksi di asrama saya sedang sangat parah. Buka dashboard banyak errornya. Kalau comment mesti coba sekitar 3-5 kali, baru terkirim. Nulis artikel ini pun numpang di kamar teman yang pakai koneksi pribadi😦

    Duh, jangan mengingatkan masalah kuliah deh -_-‘

  9. Pokoknya yang namanya mencuri itu haram hukumnya…
    Harus dipotong tangannya tuch…
    Memberi makan pada pencuri juga sama saja busuknya…
    Baca lagi hukum tentang syariat Islam yang benar ya..
    Pokoknya….Pokoknya…

  10. aku lebih pengen menyoroti masalah belajar dari komik.
    aku juga suka koleksi komik soale.

    kdg2 “mereka2” itu bilang, jangan menyandarkan diri pada buku2 karya orang kafir.

    elelhah…selain buku, hape, internet, sepeda motor…semuanya juga karya orang kafir.

    masalahnya bukan pada siapa yang buat, tapi pelajaran apa yang bisa kita ambil dari situ.

    karena itulah aku nggak pernah bisa akur sama orang2 picik.

    *dan barang siapa yang tidak bisa mengambil hikmah sekecil apapun dari kejadian seburuk apapun yang terjadi di sekelilingnya, menurutku adalah orang2 yang tidak bisa bersyukur*
    😛

  11. @joesatch

    *dan barang siapa yang tidak bisa mengambil hikmah sekecil apapun dari kejadian seburuk apapun yang terjadi di sekelilingnya, menurutku adalah orang2 yang tidak bisa bersyukur*😛

    Yup! Setuju banget. Orang emang harus bersyukur dengan apa yang sudah ditakdirkan untuknya, dan just “live with facing your destiny”
    [Lirik Shaman King “Northern Lights” yang diedit]

  12. @ joesatch

    masalahnya bukan pada siapa yang buat, tapi pelajaran apa yang bisa kita ambil dari situ.

    karena itulah aku nggak pernah bisa akur sama orang2 picik.

    *dan barang siapa yang tidak bisa mengambil hikmah sekecil apapun dari kejadian seburuk apapun yang terjadi di sekelilingnya, menurutku adalah orang2 yang tidak bisa bersyukur*

    Ya, setuju😛
    Dan selain bagi manusia yang picik, rasanya ini logika dasar…😀

    @ p4ndu_454kura
    ‘Facing your destiny’ di sini bukan pesan bernapas fatalis dan asketis, ‘kan?🙂

  13. salafynya kok beom kliatan? katanya anto manggil?
    hehehe

    penceritaannya bagus lhoo…

  14. *gak nyambung* snap-nya bisa dimatiin aja enggak. Mengganggu -_-

  15. Dah kayak forbas aja ini blog…😯

    @ Mr.Geddoe

    ‘Facing your destiny’ di sini bukan pesan bernapas fatalis dan asketis, ‘kan?

    Mas, nggak semua orang pernah baca glosarium-nya “Sejarah Tuhan” lho… sampaikan dengan gaya “membumi” dong.😛

    Pasti deh banyak orang mbulet, kalo disuruh baca fanfic begini:

    “Gundam SEED: Pasifisme dan Dekonstruksi Makna Perang dalam diri Kira Yamato”
    😀 😀 😀

  16. Kayak forbas? Maksudnya?😛

    Glosarium…? Saya juga nggak pernah baca, tuh O_O

    Maksudnya, ‘facing your destiny itu tidak berarti bermalas-malasan tanpa berusaha, karena menganggap semuanya sudah ditakdirkan (fatalis) dan dunia ini tidak perlu diusahakan (zuhd/asketis), ‘kan? Ini pemikiran sufistik yang rasanya bertentangan dengan ajaran Islam…😀

    Wow, itu judul entry berikutnya, ya? Pasifisme… Kayak Metal Gear dong?😛

  17. Wow, itu judul entry berikutnya, ya? Pasifisme… Kayak Metal Gear dong?😛

    Bukan, duts. Itu cuma contoh aja… yang mau saya tulis sih bukan itu😀 .

    forbas itu “forum bebas”, kan udah saya kasih [abbr] di kata tsb.

    Glosarium…? Saya juga nggak pernah baca, tuh O_O

    Itu daftar istilah yang ada di bagian belakang buku teks. Semua kata2 aneh (=istilah teknis) biasanya dikasih tahu artinya di bagian itu. Kayak kamus istilah gitu sih.

    Makanya, bikinlah kalimat yang orang nggak perlu buka buku buat ngertiinnya. Gitu lho.🙂

  18. Iya, tapi forum bebas ‘kan ‘istilah teknis’ juga, maksudnya apa, ya?😛

    Hmm, glosarium sih tahu, saya kira tadinya “Glosarium Sejarah Tuhan” itu suatu karya tulis😀

  19. Ketik aja di notepad, kalau udah selesai baru login ke WP buat ngirim.

    Nulis kan nggak perlu sambil OL? (o_0)”\

  20. Hemmm… wah ga enak neh mau motong pembicaraan dua orang penggemar Jepang🙂. Bagus artikelnya mister, yah akhlak, jujur, tepo seliro, ikhlas jadi kunci utama juga ya?

  21. Bukankah itu negatif indo…

    Anak2 kelas nyontek nilai tinggi lulus…

    Sisanya yang jujur dan remed….. remed….

    (btw, ini comment pertama gw di sini)

  22. antonysalafy itu kakaknya antobilang…

    *spam ON*
    sebarkan cerita ini ke 10 orang yg lain, maka keberuntungan berpihak padamu

  23. Setuju banget, seandainya para penilai2 itu punya Value yg bagus dan ngga pake kacamata kuda, betapa indahnya! Punya pengalaman pas skolah di SMA X yg bergaya rada militer (dikit). Orang yg jujur mengakui kesalahan malah dihukum dan orang yg boong malah nggak dihukum T_T. Kyknya masalah2 ketimpangan gini sering banget ditemuin di Indo.

    (Btw, orang yg jujur dan dihukum itu saya loo XD)

  24. @ Apret
    Yap. Soal yang di SMA X, itu manusia, bisa nggak adil. Tuhan ‘kan nggak:mrgreen:

    @ kunderemp
    Jelas. Cerpen yang kritis dalam menyikapi fenomena asketisme dan fatalisme dalam masyarakat.

    Walau agak berlebihan sih, rasanya itu haji-haji nggak perlu dicemplungkan ke kerak neraka lah…😆

  25. @ Apret

    Punya pengalaman pas skolah di SMA X yg bergaya rada militer (dikit). Orang yg jujur mengakui kesalahan malah dihukum dan orang yg boong malah nggak dihukum😥.

    Tips untuk anak sekolah:
    Berbohong pangkal selamat, asal boong yg baik2 aja ya🙂

  26. Moralitas diatas loyalitas ya mas geddoe ? naruto memang banyak berisikan pertentangan macam itu. Sptnya banyak komik mainstream yang mengulik masalah itu. Kalau di DC comic yang keliatan jelas si pertentangan antara Batman vs Superman mirip sama Naruto vs Sasuke .
    Numpang tanya kalau 666 bagus juga ngga mas ? Katanya yang buat adik kembarnya Masashi Kishimoto ya ?

  27. kayaknya nggak semua guru yang tidak menghargai sebuah kejujuran deh … itu hanya “oknum” saja😀

    jadi teringat satu kisah pas jaman saya sekolah dulu …

    waktu itu ada ujian akhir untuk mata pelajaran olah raga, kebetulan ujiannya kok ya disuruh lari ngelilingin kompleks … nah apesnya sebagai seorang ahlul hisab (perokok) saya itu benci banget dengan kegiatan yang menguras napas … halah …😀
    Berbagai macam cara diusahakan oleh teman-teman, ada yang gentle dengan latihan tiap sore, ada juga yang dengan bantuan obat penambah stamina .. bahkan kabarnya ada yang nenggak “irex” (emang bisa yah ?? atau saking terobsesinya mungkin) hahaha ….😀
    singkat kata pada hari H, dilaksanakanlah ujian tersebut …
    putaran pertama, masih lancar-ancar saja …
    putaran kedua, jarak antar peserta udah mulai jauh, napas udah mulai ngos-ngos an … mulailah ada yang nge-cheat dengan mencari jalan pintas😀 dengan didukung oleh keperluan dan kesempatan ikutlah saya dengan rombongan mereka-mereka ini😀 yaa … saya tau sih kalau salah, cuman ini masalah hidup mati jee …
    begitulah berlangsung sampai putaran terakhir.
    dan … ketika selesai, kita dikumpulin oleh sang guru, dia bilang “tadi saya lihat ada yang lewat jalan pintas … sekarang yang merasa silakan mengaku, kalau tidak seluruh kelas tidak saya luluskan”, dueng … ternyata … ketahuan😦
    konsekwensinya sama-sama nggak enak, ngaku … sayanya yang nggak lulus, nggak ngaku … tentu seluruh kelas yang kena imbasnya … (btw … pelajaran olah raga penting nggak sih ?? kok saya dulu percaya aja yah itu pelajaran dibilang penting)
    *untuk nambahin efek dramatis :D* hitungan sudah dimulai “10 … 9 … 8 …”, pikir saya “gila … waktu sesingkat ini disuruh milih pilihan sulit gitu, tunggu yang lainnya ahh … minimal kalau ada temennya lumayanlah …”.
    “7 …”, “walaupun kalau ada yang ngaku belum tentu juga saya akan ikutan *senyum culas*”
    “6 … 5 …”, “sialan … ini mana temen-temen yang lain, kok belum ada yang ngaku”
    “4 …”, “what the ?? ahhh … saya bukan penyembah nilai atau surat sakti, whatever, apa yang terjadi … terjadilah”
    “3 …”, akhirnya dengan terpaksa “saya pak !!”
    hitungan berhenti, sang guru memandang saya, kini gantian saya yang menghitung dalam hati “1 … 2 … 3 …”, “kenapa belum ada yang lainnya ada mau nemenin saya ??”
    “ada yang lain ??” ucap sang guru
    “4 … 5 … 6 … 7 …”, “jangan jangan mereka tadi mikir hal yang sama denganku tadi …sial !!” runtukku dalam hati.
    “8 … 9 … 10 … 11 …”, “ok, namamu akan saya catat”.
    “ooo … that’s the final, saya nggak bisa mundur lagi …”, akhirnya hanya bisa pasrah.
    setelah dibubarkan, ada temen yang ngomong “kenapa kamu tadi ngaku ?? yang ketahuan kan bukan kamu, aku tadi lihat kok yang kepergok siapa …”, ahhh … nasi sudah jadi bubur, dengan di PD PD in dan sok bijak saya bilang “saya yakin masih mampu menempuh test ini berkali-kali lagi kok … sementara saya nggak yakin tentang hal yang sama dengan kalian”.😀
    dan … ternyata nilai saya juga nggak ada yang di drop, masih bisa lulus dan fine-fine aja kok …🙂
    atau mungkin juga pelajaran tersebut memang nggak berpengaruh dengan kelulusan, lantas kok di ujikan ?? (tanya kenapa ??)

  28. @ Odi
    Iya, moralitas di atas segalanya lah😉 Saya lagi mencoba menghubungkannya dengan teologi. Ya itu, dengan hadiah surga dan neraka😛 Agak nyambung dengan cerpennya A.A. Navis bukan?

    666 Satan, iya, yang bikin adik kembarnya Masashi Kishimoto. Belum pernah baca😥😆 Kapan-kapan donlot, ah🙂

    @ watonist
    Makanya, menurut saya semakin bijak ‘guru’nya, semakin tinggi penilaiannya akan moralitas😉

    Btw sampaikan salam saya ke guru olahraganya, ya😀 Semoga beliau masuk surga😛

  29. Pingback: Pertolongan yang Tidak Menolong « sora-kun.weblog()

  30. kereeeeeeeeen abezzzz……qw mulai sk m anime sjk lead naruto……keren gila!!!!idup anime,.,.,.

  31. Anime Naruto Kren bizzzzzzzzzzzzzzzz….
    q ska naruto sjk liat pertama kli,ya moga anime naruto mkn keren dech…..

  32. weh, baru baca entri lama…

    kalau teori ujian ninja sih saya percayanya guru-guru menetapkan hal itu. tapi apa daya kalau guru lebih mementingkan memeriksa nilai ketimbang memeriksa siapa yang jujur apa tidak.

    lagipula kalau disodorin ke guru cerita seperti itu harus diubah dulu. minimal jadi versi padang pasir *ngakak* karena guru-guru biasanya sudah punya label negatif thd komik. komik=sampah, begitu kata mereka. tanpa tahu saya justru lebih banyak belajar dari komik ketimbang sekolah 12 tahun.😕

    dan ke pembahasan berikutnya.
    soal prioritas dalam apa yang dibicarakan saya sendiri masih bingung. tambah lagi dengan cerita seorang wanita hiperaktif yang masuk surga hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. kalau memang Tuhan semurah hati itu tampaknya menjadi fanatik tidak wajib-wajib amat ah… yah, berhubung saya juga bukan agamis yang baik. juga menurut saya cerita A.A. Navis itu memang salah satu cerita yang bagus maknanya. Dan entah kenapa saya jadi penasaran apa kata ‘mereka’ ttg novel itu.😀

  33. Sudah baca dari dulu, tapi baru tergerak hatinya untuk komen.😛

    Hmm… Mungkin contoh lain yang agak membumi; seisi kelas pada suatu sekolah saling menyontek saat ujian. Semua curang, kecuali seorang murid yang tergolong goblog kurang cerdas, tapi berniat bekerja secara jujur. Namun ternyata ibu guru yang mengajar, menganut ‘ideologi ninja’ di atas. Seisi kelas yang mendapat nilai tinggi, diperintahkan mengulangi ujian. Murid jujur yang goblog kurang cerdas tadi, yang nilainya nota bene rusak binasa, dianggap lulus ujian.

    FYI, saya pernah mengalaminya.😛 Ngga belajar, tapi ngga nyontek. Hasilnya cuma saya yang dapat nilai. Meskipun itu di pelajaran Matematika, sih…
    *narsis sedikit*

    Seandainya ‘ideologi ninja’ itu dianut oleh semua guru di sekolah, mungkinkah pada akhirnya murid-murid bukan berlomba mencari nilai, tapi berlomba menjadi jujur?😛

Comments are closed.