Ketika Sebuah Zaman Didiskreditkan

Saya baru hidup di atas dunia ini selama tujuh belas tahun. Jadi sewaktu ayah saya membisikkan adzan ke telinga saya untuk pertama kalinya dulu, dunia sudah memasuki tahun 1989. Ketika saya lulus dari sekolah menengah dan menjadi seorang mahasiswa, dunia sudah memasuki tahun 2006.
Kesimpulannya, saya adalah seorang manusia yang sepenuhnya hidup di ‘zaman sekarang’; akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Era terberisik dalam sejarah peradaban, sekaligus yang sering dihujat sebagai zaman yang ‘rusak’.

Bahkan Haruhi pun eneg melihatnya...?
“Lha… Yakin…?”

Yup, saya dikelilingin oleh berbagai vonis yang menyatakan bahwa zaman saya ini sangat busuk dan tidak pantas dicintai. Zaman sudah gila, katanya. Alasannya, paling tidak dua.

Pertama, zaman ini lebih jelek kalau dibandingkan dengan zaman dahulu.
Kedua, zaman ini sudah dekat dengan kiamat.

Walah?

Baegitulah. menurut pendapat mbah-mbah yang saya dengar, zaman mereka dulu tidak separah ini. Konon katanya pada zaman mereka itu, anak-anak semuanya patuh, baik pada orang tua dan guru. Masyarakat pun waktu itu sangat religius, taat, selalu bertenggang rasa, saling berbagi, mengikuti norma, sopan, santun, tidak berkata kotor, rajin menabung, tidak buang sampah sembarangan, tidak meludah sembarangan, tidak suka melihat situs porno, tidak suka beli barang bajakan, dan seterusnya.

Bagaimana dengan zaman saya? Katanya, sih, sekarang ini, di zaman saya yang amburadul nggak jelas ini, semuanya sudah berubah. Makanya tiba-tiba orang jadi takut dengan kiamat. Kiamat sudah dekat! Kiamat sudah dekat! Segeralah bertobat! Hyaaaah…! >_<

…Lha, jujur saja, memangnya kenapa kalau kiamat sudah dekat?

Sebab, kiamat itu kan urusan-Nya. Yang Maha Kuasa. Mau terjadinya sepuluh detik lagi, atau sepuluh ribu tahun lagi, pengaruhnya pada saya kita apa? Memangnya kalau kiamat sudah lebih dekat, kematian kita jadi lebih dekat? Katakanlah sebulan lagi kiamat, apa pengaruhnya kalau ajal kita justru esok hari? Apalagi kalau kiamat diumumkan Tuhan bakal dieksekusi sepuluh ribu tahun lagi, apa saya bisa jadi tenang? Memangnya kalau kiamat masih lama, hidup saya juga masih lama?

Lagipula.

Kenapa orang buru-buru memvonis bahwa kiamat sudah dekat? Kaitannya dengan celotehan saya di atas. Dunia ini sudah membusuk, katanya. Lantas saya jadi garuk-garuk kepala. Sebab, setahu saya, dunia itu memang busuk dari sananya😀 Tidak perlu sampai mendiskreditkan zaman di mana saya dilahirkan ini.

Dari beberapa penghujat, ada beberapa hujatan yang sudah saya akrabi;

Katanya: Zaman sekarang == Zaman kaum yang tidak peka
Nah, kabarnya, sekarang ini segalanya serba individual. Orang tidak peduli lagi dengan sesamanya. Hidup sendiri-sendiri. Enggan untuk tegur sapa. Belum lagi tidak hormat dengan orang tua, guru, tutor, dosen, dekan, dan seterusnya. Sudah tidak takut Tuhan.

(Ini ya memang ngawur…)

Pertanyaan singkat saja, memangnya ada zaman di mana manusianya serba santun? Zaman di mana tidak ada manusia yang hewani, buas, dan brutal? Sewaktu jumlah manusia masih bisa dihitung dengan jari saja, pembunuhan juga terjadi. Lalu kanibal? Sewaktu kasus Sumanto merebak, ibu-ibu pada bilang, dunia sudah gila. Lha, dari seribu tahun sebelum masehi, kanibalisme sudah ada. Apa lagi? Kasus perzinaan? Incest? Pemerkosaan? (Kok, yang porno-porno melulu? -_-‘) Uh, penyalahgunaan obat? Lho, semestinya itu tidak serta merta eksklusif hanya ada di zaman sekarang ini. Hohoho, dan juga jangan lupa, pembantaian tahun 1960-an, pastinya terjadi sebelum era-nya Led Zeppelin.

Katanya: Zaman sekarang == Zaman porno
Hohoho, kita hidup di zaman porno. Zaman hentai. Zaman Miyabi. Maksiat. Biadab. Kenapa begitu? Lha, menurut beberapa oknum (baik yang bertanggung jawab maupun yang tidak), alasannya; pornografi dan pornoaksi laris manis di mana-mana. Para kaum hawa mempertontonkan lekuk-lekuk tubuhnya. Pergaulan pria dan wanita tidak ada batasnya lagi. Ini berarti pemikiran umat sudah porno, sedikit-sedikit memikirkan yang seksi-seksi.

Nah, kemudian pemikiran saya merambah ke zaman-zaman dulu. Menurut pandangan bego saya, pada serial-serial pendekar Mojopahit nggak jelas yang seringkali ditayangkan dulu, cewek-ceweknya nggak ada yang pakai jilbab (Atau saya belum lihat? Yang pasti secuil, toh?) . Malah pakai kain yang dililit thok, bahunya ya ‘bugil’. Lha? Kenapa? Oh, oke, memang sinetron tidak bisa dijadikan acuan. Oke, oke.

Bagaimana dengan zaman jahiliyah? Wah, yang nggak pakai baju saja kabarnya banyak. Bukan lantaran Arab itu panas, tapi karena orang zaman dulu, ternyata porno juga ^^ Lalu, pernah baca mitologi-mitologi klasik? Nah, di Romawi, dewa Zeus alias dewa Jupiter, ternyata juga seorang buaya. Salah satu ceritanya yang paling terkenal, tokoh yang disembah orang zaman dahulu ini mendatangi seorang wanita bernama Alcmene, menyamar menjadi suaminya, dan ‘beraksi’. Hasil produksinya adalah Herakles/Hercules yang ceritanya begitu tersohor. Lalu, pada mitologi Norse, Freya yang merupakan makhluk (Hmm, tapi dia memang dipercaya sebagai seorang dewi, sih) yang luar biasa cantiknya, punya hobi yang tidak sehat.

Lha, memang dari dulu manusia pemikirannya sudah ngeres. Bukan cuma dari zamannya Yua Aida.

Tentu itu belum termasuk kasus yang lebih parah seperti Soddom, Gomorrah, atau malah yang gila seperti ini, misalnya. Seks bebas di negara sekuler mah lewat😀

Katanya: Zaman sekarang == Zaman kaum yang lupa akan Tuhannya
…Lho, lalu ratusan ribu nabi (di luar dua puluh lima yang diterangkan secara jelas) itu lalu diutus pada masyarakat madani? Bukannya mereka diutus pada kaum yang juga lupa pada Tuhannya? Nah, tidak adil kalau cuma zaman sekarang yang dihujat. Hujat semua zaman, termasuk zaman Abu Jahal, zaman Louis XVI, zaman Stalin, sampai zaman George W. Bush seperti sekarang.

Pada masa jaya Islam sendiri, bukankah masih banyak orang yang lupa akan Tuhannya? Juga, jangan terlalu meremehkan iman orang sekarang. Masih banyak orang yang berhati bersih. Masih banyak yang mau menolong dengan tulus.

Manusia sekarang nggak sampah semua kok.

Katanya: Zaman sekarang == Zaman kaum yang menuhankan materi
Saya sering mendengar sentimen ini. Apakah benar ada orang yang menuhankan materi? Menuhankan uang? Menuhankan hawa nafsu?

Kalau menurut pandangan saya (yang boleh diikuti boleh tidak), tidak ada.

Saya tidak tahu apakah orang-orang yang menuduh orang lain menuhankan ini itu tersebut sedang bercanda, sedang serius setengah bercanda, atau memang serius, tapi yang pasti, konsep menuhankan itu nggak sembarangan. Apa karena seseorang lebih suka mencari uang daripada mencari ridha Allah, lantas dia jadi menyembah uang? Apa karena seseorang tidak pernah shalat, namun rajin menenggak minuman keras, lantas dia jadi hamba botol-botol minuman keras, hamba hawa nafsu? Wah, kalau lewat pandangan saya, tidak sesempit itu makna menyembah. Mana ada menyembah yang kesaksiannya nggak jelas.

Bah, dramatisasi basi buat mendramatisir suasana secara basi. Cetek. Cengeng. Emo. Nggak separah itulah…

Katanya: Zaman sekarang == Pokoknya™ biadab
Nah, memang bakal ada banyak alasan untuk menjelek-jelekkan zaman sekarang sebagai zaman yang ‘jelek secara eksklusif’.

Kenyataannya,

Serusak-rusaknya zaman sekarang, toh, tetap saja seluruh zaman sama-sama rusak. Tidak perlu mendiskreditkan zaman di mana saya dilahirkan ini sebagai zaman di mana dunia tiba-tiba menjadi gawat darurat kegilaannya. Tidak perlu juga sebenarnya bertingkah seolah-olah dunia ini terus-menerus memburuk tanpa kebaikan sama sekali. Dunia tidak sesederhana itu.

Apabila kita lihat beberapa sudut pandang yang memperhatikan beberapa konteks dari beberapa bagian dunia, memang jelas kelihatan penurunan dan penurunan. Tapi bukankah dunia ini juga terus belajar? Di satu sisi ia mundur, di satu sisi ia maju. Pada akhirnya apakah dunia ini membaik atau memburuk, jawabannya tetap berbeda, tergantung cara memandang, dan obyek yang diamati. Kalau ada yang berpendapat bahwa dunia ini sangat buruk, memang benar. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang lain, malah terkesan terus membaik. Menurut pandangan saya sampai saat saya menulis ini, kualitas dunia selalu abstrak.

Jadi, bisa saja, dunia pada abad ke-23 malah menjadi sebuah utopia. Atau malah menjadi neraka. Adapun kalau ada yang menilai dunia ini semakin bobrok nggak karu-karuan, itu bisa saja benar, melalui sampel apa yang dia lihat, konteks apa yang dia dalami, dan standar-standar yang ada pada dirinya. Pecinta lingkungan yang sewaktu muda tinggal di pedesaan, lalu menghabiskan masa tuanya di perkotaan yang polusi, tentu menilai dunia makin bobrok — dalam kacamatanya sebagai pecinta lingkungan. Tapi bagaimana dengan pengamen yang biasa mengamen di kota kecil dengan ukulele lusuh, yang lalu merantau ke kota besar, dan melihat sebuah Bomber Manson? Dia bakal menghabiskan semalam suntuk buat memuji peradaban.

Sehingga, hmm, saya kira, tidak perlu kita berputus asa akan dunia, lalu bermuram durja sepanjang hayat kita di tempat suci, tanpa memikirkan dunia. Menganggap dunia sebegitu busuknya, dan selalu memandang enteng ‘ahli dunia’. Bukankah inti dari tasawuf itu keseimbangan dunia dan akhirat?

In God We Trust. RosenQueen, company.

42 thoughts on “Ketika Sebuah Zaman Didiskreditkan

  1. Hmmm…

    Tulisan yang bagus.😀

    Iya sih, banyak dari kita (manusia) yang lebih suka mengatakan “dulu lebih enak” atau “dulu lebih baik”.

    Kecintaan berlebih pada masa lalu?🙂 Makanya sampai sekarang Sriwijaya dan Majapahit masih disebut-sebut sebagai bayang-bayang kehebatan Nusantara — sekian abad yang lalu.😉

  2. Terima kasih🙂

    Hmm, membanggakan yang ada di hari kemarin memang lebih gampang dibandingkan membanggakan yang ada saat ini, sebab mencari celanya lebih susah😉

  3. Yah, Pokoknya™ jangan putus asa.

    Kecintaan berlebih pada masa lalu? Makanya sampai sekarang Sriwijaya dan Majapahit masih disebut-sebut sebagai bayang-bayang kehebatan Nusantara — sekian abad yang lalu.

    Padahal SBY konsisten, pada tahun 2035 Indonesia akan masuk peringkat 5 dunia untuk bidang…

  4. Wah, tidak bisa, Pokoknya™ yang namanya pemimpin, pasti salah! (ideologi sesat yang banyak beredar)😛

    Hahaha, padahal, rasanya Pak SBY sudah cukup konsisten. Rakyat mesti bersabar, memperbaiki negara tidak bisa instan🙂

    Btw, peringkat Indonesia di urutan negara terkorup menurun😛

  5. Pingback: Generasi membosankan « Chaos Region

  6. *post sisanya Senin aja*
    Paham dunia sebentar lagi kiamat itu udah dari zaman kuda gigit besi. Cari aja entry-nya di Wikipe.

  7. Lha, iya mas, eh, mbak, eh, neng, betul.

    Coba kalau saya bisa menembus waktu seperti Asahina Mikuru, saya akan pergi ke zaman Mojopahit. Pasti, pasti, pasti itu, orang-orang tuanya juga mengeluh sebentar lagi kiamat😀

  8. wah iya. mau kiamat. new york bakal meldak karena petrelli terlalu banyak menyerap kekuatan superhero!

    *kebanyakan nonton heroes*

  9. Lho baru 17? berarti umurnya beda setahun donk… ;-D
    Yah… tapi kita sebagai manusia ga boleh terlalu terpaut pada masa lalu. Masa lalu cukup dijadikan pegangan dan penuntun bagi kita dalam menjalani masa kini yang sedang kita jalani demi tujuan masa depan (Wah…terlalu puitis ya…). Pokoknya kita harus optimis bahwa kita bisa menjadi lebih baik. Seperti kata pepatah, hari ini lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari sekarang.🙂

  10. Lho baru 17? berarti umurnya beda setahun donk… ;-D

    Lha, kenapa, apa saya terlihat seperti kakek-kakek?😛

    Pokoknya kita harus optimis bahwa kita bisa menjadi lebih baik. Seperti kata pepatah, hari ini lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari sekarang.🙂

    Hmm, sebenarnya relatif; misalnya seorang kutu buku kelas satu, semakin hari semakin cerdas, namun lama-lama tidak kuat maraton jauh-jauh.

  11. kayaqnya sih…

    masalahnya…
    bagaimana membuat masa dpan lbi baik dari yg dulu2…😛

    …satu yang paste…

    17 tahun terakhir ini memang suram….

    heheheh….

  12. @ manusiasuper
    Yesh😛

    @ manusiasuper
    Aha, 17 tahun terakhir runyam? Coba pandang dari sudut IT… 17 tahun terakhir adalah mukjizat🙂

  13. Tenang saja, jadilah yang terbaik di zaman terburuk. Nanti ada zaman yang lebih buruk lagi lho, yaitu ketika sampeyan menuding lingkungan teman-teman anak sampeyan… 🙂

  14. Yah, yang pasti, apakah kita hidup di zaman yang bagus atau jelek, kitanya sendiri mesti tetap bagus, bukan?😛

    Ayo maju teruss…!😮

  15. hahaha….

    seandainya zaman ini dilihat lbi positif…

    ZamanSekarang:
    >zaman orang sadar
    orang sudah sadar zaman ini didiskreditkan
    >Zaman orang tahu mana yang lebi baik
    orang sadar, tidak slamanya materi itu buruk
    >zaman masih ada orang bodoh somewhere outhere
    orang sadar… Pkoknya™ sadar…
    >zaman bla…bla…bla…
    bla…bla…bla…

    hehehe…😛

  16. Zaman itu mau berhasil atau tidak, sedikit banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang hidup di dalamnya, ketimbang mendiskreditkan zaman lebih baik kita bertanggung jawab terhadap zaman dimana kita hidup.

    Minimal membuat kehidupan kita dan sekitar kita lebih baik dan bermakna.🙂

  17. Pingback: Ketika Tuhan Telah Mati « Parking Area

  18. Pingback: Ketika Sebuah Zaman Didiskreditkan, pt. 2 « RosenQueen Company

  19. Menurut saya.. saat ini malah kita lagi berada di zaman awal humanisme yang sesungguhnya.. Secara perlahan namun pasti batas-batas negara, agama dan ilmu pengetahuan mulai kabur dengan adanya internet. hubungan personal sudah tidak didasari lokasi, tetapi pada kesamaan visi dan ketertarikan akan suatu hal.. ini yang kadang bikin saya merinding sekaligus menyesal tidak dilahirkan dimasa depan pada saat itu terjadi.. banyak orang yg menganggap jaman semakin rusak, tapi menurut saya kita ini bahkan masih berada di awal transisi besar-besaran suatu zaman yg saya sendiri tidak bisa membayangkannya… *gw lagi gada kerjaan sampe ngomentari entri yang udah lama gini😀 *

  20. Pingback: WARNET UBUNTU

  21. Ya, revolusi informasi memang punya efek luar biasa.🙂 Freethinking misalnya, berkembang sangat pesat karena adanya revolusi ini. Batas-batas negara menjadi menipis… Ya, menurut saya kita terus dan terus membaik, kok.😉

  22. Tapi, ada yg mengganjal.. yaitu kerusakan lingkungan..😦 , global warming, cadangan minyak yg menipis, kerusakan hutan dll.. bisa jadi, teknologi untuk melakukan recovery terhadap kerusakan yg dilakukan oleh generasi sekarang dan pendahulu kita, kalah cepat..😦 , sehingga kondisi ini tidak bisa diperbaiki lagi..
    saya gak bisa membanyangkan jika minyak bumi habis, kutub mencair dll dll.. walaupun mungkin hal itu terjadi setelah generasi kita.. tetapi sangat mempengaruhi kelangsungan kehidupan di bumi.. *semoga pikiran yg ngelantur ini tidak terjadi deh*
    jadi OOT😀

  23. Benar. Memang itulah yang mengganjal. Bagi saya moral malah semakin membaik, namun alam memang mengalami kerusakan. Yah, mungkin pada akhirnya eksodus dari bumi memang nggak terhindarkan?😕

  24. Yah, mungkin pada akhirnya eksodus dari bumi memang nggak terhindarkan?

    Lalu setelah itu manusia akan mencapai tingkat evolusi mental selanjutnya. Menjadi Newtype. Untuk tujuan itu, manusia harus dipaksa bermigrasi ke angkasa!👿

    *kesambet arwah Char Aznable*😛

  25. Pingback: Sisi Modern Fundamentalisme Agama? « OMG! Opinions - Uncensored

  26. OOT dikit, saya pernah lihat film dokumenter di discovery channel yg berjudul the future is wild, disitu dijelaskan hipotesa2 jika manusia punah atau exodus ke planet lain karena bumi sudah tidak layak lagi untuk dihuni..
    cukup menarik, tapi sayangnya saat itu filmnya tidak ada teksnya😦 , jadi nontonnya harus extra fokus dan banyak narasi yg ketinggal😦 *maklum listening gw pas-pasan*😛

  27. Pingback: Generasi Instan Dan Rasa Iri « All That I Can’t Leave Behind

  28. Menarik juga pemikiran diatas, klo bicara Majapahit atawa Sriwijaya yg katanya hebat itu, kalau mau jujur apa sih sumbangan dua kerajaan itu bagi negara kita secara real? sorry ngelantur dikit ya, yg namanya NKRI (indonesia) ini ada karena Belanda yg berjasa menjajah kita, sehingga batas-batas NKRI dibentuk oleh penjajahan Belanda. Kembali soal nyalahin zaman, ini soal sepele Musik, coba deh tanya ortu ato kakak kamu yg beda 20 tahun pasti dia akan bilang pemusik zaman dulu lebih bermutu punya idealisme engga kayak sekarang cuman jadi pengantar minum racun. Menurut saya setiap zaman punya sejarahnya sendiri dan engga bisa dibandingkan dgn zaman yg lain. Zaman dulu mana bisa kita malam-malam nulis kayak gini, dalam sepersekian detik udah bisa dibaca oleh orang sedunia.

  29. Pingback: Adat « The TintaMerah

  30. Pingback: Generasi, Generalisasi dan Prestasi « Rahmad Hidayat's Blog

Comments are closed.