Kalau Malas, Mengaku Saja, Mas…

Saya baru mondar-mandir di alam maya. Nah, ada post tertanggal 3 Februari yang cukup menggelitik, dan membuat prihatin. Yah, memang segalanya memang bisa benar, tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Tapi yang satu ini, jujur, agak susah dicerna, tuh.

Assalamualaikum…
Ummat sekarang sedang dalam keadaan bingung…. Kenapa…?
Karena setelah Rasulullah wafat, tak akan turun lagi nabi
Maka tugas tugas menyebarkan agama menjadi tanggungjawab Ummat yg “mengaku” diri nya Ummat Rasul
Tapi…..?
Dimana Ikhwan ikhwan yag mengaku ummat rasul?
Dimana…?
Sebagian sibuk dengan bisnis, pekerjaan, teknologi
…DUNIA…
sebagian lagi ada yg sibuk Nge-BLOG, menyeracau menelikung asa, mengumbar kata yag tak jelas manfaatnya. Ikhwan sekalian..
Yang kita perlukan saat ini adalah memperbaiki hubungan kita dgn RABB kita, ALLAH Subhanahuwataala.
Bukan menghabiskan waktu berlama lama di internet, NGEBLOG!!! BUKAN!!!
Tapi habiskan waktu di mesjid, buat amalan-amalan mesjid, buat amalan amalan yg disukai ALLAH, agar Turun keberkahan, bukan bencana.

Nah, saya tidak niat berkomentar banyak. Ini sama saja menjabarkan kembali secara panjang lebar bahwasanya satu ditambah satu itu tidak sama dengan tiga. Kesalahan yang terlalu mendasar, rasanya tidak terlalu menarik dikupas kebih lanjut

Silakan anda jabarkan, renungkan, lalu senyum simpul sendiri. Dunia ini memang luas. Segala macam manusia ada.

p.s. Kalau mau membanding-bandingkan, silakan bandingkan dengan tokoh-tokoh besar; seperti Rasulullah maupun para pemikir zaman dahulu. Sesuai celotehan saya bahwa di dunia ini selalu ada yang maju dan ada yang mundur, berkembangnya ilmu dan teknologi juga ternyata bisa dibarengi oleh kemunduran suatu kaum. Yang punya andil? Yah, beberapa orang di dalamnya🙂

In God We Trust. RosenQueen, company.

26 thoughts on “Kalau Malas, Mengaku Saja, Mas…

  1. Kalau terlalu sibuk di masjid bisa2 lupa bahwa kita hidup di tengah samudera manusia dan ke-manusia-an…
    Kalau terlalu sibuk di masjid nanti bisa2 “buta” dan “tuli” terhadap nasib saudara2 kita yang sedang ditimpa musibah…
    So… ???

  2. Lucunya yang mengepost itu juga memiliki blog…😀

    Ah, ada sebuah hadith yang menyatakan;

    “Tegak berdiri sasaat menjelaskan kepentingan-kepentingan umat, dan menghindarkan rakyat dari malapetaka, lebih utama dari beribadah siang dan malam terus menerus selama 40 hari.”

  3. *malas login*
    Gw pernah baca tentang kisah orang yang ngebatalin pergi haji karena menyumbangkan uangnya ke orang miskin. Lupa detil ceritanya; tapi intinya Allah lebih suka orang yang ibadahnya biasa2 aja daripada yang ibadah yang banyak tapi lupa ke orang sekitar.

  4. Jelas. Ah, menurut buku tulisan Dr. Ibnu Husein yang saya baca bulan lalu, memang ibadah sosial itu lebih utama.

    Sebab, dengan begitu berarti kita memberi manfaat. Yang tadinya lapar, jadi kenyang. Bagus, toh? Kalau kita shalat sunnah banyak-banyak, walaupun pahalanya raksasa, manfaatnya tidak terlalu banyak. Lha, sebab mau disembah atau tidak, Tuhan itu sudah Maha Sempurna to the max, tidak bisa bertambah atau berkurang kekuasaanya yang tiada batas itu😛

  5. Hmnn… Aneh ya? Menurut otak saya yang sederhana ini, dengan Nge-Blog kita juga bisa beribadah.

    Beribadah?

    Iya, berbagi ilmu pengetahuan merupakan ibadah menurut saya, dengan nge-blog kita juga bisa sekaligus berdakwah (loh?). Blog juga bukan hanya sarang curhat sana-sini, tapi juga sarana perjuangan. ^^;

    Inilah yang membuat saya salut dengan Kang Tajib.

  6. Ahahaha, tepat. Menurut otak saya yang lebih sederhana lagi ini, wawasan Tuhan yang tidak terbatas itu, tidak sesempit hambanya.

    Saya berharap harap saya tidak terlalu paranoid untuk mengusahakan dunia, dan tidak terlalu sekuler untuk menjauhi tempat ibadah😛

  7. Numpang nimbrung nih Mas…
    Wahahaha… Mereka-mereka yang terus-terusan menghitung biji-bijian sambil berzikir, apakah sudah pasti masuk surga? Santai aja Man… Masuk surga itu caranya banyak, ga cuma berlama-lama di masjid. Bahkan Allah Memerintahkan kita untuk “bertebaran di muka bumi” setelah urusan masjid aka ubudiyah selesai.
    .
    Ehm, mungkin yang lebih tepatnya, seimbang antara urusan masjid dengan Rabb, dan urusan dunia. Rasul juga berdagang kok. Kalo zaman Rasul sudah ada internet, saya yakin Rasul akan berdakwah lewat internet. Soalnya jangkauannya lebih luas bukan?
    .
    Makanya tajuk blog saya “finding the fastest way to the heaven”.. Mari, Bung! Kita tunjukkan kontribusi kita buat dunia! Mereka-mereka yang dahinya menghitam, biasanya banyak tidur siang! Bilang aja kayak gini ke mereka, “OK, kita berlomba. Kalau saya masih bisa masuk surga dengan keadaan enjoy waktu di dunia, jangan nyesel yaa…”.
    .
    Terima kasih…

  8. Nah, ini dia salah satu filosofi paling dasar hidup saya. Jalan ke Roma saja banyak. Jalan ke Bukittinggi saja banyak. Ke Madiun juga jalannya banyak. Masa jalan ke surga cuma satu😛

    Yee, mas, kisah perdagangan Rasul, kisah bagaimana Rasul selalu bergegas pulang setelah shalat dan doa-doa baginda selesai untuk mengurus rumah tangga dan masyarakat, mana populer di kalangan penghitung biji-bijian? Yang ditekankan ‘kan bagaimana dunia itu tidak pantas diperjuangkan saja… Jadi ingat propaganda hadith palsu di zaman penjajahan… “Barangsiapa mencintai dunia, sama dengan mencintai bangkai”. Hohoho, barangkali ada konspirasi di belakang paham penghitung biji-biji seperti ini? Wallahualam bisshawab😛

    Yap. Inti hidup adalah senang di dunia dan di akhirat.

    Ah, tajuk blog mas benar-benar super-dahsyat. Singkat tapi ‘membunuh’😀

  9. Lha, iya. Ke mana lagi para UBN menebar teror kalau bukan ke ‘sarang setan’?😀

    Dan saya memang tidak pernah melihat dia lagi. Ah, terkadang meresahkan, ya😦

    *wajah berubah serius, berbagai dugaan teori konspirasi berseliweran*

  10. berbagai dugaan teori konspirasi berseliweran

    seru nih sepertinya!
    ayo selidiki, tentunya setelah kamu menyelesaikan tugas kuliahmu yang laknat itu…hahahha…

    *kabuur*

  11. (Lagi blogwalking..)

    #8: “Nah, ini dia salah satu filosofi paling dasar hidup saya. Jalan ke Roma saja banyak. Jalan ke Bukittinggi saja banyak. Ke Madiun juga jalannya banyak. Masa jalan ke surga cuma satu”

    Tapi secepat-cepatnya jalan adalah jalan yang LURUS dan MULUS😉

    Keep up.

  12. hmm … terkesan menafikan proses … mencerca dunia …
    ada-ada saja …🙂

  13. Perlu di cermati bahwa umat yang mengaku islam hari ini ternyata sudah lumpuh, dalam artian bawa sudah tidak mampu memfungsikan aqal (otak) di dalam menyikapi apa sesungguhnya yang TUHAN informasikan melalui berbagai fenomena alam yang terjadi saat ini. Padahal semunya itu merupakan penggenapan dari firman TUHAN yang telah ada dan termaktub di dalam kitab-kitab-NYA.
    Sebagai contoh:
    kita lihat hari ini umat islam tidak menggenapi Firman “rahmatan lil alamin”, padahal jika kita ber aqidah “la ilahailalloh” , seharusnya fenomena alam yang terjadi “hari ini” bagi umat yang katanya mengaku islam adalah rahmat dan berkah, bukan tertindas. sebab aqidah “la illahailloh” umpama pohon yang akarnya menghujam ke bumi, batangnya tegak lurus,ranting dan daun yang subur serta menghasilkan buah yang baik.
    apakah fenomena “hari ini” merupakan buah yang baik atau buah yang buruk bagi umat yang katanya islam.Ingat, umat bukan kaum.

  14. Suatu ‘kelumpuhan’ tidak terkungkung pada suatu masa, mas/mbak, hakikatnya sesuatu itu naik-turun…🙂

    Dan mungkin saat ini memang sedang di bawah, ya…😛

  15. Pingback: Bercinta Dengan Saudara Sendiri « Parking Area

Comments are closed.