Capek, Kok Dicari…?

Saya kembali ke asrama setelah libur yang (terlalu) panjang pada hari Jumat, 23 Februari 2007. Saya lihat terdapat beberapa hal telah berubah… Ada yang tambah bagus, ada yang tambah jelek, ada hanya yang sekadar berubah saja.

Adapun dari beberapa hal yang berubah itu adalah wallpaper yang dipakai oleh seorang teman saya untuk menghiasi desktop-nya. Seingat saya dulu dia pernah pakai bermacam-macam gambar untuk urusan yang satu ini. Pernah suatu kali, ia menyisipkan foto pacarnya; barangkali dimaksudkan supaya dia selalu ingat padanya. Lalu, fotonya sendiri (Naudzubillah… -_-). Bahkan pada suatu saat dia meletakkan foto Maria Ozawa. Versi yang relatif lebih santun tentunya. Dia masih punya malu.

Nah, yang saya lihat ketika saya pulang bukanlah foto pacarnya. Atau foto Maria Ozawa. Yang ada adalah foto dirinya sendiri – bersama teman-temannya yang saya tidak tahu siapa. Tapi, bukan itu yang dipermasalahkan. Masalahnya, foto tersebut diambil di alam bebas. Bukan di dalam kamarnya, bukan di kampus, bukan di mall, bukan di photobox, tapi di alam bebas. Dunia tanpa peradaban. Hutan.

Ternyata teman yang satu ini, bersama dua teman saya yang lainnya (satu + dua = tiga, jadi ada tiga orang) sedang keranjingan hiking. Jadi selain sedang gila fitness (hobi yang satu ini sudah mereka geluti sejak lama), juga gemar hiking. Jantaaan.

Nah, mereka ternyata tidak merasa rendah hati itu perlu dalam konteks ini. Kabar baik mesti disebarkan. Jadi, dalam beberapa hari sesudahnya obrolan mereka juga tidak jauh-jauh dari masalah hiking. Detilnya saya rasa tidak perlu kita sebutkan di sini. Sebab mendengarnya saja saya sudah mengantuk, apalagi menuliskannya. Dan saya kira, dengan membacanya juga mungkin kita bisa terkena efek hipnotis yang sama.

Cerita berlanjut pada suatu sore di hari Kamis, 1 Maret 2007. Teman-teman saya berniat untuk menyerbu Carrefour. Tujuannya apa lagi. Belanja tentunya. Barang-barang yang ditargetkan pun masih berkaitan dengan virus di atas. Tas. Botol. Makanan instan. Senter. Sleeping Bag. Saya juga turut serta. Sebab kebetulan saya butuh gantungan baju. Seorang teman lagi yang berhasil menolak tawaran untuk hiking dari tiga teman saya di atas juga ikut. Sehingga, kalau anda masih ingat matematika, ada lima manusia yang ikut menumpang taksi pada sore itu. Enam, ditambah dengan sang supir. Berhubung taksi sebenarnya tidak didesain untuk menampung enam makhluk hidup ukuran besar, bersempit-sempitan tidak bisa dielakkan.

Setelah tiba di sana, yang menjadi prioritas tentunya adalah yang lebih mendesak kebutuhannya. Perlengkapan hiking. Diskusi-diskusi sengit pun terjadi di antara teman-teman saya dalam membandingkan barang-barang yang dipajang di sana. Alhamdulillah saya tidak perlu pusing. Sebab saya tidak berniat beli. Hanya saja saya mesti sadar diri dan ikut membantu mendorong-dorong cart yang dipakai untuk menampung barang-barang mereka. Setelah lama berputar-putar dan semua ‘kebutuhan mendesak’ terpenuhi, saya pun memperoleh kesempatan membeli apa yang saya inginkan. Gantungan baju, gantungan serba guna, sekotak sushi, dua pak yogurt, dan roti sosis. Tentunya, cepat dan tanpa banyak memilih.

Dan hari itu pun datanglah. Jumat pagi mereka bertiga pun lenyap. Katanya, akan kembali lagi Sabtu malam. Tengah malam. Itu pun paling cepat. Adapun soal lokasinya, atau apa yang mau didaki/ditelusuri, saya kurang tahu. Kalau tidak salah di sekitar Johor.

…Lalu?

Sejujurnya, saya sendiri tidak terlalu menyukai kegiatan-kegiatan outdoor. Salah satu konsekuensinya tentu keadaan fisik saya jauh dari prima — sering pusing, makan tidak teratur, tidur seenaknya, dan seterusnya, dan seterusnya. Olah raga pun bisa dikatakan jarang… Kalau mau sopan (Brutal truth-nya sih tidak pernah -_-). Sebab salah satu kebiasaan buruk saya adalah malas mengerjakan hal-hal sekuler yang tidak menghasilkan barang konkret. Disuruh ngecat pagar, mungkin saya mau. Hasilnya ada. Pagarnya. Bikin ketupat, hasilnya ada. Ketupat. Bikin manga, hasilnya ada, manga. Tapi kalau lari keliling kompleks? Hasilnya ada. Bugar. Sayangnya yang namanya kebugaran itu tidak bisa dilihat. Lintas alam? Pengalaman, tentu. Lalu, foto. Apakah saya tertarik? Wah, tidak. Yang ada saya malah bertanya-tanya. Capek, kok dicari, sih? Belum lagi kalau luka. Terkilir. Sepatu sobek. Pengalaman adalah barang yang sangat berharga. Betul. Namun harga tetap saja relatif bagi tiap makhluk hidup.

Tapi sudah tentu pandangan saya yang agak kurang simpatik terhadap kegiatan lintas alam ini tidak akan mengurangi daya tarik kegiatan ini di mata peminatnya. Memangnya saya siapa? ‘Kan bukan siapa-siapa. Yang jelas saya tidak bilang kegiatan ini jelek. Yang ada, saya tidak berminat. Saya tidak suka (dan mungkin tidak cukup sabar) untuk naik gunung turun gunung melihat pepohonan dan batu-batu, sembari ditemani bebunyian super merdu seperti kicauan burung, bunyi daun-daun, atau gemuruh sungai. Saya lebih senang nonton anime atau ngegame di kamar yang sejuk, sambil menyetel lagu yang agak sedikit berisik. Audioslave. Anti-Flag. A Fire Inside. Our Lady Peace.

Yah, tapi siapa tahu kebiasaan itu bisa berubah. Wallahualam.

In God We Trust. RosenQueen, company.

22 thoughts on “Capek, Kok Dicari…?

  1. Ke perempatan beli yoghurt kok enggak bagi2. Mintaaaaaaaa.

    Hasilnya kan jangka panjang kalau yang kayak gituan. Btw gw lagi nyari motivasi biar mau ikutan senam. Buat nurunin kiloan badan.

    Kiloan berat badan kan konkrit, coba aja motivasinya itu.

  2. duh gue disuruh sama nenda aka calupict buat komen nih…

    olahraga ada berbagai bentuk, gak cuma hiking kan. cari olahraga yang pas dan menyenangkan buat dijalankan, entah itu main tenis, berenang, atau main skirmish airsoft. umur masih muda memang belum terasa gunanya berolahraga, karena stamina masih didukung oleh umur yang masih muda. tapi begitu sudah mencapai 30-an lebih, akan terasa sekali bagi yang kurang berolahraga akan lebih cepat merasa ngantuk, tidak bisa fokus, dan lain sebagainya. ini semua belum akan terasa bagi yang umurnya masih muda.

    kalau sekarang waktu masih muda berolahraga itu lebih untuk membiasakan diri, supaya nanti gak keterusan sudah berumur sudah susah dan lebih malas berolahraga.

    maaf ya kalau kesannya sok tahu, ini dipaksa sama nenda nih…

  3. @ Calupict
    Aduh, saya nggak punya timbangan berat badan tuh…😀

    @ Ryo Saeba
    Waduh, kok pakai paksa-paksaan ya? Hmm, kalau olahraga yang ada kompetisinya sih tidak bisa dibilang tidak suka. Yang saya maksudkan di sini adalah olahraga yang akhirnya terlalu terbuka seperti jalan-jalan, hiking, fitness, dan sebagainya. Sekadar catatan, saya sempat menjadi atlet sepakbola cadangan di SMA ^-^’

    Dan kalau dibilang saat ini belum terasa, wah, ternyata sudah. Sudah saya bilang, saya sering sekali tidak enak badan.

    Sekali lagi maaf kalau terpaksa membuang waktu buat menulis di sini…

  4. Banner buat blog gw.
    Ukuran 900×300 pixel. Format PSD.
    Kamu itu kok suka lupa mulu. -_-

  5. @ manusiasuper
    Wah, mas hati-hati, di dunia ini banyak yang jauh lebih buset lagi daripada empu blog yang pembawaannya malas.

    Turunkan standar buset-nya mas ^^

  6. Namanya hobi / kesukaan walopun cape berat ya tetep aja dilakoni. Mungkin ada kepuasan tersendiri setelah memenuhi hobi tsb. Dulu sy hobi banget nonton bola (skr udah nggak)…walopun besok ujian kek, ebtanas kek…ya tetep aja melekan nonton bola. Tp skr kl sy pikir2…knp ya dulu itu kok mbela2in nonton bola. Pd akhirnya sy ambil kesimpulan…namanya jg hobi gitu aja kok repot
    Salam kenal🙂

  7. @ Lintang
    Waduh, sebelum EBTANAS nonton bola apa nggak berlebihan?😀

    Salam kenal juga🙂

    @ kakilangit
    Makanya, di dunia ini manusia memang berbeda-beda. Kegiatan yang paling membosankan menurut kita sekalipun, ada yang sangat menggandrunginya. Dunia yang hebat…

  8. Soalnya capek bloon bayar utank…
    😛

    manusia itu … tidak homogen …
    [spertinya ga da alasan unt membuatnya homogen]

    hehehe…

  9. Pingback: Cadel kok dicari? « 李香瑩 | Lǐ Xiāng Yíng

  10. Pingback: Anda Munafik Ataukah Fanatik? « Parking Area

Comments are closed.