Ayam

Dari dulu saya bingung. Kenapa waralaba-waralaba makanan suka sekali menjadikan bahan makanan yang mereka masak sebagai maskot atau ikon? Apabila waralaba yang bersangkutan menjual ayam goreng dan sebangsanya, maka seringkali ayam dipergunakan sebagai maskot. Apabila menjual ikan, maskotnya ikan. Dan seterusnya.

Padahal ini lucu. Dulu majalah komedi Cracked menyebut Charlie the Tuna, maskot produk tuna kalengan StarKist, sebagai “tuna mata duitan yang dibayar untuk meyakinkan orang memakan keluarganya”.

Ayam-tan, beberapa saat sebelum penyembelihan.

Saya bukan vegan, saya makan daging setiap hari. Tapi ya kalau membayangkan yang seperti itu, selera makan juga jadi hilang. Semua orang tahu, hidup hewan ternak yang dibesarkan untuk dimakan itu tidak terlalu bahagia: sejak lahir dipisahkan dari induk, dibesarkan di ruang sempit, tak pernah merumput, dijadikan gembrot secara artifisial, dan lalu dibunuh. Secara pribadi, saya merasa lebih tertarik untuk mengkonsumsi produk yang dimaksud apabila maskotnya adalah konsumen, bukan bangkai. Misalnya gadis kecil yang makan burger. Seperti itulah. Melihat maskot ayam yang lucu, tentunya saya bukannya jadi lapar ingin memakan ayam yang bersangkutan.

Jadi siapa sebenarnya yang pertama kali menggagaskan strategi pemasaran semacam ini?

13 thoughts on “Ayam

  1. Kenapa waralaba-waralaba makanan suka sekali menjadikan bahan makanan yang mereka masak sebagai maskot atau ikon?

    Misal:
    – KFC –> jualan daging mbah-mbah.
    – McDonald –> jualan daging badut. :?

    *ngaco*

    BTW kalo di sini ada juga yang aneh. Bukan restoran sih, tapi promosi daging babi Australia (kalo ga salah). Maskotnya : babi yang bilang “eat me!” :mrgreen:

  2. hahak. maskot mempengaruhi sales ga ya?
    kalo di indo masih larisan mana: kentucky fried chicken atau kentuku fried chicken? seingat gw kentuku maskotnya ayam.

  3. Texas juga nggak berlogo ayam :P

    -@ frozen-

    Sama aja kan dengan baksosuper[dot]com juga palesu

    *pentung-pentung geddoe*

Comments are closed.