Israel dan Palestina

Sepenjuru BOTD kelihatannya tengah membahas mengenai kelanjutan konflik Israel dan Palestina. Opini publik lebih condong ke arah mendukung Palestina — dengan alasan yang beragam, ada yang karena memang paham dengan wacananya, ada yang karena “solidaritas” saja.

Saya sendiri tidak tahu; sebab memang tak mengikuti perkembangannya. Dari dulu begitu-begitu saja. Dua-duanya ngotot dan tak rela bila masalahnya diselesaikan lewat two-state solution.

Jadi, mari kita dengarkan musik saja. :D

Ini “Rock the Casbah“, lagu dari tahun 1982, oleh The Clash. Video klipnya menampilkan seorang Yahudi dan Arab, lengkap dengan atribut-atribut kesukuan, menari bersama-sama di jalanan, makan Burger King, dan menonton konser The Clash.

Semoga kapan-kapan bisa seperti itu.

BTW sebetulnya videonya tak begitu berhubungan dengan liriknya sendiri. Apalagi dengan konflik Israel-Palestina.

About these ads

129 thoughts on “Israel dan Palestina

  1. FYI, kalau mau yang beneran, ada juga konser yang menampilkan kolaborasi antara rapper Yahudi (Matisyahu) dengan rapper Muslim (Kenny Muhammad).

    Tapi hip-hop sih, saya ga suka :|

  2. BTW sebetulnya videonya tak begitu berhubungan dengan liriknya sendiri. Apalagi dengan konflik Israel-Palestina.

    selamat, anda baru saja meraih traffic!™ :cool:

    :mrgreen:

  3. @ lambrtz

    Saya juga ga suka hip hop. Makanya. :|

    @ Nenda Fadhilah

    BOTD gitu lho.

    @ gentole

    Ga. Karena katarsis. Ini blog baru mau dirilis jaid ga terlalu peduli mau posting apaan.

    @ yud1

    *sepak* :mrgreen:

  4. Kalo ada yang tertarik dengan pandangan kaum Yahudi non zionis tentang konflik ga berujung ini, silahkan visit:

    http://www.ifamericansknew.org

    Disana ada sebuah booklet yang dibuat oleh suatu kelompok yang menamakan diri mereka ‘Jews for Justice in the Middle East.’ Makes for an interesting read.

    Anyway, bisa dimengerti sih kenapa sebagian orang ga terlalu ngikutin konflik ini. Gw juga baru baru ini aja mulai mempelajari perang di Filistin/Israel. Until recently, war for me was just an abstract idea and nothing more than a show I watched on TV in some faraway land.

    Jadi silahkan klik link di atas kalo tertarik. It’ll cost you nothing.

  5. Semoga Allah memberi balasan yang setimpal kepada kedua belah pihak yang bertikai. :lol:

    *komat-kamit*

    Btw pakbos, coba tonton felem You Don’t Mess with the Zohan (sila googling). :mrgreen:

  6. Ini… cari lagu dari tahun 82 cuma karena klipnya menampilkan Yahudi dan Arab? Mending juga Van Halen sekalian… :lol:

    Semoga Hamas segera hancur deh…

    *masih menunggu serangan udara ke Iran, ntah kapan*

  7. You kill my people, I kill your people. Your soldier hide in civil area, I bomb civil area. You mad at me, and bomb my civil area, I mad at you and bomb your civil area. And so on, and so on.

    When this circle of hatred ends.

    By the way per Christian(and Jewish too because the prophecy is in Old Testament) view, Bible said this conflicts will go on until the Kingdom come. But that doesn’t mean we can’t try to promote peace. In this case, I will be glad if Bible proven wrong.

    And the other, it is proven that for two entities that hate each other can be united if they hate an entity more. Hamas and Fatah dispute suddenly gone and they act in unity against Israel.

    @Jensen99
    Zionis laknat!
    *tendang Jensen ke Mesir*

  8. K.geddoe

    Sama juga kalo begitu. Saya katarsis juga kok. :D

    *masih maksa nyama-nyamain*

    @Ary

    Until recently, war for me was just an abstract idea and nothing more than a show I watched on TV in some faraway land.

    Saya juga. Israel-Palestina itu macam reality show saja, yang bisa dilihat setiap jam 9 di Dunia Dalam Berita, habis film Macgyver atau Airwolf atau Knight Rider. Pernah sih saya merasa “terlibat” di dalamnya saat masih dekat dengan aktifis pergerakan Islam (halah istilahnya), tetapi setelah kuliah semuanya kembali seperti biasa. Konflik Timteng lagi-lagi jadi reality show, yang tidak perlu dianggap terlalu serius, yang harus dipikirkan siang dan malam. Saya juga baru mau tau soal palestina lebih jauh setelah mendengarkan khutbah Rabi David yang anti-jensenzionist waktu dia ke Jakarta. Kebetulan ada orang Yahudi Amerika juga yang magang di kantor saya. Haha…ibunya ketakutan banget dia ke Jakarta. “Don’t tell them you’re jewish!” Masalah Israel-Palestina jelas masalah politik, masalah kuasa, yang luar biasa repot, karena melibatkan Amerika. Kalo mau naif sih, solusinya menurut saya toleransi dan koeksistensi, dalam satu msupun dua negara. Tetapi yah sulit. Need to learn more about this issue.

  9. Saya pernah baca di sebuah artikel, bahwa yang ada justru tanah Yahudi, yang diberi nama Yudea, dan kemudian oleh Bangsa Romawi diganti menjadi Syria Palestina, yang sekarang dikenal dengan nama Palestina. Dan, negara Israel sekarang ini tak lain adalah sebuah kelanjutan sejarah panjang ribuan tahun lalu yang berhubungan dengan eksistensi orang-orang Yahudi.

    Berarti, Palestina sebetulnya bukan berasal dari suku Arab ya :-?

  10. Kalau saya pribadi, lepas dari fanatisme yang sering dikoarkan aktivis agama di negeri ini, tetap saja memandang konflik di sana itu gak lepas dari urusan sospol dan kemanusiaan. Apakah yang dibunuh seorang muslim, kristen, yahudi, atau atheis sekalipun, pembunuhan terhadap warga sipil itu tetap saja salah.

    Kemarin anak2 di sini tanya aksi utk Palestina dan mengutuk Yahudi. Saya mencengir, dan mengatakan kalo saya tidak peduli dengan urusan suku bangsa di sana: Saya tidak suka pemerintahan zionis Israel itu, tapi utk menggenaralisir yahudi seperti kutukan2 di aksi2 televisi, itu sama konyolnya dengan alasan rezim Israel memborbardir Gaza karena bentrokan dengan Hammas (atau ngebom Lebanon karena beberapa ekor kroco2nya ditangkap Hizbullah).

    @ Frozen

    Saya pernah baca di sebuah artikel, bahwa yang ada justru tanah Yahudi, yang diberi nama Yudea, dan kemudian oleh Bangsa Romawi diganti menjadi Syria Palestina, yang sekarang dikenal dengan nama Palestina. Dan, negara Israel sekarang ini tak lain adalah sebuah kelanjutan sejarah panjang ribuan tahun lalu yang berhubungan dengan eksistensi orang-orang Yahudi.

    Saya juga pernah baca artikel yang sama. Tapi sayangnya, di artikel itu tidak ada batasan yang mana tanah yang didiami oleh penduduk yahudi dan penduduk kan’an, dan pada kisaran tahun berapa serta siapa yang duluan ada di sana.

    Antara Israel sebagai sebuah negara dan sebagai entitas Yahudi, bagi saya tidak identik sama, meski kalangan ekstrim mereka bersikukuh demikian. Karena saya melihat alasan seperti Ahmadinejad ada benarnya: Macam mana boleh sebuah negara didirikan di tanah yang ada penduduk pribumi (atau katakanlah penduduk yang sudah hidup lama, mengingat pribumi juga aslinya perantauan manusia dari daratan lain), dengan warga negara impor dari benua Eropa dan Amerika?

    Sejarahnya jadi sama macam AS : Didirikan di atas tanah suku Indian yang sudah beratus tahun berdiam disana. Sama busuknya itu.

    Berarti, Palestina sebetulnya bukan berasal dari suku Arab ya :-?

    Masa? :?

    AFAIK, satu suku mungkin tidak, tapi satu garis keturunan dari Ibrahim seperti Arab dan Yahudi, itu yang saya tahu. CMIIW :)

  11. @ dnial

    When this circle of hatred ends.

    As you said, when the Kingdom come :mrgreen:

    But that doesn’t mean we can’t try to promote peace.

    Most exegesis believes that peace in Israel will mark the rise of antichrist. But yes, you can try to promote peace. Streets in our country are full with angry mass recently.

    Zionis laknat!
    *tendang Jensen ke Mesir*

    Gyahahaha… :lol:
    *tujuan yang bagus. Mesir itu lumayan rukun dengan Israel. 6 bulan sebelum ini mereka membantu Israel memblokade Jalur Gaza dari sisi selatan*

    @ gentole

    anti jensen? :lol:

    @ frozen

    Sperti kata alex©, Nama tempat itu dulu tanah Kanaan. Yahudi & Yudea itu berasal dari nama kerajaan Yehuda (pecahan kerajaan Israel jaman Daud & Salomo) yang menguasai bagian selatan negeri itu. Palestina dulu artinya “tanah orang Filistin” suatu suku pelaut dari laut tengah yang mendiami pesisir pantai selatan (jalur Gaza sekarang).
    Negara Israel modern memang bisa dibilang kelanjutan dari sejarah panjang nenek moyang orang Israel di tanah itu.

    Berarti, Palestina sebetulnya bukan berasal dari suku Arab ya :?

    AFAIK yang disebut orang Palestina adalah orang Arab yang mendiami tanah palestina (dan keturunannya, tentu) sejak sebelum imigrasi Yahudi Eropa abad 19. Masih dikuasai Ottoman Turki saat itu. Mereka disebut arab-palestina. Tapi garis asal-usulnya (termasuk kekerabatan dengan arab wilayah lain) kurang jelas mengingat sejarah perang, migrasi & pembauran yang panjang di wilayah itu.

    @ alex©

    di artikel itu tidak ada batasan yang mana tanah yang didiami oleh penduduk yahudi dan penduduk kan’an, dan pada kisaran tahun berapa serta siapa yang duluan ada di sana.

    Itu bisa jadi post sendiri. :mrgreen: Tapi wiki lumayan mbantu kok. Ini mungkin?

    Macam mana boleh sebuah negara didirikan di tanah yang ada penduduk pribumi, dengan warga negara impor dari benua Eropa dan Amerika?

    Kalo melihatnya hanya semenjak kedatangan imigran Yahudi Eropa jaman Ottoman, memang pendatang impor Yahudi itu; tapi kalo melihatnya dari jaman diaspora, maka para Yahudi itu justru “pulang kampung”. :mrgreen:
    Tentu beda dengan sejarah AS. ;)

  12. Saya pernah nonton Al-Jazeera Witness yang judulnya tembok konkrit sekian meter yang menceritakan tentang beberapa orang Arab dan Israel bertetangga. Haha, bahkan ada yang tinggal bareng.

    *SIAL GW LUPA JUDULNYA, ASEM!*

  13. @alex

    Macam mana boleh sebuah negara didirikan di tanah yang ada penduduk pribumi (atau katakanlah penduduk yang sudah hidup lama, mengingat pribumi juga aslinya perantauan manusia dari daratan lain), dengan warga negara impor dari benua Eropa dan Amerika?

    Aku punya argumen yang sadis :
    Survival of the fittest. Silahkan bersaing memperebutkan wilayah. Yang kuat menang. Same case dengan bangsa Arya di India, dan bangsa Mongol di masa lalu di China. Pun juga Amerika, Australia dan Jepang (bangsa asli di Jepang adalah bangsa Ainu yang nyaris punah).

    Itu tidak membenarkan apa yang terjadi di Palestina. Aku hanya menunjukkan itu pernah terjadi dan mungkin akan terus terjadi.

    Tapi sayangnya, di artikel itu tidak ada batasan yang mana tanah yang didiami oleh penduduk yahudi dan penduduk kan’an, dan pada kisaran tahun berapa serta siapa yang duluan ada di sana.

    Siapa duluan? Duluan orang Kanaan lah… Kitab Yosua di Alkitab menceritakan penaklukan Kanaan oleh orang Yahudi. Akhirnya beberapa bangsa di Kanaan koeksis dengan Israel kuno. Dengan sedikit bumbu perang dengan orang Filistin.

  14. @ dnial

    Siapa duluan? Duluan orang Kanaan lah… Kitab Yosua di Alkitab menceritakan penaklukan Kanaan oleh orang Yahudi.

    lha trus yahudi asalnya dari mana, dong? saya pernah baca di mana lupa… yahudi konon turunan sumeria. kalo menurut Alkitab ada gak, bro?

  15. gak jadi ding… ternyata dah ada… *malu*

    …Yahudi & Yudea itu berasal dari nama kerajaan Yehuda (pecahan kerajaan Israel jaman Daud & Salomo) yang menguasai bagian selatan negeri itu.

    *tapi yg sumeria itu?*

  16. @ sitijenang

    Kapan-kapan saya cari. :)

    @ Ary

    Terima kasih linknya.

    @ Haris Suryanegara

    Hahaha. BOTD sucks! :D

    @ Gunawan Rudy

    Semoga Allah memberi balasan yang setimpal kepada kedua belah pihak yang bertikai.

    Amen to that. :lol:

    @ dnial

    Wah, jangan gitu dong. ^^’

    Memang secara eskatologi perdamaian di situ bisa jadi bermakna munculnya sang Antikristus, tapi yaa, barangkali konfliknya bisa diteruskan tanpa pistol. :mrgreen:

    @ gentole

    Kalau mau damai itu perlu hati besar. Hati besar atau generation gap yang lumayan jauh. Waktu Piala Eropa awal tahun ini, orang Indonesia banyak yang menjagokan Belanda. Mungkin seperti itu? Itu sih kayaknya lebih ke arah generation gap, ya?

    @ frozen

    Kalau dihubungkan dengan diaspora Yahudi saya rasa memang seperti itu. :?

    @ alex©

    Nah, itu! Itu yang saya maksudkan. Saya khawatir konflik ini jadi ajang fanatisme buta dan solidaritas tak tentu arah. Kalau misalnya yang terbantai itu orang Yahudi dan yang membantai orang Islam, para aktivis pergerakan Islam™ itu juga mesti sudi mengutuk.

    Sebab saya kira berbahaya kalau ada perang yang pelik lalu suatu demografik besar seperti para aktivis™ kita ini menentukan sisi mana yang dibela secara serampangan. :?

    Kalau dasarnya kemanusiaan sih, silakan saja. :D

    Sejarahnya jadi sama macam AS : Didirikan di atas tanah suku Indian yang sudah beratus tahun berdiam disana. Sama busuknya itu.

    Ah, tapi kalau AS ini bukannya agak berbeda? Sebab mereka ‘kan pada intinya kaum imigran yang memberontak pada Kerajaan Inggris? Jadi budaya imigrasi itu sudah meresap duluan sebelum revolusi.

    Tapi ya kalau dibandingkan dengan metode-metode “pembersihan” a la Andrew Jackson dan Martin Van Buren ya mirip-miriplah. :?

    @ jensen99

    Kalau solusi dua negara bagaimana?

    @ DensS cessario

    Cerita yang seperti ini memang sering “terlupa”. :lol:

    @ sitijenang

    Bukannya Yahudi itu asalnya memang dari sekitar Israel dan Lebanon? :? Lalu sering diusir-usir, terkatung-katung, baru pada akhirnya kembali ke Israel? :?

  17. BoTD heboh soal ini kah?
    Kampus saya pun.. *lirik selebaran yang baru saja dibagikan berjudul gaza underfire*
    Btw, di bilang bosan denger berita macam ini, bosan juga sih. Tapi ini tentang solidaritas dan dosen saya pun sibuk mengucap “it’s happening. dont run away from it. It’s happening”
    Sebaiknya ngikuti “kebosenan” ato ngikuti perkembangannya terus ya?
    Tampaknya sebaiknya berdoa saja semoga damai segera tercipta.
    *menundukkan kepala takzim*

  18. @ K. geddoe

    Bukannya Yahudi itu asalnya memang dari sekitar Israel dan Lebanon? :? Lalu sering diusir-usir, terkatung-katung, baru pada akhirnya kembali ke Israel?

    lha kan katanya dnial Kanaan duluan, lalu bangsa itu ditundukkan Yahudi. *bolak-balik baca lagi* :?

  19. Survival of the fittest. Silahkan bersaing memperebutkan wilayah. Yang kuat menang. Same case dengan bangsa Arya di India, dan bangsa Mongol di masa lalu di China. Pun juga Amerika, Australia dan Jepang….

    Indonesia di Papua !!! :lol:

    Bagi orang Indonesia untuk mengadopsi prinsip “siapa yang benar”, “siapa yang berhak”, dan “siapa yang duluan” dalam masalah Israel, pada akhirnya akan memaksa kita untuk mengubah persepsi anak bangsa terhadap isu-isu separatis.
    Papua, misalnya.

    Sudah siapkah kalian melepas Papua, wahai anak-anak muda Indonesia? :twisted:

  20. @dnial
    Setiap baca ttg sejarah Suku Arya di India jadi ingat cerita guru sejarah SMP saya, tentang Suku Dravida yang mereka singkirkan saat mereka datang ke India. Even mereka punya kebudayaan yang cukup tinggi seperti di kota Mohenjo Daro dan Harappa mereka rela saja dipinggirkan oleh para pendatang yang lebih agresif tsb. Dan ,kabarnya CMIIW, dijadikan kisah antagonis di legenda Mahabharata sebagai para Kurawa.
    Semacam analogi bahwa literatur sejak dahulu menjadi ajang pertempuran legitimasi.

  21. Setuju dgn Dnial, khususnya ttg suku bangsa mana yg duluan ada di Kanaan.
    AFAIK dari Kitab Suci tertulis bangsa Israel adalah bangsa yg mengembara keluar dari perbudakan Mesir dgn janji akan di tunjukkan apa yg disebut “Tanah Perjanjian” oleh Tuhan. Tanah perjanjian itu bernama Kanaan. Bahkan nabi Musa karena kesalahannya sendiri tidak diijinkan masuk ke Kanaan. Nah secara sejarah dan Kitab Suci, yang pendatang adalah Israel. Kecuali ada yg berani klaim Kitab Suci salah tulis hehehe…

    Nah, cikal bakal konfrontasinya dimulai dari situ. Kata “Tanah Perjanjian” itu yg membuat Israel mengklaim itu milik mereka, sedangkan sang tuan rumah mana mungkin mau diusir. AFAIK, tolong dikoreksi kalau salah.

  22. Opini publik lebih condong ke arah mendukung Palestina — dengan alasan yang beragam, ada yang karena memang paham dengan wacananya, ada yang karena “solidaritas” saja.

    iya…banyak yang mendukung palestina tapi kok kayaknya cuman mendukung ya enggak ada perbuatan gitu atau sejauh ini para aktivis yang saya tau hanya berdemo :???:

  23. Let’s start with a story. Imagine that Africa has become rich and powerful, and that Euroope has become poor, divided and without real independence. Imagine next that, tired of being repeatedly massacred, the Tutsis decide to found a national home elsewhere. Certain of their leaders designate Wallonia, in Belgium, as that new home. Other Africans, to solve what some call the “Tutsi problem”, approve of the project. Thus a flood of Tutsis pack up, weapons and all, and begin to settle in that region, while proclaiming that the people already living there have to go somewhere else. With their wealth, their determination and their weapons, the Tutsis rapidly manage to take possession of the farms, forests and towns and chase away most of the natives, either by legal means or by intimidation. A large part of Wallonia becomes a new Tutsi State, which boasts of being particularly well governed and democratic. All of Africa looks on in admiration.

    However, to the surprise of the Africans, most of the Walloons are against that arrangement. Bewildered, sometimes supported by other Europeans who are nevertheless divided and whose leaders are weak and indecisive, they engage in several last ditch fights which only allow the Tutsi State to expand. The Africans can’t understand why the Belgians and other Europeans are unable to appreciate the superiority of the system introduced onto their continent by the Tutsis. While Tutsis from all over the world are invited to come and settle, it is explained to the inhabitants who are being pushed out that there are other French-speaking States where they can go. All those who, in Europe or elsewhere, denounce that situation risk being called “anti-Tutsi” racists. When, parked on various scraps of ex-Wallonia, completely surrounded by the Tutsi army, a certain number of natives throw themselves into violent and desperate acts, commentators vie with each other to come up with theories on the peculiarities of Walloon culture that push them to such fanaticism.

    It is doubtful that our principal concern, if we found ourselves in such a situation, would be to “put an end to the violence” of the original inhabitants of Wallonia, or to be fair to both sides, or to convince all the Belgians, as well as the other Europeans, to guarantee first and foremost the security of the Tutsi State within “safe and recognized borders”. And yet, the responsibility of Belgium in the misfortune of Tutsis, through its colonial policy, is incomparably greater than that, non-existent, of the Palestinians in the persecution of the Jews in Europe.

    The aim of this fable is not at all to compare or to pretend to establish any equivalence between two tragic histories, that of the Jews or that of the Tutsis, but solely to illustrate the fact that the attitude of the Arabs toward Israel is not necessarily due to a strange and violent culture or religion, but is no different from the attitude anyone might have if put in a situation similar to theirs . It is above all the situation that is strange. Recognizing it doesn’t mean that one can or should undo what has been done in the past . But if one wants to arrive at a genuine peace, not only between Arabs and Israelis, but also between the West and the Arab-Muslim world, then one must begin by understanding why the others see the world as they do, and by honestly distinguishing the aggressor from the aggressed.

    This fable is also also meant to illustrate the fact that, so long as one sees the conflict in terms of the war against terrorism, of conflicts between States, or even of human rights violations, an essential element is being left out, that is, the fact that the State of Israel is a continuation of European colonialism. It is that aspect (often invisible in Europe) that makes it unbearable to so many people in the Arab-Muslim world, and in the rest of the Third World. Any child in Rabat knows that if the State of Israel could be created in the way and place where it was done, it was because the local population that paid the price of the operation was made up of Arabs (like himself) and not of Europeans organized in powerful States who considered themselves superior. And that is difficult to accept.

    (Disclaimer: I DID NOT write this)

  24. @ grace

    Amin.

    @ sitijenang

    Makasih. Saya lihat-lihat dulu.

    @ Fritzter

    Hohoho! Saya setuju. :D

    @ oddworld

    Betul. Itu seingat saya diajarkan pada siswa-siswi kelas sepuluh; atau kelas satu SMA. :?

    @ CY

    Uniknya, apabila dihadapkan pada justifikasi kitab suci ini, umat Islam sendiri pun ada yang setuju.

    @ liroesdy

    Bukan itu yang saya maksudkan, Mbak.

    Maksud saya, kebanyakan dukungan yang saya lihat tidak berpijak pada pengetahuan yang cukup akan wacana yang ada. Melainkan, hanya membela karena agamanya sama saja. Ini menurut saya cara berpikir yang merusak dan tidak bijak.

  25. Duh, di kampus saya hampir tiap hari ada seminar yang terkait dengan ini… sampai ada yang merelakan jam kuliahnya. :P Cuma rata-rata pembicaranya “itu-itu” juga sih.

    Konflik Israel-Palestina akarnya sudah agak lama to? Saya kira justru pasca PD I… karena dari yang pernah saya baca, Israel itu tadinya semacam tanah yang dijanjikan Inggris ke warga Yahudi jika membantu Inggris mengalahkan Turki Ottoman. :?

  26. Orang menganggap, bahwa orang-orang Yahudi dipaksa keluar dari tanah mereka oleh tentara Romawi pasca sinagog mereka di Yerusalem dihancurkan pada 70 Masehi. Sekitar 1800 tahun kemudian, orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dan menuntut kembali tanah airnya. Padahal fakta, selama kurang lebih 3000 tahun, orang-orang Yahudi tetap mempertahankan tanah airnya. Kultur dan bahasa nasional mereka pun masih tetap bertahan di wilayah itu.

    Furthermore, orang-orang Yahudi menganggap Israel sebagai tanah airnya berdasarkan (setidak-tidaknya) tiga hal:
    1. Tuhan sendiri yang menjanjikan tanah tersebut kepada Ibrahim
    2. Orang-orang Yahudi tetap hidup di sana dan merawat tanahnya
    3. PBB memberi kedaulatan penuh kepada Yahudi di Palestin

    Istilah “Palestina” memang diambil dari kata Filistine, yang mengacu pada orang-orang Aegea yang pada abad 12 SM tinggal di tepi Mediterania, yang sekarang dikenal sebagai Israel dan Jalur Gaza. Abad 2 M, setelah menghancurkan pemberontakan Yahudi, pemerintah Romawi untuk pertama kalinya memberi nama Palestina pada tanah Yudea (bagian selatan Israel yang sekarang dikenal sebagai Tepi Barat) dalam usaha untuk menciutkan identitas Yahudi dengan tanah Israel. Kata Arab “Filastin” kemungkinan diambil dari nama Latin ini.

    CMIIW

  27. Untung bukan saya yang jadi korban, setiap pagi masih bisa seruput nescafe, tiap sore bisa blogwalking, dan baca-baca email yang masuk.

    Ternyata begitu indah dunia ini…

    *OOT dikit ya Ged ; )*

  28. @ jensen99

    Kalo melihatnya hanya semenjak kedatangan imigran Yahudi Eropa jaman Ottoman, memang pendatang impor Yahudi itu; tapi kalo melihatnya dari jaman diaspora, maka para Yahudi itu justru “pulang kampung”. :mrgreen:

    Yang saya maksudkan memang Yahudi impor dalam pengertian “impor” sesungguhnya. Suku bangsa masih Yahudi, masih memiliki warisan kultur dan (mungkin) agama Yahudi, tapi… sudah putus generasi.

    Ini sama seperti WNI (misal) asal Aceh yang sudah ratusan tahun di Eropa dan pulang ke Indonesia dan “seenaknya” mendirikan negara sendiri, dengan mempersetankan kemajemukan tatanan yang ada.

    Palestina sendiri bukan cuma didominasi muslim atau yahudi, tapi juga suku bangsa Arab lain, para penganut kristen, dan bahkan para komunis. Pendirian negara dengan sepihak begini yang tidak menyenangkan.

    Tentu beda dengan sejarah AS. ;)

    Beda dalam poin-poin tertentu, tapi memiliki kemiripan dalam pendirian negara dengan “meng-ignore” penduduk asli. Sama-sama “tidak menghiraukan” mereka yang sudah duluan menetap. Tidak meminta persetujuan.

    Benarnya definisi penduduk asli ini memang rumit juga. Manusia ini, kalau menurut paham Out of Africa, sama-sama merantau dan mencari tanah masing-masing. Seperti penduduk Papua yang ras Melanesia atau orang Aceh yang ditengarai memiliki kaitan turunan dengan bangsa khmer. Tapi urusan menetap ini kan bukan sekedar utk berdomisili, makan-minum, dan beranak-pinak. Tapi membangun peradaban masing-masing. Dan dengan tiba-tiba, tatanan itu dicarut-maruti pada tahun 1948 :?

    @ dnial

    Aku punya argumen yang sadis :
    Survival of the fittest. Silahkan bersaing memperebutkan wilayah. Yang kuat menang.

    Saya belum lama membaca Evolusi lagi dari buku praktis dan tidak terlalu rumit [Sumpah! Tidak dibayar utk ini! :D ].

    Konon, definisi Survival of The Fittest yang disebutkan Darwin itu tidaklah melulu pada pertarungan kekuatan antar makhluk hidup. Tapi kemampuan menyesuaikan diri utk hidup dgn alam. Ini menjadi alasan kenapa dalam satu ekosistem, binatang2 yang berbeda bisa hidup berdampingan, meski ada yang memangsa satu sama lain. Fokusnya lebih pada utk bertahan dan menyeimbangkan diri dengan lingkungan. Bukan siapa paling kuat terhadap satu sama lain. Pada faktanya, serangga lebih bertahan daripada reptil raksasa bernama dinosaurus itu :mrgreen:

    Dalam hal sosial, definisi macam ini lebih “sopan” memang. Tapi dalam hal sosial-politik, agaknya memang lebih disukai definisi yang sangar begitu :mrgreen:

    Itu tidak membenarkan apa yang terjadi di Palestina. Aku hanya menunjukkan itu pernah terjadi dan mungkin akan terus terjadi.

    Tidak membenarkan. Tapi definisi itu sering jadi justifikasi, bukan? Isu Bahaya Kuning sebagai ancaman terhadap ras Nordic di Amerika Serikat pra PD II dulu, misalnya. Atau alasan pembantaian ala Gestapo seperti ini :


    Heinrich Himmler, head of the Gestapo, stated that ‘the law of nature must take its course in the survival of the fittest.’ In fact, all of the Nazi leaders were committed both to evolution and Germanic racism, as were most German scientists and industrialists during those dark days.” -H.M. Morris, Long War Against God (1989)

    :?

    @ Geddoe

    Saya khawatir dan tidak suka gejala yang semacam itu. Meski saya ragu apa akan dituruti, tapi… ya, jikapun yang terbunuh bukan muslim dan arab, ya mesti diteriakkan juga donk kutukannya.

    Sebab, kalo fanatisme agama yang dikedepankan seperti teriakan belakangan, saya sungguh merasa umat muslim (di Indonesia khususnya) mesti malu sama itu protes-protes lintas agama dan budaya mulai dari Spanyol sampai Venezuela. Yang berunjuk-rasa semalam di layar kaca, di Karakas, jelas bukan wanita jilbaber.
    Seksi-seksi menggoda mata malah :P

    Mestinya dasarnya ya kemanusiaan, Ged :?

    Ah, tapi kalau AS ini bukannya agak berbeda? Sebab mereka ‘kan pada intinya kaum imigran yang memberontak pada Kerajaan Inggris? Jadi budaya imigrasi itu sudah meresap duluan sebelum revolusi.

    Sejarah awalnya beda, tapi pendirian negara paska berpisah dari benua Eropa itu sama kiranya. Ada dasar ketidak-puasan pada negara/benua dimana selama ini mereka menjadi warga negaranya.

    Tapi ya kalau dibandingkan dengan metode-metode “pembersihan” a la Andrew Jackson dan Martin Van Buren ya mirip-miriplah. :?

    Itu yang saya maksudkan :)

    Dan… yang sering dilewatkan adalah kenyataan bahwa zionisme sebagai gerakan pendiri Israel dan yahudi sebagai agama/suku bangsa, tidak bisa dipukul rata. Karena “pembersihan” rezim zionis Israel sendiri juga menyikat orang yahudi yang tidak berpihak pada mereka. Kaum Yahudi yang sudah lama membaur jauh sebelum PD II. Itu yang paling sering saya tekankan sama teman2 di sini :?

    Akhirul kalamnya: konflik itu seperti sudah “takdir dari sono” kali ya? Saya sendiri sudah nyaris tidak peduli utk memikirkannya, kalau saja bukan karena kemanusiaan yang dibantai di sana :roll:

  29. @ Ary

    Terima kasih fabelnya.

    @ Xaliber von Reginhild

    Tonanya bagaimana?

    @ Pablo Diego Jose Francisco de Paula Juan Nepomuceno Maria de los Remedios Cipriano de la Santisima Trinidad Martyr Patricio Clito Ruiz y Picasso

    Jadi memang agama lagi biang kerok konflik yang satu ini? :mrgreen:

    @ Mr.El-Adani

    Tidak apa-apa, tapi argumen Anda berbau appeal to emotion. :)

    @ alex©

    Dooh! Lupa nutup tag. Selaku Tuan Rumah, tolong diberesin Ged :P

    Lebih bagus seperti itu. :D Sudah diperbaiki. :)

    * * *

    aya khawatir dan tidak suka gejala yang semacam itu. Meski saya ragu apa akan dituruti, tapi… ya, jikapun yang terbunuh bukan muslim dan arab, ya mesti diteriakkan juga donk kutukannya.

    Sebab, kalo fanatisme agama yang dikedepankan seperti teriakan belakangan, saya sungguh merasa umat muslim (di Indonesia khususnya) mesti malu sama itu protes-protes lintas agama dan budaya mulai dari Spanyol sampai Venezuela. Yang berunjuk-rasa semalam di layar kaca, di Karakas, jelas bukan wanita jilbaber.

    Ya, itu maksud saya. :P Berpendapat/mengutuk/mendukung tidak masalah, cuma motifnya juga mesti jelas.

    Akhirul kalamnya: konflik itu seperti sudah “takdir dari sono” kali ya? Saya sendiri sudah nyaris tidak peduli utk memikirkannya, kalau saja bukan karena kemanusiaan yang dibantai di sana :roll:

    Ini juga sepakat. Kira-kira mesti bagaimana? Saya buta politik Timteng; tapi condong ke arah mendukung solusi dua negara. :?

  30. @ Geddoe

    Saya buta politik Timteng; tapi condong ke arah mendukung solusi dua negara. :?

    Saya juga gak terlalu ngerti. Ngambil hukum internasional sebelum DO pun tak konsen benar dengan ini.
    Personally, saya lebih suka solusi satu negara, apakah Palestina atau Israel namanya. Tapi pemerintahannya mencakup kemajemukan yang ada. Seperti Indonesia atau USA-lah kira-kira. Tak perfect tapi lebih demokratis agaknya. Cuma.. ini hanya akan jadi utopia kalo fanatisme (Zionis, Hammas etc) masih dikedepankan.

    Entah. Mungkin akhirnya sampai salah satunya tumbang. Dan… sipil lagi jadi korban :?

    Apakah kita harus bertanya pada rumput yang bergoyang Riza Sihbudi? :mrgreen:

    Tapi beliau cenderung puritan sih opininya :P

  31. @ K. geddoe

    Kalau solusi dua negara bagaimana?

    Sekarang ini malah sudah “tiga” negara. Selain Israel ada Palestina-Fatah yang diakui Israel & AS, berbasis kuat di Tepi Barat, & Palestina-Hamas yang tak diakui Israel & AS, berbasis kuat di Jalur Gaza. Hamas ini yang jadi masalah sekarang kan?

    @ sitijenang

    *tapi yg sumeria itu?*

    Abraham seorang diri. Disebutkan bahwa beliau berasal dari sana, sebelum dipanggil keluar oleh Yahweh menuju Kanaan yang dijanjikan untuk keturunannya. Dari cucu Abraham bangsa Israel berasal. :)

    @ CY

    Nah, cikal bakal konfrontasinya dimulai dari situ. Kata “Tanah Perjanjian” itu yg membuat Israel mengklaim itu milik mereka, sedangkan sang tuan rumah mana mungkin mau diusir. AFAIK, tolong dikoreksi kalau salah.

    Ahem, janji itu sudah dari jaman Abraham lho. Dan sampai cucunya (Yakub) masih tinggal di Kanaan (belum menguasai). Yakub & cucu2nya (70 orang) dipanggil ke Mesir karena bencana kelaparan, dan baru kembali lagi ke Kanaan dipimpin Musa setelah menjadi etnis yang besar jumlahnya 400 tahun kemudian.
    Memang ada konflik dengan penduduk lokal saat itu (genosida, tepatnya), tapi itu tidak berhubungan dengan konflik sekarang karena
    suku2 lokal saat itu sudah hilang, sementara Palestina sekarang asal-usulnya gak sejauh orang Israel.

    @ Pablo Diego Jose Francisco de Paula Juan Nepomuceno Maria de los Remedios Cipriano de la Santisima Trinidad Martyr Patricio Clito Ruiz y Picasso

    Padahal fakta, selama kurang lebih 3000 tahun, orang-orang Yahudi tetap mempertahankan tanah airnya. Kultur dan bahasa nasional mereka pun masih tetap bertahan di wilayah itu.

    Fakta? Tidak. Itu bukan mempertahankan, tapi tertinggal. Jumlahnya sangat minoritas dibanding Yahudi diaspora maupun Arab yang mendiami Palestina. :)

    @ alex©

    Suku bangsa masih Yahudi, masih memiliki warisan kultur dan (mungkin) agama Yahudi, tapi… sudah putus generasi.

    Saya agak bingung ini. Maksudnya sudah tidak tau lagi kampungnya dimana? :? Saya kurang ingat kalo itu, tapi IMO tidak jadi masalah. Terbuang selama 18 abad dan tetap punya identitas asal sekuat itu saja sudah perjuangan tersendiri. Kalo analoginya dengan Aceh, saya yang bukan orang Aceh merasa tak berhak membicarakannya. :mrgreen:

    Pendirian negara dengan sepihak begini yang tidak menyenangkan.

    Yah, hidup turun temurun di tanah orang juga tidak menyenangkan pada akhirnya. Lebih baik pulkam :mrgreen:

    Sama-sama “tidak menghiraukan” mereka yang sudah duluan menetap. Tidak meminta persetujuan.

    Benarnya definisi penduduk asli ini memang rumit juga.

    Israel yang imigran masih bisa menghubungkan dirinya dengan sejarah kuno kerajaan & kebudayaan mereka sebagai “pemilik” Palestina. Sementara nasionalisme Palestina sendiri baru muncul jaman Ottoman dengan hubungan yang kabur dengan suku2 bangsa non Israel yang mendiami tempat itu sejak berabad lampau, selain dengan ekspansi Arab abad ke 7.

    Tapi membangun peradaban masing-masing. Dan dengan tiba-tiba, tatanan itu dicarut-maruti pada tahun 1948

    Hahaha, dah sering itu menimpa Israel. Tahun 722SM Sepuluh Suku Israel hilang dibuang Assyria; 607SM gantian dua suku sisanya ditawan ke Babilonia, cuma mereka ini yang kembali lalu mulai disebut sebagai orang “Yahudi”. Kemudian 2 kali Romawi menghamburkan mereka tahun 70AD & 135AD, yang kali ini baru kembali di jaman modern. ;)

    BTW, lex. Kaya’nya kita berdua bakal gak selesai2 ngoceh disini kalo begini. :mrgreen:

    *capek ngetik, bro*

  32. @ Jensen99

    Saya agak bingung ini. Maksudnya sudah tidak tau lagi kampungnya dimana? :?

    Tidak. Bukan serupa itu. Kalau tahu, kemungkinan besar tahu, apalagi identitas yahudi sebagai suku bangsa itu kuat.

    Tapi yang saya maksudkan itu…. ada kurun waktu yang memutuskan mereka dari perkembangan peradaban selama lintas generasi. Bagaimanapun, mereka tidak berada dalam siklus waktu yang sama dengan penduduk di Palestina (apakah muslim, kristen atau yahudi).

    Saya kurang ingat kalo itu, tapi IMO tidak jadi masalah. Terbuang selama 18 abad dan tetap punya identitas asal sekuat itu saja sudah perjuangan tersendiri.

    Memiliki identitas sebagai bagian dari satu suku bangsa memang perjuangan tersendiri. Seorang Jawa, Sunda dan Dayak di luar negeri pun akan bisa berada di posisi yang sama. Namun itu tidak berarti bisa menjadi justifikasi, misal, sekumpulan orang Jawa yang sudah lama di luar tiba2 pulang ke Indonesia dan mendirikan satu tatanan sendiri. Anggaplah Kartosuwiryo dengan DI/TII-nya, selepas pulang dari Arab, misalnya. Darahnya sama, suku bangsa sama, tapi tidak dengan kepentingan :)

    Kalo analoginya dengan Aceh, saya yang bukan orang Aceh merasa tak berhak membicarakannya. :mrgreen:

    Itu sudah saya ganti dengan Jawa. Tidak ada tendensi apa-apa, selain karena mewakili mayoritas di Indonesia (selain Melayu). CMIIW :mrgreen:

    Yah, hidup turun temurun di tanah orang juga tidak menyenangkan pada akhirnya. Lebih baik pulkam :mrgreen:

    Bisa jadi. Saya sendiri bosan merantau :P

    Tapi… pulkam itu dalam tujuan apa dulu? Kalau saya pulkam ke Aceh selepas belasan tahun di luar negeri dan tiba2 memproklamasikan kabupaten merdeka? :mrgreen:

    Israel yang imigran masih bisa menghubungkan dirinya dengan sejarah kuno kerajaan & kebudayaan mereka sebagai “pemilik” Palestina.

    Ini benar. Seperti saya katakan, identitas Yahudi itu memang kuat. Apakah karena sikap rasisme atau memang karena kesadaran sejarah.

    Sementara nasionalisme Palestina sendiri baru muncul jaman Ottoman dengan hubungan yang kabur dengan suku2 bangsa non Israel yang mendiami tempat itu sejak berabad lampau, selain dengan ekspansi Arab abad ke 7.

    Saya agak ragu dengan ini. Ada banyak pendapat berbeda tentang ini. Dalam salah satu tetralogi Tariq Ali, The Book of Saladin, justru ada disinggung tentang eksistensi Palestina (berikut nasionalismenya itu) bukan sekedar sebagai sebuah bangsa Arab atau Kan’an. Tapi satu kesatuan yang mana sub-sub di dalamnya sama-sama kabur asal-muasalnya, tapi mewujudkan entitas sendiri. Ya… itu sebuah novel sih, tapi konon dari riset juga :?

    OOT: Saya tertarik membacanya karena provokasi penjelasan disana “Muslim, Kristen dan Yahudi bersatu melawan agresor Eropa” :mrgreen:

    Hahaha, dah sering itu menimpa Israel. Tahun 722SM Sepuluh Suku Israel hilang dibuang Assyria; 607SM gantian dua suku sisanya ditawan ke Babilonia, cuma mereka ini yang kembali lalu mulai disebut sebagai orang “Yahudi”. Kemudian 2 kali Romawi menghamburkan mereka tahun 70AD & 135AD, yang kali ini baru kembali di jaman modern. ;)

    Ya, sudah sering. Entah kenapa jadi bulan2an takdir begitu. Somehow… Dia Yang Di Atas™ kadang terasa… ehm, ambigu bersikap terhadap mereka, kalo dari segi agama. Kesalahan sejumput orang ditebus penderitaan sekaum :?

    Tapi… well… jangan dilupakan juga, bahwa batasan wilayah mereka masih kabur (kalau tak bisa dikatakan tidak seluas sekarang ini) jika merujuk pada tahapan putra2 Yakub. Ekspansi yang mereka lakukan pra-Solomon itu juga merupakan ekspansi kolonial tersendiri, dimana mereka mencaplok wilayah yang tak pernah mereka diami :D

    BTW, lex. Kaya’nya kita berdua bakal gak selesai2 ngoceh disini kalo begini. :mrgreen:

    Hehehe… tak apa-apa. Memang akan panjang ini, padahal awak di Indonesia pun ini. Susah utk mencari kepastian sejarah dulu memang. Diteruskan, bisa ditaburi garam sama kopral penunggu blog ini :lol:

    *capek ngetik, bro*

    *urut tangan pake traktor* :mrgreen:

  33. @ Jensen99

    ***
    Bentar… ada yang terlewat ini…
    ***

    Sekarang ini malah sudah “tiga” negara. Selain Israel ada Palestina-Fatah yang diakui Israel & AS, berbasis kuat di Tepi Barat, & Palestina-Hamas yang tak diakui Israel & AS, berbasis kuat di Jalur Gaza. Hamas ini yang jadi masalah sekarang kan?

    Bicara soal Palestina-Hamas yang tidak diakui Israel & AS ini bisa lain soalnya. Kalau merujuk pada demokrasi yang dikoarkan pemerintahan AS, mestinya kemenangan mereka dalam Pemilu Palestina harus diakui. Tapi… yang terjadi malah paradoks demokrasi yang dipertontonkan AS and the gank.

    AFAIK, Palestina-Fatah tidak populer di kalangan rakyat Palestina yang punya hak pilih. Ada kekecewaan warisan dari zaman PLO-nya Arafat, bahwa hak-hak rakyat Palestina tidak terpenuhi dan Fatah sibuk dengan lobi-lobian saja. Pada akhirnya pilihan jatuh ke Hamas.

    Hamas memang ekstrim. Dalam hal paham “sapu bersih Israel” mereka, saya tidak cocok, karena bertendensi anti-Yahudi sebagai suku bangsa. Tapi… jika bicara soal demokrasi yang diglobalkan ke penjuru dunia itu, hak mereka sebagai pemenang, seminimalnya di Jalur Gaza yang mereka kuasai, harus diakui, sebagaimana harus diakuinya tembakan roket mereka ke pemukiman sipil Yahudi bisa disebut tindakan kriminal pula.

    IMHO, Hamas menjadi masalah bagi Israel dan AS lebih karena kekeras-kepalaannya utk tidak menerima rezim Israel, bahkan jikapun mereka tidak meluncurkan roket seperti gerilyawan Hizbullah. Nah, apa lalu itu jadi justifikasi utk mengebom kawasan sipil di Gaza seperti aksi belakangan? :D

    *sahditaburigaramsamaempunyablog* :lol:

  34. @alex© | jensen

    Tapi… pulkam itu dalam tujuan apa dulu? Kalau saya pulkam ke Aceh selepas belasan tahun di luar negeri dan tiba2 memproklamasikan kabupaten merdeka? :mrgreen:

    Aha, ini dia. :grin:

    Saya juga bercita-cita memproklamirkan Republik Jawadwipa suatu saat nanti. :lol:

  35. @ alex©

    Diteruskan, bisa ditaburi garam sama kopral penunggu blog ini :lol:

    Waktu ganti taun saya dah dapet ijin geddoe via Y!M tuk berbincang denganmu disini, saya yakin beliau merestuimu juga. :)

    Sepertinya kita lumayan sepakat soal sejarah. Beda2 tafsir dikit tak mengapa. Sedikit ini saja:

    Somehow… Dia Yang Di Atas™ kadang terasa… ehm, ambigu bersikap terhadap mereka, kalo dari segi agama.

    Ah, terbawa juga Tuhan mereka (Tuhan saya juga btw :) ) dalam pembahasan. Buat saya gak ambigu kok, bro. Semuanya jelas.

    Kesalahan sejumput orang ditebus penderitaan sekaum :?

    Iya. Itu sebabnya kesalehan hidup pribadi sesuai Taurat, terutama para pemimpin, sangat ditekankan. :)

    jangan dilupakan juga, bahwa batasan wilayah mereka masih kabur (kalau tak bisa dikatakan tidak seluas sekarang ini) jika merujuk pada tahapan putra2 Yakub. Ekspansi yang mereka lakukan pra-Solomon itu juga merupakan ekspansi kolonial tersendiri, dimana mereka mencaplok wilayah yang tak pernah mereka diami :D

    Sesungguhnya wilayah negara Israel modern lebih sempit daripada berbagai versi wilayah Israel kuno. :)

    Yak, kembali ke masa kini. :mrgreen:

    AFAIK, Palestina-Fatah tidak populer di kalangan rakyat Palestina yang punya hak pilih. Ada kekecewaan warisan dari zaman PLO-nya Arafat, […]

    Fatah itu konon terserang penyakit yang juga menimpa semua monarki & rejim arab: Tidak demokratis & korup. Begitulah… :roll:

    IMHO, Hamas menjadi masalah bagi Israel dan AS lebih karena kekeras-kepalaannya utk tidak menerima rezim Israel, bahkan jikapun mereka tidak meluncurkan roket seperti gerilyawan Hizbullah.

    Karena Hamas ekstrimis kan? Itulah sebabnya Mesir pun ikut2an memblokade jalur Gaza supaya Hamas ambruk karena tidak ingin bertetangga dengan “negara mini Islam radikal” yang berpotensi beraliansi dengan kelompok2 ekstrimis Mesir yang sering neror juga itu. Bahkan tidak mau buka perbatasan tuk pengungsi pada krisis sekarang, kecuali tuk yang luka.

    Nah, apa lalu itu jadi justifikasi utk mengebom kawasan sipil di Gaza seperti aksi belakangan?

    Ah, Nenda membahasnya dengan bagus disini. :)

  36. Andaikan aku bisa ngerekam TV programs… *sekalian rekam iklan MDL-525*

    Hehe, lagu nya enak tenan. Download >>>> wuuzzz!!111

  37. @Alex:

    IMHO, Hamas menjadi masalah bagi Israel dan AS lebih karena kekeras-kepalaannya utk tidak menerima rezim Israel, bahkan jikapun mereka tidak meluncurkan roket seperti gerilyawan Hizbullah.

    Actually, Hamas sebenernya udah sedikit ‘melunak’ dalam pandangan mereka terhadap Israel. Seperti yang disampaikan kepada manatan presiden US Jimmy Carter:

    Hamas no longer adhered to its 1987 charter, which called for the destruction of Israel, but would support the creation of a Palestinian state within the 1967 borders — provided this solution was approved by the Palestinian people in a referendum.

    Artinya, alasan lama Israel bahwa Hamas ga mao hidup berdampingan dengan Israel tuh sbenernya udah ter debunk. Sekarang masalahnya Israel nya yang harus menyambut tawaran Hamas. Faktanya: Hamas adalah suatu democratically elected government whether the goddamned Israelis like it or not.

    To win international support, Hamas needs to re-state publicly this message it gave last April to former U.S. President Jimmy Carter, and more recently to Yves Aubin de La Messuzière, a former senior French diplomat.

    Kalo Israel emang niat untuk nyiptain perdamaian, mereka kudu nerima bahwa Hamas adalah bagian integral dari negara Palestina dan mereka ga berhak nuntut pembubaran Hamas.

    Of course you won’t find hear about this in the mainstream media.

  38. Saya sih setuju sama Art Gish; solusinya satu negara saja. Tidak perlu ada Israel atau Palestina. Hanya ada satu negara di mana semua orang, Yahudi dan Arab, mendapatkan hak yang sama.

  39. @Alex dan Jensen
    *Membaca komen2 sejarah*
    *Menyesal bertapa selama tahun baru*

    Kalau dilihat dari sejarahnya (baca Kitab2 Sejarah di Alkitab), memang saat menaklukan Kanaan, Israel melakukan genosida. Karena jika tidak maka mereka akan terpengaruh menyembah berhala.

    Soal usir mengusir, hukum menghukum, dan pemimpin yang korup, sebabnya jelas. Bangsa Israel memang saat itu menyembah berhala. Alkitab mencatat Tuhan menggunakan bangsa lain untuk menghukum mereka. Bukan cuman raja-rajanya saja yang korup, tapi rakyatnya juga.

    Alkitab mencap bangsa Israel sebagai “tegar tengkuk” artinya kira2 keras kepala dan bandel. Bahkan kitab Yehezkiel (seingatku bener Yehezkiel sih) Tuhan menyamakan bangsa Israel dan Yehuda sebagai perempuan sundal yang menjual dirinya pada bangsa2 lain dan dewa2 mereka. Itu adalah salah satu bagian dari Alkitab yang dicap porno dan dituntut untuk disensor di AS. :P

    See now…

    Still, Bible also note that God punish them, cast them away, torture them, but still love them. (khotbah colongan)

    As for Israel, if God promise you land even if you have to obliterate all the natives to do it, then by God they shall do it, they have done it in the past (almost 3000 years ago), and they can do it again now.

    It’s scary to think what can people do for God and 3000 year old promise….

    @Ary

    Artinya, alasan lama Israel bahwa Hamas ga mao hidup berdampingan dengan Israel tuh sbenernya udah ter debunk. Sekarang masalahnya Israel nya yang harus menyambut tawaran Hamas. Faktanya: Hamas adalah suatu democratically elected government whether the goddamned Israelis like it or not.

    Alasan utamanya adalah sayap militernya Hamas yang berulangkali melakukan bom bunuh diri di wilayah Israel baik sebelum maupun sesudah terpilih. Israel sudah dendam kesumat sama mereka, dan AS mencap mereka sebagai teroris.

    Dan seperti yang aku komen di awal,”You kill my people, I kill your people.” Buat Israel, jika negara tetangganya dipimpin oleh organisasi yang bertanggungjawab pada aksi terorisme di tanah mereka(regardless aksi terorisme Israel ke Palestina), ya nggak mau lah. Mirip2 jika tiba2 Malaysia memilih pemimpin yang masih berafiliasi dengan Al-Qaeda ya Indonesia pasti waspada dan siap2 nyerang.

    Kalo Israel emang niat untuk nyiptain perdamaian, mereka kudu nerima bahwa Hamas adalah bagian integral dari negara Palestina dan mereka ga berhak nuntut pembubaran Hamas.

    Actually, Israel sepertinya cuman menginginkan pembubaran sayap militer Hamas bukan seluruh Hamas. Dan biasanya agar posisi negosiasinya lebih kuat, ya setel kenceng dulu.

    And who said both side want peace? They want freedom dan sovereignity in Palstine land, not peace. It is The World, us and their citizen that want peace.

    [cynical mode:off]

    btw, WTF Arab do in this situation?
    They have Oil control, If they want they can threat US and Israel to stop oil supply for them.

  40. @dnial:

    As for Israel, if God promise you land even if you have to obliterate all the natives to do it, then by God they shall do it, they have done it in the past (almost 3000 years ago), and they can do it again now.

    Zionism was based on a faulty, colonialist world view that the rights of the indigenous inhabitants didn’t matter. The Arabs’ opposition to Zionism wasn’t based on anti-Semitism but rather on a totally reasonable fear of the dispossession of their people.

    I would fucking challenge that kind of ‘God’.

    Alasan utamanya adalah sayap militernya Hamas yang berulangkali melakukan bom bunuh diri di wilayah Israel baik sebelum maupun sesudah terpilih. Israel sudah dendam kesumat sama mereka, dan AS mencap mereka sebagai teroris.

    The US telling the world that Hamas is a terrorist organization is like Don King telling me to get a friggin’ haircut.

    Lemme make one thing clear: Suicide bombing is a reprehensible and unacceptable tactic. These attacks should stop immediately. But what needs to be added, and what is almost always missing in American media commentary is a similar condemnation of Israel’s deliberate targeting of Palestinian civilians.

    Since the Palestinian uprising started in late September 2000, more than 1,500 Palestinians, and 400 Israelis have been killed (as of April 12, 2002), the vast majority on both sides being unarmed civilians. Most of the deadly violence against innocent civilians, therefore, has been committed by Israeli forces and has been directed at Palestinians.

    Israel and its supporters claim that while Palestinian suicide bombers deliberately target Israeli civilians, Israel tries to avoid harming Palestinian civilians and that those who have died are “collateral damage.” Hence, they argue, there is no moral equivalence between the killing of civilians by Israel and Palestinians. This defies both common sense and all the available evidence.

    On the one hand, Israel wants us to believe that 400 of its own civilians were deliberately targeted, while more than three times as many dead Palestinians all somehow just got in the way of what Israel claims is its humane and disciplined army. It is, in essence, an argument that 1,500 people all died by accident.

    For more info: http://www.ifamericansknew.org

    Dan seperti yang aku komen di awal,”You kill my people, I kill your people.” Buat Israel, jika negara tetangganya dipimpin oleh organisasi yang bertanggungjawab pada aksi terorisme di tanah mereka(regardless aksi terorisme Israel ke Palestina), ya nggak mau lah. Mirip2 jika tiba2 Malaysia memilih pemimpin yang masih berafiliasi dengan Al-Qaeda ya Indonesia pasti waspada dan siap2 nyerang.

    An eye for an eye makes the whole world go blind. I truly believe that violence in response to violence is never the answer. Lemme share with you a quote from our Prophet Muhammad (pbuh) that I hold dear:

    The ink of a scholar is holier than the blood of a martyr.

    The Prophet is basically saying: “Use your head! Use the muscles that truly matters before resorting to the inevitable!”

    Actually, Israel sepertinya cuman menginginkan pembubaran sayap militer Hamas bukan seluruh Hamas. Dan biasanya agar posisi negosiasinya lebih kuat, ya setel kenceng dulu.

    Ya bubarin dah tuh IDF sekalian biar adil. Enak ajo loe ngomong gua suruh ngebubabarin pasukan gw sementara loe seenak udel loe ngebom Gaza pake f-16 bombers loe pade.

    [cynical mode:off]

    Oh you were being cynical… I get it now…. LULZ!!!

    btw, WTF Arab do in this situation?
    They have Oil control, If they want they can threat US and Israel to stop oil supply for them.

    Since the assassination of King Faisal, the Arab League seemed content on fucking their camels and ignoring the sufferings of the Filistines!!! Fuck’em!

  41. Another advice come from Zbigniew Brzezinski ,one of Barack Hussein Advisor;
    variasi dari tawaran damai Arab Saudi circa 2002; kembali ke batas tahun 1967, tidak ada pengungsi Palestina yang kembali sebagai kompensasi berikan Negev dan Galilea ke Palestina, Jerusalem dibagi dua dan menjadi ibukota bersama, pengakuan penuh dari seluruh negara Arab akan Israel sebagai sebuah negara berdaulat dan tetangga di kawasan, untuk tambahan keamanan bagi Israel ,masukkan Israel ke Uni Eropa dan taruh satu divisi berat AS ditepi sungai Jordan (just like US troop in West Germany in the cold war era)

  42. All HTML markup fixed.

    No comments here; all that I understand from the verbal war above is the Don King thing.

    Silakan dilanjutkan. :D

  43. Thanx for taking the time to fix my post. And I am sorry if I offended anyone by using the ‘F’ word.

    What can I say? I can’t pretend to be old and wise when in reality I’m still young and stupid.

  44. From the perspective of an American, or an Israeli, or other powerful aggressors, if you are strong, everything you do is justifiable, and nothing the weak do is legitimate. It’s merely a question of what side you choose: the side of the strong or the side of the weak.

    :-(

  45. @ Jensen99

    saya yakin beliau merestuimu juga. :)

    Kalo tak direstui, baksosuper saya kutuk jadi mie bid’ah! :lol:

    Ah, terbawa juga Tuhan mereka (Tuhan saya juga btw :) ) dalam pembahasan. Buat saya gak ambigu kok, bro. Semuanya jelas.

    Jelas? Bagi saya… entah Tuhan itu yang bebas berkehendak (dalam Islam disebut dengan sifat Jaiz) sehingga boleh mengganti pilihan kesukaan ataukah sejarah yang keliru mencatat, tetap saja ada pertukaran sifat dan sikap terhadap perindividu atau kaum. Sebentar menjadikannya sebagai bangsa pilihan, lalu “menyesatkan”, lalu mengutuk, lalu… Ya, seperti memiliki mood tersendiri pada ciptaan :roll:

    Ah, pembahasan tentang ini akan jadi jauh, bisa sampai ke filsafat dengan segala free will, dosa, pilihan, etc :mrgreen:

    Iya. Itu sebabnya kesalehan hidup pribadi sesuai Taurat, terutama para pemimpin, sangat ditekankan. :)

    He? Itu alasan yang sama yang dipakai orang sekaum dengan saya utk memaksakan syariat Islam menurut versi the so-called pemimpin itu sendiri. Jika Taurat diterima, maka alasan yang sama dari MUI atau apapun tampuk pimpinan Islam harusnya juga tak jadi masalah :lol:

    Sesungguhnya wilayah negara Israel modern lebih sempit daripada berbagai versi wilayah Israel kuno. :)

    Ini akan jadi lebih panjang. Peta Israel yang sejak kerajaan Yehuda, atau yang pernah didiami oleh bangsa Yahudi? Kalau menurut para yahudi zionis, Israel Raya itu tersebar bahkan hingga ke Mesir (merujuk pada pernah berkuasanya Joseph dan berdiamnya keluarga Jacob). Bahkan sampai ke Mekah Alasannya? Karena leluhur mereka, Abraham, pernah berdiam di sana.

    Dan bagi saya, itu alasan yang absurd. Alasan yang sama bisa dipakai oleh Bani Ismail yang melahirkan Arab sekarang :D

    Apa pembesaran wilayah seperti gambar ini bukan sebuah pencaplokan nanamnya? :?

    Fatah itu konon terserang penyakit yang juga menimpa semua monarki & rejim arab: Tidak demokratis & korup. Begitulah… :roll:

    Ya. Demikianlah…

    Dulu Arafat sempat jadi ikon. Tapi lama-lama… :roll:

    Karena Hamas ekstrimis kan?

    Pada karakternya, semacam itu. But… wait! Ekstrimis itu istilah dari siapa? Versi siapa? Kolonial Belanda juga menyebut pejuang kemerdekaan Indonesia dengan gelar ekstrimis. Hal yang sama dilabelkan para rezim kepada gerilyawan FARC, EZLN dan bahkan para biksu-biksu Burma. Istilah ini sama seperti terorisme, yang sering digunakan secara sepihak.

    Itulah sebabnya Mesir pun ikut2an memblokade jalur Gaza supaya Hamas ambruk karena tidak ingin bertetangga dengan “negara mini Islam radikal” yang berpotensi beraliansi dengan kelompok2 ekstrimis Mesir yang sering neror juga itu.

    Saya tidak tahu pasti alasan Mesir kenapa bersikap demikian. Mungkin mereka menyesali sejarah pernah terlibat dalam perang 6 hari. Mungkin karena paranoid pada munculnya kembali another Ikhwanul Muslim. Tapi masalah teror-meneror, Mesir juga mestinya bersikap seimbang pada negara yang meneror penduduk sipil dengan rudal dan roket cuma karena beberapa ekor kroconya diculik gerilyawan Hizbullah. Lebanon menjadi sampel terhadap negara semacam itu.

    Ah, Nenda membahasnya dengan bagus disini. :)

    Pembahasan Nenda di blog Gentole bagus. Too bad… aturan yang diterapkan masih berciri-khas cowboy yang menghajar satu negara dengan alasan senjata pemusnah massal.

    @ Ary

    Actually, Hamas sebenernya udah sedikit ‘melunak’ dalam pandangan mereka terhadap Israel.

    Itu yang saya tahu. Bahkan walau mereka masih menolak keberadaan rezim Israel, tidak lantas mereka boleh dihakimi dengan bombardir membabibuta seperti di Gaza belakangan. Dalam dunia yang sedang memberhalakan demokrasi dan HAM, tidak ada alasan utk menghukum seseorang/sekelompok karena pikirannya. Jika Hamas tidak suka dengan Israel, posisinya sama speerti saya. Apa itu bisa jadi justifikasi utk menghukum? Dan.. dunia pikun bahwa mereka menang pemilu secara sah menurut agama yang bernama demokrasi.

    Faktanya: Hamas adalah suatu democratically elected government whether the goddamned Israelis like it or not.

    Benar. Ini saya sepakat.

    Kalo Israel emang niat untuk nyiptain perdamaian, mereka kudu nerima bahwa Hamas adalah bagian integral dari negara Palestina dan mereka ga berhak nuntut pembubaran Hamas.

    Pernah dengar kata “If there’s no reason, any reason will do”? :mrgreen:

    Bukankah itu yang dipraktekkan negara tersebut, mulai dari pembantaian Sabra-Shatila, Lebanon hingga Jalur Gaza ini? :lol:

    Of course you won’t find hear about this in the mainstream media.

    Ah, mainstream media …

    Apakah itu juga termasuk Sabili, Hidayatullah and the gank? :D

    @ joesatch yang legendaris

    buat saya, yang berjilbab itu malah lebih seksi dan lebih menggoda mata ketimbang yang nggak berjilbab :twisted:

    Saya juga benarnya suka begitu sih…. Tapi, saya kan lelaki normal, brader… :P

    @ dnial

    Kalau dilihat dari sejarahnya (baca Kitab2 Sejarah di Alkitab), memang saat menaklukan Kanaan, Israel melakukan genosida. Karena jika tidak maka mereka akan terpengaruh menyembah berhala.

    Ha! Alasan lain yang sama yang bisa digunakan gerakan radikal utk menumpas sesiapa saja. Simpel: Agar keimanan kami tidak korup, agar syahwat kami tidak terusik, satu pihak harus patuh atau dilenyapkan. :mrgreen:

    Apakah alasan seperti itu cuma boleh dipakai oleh satu pihak saja? :P

    Soal usir mengusir, hukum menghukum, dan pemimpin yang korup, sebabnya jelas. Bangsa Israel memang saat itu menyembah berhala. Alkitab mencatat Tuhan menggunakan bangsa lain untuk menghukum mereka. Bukan cuman raja-rajanya saja yang korup, tapi rakyatnya juga.

    Tuhan…. bekerja dengan tangan bangsa yang tidak menyembah-Nya utk menghukum bangsa yang “pernah” menyembah-Nya… :roll:

    Alkitab mencap bangsa Israel sebagai “tegar tengkuk” artinya kira2 keras kepala dan bandel. Bahkan kitab Yehezkiel (seingatku bener Yehezkiel sih) Tuhan menyamakan bangsa Israel dan Yehuda sebagai perempuan sundal yang menjual dirinya pada bangsa2 lain dan dewa2 mereka. Itu adalah salah satu bagian dari Alkitab yang dicap porno dan dituntut untuk disensor di AS. :P

    Dan Quran juga mencatat mereka sebagai bangsa yang suka mengingkari perjanjian, membunuh para nabi, curang dalam takaran. Now… kita memiliki kitab yang sama-sama menghakimi satu suku bangsa karena nila setitik yang mereka tumpahkan di belanga :P

    Still, Bible also note that God punish them, cast them away, torture them, but still love them. (khotbah colongan)

    Bagian lain yang sama dari dua kitab yang berbeda. Atas nama Quran pula saya tidak memiliki alasan utk menolak pembunuhan pada orang Yahudi, karena sifat pengasih dan penyayang Tuhan lebih besar dari dendam manusia ;)

    As for Israel, if God promise you land even if you have to obliterate all the natives to do it, then by God they shall do it, they have done it in the past (almost 3000 years ago), and they can do it again now.

    Nah, ini bagian yang kontradiktif. Tuhan menjanjikan mereka tanah, lalu karena mereka ingkar (dalam Bibel, mereka menyuruh Musa sendiri memasuki tanah tersebut), perjanjian itu dicabut. Bagaimana bisa sebuah traktat yang dianulir boleh dipaksakan kembali?

    Dan.. Tuhan macam apa yang membolehkan penduduk di satu negeri boleh didepak hanya karena Dia sudah berjanji? Sikap ini kontradiktif dengan sifat Tuhan yang universal :?

    It’s scary to think what can people do for God and 3000 year old promise….

    Scary and funny. Lebih scary dan funny dari scary movie bagi saya :lol:

    Alasan-alasan konyol yang membolehkan kekejaman dilakukan atas klaim “For God”.

    Alasan utamanya adalah sayap militernya Hamas yang berulangkali melakukan bom bunuh diri di wilayah Israel baik sebelum maupun sesudah terpilih. Israel sudah dendam kesumat sama mereka, dan AS mencap mereka sebagai teroris.

    Wait… wait… Bagaimana dengan pembantaian yang dilakukan Israel seperti Sabra dan Shatila, Lebanon dan sikap represif pada intifadah yang membalas batu dengan peluru? Tidakkah itu juga menimbulkan dendam kesumat?

    Lalu… karena AS mencap mereka teroris, seluruh dunia harus mengaminkan? AS bisa mencap siapa saja yang tidak disukainya dengan gelar teroris, bahkan terhadap seorang Malcolm-X di dalam negerinya sekalipun. Itu negara yang sama yang mencap Hugo Chavez dengan gelar narko-teroris :lol:

    Dan seperti yang aku komen di awal,”You kill my people, I kill your people.” Buat Israel, jika negara tetangganya dipimpin oleh organisasi yang bertanggungjawab pada aksi terorisme di tanah mereka(regardless aksi terorisme Israel ke Palestina), ya nggak mau lah.

    Demikian pula utk Hamas dan Brigade Al-Qassam. “You kill my people, I kill your people”. Buat mereka, hidup bertetangga dengan negara yang lengkap dengan ancaman dari pistol sampai nuklir juga tidak nyaman (regardless aksi terorisme ke kawasan pemukiman Yahudi pula). Ya nggak mau jugalah.

    Mirip2 jika tiba2 Malaysia memilih pemimpin yang masih berafiliasi dengan Al-Qaeda ya Indonesia pasti waspada dan siap2 nyerang.

    Dalam kaidah hukum yang sekuler sekalipun, ada norma yang jelas: Seseorang tidak boleh dihukum sampai terbukti melakukan kesalahan. Jika Indonesia sekedar waspada dan siap2 nyerang, masih saya maklumi. Tapi jika langsung menyerang hanya karena khawatir, saya akan buang KTP Indonesia saya dan memilih berpihak pada yang diserang. Saya tak mau berada di pihak yang paranoid :D

    Actually, Israel sepertinya cuman menginginkan pembubaran sayap militer Hamas bukan seluruh Hamas. Dan biasanya agar posisi negosiasinya lebih kuat, ya setel kenceng dulu.

    Oh…. ini seperti sentilan lama atas fraksi TNI/Polri di DPR-RI dulu: Bagaimana bisa bernegosiasi dengan mereka yang bersenjata di ruang diskusi?

    Karena memiliki senjata, satu pihak lebih enak menekan? Itu tidak fair. Ini alasan kenapa saya memandang perlu senjata di pihak gerilyawan, apakah Hamas, GAM (dulu), Zapatista atau Hizbullah.

    Israel hendak melucuti sayap militer Hamas? Apa Israel mau militernya dilucuti? Proliferasi nuklir saja mereka kangkangi.

    Senjata harus ada atau kedua pihak tidak punya sama sekali.

    And who said both side want peace? They want freedom dan sovereignity in Palstine land, not peace. It is The World, us and their citizen that want peace.

    Pada tahun 1940-an, kita juga menginginkan kemerdekaan, meski damai dikoarkan. Perjanjian diprakarsai atas nama Linggar Jati, Renville hingga Roem-Royen. Ya… kemerdekaan memiliki poin diatas perdamaian. Tapi kedua hal ini bukan tak bisa diterapkan, jika mau saja jujur dalam permainan.

    [cynical mode:off]
    btw, WTF Arab do in this situation?
    They have Oil control, If they want they can threat US and Israel to stop oil supply for them.

    :lol:
    Itu sebabnya saya tidak pernah respek dengan bangsawan/hartawan Arab itu :P

    Btw, dimana pula demokrasi, HAM dan kebebasan yang dikibarkan AS dan negara2 Eropa lainnya? Ketika FPI mengemplang sekelompok manusia di Monas, dunia ribut, tapi pembantaian di Palestina hanya jadi statistik? :?

  46. koreksi:

    Yang komen utk Jensen:

    Apa pembesaran wilayah seperti gambar ini bukan sebuah pencaplokan namanya? :?

    *lupa gambar* :P

    Yang komen utk dnial:
    Atas nama Quran pula saya memiliki alasan utk menolak pembunuhan pada orang Yahudi, karena sifat pengasih dan penyayang Tuhan lebih besar dari dendam manusia ;)

    Mestinya : saya memiliki alasan utk menolak pembunuhan pada orang Yahudi.

    sekian :)

  47. @dnial

    Kalau dilihat dari sejarahnya (baca Kitab2 Sejarah di Alkitab), memang saat menaklukan Kanaan, Israel melakukan genosida. Karena jika tidak maka mereka akan terpengaruh menyembah berhala.

    Hehehe… alasan yg sama untuk meloloskan UU Pornografi dulu. :mrgreen:

    Setuju dgn komentar Alex. Kalau menggunakan alasan tersebut, Hitler juga berhak melakukan genosida atas Israel. Bukankah berhala itu juga relatif?? :D

    Berdasarkan mazhab genosida, saya punya pikiran sadis. Bagaimana kalau kedua pihak yg berseteru itu kita genosida saja? Supaya dunia tidak terpengaruh utk ikut2an perang. :mrgreen:

    **mulai menyimpang**

  48. yg bikin saya merasa aneh, itu konflik memanas lg ketika harga minyak dunia sdg menurun drastis. dan skrg harga minyak, kl ga salah, menaik ya ? bisa ngaruh ke kebijakan SBY doms…. *harga BBM ga jadi turun* *blunder utk kampanye mrk*

    ada teori yg berkembang, bhw konflik yg lg rame ini, pesenan dr para juragan.entah dr arab, ato pemasok senjata… UUD deh, ujung2nya duit…

  49. Nah, ini bagian yang kontradiktif. Tuhan menjanjikan mereka tanah, lalu karena mereka ingkar (dalam Bibel, mereka menyuruh Musa sendiri memasuki tanah tersebut), perjanjian itu dicabut. Bagaimana bisa sebuah traktat yang dianulir boleh dipaksakan kembali?

    Ah, finally. This. THIS!!!!

    Spoiled brats: We don’t want no candy!! You shuv it!!
    Moses: Have it your way.

    Ages later…

    Spoiled grandbrats: We want our candy baaaaaaaack!!! :cry:

  50. @ alex | jensen | esensi | CY | dll :

    Ntar..ntar… kok nggak ada yang menyebut Orang Yebus ? ;)

    Israel (Yahudi) dan Palestina itu sama-sama pendatang di tanah Kanaan. Sama-sama nggak berhak mengklaim kalau tanah itu milik mereka. Mungkin karena visi keagamaan atau visi kesukuan yang membuat mereka jadi mengklaim kalau itu tanah mereka (saya cuma menggampangkan masalah aja…) :lol:

    @ esensi :

    Orang menganggap, bahwa orang-orang Yahudi dipaksa keluar dari tanah mereka oleh tentara Romawi pasca sinagog mereka di Yerusalem dihancurkan pada 70 Masehi. Sekitar 1800 tahun kemudian, orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dan menuntut kembali tanah airnya. Padahal fakta, selama kurang lebih 3000 tahun, orang-orang Yahudi tetap mempertahankan tanah airnya. Kultur dan bahasa nasional mereka pun masih tetap bertahan di wilayah itu.

    Tepatnya, orang Yahudi tidak dipaksa keluar oleh tentara Romawi. Alasan diaspora (ada juga di om wiki) itu berkaitan dengan Geografi Sakral yang menempatkan Bait Allah dan Yerusalem sebagai pusat dari semesta keagamaan mereka. Bandingkan dengan geografi sakral dalam Islam dimana Mekkah, Madinah, dan Yerusalem sebagai pusatnya.

    Setelah Bait Allah hancur akibat ulahnya Oom Titus dan Opa Vespasianus, bangsa Israel merasa tidak ada yang perlu dipertahankan di Tanah Perjanjian itu. Pusat keagamaan mereka adalah Bait Suci [yang sekarang bekasnya adalah tembok ratapan). Sebagian besar dari mereka memilih untuk melanglangbuana karena tanah perjanjian itu sekarang sudah sama dengan yang lainnya, sambil berharap bahwa suatu saat Yahweh akan memberikan mereka Mesias yang membangun kembali Bait Allah. Visi apokaliptik bangsa Yahudi biasanya berpusat di situ.

    Tentu saja jika ada yang pergi merantau maka ada juga yang tetap bertahan di “tanah perjanjian”. Nggak mungkin kan semua transmigrasi kemana-mana ? ;)

    Istilah “Palestina” memang diambil dari kata Filistine, yang mengacu pada orang-orang Aegea yang pada abad 12 SM tinggal di tepi Mediterania, yang sekarang dikenal sebagai Israel dan Jalur Gaza. Abad 2 M, setelah menghancurkan pemberontakan Yahudi, pemerintah Romawi untuk pertama kalinya memberi nama Palestina pada tanah Yudea (bagian selatan Israel yang sekarang dikenal sebagai Tepi Barat) dalam usaha untuk menciutkan identitas Yahudi dengan tanah Israel. Kata Arab “Filastin” kemungkinan diambil dari nama Latin ini.

    Saya agak ragu dengan beberapa sumber sejarah yang mengkaitkan kata “Palestina” dengan “Filistin” yang ada dalam Kitab Suci (Alkitab). Karena mengkaitkannya berarti membuat arti kata “Filistin” sama dengan Arab-Palestina.

    Padahal itu salah. Orang Filistine itu orang pantai/laut yang bermukim di tepi laut tengah (sekitar Libanon) dan pulau-pulau di Laut Tengah (Syprus, dll) dan mereka bukanlah bangsa Arab yang serumpun dengan bangsa Israel. Jadi kalau Palestina dan Filistine itu disamakan, ya itu namanya sekedar mencari hubungan saja. :lol: Istilah Filistine itu sudah ada kurang lebih tahun 1000 SM sementara istilah Palestina baru belakangan ini saja.

    @ alex :

    Personally, saya lebih suka solusi satu negara, apakah Palestina atau Israel namanya. Tapi pemerintahannya mencakup kemajemukan yang ada. Seperti Indonesia atau USA-lah kira-kira. Tak perfect tapi lebih demokratis agaknya. Cuma.. ini hanya akan jadi utopia kalo fanatisme (Zionis, Hammas etc) masih dikedepankan.

    Saya pikir bigoter-bigoter dari kedua belah pihak masih cukup kuat untuk membuat mimpi satu negara di tanah perjanjian itu jadi jauh dari kenyataan. :lol:

    Bagi saya, orang Yahudi yang sekuler bahkan atheis sekalipun pasti tegetar sisi spiritualitas mereka kalau berdiri di depan tembok ratapan apalagi jikalau Bait Allah itu berdiri. Mungkin sama dengan orang Arab yang sekuler atau atheis sekalipun akan tergetar kalau berdiri di samping Ka’bah. :) Itulah mitos geografi sakral yang bukan hanya sekedar urusan agama.

    Saya pikir kata “geografi sakral” itu berlaku bukan hanya bagi umat beragama Yahudi/Islam (Al-Quds adalah geografi sakral umat Islam). Bahkan bisa melekat pada simbol dan visi kesukubangsaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Contohnya diatas tadi. ^^

  51. @fritzer

    Spoiled brats: We don’t want no candy!! You shuv it!!
    Moses: Have it your way.

    Ages later…

    Spoiled grandbrats: We want our candy baaaaaaaack!!! :cry:

    The discussion are more like this :
    Brats : We don’t want the land, take me to Egypt
    Moses : Come on you love it
    Brats : No!
    God : Are you sure? *with lightning*
    Brats : Now, we aren’t so sure anymore…

    Brats : The land is full of barbarian. It’s scary, take me back to Egypt!
    God : Are you sure? *with lightning*
    Brats : Yes!
    And the Brats circling the deserts for 40-years. Until new brats came up and Moses “dies” – well, his grave never found.

    —-

    Brats1 : Why are our parents scared?
    Brats2 : They just chicken. Off we go…
    Joshua : Lads, give them hell!!
    God : Ah.. at last! The young are so brave!

    *War and genocide started*

  52. Kutip dari buku yang baru baca ,Cecilia/Through a Glass,Darkly (Jostein Gaarder-Mizan)
    Cecilia : Banyak orang bilang, kami akan pergi ke surga setelah kami mati. Benarkah ?
    Ariel the Angel : Kalian semua sekarang sudah berada di dalam surga. Sekarang ,disini. Jadi ,menurutku, sebaiknya kalian berhenti bertengkar dan berkelahi. Lagipula ,sangat tidak sopan berkelahi di hadapan Tuhan.

    @alex
    Selain HRW dan kelompok pembela HAM di Eropa lainnya beberapa kelompok Yahudi progresif termasuk di AS seperti J Street, Americans for Peace Now, Brit Tzedek v’Shalom, Israel Policy Forum sudah menyuarakan bahwa korban di pihak Palestina telah mencederai semangat Yahudi sebagai sebuah ajaran agama ,Tikkun Olam or something. I still hope Barack Hussein will use all support from progressive movement to force all the crazy war-loving people in Middle East to long-term peace agreement.

  53. ada gak ya aturan internasional soal syarat-syarat mengklaim suatu wilayah sebagai milik suatu negara tertentu? apa wilayah itu harus selalu diperebutkan dengan perang?

    mestinya ada kekuatan lain yang bisa mempatenkan suatu wilayah tanpa harus melalui pertumpahan darah. Karena kalau harus dengan memenangkan perang, yakinlah, Indonesia tidak pernah punya kedaulatan (apa yang bisa dilakukan bambu runcing melawan bom atom?).

    nah, kenapa Indonesia punya kedaulatan? karena diakui oleh dunia internasional… siapakah dunia internasional itu? jawabnya saya kira semua sudah tahu>>>> Amerika. Kita boleh berdebat soal sejarah panjang lebar, tapi faktanya kini dan sekarang semuanya ditentukan oleh rezim Amerika (yang konon katanya akan segera runtuh)

    When the US say it’s Genocide then it’s genocide
    When the US say it’s statistic then it’s statistic
    When the US bless Israel’s invasion so be it
    When the US say to acknowledge Indonesia as a country so be it

    jadi jadi jadi…… *siul siul*

  54. Pingback: Mengomentari Komentar Yang Tidak Perlu Dikomentari « f e r t o b

  55. Pingback: Global Voices Online » Indonesian Bloggers Respond to Gaza Attack

  56. @ oddworld

    Another advice come from Zbigniew Brzezinski ,one of Barack Hussein Advisor;

    oh.. nasihat dari penasihat presiden pupoler itu? Oke… let me take a look:

    variasi dari tawaran damai Arab Saudi circa 2002; kembali ke batas tahun 1967, tidak ada pengungsi Palestina yang kembali sebagai kompensasi berikan Negev dan Galilea ke Palestina,

    Batas 1967?

    Wait… wait…
    Israel diproklamasikan tahun 1948. Syarat sebuah negara utk berdiri ada tiga:
    1. Memiliki penduduk
    2. Memiliki wilayah
    3. Pengakuan Internasional.

    Katakanlah bahwa Israel memiliki warga negara, meski impor sekalipun, dan mereka mendapat pengakuan internasional. Dan.. oh ya, mereka memiliki wilayah. Jadi berdirilah itu negara, dengan wilayah yang ada saat itu.

    Lalu… tiba2 kembali ke batas tahun 1967? Dengan wilayah2 yang dicaplok? Sangat adil sekali!

    Dan, apa pula itu maksudnya “tidak ada pengungsi Palestina yang kembali”?

    Bangsa Israel yang sudah bergenerasi merantau ke penjuru bumi, dan bahkan ada yang tak pernah menginjak tanah leluhurnya (dan saya meragukan mereka punya tanah yang menjadi hak milik keluarga2 mereka), lalu bisa kembali dengan aman dan nyaman ke Palestina, tapi pengungsi Palestina yang diusir dari tanahnya tidak boleh?

    Persetan itu segala macam kompensasi itu. Mereka mesti kembali ke tempat darimana mereka diusir. Bangsa Israel boleh kembali ke Eropa dimana mereka diusir dengan alasan holocaust jika menuntut hak miliknya yang dihancurkan karena perang dunia ke II.

    Jerusalem dibagi dua dan menjadi ibukota bersama, pengakuan penuh dari seluruh negara Arab akan Israel sebagai sebuah negara berdaulat dan tetangga di kawasan,

    Saya jadi punya ide kelak satu saat saya akan memerdekakan Aceh, membentuk negara sendiri dan mencaplok seluruh Sumatra, dari Padang hingga Riau, dengan alasan yang sama: Pernah dibawah naungan kerajaan Aceh. Bukankah itu sejarah yang adil? Dan negara itu juga harus diakui sebagai sebuah negara berdaulat. :lol:

    untuk tambahan keamanan bagi Israel ,masukkan Israel ke Uni Eropa dan taruh satu divisi berat AS ditepi sungai Jordan (just like US troop in West Germany in the cold war era)

    Lalu siapa yang akan menjamin pula keamanan Palestina? Rusia? RRC? Atau prajurit kesultanan Yogyakarta? :?

    Selain HRW dan kelompok pembela HAM di Eropa lainnya beberapa kelompok Yahudi progresif termasuk di AS seperti J Street, Americans for Peace Now, Brit Tzedek v’Shalom, Israel Policy Forum sudah menyuarakan bahwa korban di pihak Palestina telah mencederai semangat Yahudi sebagai sebuah ajaran agama ,Tikkun Olam or something.

    Sudah pernah baca. Dan saya sudah bosan. Tanpa menafikan semangat keberadaan mereka, yang saya inginkan adalah keseimbangan perlakuan negara2 di bawah naungan PBB. Perserikatan Bangsat-bangsat yang cuma diam kalo sudah berurusan dengan problem di dunia muslim. Saat WTC ditabrak, responnya bukan main cepatnya, langsung mengaminkan Deklarasi War On Terror si koboi dari Texas, tapi urusan begini…? Loyo pelirnya mereka.

    Saya 1/2 mampus mencoba inklusif berhadapan dengan kasus Palestina dan pembantaian terhadap umat muslim dimanapun. Tapi agaknya negara2 di dunia memang tidak memberi pilihan apa2 bagi orang sekaum saya selain membuat pilihan sendiri. Kemarahan seperti ini yang membuat Decaan Mujahidin menyerbu hotel di India, dan seluruh negara pelopor HAM, demokrasi, kebebasan, teriak2 anti fundamentalis. Apa mereka berani teriak2 anti zionis? Itu zionisme penyakit di bumi yang sama kurapnya dengan rasisme dan fasisme.

    Saya sungguh mempertimbangkan selebaran pada saudara2 di Aceh utk mengirim dana pembeli peluru bagi gerilyawan Palestina.

    I still hope Barack Hussein will use all support from progressive movement to force all the crazy war-loving people in Middle East to long-term peace agreement.

    Saya apatis selama AS masih dilibatkan. Timbangan dewi justicia mereka sudah kentara miring sebelah di mata saya.

  57. @alex
    Penempatan brigade USA plus keanggotaan di Uni Eropa/NATO disitu dimaksudkan agar Israel tidak berdalih bahwa mereka ‘terancam’ oleh keberadaan Palestina. Seharusnya dengan demikian kemungkinan konflik yang merugikan warga sipil di Palestina juga berkurang.
    Tentang pengungsi yang tidak bisa kembali dan batas wilayah ,yah dalam sebuah perundingan selalu ada take-and-give. Sejarah kita sendiri menunjukkan bagaimana wilayah RI berubah-ubah. As a matter of fact, i’m considering the idea of Uni-Indonesia/Uni-Nusantara, so if you make a ‘Free Sumatra’ leaflet let me read it :)
    Tentang ide mengumpulkan uang untuk membeli peluru ,saya rasa rumah sakit di Gaza juga masih membutuhkan dana untuk membeli penisilin. Just a thought.

  58. @Mardun

    ada gak ya aturan internasional soal syarat-syarat mengklaim suatu wilayah sebagai milik suatu negara tertentu? apa wilayah itu harus selalu diperebutkan dengan perang?

    mestinya ada kekuatan lain yang bisa mempatenkan suatu wilayah tanpa harus melalui pertumpahan darah. Karena kalau harus dengan memenangkan perang, yakinlah, Indonesia tidak pernah punya kedaulatan (apa yang bisa dilakukan bambu runcing melawan bom atom?).

    Kalau di epik Mahabarata ada : main dadu! yang kalah pergi.
    Tapi endingnya perang Baratayudha juga seh….
    Wekekekekekeke…………..

  59. Saya sungguh mempertimbangkan selebaran pada saudara2 di Aceh utk mengirim dana pembeli peluru bagi gerilyawan Palestina.

    Pertimbangan yg kurang tepat, karena akan memperpanjang konflik (dikau menjadi second America) dan memperpanjang perjalanan samsara dikau sendiri Lex. :D

  60. @ oddworld

    Penempatan brigade USA plus keanggotaan di Uni Eropa/NATO disitu dimaksudkan agar Israel tidak berdalih bahwa mereka ‘terancam’ oleh keberadaan Palestina.

    :mrgreen:

    NATO? NATO yang netralitasnya dalam perang Kosovo dipertanyakan itu? Dan… Amerika yang juga dipertanyakan kepentingannya dalam konflik-konflik mulai dari versus FARC di Kolombia sampai UNITA di Cabinda – Angola?

    Ah ya… saya kebanyakan memamah artikel-artikel seperti di La Empressa Guerra, mungkin. Tapi adalah catatan bahwa keduanya sama-sama memiliki kecenderungan berpihak yang akut :?

    Apa tak ada alternatif independen lainnya? Atau memang tak boleh, seperti tekanan Margaret Thatcher dengan akronim TINA-nya – There Is No Alternative – pada paruh awal 1990an? :D

    Seharusnya dengan demikian kemungkinan konflik yang merugikan warga sipil di Palestina juga berkurang.

    Hal itu hanya dimungkinkan jika di pihak Palestina juga dibackup oleh kekuatan lain. Tak ada jaminan bahwa dengan satu pihak memiliki bekingan kuat, konflik tak akan terulang. Tak ada perimbangan kekuatan itu. Bagaimana jika Iran dan Suriah diperkenankan melakukan hal yang sama, misalnya? :P

    Tentang pengungsi yang tidak bisa kembali dan batas wilayah ,yah dalam sebuah perundingan selalu ada take-and-give. Sejarah kita sendiri menunjukkan bagaimana wilayah RI berubah-ubah.

    Benar. Sejarah menunjukkan demikian. Tapi saat Indonesia diproklamasikan tahun 1945, apa batasan wilayah Indonesia tidak ada? Atau guru2 saya yang mengajarkan Wawasan Nusantara sedang mabok dulu, sampai mengatakan Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi adalah wilayah sah yang menggabungkan diri dengan RI?

    Cacat dalam sejarah RI sendiri bukan tidak saya akui. Invasi ke Timor Timur dan perdebatan tentang keabsahan Pepera di Papua (yang kemudian jadi Irian), dengan besar hati harus diterima utk dikoreksi.

    Dalam hal Israel, kenapa mereka tidak kembali ke batas yang mereka miliki di tahun 1948? Karena perjanjian2? Hell… RI juga pernah menghadapi perjanjian2 yang merugikan, mulai dari perjanjian yang menyusul Agresi Militer 1 dan 2 hingga dipecah menjadi Republik Indonesia Serikat. Tapi batas wilayah tidak pernah berubah separah klaim rezim Israel di Palestina.

    As a matter of fact, i’m considering the idea of Uni-Indonesia/Uni-Nusantara, so if you make a ‘Free Sumatra’ leaflet let me read it :)

    :lol:

    Dulu saya menolak gagasan teman2 yang pro ASNLF (Acheh Sumatra National Liberation Front), karena saya memandang hak-hak para penduduk di wilayah2 yang diklaim pernah menjadi bagian Kesultanan Aceh, mulai dari pesisir Minangkabau sampai Bengkalis. Sejarah harus dilepas karena yang kita pegang adalah sejarah terakhir yang disepakati, dalam hal ini sejarah berbentuk konstitusi RI.

    Tapi… jika atas nama demokrasi dan keadilan dunia membolehkan Israel melakukan pencaplokan wilayah karena klaim berdasar perjanjian dengan Tuhan atau karena suku bangsanya dulu pernah berdiam di satu tanah, saya jadi tertarik utk mengkaji ulang pandangan ASNLF itu. Mungkin saya akan menggunakan Tuhan versi saya sendiri, tanpa harus peduli ada atheis di bumi yang tak percaya Tuhan, utk membenarkan klaim demikian.

    Jika ide seperti itu tidak boleh, maka Tuhan yang bikin deal dengan Israel sebagai alasan okupasi di Palestina boleh turun ke bumi dan jilat pantat saya dulu agar saya percaya bahwa perjanjian itu masih berlaku. Apakah namanya Yahweh atau Allah, saya tak peduli.

    Tentang ide mengumpulkan uang untuk membeli peluru ,saya rasa rumah sakit di Gaza juga masih membutuhkan dana untuk membeli penisilin.

    Ya, rumah sakit di Gaza masih butuh penisilin. Tapi yang lebih tahu kebutuhan di sana adalah mereka yang di sana. Jika mereka memutuskan bahwa senjata dan peluru harus dibeli, karena korban yang membutuhkan penisilin membengkak jumlahnya, itu biar jadi pilihan mereka. Resistensi terkadang diperlukan utk bertahan.

    Just a thought.

    Not a thought anymore… for me… Sudah mulai digalang :)

    @ CY

    Pertimbangan yg kurang tepat, karena akan memperpanjang konflik (dikau menjadi second America) dan memperpanjang perjalanan samsara dikau sendiri Lex. :D

    Bisa jadi. Tapi terlalu sedikit opsi yang tersisa, bro. Seperti kata saya diatas, resistensi dibutuhkan saat ada yang menekan dengan brutal. Bahkan meski cuma dalam bentuk lemparan sepasang sepatu.

    Jika boleh memilih, saya ingin berutopia bahwa dana yang dikirim semua dibelikan makanan dan obat2an, lalu gempuran usai, dan serdadu Israel dan gerilyawan Hamas sama-sama minum limun dan makan roti sambil ketawa-tawa lihat kartun Donal Bebek di tipi.

    Tapi… Tapi… :roll:

    Perkara samsara… saya tidak tahu banyak tentang samsara :? Jika itu satu resiko, let me take it as a man.

  61. @Alex
    (Samsara = kesengsaraan krn karma buruk yg terus ditambah)
    Pernah nonton film Fearless-nya Jet Lee?? Disana ada pilihan antara menjadi “a man” dan “a father”.

    resistensi dibutuhkan saat ada yang menekan dengan brutal

    Meminjam filosofi-mu bro, saya mendapatkan filosofi baru. “Yang menekan akan merasa ditekan kalau tak ada resistensi”. Dan Mahatma Gandhi tau betul prinsip itu saat mengusahakan kemerdekaan India dari tangan Inggris. Dan “ratapan” akan lebih mengguncang simpati dunia daripada “serangan balik”.

  62. @alex kalau sempat baca di The Sum of All Fear-nya Tom Clancy (fiksi memang :) ) another alternative is a Swiss Guard. Yah setidaknya semua orang tahu Swiss tak pernah terlibat konflik mulai era PD 2. Meski sebelumnya mereka adalah salah satu bangsa mercenary yang cukup ditakuti. That’s why the Pope use them :) .Lagipula selama ini Swiss dengan netralitasnya cukup menikmati kemakmuran ekonomi ,let make them pay the bill.
    Yang paling netral tentu model Libanon pasca 2006, Turki ,yang punya hubungan diplomatik dengan Israel, sudah menawarkan diri memimpin dan menyumbangkan pasukan untuk misi ini. Sialnya kubu Saudi Arabia-Mesir dan Syria-Iran masih belum sepakat.
    About Kosovo ,keterlibatan NATO justru membantu kemerdekaan Kosovo bukan ? Sudah masuk OKI belum ya ?
    Talking about Gandhi ,dr Mustafa Barghouti, adalah salah satu politikus Palestina yang punya pemikiran sama. Meski suaranya akan semakin redup saat denging bom menulikan telinga.

  63. Meminjam filosofi-mu bro, saya mendapatkan filosofi baru. “Yang menekan akan merasa ditekan kalau tak ada resistensi”. Dan Mahatma Gandhi tau betul prinsip itu saat mengusahakan kemerdekaan India dari tangan Inggris. Dan “ratapan” akan lebih mengguncang simpati dunia daripada “serangan balik”.

    Sangat setuju dengan ini. Maka saya sempat kepikiran, mengapa sih Israel mesti membalas rudal sporadis dari HAMAS? Jika saja Israel memilih mengalah (sambil memberitakannya di media), niscaya HAMAS kehilangan simpati. Tidak seperti sekarang ini, justru Israel kehilangan simpati. Mahatma Gandi memang bukan orang kebanyakan, dia spesial. ;)

  64. @alex

    Saya sungguh mempertimbangkan selebaran pada saudara2 di Aceh utk mengirim dana pembeli peluru bagi gerilyawan Palestina.

    Kepikiran nggak lex, peluru yang dibeli bisa digunakan untuk membunuh anak-anak Israel. ;)

  65. @ CY

    (Samsara = kesengsaraan krn karma buruk yg terus ditambah)

    *catet*

    Secara personal, saya menyukai ajaran2 Buddha. Meski tidak terlalu konsen memahami, tapi saya paham kenapa filosofi damai dalam ajaran Buddha menarik seorang Kurt Cobain, misalnya.

    Tapi dalam kehidupan nyata, filosofi damai (apakah dalam bentuk ajaran Buddha, Islam, Kristen etc) terkadang disingkirkan oleh fakta bahwa ada yang memang harus dilawan. Ada tipe-tipe homo sapiens yang tak mau mengerti bahwa dunia minta jeda utk kemanusiaan, utk damai. Rezim Israel itu bisa jadi sampel terbaik sejak Sabra-Shatila di bawah Ariel Sharon sampai Gaza ini.

    Pernah nonton film Fearless-nya Jet Lee?? Disana ada pilihan antara menjadi “a man” dan “a father”.

    Belum. Nanti saya usahakan cari film bajakannya itu :mrgreen:

    Meminjam filosofi-mu bro, saya mendapatkan filosofi baru. “Yang menekan akan merasa ditekan kalau tak ada resistensi”.

    :lol:

    Jika dalam posisi ini yang menekan adalah gerakan2 radikal seperti Taliban, Hizbullah atau Iran, apa reaksi dunia akan sama? Saya enggan menyebut sampel yang rentan sentimen agama begini… tapi resistensi karena sekumpulan tukang pukul bersorban ngemplang orang di Monas dulu atau pembantaian oleh Mohammed Farrah Aidit di Somalia, adalah contoh bahwa banyak yang membenarkan perlawanan, utamanya negara2 yang merasa jagoan HAM, meski dalam bentuk gugatan. Utk kasus 3 Oktober 1993 di Somalia itu, sampai dibukukan dan filmkan di Black Hawk Down.

    Meski antara 1.500 sampai 2.000 milisi dan masyarakat sipil tewas dan 4.000 lainnya terluka (dengan di pihak AS korban CUMA 18 orang), Mark Bowden si penulis “Black Hawk Down: A Story of Modern War” itu membenarkan pembantaian tersebut sebagai pembebasan Somalia dari kelompok pemberontak. Bukan main! Pembebasan lagi, seperti deklarasi Operasi Enduring Freedom di Irak :lol:

    Dan Mahatma Gandhi tau betul prinsip itu saat mengusahakan kemerdekaan India dari tangan Inggris. Dan “ratapan” akan lebih mengguncang simpati dunia daripada “serangan balik”.

    Saya menduga-duga… apa Mahatma Gandhi akan bertahan lama jika yang saat itu menduduki India adalah Israel dan bukan Inggris? :?

    @ daeng limpo

    Mungkin Mahatma Gandhi seharusnya lahir di Palestina bukan di India

    Mudah-mudahan beliau bisa reinkarnasi kembali :D

    @ oddworld

    kalau sempat baca di The Sum of All Fear-nya Tom Clancy (fiksi memang :) ) another alternative is a Swiss Guard. Yah setidaknya semua orang tahu Swiss tak pernah terlibat konflik mulai era PD 2. Meski sebelumnya mereka adalah salah satu bangsa mercenary yang cukup ditakuti. That’s why the Pope use them :) .Lagipula selama ini Swiss dengan netralitasnya cukup menikmati kemakmuran ekonomi ,let make them pay the bill.

    Menarik. Saya belum baca buku itu. Fiksi pun tidak apa-apa. The Book of Saladin-nya Tariq Ali yang membuat saya membayangkan Yerussalem sebagai satu ekosistem bersama Kristen, Yahudi dan Muslim (dan bahkan suku/agama lain), juga mengandung unsur fiksi.

    Yang paling netral tentu model Libanon pasca 2006, Turki ,yang punya hubungan diplomatik dengan Israel, sudah menawarkan diri memimpin dan menyumbangkan pasukan untuk misi ini. Sialnya kubu Saudi Arabia-Mesir dan Syria-Iran masih belum sepakat.

    Ah, model Lebanon 2006 itu saya belum pernah pelajari. Jadi penasaran kenapa Saudi Arabia-Mesir dan Syria-Iran belum sepakat. Apakah benar tudingan bahwa Saudi Arabia-Mesir sebagai dua negara sobat baik AS memiliki kepentingan lain sehubungan bantuan dana yang mereka terima? :mrgreen:

    About Kosovo ,keterlibatan NATO justru membantu kemerdekaan Kosovo bukan ? Sudah masuk OKI belum ya ?

    Hehehe.. utk hal ini, saya tak mau terjebak pada ide ala gerakan Islami lainnya, bahwa karena Kosovo didominasi etnis Muslim Albania, lalu merdeka, maka kampanye NATO menjadi benar. Lalu korban sipil di pihak Serbia menjadi statistik tak berguna, apalagi karena mereka kafir™ :D

    NATO, sebagai pakta pertahanan yang dibidani perang dingin, tak heran jika sangat rela terjun dalam pertikaian di Republik Rakyat Federal Yugoslavia. Itu salah negara federal sosialis terakhir paska USSR rubuh. Bahkan jika berarti dianggap membela muslim pun, apa mereka peduli?

    Jika Israel masuk ke sana, apa tidak lebih parah? Pasal 5 dalam pakta pertahanan atlantik utara seperti di bawah ini, menyatakan bahwa anggota mereka lebih bertuah dari apapun:


    The Parties agree that an armed attack against one or more of them in Europe or North America shall be considered an attack against them all and consequently they agree that, if such an armed attack occurs, each of them, in exercise of the right of individual or collective self-defence recognised by Article 51 of the Charter of the United Nations, will assist the Party or Parties so attacked by taking forthwith, individually and in concert with the other Parties, such action as it deems necessary, including the use of armed force, to restore and maintain the security of the North Atlantic area.

    Dan paragraf kedua yang “menyejukkan” hati:


    Any such armed attack and all measures taken as a result thereof shall immediately be reported to the Security Council. Such measures shall be terminated when the Security Council has taken the measures necessary to restore and maintain international peace and security .

    Tapi… tapi… pada faktanya, DK PBB pun mereka kangkangi jika itu menyangkut kepentingan negara anggota NATO :?

    Talking about Gandhi ,dr Mustafa Barghouti, adalah salah satu politikus Palestina yang punya pemikiran sama. Meski suaranya akan semakin redup saat denging bom menulikan telinga.

    Dan bagaimana menghentikan bom tersebut? :?

    BTW, diatas itu ada disebut Zbigniew Brzezinski, salah satu penasehat keamanan Barack Hussein Obama. Saya ingat2 nama tersebut, dan saya bertemu catatan usang dari bangku kuliah, bahwa orang yang pernah menjadi penasehat keamanan di era Jimmy Carter tersebut seharusnya, jika hukum internasional berlaku benar, bersama sang Presiden, diseret ke Mahkamah Internasional atas kejahatan perang karena keterlibatannya yang memicu invasi Uni Soviet ke Afghanistan di tahun 1980-an. Kabul menjadi kota yang dikremasi dengan ribuan korban jiwa karena ulahnya. Mengingatkan ulah Željko Ražnatović a.k.a Arkan dalam perang Balkan.

    @ dana

    Kepikiran nggak lex, peluru yang dibeli bisa digunakan untuk membunuh anak-anak Israel. ;)

    Kepikiran… Dan… kepikiran…

    Meski saya terhibur dengan roket-roket Hamas yang “selalu meleset” sasaran hingga tak/belum ada korban jiwa belakangan di Israel, ya… kepikiran resiko anak-anak Israel.

    Saya ingin meminjam alasan gengnya Tzipi Livni, bahwa korban sipil di pihak Palestina adalah konsekuensi dari adanya Hamas. Tapi tetap saja ada rasa tak nyaman di hati :?

  66. @Alex
    Itu bagian dari strategi perang Lex, Sun Tzu the art of war, Taichi, meminjam tenaga lawan utk menghabisi lawan. Mahatma Gandhi boleh dibilang menguasai jurus itu. Btw Gandhi bertahan dari Inggris sepanjang hidupnya. Saya rasa Israel tak akan bertahan selama itu bila menghadapi Gandhi, krn yg di bantai Inggris itu ribuan demonstran tak bersenjata. Apalagi dgn teknologi kamera sekarang, dunia akan membombardir Israel seandainya melakukan itu terhadap India.

    Kalo dari sisi filosofi Buddha, makin banyak karma buruk yg dipupuk pihak lawan makin sulitlah dia bertahan. Karena akumulasi dari semua itu bisa berbentuk Tsunami yg meluluh lantakkan kehidupan. Ttg cerita Blackhawk down, itulah kekuatan media dan Gandhi pintar memanfaatkan media utk menyiarkan ratapan2 mereka utk mengundang simpati dunia.

  67. Masih mengingat tragedi pembantaian Tiannanmen di RRC, dunia (termasuk Amerika) bisa apa…..? juga di Tibet …dunia (termasuk Amerika) bisa apa….?. Padahal Dalai Lama mendapat dukungan dari Amerika, sedangkan Palestina ……? sudah timpang kekuatannya dengan Israel masih diinjak-injak. Belum lagi beberapa saran agar mereka menyerah saja menjadi bangsa yang tidak berharga. Kalau Indonesia dulu disuruh meratap untuk meminta kemerdekaan….apa anda sudi…?

  68. Nice argument Lex, substantially i’m agree with you.
    *Tentang masalah Saudi Arabia-Mesir dan Syria-Iran juga diperkeruh oleh perebutan hegemoni pengaruh antara Syiah dan Sunni di Timteng. :(
    *Justru karena Israel masuk NATO maka NATO pun akan berusaha mengekang Israel. Kasus Georgia vs Russia mungkin bisa dijadikan acuan ,memang Georgia belum resmi masuk NATO tapi setidaknya ‘kartu NATO’ tsb menjadi salah satu acuan Georgia dalam menantang Russia. Ternyata NATO memilih mencari solusi diplomatik untuk kasus ini.
    *Berkaca pada kasus bombardemen di Serbia, seharusnya NATO melakukan hal serupa pada Israel. Casus belli-nya rasanya serupa :)
    *Ttg Zbigniew, tokoh satu ini salah satu player perang dingin, memang catatan rekornya tidaklah bersih. Setidaknya dia mulai berpikiran sehat dengan menganjurkan untuk melakukan dialog yang genuine dengan HAMAS. Meski salah satu kritikus menyebut bahwa Zbigniew masih mencita-citakan “Pax Americana” :)

  69. @ CY

    Itu bagian dari strategi perang Lex, Sun Tzu the art of war, Taichi, meminjam tenaga lawan utk menghabisi lawan.

    Strategi itu bisa diartikan dalam bentuk lain, bro. Misal… merebut senjata lawan utk dikembalikan padanya :D

    Btw Gandhi bertahan dari Inggris sepanjang hidupnya.

    Dia bertahan. Tapi berapa jumlah rakyat India yang mati kelaparan? :? Apakah mereka menjadi tumbal? Secara sukarela? :?

    Saya rasa Israel tak akan bertahan selama itu bila menghadapi Gandhi, krn yg di bantai Inggris itu ribuan demonstran tak bersenjata. Apalagi dgn teknologi kamera sekarang, dunia akan membombardir Israel seandainya melakukan itu terhadap India.

    Masalahnya ada tumbal, bro… ada yang ditumbalkan…

    Dan terkadang tumbal itu harus distop. Tidak selamanya bersikap sabar bisa dipergunakan :|

    Kalo dari sisi filosofi Buddha, makin banyak karma buruk yg dipupuk pihak lawan makin sulitlah dia bertahan. Karena akumulasi dari semua itu bisa berbentuk Tsunami yg meluluh lantakkan kehidupan.

    Masalahnya… yang dihadapi ini orang yang tak peduli karma, Bro. Rezim Israel itu mungkin akan menebus karmanya satu hari nanti. Mungkin Tzipi Livni akan lahir kembali jadi kodok betina buruk rupa, dan Ariel Sharon jadi domba yang berkurap. Tapi yang dikorbankan mereka ini… :roll:

    Ttg cerita Blackhawk down, itulah kekuatan media dan Gandhi pintar memanfaatkan media utk menyiarkan ratapan2 mereka utk mengundang simpati dunia.

    Black Hawk Down itu adalah pembenaran AS utk pembantaian milisi dan sipil yang pro pada Mohammed Farrah Aidit. Jelas… mereka punya kepentingan pada rezim di Somalia. Kepentingan yang sama seperti yang mereka miliki pada rezim-rezim mulai dari Syah Reza Pahlevi di Iran, Batista di Kuba, hingga Hamid Karzai di Afghanistan saat ini.

    Dan utk pembenaran itu maka mereka mau membantai dengan alasan pembebasan. Now… apa AS mau terjun ke Gaza utk menekan Israel? :D

    @ daeng limpo

    Kalau Indonesia dulu disuruh meratap untuk meminta kemerdekaan….apa anda sudi…?

    Kalau saat itu rame yang sudi, RI ndak akan pernah ada :)

    Double Standard alias standard ganda…..itulah masalahnya.

    :lol:

    Itu yang saya maki sebenarnya, daeng :D

    @ oddworld

    Nice argument Lex, substantially i’m agree with you.

    Thank you :)

    *Tentang masalah Saudi Arabia-Mesir dan Syria-Iran juga diperkeruh oleh perebutan hegemoni pengaruh antara Syiah dan Sunni di Timteng. :(

    Ah, ressay punya sampel yang cukup baik utk tipe demikian :D

    *Justru karena Israel masuk NATO maka NATO pun akan berusaha mengekang Israel. Kasus Georgia vs Russia mungkin bisa dijadikan acuan ,memang Georgia belum resmi masuk NATO tapi setidaknya ‘kartu NATO’ tsb menjadi salah satu acuan Georgia dalam menantang Russia. Ternyata NATO memilih mencari solusi diplomatik untuk kasus ini.

    :?

    AFAIK, NATO masih hitung2an utk gambling dengan Rusia. Mereka punya alasan yang bukan karena niat baik berdiplomasi saat itu. Meski mereka menahan Georgia, toh mereka terus memprovokasi utk menjadikan NATO sebagai pakta tunggal di Eropa Timur :D

    *Berkaca pada kasus bombardemen di Serbia, seharusnya NATO melakukan hal serupa pada Israel. Casus belli-nya rasanya serupa :)

    Seharusnya… seharusnya…

    Sikap NATO yang diam ini cuma akan menjadi salah satu poin pembenaran gerakan radikal dalam Islam. Jujur saja… saya sendiri sedang “digelitiki” pembenaran yang sama.. :|

    *Ttg Zbigniew, tokoh satu ini salah satu player perang dingin, memang catatan rekornya tidaklah bersih. Setidaknya dia mulai berpikiran sehat dengan menganjurkan untuk melakukan dialog yang genuine dengan HAMAS. Meski salah satu kritikus menyebut bahwa Zbigniew masih mencita-citakan “Pax Americana” :)

    Mudah2an benar.

    Meski saya kecewa, bahwa ia tidak digantung di depan Mahkamah Internasional, malah tuannya si Presiden Carter dapat Nobel Perdamaian, mungkin bolehlah mencoba optimis kali ini :)

  70. Mungkin Tzipi Livni akan lahir kembali jadi kodok betina buruk rupa

    Hahaha…, tidak semua hal harus menunggu terlahir kembali baru mendapat balasan Lex. Ada yg bisa langsung berbuah beberapa minggu atau bulan kemudian, dan ada yg beberapa detik kemudian (misalnya kita nyuri ayam di pasar, bbrp detik kemudian pasti dirame2in sekampung hehehe…)

    Masalahnya ada tumbal, bro… ada yang ditumbalkan…

    Dan terkadang tumbal itu harus distop. Tidak selamanya bersikap sabar bisa dipergunakan

    Utk mencegah tumbal dipihak A, maka A balas menyerang. Maka jatuh korban sipil di pihak B (itu disebut tumbal juga kan?). Maka tumbal itu tak akan pernah berhenti utk disembelih oleh roket2 kedua belah pihak.

    Yaa, model perjuangan tiap orang memang berbeda. Kalau bisa berhasil memang pantas dicoba. Tapi kalau berlarut2 begitu selama 30-an tahun maka harus mencari alternatif lain (dlm rangka menyetop tumbal2 tersebut). Coba jumlahkan tumbal yg jatuh selama 20 tahun misalnya di Israel dan Palestina, dgn jumlah tumbal yg jatuh di India dgn sistem Gandhi?? Tanpa menghitung akurat saya berani pastikan tumbal di India lebih sedikit.

    @Daeng Limpo
    Kita tidak bisa membandingkan kasus di Tiananmen dgn kasus Israel. Pertama, RRC naga tidur yg tak boleh diganggu oleh Amerika yg hanya sekelas macan. Kalau naganya bangun, si Amrik bakal jadi macan bakar kecap. Kedua, itu urusan dalam negeri RRC.

    Ttg kemerdekaan Indonesia, kita harus melihat kenyataan bahwa tak mungkin bambu runcing bisa menang melawan senjata mesin Jepang. Kalau Hirosima dan Nagasaki tidak di bom sekutu, mungkin Indonesia akan lebih lambat merdekanya. atau kita akan dibawah koloni Jepang dan lebih makmur hehehe…. Pahamilah kenyataan itu Daeng…

  71. @Alex

    Dan bagaimana menghentikan bom tersebut?

    Saya ada satu pemikiran yg bersifat semi utopia, bagaimana kalau seluruh negara Asia meng-embargo (minyak dan pangan) negara produsen senjata seperti Amerika Cs. ?? Bukankah bom tersebut akan berhenti…

  72. saya sih tidak mendukung mana-mana, tapi berdasarkan beberapa wacana yang saya baca, sepertinya kali ini israel lebih salah, dan akhirnya saya malah jadi bikin semacam conspiracy theory pula mengenai conflict ini dan hubungannya dengan naiknya harga minyak bumi…

  73. @ alex©

    Nah, saya tertinggal banyak rupanya. Sori lagi lex…

    Jelas? […] Sebentar menjadikannya sebagai bangsa pilihan, lalu “menyesatkan”, lalu mengutuk, lalu… Ya, seperti memiliki mood tersendiri pada ciptaan

    Ini sudah dijawab sendiri sama bro buat dnial kan?

    Tuhan…. bekerja dengan tangan bangsa yang tidak menyembah-Nya utk menghukum bangsa yang “pernah” menyembah-Nya… :roll:

    Lalu..

    Ah, pembahasan tentang ini akan jadi jauh, bisa sampai ke filsafat dengan segala free will, dosa, pilihan, etc :mrgreen:

    Iya, direply-mu tuk dnial juga sudah jadi kajian teologis; tambah pelik nanti kalo saya juga menambahi. ;)

    He? Itu alasan yang sama yang dipakai orang sekaum dengan saya utk memaksakan syariat Islam menurut versi the so-called pemimpin itu sendiri. Jika Taurat diterima, maka alasan yang sama dari MUI atau apapun tampuk pimpinan Islam harusnya juga tak jadi masalah :lol:

    Oh, yang saya bicarakan itu jaman Alkitab dulu kok. Israel sekarang AFAIK adalah negara sekuler yang menjamin kebebasan beragama. :)

    Ini akan jadi lebih panjang. Peta Israel yang sejak kerajaan Yehuda, atau yang pernah didiami oleh bangsa Yahudi?

    Yang ini.

    Kalau menurut para yahudi zionis, Israel Raya itu tersebar bahkan hingga ke Mesir. […] Bahkan sampai ke Mekah

    Israel Raya? Itu cuma wacana, bukan rencana. Dasarnya bukan siapa pernah tinggal dimana, tapi janji Yahweh pada Abraham yang cuma menyebutkan batas2 ujung (sungai Nil dan Efrat), bukan detil keliling seperti peta diatas. Kerajaan Israel jaman Daud dan Salomo pernah mencapai ujung2 itu, tetapi itu pendudukan militer & bukan didiami. Mekah? Itu jauh diluar ‘garis’, dan Alkitab tak pernah mencatat beliau kesana. Mentah sekali kalo ada klaim Israel disana. ;)

    Apa pembesaran wilayah seperti gambar ini bukan sebuah pencaplokan nanamnya? :?

    Oh, warna hijau dan putih itu wilayah Israel semua. Tetapi petamu membingungkan lex, AFAIK cuma 2 gambar tengah yang akurat. Ujung kiri-kanan tidak. Seluruh wilayah Otoritas Palestina sekarang adalah semua hijau di gambar 3 lho. :)
    Kalo peta2 pra Israel merdeka kadang saya cari disini.

    Ekstrimis itu istilah dari siapa? Versi siapa?

    Istilah saya. :mrgreen: Saya tau kok maksudmu, bahkan Fatah yang sos-dem sayap kiri juga pernah berjuang gaya ekstrim dulu. Susah saya cari kata2 yg pas. Anti-kompromi?

    Saya tidak tahu pasti alasan Mesir kenapa bersikap demikian.

    AFAIK Mesir-pun hanya mengakui Fatah (jg lebih cocok secara haluan). Selain itu mereka punya hubungan baik dangan Israel dan AS.

  74. @ goldfriend

    Ntar..ntar… kok nggak ada yang menyebut Orang Yebus ? ;)

    Kalo saya, karena sudah gak eksis. Sama seperti suku2 kuno lain yang juga pernah mendiami tanah itu macam orang Kanaan, Amori atau Het.

    Tepatnya, orang Yahudi tidak dipaksa keluar oleh tentara Romawi.

    AFAIK sih, dipaksa mati kalo tidak keluar. Terutama dari daerah Yudea.

    Setelah Bait Allah hancur […] bangsa Israel merasa tidak ada yang perlu dipertahankan di Tanah Perjanjian itu.

    Seperti yang bang fer bilang sih, ada yang masih bertahan, terutama di Galilea. Tapi pusat spiritualnya pindah dari Bait Suci ke para Rabi dalam komunitas Yahudi. :)

    Saya agak ragu dengan beberapa sumber sejarah yang mengkaitkan kata “Palestina” dengan “Filistin” […]

    Bukannya orang Arab-Palestina memang hanya menyebut diri mereka “Palestina” karena tinggal diwilayah yang disebut Palestina, dan bukan karena keturunan dari orang Filistin? :)
    AFAIK Kaisar Hadrian renaming Yudea & sekitarnya jadi Syria Palaestina ya seperti penjelasan Frozen itu. (o_0)”\

    Orang Filistine itu orang pantai/laut yang bermukim di tepi laut tengah (sekitar Libanon) dan pulau-pulau di Laut Tengah (Syprus, dll)

    Itu bukannya Funisia bang? Filistin kan bermukim di sekitar Jalur Gaza sekarang… =_=a

    Jadi kalau Palestina dan Filistine itu disamakan, ya itu namanya sekedar mencari hubungan saja.

    Asal katanya saja, sama sekali bukan etnisnya. ;)

  75. Pingback: the.tintamerah.info » Blog Archive » Auschwitz Itu Gaza

  76. AFAIK sih, dipaksa mati kalo tidak keluar. Terutama dari daerah Yudea

    Seperti yang bang fer bilang sih, ada yang masih bertahan, terutama di Galilea. Tapi pusat spiritualnya pindah dari Bait Suci ke para Rabi dalam komunitas Yahudi. :)

    Sewaktu perang mempertahankan Yerusalem antara Orang Yahudi dan Romawi, yang mati-matian dipertahankan adalah Bait Suci (Haekal). Benteng pertahanan terakhir mereka adalah Bait Suci dan itu mereka pertahankan habis-habisan karena makna Bait Suci bagi orang Yahudi.

    Ketika Bait Suci terbakar dan hancur, setidaknya ada 3 sikap yang diambil oleh bangsa Yahudi : menyerah, bunuh diri (terbakar bersama Haekal), dan diaspora.

    Alasan mereka diaspora bukan karena dipaksa, tetapi mereka kehilangan pusat semesta keagamaan mereka (Haekal). Disitulah makna mereka sebagai Bangsa dan Agama dipertaruhkan. Disitulah letak mitos dan logos seluruh keberadaan mereka sebagai Yahudi dan tanpa itu, Yerusalem dan sekitarnya tidak berarti apa-apa lagi.

    Mereka mengembara sambil berharap bahwa suatu saat Yahwe akan memulihkan Haekal bagi mereka. Disitulah visi apolkaliptik bangsa Yahudi. Rabi-rabi dan Sinagoga-sinagoga tidak bisa menggantikan peran Haekal dalam spiritual activity kaum Yahudi. Itulah yang membuat Yahudi dan Umat Muslim sangat mirip dalam mempersepsikan suatu tempat (atau bangunan) sebagai pusat dan makna keagamaan mereka. Yahudi di Yerusalem dan Haekal, Islam di Mekkah dan Ka’bah [ditambah Madinah dan Al-Quds].

    Salah satu “kesalahan” Kalifah Umar pada waktu menguasai Yerusalem adalah membangun Masjid Al-Aqsa tepat di tempat bekas-bekas reruntuhan yang diyakini oleh Kaum Yahudi sebagai Haekal pada jaman dulu. Sebenarnya tidak tepat tetapi bagi Kaum Yahudi Haekal itu ada Ruang Suci yang meliputi halaman dan pelataran sekitar serta Ruang Maha Suci yang hanya bisa dimasuki oleh Imam. Dan di pelataran dan halaman bekas Haekal itulah Masjid Al-Aqsa berdiri, menurut keyakinan banyak kaum Yahudi.

    Kalau soal Filistin dan Palestina, sebenarnya saya punya sumber literatur tentang soal itu. Tapi ntar aja lah… :)

  77. @ CY

    Hahaha…, tidak semua hal harus menunggu terlahir kembali baru mendapat balasan Lex. Ada yg bisa langsung berbuah beberapa minggu atau bulan kemudian, dan ada yg beberapa detik kemudian (misalnya kita nyuri ayam di pasar, bbrp detik kemudian pasti dirame2in sekampung hehehe…)

    :lol:

    Yang menjadi pertanyaan saya, dibalik kata nasib dan samsara itu apakah ada kepasrahan utk menerima begitu saja? Karena “pembalasan” terhadap Israel sendiri adalah hal yg logis dari konsekuensi permainan nasib mereka :?

    Utk mencegah tumbal dipihak A, maka A balas menyerang. Maka jatuh korban sipil di pihak B (itu disebut tumbal juga kan?). Maka tumbal itu tak akan pernah berhenti utk disembelih oleh roket2 kedua belah pihak.

    Berhenti pasti ada. Setiap pertempuran, mulai dari jaman pertengahan sampai pertempuran di Stalingrad di Rusia, sekali waktu berhenti. Dalam hal Israel versus Hamas ini, yang kentara keras kepalanya justru Israel lho. Bagaimana bisa dalam tatanan dunia yang majemuk, wilayah dikuasai dengan klaim menurut agama tertentu, kitab tertentu? Itu homogenisasi keyakinan jadinya.

    Yaa, model perjuangan tiap orang memang berbeda. Kalau bisa berhasil memang pantas dicoba. Tapi kalau berlarut2 begitu selama 30-an tahun maka harus mencari alternatif lain (dlm rangka menyetop tumbal2 tersebut).

    Alternatif itu bagi saya, Israel mundur ke wilayah tahun 1948. Oke, lupakanlah cerita sebelum itu. Negaranya pun sudah berdiri. Tapi mereka mesti lepas tawanan2 Palestina, membayar kompensasi atas sejumlah kerugian rakyat Palestina, dan mengembalikan pengungsi Palestina. Jika tidak, ceritanya akan terus berlanjut. Percayalah :)

    Coba jumlahkan tumbal yg jatuh selama 20 tahun misalnya di Israel dan Palestina, dgn jumlah tumbal yg jatuh di India dgn sistem Gandhi?? Tanpa menghitung akurat saya berani pastikan tumbal di India lebih sedikit.

    Dan jumlahkan pula korban di pihak Israel dengan di pihak Palestina dan Lebanon selama ini. Dunia juga tahu korban sipil di dua musuh Israel itu lebih banyak :|

    Saya ada satu pemikiran yg bersifat semi utopia, bagaimana kalau seluruh negara Asia meng-embargo (minyak dan pangan) negara produsen senjata seperti Amerika Cs. ?? Bukankah bom tersebut akan berhenti…

    Itu senjata ampuh benarnya. Sayang sekali, negara2 Arab yang kaya minyak terlalu takut jatuh miskin… :evil:

    @ rima fauzi

    Ya, mbak. Banyak teori tentang kenapa perang ini meletup. Saya membaca statemen pemuka Israel bahwa penyerbuan sudah direncanakan berbulan-bulan. Jadi, andaikata Hamas tidak menembakkan roket pun penyerbuan itu tetap akan ada? Heheheh… benar-benar mencari dalih saja yang diperlukan bukan? :mrgreen:

    @ frozen

    omong-omong, saya jadi penasaran, ke mana Pan Arabisme yang didengung-dengungkan itu, jika negara2 arap sono pada diam? :-?

    Lupakan mereka! Anggap sudah mati saja! :(

    @ jensen99

    Nah, saya tertinggal banyak rupanya. Sori lagi lex…

    Ndak apa-apa… :D

    Ini sudah dijawab sendiri sama bro buat dnial kan?

    Ya, sudah. Tapi saya tidak puas, jika alasan karena Tuhan terlibat maka kesakitan bangsa Israel boleh ditebuskan ke bangsa lain :)

    Iya, direply-mu tuk dnial juga sudah jadi kajian teologis; tambah pelik nanti kalo saya juga menambahi. ;)

    :lol:
    Ini sebabnya saya enggan membawa agama dalam pembahasan Israel. Apalagi jika berdasarkan Kitab Suci. Itu konyol… bagaimana dengan para atheis damai yang cuma melihat sejarah sebagai bentuk dari materi-dialektika-historis ala Marx? Klaim-klaim dan pelibatan kitab suci adalah konyol dalam cakupan global. Tidak semua orang percaya Al Kitab seperti tidak semua orang percaya Quran atau Tripitaka :)

    Oh, yang saya bicarakan itu jaman Alkitab dulu kok. Israel sekarang AFAIK adalah negara sekuler yang menjamin kebebasan beragama. :)

    Are you sure? :)

    Negara itu, tidak bisa tidak, didirikan berdasarkan klaim pada Al Kitab. Saya tidak memiliki keyakinan bahwa sebuah negara yang dalam pendiriannya mencatut pembenaran kitab suci akan bisa bersikap sekuler tulen :?

    Lihat saja pada peta yang disajikan wikimedia itu. Lagi-lagi manuskrip dari al kitab. Aneh… tidak ada negara yang begitu rajin menggunakan kitab sebagai pembenaran utk didirikan selain Israel, kiranya :? Seberapa valid itu? Dan seberapa pula persentase keharusan umat manusia meyakininya? :?

    Israel Raya? Itu cuma wacana, bukan rencana.

    :D

    AFAIK, pendirian Israel sendiri berawal dari wacana dari gerakan zionisme, Bro. CMIIW

    Dasarnya bukan siapa pernah tinggal dimana, tapi janji Yahweh pada Abraham yang cuma menyebutkan batas2 ujung (sungai Nil dan Efrat), bukan detil keliling seperti peta diatas.

    Nah tuh! :lol:

    Lagi-lagi janji the so-called Yahweh. Saya sudah katakan, kalo Tuhan (apakah namanya Yahweh atau Allah SWT) jadi pembenaran, Tuhan itu mesti diturunkan ke bumi dulu, dan agar saya percaya, si Tuhan mesti sujud sama saya dulu. Itu klaim yang absurd.

    Kerajaan Israel jaman Daud dan Salomo pernah mencapai ujung2 itu, tetapi itu pendudukan militer & bukan didiami. Mekah? Itu jauh diluar ‘garis’, dan Alkitab tak pernah mencatat beliau kesana. Mentah sekali kalo ada klaim Israel disana. ;)

    Klaim terhadap Mekah mentah, ya. Tapi bukan tak ada. Ini jadi masalahnya. Semua berawal dari klaim, mulai dari klaim dengan perjanjian bersama Tuhan, yang tidak saya temukan tanda tangan Tuhan dalam surat tanah di manapun :)

    Oh, warna hijau dan putih itu wilayah Israel semua.

    Semua? :?

    Seluas itu? Fakta sejarahnya darimana, selain Al Kitab? :?

    Tetapi petamu membingungkan lex, AFAIK cuma 2 gambar tengah yang akurat. Ujung kiri-kanan tidak. Seluruh wilayah Otoritas Palestina sekarang adalah semua hijau di gambar 3 lho. :)

    Mungkin… mungkin…
    Tapi saya melihat peta itu lebih menjelaskan bagaimana pergerakan aneksasi sebuah negara terhadap wilayah diluar zona yang diproklamasikan pada 1948.

    Kalo peta2 pra Israel merdeka kadang saya cari disini.

    Itu juga sama membingungkan lho. Beberapa peta seperti di sini menjabarkan peta di bawah protektorat. Itu peta kolonial. Dan tidak bisa menjadi klaim bagi Israel utk didirikan hanya karena sebuah mandat. Kalau karena pernah diduduki oleh satu negara lalu jadi “berhak dihibahkan”, maka kesultanan Ottoman memiliki hak yang sama.

    Hal yang sama berlaku pada persebaran mereka di peta ini. Ada dua pertanyaan mendasar:

    1. Apakah peta tersebut sudah berbentuk sebuah wilayah berdaulat? Jika tidak, maka mereka cuma penduduk yang sama seperti banyak bangsa-bangsa lain saat itu.

    2. Sumber peta tersebut apakah dari al kitab lagi ataukah dari manuskrip sejarah yang lebih otentik? Ini jadi masalah, karena klaim di al kitab akan susah utk diterima, karena berkenaan dengan keyakinan dan tidak menjamin keberpihakan yang adil.

    3. Jika karena alasan pernah didiami, maka apakah bangsa lain yang pernah mendiami juga tidak memiliki alasan yang sama utk mendirikan wilayah berdaulatnya sendiri?

    Istilah saya. :mrgreen: Saya tau kok maksudmu, bahkan Fatah yang sos-dem sayap kiri juga pernah berjuang gaya ekstrim dulu. Susah saya cari kata2 yg pas. Anti-kompromi?

    Anti-kompromi… Ya, Mungkin itu tepatnya. Meski saya melihat bahwa Hamas sendiri sudah sedikit melunak sebelum invasi di Gaza ini berlangsung. Seperti komen saya pada Rima Fauzi di atas… alasan bahwa Hamas ekstrimis itu lebih seperti mencari dalih utk sebuah penyerbuan yang sudah lama dipersiapkan… :?

    AFAIK Mesir-pun hanya mengakui Fatah (jg lebih cocok secara haluan).

    Pemerintahannya, iya. Rakyatnya sepertinya tidak. Tapi lupakan rakyatnya dulu… Pemerintahannya ini lebih seperti tidak ingin radikalisme ala Hamas merambah ke negaranya. Yah, utk sebuah negara yang sedang cukup stabil, itu alasan yang bisa dimengerti :roll:

    Selain itu mereka punya hubungan baik dangan Israel dan AS.

    :lol:

    Saya tidak heran dengan powerfulnya dua adik-kakak itu. Donasi bantuan adalah tuhan lain di muka bumi :mrgreen:

    @ goldfriend

    Salah satu “kesalahan” Kalifah Umar pada waktu menguasai Yerusalem adalah membangun Masjid Al-Aqsa tepat di tempat bekas-bekas reruntuhan yang diyakini oleh Kaum Yahudi sebagai Haekal pada jaman dulu.

    Secara pandangan muslim, masjidil aqsa itu sudah ada ketika Abraham sempat tinggal di sana. Tidak dalam bentuk bangunan besar seperti hari ini. Tidak pula dalam bentuk yang dipugar kembali oleh Umar.

    Tapi bahwa ada kritik pendirian kembali oleh Umar diatas reruntuhan Haikal Sulaiman, itu harus diterima. Ada pembenaran menurt kalangan muslim dalam hal ini: bahwa justru itu merupakan upaya penjelasan tentang nubbuwah messiah yang melebur Yahudi dalam identitas baru sebagai Islam.

    Ah, tapi jelas klaim berdasar agama ini susah diterima, Islam bukan satu-satunya agama di bumi soalnya. Jika agama dibawa serta, John Lennon mesti bangun dari kubur dan bernyanyi Imagine kembali jadinya :lol:
    Karena itu, pandangan ini tak bisa dipaksa. Perlu catatan sejarah yang independen dari keterikatan pada manuskrip agama utk ini :)

  78. Halah! Salah quote itu buat bang Fertob :cry:

    “Halo… Kopral Geddoe? Ya… ini alex… tolong dibenahi quote saya ya! … Oke.. makasih…”

    *teriak pake mikropon di telepon*
    .
    .
    .
    *diracun*

  79. Wekekeke… Oke kesampingkan dulu klaim teologis Alkitab. Walau sebenarnya bukan klaimnya yang aku tekankan tapi sejarah dan prophecy bangsa Yahudi masa lalu dan sekarang. Lebih ke penjelasan latar belakang, dan jelas aku percaya tujuan tidak membenarkan cara.

    Aku sepakat dengan CY harus ada penyelesaian damai untuk ini. Gandhi pernah berekata “Jika mata ganti mata, maka semua orang akan buta.” Masalahnya nggak ada arbriter yang bisa dihormati baik oleh Hamas ataupun Israel. Dan AFAIK ini bukan perang Israel vs Palestina tapi Israel vs Hamas warga Gaza “hanyalah” collateral damage. Damn it!

    Israel nggak percaya Hamas, Hamas apalagi. Selama gencatan senjata kedua pihak saling memperkuat diri dan mencari-cari alasan untuk melakukan penyerangan. Alasan kecil seperti seorang warga Palestina didorong oleh tentara Israel bisa membuat perang pecah.

    Lalu, membaca interview yang ditunjukkan oleh bro Jensen di blognya aku terhenyak. WTF is this? Negara macam apa yang politikusnya memeras pemimpin negara lain dengan holocaust? Ini sama seperti misalnya, Bosnia yang selalu menunjuk genoida-nya Slobodan Milosevic dalam setiap perundingan dengan Serbia. Jika aku jadi orang Israel aku akan merasa jijik jika pembantaian kakekku dijadikan komoditas politik.

    Soal Zionisme, setelah aku baca, aku terkesan. Tapi aku menyadari seindah dan sebaik apapun suatu ide, aplikasinya juga penting.Ide Zionisme sangat mulia, eksekusinya… fuck it!

    IMHO, cara yang digunakan pada awal pendirian negara Israel adalah cara yang lebih damai. Israel membeli tanah dari pemukim, makin lama makin besar, lalu mendirikan negara di tanah yang dibeli. Absurd, tapi lebih damai. Daripada berperang kenapa Israel nggak beli jalur Gaza, menggusur warga Palestina yang kaya karena penjualan tanah.

    Kalau nggak dijual? Damn I’m stuck! :(

  80. Lha ini ngapaen lagi pd ngurusin? ntu pan cman pertengkaran keluarga, 2 klan 1 keturunan beda ibu doank, yahudi dari ishak dan arab dari ismael, tetep kakek ibrahim, ya gitu dah, pertengkaran lucu antar sodara! lagian kalu islam adalah peleburan yahudi baru ntu bs dikaji deh mengingat ajaran2 ke-dua agama tersebut sebenarnya sejalan tidak seperti kristen yg sama2 agama semitik tp rada2 bias, paling tidak yahudi ma islam tidak menggunakan kata ganti ALLAH/YHWH dlm setiap perpindahan bhasa, kalu krist pan udah jelas diganti dg God ato apalah yg py kt jamak gods dan goddes,..??? tp secara haluan ke-3 agama semitik tersebut sama kok! jd menurut gw ini cman konflik sodara aje, lha qta? bukan arab bukan juga yahudi, ngapaen sok ikut2an :D

  81. @Alex

    Yang menjadi pertanyaan saya, dibalik kata nasib dan samsara itu apakah ada kepasrahan utk menerima begitu saja?

    Sebenarnya istilah pasrah kurang tepat, Samsara bisa dialami akibat dari perbuatan masa lalu, jadi kalau masa sekarang kita masih membunuh (krn merasa di dzalimi misalnya) maka siklus itu akan berputar terus tanpa habis. Tapi disaat kita berhenti melakukan hal2 yg bisa menuai samsara maka dimasa depan akan menuai bahagia. Begitulah prinsipnya Lex.
    Sbg contoh: bila harta kita dicuri oleh si A, apakah kita balas mencuri di rumah si A?? Atau kita adukan ke polisi?? Katakanlah kita adukan ke polisi tapi polisinya kongkalikong dgn si A. Apakah kita tetap balas mencuri ke tempat si A?? Kalau kita balas mencuri maka polisi yg kongkalikong dgn si A tsb akan punya bahan utk menahan kita dgn tuduhan kasus pencurian.

    Berhenti pasti ada.

    Untuk catatan: konflik Israel dgn suku bangsa disekitarnya belum pernah berakhir bro sejak sebelum Masehi, itu karena keras kepalanya mereka. Karma2 buruk yang diperbuat pendahulu mereka masih terus dilanjutkan oleh generasi muda Israel. Kalau saya melihat, holocaust yg dilakukan Jerman atas Yahudi adalah balasan karma mereka di masa lalu saat melakukan genosida atas suku bangsa lain. Jadi.., adakah yg mau ikut pola hidup mereka yg terperangkap dlm samsara tiada ujung??

    @Kopral Geddoe
    Btw, hari ini masuk BOTD lho hahaha… mungkin gara2 obrolan kami2 ini, padahal isi postingannya cuman lagu. :mrgreen:

  82. @ CY

    Hari Kamis saya cek BOTD dan entri ini tercantum di sana. Saya juga bingung — ini kayaknya murni karena diskusi?

    Soalnya ya itu, isinya ‘kan cuma lagu. :)

Comments are closed.