Asu 2

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Saya salah beli bohlam. Memang kelihatannya bohlam yang bagus — hemat energilah katanya. Hanya saja warnanya putih benderang; lupa padahal tadinya cari yang sedikit kuning. Padahal ini lampu buat malam hari; mesti kuning!

Harganya mahal pula; empat puluh lima ribu. Ditunggu ia rusakpun terlalu lama, sebab konon barang laknat ini tahan nyala sampai tiga tahun lamanya! :evil: Mungkin besok saya perlu puasa buat beli bohlam kuning saja — mood itu penting, dan bohlam kuning itu esensial!

*grmbl2*

*tak penting*

*BTW itu logat koena kok kebawa-bawa? Siyal. :( *

About these ads

20 thoughts on “Asu 2

  1. Coba bohlam itu dilapis dengan cat kuning semitransparan… atau bung bikin kap lampu dari plastik kuning saja untuk menutupi bohlam itu :D

  2. Setuju sama Catshade… pake spidol juga bisa,,, cari yang warnanya dicintai…

    Tapi kenapa harus kuning seh? Saya malah lebih suka putih kalau buat lampu…

  3. Sebagai salah satu self-proclaimed-enviromentalis saya mengecam kebijakan anda menggunakan lampu bohlam. Pakai lah lampu neon yang lebih hemat energi!

    *dilempar bohlam*

  4. lha? matjam mana bisa begitoe Boeng? apa Boeng membelinja tanpa tiada ditjoba dahoeloe, sehingga bisa memastiken bahwasannja itoe lampoe sesoeai keinginan Boeng. Djika ija, berarti Boeng samma sahadja seperti membeli koetjing dalam karoeng.
    .
    omong2 djikalaoe Boeng masih gondok, matjam mana djikalaoe itoe bohlam dilelang sahadja, saja ada pikir itoe bohlam bisa lakoe keras

  5. *BTW itu logat koena kok kebawa-bawa? Siyal. :( *

    Gyakakak… itu logat memang susah lepasnya. :lol:

    *pengalaman pribadi*

    BTW, memang ada semacam kenikmatan tersendiri dalam dia punya bahasa. Tiada bandingannya dalam Bahasa Indonesia punya Bung. (o_0)”\

Comments are closed.