Dual Boot

Saya sedikit tidak sreg dengan dual booting. Mungkin karena komputer itu adalah sesuatu yang personal.

Ibaratnya saya punya dua tempat kos. Dan setiap saya pulang dari kampus, saya mesti bertanya pada diri sendiri; “Hari ini pulang ke kosan yang mana?”.

* * *

Nah, awalnya saya hanya punya satu tempat kos saja. Di tempat kos yang satu ini tidak terlalu bebas. Banyak batasannya; merokok tidak boleh, bawa pacar tidak boleh, dinding tidak boleh ditempeli, dan seterusnya. Biayanya pun sedikit lebih mahal. Ah, di sana juga banyak nyamuk. :P

Kemudian saya tertarik Kos yang kedua ini, ternyata lebih bebas, boleh seenaknya, boleh bawa pacar ke kamar, boleh merokok, dan sebagainya. Konon juga lingkungannya lebih sehat. Pokoknya konon tokcér. :D

Tentunya lebih baik pindah, bukan?

Setelah dipikir-pikir, saya jadi masygul. Perkaranya, layanan-layanan yang disediakan di kos yang kedua ini pun bukanlah yang betul-betul saya perlukan. Memang boleh memboyong pacar ke kamar, tapi buat apa, pacar pun tak ada. Memang boleh bawa botol Jack Daniel’s ke dalam, tapi buat apa, saya tidak minum. Memang boleh merokok di kamar, tapi buat apa, saya tidak suka merokok di kamar. Memang boleh menempel poster di dinding, tapi buat apa, saya tidak terlalu suka. Memang tidak ada nyamuk, tapi toh di tempat yang lama saya pakai obat anti nyamuk secara teratur dan sejauh ini tidak ada masalah. :?

Lebih jauh lagi, rupanya di tempat kos yang bebas ini, saya kehilangan beberapa layanan yang saya dapat di tempat kos yang lama. Misalnya mesin pengering baju. Di sini, walau baju juga bisa kering, tapi mesti dijemur. Tidak sepraktis di tempat kos yang lama. Dan tentu sangat merepotkan untuk memindahkan mesin pengering itu ke tempat kos baru. :| Penghuni tempat kos ini juga sudah meminta supaya pemilik membeli mesin pengering, namun belum ada tanggapan yang memuaskan.

Di sana juga makanan yang disajikan di kantinnya tidak terlalu enak. :? Di tempat kos yang lama, kantinnya lebih mewah, dahsyat, dan wahwah.

Karena bingung, saya pun tinggal di dua tempat kos sekaligus, dan mengeksploitasi kelebihan masing-masing. :mrgreen: Tapi lama-lama kok rasanya janggal. Perhatian jadi terbagi. Kamar pun jadi tidak personal. Agak susah untuk dijelaskan, yang pasti rasanya janggal. Mirip punya mobil yang memiliki dua setir; di kiri dan di kanan. :lol:

Dan setiap kali pulang dari kampus, saya akan terus bertanya-tanya; “Hari ini pulang ke mana?”

* * *

Jadi ya itu sebabnya saya jadi sedikit bingung. Murni feel estetika-nya saja, sih. :) Memang hanya “setir”-nya saja yang beda, sebab selama berpoligami ini “muatan”-nya saya buat di partisi berbeda. Tapi tetap saja terasa aneh dan ada yang mengganjal.

Duh…

BTW, saya sempat tergoda memakai analogi istri ketimbang tempat kos. Namun hati nurani saya berhasil menghentikan saya.

*masih membayangkan gambaran [istri pertama] dan [istri muda].*

28 thoughts on “Dual Boot

  1. Bisa nyari cedega biar bisa mainin games Windows di Linux. NFS carbon, Counter Strike dan RF setahuku bisa jalan.
    Tapi… yang ini ndak gratis je..

    Atau pakai caranya temenku… pake virtual machine yang dipasangi windows di Linux (cara sebaliknya lebih boros memori), atau dalam kata lain, angkut semua di kos2an yang lama ke kos yang baru.

  2. wahh itu keren juga idenya,
    angkut kos lama ke tempat yang baru,
    jadi gak perlu pindah2 ke 2 tempat, tapi bisa menikmati semuanya.
    ibarat menampung istri pertama dan kedua di satu kasur…
    wakakaka..3some dong! :D

  3. wakakakak…keren nih pendeskripsiannya. saran saya, punya 2 rumah aja, gak dilarang sama ibu kos. ketimbang kos yang banyak larangannya, mending nyicil beli rumah.. :lol:

    *komenmacamapapulaini* :lol:

  4. Tapi di kos lama listrik byar pet (kayak pln) air sering mati ‘n telpon putus-putus mas. Terus percaya apa nggak seringkali pas kita masuk kamar kos kadang barang-barang kita suka pindah sendiri (ada penunggunya kali).
    Di kos baru emang fasilitas penunjang kurang tapi listrik air sama telpon lancar.
    Sayang masih terjebak di kos lama gara-gara kerjaan hmmph ….

  5. Kelebihannya kos baru dibandingin kos lama, starter pack-nya lebih memadai. :D

    Di kos lama mesin pengering baju harus beli sendiri, tapi awalnya gak dikasih. Di kos baru, biarpun sekadar jemuran, tapi udah dikasih dari awal.

    Belum lagi meja tulis dan ATK di kos lama harus dibeli dengan harga relatif mahal. Sementara di kos baru meja tulis dan ATK langsung diberikan cuma-cuma. ^^

    BTW, saya sempat tergoda memakai analogi istri ketimbang tempat kos. Namun hati nurani saya berhasil menghentikan saya.

    Itu bukannya bestiality? Sama penguin gitu loh… >_>

  6. Udah terlanjur terbiasa ama istri pertama, gak minat nyoba istri baru. Pernah sih, dikasih temen. Ribet…kaku banget.

  7. @ Sora9n

    Itu bukannya bestiality? Sama penguin gitu loh… >_>

    ….

    Kalian ini memang fetishnya aneh-aneh. Dari sepatu sampe penguin… :mrgreen:

  8. katanya seh what u need is not what u want,..
    pilih salah satu aja mas, trus jaga baik2,..

    hihihihi,..

  9. @ dnial | SiMunGil

    Soal Cedega dan kroni-kroninya ‘kan sudah diwakili Wine?

    Dan tentu sangat merepotkan untuk memindahkan mesin pengering itu ke tempat kos baru.

    Kalau “mengangkut perabotan dari tempat kos yang lama” ini yang mana pula? :P

    @ cK

    Satu komputer dengan dua OS saja sudah janggal, apalagi pakai dua komputer? :?

    @ Shinte Galeshka

    Ya sejauh ini masalahnya saya tidak pernah pakai itu Windowsnya dengan berlebihan sampai masalah-masalahnya muncul, mas/mbak. :)

    @ ManusiaSuper

    Hohoho! :lol:

    @ sora9n

    Kelebihannya kos baru dibandingin kos lama, starter pack-nya lebih memadai. :D

    Ya masalahnya saya udah beli semuanya, je (nyolong kalau mesin pengering bajunya). :| Kalau baru mau pindah kos, mungkin saya pilih yang kedua. Kalau sekarang, ‘kan beda ceritanya. :P

    Itu bukannya bestiality? Sama penguin gitu loh… >_>

    Lho, kok penguin? ‘Kan saya sudah kasih linknya?

    *masih membayangkan gambaran [istri pertama] dan [istri muda].*

    Tuh. :lol:

    @ funkshit

    Soalnya punya saya legal dan halal. :twisted:

    @ gentole

    Mungkin juga. Tapi lama-lama agak tertarik juga sama allure geeky-nya. :D

    @ Mihael Ellinsworth

    Kalau ente sangat jelas kenapa berpendapat demikian. :mrgreen:

    @ alex®

    Sudah saya bilang; kalau istri keduanya itu [ini], bukan penguin. :| :lol:

    @ bayu

    Mungkin saat ini tinggal di kosan pertama saja, sekali-kali main ke yang kedua. :)

  10. Kalau analoginya istri, saya lebih suka make Windows-tan bersaudari (Kecuali si ME-tan yang lemot :P), soalnya ‘RAM’nya gede-gede… >_>

  11. Waduh, musti dicari dulu nih dalilnya, biar tambah rame sreg lagi. Batasan “poligami” yg satu ini nggak ada batasannya khan?

    [kabur!]

  12. @ K. geddoe

    Lho, kok penguin? ‘Kan saya sudah kasih linknya?

    *masih membayangkan gambaran [istri pertama] dan [istri muda].*

    Sejak kapan bayangan ente pasti sesuai sama kenyataan? :lol:

    Ente mau mbayangin ubuntu-tan kayak gimana pun, gak mengubah kenyataan. Dunia internasional mengakui penguin sebagai maskot linux kosan baru — bukannya cewek moe yang baru muncul kemaren sore. :mrgreen:

    [/sadis mode]

  13. ndak ngerti :|
    dan juga bukan pengguna HP
    tapi kebayang kalo punya dua kosan, mahal! :lol:

  14. Sampeyan itu sombong yah, mentang2 punya duid buat beli windows… dan karena windows bisa segala2nya… bisa games segala macem… saya cuman newbie linux… gak punya duid buat beli windows or mac kayak sampeyan..

    saya aja pengguna linux yang masih baru gak gitu2 amat sama pengguna windows or mac…

    ah sudah lah mungkin pengguna linux dianggap orang sombong/aneh/bego oleh sampeyan…. gak kan pernah didengar or ditanggapi….

    lebih baik saya gak bisa windows, daripada bisa jadi sombong… lebih baik pake yang legal biarpun diledekin ini itu gak bisa….

    good bye
    i’m sorry

Comments are closed.