Kupipes trilogi kasus perkosaan heboh di Saudi Arabia, dari Telegraph.
pt. 1: 200 lashes for Saudi gang rape victim
[17 November 2007]
A Saudi woman has been sentenced to 200 lashes and six months in prison after she was the victim of a gang rape.
The sentence against the 19-year-old Shia woman from Qatif, in the Eastern Province of the country, was passed because she was in the car of a man who was not a relative at the time of the attack, which contravened strict Saudi laws on segregation.
A court had originally sentenced the woman to 90 lashes and the rapists to jail terms of between 10 months and five years but increased the punishment after an appeal, saying the woman had tried to use the media to influence them.
According to the Arab News newspaper, the woman was gang-raped 14 times.
Her offence was in meeting a former boyfriend, whom she had asked to return pictures he had of her because she was about to marry another man.
The couple was sitting in a car when a group of seven Sunni men kidnapped them and raped them both, lawyers in the case told Arab News.
The former boyfriend was also sentenced to 90 lashes for being with her in private.
The victims’ lawyer, Abdul-Rahman al-Lahem, was also ordered to face disciplinary action after he spoke to the media about the original sentence.
“My client is the victim of this abhorrent crime. I believe her sentence contravenes the Islamic Sharia law and violates the pertinent international conventions,” he said.
“The judicial bodies should have dealt with this girl as the victim rather than the culprit.
“The court blamed the girl for being alone with unrelated men, but it should have taken the humane view that it cannot be considered her fault.”
The crime of rape can carry the death penalty in Saudi Arabia.
pt. 2: Saudi Arabia to review sentence on rape victim
[Damien McElroy; 23 November 2007]
Saudi Arabia has promised to review a court’s decision to sentence a rape victim to 200 lashes after the verdict sparked international outcry.
The US State Department was joined by human rights groups in condemning the ruling. Hillary Clinton, the Democratic frontrunner, described it as an “outrage”.
The 19-year-old victim was raped by seven men after the car in which she was travelling was forcibly stopped.
She was sentenced to 90 lashes and six months in prison because she was in the car with a man who was not a close relative.
When her husband then publicly criticised the judicial system, an appeals court judge increased the sentence to 200 lashes. The sentence has yet to be carried out.
Adel al-Jubeir, the Saudi ambassador to Washington, said the case would be re-examined.
“This case is working its way through the legal process. I have no doubt that justice will prevail.”
pt. 3: Saudi Arabia defends sentence for rape victim
[Megan Levy; 26 November 2007]
Saudi Arabia has condemned Western interference in the case of a rape victim who was sentenced to 200 lashes and six months in prison.
The Saudi Justice Ministry today confirmed that the flogging sentence would be carried out after the 19-year-old admitted to cheating on her husband in violation of Islamic laws.
The case sparked an international outcry after a Saudi court sentenced the girl to 90 lashes and a prison-term because she was in a car with a man who was not a close relative.
When her husband then publicly criticised the judicial system, an appeals court judge increased the sentence to 200 lashes.
Her offence was in meeting a former boyfriend, whom she had asked to return pictures he had of her because she was about to marry another man.
The couple was sitting in a car when a group of seven Sunni men kidnapped them and raped them both, lawyers in the case told Arab News. The former boyfriend was also sentenced to 90 lashes for being with her in private.
A review of the sentence was ordered after condemnation from the international community and human rights groups.
However the Saudi Justice Ministry today maintained that the ruling was legal and followed the “the book of God and the teachings of the Prophet Muhammad”.
The Justice Ministry’s account of the incident differed substantially from that given by the woman and her lawyer.
It largely glossed over her rape, focusing instead on her plan to meet her lover in his car “in a dark place where they stayed for a while”.
“Then they where spotted by the other defendants as the woman was in an indecent condition as she had tossed away her clothes, then the assault occurred on her and the man,” the statement said.
“The Saudi justice minister expressed his regret about the media reports over the role of the women in this case which put out false information and wrongly defend her.
“The charged girl is a married woman who confessed to having an affair with the man she was caught with.”
Under Saudi Arabia’s strict interpretation of Islamic Sharia law, women are not allowed in public in the company of men other than their male relatives.
* * *
Jadi, pertama wanita yang (dengan berprasangka buruk sedikit) dinikahkan paksa di usia 19 ini, menemui mantan pacarnya untuk ‘menyita’ sejumlah foto-foto; tentunya didasarkan niat menjadi istri yang baik. Kemudian, shit happened dan sang wanita malang di-gangbang sampai empat belas kali. Hadiahnya, jangankan dihibur dari sebuah syok psikologis yang hebat, pemerintah menghadiahinya hukuman cambuk, plus tiket menginap selama beberapa bulan di hotel prodeo.
Lumayan berbahaya buat image Islam secara umum…
IMO mesti ada upaya menolak hak Wahhabisme untuk tampil seolah-olah sebagai aliran yang representatif terhadap Islam. Atau ada komentar lain?


Btw, katanya ceweknya Syi’ah… Mungkin perlu digarisbawahi, ya? Wahhabisme dan Syi’ah… Hmmm…
Hakimnya siapa sih?
Btw, coba baca novel kalau enggak salah judulnya “Burned Alive”.
Lemme guess. ICCPR, CEDAW, UDHR, and so many legal cases plus Opinio Juris.
Di novel Girls from Riyadh (baru baca reviewnya sih), ditulis kalau di Arab Saudi itu kaum Syiah ada warga negara ‘kelas 2′.
Eh2, yang ngomen pertama kali gw apa elo sih?
Hukumnya demikian mengerikan,
maaf, mengerikan ini dalam pandangan saya,
tentu diluar sana ada pula yang setuju
ah entahlah, kesadaran kemanusiaan itu pergi mungkin??
Ini nulis ada 3 komentar, tapi komentar gw yang kedua ilang.
@Goop
Apabila manusia terlalu saklek sama prosedur dari suatu aturan, maka bisa saja inti atau tujuan dari aturan tersebut jadi hilang.
Yang ini ralat. Yang bener: “ICCPR, CEDAW, dan UDHR”. Main convention-nya, bisa ditambahin sih. Btw, Arab Saudi enggak ratifikasi CEDAW dan ICCPR, mungkin pake Deklarasi Kairo bisa.
Sepertinya bisa: http://www.religlaw.org/interdocs/docs/cairohrislam1990.htm
Arab Saudi kan anggota OKI, jadi seharusnya tanda tangan.
Sekular… sekular… sekular….
@ Nenda Fadhilah

Ente ngomong apa, ane kok jadi binun…
Pokoknya ini kira-kira bisa diapaken? Tulung dijelasken tanpa terminologi hukum yang keliwat njelimet…
@ goop
Saya juga nggak habis pikir, paman.
@ danalingga
Amen to that, master…
Subhanallah… Telah aku saksikan bagaimana penerapan syariat secara formalistik betul-betul “menjamin” hak kaum wanita…
Nah kan? Saya bilang juga afa?!?
Perempuan memang selalu membangkitkan syahwat lelaki. Kalau sampai syahwat bangkit, tak terkendali dan sesuatu yang buruk terjadi, maka sudah jelas bahwa semua itu adalah salah si perempuan!!
Maka dari itu, kita sebagai manusia yang beriman, sebagai umat yang paling benar sedunia akhirat, harus bersama-sama membungkus semua perempuan rapat-rapat, kawal dan awasi selalu kemanapun mereka pergi, jangan biarkan mereka membangkitkan syahwat dan menjerumuskan lelaki ke jurang neraka.
Waspadalah ya akhi, waspadalaaaargh… oh yes… oh god… ough!!
…………..
@ Tito
Dan katanya syariat versi Wahhabi itu bisa saja diimplementasikan di Indonesia, lho.
@ Guh
Tapi itu semua ‘kan demi kebaikan wanita juga™
@ eMina
Wah, jangan komen kayak begitu, tho. Saya ‘kan jadi susah menerka-nerka maksudnya apa.
Yaaa, intinya Arab Saudi melanggar Deklarasi Kairo. Kalau yang ICCPR (hak sipil dan politik), CEDAW (hak wanita), dan UDHR (deklarasi HAM) agak2 susah soalnya arab Saudi enggak menyetujui konvensi2 tersebut. Padahal kalau setuju, ‘kenanya’ banyak.
Pokoknya, gitu deeh.
hmmm…
Mungkin ini akibatnya kalau “Hukum derajatnya lebih tinggi dari Manusia” … hal ini membuat kesan kalau “Manusia dibuat untuk mematuhi Hukum” … Nah lho…
@ Nenda Fadhilah
*baru ngeh*
Lalu kenapa pula mereka nggak menandatangani konvensi-konvensi tersebut? Atas landasan fundamentalisme jugakah?
@ Jabz
Wah, bijak! Quote yang memorable!
Kemana nih para aktifis yg biasanya mengutuk amerika, bush, israel, dll, dst
Ayo dong demo arab saudi!
Jangan lupa disana perlakuan ke TKW kita kayak gimana, bergerak dong!
(mode panas on)
Ngasih Link:
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/23/time/105631/idnews/856542/idkanal/10
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=19906
Idem sama mas anthonysteven.

Tapi biasalah mas, standar multi.
@ anthonysteven | rozenesia
Itu dia, saya kok belum pernah lihat demo pake yel-yel Allahu Akbar yang ditujukan pada kebejatan perlakuan atas TKI di sana?
Alasan resminya sih masalah perbedaan budaya.
Malahan katanya (baca entry-nya Bang Aip) ada WNI di sana yang malah menyalahkan TKI… Lha?
Ya sudahlah, wong ngerasa paling benar susah lah…
@ Nenda Fadhilah
Bingo.
@ rozenesia
Itu namanya indoktrinasi, brader.
Saya barusan dibilangin bersikap tendensius terhadap negeri ini, dan cenderung ada sentimen untuk mendiskreditkannya. Tapi membaca postingan ini, saya rasa saya tidak sendirian.. Saya rasa berita-berita di atas juga merupakan upaya tendensius untuk mendiskreditkan Saudi. Pasti ini hasil rekayasa Yahudi™ dan kafir™ barat™
Jangan lupa Amerika™, Bush™, Kabbalah™, Freemason™, atheis™, dan komunis™.
Solusinya? Ganti hukum bikinan Belanda™ dengan hukum yang syar’i™.
p.s. Syar’i versi siapa dulu?
Sejauh yang saya baca sih, si cewek itu dihukum cambuk karena bepergian tanpa mahram menemui mantan pacarnya… dan kemudian kebetulan digangbang 14 kali oleh orang2 lain lagi. (o_0)”\
IMO, seandainya pun dia tak diperkosa, dia masih akan tetap dikenai hukum cambuk. Karena ‘dosa’ beliau adalah berduaan dengan cowok lain di luar rumahnya sendiri…
…
…
*benarkah wanita tak boleh pergi sendirian ke luar rumah?*
*benarkah mereka harus dihukum cambuk gara-gara melanggar peraturan itu?*
*ditambah lagi, layakkah hukuman itu diterapkan sambil mengabaikan keadaan mental dan fisik si terdakwa?*
[open question]
:::::
@ Nenda Fadhilah | Jabz
“Lo! Men have become tools of their tools.”
–Ecclesiastes
Sisi buruk dari penerapan syariah (uu) Islam kah, atau sisi buruk dari pelaku yang memanfaatkan isu syariah (uu) Islam.


Akibat buruknya realita keterlibatan (politik, ekonomi, teknologi, …) ummat di era ini, segalanya memang menjadi [tampak] buruk.
Bahkan sejumlah orang terheran2 dan tertawa2 melihat seorang muslimah tatkala shalat di pinggiran mal di negeri “kafir” sana…
Sama sekali tidak rasional wanita itu … Memang.
————————
Sementara di sisi lain, sebagian dari ummat ada ada yang tersanjung2 dengan masa lalu penerapan syariah [menurutnya], tanpa melakukan apap un dari [nikmatnya] sanjungan tersebut …
————————
Kita sama2 lupa …
————————
Fundamentalisme perlu pemaknaan yg baru, atau jangan gunakan sama sekali …
Tapi makna yg sekarang pun aku kurang menguasai … Apa ya ?
*geleng2 kepala..*, kemana ya nuraninya si ‘penghukum’
Memalukan, Ged… Memalukan…
Itu sebabnya aku tdk pernah menerima wahabbisme sebagai mainstream Islam. Kasar, ndak rahmatan lil alamin…
*menunggu sanggahan
para bigotwahabbers*@ Kopral Geddoe
Untuk apa? Itu bunuh diri namanya. memangnya ente mau nanggung kalo donasi berenti? Itu sama saja melecehkan bangsa arab, bangsa paling terpilih di muka bumi!
*nyamar jadi fundamentalis™ *
@ sora9n
Benar. Kalau nggak salah Mahathir Mohammad pernah menulis wanti-wanti senada di sebuah buku beliau. Bagaimana penerapan hukum (dalam hal ini, hukum Islam) secara ketat dan literal malah akan melanggar doktrin-doktrin moral mendasar (dan universal) yang ada.
@ Herianto
Dalam hal ini lebih kepada pelaku, Pak. Menurut saya, walau sebenarnya offshoot puritanis a la Wahhabisme mampu menyajikan basis skriptural yang kuat, nyatanya pelaksanaan yang ada jelas berbenturan dengan esensi dasar dari Islam itu sendiri.
Soal terminologi “fundamentalisme” itu sendiri, IMO memang istilah bisa saja dianggap melenceng oleh beberapa pihak, Pak. Itu wajar. Terminologi-terminologi teologis sendiri secara bahasa banyak yang ambigu, soalnya. Misalnya ambiguitas istilah theisme dan deisme, pun perkara gelar ‘atheisme’ yang bisa diartikan menjadi dua entitas yang berbeda.
@ warnetubuntu
Nyangkut di punuk onta, kali?
*maap ad hominem; saya lagi agak murka*
@ alex
Saya amini sepenuh hati, deh.
Astaghfirullah!
*bertobat*
@ FajarGM
Maaf, mas, tadi masuk akismet.
Makasih, link yang pertama informatif, walau link yang kedua lebih banyak ad hominemnya (as expected from FFI
).
*lirik atas*
kok dominan yang komentar cowok ya??
*kabur, komen ga penting*
Mungkin karena cowok, secara intuitif, paling berang melihat ada wanita diperlakukan tidak adil.
*serius, lho*
tapi, kenapa para perempuan malah diam ya??
*
bukannya bangsanya konon lagi disakiti??
*ga sadar gender nih
Mungkin karena secara intuitif perempuan punya kecenderungan masokhis?
*becanda*
enak aja, situ bilang saya suka disebat??
*serius*
mulai OOT, udah deh
Oke, oke, OOT dihentikan.
Sakit Pral… beneran sakit. Ini lebih “menghebohkan dunia dan mengguncang iman” daripada The Da Vinci Code.
Aku sempet kafir sesaat saat membaca semua artikel itu.
Coba deh ya aku tanyain ke beberapa orang yang notabene ustadz besok.
Sakit..beneran…sakit.
Tapi, makasih Pral…
@ danalingga :
seculerism is not solution, my master.
*i recommended Pancasila*
@ geddoe :
uh, baca ceritanya saya jadi teringat buku “Burned Alive”. dunia memang bukan milik perempuan Kopral. apalagi dunia yang dimonopoli pemahaman agama sempit.
Yang belum terbahas…
7 orang yang merkosa dihukum apa?
@ nuragus
Kenapa, mas? Perasaan ini bukan yang pertama kali, deh.
Btw, kok jadi nyambung ke Da Vinci Code ya?
@ Pyrrho
Lalu kira-kira solusinya itu seperti apa, ya, mas?
@ dnial
Itu nggak perlu khawatir. Kali ini begundal-begundalnya dihukum juga. Walau AFAIK ada kasus-kasus sebelumnya di mana pada kasus perkosaan murni sang korban malah dirajam.
Maap kalau komentarnya titik2 aja. Karena, pertama, saya blm mengerti berita di atas. Saya bahasa inggrisnya agak lemot, jadi harus ditranslate dulu. Kalau saya belum baca beritanya, saya engga mau komentar. Saya ingin mengkonfirmasi dulu berita itu apakah benar atau tidak. Begitu ^_^
Kadang, media itu bisa memutarbalikkan fakta. Dan itu, jelas, selalu mengiring opini publik pada sebuah tujuan yang diinginkan pihak tertentu.
Tapi, apapun itu, setelah membaca2 komentar, saya jadi sedikit mengerti berita apa itu gerangan. Oya, link yang dikirim geddoe di mass massage di YM itu ga bisa di buka di saya. Jadi saya blm mengetahui berita itu.
Arab, menurut saya, tidak selalu Islam. Islam bukan Arab. Sebuah sistem, jika tidak ditunjang dengan watak, menurut anis matta hanya akan menghasilkan wacana saja. Tidak akan terealisasikan. Jadi selain sistem, harus ditunjang juga dengan watak.
Whatever, memang perempuan itu kalau keluar (sebaiknya) ditemani seseorang, tidak boleh sendirian. Apalagi di negara se -kaliber Arab yang terkenal (kalau di jaman dulu) sangat barbar (maap).
Wahai wanita yang telah “diperlakukan buruk” (apakah artinya sama dengan gangbang? diperkosa?), apa yang bisa saya lakukan? saya tak bisa apa -apa untuk menolongmu, selain menuliskan ini: semoga engkau selalu diberi ketabahan dan kebaikan.
*14 orang?*

*merinding*
agh..tidak berperasaan
Seperti yang saya katakan, praktek Islam yang ada di atas adalah aplikasi Islam versi Wahhabisme, yang, *walaupun* mampu menyajikan dalih skriptural yang kuat, secara intuitif memang bertabrakan dengan prinsip moral dasar yang universal (dan berlaku pada agama Islam juga).
Btw, gangbang itu dilaksanakan oleh 7 orang, kok. Cuma memang sebanyak 14 kali.
tidak usah dibahas gangbangnya !!
itu mengerikan !!!!
mengerikan !!!!
mengerikan !!!!
kenapa (lagi-lagi) saya engga berdaya menolong ya….
berarti saya harus kuat !
*nyari perguruan kungfu*
…silahken.
@Danalingga
Sekular kalau sampai membuat seseorang tidak bisa menjalankan praktek agamanya sama aja bohong. Sekularisme apabila tidak ada toleransi terhadap mereka yang beragama akan sama buruknya dengan fundamentalisme agama.
@Sora9n
IMO, seharusnya disini ada dua kasus. Yang pertama ceweknya bepergian dengan bukan muhrim dan yang kedua pemerkosaan itu. Jangan digabung.
Btw, gangbang itu yang ngerjain spammer kirim attachment file2 gede2 di id-Gmail kan? *pura2 enggak tahu*
@ Nenda Fadhilah
Lha, iya. Itu yang saya maksud.
Makanya, sebetulnya nggak ada hubungannya apakah si cewek itu diperkosa atau tidak. Inti masalahnya kan karena dia pergi keluar rumah sendirian. Alhasil, dihukumlah ia dengan hukum cambuk itu. ^^;;
Kalau saya lihat, kasus perkosaan itu malah cenderung jadi ‘bumbu’ yang diekspos oleh medianya (IMHO). (o_0)”\
Lho, iya ya? (o_0)”\
*cuma tahu lewat gosip aja sih*
@ Nenda Fadhilah
Tapi gimanapun distopia sekular sama distopia religius masih lebih mencekam distopia religius, lho.
@ sora9n
Benar. Walau memang merupakan faktor, kasus perkosaannya sendiri bukan fokus utama. Protes yang dijatuhkan sebenarnya tetap sama, sih; dicambuk dan dimasukkan ke bui karena bertemu dengan laki-laki lain?
Btw, ada, lho, yang mendukung tindakan itu. [link]
@Sora9n
Namanya trial by the press. Dalam KUHP Indonesia juga sebenarnya si cewek bisa kena pasal zina kalau dia emang terbukti selingkuh.
oiyatentusaja *udah kangen ama gangbang ala id-Gmail*
Btw, Indonesia ada pasal zina, ya?
Ada kasus sebelumnya to?
Yang di salah satu negara asia selatan itu? ndak iya? Dimana pral?
Harap dijabarkan….
@ nuragus
Kalo nemu ntar saya post, deh.
Nah itu dia yang saya sekarang ndak ada linknya yang bener-bener komprehensif.
@ Nenda Fadhilah
Sekularisme yang overkill sampai menghabisi hak-hak beritual, biasanya berorientasi pada kemajuan. Di sini agama biasanya dipandang sebagai penghambat, dan mesti ditinggalkan seiring perkembangan teknologi. Di sisi lain, teokrasi yang overkill akan cenderung fatalis, dan berorientasi eksklusivis; dunia luar biasanya dianggap sebagai vortex of impending doom, dan negara yang besangkutan lebih tertarik untuk menyongsong kiamat.
Memang sama-sama menekan kebebasan, tapi saya rasa yang pertama masih lebih baik; ibadah masih bisa covert, tapi sebaliknya lebih sukar.
wadduh, saya rasanya kok pingin ya waktu ke arab sono bisa kebetulan nge-gangbang cewe…waktu haji mungkin…???
*aku punya burned alive, ada yang mau pinjem…???*
eh haji di arab saudi atau dimana yak…???
saya hajinya ketempat yang bisa sekalian nge-gangbang cewe aja lah…
taken from http://clickeral.blogspot.com/2007/11/saudi-rape-victim-flogged-is-queen-next.html#c1655539125754791405
what…??? dasar fasis….
mih… kalo mau kesana harus para wanita harus ngerusak wajah dan bodi dolo biar nggak dianggep “helping create the circumstances of a further crime”
Kemajuan dalam maksud apa? Teori Eugenic yang memicu holocaust, Eksperimen manusia NAZI dan Unit 731 Jepang di China bukannya juga dilakukan atas nama teknologi. Global warming yang mengakibatkan perubahan iklim juga diakibatkan oleh perkembangan teknologi manusia yang tidak mengerti kearifan alam yang pada ujungnya membuat ‘kiamat’ bagi diri mereka sendiri. *make topi eco-anarchist*
Remember, remember the Fifth November. *halah*
Btw, percobaan teknologi bisa covert juga kok.
Kejadian ini harus menjadi auto-kritik bagi kita semua umat beragama, supaya jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi dalam bentuk apapun di manapun.
Jangan sampai atas nama agama kita lalu bertindak tidak manusiawi…
~mariIntrospeksi….
@ celo
Tapi ceweknya yang dari Arab, ya? Jangan TKI— jauh-jauh ke luar negeri masa konsumsi produk lokal juga…
Sip, sip, kapan-kapan kita naik haji sama-sama.
Btw, konon, yang saya dengar, wanita yang hamil karena perkosaan di sana nggak diberi hak aborsi, lho.
@ Nenda Fadhilah
Duh, saya nggak bilang distopia sekular itu bagus; namanya aja udah distopia, mana ada yang bagus? Yang saya bilang cuma, distopia sekular itu lebih membahagiakan daripada distopia religius. Distopia sekular ekstrim a la Stalin misalnya, repotnya cuma nggak bisa ke gereja/masjid. Ibadah covertnya gampang; modalnya cuma ruang kecil rahasia doang. Lha bandingkan dengan distopia yang lebih religius seperti Taliban. Repotnya banyak; kemanusiaan terancam, sains nggak berkembang. Ingat Golden Needle Sewing School?
@ anthonysteven
Tapi kok saya pesimis kalau masalah ini bakal ditanggapi serius. Ada nggak ya aktivis PKS yang bakal demo atas nama kemanusiaan?
Loh, kok si geddoe jadi nyebut2 PKS. Emang ada hubungannya?
Yang mau demo atau protes secara resmi dengan bawa nama PKS, aku belum pernah ketemu. Tapi kalo yang secara individu jengkel dengan hal ini, ada lho, Ged.
Sayangnya, aspirasi demikian konon mentok di organisasi karena ‘kehati-hatian menyikapi permasalahan’. Aneh juga… padahal kalo pun dikatakan masalah umat, ya masalah umat juga. Apakah karena pelakunya adalah dari negara
yang jadi kiblat wahabbiyang imejnya mewakili daulah islamiyah, sehingga takut massa mengambang yang dimiliki jadi kabur ke partai lain?kalo ini gw rada setubuh bro….
soalnya kan mau dia anak orang atau anak bangsat… dia punya hak untuk hidup…. yang jadi masalah kalo anak itu selama dikandung, dilahirkan dan dibesarkan biayanya dibebankan kepada wanita….
aku bukan kaum feminis tapi kalo udah kek gitu rasanya nggak banget juga lah….
btw, kapan kita haji bareng…??? ntar kita kebetulan ngegangbang primadona disono gimana
@ fauzan.sa
Sebagai contoh, mas. Tapi memangnya kenapa? PKS semestinya pro kemanusiaan, bukan?
*tentunya nama PKS bisa ditukar dengan NU, perhimpunan mahasiswa Islam, atau JIL, tanpa mengubah maksud…
*
@ alex
Kalau teori politis seperti itu saya kurang paham, mas. Tapi ya saya memang yakin, sentimen pribadi yang miris melihat permasalahan seperti itu pasti ada.
Kalau betul begitu, sangat disayangkan…
@ celo
Saya memang agak ngambang kalau menanggapi isu aborsi, sih. Tapi sebenarnya teori penentang aktivis anti-aborsi yang menyatakan kalau potensi bukanlah ukuran cukup masuk akal. Mungkin secara alam bawah sadar saya menyutujui aborsi bayi yang belum bisa merasakan sakit…?
Btw, haji mahal. Males.
@kopral
Mendingan naik haji versi saya aja, gratis kok. Tapi ya susah, tapi tetep grati.
Oh iya, saya juga nggak setuju kalo aborsi itu solusi hanya demi menyelamatkan kehormatan semu.
Hajinya kayak gimana, tho?
Btw, kalau isu aborsi itu memang bikin pusing, sih. Aborsi demi kehormatan semu, ya salah. Tapi nggak diaborsi juga, kok kayaknya nggak sepenuhnya adil. Mumet. Kapan-kapan saya tetapkan keputusan kalau sudah dapat wahyu.
loh ged, kok jadi bawa-bawa PKS?
~masihMenungguGerakanProtesYangTakKunjungDatang
Lha jelas. PKS itu gerakan Islam yang tergolong maju dan modern, ‘kan?
Tentunya kasus begini ini bertentangan dengan modernisasi Islam yang dipromosikan, ‘kan?
Bagaimana kalau paham apapun yg di pakai, selalu didampingi nurani-isme ??
ato jangan2 kamu ternyata diam2 mengamati fenomena PKS ini ged?
*pancing geddoe buat bicarain masalah politik*
@ CY
Ini mah sangat setuju. Semoga nggak ada manusia yang menyanggah prinsip dasar seperti ini…
@ Agiek
Nggak, kok. Sumfah, mas.
*baca baca komentar terakhir*
oh, begitu ^_^
agak susah kalo pake nurani-isme soalnya itu kan subjektif sangadh….
hukum al qur’an yang harusnya sangat objektif pun gara-gara tuh hakim dodol….bisa jadi sangadh merugikan dan nggak adil…
apalagi kalo semua berdasar hanya pada hati nurani…
*nurani saya mengatakan meng-gangbang berkali-kali itu g salah sih, tapi nurani yang lain pasti g setuju…
@ eMina
Ya, begitu…
…
…
…
“begitu” itu seperti apa?
@ celo
Ini dia dilemanya… Sebenarnya kayaknya udah ada usaha-usaha ’standarisasi nurani’ dengan berbagai konvensi hukum internasional, deh. Masalahnya ini si Saudi nggak ikut menandatangani.
*nunggu ahli hukum datang berkunjung*
—celo—
“*nurani saya mengatakan meng-gangbang berkali-kali itu g salah sih, tapi nurani yang lain pasti g setuju…”
meng gang bang berkali -kali itu ga salah ?
berarti anda ga punya nurani dong
—geddoe—
dasar geddoe ^_^
ga usah dipikirkan
Ya sudah…
Tapi, orang kayaknya lebih banyak yang protes enggak bisa ibadah daripada enggak bisa sekolah. Tergantung mindset rakyatnya juga sih.
Yaa, apapun itu; harus ada nurani lah.
Hmm, konvensi-konvensi hukum internasional masalah HAM kebanyakan tidak ditandatangani oleh Arab Saudi dan negara2 tetangganya. Jangankan HAM, WTO aja rata-rata enggak ikut. Udah gitu, walaupun masalah HAM sudah merupakan hukum kebiasaan internasional; kebanyakan dari mereka menolak secara konsisten bahwa praktek tersebut berlaku di negara mereka. Jadi agak susah, karena yang mereka langgar juga jus cogens.
Ralat, yang ini seharusnya “Jadi agak susah, karena yang mereka langgar juga belum jus cogens.”
Yah, memang tergantung mindset.
Dan, btw, ternyata memang masalahnya terletak pada keengganan para pangeran padang pasir itu untuk menandatangani konvensi-konvensi?
Bukan tanda-tangan btw istilahnya. Tapi ratifikasi. Kalau tanda-tangan kedudukan hukumnya lebih rendah biasanya (belum ada implementasi di hukum domestik).
Bukan hanya masalah ratifikasi tapi juga apakah jiwa konvensi tersebut diimplementasikan di hukum domestik; selain itu mengingat mindset rakyat Arab Saudi, sulit rasanya bagi mereka untuk menerima ICCPR dkk.
Btw, yang lebih jadi masalah sekarang; izin pengacaranya si cewek bakal dicabut.
Oh, ya kalau jeli bacanya; yang memerkosa dihukum juga kok.
Yaaa, yaaa, intinya ya begitulah.
Btw, soal hukuman yang memerkosa itu emang se’tersembunyi’ itu ‘kah?
Kirain udah pada tahu…
btw, mbak nenda ini sekolah hukum ya? hebat2… tapi blognya kok gak ada mbak? kapan hari sempat denger pas lagi heboh2 ngadutrafik
, btw, maaf ged.. karena blognya gak ada.. jadi blog kamu yg gw jadikan tempat kenalan hahaha.. sory OOT
*permission granted*
no comment

No comment diterima.
Tanya, tanya.
Si cewena bakalan jadi bener tuh dicambuk? Dicambukna kapan? Bagaimana dengan program post-traumatic even? Adah?
Haihh… *shivers*
Arab seram.
Jangan kesana.
Seram.
Post-traumatic whatever dan konco-konconya itu ‘kan ilmunya orang kafir™, jadi ya jangan diikuti.
Btw, ceweknya jadi dicambuk, sih. Hati-hati deh kalau ke Arab, mending ganti gender dulu jadi laki-laki. Bahaya ke sana sebagai perempuan.
Ahhh, yayayaya, ilmunya orang kafir… Haram itu, astaghfirullah…
.
.
.
.
NDAK ADIL itu! Mana kemanusiawiannya!? Anjinggg! Guk! Bahkan anjing pun bisa lebih manusiawi daripada ini!
Hosh, hosh…
Reaksi dunia internasional?
Dunia internasional? Ya tentunya mengecam. Baca aja link-link tembusannya.
Hanya mengecam?
Hikshiks….
Mau bagaimana lagi, konon kedaulatan negara mesti dihormati.
*nunggu US nyerang arab*
*makan popcorn*
*seruput cola*
Kalau benar-benar terjadi, pasti banyak ’solidaritas’ yang menyulitkan US.
WW3? Ahh…
Selama saya ndak repot sih ndak masalah…
*dibantai*
Kenapa memangnya? Saya sepemahaman dengan anda.
rame…
*telat*
*duduk di pojokan*
*kasih es krim*
Ya, saya! Salam kenal juga. Saya kuliah hukum memang, blog saya ada kok linknya di tempat Alex kalau mau liat. aruta di wordpress. Yang lama sudah dihapus.
Ya saya sudah dengar kasus ini, hanya orang gila yang menyetujui tindakan seperti itu …
Semoga ini adalah raja terakhir mereka …
Allahumma amin …
Bihaqqi Muhammad wa Aali Muhammad …
@ Semua
ANA SIRIK DENGAN ENTE ENETE SEMUANYA BISA DISKHUSI TANFA DIGANGGU AKHLI AKHLI AGAMA
BLOG ANE SELALU DI SATRONIN SOHIB SOHIB ANA
YANG DOYAN FERANG DAN TERORISME.
SETIAP ANA FOSTING ARTIKAL YANG NYENGGOL WAHABI ATAU FUNDAMENTALIS ANA FASTI DI CACI MAKI SAMFE MAU DIBUNUH.
@ kopral geddoe
Masbro - artikelnya saya jadikan inspirasi. Biarin deh di cacimaki sama kaum fundamentalis, saya sih loyalis yah!
Salam …
http://retorika.wordpress.com/2007/12/13/ini-akibatnya-kalau-menggunakan-hukum-wahabi/
Aplah jadddddinya jika di Negeri Indonesia tidak ada orang fundamental ! Dasar Kopral GOBLOG ! Setelah merdeka bisanya hura-hura !
@ Salman Alzajuli
Apa jadinya Pak?
@amed
jadinya aman, makmur dan sejahtera. hehehe
@ Gentole
Hwehehe, iya juga ya?
Semoga…
Iya yang komen mayoritas cowok. Oke, gw ikut komen deh, baca postingan ini kayak deja vu banget sama novelnya Women at Point Zero-nya Nawal El Saadawiwife (novelis cewek Mesir yang sering masuk ke luar penjara)……
Selain para aktifis yang doyan memekikkan Allahu Akbar kalo lagi memberangus kafe-kafe yang disinyalir memaksiatkan masyarakat, yang perlu digugat juga adalah aktifis feminis, pada kemana yak????
iya minta ampun…
saya ada bikin blog ttg myth dan pengaruhnya.. dari sebuah model/archetype menjadi collective unconscious.. iseng2 sih..
iseng2 mampir ya.. klo dr pendapat saya sih berhubungan..
http://butterflyandwind.wordpress.com/2008/01/23/mitologi-muhammad/
thanks
Wahhabi itu memang mengerikan. Pada awal pendiriannya, mereka membantai kaum Syiah. Mereka biasa mengoyak perut wanita hamil,lalu dihambur-hamburkan isi perutnya. Mereka itu adalah manusia-manusia yang paling biadab di abad modern ini. Saat ini juga mereka menebar teror di jalan-jalan, pasar-pasar, dan tempat keramaian lainnya dengan bom-bom bunih diri dan bom-bom mobil yang mengerikan. Wahhabi, ih ngeri…
Salam kenal
http://www.saidiman.wordpress.com
hmm, hukum wahabi atau hukum Islam? atau “wahabi” punya hukum sendiri yang tidak sesuai dengan yang diturunkan pada Rasululllah? Di Iran (syiah) juga diterapkan hukuman serupa, itu tergantung pada aparat hukumnya. bukan Syariat Islamnya yg salah.
silahkan kunjungi blog saya (SYARIAT ISLAM):
http://mu7ahideen.wordpress.com/syariat-islam/
hiks…baru masuk and langsung nyimak…
*kynyknalkopraldimyq*
huehehehehe…
Apa yang membuat perkosaan itu salah adalah ia menyakiti korban, jadi perkosaan itu tidak bermoral bahkan bila tuhan tidak ada.
Tindakan pemerintah saudi tentu saja lebih tidak bermoral lagi.
dan kita menganggap lebih pintar dari wahaby. sementara menyebut istilah mereka saja nggak ada ilmiahnya.