
Kalau saya perhatikan, ada satu plot twist stereotip dalam fiksi yang mungkin sudah sedikit meluntur kedigdayaannya. Perpisahan. Padahal, mungkin, bahkan sampai dekade yang lalu, perpisahan masih merupakan force majeure dalam kelangsungan plot sebuah cerita.
Perpisahan yang seperti apa? Yah misalnya, kalau dalam drama-drama platitudinal yang diproyeksikan untuk pasar remaja, perpisahan karena sang pacar tiba-tiba dijebloskan ke sebutir universitas di negeri bule. Atau kisah sedih seorang veteran perang yang menemukan istrinya menikah lagi sepulang main tembak-tembakan. Atau kasus-kasus long-distance relationship. Pokoknya yang seperti itu. Suatu dilema di mana komunikasi semestinya lumpuh, dan hati semestinya teriris-iris, melolong-lolong dan meraung-raung.
Di sisi lain, belakangan saya rasa perkembangan teknologi informasi sudah sebegitu saktinya. Menghubungi keluarga yang jauh, bisa melalui pesan singkat atau telekomunikasi telepon. Itu juga tidak mesti via telekomunikasi seluler, jasa penyewaan telepon sudah merambah cukup jauh ke lokasi yang terpencil sekalipun. Belum lagi komunikasi via internet; baik jasa instant messenger maupun social networking. Bocah-bocah yang termasuk dalam komplotan saya sewaktu SMA, misalnya, nggak terlalu rindu dengan saya (dan saya pun nggak terlalu rindu dengan mereka, hohoho), sebab memang, walaupun terpaut jarak yang jauh, untuk menghubungi saya sebenarnya cukup dengan menyalakan Yahoo! Messenger, atau, gampangnya, tinggal mengirim pesan singkat.
Jadi, jangan-jangan plot twist seperti itu sudah obsolete? Sang pacar kabur ke negeri bule, tinggal pasang webcam atau beli pulsa seluler banyak-banyak. Atau kirim e-mail supaya bisa nulis panjang-panjang? Yah, minimal, masalah kayak begini mungkin kepelikannya sudah jauh berkurang, walau imbasnya cukup negatif dalam dunia literatur. Hidup teknologi informasi!



PERTAMAX!
*bacanya belakangan*
vertamaax….
haiyah, ada tito!
*tendang-tendang tito*
tapi bagaimanapun saya tetap kangen padamu, fo…
*nyruput milo anget*
@ Tito
Haiah…
@ cK
*nyeruput bandrek*
teknologi komunikasi emang sudah sedemikaian canggih. tetapi saya pernah baca chip edisi terbaru, katanya dengan sedemikian canggihnya teknologi internet yang tidak diiringi penambahan banwidth stroragge akan membuat internet down karena sebegitu banyaknya file ato apalah yang telah di upload dan tersimpan “nyampah” di dalam jaringan word wide web.
Ya yang kayak begitu kayaknya bisa diatasi, deh.
obsolete klo settingnya jaman skarang…
Bahkan Internet sudah masuk kedalam catatan Wonder of the World untuk Masa Depan.
SUsah juga hidup tanpa Internet. Kalau dulu, sulit tanpa telepon, sulit tanpa kartu pos.
saya sempet ngalamin pacaran jarak jauh cuman modal surat
ato seminggu sekali telpon
belom kenal email ato ceting
Buset! baru beberapa jam yang lalu aku ninggal blog ini. Sekarang lihat lagi udah ada post baru, mana komen nya udah 10!
Hebat deh!
Sori mas, belum baca. Masih stunned. hehehehe… (maksudanya sebel nggak pernah pertamax)
Hidup Roy Suryo!
@ Jabz
Setubuh.
@ Mihael Ellinsworth
Makanya God bless the internet.
@ caplang(tm)
Kalau sekarang?
@ nuragus
Lho, memangnya kenapa? :mrgreenL
@ manusiasuper
Kita calonkan beliau jadi presiden RI, yuk…
Beliau jadi Wapres-nya aja dulu..
Kesian Bang Yos kalo langsung dilangkahin…
sekarang? sudah ndak pacaran
ambigu yak
Jadi inget dulu, rasanya pernah baca di sebuah cerpen…
Kalo nggak salah yang ngomong itu si cowoknya. Tapi, gara-gara diomongin gitu, justru si ceweknya jadi tambah berkaca-kaca lho.
*kalo gak salah inget*
Hem, duitnya dari mana ?
@ manusiasuper
Tapi akhirnya mesti jadi presiden juga, ‘kan?
@ caplang(tm)
Heee…?
@ sora9n
Jadi kesimpulannya?
@ danalingga
Duit buat apaan, mas?
puih….
inet g guna acho…. bikin gampang selingkuh….
*Y!M-an dengan beberapa
korbangadis*Yang namanya internet terkadang enggak bisa menggantikan pertemuan langsung. Kalau pake internet kan enggak bisa peluk2 pacar. Eh, peluk2 blom boleh ya kalau statusnya belum diupgrade jadi suami. huehehe.
judulnya ganti “godblesstheinternetmaker” …
kan yang nemuin yang keren….
ngaco yah…
lho saya kirain Tuhan itu internet…???
salah ding….
lho saya kirain internet itu Tuhan…???
@ celo
Internet kok Tuhan. Internet itu kitab suci!
@ Nenda Fadhilah
Ya yang suka bergerumul-gerumul emang jadi susah, sih.
@ myresource
Kepanjangan, atuh.
maka berpeganglah kamu sekalian kepada internet.. agar kamu tidak tersesat dan mencerai-beraikan jalanNya..sesungguhnya mereka yang tidak percaya dengan internet adalah orang yang
tersesatkatrok…Amiiiinn…
God Save the
QueenInternet…Jadi berasa tua… saya dulu waktu sma pernah kehilangan pacar gara2 kehilangan kontak.. saat dia lulus (dia kk kelasku
) dan diajak pindah oleh ortunya.. dia ngasih alamat barunya yg ternyata salah (saat itu telpon rumah-pun blom umum)
, dan parahnya.. dia ga tau alamatku (walopun dia tahu rumahku, ternyata dia gak tau alamatku!!) kacau dah… benar2 lost contact by accident
, bahkan sampe sekarang.. dia adalah satu2nya pacarku yg blom pernah putus tapi udah 17 tahun ga pernah ketemu
*sorry oot.. jadi curhat wakakaka*
@ cK
Her fascist regime…
It made you a moron…
Potential H-Bomb…
*jadi nyanyi*
@ warnetubuntu
…
…
…
God bless IT!
Hidup Y!M! Hidup e-mail! Hidup Internet!
*bersorak sorai*
sayangnya tidak dijamanku dulu
ya ya.. dekade 90-an telp rumah pun masih tergolong ‘mewah’, awal2 telp seluler (97-an??) film yg ada adegan telp pake hp didepan rumah pacar adalah adegan ‘mewah’ dan ‘lucu’
IMHO, saat ini satu2nya adegan perpisahan yg ‘agak’ bisa bikin sedih hanya kematian
Internet adalah jalan manusia untuk menjadi komunal, menyatukan daya dan upaya… untuk menyatukan potongan Tuhan dalam diri manusia. Sehingga semua manusia adalah satu…
saya tidak percaya internet
saya tidak percaya long-distance-relationship
saya tidak percaya teknologi
saya masih hidup di abad ke-7 SM
saya tidak percaya Tuhan menciptakan internet
saya tidak percaya apapun
dan saya tidak percaya bisa memberikan komentar ini
jangan-jangan Tuhan disana juga punya internet kecepatan tinggi ?
Nggak bisa Kopral. Kita tetap membutuhkan kehadiran tubuh untuk ada di dekat kita. Dan tubuh nggak tergantikan. Karena ada tubuh, maka ada eksistensi. Nggak kayak Descartes.
Jadi, TI hanya akan menjembatani aksi (telpon, sms, webcam) tapi tidak akan bisa menghadirkan tubuh. Pun dengan hologram atau VR paling keren. Tubuh tetap tubuh. Dan ada bagian dari diri kita yang akan sadar pun kita menghalusinasi diri sendiri bahwa dia ada di dekat kita.
Saya rasa begitu.
—————-
Duh, lama banget baru komen. Maaf ya.
saat saya nulis komen ini jarak saya dengan anda sekitar 4000km tapi ko’ komen ini nyampe hanya dalam waktu beberapa detik, insane ya!! tapi itulah teknologi yg diciptakan orang2 yang berfikir yang oleh beberapa kaum disebut kafir/sesat hehehe..
sebenarnya “God bless everything” karna semuanya dibawah kendaliNya bahkan kejahatan pun dibawah kendaliNya
Sudah pernah nonton “Hoshi no Koe”, Ged? Yang ngirim SMS aja bisa nyampe bertahun-tahun karena terpisah jarak antargalaksi…
yah,teknologi semakin maju. itu hal yang positif.
tapi bagi saya (yang selalu pakai perasaan ^_^) teknologi-terutama internet-tetaplah tidak bisa dibandingkan dengan dunia nyata.
bersosialisasi, komunikasi, bercengkrama, menjalin hubungan -yah hal hal sosial seperti itu, memang bisa dilakukan tanpa batas jarak dan waktu melalui produk teknlogi. tapi, rasanya tetap beda. rasa rindu dan terikatnya hati yang tulus ternyata tidak cukup hanya melalui itu. hubungan yang dinamis dan harmonis, bagi sya, tetap membutuhkan sesuatu yang real yang bisa diraba. secara visual langsung bisa merasakan.
tetap beda, antara produk teknologi yang menjadi ‘jembatan’ pertemuan budaya atau peradaban, dengan pertemuan langsung.
But, tetap hidup untuk teknologi!! Dengannya ktia bisa banyak belajar. dan semoga dengannya kita bisa lebih beradab.
salut!
@ warnetubuntu
Jadi kepikiran, jangan-jangan di masa depan, plane orang mati ditemukan, dan bisa dijangkau lewat layanan telepon.
@ dnial
Wah, dalam…
@ Pyrrho
Nggak tahu juga. Mungkin Beliau punya internet maha cepat?
@ nuragus
Jadi di sini bisa kelihatan, mana yang relationship-nya bertumpu pada hubungan batin, mana yang pada ‘hubungan badan’.
@ brainstorm
Hehehe, iya, andai kita bisa secepat itu dalam berkomunikasi dengan Tuhan.
@ Catshade
Belum pernah nonton, sih, pernah nyari tapi nggak ketemu.
Itu kerjaan Makoto Shinkai yang dikerjakan sepenuhnya amatir pakai Mac, ‘kan?
*update wishlist*
@ eMina
Mungkin, tapi saya sendiri menganggap rasa hanya sebagai persepsi, jadi setelah adaptasi yang cukup lama, seharusnya ‘rasa’nya bisa jadi setara.
*wishful thinking kah?*
mana rekuesnya?
*nagih*
tak pikir ngomongin God Bless nya Amat Ablar
Memang ada juga sih, yang bisa “berhasil” melalui perantara internet. Ini kasus yang diceritakan teman saya. Tapi kadang, saya tak bisa sepenuhnya mempercayai internet. Meskipun seni nya menjadi berbeda antara sosialisasi di dunia maya dengan dunia nyata.
Yah, masing2 punya seni tersendiri. Pada kenyataannya, jika suatu hubungan (apapun bentuknya) berawal dari internet, tetap saja dia akan menjadi awet dan harmonis setelah bertemu secara langsung. Yah, kecuali kalau memang kita sudah kenal dari awal dgn teman kita, lalu karena terpisah kita jadi bertemu lewat internet. Itu sih lain lagi.
Tapi ga afdol rasanya kalau tidak bertemu langsung, bagi saya sih. Karena ternyata orang yang dalam persepsi saya “A” saat kenal di inet, eh ternyata dia “B” banget :mrgreen:. Bukannya mementingkan fisik, tapi kadang respon secara physically itu perlu dalam “mempertahankan hubungan”.
“Dalam mempertahankan hubungan” antar manusia lho, ya.
@ NuDe
Saya juga sempat ketawa, tuh, soalnya bisa barengan sama kasusnya beliau.
@ eMina
Hubungan dunia nyata, hubungan dunia maya, hubungan dunia nyata yang dilanjutkan ke dunia maya, ataupun hubungan dunia maya yang dilanjutkan ke dunia nyata. Berlaku untuk segala jenis hubungan, lho. 
Ini saya sangat setuju; seninya berbeda.
kalo di Bruce almighty…. Tuhan pusing mendengarkan semua do’a maka dia mengubah do’a yang didengarnya menjadi tumpukan arsip, tapi karena tumpukan arsip sampai berloker-loker, Tuhan pun mengganti tumpukan arsip dengan e-mail yang menerima 2.000.000 do’a baru tiap detiknya….
bahkan Tuhan juga bisa repot yak…???
Makanya, doa kok didengarkan…
harusnya dikabulkan ya…???
Silahken ditanyaken langsung kepada Beliyau.
@Kopral:
Jadi di sini bisa kelihatan, mana yang relationship-nya bertumpu pada hubungan batin, mana yang pada ‘hubungan badan’.
Kamu aja belum pacaran, ntar kalau udah, ngerasa kau! Wakakakakak
ada yang tau blog nya Tuhan ngga . ..
mau saya masukin ke blogrol nich
@ nuragus
Eits, ampun, ampun.
@ Funkshit
Anda sedang berada di dalamnya.
*ketawa megalomaniak*
*disambar petir*
God Bless Me!!!!!!!!!!!!!!
*ditimpuk ama orang sekampung*
Kenapa ditimpuk?
Tau tuh orang kampung…
masa saya ditimpuk cuma gara-gara teriak-teriak tengah malam…
…
lho situ juga Tuhan to…???
sama dunks….
*tukeran kartu nama*
BTW, ngomong tentang internet, saya semalam ga bisa tidur sampe jam 2.
Karena nanggung, sekalian aja liat UCL. Eh, malah ketiduran.
@ celo
Eh, iya…
*tukeran kartu nama*
Kapan nih kita coba-coba bikin dunia bareng? Atau diskusi soal manajemen neraka? Atau teknik menulis wahyu?
@ p4ndu_454kura
Nonton begituan mah pakai kopi, atuh. Dan rame-rame. Kalau sendirian ya ngantuk, mas.
ada rekomendasi nabi yang bisa dipake…???
syaratnya rajin membuka
kitab suciinternet dan bisa menghalalkan darah orang lain…halah malah OOT
Susah, sih. Soalnya belakangan nabi-nabi pada ditangkapi.
Kira-kira bagaimana, ya?
~lha, ‘kan situ yang ngajak?
pacar ga bisa internet…

rumah didaerah yang susah sinyal
-.-
siyap2 mati berdiri deh
Kayaknya nggak sampai mati berdiri, kok…
Btw, jangan lupa berterima kasih ke Al-Gore.
http://en.wikipedia.org/wiki/Al_Gore%27s_contributions_to_the_Internet_and_technology
Iya, tahu…
Ehem.. ehem !! *batuk2 kecil sambil kibaskan jenggot yg menjuntai*
Berani2 nya kalian ngomongin Aku, belum tahu ya kalo azabku sangat pedih. Apa masih belum cukup ancaman2 yang disampaikan oleh orang2 yang mengaku agenku hah? Hah? HAH?
Apa MUI mesti Aku suruh menfatwakan haramnya BLOG? Apa laskar2ku (baca:FPI) sudah tidak kalian takuti lagi?
Kalian ini..
Benar2 dalam kesesatan yang nyata!!!
*lanjutin ngecek email ama msg di friendster*
Loh ko ada yang ngaku tuhan disini?
=> Hansteru WebBlog <=
gara2 YM’an, blogwalking, FSan, youtuban, multiplyan, kerjaanku jadi gak kelar2.. :DHeheehehe…
@ mas agiek
Ssst. Sesama Tuhan jangan saling mendahului.
@ hansteru
Kalau ngaku nabi ‘kan udah biasa, mas.
@ wongembuh
Adiktif, ya, mas/mbak?
yup godbless IT
Godbless all of people who live with that
and godbless ………gagal bikin album baru karna vokalis tua rentanya yang kribo itu sedang sial di bui karna ketotolannya huhuhuhu
jadi dengan adanya kemajuan IT yang sangat2 cepat ini kita harus dapat bersukur karna telah menjadikan tanah, udara, serta jarak yang jauh bukan lagi penghalang buat berkomunikasi, mudah2an pemerintah dan negara tidak turut pula mencampurinya karna memang tak ada tanah, air, udara yang menjadi unrsur wilayah sebagai sertifikat bagi negara untuk memegang kekuasaan.
salam dan hormat saya
terimakasih.
nb: 4×4=16
sempat tak sempat biarlah Tuhan yang balas
huhuhu
Saya amini saja, ya.
Ah, ada konferensi antar-Tuhan rupanya.
Kalian ini. Beraninya mengaku sebagai Tuhan. Mengaku sebagai diri-Ku
Ingatlah, bahwa Akulah yang memiliki seluruh pengetahuan di dunia ini. Kekuatan kalian tidak sebanding denganku.
Huahahaha…
Sekali lagi saya tekanken; sesama Tuhan jangan saling mendahului.
Internet memang membawa pengaruh besar.
Kata teman saya, kalau beberapa tahun lalu orang-orang pada bilang, “Nanti malem gw telpon ya,” sekarang orang-orang pada bilang, “Nanti malem OL ya!” 
Hohoho! Btw, apa zaman dahulu orang berkata; “Nanti malem tulis surat, ya!”, ya?
God Save Palembang Network!
*lagi pake dial-up*
*bersungut-sungut*
secanggih apapun teknologi tetep aja ketemu orang asli tidak bisa diganti dengan teknologi
tapi memang internet betul-betul mendunia, bahkan posisi para tukang pos mulai terancam
Memang nggak bisa digantikan, tapi tetap berfungsi sebagai substitusi yang sangat efektif.
Btw, kalau pos, jasa pengiriman barang kayaknya masih kokoh deh.
kalo ga ada internet, mungkin saya udah pacaran lagi, berkali-kali.
Kalo ga ada internet…
…wah, ga bisa ngebayangin, tuh.
kalau nggak ada internet, mungkin saya kuliah di fakultas kedokteran
Memangnya sekarang di mana, mas?
Sebentar lagi internet bakal menjadi bagian standar kehidupan… Sama seperti air, listrik, telpon dan TV.
*Berdoa bentar lagi sedunia ada internet gratis 100 mbps di smua tempat*
Sekalipun jasa koneksi mewah itu ada, kayaknya nggak akan dianggap mewah lagi, lho. Dan mungkin nggak akan cukup buat kebutuhan di masa tersebut.
Contoh; dua puluh tahun yang lalu orang mungkin akan bilang; “If only I had a convenient plug-and-play data storage that can store more than 5 MB, I don’t need anything else.”
@geddoe,
, terbengong2 liat MP3 (!!), dulu satu disket (1,2MB) bisa berisi OS (dos) , word processor (WS) , spreadsheet (Lotus) , dan beberapa game 
saya pernah kagum dengan cd-rom
*ngakak guling-guling*
Bila teknologi pemindahan materi dlm hitungan detik spt di “Startrek Voyager” terealisasi, maka internet akan menjadi teknologi usang hehehe…
@Steax
in Singapore theres probability of that speed.
in Indonesia, you must go to heaven first…
*ngakak guling2*
Ahhh! Saya mau hidup selamanya!
*ketawa megalomaniak*
@Geddoe
silahkan ambil tiket antrian utk reinkarnasi 500 thn berikutnya. Dengar2 tiket udah ampir abis lho diborong calo…
*ngakak guling-guling*
–difo–
whisful thingking
maksudnya apa?
“Mungkin, tapi saya sendiri menganggap rasa hanya sebagai persepsi, jadi setelah adaptasi yang cukup lama, seharusnya ‘rasa’nya bisa jadi setara.”
rasa itu, menurut saya sih ga sebatas persepsi saja. klo persepsi, berarti harus selalu di ungkapkan dengan kata? berarti perasaan kita didunia maya hanya bisa tertangkap melalui kata dan gambar kan?
namun bagaimana kita bisa tahu itu benar? bisa saja orang menulis/terlihat A tapi pada kenyataannya dia B. rasa di dunia maya itu sangat abstrak. klo sudut pandang atau persepsi saja sih mungkin bisa. tapi rasa, beda.
dan juga, bukankah rasa engga mesti selalu diungkap dengan kata dan secara visual? gesture sekecil apapun atau tatapan mata, bila kita peka, maka akan terungkaplah rasa kita.
itulah hebatnya dunia nyata
maap jadi balas lagi komen di topik ini ^_^
mana rekues?
*nagih*
Lho, apa hubungannya persepsi dengan kewajiban untuk diungkapkan dengan kata?
Saya hanya berpendapat, bahwa, dengan adaptasi yang cukup lama, perbedaan antara efektifitas komunikasi via media dan komunikasi langsung bisa menjadi semakin menipis.
berarti saya salah paham
klo masalah efektivitas sih, memang begitu ya.
dunia menjadi tanpa batas.
*mengamini*
“sang pacar kabur ke negeri bule”
Ihiks….
Yah, tapikan walopun masi bisa kontek2an pake MSN/YM+headset+webcamna, tetap saja si sayah tak bisa menyentuh toh?
*nangis di pojok*
Yah, doaken saja periferal dan teknologi yang mendukung pegang-pegangan akan segera dikembangken.
Amen to that, amennn, so amennn….
Jadi saya bisa menyingkirkan sesisir pisang di kamar saya
*ngumpet*
Errr, saya paham, tapi tidakkah pisang sedikit… tidak efisien?
Ahya, lembek. Hanya efisien kalau saya lapar. Hmmmm… Timun then…
What about buying the real one…?
Ah, but you’re only 19. Forget it.
The real one as in dildo or the real cock?
Hahhh…. right… I’m still 19… Cant even get into the sex shop…
*sulks*
Situ juga masih 18!
Waduh, omongannya udah ga terkontrol, nih.
Iya, iya, saya masih 18. Tapi itu bukan masalah, kok.
*zip mulut, kontrol omongan*
Bukan masalah buat apa fo??
Walah-walah… baru mau masuk, dialognya sudah age restricted…(16 tahun minggat dulu….)
*report as mature*
oleh karena itu jangan biarkan mood internet jd bad, karena kalau itu terjadi maka dunia akan hancuur he he
gue, orang yang termasuk pengguna teknologi itu..hohoho..maklum lagi menjalankan LDR nih..dmana komunikasi ituh penting bgt…!
gak kebayang dunia ini tanpa jendela internet ini. dmana kita bisa kemana2..