Kita lupakan sejenak perkara hegemoni intelektual MUI. Lupakan dulu egoisme kalangan mayoritas yang memaksakan interpretasi versi mereka (atas teks yang memang bukannya tidak ambigu) pada kaum minoritas, sebuah tirani yang bisa jadi lebih berlandaskan tendensi konservativisme-autoritarian ketimbang pemahaman yang didedikasikan untuk mencari titik temu. Selain membuktikan kelemahan kadar sekularisme yang sedang diterapkan, memang insiden ini mencerminkan masih belum terjaminnya kebebasan tiap individu untuk menentukan apa yang semestinya ia percaya; menyedihkan, ketika butiran konsep thoughtcrime a la 1984 berlaku secara resmi. Bagaimana tidak, toh distopia intelektual a la Iran (yang katanya menganggap freethinking sebagai tindakan kriminal) saja bisa dicap positif atas basis solidaritas religius murni.
Lupakan juga soal kegagalan Inggris melenggang ke pentas Euro 2008. Atau soal manusia pohon, reog a la Malaysia, atau malah kembennya Dewi Persik. Lupakan semuanya.
Soalnya yang ini sedikit menarik…
Studi ini tergolong baru, hasil penelitian tahun 2006. Dengan sampel dari berbagai negara, meneliti hubungan antara level IQ dengan pandangan terhadap pentingnya agama. Hasilnya cukup unik, ternyata semakin tinggi kecenderungan suatu negara ber-IQ di atas rata-rata, semakin rendah apresiasinya terhadap agama. Misalnya, dari sampel survey asal Jepang yang rata-rata IQ-nya mencapai 105 poin, hanya 12% yang menganggap agama sebagai entitas integral dalam kehidupan. Masyarakat-masyarakat yang lebih terbiasa dengan iklim intelektual ternyata cenderung menafikan pentingnya agama; tanya kenapa?
Anda bisa mengecek survey tentang level prioritas pada agama tersebut di [sini]. Namun kebetulan link tersebut tidak membahas hubungannya dengan IQ, melainkan pendapatan per kapita. Dan ya, negara yang miskin cenderung jauh lebih religius (atau, negara yang religius cenderung lebih miskin?).
Berikut grafik tentang hubungan IQ-religiusitas tersebut;

Dan grafik tentang hubungan pendapatan per kapita-religiusitas;

(Bisa diperhatikan, bahwa hubungan religiusitas dengan IQ lebih meyakinkan ketimbang dengan pendapatan per kapita.)
Berikut data lengkapnya— hanya tersedia untuk penelitian hubungan IQ dan religiusitas;
|
Negara |
Persentase menganggap agama sebagai elemen penting kehidupan (%) |
Level IQ |
| Afrika Selatan | 87 | 72 |
| Amerika Serikat | 59 | 98 |
|
Angola |
80 |
69 |
| Argentina | 39 | 96 |
| Bangladesh | 88 | 81 |
| Bolivia | 66 | 85 |
| Brazil | 77 | 87 |
| Bulgaria | 13 | 93 |
| Ceko, Republik | 11 | 97 |
| Filipina | 88 | 86 |
| Ghana | 84 | 71 |
| Guatemala | 80 | 79 |
| Honduras | 72 | 84 |
| India | 92 | 81 |
| Indonesia | 95 | 89 |
| Inggris, Kerajaan | 33 | 100 |
| Italia | 27 | 102 |
| Jepang | 12 | 105 |
| Jerman | 21 | 102 |
| Kanada | 30 | 97 |
| Kenya | 85 | 72 |
| Korea Selatan | 25 | 106 |
| Mali | 90 | 68 |
| Meksiko | 57 | 87 |
| Nigeria | 92 | 67 |
| Pakistan | 91 | 81 |
| Pantai Gading | 91 | 71 |
| Perancis | 11 | 98 |
| Peru | 69 | 90 |
| Polandia | 36 | 99 |
| Rusia | 14 | 96 |
| Senegal | 97 | 64 |
| Slowakia | 29 | 95 |
| Tanzania | 83 | 72 |
| Turki | 65 | 90 |
| Uganda | 85 | 73 |
| Ukraina | 35 | 96 |
| Uzbekistan | 35 | 87 |
| Venezuela | 61 | 88 |
| Vietnam | 24 | 96 |
Kita lihat, memang benar, negara-negara yang rata-rata IQ-nya melebihi 95 poin, persentase apresiasi agamanya cenderung kurang dari 50%. Sementara negara-negara religius yang apresiasinya melebihi 90%, rata-rata IQ-nya tidak ada yang mencapai 90 poin.
Kesimpulan?
Lalu, apakah kesimpulannya? Yah, walau tentunya hasil survey di atas tidaklah sempurna, masih memiliki lubang, dan masih bisa dipertanyakan, namun tentunya tidak bijak juga langsung mengecapnya absurd (apalagi konspirasi Yahudi™). Selain sampel yang digunakan juga cukup luas, terdapat argumen-argumen bagus yang menyatakan bahwa konsep thin-slicing seperti ini akurasinya tidak bisa dianggap enteng (teori Malcolm Gladwell misalnya).
- Kesimpulan yang mungkin diambil #1:
“Itu sebabnya, jangan mendewakan akal! Ini adalah pertanda akhir zaman; manusia mulai sombong dan meninggalkan Tuhannya. Kiamat sudah dekat— banyak orang yang merasa sudah pintar dan jumawa, lantas tidak mengakui adanya Tuhan. Jangan terpengaruh, segera pertebal iman, sebab dunia hanya sementara. Ingat akan adzab pedih yang akan ditimpakan oleh-Nya”. - Kesimpulan yang mungkin diambil #2:
“Ini tentu pertanda bahwa masyarakat mulai mengalami pencerahan intelektual dan mulai melupakan mitologi-mitologi kuno yang masih berbekas. Jalan menuju kebenaran selalu bersifat progresif— kecuali yang berkaitan dengan agama. Kenapa Tuhan sengaja membuat agama bertentangan dengan berbagai aspek sains dan akal manusia? Supaya semakin susah dijangkau? Jadi akal itu adalah jebakan dari Tuhan?”
Anda sendiri berpendapat bagaimana? Kesimpulan pertama, kedua, atau ada pandangan tersendiri?
p.s. Kelompok penolak agama tersebut adalah kelompok irreligius, dan bukan berarti penganut atheisme apatis. Banyak yang percaya akan eksistensi Tuhan; bahkan ada yang menganut agama, walaupun tergolong aliran far left.

ehm..akhirnya
ngabsen dulu baru baca
*Kapling pertamax*
Hohoho…
*Bertobat*
Ah, pantas penjualan rune saya menurun akhir-akhir ini.
IMO, mereka yang memiliki intelegensi tinggi cenderung terus belajar dan bekerja sehingga mereka tidak punya waktu untuk berhubungan dengan penciptanya.
Siyal, ga jadi pertamax.
*Tendang joyo*
cekikian liat posisi Vietnam, udah sesat miskin pula!

Nanggung, ah. Hetrik.
Ga jadi hetrik pulak!
*Pergi sambil ngamuk-ngamuk*
adaaaauww…siapa?! siapa?! pasti orang
miskinyg sesat!Posisi Endonesia™ di sebelah mana?
Kok nyampah di sini?
@ joyo
Hehehe, Vietnam? Karena pernah dijangkiti sosialisme garis keras? Pencerahan sekularisnya dapet, pinternya nggak?
@ p4ndu_454kura
‘Kan saya udah bilang, mereka bukan anti Tuhan, cuma anti agama.
Konon termasuk yang goblok, miskin, dan religius.
@kopral
Saya tetep bangga walopun ngelus dada
Realitas utama (atau yang lebih sering disebut dengan “Tuhan”) sangat sulit digambarkan dengan kata-kata. Maka orang2 yg telah tercerahkan menggunakan simbol, mitos maupun doktrin yang terangkum dalam AGAMA, agar orang2 awam lebih mudah mencernanya.
Dan karena agama terdiri dari berbagai simbol, mitos dan doktrin, maka orang2 yang terpelajar dan berilmu cepat atau lambat akan melihat kesenjangan antara agama dan realitas (seperti misalnya ajaran kreasionisme atau geosentrisme)… dan akhirnya meninggalkannya.
Saya sendiri (terinspirasi oleh Buddhisme) memandang agama sebagai perahu menuju hakikat. Bilamana kita telah mendarat di pantai hakikat apa yang akan kita lakukan pada perahu itu? melabuhkannya di pantai dan melanjutkan perjalanan; atau menggotong perahu tersebut ke-mana2 karena sudah membantu kita?
Jadi sepertinya saya cenderung ke kesimpulan # 2… hanya saja saya beranggapan bahwa agama adalah buatan manusia… cerminan dari usaha untuk menjelaskan sesuatu yg-tak-terbatas (yg sering disebut sebagai Tuhan) dengan kata2, konsep dan pemahaman manusia yang terbatas.
@ joyo
Saya juga, saya juga.
@ Tito
Teori yang menarik… *mata bersinar-sinar*
Kalo kesimpulannya bahwa agar agama tetap laku maka pemakaian akal harus di pasung, masuk mana tuh ?
Ah, tapi nggak begitu juga sih kopral. Buktinya saya ini kan termasuk pinter
, nah saya masih mempercayai agama kok , agama sebagai alat. 
celaka!
sesatlah saya…
iq saya masuk golongan superior nyaris mendekati jenius soale, kekekeke!
saya kurang religius, berarti saya pintar…
*log out*
@ danalingga
Tapi bisa jadi golongan yang melihat agama sebagai alat spiritual kayak mas itu tergolong yang menganggapnya nggak signifikan, lho.
@ Shelling Ford
Lha, mas? Ente emang dari dulu dicap sesat, kali…
@ cK
Lha kok oversimplikasi begitu?
wah.. patut disyukuri tuh.. minimal bagi saya lebih mudah untuk menjadi pinter dan kaya di indo sini
tapi patut dicatat juga ternyata dinegara yang tergolong religius tingkat Korupsi Kolusi dan Nepotisme nya juga sangat tinggi.
kenapa ya?
Sepintas saya lihat link sumbernya sih, ada banyak fallacy dalam pemahaman akan teori dan metodologi penelitian, mungkin sejak awal disengaja untuk mendukung bias ‘peneliti’nya. Ntar saya bahas lebih lanjut deh…
*mau kuliah dulu*
Sebetulnya, IMHO… kedua trend itu bisa dijelaskan secara sebab-akibat… walaupun ini juga masih sekadar hipotesis, sih.
*mindset saintifik = on*
Pertama, soal hubungan IQ/intelektualitas terhadap keberagamaan. IMO, ini berhubungan sama kecenderungan bahwa orang2 yg intelek biasa melatih diri mereka untuk berpikir logis-skeptis. Belum lagi kalau didukung iklim yang mengutamakan diskusi dan meminimalkan tabu…
Dengan kata lain, di negara2 yang iklim intelektualnya tinggi (e.g. US dan Eropa) kecenderungan berlogika-dialektika juga tumbuh subur. Alhasil, ini memunculkan kecenderungan yang lebih besar untuk freethinking, dan doktrin agama yang cenderung dogmatis jadi tergusur ke pilihan dua (”God of the Gaps” ? ). Ditambah lagi bahwa mindset intelektual ini mengutamakan obsevasi empiris yang mustahil digunakan untuk masalah teologi, maka lengkaplah dorongan untuk ‘menjauhi’ agama itu.
Jadi dari sini terlihat bahwa orang2 yg ber-IQ tinggi cenderung menolak dogma; dan negara-negara yang (katanya) memiliki iklim intelektual yang segar lebih memilih rasio dibandingkan agama.
…
Kedua, yang soal hubungan pendapatan per kapita (GDP) dengan keberagamaan. Mengapa begitu?
Ini mah udah jelas
. AFAIK-CMIIW, kebesaran bangsa dipicu oleh teknologi yang tinggi. Sedangkan orang-orang yang bisa melahirkan teknologi biasanya punya kecenderungan observatif-logis yang kuat. Nah, iklim intelektual di US, Jepang, dan Eropa kan bagus (lihat no.1). Alhasil, lebih mudah bagi para teknokrat untuk lahir dan berkembang di negara2 tersebut.
Dan ini menjelaskan, mengapa negara2 seperti US dan Jepang bisa maju dan mendapat GDP besar. Kalau saya rasa sih, itu karena mindset mereka yang mendukung logika-dialektika — dan, akibatnya lagi-lagi agama tergeser jadi pilihan kedua.
Dus, kemajuan bangsa, teknologi, dan GDP mereka sebetulnya merupakan akibat dari poin (1) yang dibahas sebelumnya. (IMHO, CMIIW)
…
Tapi ini baru sekadar hipotesis, sih. Masih perlu diuji lagi kebenarannya. (o_0)”\
*mindset saintifik = off*
@brainstorm:
IMHO, karena religius tidak selalu identik dengan bermoral baik.
Malahan seringkali religiusitas seseorang itu hanyalah dalam bentuk yang formalistik (mengerjakan ritual,mematuhi doktrin, dsb)
@ warnetubuntu
*mengamini*
@ brainstorm
Kalau menurut mas/mbak bagaimana?
@ Catshade
Bisa jadi, walau hasilnya cukup unik juga.
Ditunggu pembahasannya…
@ sora9n
Tentang hipotesis pertama, memang, hipotesis yang pertama muncul hipotesis itu; dengan berasumsi bahwa dogma memang nggak sesuai dengan mindset ilmiah. Mungkin ada hubungannya juga dengan free speech dan sekularisme yang efektif.
Tentang hipotesis kedua, saya setuju, sebab IMO seharusnya level intelektual memang berbanding lurus dengan perkembangan pembangunan, dan seterusnya pendapatan per kapita. Lebih jauh lagi, kecenderungan ritualis yang ada mungkin perlu disalahkan juga? Soalnya AFAIK praktek beragama a la negara yang lebih sekular itu sedikit lebih subtle/discreet, ‘kan?
Makasih sudah menyambung kata-kata saya, mas.
@ Tito
Lebih jauh lagi, mungkin religiusitas memungkinkan seseorang menggunakan agama untuk menutupi gelagat jeleknya?
wah, saintifik banget
apalagi baca komen sora… *ngusap keringat krn ga ngerti*
oh, begitu ya..
memangnya orang yang ber -iq tinggi dan pintar itu seperti apa sih? orang yang pintar itu seperti apa sih?
apakah yang akalnya sudah melangit sehingga merasa bisa menyibak rahasia Tuhan?
banyak temen2 dan tokoh yang saya ketahui yang relijius tapi mereka pinter2 kok. Dan menurut saya kepintaran seseorang itu tidak bisa diukur hanya sebatas materi saja, melalui angka angka. Orang yang pintar itu adalah orang yang kehadirannya bisa membuat orang lain dan lingkungannya menjadi lebih baik.
konon orang pintar (dan sesat) itu seperti saya
kekekeke…
@ eMina
Lha, ini ‘kan bukan masalah ‘pintar’ yang subyektif. ‘Kan pakai tes IQ…
Ahem, sekali lagi saya tekankan, skeptisisme di sini bukan terhadap Tuhan, melainkan agama.
Iya, tapi para humanis sekular juga banyak lho yang memiliki kualitas seperti itu. Dengan toleransi lebih malah.
@ Shelling Ford
Hehehe, narsis, ih.
Ah, aku sangat menghargai hidup beragama tapi IQ-ku termasuk superior tuh…
*narsis mode ON*
Dibandingkan ortu gw kurang religius, gimana ya; nulis soal agama di blog aja males, urusan agama urusan private buat gw. Gw cuman mau praktekin ajaran agama yang bagi gw make sense *standarnya beda bagi tiap orang*. Bagi, gw shalat=berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
Kalau udah aneh-aneh apalagi ngasih sedekah=jaminan surga kayaknya dan semoga enggak deh. Gw juga enggak suka paham dimana diperlukan ‘perantara’ antara kita dengan Sang Pencipta, soalnya bagi gw manusia bisa kok berhubungan langsung dengan-Nya. Mungkin dengan cara yang berbeda dan unik bagi setiap orang. Buat yang ngerasa perlu perantara ya urusan mereka.
@ yarza
Berbeda, mas. Sentimen pribadi itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan, IMO makanya penelitian ini berfokus pada negara. Pada masyarakat, bukan individu.
Implikasinya, seorang jenius, polymath, atau maven di Iran akan tetap sangat religius. Sebaliknya, average Joe di Jepang atau Swedia bakal lebih longgar dalam beragama.
@ calupict
Hallelujah.
Negara?
apa itu?
*kabur*
Dari Wikipedia Indonesia.
Menurut konvensi Montevideo (http://www.yale.edu/lawweb/avalon/intdip/interam/intam03.htm):
“ARTICLE 1
The state as a person of international law should possess the following qualifications: a ) a permanent population; b ) a defined territory; c ) government; and d) capacity to enter into relations with the other states. “
*anti-pemerintah*
mungkin (mungkin lho ya) orang-orang pintar tidak serta merta menjadi tidak religius….
mungkin (mungkin lho ya) karena mereka pintar maka rasa penasaran mereka berlebih. Sehingga mereka jadi lebih sering mengajukan pertanyaan (dalam hati ataupun ditanyakan langsung) yang jauh lebih berbeda dari orang biasa.
Mungkin (hetrik mungkin) para narasumber (baca tokoh agama) yang agak kalah pintar bingung karena tidak punya stock jawaban. Sebab mereka sudah terbiasa berceramah dan menjawab pertanyaan yang standar-standar. Akhirnya mereka memaksakan diri menjawab dengan jawaban yang “dipaksakan”.
Mungkin (wah 4 kali) inilah yang akhirnya membuat orang pintar jadi makin ragu-ragu terhadap agama (atau tokoh-tokohnya). Sebab mereka tidak bisa bertanya langsung pada sumber yang lebih tinggi (Tuhan/Nabi). Mereka hanya bisa mengkaji Kitab Suci (yang akan menyebabkan timbulnya pertanyaan baru.
—geddoe—
konteks negara tho?
piss ^_^ *blm bisa komen serius lagi*
hm, saya dapat hal baru. ternyata banyak hal yang blm sy ketahui.
terima kasih ya.
Mungkin juga… free-speech kan berarti mengizinkan orang untuk bertanya dan mengungkapkan ide-ide secara terbuka. Kalau sekularisme, saya nggak begitu yakin juga. Seandainya agama/institusi agama bisa mengakomodasi kebutuhan free-speech dan diskusi… seharusnya sekularisme nggak begitu pentingnya dalam hal ini.
Tapiii… masalahnya, memang banyak lembaga agama yang kurang membuka diri pada diskusi ‘berat’. Kebanyakan malah pada ‘main keras’, IMO.
*teringat omongan dosen agama saya*
Bingo.
Emm… ritual ya. IMO, ritual itu nggak masalah, asal jangan didewa-dewakan sampai meninggalkan dunia. Itu kan salah satu metode komunikasi yang efektif dengan Tuhan (bagi orang yang percaya); walaupun sifatnya sangat personal IMHO.
Gitu sih menurut saya, CMIIW. ^^
I didn’t. Great minds think alike, see.
*copy-paste komen*
krn difo baik, sy mau request boleh ga?
difo buat tulisan tentang perempuan dong, atau tentang cinta
jadi ingin tahu persepsinya.
maap OOT
Kebanyakan orang yang ber-IQ tinggi menganggap bahwa eksistensi agama hanyalah sebagai selingan hidup. Karena yang mereka tilik saat itu adalah kerja keras dan uang.
Meski begitu saya termasuk golongan ber-IQ tinggi.
Mmm…
)

Apakah hasil kajian di atas boleh juga digunakan untuk memahami fenomena abu jahal cs sang “dedengkot” penentang Rasulullah itu. Bukankah sejumlah sumber menyatakan bahwa abu jahal cs itu sesungguhnya dikenal sebagai orang2 yg jenius di kalangan bangsa arab waktu itu.
————–
Adakah kehidupan pas2 an Rasulullah cs (istilah halus dari kemiskinan mereka pada waktu itu) memiliki relasi yg kuat dengan fakta ketaatan beliau dan sahabat ?
————–
Lalu kehidupan makmur di sebagian masa kekhalifahan menyatakan jeniusnya kaum muslimin pada masa2 itu, sekaligus rendahnya amalan nilai2 kbaikan (Islam) mereka ?
————–
Lalu ketika di akhir hidupnya abu jahal tak kuasa lagi menahan bukti2 Kebenaran Islam yg melintas2 di pemikiran-nya, ini menyatakan terjadinya reduksi terhadap kejeniusannya tersebut ?
————–
Barangkali beda kasus, beda tempat, beda sampel, dan perbedaan2 selenjutnya, belum terlanjur menggiring kita pada godaan-godaan generalisir …
————–
Bagaimana dengan yg ini :
“Jika saja manusia2 itu taat dan bertakwa, maka akan dilimpahkanlah kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi melalui cara yang tidak disangka2nya, tetapi jika tidak, maka …. [bencana alam, kemiskinan, kebodohan, dst nya] ” (Lupa nih surat ama ayatnya, di wikipedia gak ada seh…
————–
Ada yg meng-korelasikan keterpurukan ummat ini dengan menjauhnya mereka dari nilai2 Islam, dan ada juga yang mengkorelasikannya dengan kedekatan mereka dengan nilai2 Islam tersebut … Gara2 dekat dengan Islam, ummat ini jadi terpuruk … [?]
————–
Kata kuncinya adalah : nilai2 islam … (hakekat, substansi)
lalu, bukankah Islam itu din ?
Dan dinj itu bukan [sekedar] agama …
————–
Benar pak kopral, Islam itu bukan agama…
tapi…din
Lha din itu apa ?
Din itu kan cuma bahasa arab dari agama …
@ calupict
Nah, itu lebih akurat kayaknya.
@ yarza
Wah, pendukung anarkisme, nih?
@ mardun
Mungkin… (nerusin bermungkin ria)
Btw, gerakan intelektual begitu biasanya mendorong munculnya pemahaman baru, ya? Yang dicap sesat tentunya.
@ eMina
Hmmm? Saya masukin daftar ide, deh.
@ sora9n
Hmmm, kayaknya ya, titik beratnya ada di free speech.
Soal ritualisme, kayaknya saya logika sebab-akibatnya kebalik, ya?
Oke. Ritualisme berlebih itu ternyata produk, dan bukan merupakan sumber. 
Good joke…
hahahahahhh…
kekekekekkkk…
@ Mihael Ellinsworth
Ada dua alasan seseorang meninggalkan agama; alasan pragmatis-apatis dan alasan rasionalitas (mirip teori yang disebutkan mas Tito). Yang pertama, adalah karena mereka apatis dan masa bodoh dengan aspek metafisika— dengan motivasi seperti uang dan karir. Yang kedua, adalah menganggap agama nggak memenuhi rasionalitas mereka (i.e. ngawur, mitos, dst).
Tapi kalau dipikir-pikir, agama ‘kan menyatakan bahwa agama itu adalah aspek terpenting dalam kehidupan. Taruhannya neraka. Kok, rasanya nggak mungkin orang-orang ber-IQ tinggi itu menganggap remeh ancaman seserius itu? Atau selama ini mereka memilih alasan kedua?
Saya sendiri lebih cenderung berpikir demikian. Para intelektual stereotip menghindari bukan karena kelalaian, melainkan ketidaksetujuan terhadap doktrin yang ada.
@ Herianto
Benar, tes seperti ini sangat mungkin berbau generalisasi (oke, teori thin-slicing membuktikan sebaiknya, namun masih kontroversial).
Pertama, rasanya subyektif apabila memandang Islam klasik lewat kacamata Islam, di mana disebutkan Islam membawa perubahan positif pada sebuah distopia. Sebab menurut sumber lain, yang terjadi hanya power balance shift biasa, yang bahkan konon (konon lho) cenderung patriarkis dan misoginistik. Yang manakah yang benar? Ya saya nggak tahu, saya bukan ahli sejarah.
Kedua, faktor zeitgeist mesti diperhatikan. Pada akhirnya, teologi adalah usaha memahami alam semesta. Standar yang dipergunakan pada abad ke-14 tentu berbeda dengan abad ke-21, terlepas dari apakah standar tersebut lebih baik atau lebih buruk.
Menurut pemikiran saya perkembangan sains memegang peranan penting di sini.
Ketiga, ya, bisa jadi religiusitas yang ada sekarang bukanlah religiusitas yang asli. Walau sebenarnya susah difalsifikasi. Kalau ada masyarakat religius yang sukses, dibilang itu karena religiusitasnya. Kalau ada masyarakat religius yang bobrok, dibilang itu karena religiusitasnya imitasi.
Ya, lebih kurang begitu, pak.
@ Jabrizi
This isn’t a joke, though I did laughed.
setuju sekali….
emang banyak orang yang lebih mengedepankan rasional akan mengesampingkan keberadaan “major supporting” yang berada di belakang insting rasional tersebut. maka tumbuhlah mental-mental kapitalisme.
Wah, masalahnya tidak sedangkal itu, mas.
(Btw apa hubungannya dengan kapitalisme?)
still, good joke….
…
btw, mungkin hal ini disebabkan agama yang tidak se fleksibel sains.
munkin lho…
kekekekekkk…
Mbuh…
???
Kenapa?
*bibit OOT*
kalo saya pribadi memilih menggabungkan agama dgn logika dan memang akhirnya bertemu di “Journey of souls”-nya Michael Newton setelah pencarian panjangku. Bahkan teori kwantum juga menjadi cair bercampur dgn agama di sana, apalagi teori multi galaksi … (hihihi… lagi2 buku ini)
Tapi itu ‘kan sesat ™…?
[CY]
memadukan sesuatu yang ManMade dgn Universe…
[Bang]
again…
Good Joke!!!
kekekekekkk…
Ano… ^^’
*masih nunggu komentar dari Catshade, karena dia masih segar soal-soal inteligensi dan korelasi-korelasinya*
Saya sendiri cukup terkejut dgn hasil penelitian ini.
Tapi bisa jadi ada kecenderungan dari peneliti utk “mengarahkan” hasil penelitian. Dan ini bisa digunakan pada metodologi penelitian yg digunakan. Apalagi dgn error yg termasuk besar.
Tapi lupakan saja “maksud” dibalik itu. Saya sendiri terkejut lagi lihat hasil dari beberapa negara, misalnya negara-negara di Latin America (Argentina, Brazil, Mexico, Venezuela) yang % religion nya dibawah 70. Juga dgn Polandia yang hanya 36. Padahal mereka adalah negara-negara dgn penduduk beragama Kristen/Katolik terbanyak.
Pergeserankah ? atau saya yg berbeda melihatnya ?
Tapi menurut saya apa yg tertulis di hasil penelitian itu adalah hasil yang hanya bersifat korelatif. Maksudnya gini, tingkat inteligensi memang bisa dikorelasikan dengan hampir semua bidang, termasuk dgn income perkapita, tingkat gangguan jiwa, bahkan dengan level pemahaman agama. Tapi itu hanya korelasi. Kita bisa saja tidak tahu dimana letak penjelasan atas korelasi itu, dan itu membutuhkan teori-teori lain dari luar yang bisa menjelaskan korelasi itu secara memuaskan. Dengan kata lain, suatu penelitian korelatif tidak bisa dijelaskan dgn penelitian itu sendiri.
Lain dengan hubungan yg bersifat sebab akibat (causalitas). Dan ini yang baru-baru saja menjadi kehebohan ketika Dr.Watson, si penemu rantai DNA, mengatakan kalau ras negroid itu memang “bodoh” dari sononya (gennya). Itu langsung bersifat sebab-akibat. Gen-Bodoh-IQ jongkok.
Dengan kata lain, % religion very important itu tidak bisa secara langsung mempunyai hubungan kausalitas dgn IQ. Sebab dan akibatnya tidak diketahui. Dan penjelasan-penjelasan apapun bisa menjadi penjelasan yang memuaskan (adequate explanation) asalkan mampu menjelaskannya dgn baik. Dan hubungan korelatif bisa dibalik-balik, misalnya negara dgn level IQ rendah berkorelasi dgn tingkat pementingan agama atau sebaliknya.
Penjelasan saya ? ah, agama itu kebanyakan mitos dan negara modern itu kebanyakan logos (mengutip Karen Armstrong). Dan mitos dan logos selalu ada dalam diri manusia. SELALU. Tingkat penerimaannya saja yang mungkin beda.
Memuaskan ?
Akhirnya salah satu yang ditungu nongol.
Dan bisa jadi secara alam bawah sadar saya mempunyai kecenderungan berharap penelitian ini akurat…
Bias, ya?
Ya. Dengan kata lain, belum tentu berhubungan.
Bukannya ‘ulah’ Helmuth Nyborg lebih sensasional (dan kontroversial) lagi? Ia sudah menyatakan tiga pernyataan dahsyat; atheis lebih cerdas dari kaum beragama, pria lebih cerdas dari wanita, dan orang kulit putih lebih cerdas dari orang kulit hitam.
Suatu pernyataan materialis-naturalis muncul di sini; apakah menolak riset seperti itu atas nama ‘kesetaraan manusia’ adalah wishful thinking?
Mbuh…
*masih nunggu mas Catshade*
hei2…
Indonesia itu 89 loh. (kenapa ged patokannya 90..??)
cukup aneh juga melihat kadar religius mereka sampai 95.
negara yg satu ini cukup beda dari yg lain..
bingung…
hehehehe~
gw prediksi indonesia negara pertama yg IQ-ya diatas 100 dan tingkat religiusnya diatas 90…
prediksi doank..
hehehehe~
Ya, Indonesia cukup berimbang.

Soal prediksinya, saya sih nggak keberatan, asal tingginya religiusitas nggak diiringi tingginya bigotry… *ngelirik kasus Al-Qiyadah*
Untung saya termasuk yang moderat IQ dan religinya.
Moderasi intelektual dan religiusitas itu apa benar-benar positif?
*pernah memikirkan hal seperti itu*
Indonesia 95 89
ternyata indonesia lumayan religius dan pinter yah..
(walopun ternyata gak tembus angka psikologis 90 untuk IQ)
emm.. tapi ada yg menarik, sebenarnya yg penting itu agama atau spiritualitas ya?.. menurut saya, orang yg memiliki spiritualitas yg tinggi.. dia akan berbuat baik tanpa pamrih dan embel2 apapun.. misalkan gak mencuri walopun gak ada yg liat, jujur dll dll..
Saya rasa juga sedikit ambigu. Pertanyaan surveynya ‘kan “Seberapa pentingkah agama dalam hidup?”. Jadi, sentimen ini bisa dipakai seorang atheis-materialis sejati maupun seorang umat beragama yang pluralis.
Yang pertama menganggap nggak penting karena menganggapnya bullshit, yang kedua menganggapnya nggak penting karena mementingkan esensi.
Yup, saya juga kalau meneliti sesuatu dan telah mengikuti berbagai metodologi yang cukup ketat, terkadang masih punya harapan bahwa ada salah satu dari hipotesis yang dibuat dapat terpenuhi. Terkadang dari sekian hipotesis, ada satu yang sangat saya harapkan menjadi jawaban dari suatu fenomena. Alamiah memang, tapi terkadang itu yang membuat “bias” itu masuk dalam metode dan pengukuran yang saya buat.
Dan akhirnya kalau sempat sadar, saya cuma bisa menepuk jidat
Ini penelitian atau spekulasi ?
Oh, bisa jadi berhubungan. Tapi apakah hubungannya seperti hubungan antara harga ember di Pontianak dan harga saham di BEJ, atau seperti kepakan sayap kupu-kupu di pedalaman Irian dengan topan Katrina di AS, atau seperti hubungan antara pemberian ASI dengan tingkat kecerdasan.
Mencari hubungan bisa jadi mudah, menjelaskan hubungan itu yang luar biasa sulit.
Benar, saya juga pernah membaca beberapa penelitian yg mengatakan itu. Tapi mungkin cuma Nyborg yang terkenal karena dia yang “memproklamasikannya”.
Saya sendiri percaya ttg konsep “manusia itu sama”. Tapi mungkin itu representasi dari alam bawah sadar saya dan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang saya anut.
Atau mungkin juga pembenaran.Tapi saya juga sering bertanya, kalau manusia itu sama, mengapa ada variasi rasial, variasi jenis kelamin, dan variasi kepercayaan [dlm konteks Nyborg] dan selalu dihubungkan dengan KECERDASAN. Mungkin kecerdasan dianggap sebagai “kasta tertinggi” dari beberapa konsep tentang manusia. Apa yg saya pelajari ttg kecerdasan dan segala macam korelasinya selalu mengatakan bahwa kecerdasan adalah gabungan antara natur + nurture.
Dan kalau saya penganut naturalism-materialism, mungkin pemahaman akan kecerdasan hanya akan berhenti pada soal nature saja. Dari sononya beda ya memang beda, mau diapain lagi.
Kalau soal atheis-theis, saya cuma bisa tertawa saja.
Apakah ini berarti “penggunaan akal” bagi kebanyakan orang atheis lebih berpengaruh pada inteligensi dibandingkan “taklid buta” yang sering ada pada kaum theis ? Mbuh…. itu kan jadi nggak nature lagi alias sudah masuk aspek lainnya.
Mungkin juga kata “SAMA” itu yang berbeda makna. Sama bagi saya berbeda dengan sama-nya orang lain, begitu juga dengan konsep “berbeda”.
dan saya kok jadi teringat pada Hubermensch-nya Nietzsche yang “diselewengkan” oleh NAZI-Hitler demi ras aria-nya dan nafsu menguasai dunia.
dan itu juga dihubungkan dengan kecerdasan manusia.
Kecerdasan memang sering dibawa kemana-mana. Termasuk dibawa ke ideologi.
Atau mungkin gini. Agama, dogma, atau apapun itu adalah konsep penyandaran diri ke sesuatu. Semakin cerdas seseorang, semakin terbuka wawasan dia, maka dia semakin merasa untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan tidak etis untuk bersandar pada apapun entah itu Agama, dan yang lain.
Dan, ketika orang mulai tidak bersandar pada hal-hal tersebut, hal-hal itu jadi tidak begitu penting. Karena mereka berpikir “I am me. What I do is done by me. I take full responsible of what I have done and what I will do”
Mungkin begitu.
—————-
Komenku selalu telat.AH!
@ Pyrrho
Benar. Intinya ya, hubungan itu bisa secara langsung bersifat kausatif, atau hanya kebetulan saja membentuk grafik yang bagus.
Sama, mas. Saya sendiri pernah bertanya-tanya, apakah sesuatu itu pada hakikatnya mesti setara, adil, dan penuh hikmah?
Toh di dunia hewan saja ada sapi unggul, sapi nggak unggul, dan sebagainya. Jadi bisa saja manusia (yang ada kemungkinan hanya hewan yang ego-nya tinggi) memang memiliki variasi dalam potensi awal (nature)-nya?
*bingung*
Setuju, ini lebih ke nurture… Saya kira orientasi religiusitas itu benar-benar masalah lingkungan, deh. Orang dengan potensi natural sama bisa sangat berbeda spiritualitasnya apabila yang satu dibesarkan di Iran dan yang satunya lagi di Jepang.
@ nuragus
Tergantung; agama sendiri seringkali nggak memposisikan diri sebagai konsep penyandaran diri, melainkan ancaman. Saya kira pelepasan dari penyandaran diri seperti itu mesti diiringi dengan hilangnya kepercayaan atas dogma yang ada.
Ancaman? Nggak ah!
Bagi beberapa orang, asal sudah merasa cocok dengan agama, sudah merasa benar, cukup, dan tenang. Itulah penyandaran diri.
Kalau hilangnya kepercayaan atas dogma yang ada, saya rasa otomatis deh. Kalau orang udah nggak menyandarakan diri pada agama, ya otomatis orang itu nggak percaya lagi dengan dogma nya kan.
OOT: Maaf numpang iklan.
Bantuin saya disini dong:
http://nuragus.wordpress.com/2007/11/29/gagal-tes-schlumberger-cukup-menyakitkan/
Lubangnya keliatan kok. Lumayan buat ngintip-ngintip
Absurd? Sedikit absurd, meski belum ada bukti bahwa itu konsiprasi Yahudi™
Tapi menarik.. ternyata standarisasi IQ bisa berarti banyak. Kira-kira kapan IQ diberi standar ala ISO ya?
Oh! Lupa kesimpulan sendiri:
Aada celah diagama buat dimanfaatkan. Kalau diperhatikan, di negara-negara yang lebih religius itu, ada golongan minoritas yang lebih intelek™ dan lebih pintar mengekspliotasi yang religius agar tetap terpasung dalam kemiskinan. Pola yang sama yang ada pada Saddam, Syah Reza Pahlevi, bahkan Soeharto ketika merangkul MUI dan mensponsori berdirinya ICMI dulu.
Jadi, salah agama lagi? Totalkah salah agama? Agaknya tidak. Agama itu cuma konsep, peduli
setanagama itu samawi atau agama bumi. Apakah diklaim sebagai agama dari langit atau rekayasa manusia. Tapi, pada umumnya agama memang lebih untuk spiritual dan bukan berfokus total pada peningkatan kualitas intelektual.Lagipula, yang paling mutlak diperlukan toh bukan intelektualitas dengan standarisasi IQ saja. Selain agama yang sering jadi alasan mengobarkan perang, toh kepintaran juga banyak merusak di muka bumi. Bom atom pertama di dunia bukan karena zikir lho
Mestinya seimbang saja… ya akal ya spiritual. Sayangnya, penelitian tersebut (meski aku menolaknya sebagai 100% valid) membenarkan eksploitasi agama untuk mengungkung akal. Tapi, eksploitasi oleh siapa, itu yang menarik untuk dianalisa.
*njrit! komen sebelumnya ilang
*
Oh! Lupa kesimpulan sendiri:
Aada celah diagama buat dimanfaatkan. Kalau diperhatikan, di negara-negara yang lebih religius itu, ada golongan minoritas yang lebih intelek™ dan lebih pintar mengekspliotasi yang religius agar tetap terpasung dalam kemiskinan. Pola yang sama yang ada pada Saddam, Syah Reza Pahlevi, bahkan Soeharto ketika merangkul MUI dan mensponsori berdirinya ICMI dulu.
Jadi, salah agama lagi? Totalkah salah agama? Agaknya tidak. Agama itu cuma konsep, peduli
setanagama itu samawi atau agama bumi. Apakah diklaim sebagai agama dari langit atau rekayasa manusia. Tapi, pada umumnya agama memang lebih untuk spiritual dan bukan berfokus total pada peningkatan kualitas intelektual.Lagipula, yang paling mutlak diperlukan toh bukan intelektualitas dengan standarisasi IQ saja. Selain agama yang sering jadi alasan mengobarkan perang, toh kepintaran juga banyak merusak di muka bumi. Bom atom pertama di dunia bukan karena zikir lho
Mestinya seimbang saja… ya akal ya spiritual. Sayangnya, penelitian tersebut (meski aku menolaknya sebagai 100% valid) membenarkan eksploitasi agama untuk mengungkung akal. Tapi, eksploitasi oleh siapa, itu yang menarik untuk dianalisa.
@ nuragus
Sebentar, ‘menyandar’ di sini maksudnya secara pragmatis begitu? Atau iman sepenuhnya?
@ alex

Sedikit terlalu tendensius, ya?
IQ? Semakin distandarisasi, manusia pun bisa dikelas-kelaskan jadinya… Mesti hati-hati juga, tho?
Nganu Kopral. Kalau menurut saya menyandar itu begini:
Misal, ada sebuah masalah berat yang kita harus memutuskan untuk memilih diantara 2 atau 3 pilihan yang sangat sulit. Dan ada trade-off diantara pilihan itu. Nah, ketika kita memilih yang sesuai dengan maaf agama, maka kita melakukan penyandaran.
Atau, yang lebih jelas lagi. Kata InsyaAllah. Kata ini diucapkan untuk menyandarkan diri kepada Tuhan. Kalau saya berhasil melakukannya, ya itu bagus. Kalau saya tidak berhasil, saya tidak bisa disalahkan karena saya mengatakan InsyaAllah.
Dan sebagainya.
Terlihat belum? (atau penjelasanku nggak bagus ya?)
Kalau kita nggak bersandar pada Agama, maka ketika case pilihan, kita harus mempertimbangkannya dengan diri kita sendiri. Bukan dengan logika agama.
Nah, di case yang kedua, kalau kita nggak bersandar pada Tuhan, ya kita siap menerima blame apapun atas kegagalan itu.
——————————————————
Mungkin jawaban singkatnya, “Yang pragmatis”.
Kalau iman seutuhnya, mmmm…. EIT!
Saya salah kopral! nggak otomatis.
Tetap terpisah memang antara yang dogmatis dan yang praktis. Wew! Thanks udah diingetin!
*baca*
*manggut-manggut*
Ya itu yang pragmatis, memang.
Kalau yang begitu ya, memang hipotesis mas bisa saja benar. 
Errr… cuma mau komplen dikit.
Tadi itu ada komenku kayaknya ketelan akismet
@ alex
Udah dikeluarin dari akismet.
Benar, memang bisa saja ada banyak agenda politik yang menyelubungi peran religiusitas dalam suatu masyarakat. Dan tidak bisa dibantah bahwa kontribusi positif masyarakat adalah masif, terlepas dari apakah agama itu benar, salah, obat, candu, racun, atau malah ilusi.
Tentunya yang menarik sekarang adalah menemukan siapakah kira-kira begundal-begundal yang sengaja memperalat agama sebagai alat pembodohan.
Tambahan. Mungkin perlu dibedakan pintar, dengan tingkat kecerdasan. Dengan pengetahuan saya yang dangkal dan gak tau caranya masukin link. Pintar itu lebih menunjukkan kepada seseorang dengan pengetahuan luas, ditunjukkan dengan nilai bagus, misalnya A. padahal untuk dapat A bisa dari belajar giat. Bukan mengandalkan kecerdasannya.
contohnya konata (lucky star). nilainya gak jauh beda dari hiragi, padahal waktu belajar konata jauh lebih sedikit.
makin cerdas, makin tinggi IQ, makin cepert “ngerti”.
orang cerdas bakal kesulitan menghadapi agama yang cenderung dogmatis. apalagi akhir-akhir ini kuat dorongannya untuk mengembalikan kondisi dogma ke jama abad 18. mulai dari paham matahari mengelilingi bumi, sampai pemberantasan aliran “sesat”. loh kok jadi OOT gini?
Memang, tingkat kecerdasan yang konon dapat diukur dengan aproksimasi tinggi itu hanya nature-nya. Kecerdasan itu IMO hasil asahan nature+nurture, di mana di sini faktor lain sangat berperan.
Dan ya, beberapa kecenderungan umum umat beragama untuk berjalan mundur secara sains mungkin mempengaruhi pandangan kaum intelektual akan agama.
Btw, sejak SMA, saya selalu mempraktekkan metode a la Konata itu untuk belajar.
Banyak, Ged. Dan celakanya, selubung itu dikemas begitu menarik dan apik. Apa yang terjadi di daerahku ini bisa kusebut contoh kontemporer. Dari sebuah himbauan untuk Doa Bersama, tiba-tiba jadi deklarasi dukungan politik, dengan memasang tokoh agama di podium untuk mengajak masyarakat untuk TIDAK PERLU memikirkan kondisi daerah saat ini.
Apa tidak pitam jadinya?
Itu cuma salah satu contoh bahwa agama bisa jadi alat paling bagus buat mengelabui dan melenakan umat. Hidup jadi macam binatang: hidup untuk makan dan bukan makan untuk hidup.
Lebih celaka lagi, ada tokoh-tokoh agama (kalau tidak bisa disebut banyak) yang malah tidak peduli dengan pendidikan. Seakan-akan semuanya sudah tercakup dalam sebuah kitab atau kajian keagamaan belaka.
Ah… tidak terlalu susah itu benarnya. Telusuri saja program-program lembaga agama yang dibentuk pemerintah. Baca dan analisa seberapa banyak dari program tersebut yang mengangkat dua hal paling penting: miskin dan bodoh.
Tak heran Depag jadi lembaga paling korup di negara ini

Kesimpulan: ada oknumnya di DepagSoalnya umat kebanyakan sudah mengangap Tuhan sebagai pembantu.
Belakangan saya dengar ada usulan doa beramai-ramai mengutuk pelaku korupsi. Konon itu *seharusnya* lebih bagus, manjur, dan efisien dalam memberantas korupsi. Jadi maunya yang gampang saja, duduk-duduk, berdoa, lalu pulang ke rumah. Nggak ada tindakan yang lebih lanjut. Padahal bukankah agama pun mengajarkan bahwa kalau mau mengubah nasib itu mesti berusaha dulu?
Patut dipertanyakan; Ada apa dengan DepAg?
Ah! Ini pasti™ permainan Depnaker!
Ya. Dan aku pernah dengar komentar bahwa konglomerat yang terlibat skandal demikian banyak yang sakit karena doa begitu. Tapi sayangnya… doa massal itu ndak pernah berhasil menarik simpanan di bank Swiss
Oh! Mengubah nasib itu kalau tidak hati-hati akan mendekati kekafiran lho. Demikianlah sahihnya
Cuma ada skandal-skandal busuk saja kok di DepAg…
……
blockquote-ku! blockquoteku!
Berarti, sebaiknya akhi segera hentikan berdemonstrasi itu… Umat yang baik mesti tetap pasrah terhadap pemerintahan… Dunia ini hanya sementara, tho?
*elus-elus punuk unta*
Wakakaka… seharusnya berdoa agar para pelaku itu disadarkan bukannya berdoa agar dikutuk, weleh2… yg mengusulkan itu agamawan yach??
Yang lebih keren lagi, ternyata yang didoakan itu adalah “koruptor dan keluarganya”. Huehehehe, keluarganya sampe dibawa-bawa.
hoho

penelitian yang menarik
jadi suatu negara bagaimana baiknya??