
Di kamar saya, ada TV.
Saya bosan.
TV saya nyalakan.
Klik.
Nyala.
HBO.
Oh, mungkin belum saatnya saya berpuisi lagi.
Ahem. Nah, beberapa menit saja sebelum entry ini ditulis, film See No Evil ditayangkan di HBO. Sebuah film horor yang stereotip; menyajikan keberingasan seekor psikopat yang hobi membunuh akibat alasan traumatik. Kebetulan yang memerankan psikopat tersebut adalah tukang gebuk tersohor dari dagelan gulat WWE, Kane.
Apakah film ini bagus? Ya itu tergantung anda juga, bagi saya sih biasa-biasa saja. Cenderung jelek, malah.
Saya saja nggak nonton sampai habis. Lha wong disambi internetan, je. Yang menarik adalah apa yang saya lakukan setelah menonton film itu, walaupun sebentar.
Apakah itu? Tentunya membuka RottenTomatoes-nya. Responnya ternyata sangat jelek; overall critics review-nya cuma seberat 7%. Nista, hina, dan nestapa.
*seruput teh hijau*
Walau saya sendiri nggak terlalu suka dengan film yang disebut, saya sempatkan untuk membuka-buka diskusi pada message board yang disediakan. Ternyata beberapa penonton ada yang memihak pada film bernilai tujuh persen ini.
evil23ky: it was a great movie friday the 13th and halloween could’t add up to this movie see no evil was the best horror film i have ever. usually when the critics say that a movie or any thing is bad more people will go see it. i dont care what they say it is the peoples say how the movies is.
i just hope they make a 2nd see no evil
Sebuah remark yang biasa. Tentunya seni adalah masalah selera. Siapapun boleh suka atau nggak suka. Tapi tunggu dulu, kemudian muncullah seorang member lain, menanggapi komentar si malang evil23ky;
alarson37: Several things to point out
1) It’s called a Shift key. It makes capital letters (the ones that are bigger than the other letters). Try using it sometime.
2) My cat has better grammer skills.
3) Yes, I did go see See No Evil on Friday, so I can tell you what I thought of the film. The 1st half (before the killing starts) seemed to take twice as long as it did, and was 3 times longer than necessary. It was a mess in terms of dialogue, and the scenes seemed to be shown in the wrong order, if they were trying to set up anything about the characters. The 2nd half of the film was at least somewhat interesting, in the manner of how the kids were removed from the plot (but how many times do you need to show someone’s eyes being removed? We’ll accept it as done after the 3rd time so you can do something else).
4) Considering he was dead enough to have a dog urinate on him, I don’t think there will be a sequal.
“2) My cat has better grammer skills.”
That was golden. Why don’t you look up at a dictionary and try to find out whether the word ‘grammer’ actually means something you were referring to? And don’t worry. There won’t be any sequals. Though I’m not sure what a sequal is. Perhaps you mean sequel?
*seruput teh hijau*
Goblok 1: Internet Bums
Saya sendiri, sejak dulu kurang sepaham dengan RottenTomatoes dan konco-konconya. Atau makhluk-makhluk sejenis. Saya kira seni adalah suatu yang sangat subyektif; terlalu naif untuk mencoba memonopoli penilaian. Seperti yang di kemukakan Shakespeare, di dunia ini nggak ada yang jelek atau bagus, semuanya adalah persepsi. Anehnya kritisi-kritisi yang nggak etis seperti ini makin lama makin dianggap keren oleh publik. Suatu sentimen yang cupet dan megalomaniak— atau kalau pakai istilah seorang Kopral Geddoe; aesthetical bigotry.
Dan itu ada di mana saja. Di segala bidang. Kritik seringkali terlalu dibesar-besarkan, terdapat kesengajaan untuk menembus batas proporsi tanpa motif yang jelas. Sebuah intuisi senikah? Saya melihatnya sebagai nggak lebih dari kesenangan sadomasokhis yang didapat dari merasa bebas menghujat… and get away with it.
Selain itu, terlihat ada upaya egois untuk menginstitusikan sebuah opini, membentuk sebuah lembaga yang opininya (ingin dianggap) lebih autoritatif dari opini-opini lain. Ambisi untuk menjajah sebuah kultur.
Semuanya kena getahnya; film, musik, seni rupa, kuliner, semuanya. Semuanya berusaha mengobyektifkan yang subyektif. Oleh sebab itu saya nggak suka dengan yang namanya 100 Greatest Artist of All Time, atau konsep-konsep sejenis. Siapa yang menentukan? Pakar? Pakar apa? Nggak ada kepakaran dalam sesuatu yang subyektif. Setiap stimulus yang diterima oleh otak akan mengubah cara otak berpikir, menghasilkan penilaian yang beragam. Perubahan cara persepsi itu sendiri sama sekali bukan menuju arah yang lebih baik atau lebih buruk. Oleh sebab itu ‘kepakaran’ itu nggak bermakna apa-apa.
Tapi jangan salah, ada beberapa kualitas yang memang dapat dinilai secara (mendekati) obyektif. Misalnya, kualitas animasi pada film, profisiensi permainan dan kompleksitas lirik dalam musik, atau detail dalam seni rupa. Namun saya rasa secara keseluruhan, terlalu banyak subyektivitas dalam menilai sebuah karya seni. Oleh sebab itu, respek saya kira sangat esensial. Ini yang membuat saya sedikit kesal; adanya kecenderungan untuk sok jual mahal dan merendahkan respek atas nama ‘cita rasa seni’. Buat saya itu telek kebo, yang ada cuma arogansi semu.
Naah, rasa gemas itu biasanya semakin menjadi-jadi apabila mengunjungi sarang-sarang troll seni. Misalnya, Last.fm (untuk musik), RottenTomatoes (untuk film), atau YouTube (untuk semuanya). Contohnya ya seperti baginda alarson37 di atas. Preman-preman net yang asal nyablak, kadang nge-leet, kasar, dan nggak menebar respek sama sekali. Bisa dibilang sisi gelap kebebasan informasi, di mana semua orang (yang nggak semuanya beradab) punya hak bicara yang sama. Lha, selera kok diperdebatkan. Mana bisa ketemu? Kalau masih diperdebatkan, mungkin kita masih punya bakat goblok…?
Goblok 2: Goblok Itself
Btw, iseng-iseng, saya buka halaman goblok di Wikipedia Indonesia. Masih berupa stub. Akan saya kutip untuk anda-anda semua;
Goblok adalah sebuah kata yg artinya Bodoh atau Tolol. Biasanya dipergunakan sebagai ekspresi kemarahan terhadap kebodohan/ketololan seseorang dengan sangat. Contoh: “Goblok lu!!, gitu aja gak bisa”.
Walaupun demikian, penggunaan kata ini lebih menunjukkan ketidak mampuan orang yang mengatakannya akibat tidak dapat mengendalikan emosinya.
*diakses 15 November 2007, 1:16 UTC+8*
Err, kayaknya itu artikel perlu diurus, deh. Kayaknya ‘nggak ensiklopedia’, tuh. Terutama kalimat penutupnya. 
Goblok 3 (update): Saya Goblok
Karena setelah dipikir-pikir, tulisan ini sedikit sekali hubungannya dengan konsep goblok. ![]()
(Mungkin karena saya terpesona dengan takaran goblok a la ’sok nggak goblok’-nya baginda alarson37 itu…)
Sekian dan terima kasih.


memang biasanya orang goblok tuh gak ngerasa dirinya gobok. mungkin karena kegoblokannya jadi dia gak tahu gimana itu goblok. DASAR GOBLOK!!!
WOA jadi yang vertamax nih..
Jangan2 kamu sendiri yang mengedit artikel Goblok di wikipedia :p
Benar Sobat
Tak pernah ada kacamata yang sama untuk selera ini.
dan Jujur Goblog itu adalah bakat, yang bersimaharajalela
ada ga kata ini?meski laten, dalam diri saya terutamamanusia itu heterogen.
tidak slamanya kegobloggan suatu kekurangan.
kekekekkk…
Orang yang mengaku pintar terkadang malah tidak pintar. Sebaliknya, orang yang pintar justru merasa tidak pintar sama sekali.
…
…
…
*Merenungi komentar sendiri*
*ngakak baca komen alarson37*
Keren amat ceramahnya sampai ndak sadar bikin kesalahan.
Yeaaa, tergantung persepsi, ndak ada yang absolut to’?
@ dodo
Hohoho! Jangan-jangan semua orang di dunia ini goblok?
@ kunderemp an-narkaulipsiy
Nggak, kok. Aselinya begitu. Sumfah.
@ goop
Betul, paman. Makanya saya nggak suka kalau ada institusi yang sok menjadikan opininya lebih ’sah’ dari orang kebanyakan.
@ Jabizri
Goblok itu ‘kan macam-macam. Nah, kalau gobloknya tipe asal nyablak dan merugikan orang lain, itu yang patut diberantas.
@ p4ndu_454kura
Nggak selamanya, lho. Mr. Mourinho cukup jumawa dengan kejeniusannya, tuh.
@ rozenesia
Iya, tapi tetap, itu komen baginda alarson 37 bikin ketawa miris.
Pertama, sok ceramah kudu pakai tata cara EYD ala enggres segala.
Kedua, eh, nyambung ke kucing. Ini beneran, boss? Piye to Jhon?
BTW, yang komen ini juga goblok kalau dilihat dari beberapa persepsi.
Jadi, siapa yang goblog sih sebenarnya?
@ rozenesia
Kucing…?
@ NuDe
Nggak tahu, kayaknya di dunia ini yang goblok banyak, deh, termasuk saya.
man, u not stoopid enough to say stupid
stoopid is delicious, taste it!
Kayaknya dia lupa nulis ini :
even better than me.
Goblok ya… :think:
Sudah jadi catch phrase ku tuh.
Sial salah ketik, harusnya *think mode on*
Wah ada lagi yang salah harusnya Sial, salah ketik…
Biarlah aku ini goblok kok.
*HATTRICK*
@ )x(
No thanks, I want nasi bungkus instead.
@ yarza
Ngetik itu pelan-pelan, master…
Hmm… ada niat ngumpulin definisi ‘Gobly’ dari bermacam-macam manusia? *grins*
Gw nyebut ‘goblok’ things seringnya jadi ‘gobly’. Arti sama tapi terdengar lebih asing.
Nggak niat, mbak. Males.
Masalah goblok… Nggak tahu juga, saya jarang ngatain orang goblok, sih. Kalaupun mau nyerang, biasanya pakai ironi supaya lebih nancep (yang ini lebih imoral lagi).
lah “goblok” juga kan karya seni mas..,
goblok juga kan masalah selera to mas..
lha masak saya selera ama yang goblok-goblok kok enggak boleh…
*yang enggak mbolehin ya siapa ya..*
salam kenal…
Jadi inget, dulu waktu saya baru gabung di situs anime-art yang saya jadi anggotanya. Waktu itu, di policy-nya ada tulisan kayak begini:
Tentu saja, kata yang dicetak tebal itu harus ada — karena standar kualitas karya seni sendiri sangat bervariasi untuk setiap orang.
BTW, sekarang kalimatnya udah dimodifikasi, sih. (o_0)”\
Makanya, ente itu goblok™…
*langsung kabur secepat kilat*
[/bercandaLho]
[sekalian hetrik] ^^v
[maafkan sampahan saya ini]
@ wulan
Yah, seperti yang saya bilang, ada kalanya goblok itu nggak sehat. Misalnya goblok yang menggoblokkan.
Salam.
@ sora9n
Sekarang jadi seperti apa?
*tabur garam*
Astagfirullah!!! Tulisan ini mencerminkan penulisnya!! Segera bertaubatlah!!
@ Kopral Geddoe
Sekarang sih jadi kayak gini:
Aroma subyektivitasnya masih ada sih, tapi kayaknya lebih to the point yang dulu (IMO). (o_0)”\
Eeh, ini karena saya hetrik, atau karena isi komen saya yang kedua nih?
@ Abu Onta Al-Laknatullahhallalantayyiban
Apa-apaan usernamemu?
*bertobat*
@ sora9n
To the pointnya makin subyektif apa obyektif?
*siul-siul*
Bicara film horor sejenis itu, menurutku Ged, yang terbaik itu ya trilogy Saw. Bagus ceritanya, ndak melulu bunuh-bunuhan, tapi tentang menghargai hidup
Benar. Tidak ada yang jelek atau bagus dalam pengertian jelek absolut atau bagus absolut. Persepsi masing-masing yang menentukan. Dan jelas, persepsi masing-masing ini tidak boleh ada pemaksaan, apakah dengan cara menekan dengan keras atau merongrong dengan halus bahwa semua orang harus menerima.
Hehehe… meski bingung pengertian ‘nggak ensiklopedia’ itu yang gimana, tapi kalimat penutup itu memang ‘agak kurang beres’ juga di mata
Lha… ada yang ngucapin GOBLOK dengan wajah tenang dan tanpa emosi kok
Analogi preman bermotor di jalanan, Ged. Nggak semua pengendara motor beradab. Tapi semua pengendara motor yang punya otak pasti tahu apa yang namanya rambu dan lampu lalu-lintas. Hak bicara seperti hak berkendaraan: semua punya hak di jalan, tapi kalo nyenggol, wajar saja yang lain jadi marah atau uring-uringan
Wahaha, saya sering ketemu orang-orang sok pintar macam si alarson37 itu. Lebih mengesalkan lagi kalau ternyata yang ngoreksi itu orang yang pengetikannya lebih kacau daripada yang dikritik. Atau n00b sok jago dengan post banyak yang menyindir newbie dengan post sedikit yang sebenarnya lebih jago (macamnya di forum-forum modding).
Makanya kalau saya bilang, di forum-forum itu orang cenderung menilai seseorang dari jumlah post dan avatarnya.
Soal halaman di Wikipedia Indo, memang betul masih banyak yang belum keurus. Mungkin kalau ditambah kata-kata sederhana dan sehari-hari bisa lebih lengkap. Atau istilah-istilah yang sebenarnya umum tapi masih perlu dicari artinya.
*kesulitan waktu cari buat tugas*
Walaupun seni itu masalah selera, ada titik dimana sesuatu seni itu secara objektif baik ataupun buruk.
Dumbdumber
Yang goblok yang menggoblokkan
Keseriusan seseorang dalam menanggapi sebuah tulisan sering diwujudkan dalam ekspresi jujur spontan yang bisa jadi karena si pembaca merasa dilibatkan dan dipermainkan emosinya atau terlibat karena merasa memiliki pengetahuan yang sama (sama-sama tau ngapain ngasih tau) atau merasa lebih tahu.
Dengan demikian, adalah wajar kalau tiba-tiba seseorang berkata menyimpulkan tentang si penulis yang ngawur bin goblok. Jujur, saya menyukai sarcasm lebih dari pada sekedar basa-basi pelembutan bahasa (euphemism) yang berujung pada pengerosian makna, semisal pelacur menjadi PSK atau penjara menjadi LP.
Dengan tanpa mengetahui maksud si penulis, dalam hal ini kebenaran kondisinya terkait dengan apa yang telah ditulis, atau niatan penulis yang pembaca sendiri belum tentu mengetahuinya, lebih-lebih permasalahan bahasa (ambiguity) dengan tetek bengek problematika pemahaman pembaca sinergis dengan pentium berapa otaknya (daya serapnya), sebenarnya pembaca tidak kehilangan haknya untuk terus menelusuri between selected line dan bukan on line dengan cara mengkaji mencerna untuk tidak berhenti pada kesimpulan asal-asalan yang malah berkesan bodoh. Pembaca juga mustinya dapat mengendalikan ketergesaan bacaan dan kemarahan (fast n’ furious reading) atau membaca sambil berakrobat (acrobat reader) yang kemungkinan bisa jatuh terjerembab di pedalaman ketidaktahuan (forest gump).
Man, u not stoopid enough to say something stupid (bisa diterjemahkan)
Mas, kamu enggak bodoh-bodoh amat kan untuk bisa bilang yang sedang baca ‘goblok’
*escape from…..
@ Xaliber von Reginhild
Woii… woii…
Ini kalimat juga nggak ensiklopedia banget lho!
*digebuk*
@ Kopral Geddoe
Maksud saya, kalimatnya mereka yang dulu lebih to the point dalam menyatakan bahwa “seni itu subyektif”… makanya batas kualitas itu harus unconditionally determined by moderators. ^^
………
*apa kebanggaan diri Sang Kopral baru terusik, yaa…*
[/nyinyirMode=on]
saya cuma mo mengingatkan, sesama goblok di larang saling mendahului.
Goblog adalah ketika kita minum es ditiupin dulu..
WWvzet… Fanggyr Mr alarson37 byar kuzadykan fenyemfvrna EYD
(Wuzet…. Panggil Mr alarson37 biar kujadikan penyempurna EYD)
Wuzet Dah…. Zamane mas,Zaman Edan…. Edyan….. Geheheheehhe….
kalau tidak si Kucingnya kita jadikan Speaker of The House (untung bukan speaker of the computer), kan “grammer”nya bagus katanya…heheehe
Sekali lagi Wuzeet dah…..
@ alex
Belum pernah lihat.
Yang halus itu mungkin mirip dengan hal-hal semacam rock ‘n’ roll hall of fame?
Memang itu yang saya maksudkan.
Analogi yang menarik.
@ Xaliber von Reginhild
Benar. Apalagi kalau n00b itu banyak… Punya pangkat pula.
Hehehe, sayang saya terlalu malas (dan goblok) untuk mengerjakannya.
@ Nenda Fadhilah
Itu juga sudah saya tuliskan, bukan?
@ )x(
*baca*
Ah, menarik.
@ sora9n
Ach, so…
Ya, kadang kalau begitu bingung juga mau respon apa. Jadinya tabur garam ™ menjadi pamungkas.
@ danalingga
Namanya juga goblok, mas. Sukar dinasihati.
@ qzink666
Memangnya ada yang seperti itu?
@ Magister of Chaos
Wuuuzzzeeet juga…
seni bergantung dari imajinasi si penilai
jadi ada benernya juga kalo subyektif!
Bukannya malah kalo goblog gampang di sitir nasehati, lah namanya goblog kan gampang di gobloki.
@ peyek
Setuju, pak.
@ danalingga
Tergantung gobloknya, mas. Ada goblok yang bisa digobloki, ada yang saking gobloknya nggak bisa digobloki.
nyang goblok duduk disebelah mana pak?
dasar goblok!
*nggak berasa goblok*
One thing to point out:
Uh, I don’t see anything wrong with his grammar. Spelling, yes; But grammar? Why don’t you look up at a dictionary and try to find out whether the word ‘grammar’ actually means something you were referring to?
*nitpicky mode: off*
Soal selera dan seni, ntar komennya nyusul…>_>
Oh ya, bukannya RottenTomatoes itu semacam agregator ya, jadi cuma mengumpulkan nilai2 dari reviewer2 lain, trus dirata2in. IF there’s one way to objectively measure an art’s quality, I guess that would be to ask lots and lots of people. Tentu bisa ada kritik tersendiri soal ini:
(1) apakah bisa mengukur seni secara objektif dengan cara ini? atau paling mentok hanya sampe ’subyektivitas massal’?
(2) validkah? mungkin sebenarnya bukan kualitas yang diukur, tapi penerimaan/selera publik (which can render all indie music/film out there as ‘crap’)
(3) Kalaupun itu memang selera publik, sahkah itu bila ditetapkan sebagai standar kualitas? ‘Objektif’kah? Kalaupun ya, apakah selera publik yang terdidik soal film atau berkecimpung di dalamnya (misal: profesor jurusan film, sejarawan film, pekerja film) bisa lebih ‘obyektif’ daripada selera publik awam sebagai konsumen?
Dan terlepas dari masalah agregator di atas, ada pertanyaan ini: Ada gunanya nggak sih mencari/mengukur obyektivitas seni, kalau memang ada? Kenapa Beethoven Symphony no. 5 pantas dilestarikan di perpustakaan negara dan dikirim ke luar angkasa sebagai penanda kebudayaan manusia sementara Spice Girls’ Mama I Love You nggak? Apakah itu cuma snobbisme perpustakaan kongres AS dan NASA atau memang yang pertama itu punya sesuatu yang secara intrinsik lebih ‘berharga’ daripada yang kedua?
Teman saya (seorang jago gambar) pernah bilang di forum bahwa nggak semua lukisan, film, musik, atau patung itu adalah ‘art’, termasuk karya2nya sendiri. Buat dia, definisi ‘art’ itu adalah sesuatu yang berat dan butuh teknik yang mumpuni. Unsur selera bagi dia kayaknya masalah belakangan. Kalau coret2an anak umur 5 tahun bisa dibilang seni atas nama selera, itu namanya merendahkan karya Michaelangelo. “If everything is art, then nothing is art.” Sounds elitist, but I tend to agree with him/her. Tentu saja, ini berarti kita semua harus kembali ke kotak pertama untuk berdebat ‘apakah seni itu’ sebelum membahas ’subyektivitas seni’.
Btw, rasanya gw agak goblok ya, membahas ngalor-ngidul (yang sebagian) kayaknya di luar topik. Sorry, I just want to rant out and vent off some steam…
@ almascatie
Nggak tahu. Saya ‘kan goblok.
@ cK
…
@ Catshade
Ja. But considering that he has a cat that excels English grammar, you’d expect a much better wit.
Soal tomat busuk… Keberatan-keberatan saya persis dengan yang mas tulis.
Ditambah dengan bahasa para reviewer yang terkadang terlalu hiperbola.
Ini dia yang dilematik, IMO. Di satu sisi sentimen ini terlalu benar… Contohnya tinggal menoleh ke MTv.
Hit-hit mainstream, yang beatnya itu-itu melulu dan liriknya juga monoton, memang terkesan nggak ada apa-apanya dengan proyek-proyek yang lebih low profile, namun luar biasa kompleksnya— kalau menurut saya, mungkin sebangsa Dream Theater (saya sendiri nggak terlalu suka, tapi saya bilang itu luar biasa bagus).
Namun di sisi lain, ya itu tadi, kalau memang seni itu 100% subyektif, maka kualitas dua jenis seni di atas adalah setara?
*bingung*
Itu pertanyaan yang susah dijawab. Seenggaknya oleh saya.
p.s. Ah. Mungkin bisa pakai prinsip seorang developer game (saya lupa yang mana) yang pernah saya dengar dulu?
Afakah antum sudah benar-benar bertaubat?
Insya Allah, akhi…
Yakinlah fada kekuasaan Allah, akhi!!! Niscaya antum akan memproleh nikmat-NYA, dan mata hati antum akan terbuka!! Subhanallah!!
kita butuh orang goblok
@ Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny
Subhallah. Alhamdulillah. Samiallahu limanhamidah.
@ Jabizri
Betul.
Hidup Goblog!! Allahu Akbaaaarr!!!
@Geddoe:
OMG… another precious quote!
“Seni yang besar punya kemampuan untuk membuat orang kagum!”
–Reiji Hirai
Q.E.D. by Motohirou Katou
Di Kamar saya, ada orang goblok.
Tidur – tiduran.
Gendut.
Saya bosan.
Pukul, banting tulang.
———————
Hmmm….saya kurang suka kalau review atau pengamatan secara subyektif. Tapi, memang sulit. Saya sendiri masih suka subjektif.
main ke blog gue dong
ini siapa yang goblok….
saya, anda, atau kalian….
Goblox….
*teririshatikumendengarnya*
@ Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny
Hidup juga…
@ Tito
Eh, masa? Saya nyontek dari bukunya Paul Arden, sih.
@ sora9n
Hohoho! Btw, Reiji Hirai itu yang mana, ya? *lupa*
@ Mihael Ellinsworth
Ya, nggak apa, asal subyektifnya nggak semprul, tho?
@ antibatakislam
Blog lu di mana? Ga ada linknya.
@ myresource
Saya terlalu goblok untuk tahu…
<b.@ Kopral Geddoe
Dia itu pemain cello yang jadi penjahat di nomor berapaaaa… gitu *lupa* . Tokoh yang cuman sekali muncul sih. (o_0)”\
BTW, ente baca juga toh? ^^;;
Yah, tag-nya salah. Sudahlah.
adakah software utk mengukur kadar ke”goblok”-an manusia? hihihi…
Nyari2 darwin nyangkut disini, saya pikir sedang membicarakan MUI. Ternyata…
Setelah membacanya dalam lindungan wudlu, saya jadi merasa cerdas, agung dan luar biasa.
*kadargoblokdalamdarahterlalutinggi
Wah, mungkin kali ya? *penyakit skip2 kambuh*
Btw, apa nulis gara-gara The Island?
Lho, emang Last.Fm emangnya kenapa? Saya make itu cuma biar tahu lagu apa yang paling sering diputer di Lietzenberg.
he he he semua disini pada GoBlog
Apdet ya akhi!! Allahu Akbarrr!!
jd yg goblok mana?
Ya orang yang merasa semua orang goblok kecuali dirinya
“Two things are infinite: the universe and human stupidity; and I’m not sure about the the universe.” -Albert Einstein
entah kenafa saia jadi kesummon karena ada keyword utamanya…hmmm……..
Orang goblok tidak tau klo dirinya goblok. . orang pintar tau klo dirinya tidak goblok. …
Tapi klo misalnya si alarson itu beneran salah ketik gimana ?
kurnag tleiti bukna berrati golbok kna?
*sengaja salah ketik
@ sora9n
Yang ngumpetin mayat di lemari?
Tagnya kapan-kapan aja diperbaiki, ya? Fakir benwit, nih.
@ CY
Perlu dibikin kuesioner?
@ Guh
*ngakak sampai rahang lepas*
@ Nenda Fadhilah
Itu juga udah saya tulis.
Ya, banyak bigot artistiknya juga.
@ almirza
Go-Blog maksudnya?
@ Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny
Iya, akhi!!! Allahuakbar!!!
@ syafriadi | yarza
Ya… Ada di mana-mana.
@ warnetubuntu
*ngakak*
*manggut-manggut*
*catet quote*
@ hoek
Maksut?
@ Funkshit
Kalau ’sadar saya goblok’ itu berarti goblok apa nggak?
Btw, mari kita doakan semoga alarson itu bener-bener salah ketik…
*ngakak*
*catet quotenya*
baca quotenya warnetubuntu
*berkaca*
wah trik saya ketahuan
*ketawa guling-guling*
btw… saya belum lihat filmnya, tapi sepertinya sosok Kane memang pantas jadi psikopat deh
lantas kalau menurut pak kopral, acara-acara seperti Academy Award atau Panasonic Award itu berguna nggak?
…
Kalau sadar diri goblok awal dari pandai, trus kalau dah pandai gimana?
Kalau dia tetap bilang dia goblok, kasihan dong yang lebih goblok…
Kalau dia bilang dia pandai, sombong + goblok kan?
Lalu kalau saya bilang saya pandai itu sadar diri atau kegoblokan?
Kalau saya bilang saya goblok itu sadar diri atau kepandaian?
Kalau saya punya teman goblok yang membuat saya merasa pandai (karena dia lebih goblok) itu namanya apa?
Kalau…
ah, sudahlah…
@ mardun
Itu juga saya bingung, mas. Ada baiknya, ada mudaratnya…
@ yarza
Ini juga saya bingung… Mungkinkah keluar dari belenggu kegoblokan?
@ Kopral Geddoe
Itu termasuk trik paling manusiawi yang saya baca dari serial detektif.
*ngelirik Conan dengan benang-benang rumit nggak jelasnya*
Weh, ternyata tanggapan sang maestro pengetahuan sama dengan tanggapan saya tentang universe.
*Tos ama Einstein*
*Catet*
*Minum teh*
Sekarang malah bicara tentang mayat… -_-
OOT, ya?
Rotten Tomatoes = Friendster
Kepopuleran seseuatu diliat dari jumlah testi yang masuk. Padahal ndak jarang isinya selalu ndak penting.
Lah wong sepupu saya yang tetanggaan sama temennya aja masih komeng2an lewat EpEs. Ndak asik…
Lah, kok saya samakan RT sama EpEs yagh??
Haihh…
Yayaya, saya goblok…
Ternyata begitu…?
*lumayan tercerahken*
Senang rasanya mencerahkan sesama orang goblok :p
*dikebiri*
*masih manggut-manggut*
Skalian ngumpulin orang goblok,
Link EpEs-mu apa fo? Kalo ada…
Ep-es di captaingeddoe_112 [di] yahoo [titik] com.
Ah… beneran ternyata Bambang punya EpEs O.o
Sayang ndak ada poto aslinah….
*sulks*
*minta maaf*
Sunway daerah mananya Malay yagh? O.o
Saya juga nggak paham, mbak.
Aaahhhh
Pupus sudah harapan ngambil foto bareng Bambang…
Silakan ke kebun binatang terdekat…
Banyak yang mirip di sana.
Mau blog yang benar-benar goblog… kunjungi…
goblog atau dianggap goblog,
jenius atau merasa udah ga goblog..
kalau ngerasa goblog harap kunjungi blok yang super goblog…my blog
disana tidak ada tidak ada pencerahan untuk si goblog…
cuma penyesat untuk yang tersesat…tempat menuangkan fikiran goblog…
salam kenal…rekan semua SMOGA teRGugah.