
Bertrand Russell (1872-1970)
Renungan hari ini. Berbeda dengan yang kemarin, lho.
“The secret of happiness is to face the fact that the world is horrible, horrible, horrible.”
Bertrand Russell, the Passionate Sceptic (Allen and Unwin, 1957)
* * *
*manggut-manggut*
*tercerahkan*
*dada terasa lapang*
p.s.
Saya ingatkan kembali, mbah Russell itu orang agnostik kafir. Bisa jadi beberapa yang suci dari anda tidak sudi mengotori pikiran maha bening anda dengan wejangan pukimak sesat à la beliau.


*ngakak*
Betul sekali. And that makes most idealists being unhappy all their life..
Euh, pertamax ya? (o_0)”\
*baru sadar*
BTW,
Kayaknya kata-kata ini selalu muncul di setiap seri “Wejangan Mbah Russel”, ya?
Being unhappy for them isn’t a matter of choice. Nurunin standar dikit lah…
Memang mau dipakai di seri wejangan.
*ikut manggut-manggut*
omongan orang yg tercerahkan itu kadang dikit tapi nendang
Kalau yang kepanjangan ya ga saya pajang, mas. Capek mbacanya.
pinginnya seeh kamu postingin wejangan mbah utsaimin, ato Syech Bin Baz, mbang. Pasti blogmu bakal seru tuh, karena bakal dikira situs humor kekekeke2x :mrgeen:
Wah, mungkin nanti dianggap terlalu kasar, mas.
kok nyang jawab komen bukan bambang??
Pukimak itu apa ya, trus di strike lagi, bikin penasaran …
#Ooh.., si Russel kafir itu orang siantar ya ?
Hooo…Mbah Russell memang ajaib.
Tumben, namanya bukan lagi seorang Bambang.
Ah, lupa.
Sampurasun itu balasannya Rampes ya ?
“The secret of happiness is to face the fact that the world is horrible, horrible, horrible.”
satu hal yang bisa saia ngerti dari quotes itu, mukanya mbah russel yang horrible, dan itu membuad saia bahagia…
@ cK
…
@ Herianto
Ngakunya sih orang Inggris.
@ Mihael Ellinsworth
Nggak… tahu…
@ hoek
Hohoho! Mukanya emang horrible.
o0o itu toh rahasianya…
*tutup kamus*
Jadi inget kutipan Einstein:
..Only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle.The other is as though everything is a miracle. — Einstein
*kupipes dari blog orang*
…bagus…
Eh itu maksudnya kebahagiaan itu datang jika kita bisa menerima apa adanya dunia ini ya pral?
*maklum inggrisku berantakan*
The secret of happiness is feel happy.
Hehehe, boleh beda dari mbah Russel khan? Happiness is independent thng.
@ danalingga
Iya, kurang lebih sih kayak begitu.
@ fauzan.sa
Rahasia kebahagiaan adalah merasa bahagia? Itu persis bunyi doktrin Zen, lho. Pernah baca Zen?
@ dana :
bukan… rahasia kebahagiaan itu kalau kita melihat “hal-hal yang seram” di dunia ini…
bukan begitu Kopral Biawak ?
Ya, menurunkan standar sedikit… Membuang rasa naif…
kok mirip zen yang kau bilang itu ya mbang…???
atau kau emang terinspirasi dari sini…??
Agak mirip, tapi itu dua hal yang berbeda, kok. Di sini self-deceptionnya lebih tipis…
Wejangan mbah CY :
the secret of happines is cuek…
Kinda like,”Ignorence is a bliss”, huh?
pernah denger di film,”It’s either you happy, or you’re right, but you can have it both”
bos gimana sih cara membuat halaman tersambung kaya itu??? tampak depannya cm summary doank kan??
thx.
Saya sudah cukup bahagia dengan menjadi diri saya sendiri.
Ahahaha…
Benar… benar…
Sampai sekarang aku sendiri merasa iri dengan orang yang bisa cuek begitu, bro
hmm.. the secret of happiness is silent ?
tapi kalau ngikuti mbah Russel…. entar kita jadi ngeliat semuanya horrible dong?
@ warnetubuntu
Biarin.
@ CY | dnial | alex | irdix
Kok, mirip sama wejangan a la saya?
Benar, itu…
@ Didit Jawa
Bisa dibaca di [sini].
@ p4ndu_454kura
That’s because you’re cuek, padawan…
I say don’t study religion if you wish to keep it that way.
@ mardun
Nggak semuanya, mas. Cuma menerima kalau ‘ada yang jelek, ya wajar…’
tapi ternyata untuk menjadi cuek juga butuh perjuangan yang tidak sedikit lho
Makanya hidup itu horrible, horrible.
Asal bisa ngerokok makan tidur sambil nyenyak udah hapiness koq.
[buddha mode]
Kalau tiba-tiba nggak bisa ngerokok, makan, atau tidur nyenyak lagi?
[/buddha mode]
Buddha
Siapa, Russell?
Kayaknya beliau memang bolehlah dikatakan Buddha.
“Kalau tiba-tiba nggak bisa ngerokok, makan, atau tidur nyenyak lagi?”
cuekkk aja lagi….
Ya itu dia yang dimaksudkan Mbah Russell.
Mbak tidak memiliki hati suci dan bening.
Namun, jika Russel mengatakan “Untuk merasa bahagia, maka kita harus mengadapi kenyataan bahwa dunia itu mengerikan. Mengerikan. Mengerikan”, menurut mbak, itu tidak selamanya tepat juga.
Mengerikan nya sampe di bilang 3 kali. Apa sedemikian mengerikannya dunia ini? Seolah –olah begitu buruk. Terus apakah Russel (atau jika tidak, Bambang deh) bisa menjelaskan, mengerikannya seperti apa?
Memang, kelihatannya apa yang diucapkan oleh Russel itu sangat realistis. Pada kenyataanya hidup memang tidak mudah. Semakin tua dunia ini –meskipun teknologi semakin canggih (yang notabene memberikan kemudahan pada manusia), tapi kelihatannya dunia semakin ‘mengerikan’. Banyak kejahatan, perang dimana –mana, manusia saling ‘membunuh’.
Namun, seperti sudah pernah saya bilang di tulisannya Death Berry, saya teringat film Life is Beautiful” –nya Roberto Benigni. Mbak pikir itu bukan hal terlalu muluk dan terlalu berkhayal mengenai “Hidup itu indah”. Segala sesuatunya tidak boleh dipandang terlalu baik atau terlalu buruk. Sebab jika hidup dipandang “horrible”, maka justru kita akan selalu sinis dan pesimis dalam memandang hidup, dan karenanya justru kita tidak bahagia.
Ungkapan yang lebih disukai mbak adalah “hidup itu tidak mudah. Hidup adalah perjuangan, segala sesuatunya harus diperjuangkan.”. karena dengan demikian, maka kita akan selalu punya dorongan untuk mengerluarkan segenap energi kita, demi kehidupan yang lebih baik. Terus berjuang, itu intinya. Seburuk apapun atau semengerikan apapun dunia ini. Karena ada hal –hal indah (sekecil apapun) yang kadang tidak kita sadari.
ER…itu kata -kata mbak itu banyak terpengaruhi wejangan mbah anis matta..
semangat !!!!!!
lha..jadi ingin hettrik?
pokoknya berjuanglah!!!
Kayaknya ucapan mbak itu senada sama mbah Russell, deh. Intinya ‘kan menurunkan standar… Ya sama aja… IMO. ^^’
hidup ato dunia itu mengerikn krn sifatnya yg tdk kekal-Buddha lg deh, kl yg sy rasakan,sy ato tubuh sy tmsk emosi, hasrat jg pikiran sy tdk pernah puas.
Ya, saya rasa yang perlu dilakukan adalah nggak berorientasi pada hasil lagi, ya? Maksudnya, selalu ingin semuanya, tapi nggak dapat pun nggak apa-apa.
Memang aneh, tapi saya pernah mengalami perasaan ke-enlightened semacam (walau hanya sebentar) “Ingin hidup selama-lamanya, tapi mati saat ini juga pun nggak apa-apa”.
Jadi itu mungkin.
Bahagia lah saat ini ato at least jng lah menderita saat ini. Maka kelak saat mati nanti kita akan jd makhluk yg bahagia ato at least bkn makhluk yg mderita. Hehe teorinya gini.
Setubuh…
*gaya iklan*
yang penting enak
Mbuh…
*ikut manggut-manggut*
bener juga kata si embah
Mbuh, mbuh…
@bams-chan a.k.a difo a.k.a geddoe
…he?
ya terserah difo yang keren lah.
pokoknya life is beautifuuuuul.. ^_^
Hmmm… kalo saya lebih suka pada kata2 Buddha:
“Life means suffering”
soalnya lebih singkat and to the point bgt gitu loh
tapi masih ada sambungannya sih
Bisa dicarikan benang merahnya, kok.
yup… pada dasarnya sama khan?
kalo dibaca sekilas kayaknya kalimat itu pesimis padahal “kalo kita tahu gimana caranya menderita, kita akan bebas dari penderitaan” (dikutip dari Hymn of Jesus)
Yah, mungkin beberapa memang nggak rela menerima kalau hidup itu sengsara.
“Yah, mungkin beberapa memang nggak rela menerima kalau hidup itu sengsara”
Um? Apakah beberapa itu termasuk saya?
‘>_>
Sebetulnya, bukannya “nggak rela menerima”, difo. Karena, walaupun tidak mau kita terima, toh hidup pilihannya tetap dua; yaitu antara senang dan sedih, sengsara dan bahagia.
Saya hanya menanamkan sugesti dalam diri saja, bahwa jika kita menganggap hidup itu sengsara dan mengerikan, maka cara berpikir kita pun akan mengarah ke sana. Mengapa tak positif thinking saja dan enjoy your own life. Kadang, kita perlu sugesti juga untuk tetap semangat menghadapi masa depan.
Nah, klo berpikir bahwa hidup itu sengsara, jangan –jangan nanti akan mengarah pada sebuah pikiran lain, “klo gitu, gak usah hidup sekalian. Toh, hidup itu begitu mengerikan dan sengsara”. Atau, “hidup ini bagaikan hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang akan menang”.
Soalnya, cara berpikir seseorang itu akan berpengaruh pada pola hidupnya juga.
Peace..
Ya itu memang paralel wejangannya mbah Russell dan Zen yang saya pelajari…
yah, ga apa -apa kok difo.
maap ya, itu mimiknya jadi sampe kayak gitu..
maap ya..
tidak ada yang salah jika kita mempelajari berbagai ilmu dan cara berpikir seseorang. silakan mengadopsi dan ‘embat’ itu ilmunya orang orang pinter itu.
hanya saja, kita perlu punya filter, jangan ditelan semuanya. klo bahasa kerennya, diadopsi untuk memperkaya bahasa yang nyastra
he? apa ya maksudnya itu..
Ya, rasanya dalam masalah ini kita nggak berseberangan pendapat, kok, mbak.
eh, mbak terkesan memaksakan pendapat kah?
Ato ngajak debat?
Jangan –jangan iya…
Habisnya, agak terprovokasi sih, he..
Hm, katanya, banyak anak muda Indonesia yang terjangkiti “merasa telah menjadi pemikir” sesudah mempelajari konsep2 pemikiran seperti ini. Padahal masih jauh. Hehe, jangan terjebak ya, Difo.
Tetap semangat !!!
Yep, yep. Tetap semangat, tetap semangat.
Kalo kata orang Jawa, “Mikul dhuwur mendhem jero”
Kalo memikul, pikullah yang tinggi, ketika harus memendam, pendamlah sedalam-dalamnya.
Saya sendiri nggak tahu maknanya. WAKS! salah ambil wejangan.
Yang bener, “Urip ki sing legowo”
Hidup itu legowo (mmm… bisa menerima). Kayaknya ini deh.
atau “Sing jembar segarane”
Bisa memaafkan.
Atau,…ah kebanyakan nanti.
—————–
As usual, comment ku selalu telat
Berarti pemikiran ini sejalan dengan falsafah tradisional Jawa?
Lho iya!
Justru Jawa memiliki banyak falsafah yang kaya akan nasehat yang baik untuk kehidupan. Cuman sayangnya, orang-orang Jawa tidak memiliki budaya mencatat. Semuanya turun-temurun melalui nasehat oral.
Coba deh baca Umar Kayam’s “Mangan ora Mangan Kumpul”.
O iya, tapi kalau Jawa itu seringnya nasehat dalam bentuk implisit.
Wah, ada link pembelajaran seperti itu, nggak?
Waduh! agak sulit kalau di Internet. Kalau main ke daerah yang masih jawa banget kayak Bantul gitu sih bisa.
Tapi coba deh ya kalau ketemu kukasih!
Ditunggu.