Ketika Sebuah Zaman Didiskreditkan, pt. 2

Ada suatu sentilan menarik yang dituliskan oleh Richard Dawkins di bukunya The God Delusion— Ia menyatakan bahwa skriptur-skriptur suci, apakah itu Alkitab atau Al-Qur’an (atau Book of Mormon) adalah referensi ajaran moral yang sudah kadaluwarsa.

Sentimen itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru, sebab sudah sejak lama kandungan moral dari skriptur-skriptur itu dipertanyakan. Saya sendiri (seskeptis-skeptisnya seorang Kopral Geddoe) memiliki simpati terhadap skriptur-skriptur suci (terutama Perjanjian Lama yang bagi saya merupakan produk literatur yang arresting), sehingga saya seringkali bersikap apologis terhadap kritik-kritik terhadap kitab suci. That is, saya cenderung berusaha membela kitab-kitab suci tersebut dari kritik.

Namun kritik Dawkins yang ini, yang dibedah di bab ketujuh The God Delusion, “The ‘Good’ Book and the Changing Moral Zeitgeist“, sedikit sulit untuk saya jawab. ;)

Masalahnya, ia menyisipkan teori moral zeitgeist yang solid di balik kritiknya. Menurut Dawkins, yang kebetulan selain tenar sebagai aktivis atheisme merupakan ahli biologi dan pendukung kuat teori evolusi, ternyata yang berevolusi dari manusia bukan hanya wujud fisiknya, melainkan juga unsur psyche seperti moral. Moral ternyata berevolusi. Walaupun tidak lantas linear, prinsip moral manusia terus dan terus berevolusi.

Menurut logika evolusi moral, ternyata moral modern lebih baik daripada moral zaman dahulu. Implikasinya jelas; otoritas skriptur kuno tadi menjadi lemah, karena toh mereka berasal dari zaman di mana standar moralnya lebih rendah daripada zaman kita. Tentunya pembahasan ini bersifat sekuler, dengan mengesampingkan terlebih dahulu apakah skriptur-skriptur tersebut memang berasal dari Tuhan ataukah hanya produk budaya biasa belaka.

Moral Memang Terus Berevolusi?

Dulu saya pernah menulis, bahwa pernyataan ‘zaman sekarang, moral manusia sudah rusak‘ adalah sebuah sentimen tidak berdasar. Saya lantas menuliskan contoh-contoh kebarbaran zaman dahulu kala, dan menyatakan bahwa tidak pernah terjadi sebuah degradasi yang substansial dalam moral masyarakat (kecuali dalam propaganda khutbah-khutbah tertentu ;) ). Mungkin tesis saya yang itu perlu sedikit diperbaiki; karena teori Dawkins justru secara ekstrim menyatakan bahwa moral tidak hanya ‘tidak turun’, melainkan justru cenderung meningkat! Ergo, kalau tadinya kita selalu memuja-muja peradaban kuno yang lebih ‘beradab’, ‘santun’, dan merupakan ‘generasi terbaik‘ bisa jadi sekarang kita malah bisa berbusung dada, karena ternyata kita lebih beradab dari mereka.

Pertanyaan pertamanya tentu, benarkah moral kita berevolusi? Ataukah manusia generasi awal (entah itu Adam atau manusia Neanderthal) memiliki moral yang sama bagusnya dengan kita? Apakah tokoh-tokoh sentral agama yang nota bene berasal dari zaman Perunggu dan medieval justru memiliki fondasi moral yang lebih bobrok dari kita? Ternyata Dawkins mampu menyajikan bukti yang cukup lumayan dan membuat saya tambah pusing, ragu-ragu, dan stress. :?

Tidak tanggung-tanggung, Dawkins menyajikan pembuktian pergeseran zeitgeist dari kurun waktu yang super kilat. Ia memberikan hipotesis bahwa hanya dalam kurun waktu sekitar seratus tahun, (seperduapuluh usia Kristianitas dan seperempatbelas usia Islam) standar moral manusia sudah meningkat sedemikian signifikannya. Parameternya tangguh; prinsip kesetaraan manusia. Tolak ukur yang digunakan adalah feminisme dan, tentunya, rasisme. Bayangkan, seratus tahun. Kalau seratus tahun yang lalu saja rasisme adalah wajar secara moral, tentunya masuk akal kalau ternyata ras Yahudi memang diberi tempat spesial oleh skriptur-skriptur suci tersebut, bukan?

Hipotesisnya sendiri didasarkan dengan cara yang meyakinkan, yaitu mencari celah-celah defisiensi moral dari sumber-sumber liberal pada masa seratus-dua ratus tahun yang lalu. Logika sederhana; kalau yang liberal saja berpikiran kolot dan apartheid, bagaimana dengan yang konservatif?

  1. Tidak main-main, contoh pertama adalah T. H. Huxley, bapak paham agnostisisme.

    “No rational man, cognizant of the facts, believe that the average negro is the equal, still less superior, of the white man.”[1]

  2. Bukti nyata kedua lebih dahsyat lagi, Abe Lincoln, sang pembebas budak-budak kulit hitam. Kalau beliau yang ultraliberal itu saja saja masih rasis, bagaimana dengan yang lainnya?

    “…and I as much as any other man am in favor of having the superior position assigned to the white race.”[2]

    Shocking, kalau buat saya.

Apakah mereka tidak bermoral? Apakah mereka kejam? Tidak. Hanya saja zeitgeist pada saat itu masih sangat rasis. Budaya pada zaman itu memang masih kejam. Itu bukan salah mereka. Singkatnya, kalau mereka terlahir di abad ke-21, maka mereka akan lebih liberal lagi dari apa yang mereka capai di abad ke-19. Sangat masuk akal. Di sinilah kekuatan tesis Dawkins.

Dawkins lebih lanjut mengelaborasi beberapa poin budaya yang sangat menarik;

  1. Perbudakan. Dari Ibnu Sina sampai Thomas Jefferson, semua memiliki budak. Perbudakan, alias memelihara dan memiliki manusia selayaknya binatang, adalah salah menurut zeitgeist yang ada saat ini. Itu sudah sangat jelas. Harap dicatat bahwa baik Ibnu Sina maupun Jefferson adalah pemikir-pemikir liberal— keduanya adalah deis[3].
  2. Di novel-novel zaman Victoria, secara gamblang dan kasual orang-orang kaya (white, presumably) di Afrika digambarkan dengan santainya membunuh gajah, singa, dan antilop. Sebagai olahraga. Kesenangan belaka. Dan itu wajar. Dalam lingkup zeitgeist modern, justru yang seperti ini seringkali dihindari karena terus menerus dikecam. Kalaupun mau, konon harus membayar sangat mahal. Boy, aren’t we civilized. :)
  3. Sekarang beralih ke dekade 1960-an. Pasca PDII, sangat terkini bukan? Dawkins mengutip potongan seksis dalam Lady Chatterley’s Lover;

    “…Would you approve of your young sons, young daughters—because girls can read as well as boys…”

    Itu dimaksudkan sebagai pertanyaan retoris. Membuat miris.

  4. A. C. Bouquet, profesor agama di Cambridge pada tulisannya tentang Islam pada tahun 1941 menulis;

    “The Semite is not a natural monotheist, as was supposed about the middle of the nineteenth century. He is an animist.”

    Menurut standar sekarang, jelas itu bukanlah tulisan seorang profesor. Apakah kita semakin peka? ;)

  5. Kali ini dari New Republic-nya H. G. Wells;

    “And how will the new republic treat the inferior races? How will it deal with the black? …the yellow man? …the Jew? … those swarms of black, and brown, and dirty-white, and yellow people, who do not come into the new needs of efficiency?”

    (cetak tebal dari saya, supaya lebih bersemangat :P )
    Ahem. By today’s standards, that’s very KKK to me. :?

Pada zamannya, sentimen seperti itu bukanlah sesuatu yang dianggap berlebih. Bahkan mungkin progresif, seperti karya Wells. Tentunya sekarang dapat dengan mudah dimengerti kenapa orang seperti Hitler bisa dijadikan seorang pemimpin di Jerman. Pada zamannya, Hitler bukanlah seorang monster. Hanya seseorang yang sedikit nyeleneh.

Sampai pada poin itu, adanya evolusi moral adalah sesuatu yang nyata bagi saya. :)

Defisiensi Moral dari Ajaran Agama: Tantangan Berat Para Antitheis

Tentunya sasaran selanjutnya adalah kitab suci. Apakah kita bisa mendasarkan pemahaman moral modern pada skriptur dari zaman pertengahan? Tentunya zeitgeist pada era ribuan tahun yang lalu lebih tidak peka lagi, bukan?

Kalau saya mau bernada apologis, tentunya arsenal pertama adalah premis bahwa skriptur ini datangnya dari Tuhan. Dari sang Maha Maha. Tentunya ada pengecualian. Namun ada lubang di sini, yaitu berpremis bahwa skriptur ini memang datang dari Beliau. How do we proof that it came from Her? Lha wong konon muatan moralnya sendiri cacat. Bukti apa lagi yang kita (penganut paham theistik) punya? Segala keajaiban internal kitab, dari ramalan, kandungan sains, pesan kriptik, sampai keajaiban matematis, semua konon sudah di-debunk. :?

Namun Dawkins menurut saya memilih bersikap sekuler dan tidak menyerang kitab suci. Argumennya adalah; moral baik yang ada pada saat ini, TIDAK berasal dari ajaran agama manapun. Ya, terlepas dari apakah agama itu benar atau salah. Dan kali ini kitab suci memang terpojok;

  1. Bagi penafsir literal, beberapa kandungan kitab suci jelas tidak cocok bagi humanisme modern. Berarti, kalau ada penafsir literal yang berbuat baik, ada kalanya mesti mengabaikan kitab suci. Apa artinya? Ada sumber eksternal yang sekuler.
  2. Bagi penafsir esoterik, pemrosesan alegori dalam kitab suci jelas menggunakan suatu tolak ukur. Tolak ukur tidak mungkin berasal dari dalam (sirkular). Apa artinya? Ada sumber eksternal yang sekuler.

Catch 22.

Beberapa kisah dalam skriptur suci memang boleh dikatakan kontroversial secara moral. Misalkan kisah Luth. Di Genesis 19 diceritakan bahwa Luth yang hidup di surga homoseksual itu suatu ketika rumahnya diserbu mob horny yang hendak meniduri dua tamu lelakinya. Berhubung meniduri sesama jenis konon adalah perbuatan yang dikutuk oleh Tuhan, Luth pun menolak memberikan izin. Tentunya perilaku homofobik di sini masih ada dalam batas kewajaran zeitgeist saat ini. Tapi yang patut dipertanyakan adalah tindakan Luth yang kemudian menawarkan dua putrinya yang masih perawan sebagai pengganti. Tindakan seorang ayah yang menjual keperawanan dua anak gadisnya pada segerombolan pria yang tidak jelas asal-usulnya, demi melindungi tamunya yang juga tidak jelas asal usulnya, saya akui adalah sesuatu yang sulit saya pahami. Kisah tersebut adalah canon bagi ketiga agama Abrahamik (empat kalau menyertakan Baha’i). Untungnya, kemalangan tersebut tidak tercapai, sebab Tuhan pun turun tangan. Uniknya, kisah senada diulangi di Judges 19 — seorang pendeta mengumpankan anak gadisnya (lagi-lagi demi menyelamatkan tamunya). Sialnya, kali ini gang-rape tersebut berhasil dilakukan. Moral ceritanya?

Atau, yang lebih legendaris, kisah penyembelihan Ishak/Ismail. Tuhan dikisahkan hendak menguji keimanan Ibrahim, dengan parameter, sudikah ia membunuh anaknya sendiri demi Tuhan? Apakah tindakan Ibrahim tersebut sudah benar? Apakah ia pada waktu itu percaya Tuhan sejahat itu? Oke, memang She was only joking after all, and then came the ram as an exchange, tapi bisakah itu diterima dengan standar moral saat ini? Mungkin sebenarnya, dengan imajinasi saya yang terbatas, Ibrahim seharusnya dapat menolak Tuhan, lalu dengan berani menghadapi murka Tuhan. Tuhan, tentu kemudian akan memuji beliau dan menyatakan bahwa tesnya sudah usai. Intinya, Tuhan berharap bahwa Ibrahim akan mendahulukan humanismenya daripada mematuhi pengorbanan tidak berdasar itu. Apakah Ibrahim takut akan neraka? Cukup menarik untuk mengutip Bunda Teresa di sini, yang demi seluruh manusia, konon bersedia menderita selamanya di neraka[4]. Apa Bunda Teresa ternyata memiliki moral melebihi nabi[5]? Dan, lebih penting lagi, apa Tuhan sebengis itu?

Sebagai penganut agama, ada tiga posisi yang kita bisa tempuh;

  1. Menyerah. Ternyata Tuhan memang keji.
  2. Mengambil makna esoterik dan metaforik. Sayangnya, hal ini membutuhkan ideologi eksternal, yang semakin membenarkan teori Dawkins bahwa moral baik yang ada saat ini bersumber dari sesuatu yang sekuler.
  3. Yang sedikit tricky adalah melepaskan keabsolutan kitab suci. Mungkin sudah terdistorsi? Kelemahannya adalah bahwa selain mengakui sumber moral sekuler, hal ini melepaskan sama sekali kesakralankitab suci.
  4. Putar balik, berhenti baca, jangan bahas yang seperti ini lagi. Bahaya.

Saya sendiri masih bingung posisi saya di mana. :P

Postulat

Gawatnya, Dawkins berhasil menyusun hipotesis bahwa kitab suci, dan pengkultuan zeitgeist kadaluwarsa. ternyata mengandung bahaya. Hal ini menanam postulat yang (katanya) kadaluwarsa pula pada building block ideologi generasi muda. Saya jadi teringat diskusi tentang apakah Bunda Teresa kafir dan pantas masuk neraka di blognya Pak Jarar. Di sini umat cenderung dengan santainya menerima hal yang mengerikan seperti dimasukkannya seseorang yang begitu baik ke neraka. Saya berteori bahwa postulat bahwa Abu Thalib (yang begitu menyayangi nabi Muhammad) akan dimasukkan ke neraka sangat mempengaruhi mindset umat pada kasus ini. Adanya premis-premis (sekali lagi, premis!) yang ‘kejam’ seperti ini yang akhirnya membentuk moral yang sebenarnya produk zeitgeist kadaluwarsa.

Tidak tanggung-tanggung, sama membaca bahwa Dawkins sampai menyajikan hasil eksperimen, yang dilakukan oleh seorang psikolog *uhuk, uhuk* Israel, George Tamarin;

Tamarin mengadakan survey pada lebih dari seribu bocah Israel, berusia antara 8 sampai 14 tahun, tentang apa pendapat mereka tentang tindakan Joshua pada perang Jericho— di mana Joshua membumihanguskan Jericho; membantai semua penduduk tanpa pandang bulu. Tua, muda, nenek-nenek, bayi, semua dibunuh. Sampai ternak-ternak pun dihabisi. Semua harta dijarah, dan kemudian Jericho dibakar.

Daaan… Survey membuktikan. Ahem, 66% setuju penuh akan tindakan Joshua, 26% tidak setuju, dan 8% ada di tengah-tengah. Bayangkan anak-anak kecil menyetujui sebuah genosida.

Cuap-cuap bocah tersebut antara lain (kali ini saya terjemahkan supaya, lagi, agak bersemangat :P );

Dari 66% yang menyetujui;

“Menurut saya yang dilakukan Joshua dan orang Israel sudah benar, alasannya; Tuhan ‘kan menjanjikan mereka tanah itu, dan sudah mengizinkan mereka untuk menyerbunya. Kalau nggak begitu, bisa-bisa orang-orang Israel bercampur dengan para Goyim[6].”

“Menurut saya Joshua melakukan yang benar, salah satu alasannya adalah, ‘kan disuruh oleh Tuhan, untuk membantai supaya orang Israel nggak bercampur dengan para Goyim dan menjadi jahat seperti mereka.”

“Joshua berbuat yang benar, soalnya orang di sana agamanya berbeda, dan dengan membantai mereka agama mereka jadi lenyap dari muka bumi.”

Wah, sejujurnya, untuk anak kecil untuk berkata seperti itu, apalagi yang terakhir, saya jadi bergidik. :|

Moving on, anda tentunya berharap banyak dari 26% yang tidak setuju itu, bukan? Wah, sebenarnya, alasan mereka tidaklah sehumanis yang saya (dan mungkin anda) bayangkan…

“Kayaknya Joshua nggak berbuat terlalu bijak, soalnya mestinya ternak-ternak jangan dibunuh, tapi diambil buat mereka.”

“Menurut saya Joshua berbuat kurang bijak, sebab dia semestinya jangan membumihanguskan Jericho; kota tersebut bisa dijadikan properti orang Israel.”

“Menurut saya itu jelek, yah, soalnya orang Arab itu kotor, dan kalau orang memasuki daerah yang kotor, mereka akan jadi kotor juga.”

Mengerikan, anak-anak yang diindoktrinasi seperti itu… :( Padahal ini bocah-bocah yang kemungkinan besar Yahudi, yang konon sudah yang cerdas-cerdas.

Survey ini ada kelanjutannya. Ceritanya diubah. Nama ‘Joshua’ diubah menjadi ‘Jenderal Lin’ dan settingnya dikonvert ke Tiongkok klasik. Hasilnya? Hohoho, hanya 7% yang setuju, dan 75% mengutuk tindakan tersebut. Kesimpulannya? Motif dan indoktrinasi religius ternyata mampu melunturkan moral (terlepas dari apakah doktrin tersebu benar dari Tuhan atau tidak). Saya akui saya terpukau dengan penelitian ini.

…And the Skepticism Goes On.

Saya sendiri mesti mundur dulu dari menjawab tantangan Dawkins ini. Apakah agama sudah tidak pantas lagi dijadikan kiblat moral manusia? Profesor Flew memang berpendapat bahwa Tuhan adalah motivasi moral terbaik, tapi Tuhan bukanlah monopoli agama. Walaupun Tuhan dianggap sebagai konsep positif, agama tetap dapat dicap memiliki rapor buruk (sekadar catatan, Flew memang seorang deis). Jadi? Bingung. :lol: Kemampuan intelektual saya belum sampai untuk membela agama pada saat ini. :?

Tentunya, saya tidak akan lantas taklid buta pada Dawkins dan ideologinya. Skeptisisme mencakup segala bidang. :) Tesis daur ulang tentang agama ini hanya dimaksudkan sebagai sarapan pikiran, tidak ada tendensi evangelistik apapun. Mengenai respon, tentunya saya sedikit mengharapkan respon apologis yang kuat. Bagaimanapun, biarpun nggak se-religion-oriented orang kebanyakan, saya memiliki kecenderungan theistik yang cukup kuat. :P

Jadi, ya, saya cuma berbagi stress saja. :lol: Lagipula, ini ‘kan bulan puasa. Semoga dengan adanya tantangan Dawkins ini, umat yang percaya akan kitabnya, bisa mempelajari kitab tersebut dengan lebih serius, sehingga pada akhirnya mampu menjawab pertanyaan beliau.

Terima kasih. :)

* * *

Footnotes::

[1] Huxley, as quoted in The God Delusion paperback edition ch. 7 pg 302.

[2] Bisa dibaca selengkapnya di [sini].

[3] Kalau Jefferson adalah seorang deis secara terang-terangan, pemahaman Ibnu Sina sebenarnya sedikit kabur. Walau secara publik ia dikenal sebagai seorang syi’ah, pemikirannya sangat liberal. Ia tidak percaya akan keabadian roh dan dicap murtad oleh Ghazali. Berhubung definisi formal deisme adalah ‘kepercayaan theistik tanpa doktrin’, maka secara kasar saya rasa ia bisa digolongkan sebagai seorang deis.

[4] Dikutip dari TIME, 3 September 2007, yang saya beli di minimart. Come Be My Light, sebuah biografi Bunda Teresa akan segera dirilis. Berisi surat-surat rahasia Bunda Teresa yang selama ini dirahasiakan. Bunda Teresa, ternyata adalah seorang agnostik.(Yup, you heard me right.)

[5] Mungkin juga, sebab beliau sudah dipetisi untuk ditransformasi menjadi Saint Teresa.

[6] Goyim adalah istilah peyoratif untuk yang bukan merupakan golongan Yahudi, i. e. bukan kaum terpilih.

Kredit::

Kerangka materi diambil dari The God Delusion oleh Richard Dawkins, chapter 7.

Disusun sambil mendengarkan The Battle of Los Angeles-nya Rage Against the Machine dan Let’s Go-nya Rancid.

In God We Trust. RosenQueen, company.

132 thoughts on “Ketika Sebuah Zaman Didiskreditkan, pt. 2

  1. Moral ternyata berevolusi. Walaupun tidak lantas linear, prinsip moral manusia terus dan terus berevolusi.

    Itulah kenapa ajaran legisme memisahkan moral dengan hukum.

    Bayangkan, seratus tahun. Kalau seratus tahun yang lalu saja rasisme adalah wajar secara moral, tentunya masuk akal kalau ternyata ras Yahudi memang diberi tempat spesial oleh skriptur-skriptur suci tersebut, bukan?

    Then again, HAM itu baru berkembang setelah Perang Dunia ke-2.

    Hmmm: http://en.wikipedia.org/wiki/Natural_Law

  2. Saya rasa sih ada sebuah jalan tengah di sini, yaitu memandang agama (dan kitab suci) dari nilai progresifnya. Walaupun, lagi-lagi, titik akhirnya juga bakal relatif tergantung sudut pandang. :?

    Misalnya kasus poligami. Apakah pembatasan 4 istri itu langkah progresif, atau titik akhir? Bisa saja mengambilnya sebagai langkah progresif agama (i.e. mengurangi misoginisme). Tapi berhenti di mana, itu kita yang menentukan — entah itu berhenti dengan satu istri atau malah selibat sama sekali. :P

    Hal yang sama juga berlaku di agama lain, saya rasa. Masalah yang diungkap Dawkins itu (IMO) hanya berlaku jika kita memutlakkan nilai moral kitab/agama, bukannya berangkat darinya. ;)

  3. *jrit double posting*

    Di novel-novel zaman Victoria, secara gamblang dan kasual orang-orang kaya (white, presumably) di Afrika digambarkan dengan santainya membunuh gajah, singa, dan antilop. Sebagai olahraga. Kesenangan belaka. Dan itu wajar. Dalam lingkup zeitgeist modern, justru yang seperti ini seringkali dihindari karena terus menerus dikecam. Kalaupun mau, konon harus membayar sangat mahal. Boy, aren’t we civilized. :)

    Do not forget the Victorian Morality ( http://en.wikipedia.org/wiki/Victorian_morality )

  4. @ cK
    Saya juga ada dedlen ini… :(

    @ Nenda Fadhilah
    Di situ poinnya, kalau ternyata moral sendiri baru berkembang pesat baru-baru ini, bagaimana mungkin ajaran kitab suci yang berasal dari ribuan tahun yang lalu bisa dijadikan pegangan?

    @ sora9n
    Saya menyetujui pendapat mas, yang sebenarnya sejalan dengan pemikiran Dawkins. Poin Dawkins sendiri di bab tersebut adalah bahwa nilai moral yang ada saat ini berasal dari sumber sekuler. :)

    Kalaulah kitab suci hanya dijadikan salah satu pegangan, maka berarti memang benar bahwa ada sumber sekuler dari pembelajaran moral kita. Kalau diartikan secara progresif pun, mesti ada tolak ukur eksternal yang, lagi-lagi, sekuler.

    Seperti pernyataan mas yang ini;

    Tapi berhenti di mana, itu kita yang menentukan

    Itu dia poinnya, ada sebuah sumber eksternal non-religius yang dijadikan tolak ukur.

    Tentu tidak ada masalah kalau kitab suci disikapi dengan tidak secara absolut, tapi masalahnya tentu ada pada yang menyikapinya secara demikian… :?

  5. Di situ poinnya, kalau ternyata moral sendiri baru berkembang pesat baru-baru ini, bagaimana mungkin ajaran kitab suci yang berasal dari ribuan tahun yang lalu bisa dijadikan pegangan?

    Pertanyaannya: Apa sih yang bisa dikategorikan moral itu? Sementara sesuatu yang dianggap moral itu berubah dari zaman ke zaman. Yang dianggap bermoral sekarang, belum tentu seratus tahun kemudian.

  6. That is the whole point! Kalau moral selalu berkembang, bagaimana mungkin menggantungkan kebutuhan moral kita pada sesuatu yang statis?

    Tentunya hal ini bisa ditanggulangi dengan menarik pemahaman esoterik atas kitab, tapi konsekuensinya, kitab tersebut kehilangan ineransinya…

  7. HAM itu sebenarnya dikenal dari zaman dahulu kala. Di religious texts udah ada. Di Qur’an contohnya dikenal Hak untuk memiliki sesuatu. Mulai setelah PD 2 aja perkembangannya pesat sekali.

    Kalaupun moral suka berubah dari zaman ke zaman, IMO itu karena kondisi sosial yang ada. Ada hal-hal yang ditaati dan diterima oleh semua bangsa di semua zaman (Natural Laws). Sekarang hukum di dunia, maunya ke arah membuat hukum yang universal bisa diterima oleh semua orang dalam semua keadaan.

    Kalau disambungin ke hukum, hukum juga suka berubah mengikuti perkembangan zaman. Contohnya sekarang ada arah untuk abolish hukuman mati, tapi tetep aja kalau ahli hukum mentok, mereka kembali ke Prinsip Umum Hukum yang berasal dari hukum Romawi Kuno.

  8. That is the whole point! Kalau moral selalu berkembang, bagaimana mungkin menggantungkan kebutuhan moral kita pada sesuatu yang statis?

    Kan menjawab pertanyaan yang ini, niih.

  9. Kalau moral selalu berkembang, bagaimana mungkin menggantungkan kebutuhan moral kita pada sesuatu yang statis?

    Dengan merevolusinya menjadi dinamis?
    *dengan konsekuensi dicap kafir, bidah atau sejenisnya* :roll:

  10. Walau ke-absolut-an kitab suci mesti dikorbankan… :roll:

    Ke-absolut-an atau ke-hormat-an?
    Kitab suci tidak ada yang absolut, selama penganutnya masih bisa berdebat dalam intepretasinya *IMO*

    Tapi… ya memang susah untuk melakukannya. Ini masalah “iman”, konon demikian.

    Karena masih banyak yang meletakkan kitab suci layaknya berhala di lemari. Dipahami tidak, tapi kalo dengar itu kitab dilecehkan, sumpah-kutuk-serapah biasanya lantang terdengar…. :roll:

  11. walah ged, nambah-nambahin pikiranku aja kamu ini :)

    nice post bro, sekelas dengan postingan “Distortion & Comformity”-mu yang dulu.

    Dengan ini kami nobatkan geddoe sebagai “Perusak Akidah Umat Nomor Wahid” :mrgreen:

    Darahmu lebih dari sekedar halal nak…

    kekekeke2x :mrgreen:

  12. Secara apologetik saya masih mendapat penghiburan bahwa salah satu ‘firman’ dalam kitab suci berbunyi “Bacalah”
    Cukup dengan satu kata itu saya merasa mendapat legitimasi untuk membaca segala sesuatu yang ada di alam ini termasuk ‘membaca’ perkembangan moral saat ini yang mungkin masih jauuuuuuh terselip di belantara tulisan kitab suci tsb :)
    Posisi saya antara no 2 dan no 3 di option Kopral diatas.

  13. What Is Good?

    Itu adalah pertanyaan dasarnya. Ketika Dawkins berkata, “moral agama sudah usang” berarti dia sudah bias.

    Jika kita menilai apakah suatu itu baik atau tidak, tentu saja harus ada parameternya. Harus ada standar kebaikan yang harus dipakai.

    Masalah-masalah yang ada saat ini:
    1. Darimana asalnya moral?
    2. Apakah moral itu benar-benar universal ataukah moral itu sangat subjektif, objektif pun hanya dalam kerangka budaya?

    Jangan-jangan asal moral hanyalah suka-suka pribadi yang kemudian dipropagandakan. Jangan-jangan moral itu hanyalah apa yang dianggap banyak orang baik. Seperti misalnya homoseksualitas. Oprah Winfrey menganggap homoseksualitas benar secara moral, begitu juga beberapa orang Amerika yang lain. Tapi, tidak begitu pendapat kebanyakan orang Indonesia.

    Begitu pula ketika anda menggunakan ukuran rasisme. Anda nggak punya asal moral apapun untuk mengatakan kalo rasisme itu salah. Kalopun ada, itu adalah kecenderungan hati anda untuk tidak menyukai rasisme. Apakah hati anda dan saya dipengaruhi oleh para provokator moral (entah moral yang mana) ataukah itu murni kecenderungan kita, kita nggak pernah benar-benar tahu.

    Karena itu sulit bagi saya untuk percaya altruisme. Tidak ada pegangan mutlak yang bisa jadi standar. Tidak ada yang bisa dipakai untuk menilai apakah moral suatu agama, aliran kepercayaan, atau agama tertentu itu baik atau buruk.

    Karena itu saya heran sama Dawkins. Lha dia pake standar punya siapa? Itulah premis tersembunyi yang tidak terjelaskan dalam rangkuman pendapat Dawkins milik anda. Bagaimana bisa dia bilang kalo moral itu terus naik?

    Kalo kebetulan saya pengikutnya Louis Farrakhan dan kebetulan kulit saya gosong, maka tentu saja saya akan bilang “Black Muslim beyond all”. Karena entah bagaimana saya meyakini bahwa moral itulah yang benar.

    Kalo saya seorang Buddha, tentu saja saya akan bilang, “setiap keinginan akan menimbulkan penderitaan”. Entah bagaimana caranya saya menganggap itulah yang benar.

    Ketika anda menilai moralnya Richard Dawkins, coba pikirkan, moral apa dan siapa yang sebenarnya anda pake? Moral pribadi? Wah, yang namanya moral pribadi tidak bisa jadi ukuran. Beda zaman dan lokasi beda pula moralnya.

    Apakah membunuh selalu buruk?
    Apakah poligami selalu buruk?
    Apakah rasisme selalu tidak manusiawi?
    Apakah menipu selalu tidak baik?

  14. Fo, tau ga? Beberapa hari awal Ramadhan ini saya bukannya baca Qur’an, malah ngoprek habis blog-mu ini!

    *Hasil colongan HTTrack.exe :mrgreen: *

    Dan belum selesai saya memutuskan apakah akan jadi pengikutmu atau tidak, tiba-tiba kau datang lagi dengan posting keparat sialan sunnavabitch ini.

    Sebagai penganut agama, ada tiga posisi yang kita bisa tempuh;

    1. Menyerah. Ternyata Tuhan memang keji.
    2. Mengambil makna esoterik dan metaforik. Sayangnya, hal ini membutuhkan ideologi eksternal, yang semakin membenarkan teori Dawkins bahwa moral baik yang ada saat ini bersumber dari sesuatu yang sekuler.
    3. Yang sedikit tricky adalah melepaskan keabsolutan kitab suci. Mungkin sudah terdistorsi? Kelemahannya adalah bahwa selain mengakui sumber moral sekuler, hal ini melepaskan sama sekali kesakralankitab suci.
    4. Putar balik, berhenti baca, jangan bahas yang seperti ini lagi. Bahaya.

    Saya sendiri masih bingung posisi saya di mana. :P

    APALAGI SAYA!!!!

  15. Wah, wah. Panjang, tapi akhirnya selesai dibaca. Huff… Lagi malas komentar. Kalau kenyang, bego tauk… Kenyang bego… Kenyang bego… ~(-_-~) (~-_-)~

    Ah, anda doktrinitas agama sanggup menghambat perkembangan moralitas… *menguap, lalu tidur*

  16. Bagian moral inilah yang saya sedikit kritisi dari Dawkins. Menurut saya ada 3 evolusi besar didunia ini yang saat ini sedang terjadi :

    1. Biological Evolution
    2. Morality Evolution
    3. Epistemological & Ontological Evolution.

    Dawkins mengambil landasan evolusi moral berdasarkan perbandingan moral dan juga sumber. Sementara bagi saya, Moralitas tidak dapat diperbandingkan dan tidak bisa merujuk hanya pada sumber tertentu.

    Evolusi moral adalah evolusi proses. Dawkins mengajukan konsep Zeitgeist pada moralitas, tapi zeitgeist dipandang sebagai sesuatu yang discreet dan tidak continuum.

    Logika bahwa moral jaman sekarang lebih baik/lebih buruk dibandingkan moral jaman dulu, adalah logika perbandingan dalam evolusi moral. Sama seperti membandingkan manusia phitecantropus erectus dengan homo sapiens dalam evolusi biologis. Sementara morality evolution berbeda dengan biological evolution.

    Evolusi moralitas adalah evolusi yang melihat perkembangan konsep-konsep moral dari jaman manusia ada dibumi sampai sekarang ini. Seharusnya, pandangan moral adalah apa yang dipandang baik pada suatu jaman, dan tidak boleh dinilai berdasarkan nilai moral yang ada/dianut di kemudian hari.

    Dan pendapat Dawkins bahwa moralitas saat ini tidak berasal dari agama, adalah pandangan pesimisme terhadap peran agama di dunia. Agama adalah salah satu sumber moral (yang katanya bersumber dari Sang Maha Maha). Agama menyumbang sesuatu dalam evolusi moral, tetapi, menurut saya, agama bukanlah pemegang tunggal sumber moralitas.

    Kalau kita andaikan evolusi moralitas sama seperti ranting-ranting evolusi biologis manusia, maka agama ada di salah satu ranting dari evolusi itu. Tentunya sekali lagi, evolusi moral tidak sama dengan evolusi biologis. Kalau evolusi manusia bisa kita bandingkan dengan volume otak maka evolusi moral disamakan dengan zeitgeist-nya. Disini saya setuju dengan Dawkins, terkecuali zeitgeist itu dipandang sebagai sesuatu yang kontinyu dan non-comparable.

    Pengabaian peran agama dalam tesis Dawkins menurut saya karena bersumber dari latar belakangnya, begitu juga dengan konsep moralitas Flew. Penekanan pada apa yang menjadi sumber terpenting dan terutama dalam moralitas. Mungkin Dawkins perlu sedikit “jujur” dalam memandang agama sebagai salah satu sumber dan ranting dalam pohon evolusi moralitas. :)

    *sebenarnya mau lebih panjang, tapi nanti saja edisi berikutnya* ;)
    *pandangan saya diatas lebih banyak dipengaruhi E. Fromm dan filsafat proses.

    [5] Mungkin juga, sebab beliau sudah dipetisi untuk ditransformasi menjadi Saint Teresa

    hehehe… Agnes Gonxha Bojaxhiu (Theresa) masih baru dalam tahap Beatifikasi (Yang Diberkati) dengan nama Blessed Theresa of Calcutta. Dan itu masih satu tingkat di bawah Saint (Orang Kudus).

  17. Ke-absolut-an atau ke-hormat-an?
    Kitab suci tidak ada yang absolut, selama penganutnya masih bisa berdebat dalam intepretasinya *IMO*

    Betewe… karena ada sedikit debat sama teman yang mbaca postingan ini juga, perlu diklarifikasi agaknya:
    Komen tersebut tanpa pretensi merendahkan mutu Kitab Suci *especially Quran*. Itu cuma otokritik buat yang memajang Quran di dinding, lalu mendengung-dengung mengaji tapi bahkan tidak tahu artinya.

    Bicara hal begini ini memang susah. Kadang-kadang, dituduh sebagai neo-mu’tazilah jadinya, cuma karena mengatakan Kitab Suci bukanlah Tuhan itu sendiri, dimana Kitab bisa terdistorsi sementara Tuhan tidak atau mengatakan adalah Tuhan itu jaiz (boleh berkehendak atau boleh tidak berkehendak).

    *ngusap peluh* :|

  18. Moralitas itu relatif, bukan?
    *terdengar koor “BUKAAAAN!!!”*

    Sama seperti teori postingan sebelum ini (part1), Moral tidak bisa dibandingkan karena terkait dengan cara pikir manusia di jaman itu. Dan sepertinya si Dawkins ini masih bias barat (dalam arti menganggap barat adalah barometer kemajuan).

    Rasisme di dunia runtuh bukan hanya karena moral yang membaik (mungkin itu salah satunya, tapi belum tentu). Di jaman modern, manusia dari berbagai ras mulai menyadari ada banyak manusia selain mereka, hal ini karena eksplorasi dan pengetahuan tentang dunia berkembang, manusia-manusia dari berbagai ras berinteraksi secara intens, rasisme mulai berkurang karena adanya manusia yang mulai menyadari, ras lain ternyata tidak begitu buruk.

    Di jaman ini masih ada genosida, Yugoslavia dulu, dan Rwanda yang sampai sekarang masih bergolak. Mereka masih rasis dan masih suka membunuh. Apakah bisa dikatakan moral jaman dulu dan jaman sekarang masih sama, sama2 suka genosida?

    Dan sampai sekarang bukankah rasisme masih terjadi. Lihat saja di Sambas beberapa tahun lalu, atau Poso, dan Maluku.

    Jika kita mengkaji jaman, kita harus melakukan kajian menyeluruh ke seluruh jaman, bukan cuman parsial dunia yang dianggap maju. Apakah semua ini berarti moral kita lebih maju?

  19. Dasar kamu nabi palesu! Penyesat ummat! Antek Patriot!

    *panggil ninja u/ memotong tangan Geddoe supaya nggak bisa ngetik di blog lagi*

    Ha, ngomong2 soal kekejaman kitab suci, gw jadi ingat Tuhan Perjanjian Lama yang mengirim dua beruang betina dari hutan untuk menghabisi 42 orang anak kecil. Kenapa? Sang Nabi mengutuk anak-anak itu karena mereka mengejek kepalanya yang botak.* It really sounds morbid, but absurdly funny… apa gw juga sudah terindoktrinasi seperti anak-anak Israel itu ya? :?

    *=2 Kings 2:23-24, disarankan baca versi King James biar lebih kocak :D

  20. “seorang pendeta mengumpankan anak gadisnya (lagi-lagi demi menyelamatkan tamunya). Sialnya, kali ini gang-rape tersebut berhasil dilakukan. Moral ceritanya?”
    ada videonya ngga? kalo bisa yang formatna 3gp yak?
    _______________________________________________..

    ehm…ehm…susa juga negh, emang c, kalo dulu budak itu termasuk “wajar” soale ibnu sina juga punya budak, tapi terus gimana dunk kalo dulu dugem lebih sedikid dibanding sekarang? free sex lbih sedikid dibanding sekarang? masi “wajar”? yahh…yang bisa saia tangkep dari postinganmu, wahai kopral, cuma itu doank…….jadina intina entuh moral skarang turun ato naek…………………???mungkin peradabannya kale yak yang naek (uda ngga maen budak, rasis de es be), tapi moralnya turun (ehm ehm dan ehm ehm…)

  21. duh, gagal sahur malah nemu beginian yang perlu banyak energi, dosa apakah diriku ini..

    Jadi… Intinya semua itu terus berkembang ya, terus berevolusi jadi semakin… hmmm… jangan-jangan… ah..

  22. Kalau aku lebih tertarik ke sisi sumbernya sebelum memahami isi kritikannya.

    Dawkins dalam hal ini sebagai sumber, terjebak dalam ke-salah kaprah-an dalam menganalisis proses revolusi moral yang terjadi jauh sebelum dia, dan kemudian membandingkannya dengan status moral saat ini. Dia mengambil sampel-sampel hipotesis dari orang-orang yang ya hidup pada zaman sesudah kitab-kitab itu diciptakan (terlepas dari kebenarannya), dan kemudian secara ego menjadikannya sebagai pijakan untuk mencoba mengkritisi sesuatu yang sebenarnya dia sendiri juga tidak memahaminya dan aku beranggapan bahwa “I’m not deserve to answer his question” :)

    Dengan dasar tersebut, korelasinya menurut aku, kita tidak bisa menjadikan suatu perubahan moral (dengan semua ke-barbar-annya dan ke-kejam-annya) dalam setiap zaman dengan mengambil kitab suci sebagai dasar rujukan, karena pada dasarnya kitab-kitab suci tersebut hanyalah sebuah buku sejarah panjang dunia manusia dan kemudian disisipi dengan unsur-unsur kebenaran Tuhan sesuai dengan apa yang dialami oleh yang menulis setiap kitab tersebut (ini masih perlu dibuktikan).

  23. kupingku gatel, kembali kangen memori lama: The Battle of Los Angeles-nya Rage Against the Machine dan Let’s Go-nya Rancid.
    go punk!
    saya ada kopian the philosophy of punk, more than noise, mau?

  24. @ alex
    Itu dia masalahnya. Bagi kebanyakan yang ‘kanan’, kitab suci bukanlah tuntunan atau kerangka dasar, melainkan sumber segala ilmu yang perlu…

    @ Agiek

    Dengan ini kami nobatkan geddoe sebagai “Perusak Akidah Umat Nomor Wahid” :mrgreen:

    Huahahahahaha! :lol: Saya cuma berbagi ke-stress-an dan ke-gamang-an saya saja, kok. :lol:

    @ almascatie
    Saya juga bingung. :(

    @ oddworld
    Nah, mengartikan konteks ‘bacalah’ itu sabagai ‘belajarlah semua yang ada, jangan hanya kitab suci’, rasanya cukup bijak. :)

    @ fauzan.sa
    Justru itu. :P

    Menurut Dawkins moral pasti bias. Itulah konsep moral zeitgeist. :) Moral memang kabur seperti yang mas katakan. Justru itulah fondasi argumen Dawkins. Standar moral yang dipakainya menuruti konsep zeitgeist, yaitu moral secara konformis. Boleh dibilang Dawkins berpaham nihilistik pada konteks ini. :P Bagi dia, ‘moral’ itu tidak ada. Yang ada hanyalah pengukuran zeitgeist suatu era dengan parameter golden rule. :D

    @ manusiasuper
    Apa boleh buat, mas. Saya stress. Pusing. Boleh dibilang postingan ini separuh *uhuk-uhuk* berbagi penderitaan, sih… :(

    *emo mode* :(

    @ rozenesia
    Hei, komen yang bener, dong… :P

    @ fertobhades
    Setubuh. Sebenarnya pemikiran Dawkins yang kurang saya setujui adalah pandangannya yang terlalu berbau utopia tentang ‘dunia di mana tidak ada agama, semuanya living life to its fullest, dan saling berbagi atas nama kemanusiaan’. Bagi saya kok mirip mimpi sosialis die-hard sebelum runtuhnya Uni Sovyet. :P

    Terlepas dari apakah agama itu benar atau salah, agama adalah kontrol moral dan sosial yang masif. Dawkins boleh saja bawa-bawa komentar Einstein bahwa manusia yang berbuat baik hanya karena faktor surga/neraka adalah hina, tapi, sekali lagi itu berbau utopia. Tidak semua manusia itu sehumanis Einstein dan Dawkins. Benar, di sini Dawkins sedikit dogmatik dalam menolak mengakui agama sebagai salah satu ranting evolusi moral. :P

    (Benar, selangkahj lagi menuju level Santo. :D )

    *jawab separuh dulu, sibuk*

  25. Benar-benar artikel yang keren… Tesis yg bagus. Mengajak kita berpikir dan mengundang diskusi. Kapan2 kalau sempat dan semangat akan saya tanggapi.

    Tapi: kalau sempat dan niat ya???

  26. *lanjut…*

    @ alex
    Memang susah, mas. Kalau mau merevolusi dan mendinamiskan suatu paham, memang mesti jadi kiri dulu. Masalahnya sekarang penafsiran dari seribu tahun yang lalu sudah dianggap cukup untuk mengarungi abad kedua puluh satu… :|

    He! Mutazilah™ kamu! :P

    @ dnial
    Memang pemikiran barat sedikit lebih dogmatik ketimbang timur yang sangat agnostik, ya? :P

    Menurut saya pribadi, yang menyebabkan moral mengalami akselerasi yang signifikan adalah berkembang pesatnya sirkulasi informasi. :) Kalau saya mau dogmatik, ini adalah magnum opus akselerasi moral– tidak akan ada lagi yang seperti ini. :mrgreen:

    @ Catshade
    *hush, gini-gini di Metal Gear yang saya sembah itu Gray Fox, lho :P *

    Kalau nggak salah yang beruang itu disinggung di bukunya John Armstrong, deh. He? Jangan baca yang KJV dong, terlalu literal… Barangkali itu metafor? :P

    Kalau saya baca ajaran-ajaran saya lagi, kok saya juga merasa terindoktrinasi, ya? :?

    @ hoek
    Haiks, tadi saya nggak sahur… :|

    Btw, seks bebas di zaman dahulu itu kayaknya sama parahnya sama sekarang, lho. Dugemnya juga– walau dulu modalnya cuma arak sama tari perut doang. :lol:

    @ joyo
    Wah, lumayan terkejut juga, kirain mas Joyo udah baca. :) Di Indonesia agak susah, mas. Itu buku ‘kan menabok hal yang sensitif. :?

    Mas Joyo di Batam, tho? Nyebrang aja ke Singapore dulu… Atau obok-obok Amazon… :mrgreen:

    @ Rizma
    Saya juga pusing… 8O

    @ Suluh
    Setubuh, mas… :P

    @ Guh
    Saya juga gagal sahur, mas. :( Tangan udah refleks menabok punggung weker…

    @ watonist
    Jadi turun naik begitu, yak?

    @ jalansutera100
    Terima kasih, mas. Btw, ngespam itu dilarang, lho. :P

    @ extremusmilitis
    Sebenarnya titik temu antara pandangan mas dan Dawkins serupa, pada akhirnya yang ingin dilakukan adalah melunturkan privilege absolut yang dimiliki kitab suci. Dawkins ingin kitab suci itu diperlakukan sebagai buku bijak biasa… Pandangan yang mungkin dianggap radikal oleh kebanyakan orang.

    @ )’.’(
    Wah, saya lagi fakir benwit, tuanku… :(

    @ caplang™
    Kalau metode Dawkins, dibandingkan dengan menggunakan stereotip, menggunakan golden rule sebagai parameternya. :P

    @ Icha
    Mungkin bagi Dawkins (si bapak meme) itu moral itu termasuk meme… :D

    @ baliazura
    Saya juga, saya juga. :(
    *sulking dramatically*

    @ dewo
    Kapan-kapan, deh… :D

  27. Sebenarnya titik temu antara pandangan mas dan Dawkins serupa

    Ah masa sih Ged? :roll:

    Saya mungkin tidak se-radikal itu untuk menghapus ke-privillege-an itu :)
    Bahkanaku cenderung untuk mencoba mempercayai kebenaran dari kitab-kitab itu (meskipun sulit). Karena aku lebih percaya kebenaran hakiki itu cuma satu, di tangan Tuhan itu sendiri
    *termasuk aliran kiri, kanan, apa tengah ya?* :mrgreen:

  28. Hmm, masa? Setahu saya kaum moderat pun biasanya nggak menempatkan kitab suci pada sesuatu yang bsia dikatakan sebagai privilege absolut… Ah, maksudnya, ini bukan secara prinsip, melainkan praktikal… :)

  29. Gimana kalau agama memberikan suatu moralitas dasar yang (seharusnya) disesuaikan dengan zaman. Misalkan di Islam banyak praktek ke penghapusan budak lalu kalau baca soal poligami pada dasarnya disarankan monogami kan, kalaupun mau poligami, syaratnya lebih sulit. Merubah secara langsung pada zamannya mungkin dirasakan lebih sulit daripada merubah secara pelan-pelan. Sulitnya sedikit yang mendapatkan ‘jiwa’ perubahan ini.

    Tapi emang sulit kalau moralitas berubah drastis terutama pada masalah hak LGBT.

  30. Sesungguhnya anda sudah tersesat krn kebanyakan membaca produk2 makhluk kafir itu…. :mrgreen:

    Postingan yg mantab Bro…
    sejujurnya saat saya membaca Joshua dgn pembumi-hangusan Jericho (saat itu saya 4 SD), dlm hati nurani ada rasa keberatan dan tanda tanya pada Tuhan (sampai skrg tak terjawab).

    moral baik yang ada pada saat ini, TIDAK berasal dari ajaran agama manapun. dan… peningkatan standar moral manusia yg sedemikian pesat jauh diatas standar moral yg di kitab suci

    Hal ini pula yg bisa membuat saya menerima hasil riset Michael Newton PhD, krn roh yg ada terus belajar dan belajar moralitas dalam ribuan kali reinkarnasi mereka, sehingga standard moral meningkat signifikan (istilahnya update pengetahuan roh), nah kalo kitab suci kan ga mungkin diupdate… Lihat saja anak2 sekarang lebih cerdas dari anak2 tahun 70-an.

    Menurut saya solusinya, kejadian2 barbar (maaf, walau bagaimanapun bungkusnya bagi saya tetap barbar) yg di kitab suci ga usah diceritain dulu ke anak2 dan remaja utk menghindari apa yg dinamakan penanaman ideologi “legalisasi anarkis”. Kejadian2 tersebut baru diceritakan bila mereka sudah dewasa dan bisa menganalisa sendiri, itupun sebaiknya ada agamawan senior yg mendampingi, dgn syarat yg senior itu tidak ikut terdistorsi legalisasi tsb. :)

  31. Pendek. Pendek saja. Toh ini juga belum menjadi pertanyaan yang menohok.

    Itu tantangan Dawkins sudah dilihat dari berapa perspektif ? Apa yang dilihat dari Israel saja ? Atau ada pula yang dilihat berdasarkan pandangan umat beragama ? :?

  32. @ abeeayang
    Yak, mas/mbak baru saja memilih opsi keempat. :)

    @ nenda
    Pertanyaannya cuma satu, ajaran itu mutlak apa tidak? Bisa direvisi atau tidak? Merupakan sumber moral tunggal atau tidak? Sebenarnya tesis Dawkins itu sesederhana itu, kok. :P

  33. @ CY
    Saya jadi bertanya-tanya apakah anak-anak pada umumnya memiliki protes tersembunyi juga. :P Soal update-update-an, kira-kira saya ini hasil update siapa, ya?

    Ahem. Mengenai legalisasi genosida seperti tiu, itu yang saya rumuskan sebagai menanamkan postulat-postulat palsu pada anak-anak. Ini yang susah. Saya setuju kalau pengajarannya mesti dipending.

    @ Mihael Ellinsworth
    Rasanya bagian eksperimen itu malah hanya bagian pelengkap saja, kok. Bahkan sekadar trivial, kalau dibandingkan dengan hipotesis di atasnya.

    Lagipula, saya nggak merasa generalisasi adalah hal yang tabu di sini. Intinya adalah membuktikan bahwa agama bisa (bisa, bukan selalu) meracuni moral di saat-saat tertentu. Satu bukti sudah cukup. Sebab hipotesisnya hanya ‘bisa‘. :P

  34. @nenda, setuju dengan pendapat anda, problemnya beberapa orang beranggapan bahwa firman yang sudah final tsb harus dikerjakan secara letterlijk sesuai dengan apa yang tertera.
    Mengambil makna esoterik dan metaforik (seperti tulisan mas Geddoe no 2) mereka takutkan jatuh ke pemahaman yang terlalu pragmatis.
    Saya sendiri lebih cenderung ke arah pragmatis sekalian :)

  35. @fauzan.sa (komen no 20)
    Anda bertanya ttg parameter yg dipakai? apa standar yg harus dipakai?
    Masih ada satu yg parameter yg bisa dipakai, yaitu nurani bro…, atau istilah saya “kesadaran terdalam yg berasal dari roh kita”

    tidakkah nurani anda berontak saat membaca seorang ayah yg menjual 2 putrinya hanya demi melindungi 2 org tamunya?

    tidakkah nurani anda bertanya saat seisi kota dibumihanguskan sak ternak2nya oleh seorang manusia yg berlabel “suruhan Tuhan” hanya krn beda kepercayaan??

    Nurani saya aja sebagai seorang anak SD (waktu dulu pertama saya baca) berontak, padahal waktu saya SD sudah diindoktrinasi bhw itu kehendak Tuhan.

  36. @ oddworld
    Sebenarnya mayoritas penganut agama memang mengadopsi moralnya dari sumber non-religius, seperti yang dirumuskan Dawkins. Karena ya itu, sebenarnya umat yang punya kesadaran cenderung menafsirkan secara metafor (yang tentunya memerlukan sumber eksternal), dan umat yang apatis jelas mengadopsi moralnya dari sumber luar.

    Naah, bener, masalahnya yang menganggap final itu. Jangankan berpikir yang pragmatis-pragmatis, mas, denger nama pragmatisme aja pikirannya udah ke barat = kafir = jangan diikuti. :P

    @ CY
    Psst. Manusia ‘kan selalu berusaha menjustifikasi kepercayaan yang dianutnya saat itu. :P
    Btw, memang, ada ukuran universal. Golden rule.

  37. @Kopral

    Saya setuju kalau pengajarannya mesti dipending.

    Celakanya agamawan skrg cenderung menggunakan cerita2 barbar itu utk menakut-nakuti supaya patuh. :(

  38. Pingback: “But that’s (NOT) the Truth !” - Harusnya NKRI itu seperti ini…. « Chaos Region

  39. Oleh karena moral berada di dalam ruang dan waktu yang dinamis, lalu apakah berarti kita tidak membutuhkan “acuan” agar tidak terjebak diperombang-ambingan ?

  40. @ Herianto

    Oleh karena moral berada di dalam ruang dan waktu yang dinamis, lalu apakah berarti kita tidak membutuhkan “acuan” agar tidak terjebak diperombang-ambingan ?

    Ah! Dalam hal ini aku sepakat dengan Pak Heri.
    Karena kritiknya Dawkins sendiri *IMHO* tidak membangun sebuah struktur acuan tentang moralitas, bukan? Skeptisisme dan nihilisme sebagai basisnya tentu saja akan membuat semuanya terlalu “flow with the river”. I mean, terlalu mengalir dan membiarkannya pada ruang dan waktu serta manusia itu sendiri.

    Betewe, sampel tentang kitab suci itu hanya dari kitab judeo-christian dengan perjanjian lama dan perjanjian baru saja? Agama apa saja yang dijadikan sampel?

    Aku pengen liat kritiknya juga atas Qur’an :mrgreen:
    Karena sepanjang yang aku tahu, sejarah pendistorsian Quran itu sendiri tidak pernah terbukti valid, berbeda dengan campur tangan manusia pada kitab-kitab lainnya. Manuskrip tentang versi Quran yang asli sendiri sampai saat ini tidak otentik.

    Gawatnya, Dawkins berhasil menyusun hipotesis bahwa kitab suci, dan pengkultuan zeitgeist kadaluwarsa. ternyata mengandung bahaya. Hal ini menanam postulat yang (katanya) kadaluwarsa pula pada building block ideologi generasi muda.

    Penafsiran, Ged. Penafsiran…
    Dalam artian, apa yang disebut ‘kadaluwarsa’ oleh Dawkins itu sendiri tergantung juga pada penafsiran apakah keluarga atau orang lain yang berada di sekitar generasi muda itu sendiri.

    Dawkins agaknya gagal menjelaskan satu hal: jika kitab suci kadaluwarsa, mengapa “terlalu banyak orang” yang masih menjadikan kitab sebagai pondasi
    iman, moral dan ideologi? Yup, u can put me in for this :P

    Agaknya itu sebabnya ia bersikap “sekuler” dengan menghindari pembahasan agama :roll:

  41. * komentar lagi, biar Geddoe pusing bacanya* :)

    Sebenarnya, menurut saya, Dawkins tidak terlalu menjurus kearah nihilisme dan reduksionisme. Dia cenderung kearah dekonstruksi.

    Dia lebih ingin membongkar apa yang sudah dijadikan sebuah kebenaran yang pasti dalam soal moralitas dan agama.

    Masalah lainnya, kalau saya membandingkan tindakan moral masa lalu dan masa sekarang, maka saya cenderung untuk menggunakan parameter saat ini. Bagi saya, perbudakan, fasisme, rasisme, dll cenderung saya nilai berdasarkan nilai-nilai jaman sekarang. Dan inilah yang membuat penilaian saya atas moralitas dalam konteks jaman itu bisa bias.

    Jika agama adalah salah satu sumber moralitas (yg tidak disetujui Dawkins), maka agama juga harus berkembang menurut nilai jaman sekarang. Bukan terpengaruh, tetapi mengadopsi dan menyesuaikan juga dengan konsep-konsep nilai moral yang sekarang sedang berkembang. Itu karena konteks moralitas agama yang turun ribuan tahun lalu berbeda dengan konteks kekinian.

    Contoh paling jelas adalah soal hukuman dan cara pelaksanaan hukuman. :)

    Bagi beberapa orang hal itu dikatakan “penafsiran ulang terhadap nilai-nilai yang ada dalam ajaran agama“. Konteksnya disesuaikan, dan tidak dibaca dan diartikan dengan harafiah.

    Masalahnya, ini bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap agama. Lha, orang jaman sekarang kok hidup dengan nilai jaman dulu yang berbeda konteksnya. Kenapa nggak sekalian saja kita jadi orang jaman dulu ? :mrgreen:

    *peace yooo…!*

  42. Hmmm…. hmmm….
    Nyampah lagi :D

    Sepakat dengan bang Fertob!

    Sebenernya kitab suci itu punya satu masalah serius untuk dijadikan landasan moral utama. Yaitu ada Firman Tuhan di sana. Di sana dijelaskan tentang tindakan2 Tuhan yang secara moral tidak sesuai dengan manusia. Contohnya, Sodom dan Gomorah, dan Air Bah pembantaian besar-besaran.

    Terkadang Tuhan juga memanfaatkan mahluk2 seperti yang dikutip oleh Catshade.

    The main problem is, Tuhan tidak bermain dengan aturan manusia. Dalam analogi sebuah game MMO, Tuhan adalah creator, admin dan game master.

    Wajar saja jika Tuhan terlihat sangat kejam dalam Kitab Suci, karena pada dasarnya dia tidak bermain dengan aturan kita. Misal, jika Tuhan harus berdasarkan pada aturan jangan membunuh, berapa jumlah penduduk bumi sekarang?

    Selain itu, ada hukum dan aturan dan perintah yang diberikan Tuhan sesuai konteks jaman itu. Perbudakan dan poligami contohnya. Aturan perbudakan(di Taurat) IMHO adalah sebuah lompatan moral dari aturan sejamannya. Bayangkan, seseorang dibatasi menjadi budak 7 tahun, dan pada tahun ke-7 harus dibebaskan, kecuali dia memilih untuk tetap, seorang budak memiliki 1 hari libur dalam seminggu. Suatu hal yang bahkan di aturan perbudakan di Roma sekian abad setelahnya tidak ada (tapi budak di Roma bisa membeli kebebasannya). Tapi jika aturan itu diterapkan pada konteks jaman dan masyarakat yang tidak mengenal perbudakan maka hal ini tidak tepat.

    Lalu cerita tentang genosida suku2 di Kanaan (termasuk Yerikho), IMHO harus dilihat sesuai konteks jaman itu. Misalnua Yerikho. Jika dibiarkan hidup, mungkin akan mengancam keberadaan Israel. Israel adalah sebuah suku yang masuk ke tanah yang dihuni oleh suku2 yang lain selama berabad-abad, dan tiba2 mengklaim, “Ini tanah perjanjian kami!!” Apa musuh tidak berkembang secara eksponensial tuh? Jadi mereka berusaha mengurangi musuh dan membuat musuh2 yang dikalahkan tidak membalas dendam, caranya? genosida. Bagaimana dengan cara damai? Dalam janji Tuhan, merekalah pemilik tanah Kanaan seutuhnya, Hidup damai dengan suku lain di tanah itu bukanlah opsi, selain absolutisme perintah Tuhan, xenophobia dari suku2 lain maupun Israel sendiri bisa menjadikan Kanaan tanah perang selama berabad2 ke depan. Sound familiar with current situation? Untungnya Israel masa kini tidak bisa melakukan genosida pada Palestina,ataupun sebaliknya.

    Permasalahannya dengan Kitab Suci IMHO adalah adanya absolutisme dalam perintah Tuhan yang seringkali bertentangan dengan aturan main manusia. Untungnya IMHO absolutisme ini hanya benar di situasi saat itu saja(seperti Yerikho).

    Jadi dekonstruksi yang harus dilakukan adalah pemisahan, mana moralitas dalam Kitab yang berlaku umum pada semua jaman, mana yang berlaku hanya pada kondisi tertentu, dan mana yang hanya sebagai catatan sejarah, artinya hanya benar di saat itu.

    Selain itu masih ada mana yang diambil secara literal, mana yang metaforis, mana yang merupakan standar dari Tuhan (contoh yang membuat aku pusing di dalam agamaku adalah,”Jadilah dirimu sempurna seperti Bapamu di surga sempurna” mending itung2an pahala vs dosa atau karma, ini harus sempurna, tanpa dosa, tanpa cela!)

    Apakah saya sudah terindoktrinasi?
    Dan apakah saya sudah menyalahi absolutisme Kitab Suci?

    Sekian sampah saya, lain kali nyampah lagi…

  43. Mengambil makna esoterik dan metaforik (seperti tulisan mas Geddoe no 2) mereka takutkan jatuh ke pemahaman yang terlalu pragmatis.
    Saya sendiri lebih cenderung ke arah pragmatis sekalian :)

    Mengikuti ajaran Dosen Hukum Islam saya, hukum agama yang berkaitan dengan pergaulan manusia itu dapat berkembang, enggak mentok yang di kitab suci. Kalau ajaran yang berkaitan dengan ibadah kepada Tuhan, itu enggak bisa diganggu gugat.

    Jadi intinya, pragmatis ya. Dari dulu enggak pernah musingin ini semenjak dikasih tahu dosen saya itu.

  44. @ dnial

    The main problem is, Tuhan tidak bermain dengan aturan manusia. Dalam analogi sebuah game MMO, Tuhan adalah creator, admin dan game master.

    Betul. Dan, akibatnya, kita nggak bisa mempersepsi/menjustifikasi keputusan Tuhan dengan standar kemanusiaan. :|

    Contoh ekstrim, apakah Perang Salib itu ajang penderitaan (dan pembunuhan) umat muslim/kristen/yahudi yang seharusnya tidak terjadi? Belum tentu. Toh ‘mati’ dan ‘menderita’ itu persepsi kita. Orang beriman yang tewas boleh jadi dianggap mulia oleh Tuhan. Yang salah memilih agama (seandainya memang dianggap begitu oleh Tuhan) mungkin juga akan dianggap sebagai orang2 yang salah memakai kehendak bebas mereka, dus layak dikirim ke neraka.

    Butuh pertimbangan ekstra hati-hati kalau kita hendak mendeduksi moralitas yang digariskan Tuhan, IMHO. :?

    Jadi dekonstruksi yang harus dilakukan adalah pemisahan, mana moralitas dalam Kitab yang berlaku umum pada semua jaman, mana yang berlaku hanya pada kondisi tertentu, dan mana yang hanya sebagai catatan sejarah, artinya hanya benar di saat itu.

    IMHO, kita bisa juga melihat sisi progresif dari moral ‘kitabi’ itu, dan mengadopsi nilai2nya ke kehidupan sekarang (seperti yang dibilang mas fertob, atau di komen saya yang no. #4). E.g. soal poligami dan perbudakan yang disebut; ini berarti mengakui moralitas kitab sebagai titik tolak — dan bukannya sebagai nilai mutlak yang harus diterapkan saat ini. (IMHO lagi nih ^^)

    @ yang punya blog

    Waks, heibatt… baru kali ini ada 60-an komentar dan isinya cuma dikit yang nyampah. Sejarah di RQc, nih… :mrgreen:

  45. Contoh ekstrim, apakah Perang Salib itu ajang penderitaan (dan pembunuhan) umat muslim/kristen/yahudi yang seharusnya tidak terjadi? Belum tentu. Toh ‘mati’ dan ‘menderita’ itu persepsi kita. Orang beriman yang tewas boleh jadi dianggap mulia oleh Tuhan. Yang salah memilih agama (seandainya memang dianggap begitu oleh Tuhan) mungkin juga akan dianggap sebagai orang2 yang salah memakai kehendak bebas mereka, dus layak dikirim ke neraka.

    Kalau Tuhan menganut paham “Ignorare Legis est Lata Culpa” alias “tidak tahu hukum bukan alasan” yang tidak menganut ‘hukum’ alias agama yang tepat, ya ‘habis’.

    Jadi inget lagu Panic! “The Only Difference Between Martyrdom And Suicide Is Press Coverage”. Ya, ya, ya saya tidak suka emo.

    Alasan perang dari zaman ke zaman itu:
    agama => kepentingan nasional.

    Zaman dulu agama=negara. Oh, ya negara2 di Eropa sebelum traktat Westphalia sense-nya agak beda dengan negara modern sekarang.

    Lihat saja kepercayaan yang berakar dari Proto Indo Europe seperti Hindu dan Zoroatrisme (CMIIW spelling dong). Hindu berpihak ke Daeva sementara Zoroatrisme berpihak ke Ashura. Kok ngawur ke sejarah, ya.

  46. @denial
    Doktrin “pre-emptive attack” berarti bisa dirunut jauh sampai ke ‘firman tuhan’ ya ?
    Apakah ini bagian dari moralitas juga ? :)

  47. @ Herianto | alex
    Sebenarnya kalau ditanya pada kaum atheistik, acuannya adalah golden rule, pak/mas. Golden rule ini kemudian dipadu dengan nilai-nilai zeitgeist saat itu. Sebab menurut penelitian, tidak ada perbedaan signifikan antara moralitas kaum atheis dan religius.

    Dalam artian, memang kaum religius memandang kitab suci sebagai ‘panduan’, tapi, pada kenyataannya, panduan itu nggak pernah dipakai. Sebenarnya moral saat ini adalah perpaduan golden rule dan budaya… Tentu tidak berarti kitab suci tidak memiliki kredit— hanya saja tidak eksklusif.

    Dawkins sendiri sebenarnya hanya menggagaskan hal tersebut. Bahwa kitab suci bukanlah sumber moral eksklusif. :)

    @ Muhsin Labib
    Salam juga. :)

    Dalam hal ini Dawkins membahas kitab suci secara sekuler, dalam artian mengabaikan dulu apakah ia bikinan Tuhan atau tidak. :P

    @ fertobhades | dnial
    Sebenarnya pernyataan itu membenarkan teori mbah Dawkins itu. Kalau ajaran agama didinamiskan, mesti ada barometer dari luar yang dijadikan pembanding. Dan ini berarti ada sumber moral di luar agama. Sebenarnya hanya ini yang hendak dibuktikan Dawkins; bahwa manusia sebenarnya tidak bergantung separah itu pada ajaran agama. :P

    Kalau umat beragama bisa melepas ke-absolut-an itu, sebenarnya ajaran agama itu sendiri akan terbebaskan dari kungkungan zaman. Masalahnya, ahem, ini terkadang dicap heretik. :roll:

    @ joyo
    YHWH maksudnya? Yah, *konon* Beliau ‘kan cuma asimilasi dewa-dewa perang patriarki zaman dulu. :P

    @ Nenda Fadhilah
    Dan untuk mendinamiskan suatu ajaran itu diperlukan sumber dari luar, bukan?

    @ sora9n
    Sebenarnya itu bisa dicap lagi sebagai self-defense system-nya agama, lho. Misalnya fideisme, yang menganggap Tuhan tidak bisa dijangkau pemikiran manusia sama sekali.

    Uniknya, secara ironis, di bab terakhir TGD Dawkins menggunakan mekanisme sama atas nama sains; yang menganggap intuisi manusia bisa saja salah dan dibantah sains.

    Intinya, sama dengan berkata; if you think it’s wrong, then it’s just your imagination. :mrgreen:

    (Btw, bener juga, nggak ada sampahnya, nih. :P )

    @ oddworld
    Saya kurang paham, nih… :?

  48. Yep. Tapi tetap saja, ada prinsip suatu agama yang tidak bisa diubah. Kalau prinsipnya ikut berubah sama aja kayak manusia yang ngikutin trend tanpa tahu makna atau inti trend itu.

    Masalah hubungan antar manusia yang masih bikin saya bingung, adalah hak LGBT. Tahu sendiri, kan.

    Btw, yang moral dan tidak bermoral itu kalau didasarkan kepada masyarakat yang dinamis ini jadinya tidak pasti. Padahal kepastian… (ah sudahlah).

  49. Kalau satu agama gampang berubah, apa yang bisa ‘dipegang’ dari agama itu. Kayak hukum, kalau hukumnya gampang diubah, kepastian hukum tidak akan ada dan keadilan akan sulit dicapai.
    Tentunya hukum bisa berkembang, tapi kalau prinsip-prinsipnya berubah terus maka hukumnya bisa enggak pasti dan itu buruk. Kurang foresight ke masa depan.

  50. mas kopral, saya msh bingung dng bagian yg disebut Dawkins berevolusi itu apa?
    soalnya menurut saya semuanya justru cuman merupakan pengulangan
    kecuali evolusi fisik dan tehnologi yak
    ato jangan2 keduanya juga merupakan pengulangan? kan ada UFO, ET, alien

  51. Yang saya maksudkan tulisan Dnial yang ini kopral “Israel adalah sebuah suku yang masuk ke tanah yang dihuni oleh suku2 yang lain selama berabad-abad, dan tiba2 mengklaim, “Ini tanah perjanjian kami!!” Apa musuh tidak berkembang secara eksponensial tuh? Jadi mereka berusaha mengurangi musuh dan membuat musuh2 yang dikalahkan tidak membalas dendam, caranya? genosida.”

    Doktrin pre-emptive strike/war yang digagas Bush Administration IMHO berangkat dari ketakutan yang sama dengan yang ditulis Dnial. Daripada negara/bangsa yang nanti bisa melakukan tindakan permusuhan bertambah kuat lebih baik kita dahului menyerang mereka dst dst.
    Saya tertarik apakah doktrin yang sudah mengakar dalam kehidupan berbagai bangsa itu ada kaitannya dengan ayat-ayat pedang di berbagai kitab suci.
    http://en.wikipedia.org/wiki/Preemptive_war

  52. @ Nenda Fadhilah
    Nah, sebenarnya ini menggelitik. Fungsi agama itu untuk meluruskan moral atau untuk dipegang-pegang? :lol:

    @ caplang™
    Maksudnya ya itu, ternyata zeitgeist moral itu sendiri terus berubah. Standar moral itu ternyata nggak statik.

  53. @ oddworld
    Ach so… Btw saya kok sedikit banyak yakin kalau ayat-ayat pedang (ini istilahnya Rob Spencer, ya? CMIIW) itu ada kaitannya dengan cara berpikir yang agresif kayak di atas. :P

  54. Kuncinya di sini, prioritasnya itu ada pada identitas atau esensi? Ada kalanya di suatu titik pegangan itu sudah nggak relevan, dan tetap dipertahankan, ini dia yang bikin agama jadi masalah.

  55. kalo begitu bisa nggak para para pelaku bom jihad (e.g. Amrozi, imam samudra, Azhari, dll) dijustifikasi benar pula secara moral. moral keTuhanan maksudnya. :lol:

    mohon pencerahan !

  56. Doktrin pre-emptive strike/war yang digagas Bush Administration IMHO berangkat dari ketakutan yang sama dengan yang ditulis Dnial. Daripada negara/bangsa yang nanti bisa melakukan tindakan permusuhan bertambah kuat lebih baik kita dahului menyerang mereka dst dst.
    Saya tertarik apakah doktrin yang sudah mengakar dalam kehidupan berbagai bangsa itu ada kaitannya dengan ayat-ayat pedang di berbagai kitab suci.
    http://en.wikipedia.org/wiki/Preemptive_war

    Calon judul skripsi. Btw, preemptive strike itu sudah ada dari abad 18/19. Tapi praktek di dunia internasional sendiri kebanyakan menolak. Contohnya selain Irak, serangan Jerman ke Norwegia.

    @Difo
    Contohnya?

  57. @ Agiek
    Kalau bom jihad udah jelas melanggar golden rule kali, ya susah dijustifikasikan. :P

    @ Nenda Fadhilah
    Oh, please. Banyak banget tuh contohnya. :lol: Saya nggak mau ngomong, ah. Sensitip soale.

  58. Oh ya… kelupaan itu satu masalah lagi.

    Di jaman dulu agama adalah agama negara. Jadi kepentingan agama dan negara sering bersinggungan. Hal ini tertuang dalam Kitab Suci. Jika agama dan negara dipisahkan (seperti di banyak negara sekarang), maka kita juga harus mengkaji ulang hal2 yang berhubungan dengan hubungan agama dan negara di Kitab Suci.

    Baru kepikiran, yang diambil moralitas kan bukan aturan? Jadi kita memang tidak bisa memutlakan Kitab Suci, harus ada interpretasi. IMHO, yang harus diambil sebenarnya bukan aturan-aturan, tapi prinsip-prinsip dasar moralitas di dalamnya, yang bisa dilakukan dengan membaca Kitab Suci secara utuh dan mengambil nilai moral yang ditekankan pada Kitab Suci itu. Gimana menilainya? Kayaknya hati nurani (buat yang masih menyala terang)(semoga)cukup. dan hati nurani kan salah satu wahyu umum sehingga layak untuk dipakai.

    Akhirnya hadirlah prinsip moral universal (yang bisa dilihat dalam berbagai agama):
    1. Menghargai kehidupan
    2. Menghargai lingkungan
    3. Menghargai orang lain
    4. Senantiasa berbuat baik
    5. Golden rule

    Sederhana kan? Atau worse, aku terlalu menyederhanakan?

  59. #71 Kopral Geddoe

    Agama pada dasarnya memang punya afinitas yang buruk dengan perubahan, bukan? :P

    Sudah sewajarnya, IMO. Karena tanpa kestatisan itu, agama bakal nggak ada bedanya sama hukum manusia — yang sifatnya relatif dan terus berubah.

    Kalau itu yang terjadi, bukan gak mungkin hukum Syariah ‘sukses’ bertransformasi jadi ultraliberal di tahun 2000 H. :lol:

  60. @ sora9n

    Waks, heibatt… baru kali ini ada 60-an komentar dan isinya cuma dikit yang nyampah. Sejarah di RQc, nih… :mrgreen:

    Eee…. ini request? :mrgreen:

    *disundut rokok stroberi*

  61. Hmm, masa? Setahu saya kaum moderat pun biasanya nggak menempatkan kitab suci pada sesuatu yang bsia dikatakan sebagai privilege absolut… Ah, maksudnya, ini bukan secara prinsip, melainkan praktikal… :)

    Nah ini dia, principle-isme dan practical-isme. Orang ber-prinsip se-harus-nya mem-praktik-kan apa yang diprinsipkannya itu, tetapi kenyataannya belum tentu pada praktiknya prinsip-prinsip tersebut dilaksanakan kan. Jadi, seandainya pun kita memegang teguh kitab suci sebagai sumber prinsip riil bagi kita, belum tentu kan apa yang dikatakan oleh kitab suci itu kita laksanakan sepenuhnya

    Begitu juga dengan apa yang secara tidak langsung ditangkap oleh Dawson (dan menyatakan bahwa zeitgeist yang terjadi di masa lalu ternyata secara moral berdasarkan pada kitab suci) tidak bisa dipastikan keabsahannya, karena sekali lagi belum tentu praktik-praktik moral yang terjadi pada saat itu memang merupakan bentuk realisasi ajaran moral dari kitab-kitab suci tersebut kan?

    *saya tidak tahu apa ini termasuk ke-absurd-an perspektif* :)

  62. @ Nenda :

    Mengikuti ajaran Dosen Hukum Islam saya, hukum agama yang berkaitan dengan pergaulan manusia itu dapat berkembang, enggak mentok yang di kitab suci. Kalau ajaran yang berkaitan dengan ibadah kepada Tuhan, itu enggak bisa diganggu gugat.

    Betul, saya setuju juga dengannya. *sial kenapa nggak ngambil jurusan hukum dulu ya..!!* :mrgreen:

    Kalau menurut klasifikasi asal-asalan dari saya, norma dalam agama itu ada 2 :

    1. Norma Yang Menetap (Dogmatis, Doktrinal, Teoretis).
    2. Norma Yang Aplikatif.

    Norma dogmatis itu berhubungan dengan inti ajaran dalam agama, misalnya Rukun Islam. Itu nggak bisa ditawar dan itu sifatnya dogmatis. Ini lebih banyak menyangkut hubungan spiritual manusia dengan Tuhan.

    Norma yang aplikatif ini yang seharusnya berubah dalam masyarakat. Misalnya saja, Membunuh itu dilarang keras dan pelakunya harus dihukum berat. Definisi hukuman berat ini yang harus mempertimbangkan nilai-nilai sosial yang sedang berkembang di masyarakat. Apakah perlu darah ganti darah ? *sebagai contoh*

    Di contoh agama Katolik ada juga. Konsili Vatikan II tahun 1960-an itu berisi norma-norma yang banyak berubah di agama Katolik. Termasuk konsep “keselamatan diluar gereja”.

  63. Oh, please. Banyak banget tuh contohnya. :lol: Saya nggak mau ngomong, ah. Sensitip soale.

    Ya sudah, di Y!M aja. Gitu aja kok repot™.
    Soalnya ini: http://en.wikipedia.org/wiki/Social_cycle_theory
    *baru ingat pas mengingat2 pelajaran sosiologi di SMA*

    Betul, saya setuju juga dengannya. *sial kenapa nggak ngambil jurusan hukum dulu ya..!!* :mrgreen:

    Cari aja tempat kuliah dimana Ibu ini mengajar.

  64. @extremusmilitis

    Begitu juga dengan apa yang secara tidak langsung ditangkap oleh Dawson (dan menyatakan bahwa zeitgeist yang terjadi di masa lalu ternyata secara moral berdasarkan pada kitab suci) tidak bisa dipastikan keabsahannya, karena sekali lagi belum tentu praktik-praktik moral yang terjadi pada saat itu memang merupakan bentuk realisasi ajaran moral dari kitab-kitab suci tersebut kan?

    Tetapi kita tidak boleh menyepelekan kenyataan bahwa “indoktrinasi” sejak anak2 akan menimbulkan endapan dialam bawah sadar yg pada suatu saat bisa muncul kepermukaan dan dianggap mereka sebagai “legal behaviour” yg pada gilirannya bahkan melegalkan genosida. :)

    *ciee… bisa juga pake bahasa planet kyk geddoe* :mrgreen:

  65. Tetapi kita tidak boleh menyepelekan kenyataan bahwa “indoktrinasi” sejak anak2 akan menimbulkan endapan dialam bawah sadar yg pada suatu saat bisa muncul kepermukaan dan dianggap mereka sebagai “legal behaviour” yg pada gilirannya bahkan melegalkan genosida. :)

    Gw setuju. Tapi coba baca ini: http://en.wikipedia.org/wiki/Original_sin

  66. @ Nenda
    Lho? Original sin itu sendiri bukannya merupakan bentuk indoktrinasi?
    Maaf, ndak bisa nangkap hubungannya dengan komen CY itu :?
    Dijelasin, please… :P

  67. @ Grisitio
    *ikutan manggut-manggut*

    @ dnial
    Ah, komentar yang mencerahkan. :)

    Di jaman dulu agama adalah agama negara. Jadi kepentingan agama dan negara sering bersinggungan. Hal ini tertuang dalam Kitab Suci. Jika agama dan negara dipisahkan (seperti di banyak negara sekarang), maka kita juga harus mengkaji ulang hal2 yang berhubungan dengan hubungan agama dan negara di Kitab Suci.

    Benar, saya juga sering dengar yang namanya satu negara ramai-ramai ganti agama mengikuti rajanya. Apa ini berarti bahwa sejak zaman dahulu juga memang manusia itu agak apatis masalah agama? :P

    Baru kepikiran, yang diambil moralitas kan bukan aturan? Jadi kita memang tidak bisa memutlakan Kitab Suci, harus ada interpretasi.

    Benar, memang ini yang dimaksudkan. Bahwa jangan sampai menafikan unsur eksternal.

    Sederhana kan? Atau worse, aku terlalu menyederhanakan?

    Rasanya konformitas di sini perlu, deh. Daripada sibuk merumuskan, sebenarnya ada baiknya mengadopsi nilai moral positif dari segala penjuru. :) Misalnya, mengambil nilai-nilai adat.

    @ sora9n
    Sebenarnya posisi kestatisan itu juga ada baiknya dikaji. Statis di mananya? Bagian esensi atau seremonial? :P

    Btw, statis tidak melulu berarti jelek… Ada prinsip dasar yang memang bisa dipastikan selalu statis…

    @ alex
    Silahken, di sini asal yang nulis manusia bakal dibebaskan dari jeratan spam. :P

    Btw, saya udah nggak ngerokok lagi. :lol:

    @ extremusmilitis
    Bukan, maksudnya, bahwa pada prakteknya kitab suci tidak akan mencukupi kebutuhan moral manusia, dan mesti disuplemen dengan sumber-sumber lain. Walaupun ada yang mengklaim bahwa kitab suci sudah cukup, pada prakteknya tidak mungkin demikian. :)

    @ fertob
    Nah, konsili kayak begitu itu yang baik. Tapi, ehem, seberapa banyak sih yang sudi melakukan hal seperti itu? :roll: :mrgreen:

    @ Nenda Fadhilah
    Di Y!M juga saya males ngomong, ah. :P

    Btw, sebenarnya doktrin ‘tidak pandang bulu’ macam original sin bagi saya tidak ada bedanya dengan doktrin neraka. Sama saja tidak adilnya… Setidaknya kesimpulan sementara… :)

    @ CY
    Di sini saya tertarik dengan kritik Dawkins pada masyarakat, di mana ‘beriman tanpa mempertanyakan’ dianggap sebagai sesuatu yang positif. Apa kita selama ini mendidik anak untuk jadi taklid buta? :?

    @ matahari
    Penelitiannya Tamarin? :P Memang… :)

    @ yarza
    Bagaimana? Sudah berevolusi? :P

  68. Mas Geddoe saya ini orangnya kurang pinter dan kebetulan dari Ilmu Komputer. Pertama belajar logika, bab setelahnya ada Aljabar Boole dan peta Karnaugh. Wajar aja kalo pas pertama kali kita diskusi saya nggak gitu paham sama ketidakmutlakan indera kita. (Apologi nih critanya :D).

    Karena itu, saya mbok dijelaskan lagi mas soal Dawkins ini. Masih bingung soalnya.

    Kalo Dawkins bilang moral ini berubah, maka dia harusnya punya parameter. Kalo Dawkins juga bilang moral itu tidak ada dan selalu bias, harusnya dia nggak boleh pake parameter. Kalo gitu, Dawkins kontradiktif dong. Dalam pemahaman logika saya yang sederhana ini, pernyataan Dawkins pasti salah. Kayak gitu nggak mas?

    Kalo Dawkins bilang ada sumber moral di luar agama, saya setuju. Yang jadi pertanyaan, apa alasan kita untuk menuruti suatu aturan moral? Moral itu, seperti saya bilang kemaren, nggak bisa diukur secara universal (katanya bias). Kalo memang bias, maka sebenarnya sah-sah saja masing-masing orang menetapkan standar moralnya sendiri. Ini berarti, sah-sah saja setiap orang berbuat semaunya. Dapat juga diartikan, sah-sah saja tiap agama punya moralnya sendiri-sendiri.

    Dengan demikian, kita nggak boleh menilai rasisme, sistem kasta, ataupun genosida. Hitler belum tentu salah, begitu juga Genghis Khan dan Pol pot.

    Ada yang mengusulkan golden rule, berbuat baik, menghargai kehidupan, dan lain-lain. Sebenarnya, mengapa sih kita harus menerima moral-moral seperti itu?

    Apakah yang namanya hati nurani itu benar-benar ada?

    Sori kalo rada sama dengan yang di atas. Tapi, bukannya kita tidak boleh menetapkan standar moral universal kalo cara mengukur universal itu nggak ada? Kalo misalkan moral itu didasari oleh empati, maka perwujudan empati itu bisa jadi moral yang bermacam-macam. Jika moral itu didasari cinta, maka kepada siapa cinta itu diberikan akan menentukan moral kita.

    Jika memang moral itu diambil dari bagaimana binatang menyayangi anaknya dan bekerja sama dengan sesamanya, bukankah itu namanya appeal to nature?

    BTW, kalo dibilang cognitive dissonance, memangnya yang bagian mana ya? Kok agak beraroma ad hominem ya? Ikut-ikutan ah. :D. Bukannya mas Geddoe yang cognitive dissonance? Berusaha menjustifikasi adanya moral universal, entah bagaimana caranya, karena anda adalah seorang pengikut altruisme? Yang ini gak perlu dijawab. Sampah soalnya. Hehehe…

  69. Seingat saya di akhir program TV “root of all evil?” Dawkins menunjukkan bahwa altruisme itu mungkin adalah bagian dari informasi genetik yang diturunkan/tetap disimpan dalam rangkaian evolusi yang terjadi pada berbagai makhluk hidup. Karena hal tsb penting dalam survival sebuah spesies. Kecenderungan bertindak altruis beberapa individu dapat menyelamatkan satu spesies dari kepunahan.
    Secara pragmatis, golden rule juga terjadi demi keberlanjutan sebuah spesies di bumi ini, dengan memperlakukan setiap individu dalam sebuah komunitas seperti bagaimana kita ingin diperlakukan, maka kerjasama antara spesies dalam satu komunitas yang sama bisa terbangun. Kerjasama yang bisa menjamin keberlanjutan sebuah spesies.

    Jadi nilai-nilai moral, seperti yang saya pahami dari program tersebut, memang terbangun dengan semakin berkembangnya masyarakat. Dengan era informasi yang semakin berkembang saat ini, nilai-nilai yang selalu berubah ini menjadi semakin universal. Dalam artian meski kita tidak setuju dengan nilai moral tertentu pada masayarakat di tempat lain, kita bisa memahami dan mempelajari kemudian memilih untuk membuangnya, mengikutinya atau memodifikasinya.
    Sebelum lahirnya era dimana pertukaran informasi secepat sekarang, agama dapat membuat seperangkat nilai moral yang statis dan berlaku universal bagi para penganutnya. Dengan semakin cepatnya pertukaran informasi saat ini, nilai moral yang universal adalah sesuatu yang mendapat pengaruh dari berbagai pemikiran dan memberi ruang lebih terbuka untuk ditambah atau dikurangi.

  70. Wii, Tuan Geddoe tu kerjanya apa sih? Bisa-bisanya bikin esai panjan nan belibet begini.

    Eniwei. Saya membahas dari yang paling saya ingat dulu.

    Tuhan adalah motivasi moral terbaik

    Hmm, tidak bermaksud SARA. Tapi sebagai muslim dan tidak bermaksud murtad saya mengatakan tidak setuju. Kenapa? Mungkin Allah memang Maha Bijaksana, Maha Penyayang, Maha Adil, dan lainnya. Tapi bukankah ada Asmaul Husna yang tidak baik juga? Bukan artian saya menyinggung Tuhan. Maksudnya ada Asmaul Husna yang menunjukkan betapa hebatnya Allah dalam menghukum pendosa.

    sudahlah…pusing

  71. rasanya ada generalisasi, seolah-olah tidak ada masa dimana sebuah kitab suci (agama) berhasil menjadi sebuah pegangan dalam sebuah kehidupan bermasyarakat. dari sini rasanya premis dawkins jadi tak berarti.

Comments are closed.