Harun Yahya Strikes Back?

kreasionis vs evolusionis

Harun Yahya: “Goatees need to be trimmed to maintain their exquisiteness!”
Charles R. Darwin: “Nooo! It has to be natural! Let them grow!”

Ah, insiden ini memalukan.

Pagi ini, sewaktu saya membuka dashboard WP, ternyata ada kerusuhan yang tengah terjadi. Baginda Matt Mullenweg ketiban masalah; akses WordPress.com dari Turki diblokir. Setelah masalah diusut, ternyata dalangnya adalah Harun Yahya, alias Adnan Oktar. Berita tersebut bisa dibaca di [sini]. Kabarnya Mbah Harun ini mencak-mencak karena di WordPress.com beredar beberapa tulisan yang mengkritik dirinya. Ironisnya, tulisan-tulisan tersebut ditulis oleh gurunya sendiri, Edip Yuksel.

He? Iya, Harun Yahya yang itu. Yang video-video dakwahnya beredar selama beberapa tahun terakhir. Yang getol menghujat teori evolusi-nya Mbah Darwin. Yang konon membuat banyak orang semakin yakin dengan kebenaran ajaran Nabi Muhammad.

Atau, kalau dilihat dari sisi lain, sang maestro pseudoscience.

An outsider’s point of view

Siapa itu Harun Yahya? Harun Yahya adalah nama pena dari Adnan Oktar, penulis berbagai buku sintesis ajaran Islam dan sains populer. Sewaktu saya masih ada di sekolah menengah, nama beliau boleh dibilang sangat populer sebagai ‘nabi baru’ yang seringkali dijadikan acuan apabila pembicaraan mengenai agama mulai mencuat.

Buku-bukunya, dan video-video dakwah bikinannya pun pada waktu itu laris manis; sebab auranya boleh dibilang cukup necis dan parlente — mewah dan wahwah. Cara penyampaiannya juga begitu meyakinkan, dengan konotasi ilmiah yang fasih dan solid. Ajaran-ajarannya sendiri lebih terfokus kepada aplikasi sains serta klaim bahwa keakuratan nilai-nilai sains tertulis jelas pada Al-Qur’an — terutama sekali masalah kontroversi teori evolusi, disamping beberapa upaya peruntuhan dogma-dogma agama lain. Tipikal seorang apologetik.

Oke, memang, Harun Yahya boleh dibilang merupakan salah satu figur yang cukup berjasa dalam kajian Islam kontemporer. Namun, harus saya akui, walau di mata umum (kalangan muslim Indonesia, tepatnya) beliau adalah contoh sempurna kelanggengan perkawinan agama dengan sains (yang dengan sukses mengemukakan teori-teori yang konon semakin mengukuhkan keshahihan Al-Qur’an), saya justru melihatnya sebagai fenomena yang sangat serupa dengan kasus Roy Suryo. Saya memang seorang skeptik, namun pada kenyataannya kredibilitas Harun Yahya memang sangat questionable. Hal ini mirip dengan Baginda KRMT Roy Suryo Notodiprojo yang sebenarnya memiliki pengetahuan yang terbatas, namun sangat ahli dalam urusan tampil meyakinkan. Orang awam mungkin akan terpana, namun kalangan yang ‘mengerti’ (kaum IT pada kasus Roy Suryo, dan kaum sains pada kasus Harun Yahya) justru kebingungan bagaimana pendapat-pendapat mentah mereka bisa begitu populer.

p. s. Eits, tidak ada upaya mengklaim diri sendiri sebagai kaum yang ‘mengerti’ di sini, saya hanyalah seorang pengamat ;)

An insider’s point of view

Harun Yahya, alias Adnan Oktar, memiliki nama yang buruk di negeri kelahirannya, Turki. Ia menerima cukup banyak kritik atas hasil kerja intelektualnya, namun kritik itu tidak seberapa dibandingkan dengan kritik yang diterima beliau dari sisi non-intelektual. Id est, beliau punya beberapa ‘kasus’.

Posisi beliau di Turki sendiri adalah sebagai pemimpin cult yang boleh dibilang meresahkan orang banyak. Fakta yang kita tidak akan temukan di Indonesia, bukan? Saya sendiri baru bisa mencium gelagat ini sekitar setahun lalu, kalau tidak salah dari celotehan di VGI. Pada waktu itu saya mendengar, bahwa keharuman nama Harun Yahya itu hanyalah di negara-negara luar Turki yang belum terlalu ‘mengenal’ beliau.

  1. Sedikit berlawanan dengan klaim narsis yang bertebaran di halaman about HarunYahya.com (yang IMO dipenuhi weasel words), Harun Yahya tidak memiliki kredibilitas yang bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Ia dulunya adalah mahasiswa desain interior, itu pun tidak lulus.
  2. Tahun 1986, beliau masuk hotel prodeo. Alasannya? Menulis buku provokatif yang berbau antisemitik.
  3. Sekitar tahun 1999, ia dituntut oleh enam orang profesor akademis. Tuduhannya adalah menyebarkan berita bohong yang menjelek-jelekkan keenam profesor tersebut sebagai penganut komunisme yang separatis. Diduga motifnya adalah karena Harun Yahya tidak menyukai pandangan mereka yang pro-teori evolusi. Harun Yahya terbukti bersalah dan diwajibkan membayar denda sekitar $ 36.000,00. Ini bukan satu-satunya, sebab Harun Yahya sangat terkenal sebagai pengeksekusi blackmail dan karakter asinan.
  4. Banyak keluhan yang menyebutkan bahwa seluruh feedback yang ada di web resminya (HarunYahya.com) adalah hasil moderasi — alias komunikasi satu arah. Much like you-know-who.
  5. Daftar buku-buku yang sudah ditulisnya terlalu bombastis. Saya lupa berapa, yang jelas dia menulis TERLALU BANYAK. Sudah menjadi pandangan umum di kalangan anti-Harun Yahya kalau beliau adalah ‘perpanjangan tangan’ dari kaum anti-evolusi. Yap, ia menerbitkan buku orang lain atas dirinya. Sebab, tidak mungkin bagi seseorang yang ahli sekalipun untuk menulis sebegitu banyak.
  6. Buku terbarunya banyak menggunakan materi yang melanggar hak cipta.
  7. Sumber dana dari proyek-proyeknya sering menyulut kontroversi, sebab organisasinya adalah organisasi nonprofit — terdapat dugaan bisnis-bisnis ‘gelap’ di sini.
  8. Mei 2005, hasil wawancara The Pitch dengan profesor Umit Sayin dari akademi forensik mengungkapkan kekhawatiran orang-orang dalam; “Sekarang tidak ada lagi yang berani membantah teori Harun Yahya. Semuanya takut akan diserang oleh kaum radikal dan kelompok BAV (organisasi Harun Yahya).” Berita selengkapnya bisa dibaca di [sini]
  9. Quote tambahan dari Prof. Sayin dari link yang sama;

    “Evolution is presented [by BAV] as a conspiracy of the Jewish and American imperialists to promote new world order and fascist motives … and the majority of the people believe it.”

  10. Quote lagi. Kali ini dari Prof. Taner Edis, dosen Truman State University Amerika Serikat yang lahir di Turki.

    “They’re fairly lavishly produced, on good-quality paper with full-color illustrations all over the place,”

    “They’re trying to compete with any sort of science publication you can find in the Western world. And in a place like Turkey, Yahya books look considerably better-published than most scientific publications.”

  11. Organisasi Harun Yahya, BAV, sudah sejak lama meresahkan masyarakat. Bukan karena pemahaman religius dan sains mereka, melainkan tindakan kriminal. Blackmail (ya, terutama sekali blackmail), kepemilikan senjata api ilegal, dan aktivitas seks di bawah umur. Catatan blackmailing BAV adalah yang paling ‘mengesankan’. Hoax keanggotaan Freemasonry atas nama beberapa pejabat parlemen bahkan sempat ditayangkan di televisi, walau pada akhirnya diralat.
  12. Konon hoax-hoax porno tentang Ebru Simsek yang sempat beredar adalah akibat berani ‘macam-macam’ dengan Harun Yahya.
  13. Ia terlibat skandal seks dengan anak di bawah umur. Namun mengaku ‘tidak bersalah’ karena ‘hanya berupa fellatio dan penetrasi rektal‘, sehingga ‘halal’.

Anda tidak wajib mempercayai semua yang disebutkan di atas, tapi jangan langsung men-dismiss-nya sebagai hoax.

Oke, mari tidak terpengaruh fallacy…

Terlepas dari apakah beliau memang se-questionable itu, sebenarnya saya kira rebuttal Harun Yahya akan teori evolusi sangat mentah. Kalau menurut yang digadang-gadangkan oleh teman sejawat saya di SMA dulu, inti teorinya adalah bahwa ‘apabila manusia berasal dari kera, mengapa kera yang sekarang tidak mulai berubah menjadi manusia?‘ Jelas sekali bahwa sentimen ini salah mengambil premis. Gara-gara teori ini, pada waktu saya masih duduk di kelas 3 SMA, beberapa siswa sekolah saya menolak mempelajari teori evolusi, dan mengklaim bahwa ‘teori evolusi sudah tidak diajarkan lagi di peradaban barat‘. Walah, berita dari mana itu? Dari Hongkong?

Premis ‘teori evolusi menyatakan bahwa manusia berasal dari kera‘ adalah salah — saya menduga baik Harun Yahya maupun siswa dari sekolah saya dulu itu tidak memahami konsep ini. Teori evolusi menyatakan bahwa kera dan manusia berasal dari nenek moyang yang sama (teori common descent). Tentu saja tidak akan terdapat spesies peralihan! Setahu saya, menurut teori ini, dulu terdapat sebuah spesies, yang karena seleksi alam, sebagian berubah menjadi manusia, dan sebagian menjadi bangsa primata lainnya. Keduanya tetap terus berubah, bahkan sampai detik ini.

Goyahnya teori evolusi hanyalah propaganda para pro-kreasionisme. Sekitar 99.9% ilmuwan mengakui teori evolusi. Boleh dikatakan tidak ada ilmuwan yang secara obyektif tidak mengakui teori evolusi — kalaupun ada, hanya berbekal doktrin tanpa bukti ilmiah. Teori alternatif selain teori evolusi sudah disepakati sebagai pseudoscience. Itu sebabnya, gagasan-gagasan Harun Yahya yang (supposedly) menghebohkan itu tidak punya efek apa-apa di dunia sains. Ia tidak pernah menerima hadiah Nobel atau semacamnya, yang ada mungkin hanyalah pengakuan dari kaum-kaum agamawan (itupun saya belum pernah dengar, mungkin karena catatan kriminalnya banyak). Tulisan-tulisan pro-kreasionisme hanya konsumsi kaum religius yang menggunakannya untuk memperkuat doktrin yang dianutnya.

Setahu saya, teori-teori Harun Yahya tidak pernah ditanggapi secara serius oleh komunitas sains, sebab isinya konon hanyalah kompilasi dari bahan-bahan debat lama yang bahkan sudah dipatahkan langsung oleh Darwin sendiri 140 tahun yang lalu. Malah banyak yang heran kenapa beberapa komunitas muslim berani mengatakan bahwa ia adalah ‘pendobrak’ dan ‘peruntuh’ teori evolusi. Semuanya self-proclaimed! Wek ap! Satu-satunya kekuatan Harun Yahya adalah karismanya… Dan uangnya! Ia sangat kaya (God knows where did he attain that much wealth), sehingga mampu mempropagandakan ide-idenya. Menurut Edezu, blogger Turki, ia hanya dipuja-puji di kalangan penganut agama yang tidak terlalu melek kajian biologi, namun ditertawakan di internet.

Harun Yahya bukanlah seorang ilmuwan yang kredibel. Ia hanya seorang impostor karismatik yang kaya raya dan pandai berbicara.

Korelasi agama dan sains

Btw, menerima teori evolusi tidak berarti anda murtad atau apa. Beberapa pemahaman kontemporer pada kajian Al-Qur’an dan Alkitab (Genesis) sudah bisa ‘berdamai’ dengan teori evolusi.

Caranya? Tentunya dengan interpretasi ulang — dengan melakukan tafsir berbasis metafor dan kajian esoterik. Misalnya, yang ditulis Xaliber di [sini]. Teori seperti itu sudah banyak berkembang pada kajian liberal yang lebih mau bersandar ke bukti-bukti ilmiah.

Memang sains itu tentatif; bisa saja diamandemen — seperti bagaimana teori Einstein mengabrogasi teori Newton. Tapi, menutup mata akan fakta ilmiah yang *sedang* berlaku (apalagi didukung bukti yang kuat) adalah tidak rasional.

* * *

Kembali ke goa

Kembali ke akar masalah. Ngapain Harun Yahya minta pengadilan memblokir WordPress.com di Turki? Kalau memang katanya ada defamation blog yang bercokol melalui domain WordPress, kenapa semuanya yang diblokir? Bukankah bisa dilaporkan baik-baik, kalau memang ternyata berlebihan? Kabarnya, supaya pemblokiran dihentikan, Baginda Matt dan konco-konconya mesti menge-ban domain-domain dengan kata ‘Harun Yahya’ dan ‘Adnan Oktar’, atau kombinasi keempat kata tersebut.

Lebih jauh lagi, selama isinya bukan slander, mengapa mesti takut? Saya terus terang kecewa dengan ‘pembredelan’ ini.

Blog adalah free speech, Pak Harun!

In God We Trust. RosenQueen, company.

352 thoughts on “Harun Yahya Strikes Back?

  1. @ yud1

    well, ada hal yang menarik di sini: marketing yang (sangat) baik bisa ‘mengalahkan’ sains yang valid.

    diberikan ke orang awam, buku Harun Yahya jelas lebih menarik: berwarna, penjelasan (kelihatan) mengagumkan, tambahkan video dsb dsb… bandingkan dengan publikasi akademis.

    IMO, ada saatnya juga sains harus lebih membumi sehingga orang awam tidak ‘buta’ akan sains – dan akhirnya seperti itu. Harun Yahya benar-benar bisa memanfaatkan keadaan, rupanya :mrgreen:

    Apa ini tanda-tanda bahwa sains sudah dipolitisir? Jadi ingat propaganda ‘rasisme ilmiah’ pada awal abad ke-20… ;)

    Memang, mesti diakui bahwa Harun Yahya lebih membumi dalam pendidikan ‘sains’ beliau. Apalagi, target pasarnya jelas ke orang-orang yang cenderung bias ke doktrinasi tertentu.

    oh, well. truth is only there to those who are willing to seek it, right? ;)

    For most of the time, yes, indeed :)

    @ Mihael Ellinsworth

    Wah, kontroversinya sudah sampai sejauh ini…?

    Ged, fotonya menimbulkan subjektifitas. :?

    Dipikir-pikir, Harun Yahya di situ memang mirip drug lord, sih… :|

    Saya (agak) yakin kalau 99.9% itu tidak diambil dari keseluruhan umat manusia.

    Memang tidak, itu hanya konsensus di kalangan ilmuwan. Bukan umum.

  2. Kemaren nyoba komen di wp pusat. Weh, masalahnya bener-bener rumit.
    Sampe pusing bacanya.

    Tapi soal ngeblokir web ginian mah Harun Yahya emang udah sering, kok. Udah banyak web lokal yang kepangkas sama dia :?

    Emang Harun Yahya itu siapa? Ga ngerti sama sekali. :?
    Apa mungkin dia masih satu marga dengan Helmy Yahya??

  3. Memang, mesti diakui bahwa Harun Yahya lebih membumi dalam pendidikan ’sains’ beliau. Apalagi, target pasarnya jelas ke orang-orang yang cenderung bias ke doktrinasi tertentu.

    Sebenarnya, ini termasuk salah kita juga, IMO. Tanggung jawab bagi orang-orang yang mengerti sains adalah bagaimana menyampaikan ilmunya dengan lebih membumi pada masyarakat. Jangan sampai sains justru jadi seperti menara gading — dipandang tinggi oleh orang, tapi tak dipahami esensinya.

    Kalau sudah begitu, para impostor berkedok sains/IPTEK langsung saja bisa mendekati orang-orang yang (istilahnya) ‘awam’, lantas menyampaikan ilmu yang salah kaprah. Dengan kemasan bagus dan pendekatan yang lebih baik, diterima deh secara luas oleh masyarakat. Contohnya ya Harun Yahya dan Roy Suryo itu… :(

    -arrrghh, jengkelll :evil: -

  4. @ p4ndu_Y4m4to
    Wah, nggak tahu Harun Yahya?
    Apa popularitasnya di kalangan anak zaman sekarang udah menurun, ya? :?

    Googling, sana :mrgreen:

    @ sora9n
    Sebenarnya nggak sesimpel itu. Bagi para ilmuwan, ilmu dan pendidikan masyarakat itu nggak mesti berhubungan. Bagi mereka, yang penting masyarakat bisa mendapatkan manfaat pekerjaan mereka — nggak peduli apa mereka paham atau nggak. Kayaknya mesti diubah sedikit?

    Yep, pseudoscience memang menyebalkan ;)
    Masih mending kalau jangkauan ilmu yang disampaikan itu memang supernatural — kalau murni sains, berarti ‘kan sudah propaganda negatif.

    Btw, selain Harun Yahya dan Roy Suryo, kasus Pak David Setiabudi sekitar tiga tahun yang lalu juga serupa ;)

    ~sayaYangWaktuItuMasihBocahSempatMisuh2Juga~

  5. Bagi mereka, yang penting masyarakat bisa mendapatkan manfaat pekerjaan mereka — nggak peduli apa mereka paham atau nggak.

    Which means… membuka kemungkinan bahwa masyarakat bisa dicekoki ilmu kacangan lewat jalur media.

    Betul atau betuul? :mrgreen:

    Kayaknya mesti diubah sedikit?

    Sudah seharusnya, IMO… :?

    BTW, David Setiabudi siapa? Saya baru denger… (o_0)”\

  6. Pingback: Antara Hana dan Fadil « JalanMenujuKetenaran

  7. Maap saya kurang yakin berita tersebut 100%, walau mungkin ada benarnya.
    Karena meurut saya negara turki sendiri bukan lg negara Islam melainkan negara sekuler yg disetir Amerika sedangkan pemerintah Amerika (Pres. Bushsuk) benci sekali ama Islam

  8. menyamakan roy suryo dengan harun yahya malah bisa bikin runyam di indonesia. lha banyak yang terpesona sama harun yahya kok di sini, kalo mengambil sampel di milis muslim internal kantor. bisa-bisa ketambahan fans tuh si roy suryo.

  9. Baru googling tulisan2nya edip yuksel. Katanya, Harun Yahya bermuka dua, termasuk dalam pandangannya tentang Attaturk. Entah benar atau tidak.

    Tapi, perkara diblokir dari Turki, itu memang benar (fakta 1)
    dan pemblokiran jelas membutuhkan fungsi negara (fakta 2)
    dan ada e-mail yang menyatakan dari pengacara Harun Yahya (fakta ada e-mail dan kurasa matt pasti bisa mengeceknya sendiri).

    Btw,
    Turki tidak pernah disetir Amerika walaupun mereka sekuler dan punya pandangan ekstrim terhadap Islam. Mereka bukan AlJazair. Sekulernya mereka justru karena menentang kekangan dari barat dan karena penguasa sebelumnya (dinasti usmaniyyah yang dipuja-puja gerakan khilafah) terlalu disetir Eropa.

  10. Mari kita pakai teori konspirasi yang digemari pak Oktar :) . Siapa tahu hal ini ada kaitannya dengan kemenangan AKP pada pemilu kemarin ?
    Semoga tidak, karena saya merasa statemen AKP yang tetap mempertahankan sekularisme di Turki cukup maju bagi saya.

  11. Pingback: Harun Yahya, Roy Suryo, dan Misinformasi di Masyarakat « sora-kun.weblog()

  12. @ sora9n
    Betuuuul. Nah, ternyata indoctrination of a nation itu memang memungkinkan, ‘kan? :P

    Btw, Pak David Setiabudi itu dosen Binus yang dulu (sekitar tahun 2004, kalau ngak salah) sempat dikatakan sebagai Roy Suryo kedua; beliau menyebarkan berita bahwa beliau membuat game komputer pertama di Indonesia. Ya, sampai dimuat di majalah-majalah dan bahkan televisi.

    Termasuk memanfaatkan ketidaktahuan publik, walau besar kemungkinan waktu itu beliau terlalu ‘polos’, sehingga betul-betul mengira beliau adalah yang pertama. Mirip Roy Suryo, bukan? :mrgreen:

    @ p4ndu_Y4m4to | Mihael Ellinsworth
    Iya, nih :) Maaf kalau tadi ada profanity-nya ;)

    @ Irwan
    Lho, bukannya justru karena negara sekulerlah, informasinya boleh dikatakan lebih mantap untuk dipercaya? :? Dan ya, Turki adalah negara sekuler, hasil bentukan Kemal Attaturk tahun 1923 :D

    Btw, hubungannya kok sampai ke Amerika segala? Umat kenapa sering sekali mengkambinghitamkan Amerika Serikat atas ketololan sendiri? :|

    Pantas saja umat tidak maju-maju.

    @ ryosaeba
    He? Iya, ya, ada benernya juga, Pak :?

    Musti disamakan sama yang jelas-jelas impostor dulu :P Siapa, ya?

    @ kunderemp al-narkaulipsiy

    Baru googling tulisan2nya edip yuksel. Katanya, Harun Yahya bermuka dua, termasuk dalam pandangannya tentang Attaturk. Entah benar atau tidak.

    Betul, pandangan beliau pada Attaturk semakin melunak, dalam rangka selling-out.

    Tapi, perkara diblokir dari Turki, itu memang benar (fakta 1)
    dan pemblokiran jelas membutuhkan fungsi negara (fakta 2)
    dan ada e-mail yang menyatakan dari pengacara Harun Yahya (fakta ada e-mail dan kurasa matt pasti bisa mengeceknya sendiri).

    Sampai di situ saya kira benar. Berita yang ditulis Matt di blog WP tentunya bisa dipertanggungjawabkan.

    Btw,
    Turki tidak pernah disetir Amerika walaupun mereka sekuler dan punya pandangan ekstrim terhadap Islam. Mereka bukan AlJazair. Sekulernya mereka justru karena menentang kekangan dari barat dan karena penguasa sebelumnya (dinasti usmaniyyah yang dipuja-puja gerakan khilafah) terlalu disetir Eropa.

    Benar, ini juga hasil indoktrinasi umum. Amerika Serikat selama ini selalu menjadi alibi Islam dalam segala keterpurukan internalnya. Ada sedikit konflik, selalu menunjuk ke Amerika Serikat (dan Israel tentunya) sebagai penyulut konspirasi.

    Dan memang saya dengar dinasti usmaniyyah itu terlalu digadang-gadangkan :lol:

    @ Odi
    Komentar Bangaip di [sini] mungkin bisa menjelaskan sedikit? :?

    Ha, yang penting Turki tetap sekuler dan demokratis, bukan? ;)

  13. Hai, sepertinya kamu pandai menulis atau pandai bicara ya? kenapa ga sekalian aja bikin buku biar nyaingin HY or Darwin?:D

  14. Pingback: Slank Satu « Generasi Biru

  15. ngga ada opini yang fair ! termasuk opini saya! saya yang muslim dilahirkan cuma buat mengabdi ke Tuhan, tapi juga bukan kambing congeknya Tuhan. Karena Tuhan ngga suka kambing congek yang bisanya cuma nunut!

  16. Naaf Mas. (jawab atu’ atu’ Ya)

    1. BTW Kopral gedoe Islam Apa Bukan?

    2. Kalau ya, Adnan Oktar Bukanlah nabi, Dan bukan pula Maksum, seperti junjungan kami&kita. (sama kayak kita, manusia, kalau dia salah, Karena dia Juga Manusia)

    Kalau Ya juga, Karya apakah yang bisa Anda berikan seperti yang diberikan harun Yahya kepada masyarakat islam…?? Setidaknya semampu anda sendiri, dengan fikiran anda sendiri, bukan hanya sebuah Link, yang belum tau apa tujuan pembuat pernyataan tersebut dalam link tersebut.? mampukah anda berbuat seperti dia…??

    3. skrg dia memulai memberikan sanggahan ttg teori darwin tersebut, dan Intinya dia memiliki Tindakan dan fikiran yang Masuk di Akal manusia(Bagi yang berfikir, tentunya).
    Walaupun dia “katanya” menggunakan riset Orang lain. Tapi Kok dia Gak kena “pelanggaran HAK CIPTA”
    kalau ada alasan Karena ia Kaya, Itu malah g masuk akal, Seharusnya karena Ia kaya enak untuk mengurungnya dalam Copyright Internasional,.

    4. Maaf ini, sekadar oborlan ringan saja. Berapa umur anda, dan berapa Guru yang sudah anda temui sebagai Referensi tentang pendapat yang seperti ini..??? tentunya guru yang independen dan benar2 pakar dibidangnya. Ataukah hanya hasil renungan dan blogwalking saja…???

    Kalau Anda jawab jujur, saya kira pembaca dan sekaligus Pemberi komentar tulisan Anda Akan Objektif menilai kevalidan tulisan Anda Ini.

    Kalau WP diblog karena Ada yang sengaja menyalah gunakan namanya, itu wajar sekali.
    karena itu merupakan hak dia,

    Dan saya kira juga ADMIN WP lebih bijak dari Anda dalam menentukan kebijakan ini.

    Terima kasih, :)

  17. Saya jawab satu-satu :)

    1. Tergantung standar siapa yang anda pakai. Di KTP sih tertera demikian ;) Kalau standar saya, juga, saya sudah Islam.

    2. Silakan baca http://en.wikipedia.org/wiki/Tu_quoque :)

    Intinya, walaupun saya ini orang yang paling tidak berguna di dunia sekalipun, itu tidak akan mengubah fakta bahwa Harun Yahya bukanlah ilmuwan yang kompeten.

    Yang salah adalah salah.
    Yang benar adalah benar.

    Are we clear now?

    3. Perlu saya tekankan, menolak secara ilmiah teori Darwin adalah sia-sia. Itu saja. Soal hak cipta, yang saya maksudkan adalah properti seperti foto. Ide tentu saja tidak memiliki hak cipta.

    4. Ini cerita lama. Saya tekankan sekali lagi; apakah saya seorang dosen biologi veteran peraih nobel tiga kali, atau seorang bocah sembilan tahun yang baru sunatan, itu tidak mengubah apa-apa.

    Kalaupun anda ingin referensi, silakan buka-buka eksiklopedia, dari yang kasual seperti Wikipedia sampai yang hardcore sekelas Britannica. TIDAK AKAN ANDA TEMUI SATUPUN KARYA ILMIAH KREDIBEL YANG MENDUKUNG TEORI KREASIONISME. Sama seperti anda tidak akan menemui ilmuwan yang mengklaim bahwa bumi itu datar.

    Kalau anda ingin link, silakan;

    http://scienceblogs.com/pharyngula/2006/06/ann_coulter_no_evidence_for_ev.php
    http://www.nsta.org/159&psid=10
    http://www.interacademies.net/Object.File/Master/6/150/Evolution%20statement.pdf
    http://www.aaas.org/news/releases/2006/pdf/0219boardstatement.pdf

    Lagi, Sebuah survey di kalangan ilmuwan menyatakan lebih dari 99% dari perserta mengakui teori evolusi.

    Kalaupun saya masih terlalu dungu untuk standar anda, bagaimana dengan ratusan ribu ilmuwan di dunia?

    Mas/mbak, menentang teori evolusi itu sesulit menentang kalau bumi itu bundar. Sudah jelas. Kalau agama berkata sebaliknya, kemungkinannya cuma dua; agama itu SALAH, atau DISALAHARTIKAN.

    Kalau anda masih berkeras bahwa teori evolusi adalah salah, saya cuma bisa bilang; hadapilah kenyataan :?

    5.

    Kalau WP diblog karena Ada yang sengaja menyalah gunakan namanya, itu wajar sekali.
    karena itu merupakan hak dia,

    Berarti, menurut logika anda, seandainya di koran daerah anda ada tulisan yang menyalahgunakan nama Roy Suryo, misalnya, semua koran di Indonesia harus dibredel?

    Terima kasih juga :)

  18. Ged, maybe you should create a separate post to discuss this evolution-vs-creation matter further without Harun Yahya’s bashing/praising and WP-banning comments get in our way.

    Ngomong2 soal gambar di atas, apakah jenggot Harun Yahya itu adalah hasil intelligent trimming design, sementara jenggotnya Darwin berevolusi secara alamiah? :D

  19. Kalau WP diblog karena Ada yang sengaja menyalah gunakan namanya, itu wajar sekali.
    karena itu merupakan hak dia,

    Dan saya kira juga ADMIN WP lebih bijak dari Anda dalam menentukan kebijakan ini.

    Yahh… anda benar memang….
    WP di-blog itu memang wajar. Kemarin aku juga nge-blog tentang WP yang code-codenya dari musik jazz.
    Ah, ADMIN WP memang lebih bijak dari siapa pun. Nda protes2. Geddoe ini apalah… ADMIN WP pun bukan :mrgreen:

    *seruput kopi*

  20. Ah…Geddoe menghisap rokok…
    apakah karena Sahabat Kopral Geddoe memiliki situs yang sangat ISLAMI dan BIJAKSANA di http://www.private.com ini kah?
    :mrgreen:

    bahagianya dikau, Ged… punya sahabat dengan situs merangsang menawan begitu …

  21. yay.. jd tertarik ama seseorang yg nanya ‘berapa guru yg sudah anda temui’ gegegege.. itu pertanyaan paling cerdas yg saya temui sepagian ini.. kalo saya kok malah terbersit pertanyaan ‘brapa kehidupan yang sudah kmu lalui dan sudah memberikan pengajaran buat jiwamu?’ hoo.. bukankah saya tampak lebih sombong merasa pintar bodoh ?

  22. Anda tidak wajib mempercayai semua yang disebutkan di atas, tapi jangan langsung men-dismiss-nya sebagai hoax.

    Masalahnya, dari mana saya tahu kalau itu bisa diyakini, harus ada buktinya, jangan cuma rumor belaka.

    Soal free speech, penduduk Turkey kalau enggak salah bisa kok nuntut negara Turkey ke European Court of Human Rights mengenai hak asasi mereka mereka (http://en.wikipedia.org/wiki/Territorial_scope_of_European_Convention_on_Human_Rights). Tapi kalau yang mereka katakan mengenai Harun Yahya itu adalah sesuatu yang tanpa dasar, ya ‘perlindungan’ free speech itu tidak bisa dipergunakan.

    Kalau dia benar pernah melakukan suatu skandal seksual, kenapa enggak dibawa ke pengadilan aja? Karena IMO, kalau musuh2nya Harun Yahya menyebarkan suatu berita tanpa bukti, mereka sama buruknya dengan Harun Yahya sendiri.

  23. @ irdix
    Seingat saya sih baru sekali :lol:

    @ Nenda Fadhilah
    Makanya, selama nggak bisa dibuktikan benar atau salah, mesti tetap ditanggapi secara kritis.

    Masalah free speech di sini lebih kepada tindakan mengeblok seluruh jaringan WP di Turki. Bagaimanapun itu berlebihan; lewat skup hukum mungkin sah, tapi dalam segi moral jelas bobrok.

    Btw, *katanya*, ia sudah dibebaskan dari masalah skandal seksualnya.

  24. Makanya, protes ke pengadilan. Buktiin kalau itu melanggar free speech dari pengguna wp yang lain. Jadinya hanya pengguna blog tertentu yang diblok.

  25. Para blogger Turki dari yang saya baca akan mengajukan keberatan karena pada faktanya, artikel Edip Yuksel yang disebut mendiskreditkan pak Oktar bisa ditemui di pelbagai website, apalagi setelah kasus ini.

    Yang saya ‘bingung’ jika pak Oktar mampu membuat berpuluh-puluh website untuk melakukan rebuttal pada pemikiran Darwin yang disebutnya berbahaya untuk umat lantas kenapa dia tidak melakukan hal yang sama pada pemikiran Yuksel yang hanya ‘berbahaya’ bagi image/citra-nya ? :)

  26. Iya, mas/mbak, ini ibaratnya membredel seluruh koran di Indonesia gara-gara ada koran daerah yang *katanya* memfitnah orang tertentu.

    Hehehe, mungkin karena kalau yang salah dan yang benar dibandingkan, bakal kelihatan bedanya… Kalau mau mempropagandakan yang salah, yang benar mesti dibungkam 100% :lol:

  27. Kalau pengadilan Turki bisa dibeli pake uang, makin susah Turki masuk EU. Yaa, walaupun sekarang juga udah susah banget.

  28. @ Kopral Geddoe

    Yang penting ‘kan maen bolanya udah di UEFA :lol:

    Tapi di Winning Eleven sayah, Turki gak masuk hitungan… :|

  29. oh ya satu lagi tanpa teori evolusi klasifikasi hewan plus manusia tidak akan pernah ada… walaupun saya juga mengetahui bahwa evolusi bukan teori yang lengkap dan masih banyak celah…

  30. Ah, anda terlalu menuhankan akal, Saudara Geddoe… baru (merasa) bisa menjelaskan ‘bilogi’ (hah, ngetik biologi aja nggak becus, apalagi mengkritik Harun Yahya!) saja sudah bangga. Tuhan Agama Kitab Suci dong, bisa menjelaskan SEGALANYA! Mau membuktikan apa? Bumi itu datar? Matahari mengelilingi bumi? Semuanya sudah dibuktikan sejak jaman dahulu kala! Jadi jangan sombong ente!

  31. Pingback: Ponsel Baru dan Teknologi Yang Tidak Mengerti Anda « f e r t o b

  32. The Owner said

    …Teori evolusi itu sudah tidak bisa dibantah lagi. Pilihan bagi agama (agama manapun yang masih ingin dianggap benar) adalah menerima teori evolusi atau dicap salah sama sekali…

    yakin? bukannya derajat teori biologi itu cukup rendah? sehingga masih dibawah derajat kemutlakan teori kimia, fisika, baru kemudian matematika, so how could seorang sekaliber Kopral Geddoe “menutup pintu” atas evaluasi sebuah teori evolusi yang masih dalam tahap penggodogan hipotesis? say apikir itu terlalu arogan, baik secra filosofis maupun sains, sedang teori fisika saja masih boleh dibantah dan diperdebatkan. saya pikir “penutupan pintu” untuk diskusi dan evaluasi lebih lanjut tentang kebenaran teori evolusi terletak pada sebuah arogansi kepentingan politik sekularisme, karena “ketakutan” kaum atheis akan terbuktinya eksistensi Tuhan melalui sains. sehingga dalam ideologi sekuler HARUS dipisahkan antara sains dan agama, hal ini untuk mengakomodasi kepentinagn politik atheist, sehingga TIDAK MUNGKIN akan dibuktikan keberadaan Tuhan secara sains. sehingga keberadaan Tuahn akan selalu berupa KEIMANAN dan DOGMA bukan sebuah KENYATAAN EMPIRIS SAINS.

  33. Owner said:

    Goyahnya teori evolusi hanyalah propaganda para pro-kreasionisme. Sekitar 99.9% ilmuwan mengakui teori evolusi. Boleh dikatakan tidak ada ilmuwan yang secara obyektif tidak mengakui teori evolusi — kalaupun ada, hanya berbekal doktrin tanpa bukti ilmiah.

    What about this quotes? Apakah mereka termasik golongan ilmuwan berbekal doktrin tanpa bukti ilmiah?

    “I would rather believe in fairy tales than in such wild speculation. I have said for years that speculations about the origin of life lead to no useful purpose as even the simplest living system is far too complex to be understood in terms of the extremely primitive chemistry scientists have used in their attempts to explain the unexplainable. God cannot be explained away by such naive thoughts.”
    –Sir Ernst B. Chain, Nobel Laureate (Medicine, 1945), as quoted by Ronald W. Clark, The Life of Ernst Chain (London: Weidenfield & Nicolson, 1985), pp. 147-148.

    “Question is: Can you tell me anything you know about evolution, any one thing, any one thing that is true? I tried that question on the geology staff at the Field Museum of Natural History and the only answer I got was silence. I tried it on the members of the Evolutionary Morphology Seminar in the University of Chicago, a very prestigious body of evolutionists, and all I got there was silence for a long time and eventually one person said, ‘I do know one thing – it ought not to be taught in high school.’”
    -Dr. Colin Patterson (Senior Paleontologist, British Museum of Natural History, leading cladistic taxonomist), Keynote address at the American Museum of Natural History, New York City, November 5, 1981.

    “For example, no scientist could logically dispute the proposition that man, without having been involved in any act of divine creation, evolved from some ape-like creature in a very short space of time – speaking in geological terms – without leaving any fossil traces of the steps of the transformation. As I have already implied, students of fossil primates have not been distinguished for caution when working within the logical constraints of their subject. The record is so astonishing that it is legitimate to ask whether much science is yet to be found in this field at all.”
    -Lord Solly Zuckerman, M.D., D.Sc., Beyond the Ivory Tower (New York: Taplinger, 1970), p. 64.

    “Evolutionism is a fairy tale for grown-ups. This theory has helped nothing in the progress of science. It is useless.”
    -Professor Louis Bounoure, past president of the Biological Society of Strassbourg, Director of the Strassbourg Zoological Museum, Director of Research at the French National Center of Scientific Research. (Quoted in The Advocate, March 8, 1984.)

    “Biologists are simply naive when they talk about experiments designed to test the theory of evolution. It is not testable. They may happen to stumble across facts which would seem to conflict with its predictions. These facts will invariably be ignored and their discoverers will undoubtedly be deprived of continuing research grants.”
    -Professor Whitten (Professor of Genetics), University of Melbourne, Australia, 1980 Assembly Week address.

    “To postulate that the development and survival of the fittest is entirely a consequence of chance mutations seems to me a hypothesis based on no evidence and irreconcilable with the facts. These classical evolutionary theories are a gross over-simplification of an immensely complex and intricate mass of facts, and it amazes me that they are swallowed so uncritically and readily, and for such a long time, by so many scientists without a murmur of protest.”
    -Sir Ernst B. Chain, Nobel Laureate (Medicine, 1945).

    “Nine-tenths of the talk of evolutionists is sheer nonsense, not founded on observation and wholly unsupported by facts. This museum is full of proofs of the utter falsity of their views. In all this great museum, there is not a particle of evidence of the transmutation of species.”

    -Dr. Etheridge, senior paleontologist of the British Museum of Natural History, cited in Dr. Scott Huse, The Collapse of Evolution.

    Hmmm… who are based on fase evidence? Sekali lagi, secara sains bebas nilai pun, teori evolusi bukanlah sebuah teori yang sudah paripurna dan tidak bisa lagi diganggu-gugat.

  34. Dalam wawancara yang dimuat dalam situsnya ada pernyataan menarik dari harun yahya :
    “That is why I am a proponent of global secularism.”
    http://www.harunyahya.com/new_releases/news/070805_pressconference.php
    Pandangan yang menunjukkan kesetujuannya akan sistem sekularis dalam kaitannya akan kebebsan beragama dan menentukan pilihan ini jadi terasa sedikit janggal saat melihat aksi pak Oktar dengan meminta pemblokiran situs WordPress. Atau mungkin sekularisme ala pak Oktar berbeda dengan yang kita pahami ? :)

  35. @sahabat
    Sains justru sadar bahwa dirinya tidak bebas nilai, karena itu sains berusaha agar suatu pembuktian, bisa dikerjakan juga oleh pihak lain.
    Oya para ilmuwan yang bekerja dengan mengambil evolusi sebagai titik tolaknya adalah para ilmuwan yang sedang melakukan hal spt ini. Hmm apa yang sedang dikerjakan para ilmuwan kreasionis sekarang ya ? :)

    http://en.wikipedia.org/wiki/Evolution
    A major technological application of the power of evolution is artificial selection, which is the intentional selection of certain traits in a population of organisms. Humans have used artificial selection for thousands of years in the domestication of plants and animals.[164] More recently, such selection has become a vital part of genetic engineering, with selectable markers such as antibiotic resistance genes being used to manipulate DNA in molecular biology.

  36. saya pikir “penutupan pintu” untuk diskusi dan evaluasi lebih lanjut tentang kebenaran teori evolusi terletak pada sebuah arogansi kepentingan politik sekularisme, karena “ketakutan” kaum atheis akan terbuktinya eksistensi Tuhan melalui sains.

    Sebentar, sebentar. Haruskah Teori Evolusi bertentangan dengan keberadaan Tuhan? Tidak bisakah evolusi itu terjadi atas izin Yang Maha Kuasa?

  37. teori evolusi bukanlah sebuah teori yang sudah paripurna dan tidak bisa lagi diganggu-gugat.

    EXACTLY! Inilah mengapa teori evolusi adalah sesuatu yang ilmiah. Kalau ada bukti baru, para ilmuwan sedunia bisa beramai2 mendukung dan menyanggahnya dengan bukti mereka masing-masing. Kalau ada yang berani memalsukan bukti, cepat atau lambat pasti akan ketahuan dan kredibilitasnya hancur.

    Teori kreasionisme? “Well, this intelligent designer created life, the universe, and everything.” Apakah ada ilmuwan yang bisa mendukung atau menyanggah keberadaan “intelligent designer” dengan bukti ilmiah? Nggak ada, kreasionis cuma bisa bilang “nggak mungkin makhluk sekompleks ini tercipta hanya dari chance mutation, maka pastilah ada intelligent designer yang membuatnya.” What a fallacious argument. Silakan kalau mau percaya kreasionisme sebagai bagian dari iman agama, tapi saat ini kapasitas kreasionisme hanya mampu sampai sebatas itu.

    Lagipula, marilah kita jangan terjebak dengan dikotomi palsu (harus ini ATAU itu). Kita juga bisa menerima keduanya kok. Kalau mau kukuh mendukung kreasionisme sebagai teori ilmiah, ya tunggu saja sampai nanti ada yang bisa membuktikan keberadaan Tuhan secara ilmiah terlebih dulu. ;)

  38. yakin? bukannya derajat teori biologi itu cukup rendah? sehingga masih dibawah derajat kemutlakan teori kimia, fisika, baru kemudian matematika, so how could seorang sekaliber Kopral Geddoe “menutup pintu” atas evaluasi sebuah teori evolusi yang masih dalam tahap penggodogan hipotesis? say apikir itu terlalu arogan, baik secra filosofis maupun sains, sedang teori fisika saja masih boleh dibantah dan diperdebatkan.

    Ah, gw baru baca komentar ini. Sampai pada taraf tertentu, saya setuju dengan anda dan tidak setuju dengan Geddoe. Teori evolusi memang termasuk teori ilmiah yang masih banyak bolong2nya (karena paleontologi juga belum begitu berkembang), but it doesn’t make creationism any more credible. Saya juga gak setuju dengan “ditutupnya diskusi dan evaluasi” mengenai evolusi, karena diskusi dan evaluasi itulah yang membuat teori ini disebut teori ilmiah (lihat komentar saya sebelumnya). Justru teori kreasionisme-lah yang menutup diskusi dan evaluasi sejak awal karena mereka sudah mensyaratkan adanya “intelligent designer” atawa Tuhan sebagai ‘hasil’ dari teori mereka.

    saya pikir “penutupan pintu” untuk diskusi dan evaluasi lebih lanjut tentang kebenaran teori evolusi terletak pada sebuah arogansi kepentingan politik sekularisme, karena “ketakutan” kaum atheis akan terbuktinya eksistensi Tuhan melalui sains. sehingga dalam ideologi sekuler HARUS dipisahkan antara sains dan agama, hal ini untuk mengakomodasi kepentinagn politik atheist, sehingga TIDAK MUNGKIN akan dibuktikan keberadaan Tuhan secara sains. sehingga keberadaan Tuahn akan selalu berupa KEIMANAN dan DOGMA bukan sebuah KENYATAAN EMPIRIS SAINS.

    d00d, I think you’re the one who’s paranoid here. Yang bilang penutupan pintu diskusi dan evaluasi itu kan Geddoe yang cuma seorang mahasiswa ingusan, jangan samakan dia dengan ‘kepentingan politik sekularisme kaum ateis’ dong, nanti dia ke-gr-an.

    Soal masalah keberadaan Tuhan sebagai sebuah kenyataan empiris sains, pendapat saya ada di komentar sebelumnya. Btw, kalau anda (atau kenal dengan seseorang) yang bisa membuktikan keberadaan Tuhan secara ilmiah, silakan menghubungi James Randi. Ada satu juta dolar (dan mungkin ketenaran seumur hidup) menanti anda. ;)

  39. Walah, jadi rame :lol:

    @ Sahabat
    Ada perbedaan antara kebenaran hakiki dan kebenaran secara sains. Sains itu tentatif, mas. Tidak ada yang final dalam sains.

    Sains bersedia mengubah pendiriannya ketika bukti-bukti berhasil ditemukan. Tapi sampai saat itu, untuk menggugatnya dibutuhkan argumen yang kuat.

    Dan sekali lagi saya tekankan. Teori evolusi lebih memuji Tuhan daripada teori kreasionisme ;)

    Btw, mau adu argumentum ad verecundiam, nih? :P Btw, quote-quote anda itu dari tahun 1900-an semua, lho. Sedang survey yang 99.9% itu dari tahun 2006 ;) Mungkin beliau-beliau di atas sudah berubah haluan? <— fallacious :lol:

    Tapi, ya. Sains itu tentatif. Jangan dianggap sebagai kebenaran absolut, tapi jangan menutup mata padanya.

    @ Odi
    Well, reputasi itu lebih penting dari segalanya, bukan? :P

    Btw, perbedaan mendasar antara sains dan doktrin adalah; sains bersedia merevisi dirinya sendiri, sedangkan doktrin terlalu arogan untuk melakukan hal itu ;)

    @ Scrooge McDuck
    Itu makanya, Pak, saya jadi bingung :P
    Justru teori evolusi itu semakin meninggikan citra Tuhan; sebab lebih rumit daripada kreasionisme. Tuhan pun semakin Maha Besar :D

    @ Catshade
    Alam bawah sadar saya juga kayaknya percaya dua-duanya, tuh :P

    Wah, maaf deh kalau saya kelihatan terlalu mengkampanyekan evolusi, waktu itu terlalu panas dengan para kreasionis mungkin saya belum terlalu mahir berbicara di depan publik :P

    Ya, (sekali lagi,) sains itu tentatif. Justru teori kreasionisme yang terlalu dogmatik. Satu saja yang saya nggak mengerti;

    “Bukannya Tuhan yang menciptakan dengan evolusi lebih cerdas dengan yang menciptakan secara kreasionis?”

    Jadi yang mendukung teori kreasionisme itu merendahkan Tuhan Hanya untuk dipikirkan; evolusi dan Tuhan tidak saling bertentangan :mrgreen:

    * * *

    I AM RIGHT I AM RIGHT I AM RIGHT I AM RIGHT I AM RIIIIIIIIIIGHT!!! Therefore I am right.

    -Uncyclopedia

  40. *verifikasi lanjut*

    Btw, sejujurnya, saya sebenarnya nggak peduli kalau nenek moyang saya itu makhluk kayak apa juga. Hanya saja, karena kebenaran itu relatif, kebenaran versi saya hanyalah kebenaran yang diakui secara lebih baik saat ini…

    Seandainya semua orang sekarang menyembah FSM, mungkin teori itu akan saya bela juga :P

  41. Nah ttg reputasinya tu saya jadi berpikir, jangan-jangan sebenarnya pak Oktar sebagai pendukung sekularisme (kalau wawancaranya memang benar) mencoba bermanuver agar para pendukungnya yang islamis tidak meninggalkan dirinya. Termasuk dengan mengadukan WP, lha kok ditanggapi serius sama pengadilan Turki
    hehehe :)

  42. Btw wIKIPEDIA kOK JADI sASARAN eMPUK REFERENSI. EMANG LO-LO PADE YG KOMEN DI ATAS KAYAKNYA PERCAYA BETUL DENGAN WIKIPEDIA.

    BUKANKAH WIKIPEDIA SALAH SATU KARANGAN BEBAS….?? NAH KALO BEBAS YA, SEMBARANG ORANG YANG BISA NULIS DI WIKIPEDIA, APALAGI TENTANG SEBUAH PENDAPAT.PERSONAL PRIBADI SESEORANG, SOSOK PUBLIK YANG TERKENAL. LIKE

    HY

    PADAHAL KITE SEMUA LOM TAU, KENAPA SIH NTU ORANG NULIS TENTANG DIE….???

    1. APA KRN IRI…??
    2. DENGKI
    3. LUM CUKUP NGELMU
    4. LAWAN POLITIK DLSBG (MUSUH)
    5. MENJAJAL ILMU
    DLL, DLL, DLL ALASAN

    SAYA BISA KOK BIKIN DEFINISI TENTANG “CUPU” DI WIKIPEDIA, DAN BESAR KEMUNGKINAN TIDAK SAMA DENGAN DEFINISI CUPU BY “KOPRAL GEDOe”

    ARTINYA TERGANTUNG MINAT GW DONG, ASYIKNYA GW DONG, DAN TENTUNYA DENGAN NIAT GW YANG LOM TAU SIAPA PUN JUGA, APA BUAT NGEJEK ORG KEK, BUAT MEGHASUT ORANG KEK, DLLSBG.

    BERDASAR PENDAPAT DI ATAS, JANGAN NGASAL JADIIN REFRENSI WIKIPEDIA DOANG.

    BUKANNYA WIKIPEDIA JUGA ADA BAK PASIR DLL…??

    SORI NIH, KALO G NGARTI BAHASA CUPU, CUPU MINTA MAAF YA kOPRAL,

    btw KAPAN latihan perang lagi nih..??

    Kopral jono dah Ko Id tuh.

  43. EXACTLY! Inilah mengapa teori evolusi adalah sesuatu yang ilmiah. Kalau ada bukti baru, para ilmuwan sedunia bisa beramai2 mendukung dan menyanggahnya dengan bukti mereka masing-masing. Kalau ada yang berani memalsukan bukti, cepat atau lambat pasti akan ketahuan dan kredibilitasnya hancur.

    Ilmiah? yang bener? kalau hipotesis ilmiah saya pikir masih boleh lah, kalau TEORI ILMIAH? hmmm… nanti dulu, kalau dengan metoda para evolusionis saya boleh membuat sebuah “teori”, maka saya akan bikin teori bahwa “Turunan ke 272727272727272727 dari suatu mamalia berumur di atas dua puluh tahun adalah identik dengan pendahulu pertamanya.”

    Buktinya apa? Nanti akan ditemukan bukti2 itu sejalan dengan berkembangnya teknologi, sebagai bukti awal saya sodorkan adanya kemiripan, dan kemungkinan terjadinya rekombinasi acak gen yang memungkinkan terjadinya de ja vu secara BY CHANCE.

    Itulah problem dari sebuah “teori” evolusi dan para evolusionis, mereka yakin dulu bahwa teorinya benar, baru kemudian mencari2 dan menghubungkan data2 yang ada dengan frame berpikir bahwa teori saya pasti benar, jika hari ini saya tidak menemukan evidencenya maka kelak suatu saat entah kapan (jangan-jangan sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk jatuh ke event horison oleh pengamat yang jauh dari black hole) akan ada yang berhasil membuktikan kebenaran teori saya.

    That is lack of science mentality, ini bukan teori fisika quantum yang ada equation-nya. sebagai dasar hipotesis, sehingga bisa diprediksi hasilnya, itupun masih banyak sanggahan dan tidak ada yang bisa mengklaim yang paling bener adalah teori neutron star collision yang membuat stellar-mass black hole terjadi. sungguh aneh kemudian jika evolusionis mengklaim bahwa “teori” evolusi sudah menjadi kepastian (secara mentality mereka jelas seperti itu [misal pada kasus Piltdown MAn, dan Nebraska Man]). itu sangat tidak ilmiah.

    Oke lah cukup terangkan saja cambrian explosion secara “teori” evolusi. atau coba anda jelaskan apa definisi sejati dari “teori” evolusi? para evolusionis saja berbeda definisi, so amasihkah itu ilmiah?

    Bahwa sains terus berkembang adalah sebuha kenyataan, lalu apa tidak mungkinya teori penciptaan? dimana letak tidak ilmiahnya? tidak ada yang melihat langsung ada suatu makhluk tercipta? sama saja, apa ada yang pernah melihat proses evolusi? catatan fosil? pakar geologi paleontologi sepakat bahwa catatan fosil sama sekali tidak memberikan kontribusi positif pada “teori” evolusi. lalu bagaimana dengan kompleksitas hewan cambrium? apakah ada hewan di zaman pre cambrium yang menjadi nenek moyang mereka? masalah “teori” evolusi bukan lagi maslah kaum “theis” atau membela agam lagi, tapi ini urusan kesalahn metoda ilmiah dari
    “teori” evolusi itu sendiri. penentang “teori” evolusi malah kebanyakan bukan kreasionis.

    tapi tentu saja evolusi adalah akar dari yang menjadi back bone bagi atheist, karena jika “teori” evolusi adalah benar maka Tuhan tidak dibutuhkan lagi dalam proses eksistensi manusia. ini kasus yang sama dengan teori big bang, kaum atheist ngotot bahwa alam semesta adalah steady state tanpa awal tanpa akhir. walaupun fakta tentang big bang adalah sebuah kenyatan empiris.

    ["Ya, (sekali lagi,) sains itu tentatif. Justru teori kreasionisme yang terlalu dogmatik. Satu saja yang saya nggak mengerti;

    “Bukannya Tuhan yang menciptakan dengan evolusi lebih cerdas dengan yang menciptakan secara kreasionis?”"]

    Dogmatis? bukannya evolusionis yang dogmatis? setelah sekian tahun fakta dan data bicara kenapa masih ngotot bahwa evolusi itu satu2nya jalan menuju keberadaan manusia? terlalu banyak fakta yang impossible secara ilmiah diterangkan oleh “teori” evolusi, kalu kemudian evolusionis ngotot teorinya benar berarti merek itulah yang dogmatis, arogan, tidak ilmiah dan tidak tentatif. kenapa tidak mencoba seperti para astro-fisikawan yang ketika ditanya apa sebab dan bagaiman big bang bisa membentuk semesta mereka berhenti dari mencari2 alasan selain meletakkan pena dan berkata “Ada kekuatan intelegan yang memberikan energi dan mengatur proses itu.”
    Lalu kenapa para biologis tidak mengambi langkah yang sama melihat kompleksitas sisitem selular dan organ, serta fakta sejarah dari catatn fosil? saya pikir hanya arogansi yang menghentikan mereka dari kenyataan itu.

    Ada yang masih tidak bisa membuktikan adanya Tuhan secara sains? gak papa, agama memang buat orang yang berakal dan tidak arogan.

    kalau kemudian ingin bukti dengan melihat, menyentuh, mendengar Tuhan, tentu saja seperti keinginan Anda melihat,menyentuh, mendengar sinar Gamma, anti materi, pelengkungan ruang-waktu, partikel sub atomik. kalau cuma ingin bukti “measurement” tanyalah Dr. Hawking, Dr. Einstein, pakar2 sains yang tidak arogan akan keberadaan Tuhan.

  44. @ Sahabat

    Ilmiah? yang bener? kalau hipotesis ilmiah saya pikir masih boleh lah, kalau TEORI ILMIAH? hmmm… nanti dulu

    Masaoloh. Justru teori ilmiah itu syaratnya adalah bisa difalsifikasi. Makanya kreasionisme itu tidak dianggap ilmiah, melainkan pseudoscience, karena tidak bisa difalsifikasi. Makanya ‘fakta ilmiah’ itu juga berarti tidak kekal (lihat, di tulisan ini saya menuliskan ‘fakta ilmiah’ sebagai ‘fakta ilmiah yang sedang berlaku’) ;)

    Dan keberadaan Tuhan memang tidak akan pernah bisa terbukti secara ilmiah! namun itu BUKAN BERARTI Tuhan itu tidak ada, karena juga tidak bisa difalsifikasi. Sains hanyalah SALAH SATU metode menemukan kebenaran; oleh karena itulah ada metafisika, filosofi, dan konco-konconya. Untuk meraih yang tidak tergapai oleh sains. Paham?

    Dogmatis? bukannya evolusionis yang dogmatis? setelah sekian tahun fakta dan data bicara kenapa masih ngotot bahwa evolusi itu satu2nya jalan menuju keberadaan manusia?

    Baca [ini]

    kenapa tidak mencoba seperti para astro-fisikawan yang ketika ditanya apa sebab dan bagaiman big bang bisa membentuk semesta mereka berhenti dari mencari2 alasan selain meletakkan pena dan berkata “Ada kekuatan intelegan yang memberikan energi dan mengatur proses itu.”

    Tentu. BANYAK pendukung teori evolusi yang mendukung pemahaman seperti itu. Itu namanya evolusi theistik.

    * * *

    Satu saja pertanyaan yang saya ingin untuk dijawab; Apa hubungannya dengan Tuhan?

    Teori evolusi itu benar atau salah, TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan Tuhan. Teori evolusi TIDAK menentang Tuhan. Masa yang begini saja tidak mengerti? :(

    Teori evolusi adalah bukti kejeniusan sang pencipta!

    *gemas*

    @ Odi
    Btw mas/mbak ini bikin blog, dong :P

  45. Pak Hawking memang tidak arogan kok, dia cuma berpendapat seperti ini
    http://atheism.about.com/library/quotes/bl_q_SHawking.htm
    What I have done is to show that it is possible for the way the universe began to be determined by the laws of science. In that case, it would not be necessary to appeal to God to decide how the universe began. This doesn’t prove that there is no God, only that God is not necessary. :)
    [Stephen W. Hawking, Der Spiegel, 1989]

  46. Sorry kalau comment saya kepanjangan pak kopral, berhubung saya ini mood-moood an takutnya kalau buat blog nanti malah gak keurus.
    Salam hormat kopral. :)

  47. @ Sahabat

    Anda… kayaknya yang waktu itu nulis komentar di blog saya juga, ya… :?

    OK deh, sekalian saya jawab satu-satu buat Anda. Tapi sebelumnya saya sarankan Anda baca dulu post saya tentang evolusi beserta komentar-komentarnya — supaya Anda paham kedudukan teori tersebut sebenarnya, dan bahwa”mengakui evolusi” bukan berarti “tidak mengakui Tuhan”… :mrgreen:

    Mulai ya…

    EXACTLY! Inilah mengapa teori evolusi adalah sesuatu yang ilmiah. Kalau ada bukti baru, para ilmuwan sedunia bisa beramai2 mendukung dan menyanggahnya dengan bukti mereka masing-masing. Kalau ada yang berani memalsukan bukti, cepat atau lambat pasti akan ketahuan dan kredibilitasnya hancur.

    Iya, memang begitu. Semua penelitian ilmiah juga begitu, kalau saya rasa. ^^

    Ilmiah? yang bener? kalau hipotesis ilmiah saya pikir masih boleh lah, kalau TEORI ILMIAH? hmmm… nanti dulu,

    Pernah denger “Teori Big Bang”? “Teori Lubang Hitam”? Semuanya teori ilmiah. Kenapa disebut “teori”? Tak lain karena mereka baru bisa menjelaskan sebagian perilaku alam, tapi belum semuanya. Dan keterbatasan eksperimen membuat teori-teori tersebut mustahil dibuktikan untuk saat ini.

    kalau dengan metoda para evolusionis saya boleh membuat sebuah “teori”, maka saya akan bikin teori bahwa “Turunan ke 272727272727272727 dari suatu mamalia berumur di atas dua puluh tahun adalah identik dengan pendahulu pertamanya.”

    Silakan. Tapi apa buktinya? :)

    Teori evolusi, di sisi lain, mencoba menerangkan beberapa aspek yang buktinya sudah ditemukan oleh arkeolog. Saya tantang Anda deh — jelaskan soal homologi, spesiasi, dan taksonomi (yang sudah saya tulis di blog saya) tanpa menggunakan dalil evolusi sama sekali, sambil menjelaskan bukti2 antropologi yang sudah ada.

    Bisa? ;)

    Buktinya apa? Nanti akan ditemukan bukti2 itu sejalan dengan berkembangnya teknologi, sebagai bukti awal saya sodorkan adanya kemiripan, dan kemungkinan terjadinya rekombinasi acak gen yang memungkinkan terjadinya de ja vu secara BY CHANCE.

    Bedanya dengan teori Anda, evolusi memiliki landasan yang menjelaskannya di masa kini. Kalau landasan berupa bukti itu tak pernah ditemukan, maka teori evolusi tak akan diakui sampai sekarang. :D

    Itulah problem dari sebuah “teori” evolusi dan para evolusionis, mereka yakin dulu bahwa teorinya benar, baru kemudian mencari2 dan menghubungkan data2 yang ada dengan frame berpikir bahwa teori saya pasti benar,

    Standar penelitian ilmiah: pendapat yang tidak disertai bukti harus dibuang. Evolusi diterima karena bisa menjelaskan beberapa perilaku alam di bidang biologi…

    Sekadar info, Albert Einstein pun mengkhayal dulu kok sebelum menemukan Teori Relativitas Umum. Tapi, khayalannya diterima sebagai teori ilmiah, karena dikuatkan oleh bukti2 percobaan sejak gerhana matahari tahun 1919. ^^

    jika hari ini saya tidak menemukan evidencenya maka kelak suatu saat entah kapan (jangan-jangan sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk jatuh ke event horison oleh pengamat yang jauh dari black hole) akan ada yang berhasil membuktikan kebenaran teori saya.

    Mungkin, mungkin. Tapi, selama bukti itu belum ada, evolusi sudah bisa menjelaskan taksonomi, homologi, dan lain-lain. Selama teori Anda belum terbukti, maka teori yang sudah memiliki buktilah yang akan dipakai lebih dulu.

    Are we clear now? ;)

    That is lack of science mentality, ini bukan teori fisika quantum yang ada equation-nya. sebagai dasar hipotesis, sehingga bisa diprediksi hasilnya,

    Salah. Persamaan Teori Kuantum bukan dasar hipotesis. Justru hipotesis itu ada lebih dulu, baru dirumuskan dalam bentuk persamaan. Seteah itu, baru eksperimen membuktikan apakah teori itu benar atau tidak… bukan sebaliknya.

    (FYI, saya dapet mata kuliah fisika kuantum pas tingkat 3, lho) :P

    itupun masih banyak sanggahan dan tidak ada yang bisa mengklaim yang paling bener adalah teori neutron star collision yang membuat stellar-mass black hole terjadi.

    Tapii, di satu sisi, semua teori itu berlandaskan pada gejala alam. Sinyal radioaktif dari lubang hitam, pulsar, dkk. yang terdeteksi di teleskop radio itu adalah syarat dasar yang harus bisa dijelaskan oleh teori bintang mati manapun.

    Beda dengan Anda, teori Anda tidak menjelaskan perbedaan spesies, dan taksonomi, dan homologi… (wah, sekarang saya ngulang ngomong kata2 ini lagi). :mrgreen:

    sungguh aneh kemudian jika evolusionis mengklaim bahwa “teori” evolusi sudah menjadi kepastian (secara mentality mereka jelas seperti itu [misal pada kasus Piltdown MAn, dan Nebraska Man]). itu sangat tidak ilmiah.

    Yang bilang Teori Evolusi mutlak itu siapa? Itu cuma dijadikan konsensus, bukannya mutlak. Kalau suatu saat ditemukan bukti bahwa terjadi penciptaan seketika, OK — evolusi pasti dipinggirkan oleh teori baru tersebut. Gak masalah. Cuma, bagaimana aranya menjelaskan semua gejala2 alam yang saya sebutkan di atas tadi tanpa bantuan teori evolusi?

    Bisakah? ;)

    Oke lah cukup terangkan saja cambrian explosion secara “teori” evolusi. atau coba anda jelaskan apa definisi sejati dari “teori” evolusi? para evolusionis saja berbeda definisi, so amasihkah itu ilmiah?

    Kembali ke atas. Cukup terangkan homologi, taksonomi, dan spesiasi tanpa menggunakan prinsip evolusi. Masihkah itu ilmiah? :)

    Bahwa sains terus berkembang adalah sebuha kenyataan, lalu apa tidak mungkinya teori penciptaan? dimana letak tidak ilmiahnya?

    Penciptaan itu bukannya tidak mungkin. Bahkan, sebenarnya, teori penciptaan itu bisa saja kompatibel dengan Teori Evolusi.

    Tuhan bekerja dengan proses. Dan evolusi, di mata saya, merupakan salah satu dari usaha kita — untuk meraba-raba proses penciptaan-Nya itu dan memahaminya.

    Saya lihat Anda tahu tentang teori bintang kerdil. Harusnya Anda tahu bahwa Tuhan menjadikan bintang kerdil itu dengan proses — dari bintang normal, terus kehabisan bahan bakar, dan seterusnya.

    Kenapa Anda tak berusaha memandang evolusi sebagai salah satu usaha kita memahami proses Tuhan?

    Mungkin memang ada beberapa kelemahan, tapi evolusi juga sudah mampu menjelaskan beberapa keadaan makhluk hidup dengan tepat. Walaupun belum semuanya.

    tapi tentu saja evolusi adalah akar dari yang menjadi back bone bagi atheist, karena jika “teori” evolusi adalah benar maka Tuhan tidak dibutuhkan lagi dalam proses eksistensi manusia.

    Tidak begitu. Evolusi menjelaskan bahwa makhluk hidup berubah menyesuaikan diri dan beradaptasi. Memang ada pandangan, bahwa ini menunjukkan makhluk berasal dari materi tanpa “bantuan” Tuhan — tapi, evolusi juga bisa berlangsung sebagai akibat penciptaan.

    Mungkin saja Tuhan hanya menciptakan beberapa gelintir spesies, yang kemudian saling berevolusi sehingga mencapai bentuk yang sekarang, bukan? :)

    ini kasus yang sama dengan teori big bang, kaum atheist ngotot bahwa alam semesta adalah steady state tanpa awal tanpa akhir. walaupun fakta tentang big bang adalah sebuah kenyatan empiris.

    Anda juga harusnya tahu, bahwa masa sebelum Big-Bang itu didefinisikan sebagai “singularitas”. Tempat di mana hukum-hukum fisika tak bisa dianggap berlaku (istilahnya, sebelum waktu nol).

    Big bang bukannya menafikan penciptaan. Steady-state di awal semesta itu adalah spekulasi dari para ilmuwan, dan itu bukan kepastian bahwa memang itulah yang terjadi.

    [”Ya, (sekali lagi,) sains itu tentatif. Justru teori kreasionisme yang terlalu dogmatik. Satu saja yang saya nggak mengerti;

    “Bukannya Tuhan yang menciptakan dengan evolusi lebih cerdas dengan yang menciptakan secara kreasionis?””]

    Memang iya. Kan itu yang saya jelaskan dari tadi di atas. :roll:

    Ada yang masih tidak bisa membuktikan adanya Tuhan secara sains? gak papa, agama memang buat orang yang berakal dan tidak arogan.

    Anda kayaknya terlalu menggeneralisasikan. Coba cari para ilmuwan-agamawan kaliber dunia, semacamnya Pak Lemaitre dan Pak Abdus Salam. Sains bukannya tak bisa mencapai Tuhan; sains cuma terlalu muda, dan doktrin agama terkadang terlalu kaku dalam menerima perkembangan sains. Tapi saya pribadi sih percaya, bahwa Tuhan yang cerdas pasti bisa didekati dengan cara yang cerdas. ;)

    Are we clear now? :)

  48. @ Kopral Geddoe

    Aduh, saking panjangnya, sampai nggak tau udah dibalesin sama ente & Mas Odi di atas. Sori nih jadi panjang banget. ^^

    Kelupaan:

    The defense rests.

    :lol:

  49. Amazing !! diskusi yang mantaff!!

    sebenarnya akan lebih seru kalo ada para Abu yang ikutan join, buat lucu-lucuan hehe2x.

    *beli popcorn, gelar tiker, nongkrong di pojokan*

  50. @ Odi
    Setahu saya kaum atheis yang cerdas biasanya punya tendensi yang lebih ke arah agnostik ketimbang dogmatik, kok :P

    Nggak apa, mas/mbak, bikin aja dulu :)

    *hormat*

    @ agiekpujo
    Popcorn-nya beli sendiri, ya? :lol:

    @ sora9n
    Wuset, panjang amat 8O

    [”Ya, (sekali lagi,) sains itu tentatif. Justru teori kreasionisme yang terlalu dogmatik. Satu saja yang saya nggak mengerti;

    “Bukannya Tuhan yang menciptakan dengan evolusi lebih cerdas dengan yang menciptakan secara kreasionis?””]

    Memang iya. Kan itu yang saya jelaskan dari tadi di atas. :roll:

    Btw, ini mas/mbak Sahabat sedang nge-quote saya :lol:

    * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

    KESIMPULAN:
    1. Teori evolusi tidak menentang Tuhan.
    2. Keraguan terhadap teori evolusi BUKAN merupakan dukungan terhadap teori kreasionisme.

    Dua ini yang perlu diluruskan.

  51. @ agiekpujo

    Abu? Eh, buat bakar sate bagus tuh — sekalian nyiapin snack buat nonton. :lol:

    *gak jelas*

    @ Kopral Geddoe

    Wuset, panjang amat 8O

    Si mbak/mas Sahabat sendiri yang mulai panjang lebar… jadinya saya kebawa deh. >_>

    -btw, beliau belum komentar di blog saya lho :P -

    1. Teori evolusi tidak menentang Tuhan.
    2. Keraguan terhadap teori evolusi BUKAN merupakan dukungan terhadap teori kreasionisme.

    Betul, dua poin inilah yang sering disalahpahami, IMO. :?

    *********

    Sekalian ralat ^^ :

    Semuanya teori ilmiah. Kenapa disebut “teori”? Tak lain karena mereka baru bisa menjelaskan sebagian perilaku alam, tapi belum semuanya. Dan keterbatasan eksperimen membuat teori-teori tersebut mustahil dibuktikan untuk saat ini.

    Harusnya:

    Semuanya teori ilmiah. Kenapa disebut “teori”? Tak lain karena mereka bisa menjelaskan gejala alam yang terdeteksi, walaupun secara tidak langsung. Dan keterbatasan eksperimen membuat teori-teori tersebut mustahil dibuktikan dengan telak untuk saat ini.

    Sama ini:

    Sinyal radioaktif dari lubang hitam, pulsar, dkk.

    Harusnya

    Sinyal radiasi dari lubang hitam, pulsar, dkk.

    Sekian. The defense rest. :mrgreen:

  52. “Tidak begitu. Evolusi menjelaskan bahwa makhluk hidup berubah menyesuaikan diri dan beradaptasi. Memang ada pandangan, bahwa ini menunjukkan makhluk berasal dari materi tanpa “bantuan” Tuhan — tapi, evolusi juga bisa berlangsung sebagai akibat penciptaan.”

    “Satu saja pertanyaan yang saya ingin untuk dijawab; Apa hubungannya dengan Tuhan?

    Teori evolusi itu benar atau salah, TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan Tuhan. Teori evolusi TIDAK menentang Tuhan. Masa yang begini saja tidak mengerti? :(

    Ada dong Bang… “teori” evolusi berdasar pada 4 prinsip pokok yang harus dipenuhi

    1. mutasi random
    2. mutasi by chance
    3. perubahan bertahap
    4. seleksi alam

    syarat pertama dan kedua inilah yang membuat evolusi adalah teori atheist, kenapa? karena disana ada penafian supra natural design terhadap proses perubahan itu. kalau kemudian Kopral menganggap bahwa Tuhan menciptakan makhluk hidup secra bertahap, maka teori itu bukan teori evolusi lagi tapi “Teori Penciptaan Bertahap”, nah ini masih sedikit lebih masuk akal ketimbang teori evolusi, karena dua syarat awal tadi bertentangan dengan hukum temodinamika, dimana sebuah proses yang terjadi secar arandom dan spontan hanya akan menambah nilai entropi, artinya derajat KETIDAKTERATURANNYA meningkat [sora9n pasti tau teori ini], sehingga mustahil akan menciptakan sebuah organ, mekanisme, enzym, atau apapun itu yang lebih advance.

    unsur ketiga kebertahpan sangat sulit dibuktikan, catatan fosil sudah menolak unsur kebertahapan ini dengan tiadanya makhluk antara (jangan kemudian “pemfosilan adalah tidak mudah terjadi, sehingga secara by chance makhluk2 antar itu tidak pernah terfosil.” ini naif).

    unsur ke empat saya sepakat, bahwa ada jutaan spesies makhluk yang sudah punah karena adanya seleksi “alam” ini.

    “Teori evolusi, di sisi lain, mencoba menerangkan beberapa aspek yang buktinya sudah ditemukan oleh arkeolog. Saya tantang Anda deh — jelaskan soal homologi, spesiasi, dan taksonomi (yang sudah saya tulis di blog saya) tanpa menggunakan dalil evolusi sama sekali, sambil menjelaskan bukti2 antropologi yang sudah ada.

    Bisa? ;)

    Buktinya apa? Nanti akan ditemukan bukti2 itu sejalan dengan berkembangnya teknologi, sebagai bukti awal saya sodorkan adanya kemiripan, dan kemungkinan terjadinya rekombinasi acak gen yang memungkinkan terjadinya de ja vu secara BY CHANCE.

    Bedanya dengan teori Anda, evolusi memiliki landasan yang menjelaskannya di masa kini. Kalau landasan berupa bukti itu tak pernah ditemukan, maka teori evolusi tak akan diakui sampai sekarang. :D

    Itulah problem dari sebuah “teori” evolusi dan para evolusionis, mereka yakin dulu bahwa teorinya benar, baru kemudian mencari2 dan menghubungkan data2 yang ada dengan frame berpikir bahwa teori saya pasti benar,

    Standar penelitian ilmiah: pendapat yang tidak disertai bukti harus dibuang. Evolusi diterima karena bisa menjelaskan beberapa perilaku alam di bidang biologi…”

    Nah inilah mengapa “teori” evolusi sudah sering dibilang “sampah” oleh para paleontolog dan mikrobiolog, karena evolusi tidak bisa menerangkan fenomena biologi secara benar, coba terangkan bagimana corak warna bulu merak, kemampuan mimikri bunglon, dengan teori evolusi, by chance? random? ini memuaskan?
    makanya saya mengajukan teori ngawur di atas sebagai pembanding, karena teori saya bisa dijawab cukup dengan dua jawaban khas evolusionis yaitu it is done by random mutation and by chance. why not? bukankah secara genetika sifat orang tua juga diturunkan pada anak meski kadang tidak muncul sebagai sifat yang tampak, dan baru muncul pada turunan selanjutnya?

    Itulah ketidak ilmiahan teori evolusi, ketika mereka selalu bersandar pada random mutation, dan by chance.

    ini kan sama saja dengan dogma, dan bahkan lebih tidak masuk akal ketimbang bilang: Oh, itu kuasa Tuhan. ketika Anda mengerjakn ujian mekanikan kuantum dan lupa rumusnya maka apakah Anda akan menjawab dengan sebuah angka dan menjelaskan, oh itu terjadi secara acak dan kebetulan dapat nilai segitu?

    kalau kemudian mereka berkata is directed mutation and by purpose, maka langkah selanjutnya tinggal mencari bukti makhluk antara yang setengah jadi itu.

    Tentu saja, saya tidak perlu mengusik para evolusionis jika tidak ada problem ilmiah di sana. Peace!

  53. 1. mutasi random
    2. mutasi by chance

    Justru bukankah “keacakan” dan “kesempatan” itu atas izin Tuhan? Kita melempar dadu, angka mana yang akan keluar juga bukankah atas izin Yang Maha Kuasa? Rukun Iman keenam juga meliputi hal ini.

    Nah inilah mengapa “teori” evolusi sudah sering dibilang “sampah” oleh para paleontolog dan mikrobiolog, karena evolusi tidak bisa menerangkan fenomena biologi secara benar, coba terangkan bagimana corak warna bulu merak, kemampuan mimikri bunglon, dengan teori evolusi, by chance? random? ini memuaskan?

    Tidak, memang tidak memuaskan. Namun seperti yang sudah dijabarkan berulang kali, hanya teori inilah yang saat ini bisa dipakai untuk menjelaskan, dan bisa sewaktu-waktu dibuang jika memang ada teori lain yang lebih memuaskan. Adakah? Tidak? Then the theory stands.

    ini kan sama saja dengan dogma, dan bahkan lebih tidak masuk akal ketimbang bilang: Oh, itu kuasa Tuhan.

    Di sinilah mungkin persepsi kita berbeda. Mungkin Anda percaya bahwa hanya mengatakan; “oh, itu kuasa Tuhan” saja sudah membuat kita harus menerima.

    Yang saya yakini: dengan kuasanya Tuhan mencipatakan sistem di alam semesta ini. Ia tidak serta-merta mendoktrin segala benda harus jatuh ke bawah, melainkan menciptakan sistem yang bernama “gravitasi”.

    Karena itu saya yakin awal mula kehidupan tidaklah sesimpel mengucapkan “kun faya kun” dan muncul makhluk hidup seperti di sinetron Jinny Oh Jinny. Saya yakin Tuhan lebih hebat dari itu; dia pasti menciptakan sebuah sistem rumit yang mengizinkan itu semua terjadi. Sistem macam apa itu? Saya tidak tahu. Teori Evolusi hanyalah sebuah upaya dari akal manusia yang terbatas untuk menjelaskan.

  54. Hmm.. John Pieper berbicara ttg kenaikan entropi dari sudut pandang yang berbeda. sebenarnya pada intinya sebuah proses yang tidak melibatkan unsur eksternal akan mengakibatkan peningkatan entropi itu saja. karena di sini yang bicara adalah asumsi kondisi bukan hukum termonya sendiri. sehingga dengan dalil yang sama bisa berarti self improvement mechanizm itu bisa terjadi atau tidak bisa terjadi. sayang dengan naif Mr. Piepper mengakhiri proceeding-nya dengan analogi yang buruk…

    Btw, debat seperti ini akan tanpa akkhir, karena ilmu biologi tidak ada pegangan yang amat solid, tidak seperti matematika. kalau pakai matematika setiap kesalahan formula pasti akan terlihat jelas. gak papa la hcuma sekedar tukar argumen, kebenarn mutlak bukan punya saya.

  55. @ Sahabat
    Memang begitu caranya mencari kebenaran secara ilmiah, mas/mbak, teori yang dianggap ‘benar’ adalah yang paling memuaskan pada saat itu. Memang begitu. Makanya aneh kalau anda bilang kesalahan para ilmuwan adalah ‘menganggap teori evolusi itu benar dulu’ :( Namanya juga ilmu yang tentatif :(

    Dan, paleontologi tidaklah sempurna, sumber daya-nya tidaklah tersedia secara lengkap. Kalau menjadikan paleontologi sebagai alibi, apa tidak jatuh ke argument from ignorance?

    Mengkritik teori evolusi boleh-boleh saja, tapi sebelum ada teori yang lebih bagus, teori evolusi akan tetap dipakai. Darwin dissenters, misalnya, mengkritik teori evolusi dengan pedas, tapi tidak mendukung kreasionisme. Kasarnya, teori evolusi masih dianggap janggal, tapi teori kreasionisme adalah dongeng. Jadi apa yang benar? Tidak tahu. Makanya dicari :?

    karena disana ada penafian supra natural design terhadap proses perubahan itu.

    Hoo. Sekarang contohnya begini. Zaman dahulu, hujan itu dikatakan langsung disemburkan Tuhan dari surganya. Sekarang ternyata diketahui bahwa hujan adalah hasil proses alam. Apakah berarti teori siklus air menafikan intervensi Tuhan?

    @ Odi | Scrooge McDuck
    Yap. Bagi saya Tuhan adalah arsitek. Bukan tukang sulap :P

    @ agiekpujo
    *ikut makan popcorn*

  56. ehaem.. bagi saya Tuhan itu Tuhan bukan arsitek dan bukan tukang sulap. :P

    Sebenarnya apakah Tuhan menjadi bukan Tuhan akibat teori evolusi ini ya?

  57. Maaf, ada yang ketangkap spam– all caps , sih :P
    @ cupu ilmu
    Informasi yang ditarik dari Wikipedia tentu hanya yang hampir bisa dipastikan kredibel saja. tentunya men-dismiss semuanya adalah paranoid, tidak dewasa, dan ad hominem. Lagipula, referensi keluar WIkipedia terlihat lebih mendominasi.

    @ danalingga
    Huahahahahaha :lol: Kiasan, mas :lol:

    Btw, kalau menurut saya, sih, karena teori evolusi, semakin tertuhankan :lol:

  58. Ya tentu saja Mas McDuck, kalau cara pandang Anda seperti itu apapun akan jadi bisa dibawa pada “Kuasa Ilahi”. say audah lama debat masalah seperti ini, memang hasilnya akan tetap sama, yang satu bilang evolusi itu teori benar yang belum sempurna, yang satu bilang evolusi itu hipotesis yang sudah terbukti salah, ini tergantung semangat apa yang mendasarinya. makanya saya kasih analogi teori ngawur saya, jikalau kemudian ada orang yang fanatik dnegan teoringawur saya dan kebetulan dia Doktor Ilmu Biologi,maka akan ada pembelaan tanpa ujung atas teori itu. dan alasan “memang teori say masih bolong-bolong, tapi teori saya adalah benar. Bahwa perkataan by chance dianggap sebagai penjelasan ilmiah, kenapa tidak bilang seklaian bagaimana bumi tercipta BY CHANCE,bagaimana bayi bisa tercipta BY CHANCE, kenapa tidak sekalian bagaimana internet tercipta BY CHANCE.

    Kalu kemudian Anda menarik kata-kata by chance itu sebagai wujud keberadaan Tuhan,maka demikianlah, Anda adalah kreasionis, namun istiah by chance adalah penafian kuasa Ilahi, karena by chance yang dimaksud para evolusionis adalah by chance yang betul2 just happened, without any direction, any control, and it is just luckily done. and it is happened.

    sebagian evolusionis sudah menyerah dengan syarat ke tiga yaitu perubahan bertahap, sehingga muncul teori punctuated equilibrium. ya sama saja, sebenarnya ini adlah sebuah teori kreasi, sayang terlalu berat untuk bilang itu kuasa Tuhan.

    Satu prinsip sains yang sudah dilanggar evolusionis yaitu skeptisme, bahwa

    “something unknown isn’t exist until proved exist”

  59. Piye toh iki? Ngomongnya semua orang berakal dan ilmiah? Tapi kok masih suka wishful thinking sih? Wah, saya sendiri juga heran?

    Orang hukum yang tidak eksak aja pake asas praduga tak bersalah kok. Argument from ignorance? Hmm, untuk memisahkan mana yang bisa ilmiah dan mana yang tidak ilmiah, sikap seperti itulah yang harus dikembangkan.

    Sebenarnya bukan argumentum ad ignorantiam sih. Karena kebalikannya tetap salah. Bilang kalo evolusi benar itu salah, Bilang kalo evolusi salah tetap gak boleh. Harusnya orang bilang kita tidak tahu apakah evolusi itu ada atau tidak.

    Tapi, coba kita lihat pernyataan-pernyataan di bawah ini:
    1. Kita tidak tahu apakah jin itu ada atau tidak.
    2. Kita tidak tahu apakah alien itu ada atau tidak.
    3. Kita tidak tahu apakah unicorn itu ada atau tidak.
    4. Kita tidak tahu apakah dimensi ke sembilan itu ada atau tidak.
    5. Kita tidak tahu apakah dewa matahari itu ada atau tidak.
    6. Kita tidak tahu apakah Roro Jonggrang itu ada atau tidak.

    Kalo kita terlalu kebanyakan berpikir hal-hal yang tidak bisa dibuktikan, jadilah kita orang yang tukang berkhayal, terus kemudian, tidak bisa dibuktikan bukan berarti tidak ada bukan? Dengan demikian, otak kita akan penuh memikirkan hal-hal yang kita tidak tahu kebenarannya.

    Karena itu dunia sains memilihnya sebagai jalan dan keyakinan. Karena itulah muncul aliran skeptis. Karena kita tidak bisa memastikan apa-apa yang kita tidak tahu. Sedangkan memikirkannya dan membahasnya tidak akan memberikan manfaat apa-apa. Anggap aja tidak ada kalo kita memang tidak tahu.

    Wishful thinking juga termasuk logical fallacy lho.

  60. @ Sahabat
    Jadi, kita bonsaikan permasalahannya deh. Sekarang anda keberatannya masalah by chance-nya? Lalu apa hubungan by chance itu dengan eksistensi Tuhan? Kalau saya melempar dadu dan kemudian yang keluar adalah double six, apa itu berarti dadu itu tidak ada yang melempar?

    Kelihatannya yang berbeda adalah persepsi kita tentang Tuhan. Mas mungkin menganggap Tuhan sebagai kreator mutlak kehidupan (segalanya didesain secara langsung tanpa proses), sedangkan bagi saya Tuhan adalah first cause ;) Oleh sebab itu, saya sebenarnya tidak masalah apakah manusia itu diciptakan langsung, dari kera, dari tepung terigu, atau hasil eksperimen alien milyaran tahun yang lalu.

    Sialnya, kalau sudah begini, agak susah dicarikan titik temunya. Bakal belepotan ke metafisika dan filosofi ketuhanan… :?

    @ cK
    Kolesterol, mbak :mrgreen:

    @ fauzan.sa
    Wah, saya sendiri sudah memilih cara pandang agnostik dan skeptis itu sebagai prinsip hidup. Mas juga? :)

    Memang, ada hal-hal yang memang kesannya dipaksakan untuk dibawa ke dalam jalur ilmiah. Keberadaan Tuhan dan alien, misalnya, rasanya memang tidak mungkin diketahui secara ilmiah. Oleh sebab itu dikategorikan ke dalam kepercayaan, bukan sains. Ini bukan berarti salah, lho :P

    Dan ya, wishful thinking adalah fallacy. Termasuk adanya Tuhan, adalah wishful thinking. Walau ini juga belum tentu salah (ada argumentum ad logicam, ‘kan?) :)

  61. Kalu kemudian Anda menarik kata-kata by chance itu sebagai wujud keberadaan Tuhan,maka demikianlah, Anda adalah kreasionis, namun istiah by chance adalah penafian kuasa Ilahi, karena by chance yang dimaksud para evolusionis adalah by chance yang betul2 just happened, without any direction, any control, and it is just luckily done. and it is happened.

    Sebentar, rasanya kok Anda terlalu menggeneralisir? Saya yakin tidak semua pendukung teori evolusi berpikir demikian. Dan saya juga tidak suka Anda melabel saya sebagai kreasionis. Apakah hanya ada dua label itu?

  62. Hmmm…

    Tuhan adalah Tukang Jam, sudah pernah denger kayak gini,

    Tuhan tidak mungkin dibuktikan secara ilmiah, juga sudah pernah dengar,

    beruntunglah saya… ketemu beberpa orang yang mungkin tidak akan saya temui kembali di kehidupan kedua.

    Ini sudah masalah ushul alias pokok filosofi ketuhanan, so gud bay diskusi, saatnya bobo dan tutup buku.

    commentator teriak:
    “jangan main FM07 di Ubuntu! Gak akan BISA!”

  63. Wah, kalo dibahas masalah Tuhan entar malah OOT lagi.

    Saya pengen menanggapi sedikit soal evolusi takdir, dan by chance. Mengapa orang yang bilang kebetulan atau by chance dikatakan tidak percaya Tuhan? Karena jika Tuhan Maha Kuasa dan Maha Menghendaki Sesuatu, tidak ada di dunia ini yang namanya kebetulan. Semuanya telah direncanakan (entah dengan proses yang seperti apa) sebagaimana mestinya dan berjalan sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan.

    Karena itu, perkataan by chance secara esensi jelas-jelas menolak adanya Tuhan. Itu sederhananya. Kalo percaya Tuhan, maka anda tidak akan percaya chance. Kalo anda percaya chance, maka tidak akan percaya Tuhan.

    Itu kalo anda memang menganggap bahwa Tuhan itu omnipoten. Tapi, kalo anda menganggap Tuhan itu adalah Bruce yang suka main-main dengan ciptaannya, yah, bolehlah anda bilang kalo Tuhan itu bermain dadu.

    Saya lebih percaya Einstein yang berkata, “Tuhan tidak bermain dadu”

  64. Justru bukankah “keacakan” dan “kesempatan” itu atas izin Tuhan? Kita melempar dadu, angka mana yang akan keluar juga bukankah atas izin Yang Maha Kuasa? Rukun Iman keenam juga meliputi hal ini.

    Eh? Aku suka penjelasan ini… huehueue :P
    Ya, benar. Yang kita sebut “acak” dan “kesempatan” itu merupakan definisi lain dari “takdir”. Apa-apa yang kita belum tahu sebab-akibatnya, kalo boleh dikatakan demikian.

    Err… kayaknya permasalahan sahabat lebih pada dikotomi antara kata “evolusi” dan “kreasionis”, ya?
    Pilihan demikian mirip sekali dengan “Pilih: anda bersama saya atau bersama mereka!”. Secara pribadi, saya tidak akan memilih yang manapun antara dua hal tersebut secara total. Mestinya ada alternatif, kan?

    *kenapa saya jadi ingat sodoran pilihan pembuat perang di TimTeng paska 9/11, ya? :roll: *

  65. Wah kalu Tuhan cuma wishful thinking, mending jadi atheis, sayang ternyata Tuhan terbukti ada. mau tidak mau saya harus percaya Tuhan…

    bafi saya setiap logical fallacy harus ditolak. argumentum ad logicam? cuma buat yang males mikir.

  66. Karena itu, perkataan by chance secara esensi jelas-jelas menolak adanya Tuhan. Itu sederhananya. Kalo percaya Tuhan, maka anda tidak akan percaya chance. Kalo anda percaya chance, maka tidak akan percaya Tuhan.

    Masalah linguistik… Argh, saya lemah dalam hal ini.

    Saya sejujurnya lebih condong ke romantisme “chance is destiny, destiny is divine intervention“. Tuhan tidak bermain dadu, Manusia yang bermain dadu. Tuhan memoderasi bagaimana dadu akan bergulir. Dst, dsb…

  67. lack of consistency:

    “Fallacy pada hakikatnya adalah kesalahan penarikan argumen.”

    “Memang, ada hal-hal yang memang kesannya dipaksakan untuk dibawa ke dalam jalur ilmiah. Keberadaan Tuhan dan alien, misalnya, rasanya memang tidak mungkin diketahui secara ilmiah. Oleh sebab itu dikategorikan ke dalam kepercayaan,”

    so evolutian aint science it is dogma.

Comments are closed.