
Ada dua hal yang sekonyong-konyong terwahyukan ke dalam pikiran saya sewaktu sedang berkonsetrasi berbengong ria dua hari yang lalu.
Pertama, bahwasanya blogosfer yang nggak sempurna ini ternyata juga dihuni oleh penduduk-penduduk yang nggak sempurna. Buktinya banyak kesemprulan dan kesompretan yang masih dapat dijumpai dalam debat-debat dan diskusi-diskusi yang ada. Saking semprul dan sompretnya, kita (ya, kita, berarti termasuk juga saya) terkadang hanya melakukan monolog bersama-sama (ini istilahnya Mas Fadli); yang mana lebih kurang bermakna melolong seenak jidat tanpa mempedulikan apa yang dikatakan oleh lawan bicara.
Sebab ya, mungkin saja sejak awal motivasi debat, diskusi, monolog massal, atau apalah namanya itu, bukan diniatkan untuk mencari pemecahan. Yang dilakukan adalah membela diri dan ego masing-masing. Kepingin menang diskusi, bukan niat mencari jawaban. Yah, pastinya nggak semuanya seperti itu, tapi banyak begitu itu, ya rasanya cukup banyak, atau paling nggak, vokal.
Kenapa bisa begituuu? Kenapa diskusinya bisa cacat dan sumbing? Tentunya the root of all evil-nya adalah fallacy. Alias, argumen yang cacat.
Oke. Itu kontemplasi pertama. Yang kedua berbunyi lain lagi; Sewaktu mengobrol dengan Berry, yang kelihatannya nggak terlalu hobi bersekolah, saya bisa menyimpulan; dengan kapasitas sebagai mantan siswa sekolah menengah, bahwa kebanyakan ilmu yang saya telan selama sekitar lima tahun di institusi pendidikan antara surga dan neraka itu, tiadalah *terlalu* berguna.
Anatomi jangkrik, isi perutnya sapi dan kebo, massa dan percepatan balok yang didorong dari atas bukit, warna larutan-larutan asing yang dicampur baur dengan kejam di bawah labu eksperimen, sekarang nggak ada manfaatnya buat saya. Begitu pula sejarah nasional Indonesia; kerajaan Kutai, Tarumanegara, Ratu Sima, Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, prasasti Kebon Kopi, candi Mendut, silsilah raja Singasari, isi perjanjian Renville, saya semua sudah ingat-ingat lupa. Wah, jangan salah, saya nggak menyesal mempelajari semuanya, kok. Tapi… Terdapat sebuah tapi, saudara-saudara…
Tapi.
Tapi.
Tapi, bagaimana kalau ajaran tentang teori fallacy itu dimasukkan ke kurikulum?
Iya, itulah hasil leburan dua wangsit yang saya dapat. Bahwa ada baiknya juga metode penarikan logika argumen dicemplungkan ke dalam kurikulum.
Kompensasinya, yaa, mungkin mengurangi ilmu yang nggak terlalu diperlukan. Ini tentunya ya relatif. Buat para nerd pecinta labu-labu kaca dan kepompong di jurusan ilmu alam, mungkin porsi ilmu geografinya bisa dikurangi sedikit. Buat para pelahap ilmu politik yang alergi geometri di jurusan ilmu sosial, mungkin mereka akan senang kalau jam matematikanya dikurangi sedikit.
Manfaatnya? Supaya kebahlulan bangsa berkurang. Supaya etika diskusi bangsa sedikit bergeser dari zaman jahiliyah. Mungkin kalau ilmu sakti ini diterapkan sejak dulu, saya nggak bakal sebahlul sekarang. Entah, ya, kalau sekarang sudah diimplementasikan, tapi di zaman saya dulu sih belum ada. Dan itu rasanya baru tahun 2006.
Kalau ilmu tersebut dipatrikan di dalam batok kepala generasi muda sejak dini, di masa depan kita bisa menemukan generasi yang bervisi luas;
- Generasi yang bakal berdiskusi tanpa ad hominem
Karena mereka paham bahwa kebenaran bisa diambil dari mulut asu sekalipun. Nggak ada gunanya menyerang orangnya. - Generasi yang bakal berdiskusi tanpa generalisasi seenak jidat
Karena mereka paham bahwa manusia itu nggak bisa dikotak-kotakkan segitu gampangnya. - Generasi yang bakal berdiskusi tanpa menyorot norak keburukan pihak lain
Karena mereka paham bahwa obyektivitas adalah hasil adukan kental argumen yang rasional. - Generasi yang bakal berdiskusi tanpa seenaknya menyederhanakan masalah
Karena mereka paham bahwamenolak poligami bukan berarti menyetujui perselingkuhanhidup bukanlah flowchart Boso Jowo. - Generasi yang bakal berdiskusi tanpa menerawang dan mengkhayal
Karena mereka paham bahwa kebenaran bisa saja pahit. - Generasi yang bakal berdiskusi tanpa melabel kelompok tertentu
Karena mereka paham bahwa asosiasi antar ideologi adalah sesuatu yang kompleks. - Generasi yang bakal berdiskusi tanpa rasa takut jadi minoritas
Karena mereka paham bahwa status quo adalah iblis. - Generasi yang bakal berdiskusi tanpa bias subyektivitas
Karena mereka paham bahwa diskusi mesti selalu obyektif. - Generasi yang bakal berdiskusi tanpa keinginan untuk menjatuhkan pihak lain
Karena mereka paham bahwa yang dicari adalah kebenaran, bukan kemenangan. - Dan seterusnya.
*Kalau ingin belajar lebih jauh silakan intip FallacyFiles.org atau tulisannya mas Fertob di sini*
Demikianlah, sembari memperingati proklamasi kemerdekaan, mari kita berdoa berusaha sepenuhnya untuk mengurangi level kebahlulan nasional.
Merdeka.
Bandar Soenway, hari 17 boelan 8 tahoen 2007
Atas nama majelis soergawi
Kopral Geddoe

Btw, ujung-ujungnya kok bisa-bisa aja nyambung ke HUT RI, ya?
*baruSadarKetikaSampaiDiAkhirTulisan*
Hmm, kayaknya memang penting sih. Cuma masalahnya, sekolah itu nggak mengarahkan lulusannya untuk jadi aktivis debat. Makanya fallacy dan sebangsanya nggak masuk materi diskusi pas Bahasa Indonesia SMP/SMA…
Whoops, stop there. IMO, yang paling penting dari 5 tahun itu bukan pengetahuannya… melainkan pembentukan cara berpikir.
Coba aja bandingin orangtua lulusan SD sama orangtua yang pernah menginjak bangku SMA/kuliah. Beda banget lho.
BTW, yang disebutin banyakan biologi/IPSnya, tuh. Operasi matriks di CS kan dasarnya diajarin di SMA.
Apa iya kalo diajari itu semua bakal ada generasi baik-baik™? Agak pesimis sih…
Karena pada akhirnya itu juga lingkungan dan hati sendiri yang memandu. Aku ndak pernah diajari hal-hal begitu, bahkan tahunya belakangan… tapi tanpa itu juga mampu bersikap bijak™
*halahh… narsis*
Yah…namanya juga usaha, Geddoe ya?
Btw… ini masuk kategori penyerdehanaan masalah ndak ya?
Ku…kurang ajar kau brader!!!!
Haruhi is mine!!! *devil’s grin*
Chewbacca Defence harus masuk dong…
Itu kan cara yang sgt efektif lho…
Kalau buat saya yang sebenarnya calon guru. sebaiknya disekolah juga diajarkan bagaimana caranya berantem sama guru dan dibolehkan gondrong.
Berantem disini berantem argumen. jadi enggak jadi pengecut dan tukang angguk waktu di lempar ke neraka berikutnya bernama kuliah. dan kayanya saran kamu sangat mendukung adanya adu argumen yang sehat.
Boleh gondrong itu mengajarkan siswa menjadi dirnya sendiri. toh walaupun dibiarkan gondrong. belum tentu semua murid memilih untuk gondrong.
Merdeka (entah merdeka dari apa? Gondrong saja ga boleh)
@ sora9n
Benar. Materinya sendiri kalah penting oleh prosesnya. Minimal setelah penjurusan lah… Yang ilmu alam, jatah ilmu sosialnya ditarik dan digantikan ilmu argumen logis, dan vice versa.
Makanya kata terlalu-nya ditekankan
@ alex
Yang pasti efeknya, walaupun kecil, bakal adalah, mas… Mendingan, begitu
@ Lee
Heh, heh. Hush, hush
@ dnial
Kalau itu… Jangan deh ^^’
@ Neo Forty-Nine
Wah. Itu mesti revolusi budaya juga mas. Susah, sih. Stereotip masyarakat ‘kan agak susah diubah
Itu semacam harapan untuk 17 Agustus, Ged ?
… I demand politically correctness!
bagaimana dengan contoh fakultas hukum ?? misalnya
bukankah ia-nya tidak hanya melahirkan insan-insan taat hukum, tetapi juga melahirkan tukang-tukang mengakali hukum ??
isi artikel secara keseluruhan sih saya setuju, cuma ada yang sedikit mengganjal.
kok ndak ngajak ngajak ke surga sih? Apalagi langsung jadi pejabat tuh.
Setujuuuu, kita (terutama saya) memang perlu belajar berpikir yang ‘benar’ dulu sebelum belajar yang lain-lain. Baru tercerahkan nih setelah baca link falacy-falacy itu, tadinya saya pikir ada hubungannya sama felatio, ternyata…
@ Mihael Ellinsworth
Lebih kurang… Sebenarnya asal mencocokkan tulisan di draft dengan tema tujuh belasan, sih
@ Scrooge McDuck
Jovial-jocular-joke, seignior.
@ watonist
Yaaaa, namanya juga usaha
@ danalingga
Psst. Mesti rahasia
@ Guh
Fellatio, cunnilingus, dan saudara-saudarinya? Wah, tadinya saya mau ngepost link kayak gitu, tapi gara-gara teringat TOS, jadinya batal
dirgahayu republik indonesia, semoga bangsa ini benar2 merdeka..
Amiin
teory falacy ??
Ya???
Teori Fallacy jadi kurikulum SMU? Bisa dipertimbangkan mungkin walaupun kalau dilihat lagi `diskusi` hanya menjadi bagian kecil dalam proses belajar mengajar di SMU.
Ah, anyway, ini masukan yang baik, kalaupun enggak memungkinkan jadi kurikulum di SMU, paling gak orang-orang yang ingin dan suka berdiskusi, harus tahu hal-hal kaya gini.
(komiknya itu… ckckck, ini salah satu representasi brain and beauty yang engkau cari `kan, Nak?)
Maksudnya, ya, kalau kita sempat mempelajari isi perut sapi, kenapa nggak belajar teori argumen? Toh kebanyakan manusia yang ada di dunia lebih sering berargumen daripada mengoprek perut sapi
(Iya, salah satu representasinya
)
Dalam kurikulum eropa, tahun-tahun pertama memang isinya kuliah logika (fallacy salah satu topiknya) + plus filsafat ilmu menjadi matakuliah standard. Mau menerapkan di Indonesia? Jarang dosen yang menguasai kedua ilmu ini.
Iya, sayangnya mengubah tatanan yang sudah terstruktur memang sulit… Perlu waktu yang lama…
teori fallacy, moralitas, etika dan universalitas jadi mata pelajaran wajib kayaknya bagus, klo nggak at least anak ku harus paham dan mahfum teori2 diatas
OBJECTION!!!
Rasanya nggak efektif kalo cuma mengajarkan teori argumen; orang-orang bervisi pragmatis hanya akan melupakannya setelah lulus sama seperti kita sekarang sudah melupakan bagaimana caranya membelek perut kodok (poor froggy…) yang benar. Percuma mereka jago teori fallacy tapi masih malu atau takut mengungkapkan (dan mempertanggungjawabkan) pendapatnya.
Saya sepaham sama bung 049: sebelum siswa diajari teori fallacy, gurunya harus terlebih dahulu diajari untuk (1) mendengarkan pendapat dari anak didiknya (yg secara kasat mata terlihat lebih muda, naif, kurang pengalaman, dll) meski pendapat itu negatif (kritik, protes, dsb); jangan sampe gurunya yg malah ad hominem (“ah, kamu anak kecil tau apa?!”), dan (2) mendorong anak didiknya u/ berani berpendapat dan mempertanggungjawabkannya meski pendapat itu ‘berbeda’, u/ mengikuti akal sehat dan hati nuraninya serta gak taklid buta pada jawaban otoritas dan tekanan sosial.
*gebrak meja, tunjuk2 hidung Geddoe*
So, your Honor, it is beyond reasonable doubt that Geddoe is misguided in accusing my client. I rest my case.
*penonton tepok tangan, confetti berhamburan*
@ joyo
Mulai dari diri sendiri dan orang terdekat, mas?
@ Catshade
Eits! Itu perfect solution fallacy!
Nah, iya, ini dia yang payah, mesti dekonstruksi besar-besaran dulu. Dan itu susah sekali, betul. Lingkaran setan orientasi siswa saja sudah bertahun-tahun nggak putus-putus. Padahal itu sudah kasus ekstrim yang mestinya lebih mudah disupervisi.
But, look at this. This is Haruhi Suzumiya. Haruhi Suzumiya is an anime character. An anime character! See? It does not make sense! But, you have to ask yourself. It has nothing to do with this case. See? I’m a 18-year-old tsunderecon and she’s an anime character! THAT DOES NOT MAKE SENSE! So, if Haruhi Suzumiya is anime character, you must APPROVE that renewed curriculum! The defense rests.
…Karena itu, sebenarnya kalau saya bisa langsung bekerja tanpa sertifikat lulus SMA dan segala tetek bengeknya, sebenarnya saya tidak perlu sekolah.
——————
Sudah buat tebusan untuk Presiden via Internet ?
Hmmm…. Fallacy nggak sama dengan Salafy, kan ???
- yang mana lebih kurang bermakna melolong seenak jidat tanpa mempedulikan apa yang dikatakan oleh lawan bicara.
- Sebab ya, mungkin saja sejak awal motivasi debat, diskusi, monolog massal, atau apalah namanya itu, bukan diniatkan untuk mencari pemecahan. Yang dilakukan adalah membela diri dan ego masing-masing. Kepingin menang diskusi, bukan niat mencari jawaban.
<— itu kayaknya gara2 sikap mental & pola pikir yg negatif melulu yak… Kata mereka siy… sikap mental & pola pikir yg negatif berakar dr pendidikan & latar belakang yg “kurang bagus”. Trus pendidikan & latar belakang yg negatif berakar dr “kemiskinan”… [eh... pake tanda kutip loh !] hihihi…
Aku mah oke2 aja teori fallacy masuk ke dlm kurikulum pendidikan menengah… [katanya demi mengurangi level kebahlulan...]… tapi… tapi… tapi… asalkan pengajarnya juga harus SDH LULUS lebih dulu dlm teori fallacy-nya… Karna yg ada sekarang… antara siswa & guru sama2 bahlul ! Jadi yg perlu belajar teori Fallacy adalah Guru & Murid ! Huehehehe…
Btw… Dirgahayu Kemerdekaan RI Ke 62… Smoga Rakyat & Pemimpin Indonesia makin GAK TAMBAH BAHLUL ! MERDEKA !
Salam Kenal…
Peace, Love `N Harmony !
@ Mihael Ellinsworth
Sebenarnya nggak juga. Sekolah itu penting untuk pembentukan pemikiran kritis. Sama saja dengan ide bahwa ‘apabila anak kecil punya banyak uang dan banyak pengasuh, maka ia tidak butuh orang tua’. Kenyataanya anak yang seperti itu pun tidak akan tumbuh dengan sempurna. Kayaknya ada efek psikologi yang berpengaruh di sini.
@ mbelgedez
Well, argumen salafy (yang penuh damai sekalipun) penuh dengan fallacy.@ 9uBr4K5
Iya, tentunya guru juga mesti dididik… Pelan-pelan…
Great example of the Chewbacca Defence!
Nice.. nice…
Now, Your honor,
This man, this pathetic man, Geddoe, trying to persuade you to approve this curriculum.
For what?
So he can brag that he can change the world, with his pathetic ideas?
Come on!
So if you, your honor, have some common sense, than you can drop this case, and help the entire humanity by sending this lunatic to mental rehabilitaion centre.
the state rest for now.
But your honor, Haruhi Suzumiya is an anime character. THAT’S COMMON SENSE! NO further evidence is needed. And, 2 and 2 make 4! YES! 2 and 2 make 4! And Steve Irwin is dead! Imagine that! Steve Irwin is dead, 2 and 2 make 4, and Haruhi Suzumiya is an anime character! Surely that means that logical fallacies must be taught at middle schools!
And, your honor, also remember that one second is the duration of 9,192,631,770 periods of the radiation corresponding to the transition between the two hyperfine levels of the ground state of the caesium 133 atom at a temperature of 0 Kelvin. YES! What can we conclude afterwards? That logical fallacies must be taught at middle schools! THAT IS COMMON SENSE!
The defense rests.
*ngakak*
kalo gitu sekalian revisi soal adu pintar nasional. toh kalopun ujian di skolah kita
dilatihterpaksa dan dibiasakan mengalahkan ‘kawan’ lainnya..jd apa punya musuh itu masih perlu? hehe..
*ya..yaa.. dan ada yg masih berfikir musuh terbesar adalah dirinya sendiri*
jd baru setiap hari utk belajar. met bengong..
*sambil jd juri pawai sepeda hias*
Wah, kok jadi filosofis begini?
*Btw, pawai sepeda hias…?*
huhu.. kesambet makhluk halus di pinggir sungai brantas..
hehe.. iya sepeda hias yg dikasi rumbai2 kertas warna dan dikendarai sama anak2 skolah yg lucu2 dan lugu.
ha.. mereka belum kenal dgn apa yg disebut ad hominem, fallacy atau generalisasi..
yaa.. kita yg membuat banyak konsep2 untuk masa depan mereka, harus membuat mereka jd guinea pig. eh.. aq kok jd off topic..
*whaa.. hidangan buat panitianya ada lontong sayur lho.. no offense*
Graa! Lontong… Sayur…!?
@ Kopral Geddoe
Apparently, your honor, “lontong sayur” will be served for the official worker! Look, it’s just common sense! We need to work hard for the children’s future, it’s also common sense! Lontong sayur is delicious, and bicycle-race is always held on independence days. Suzumiya Haruhi is talking about fallacy, then it’s nonsense! Talking about teaching fallacy in school is nonsense!
The defense rests.
-lama-lama gue jadi bego dah nih
-
Okay, stop.
The first one using another Chewbacca Defense goes to hell.
hampir sama kasusnya ketika saya dan teman berdebat masalah pelarangan senjata api di USA setalah kasus penembakan oleh Cho di Virginia…
Saya setuju, tapi yang pertama diajarkan bukanlah fallacy tapi “Taat Berlogika”. Logika dan epistemologi itu yang seharusnya diajarkan di sekolah menengah. Di universitas sendiri, logika belum tentu jadi mata kuliah wajib. Baru di dalam logika itu dimasukkan pelajaran tentang fallacy.
bahlul apaan sih ?
Yah, kalau tahap-tahapannya memang saya nggak ahli sih
Pokoknya ya biar jadi itu, ‘taat berlogika’
Btw, bahlul itu… Apa, ya?
Pingback: Godbless Facism ??? « Sebuah Perjalanan
*ngakak ngeliat komen komen di atas*
Ma sih ga tau sama sekali tentang teori teori ituh,,
Tapi mungkin bagus juga diajarin di sekolah, kalo bisa ngambil waktunya pelajaran olah raga sama fisika ya,,
*ditimpuk pencinta fisika dan olah raga*
Bisa mengabrogasi pelajaran yang relatif nggak penting
…Misalnya geografi pada kajian siswa ilmu alam
Hoo… untungnya di tempat saya sudah agak berkembang. Setidaknya guru Sosiologi sedikit mengajarkan untuk menghindari beberapa jenis argumen-argumen yang disebutkan diatas, meski ini ngga masuk kurikulum.
Kata beberapa orang, justru seharusnya Geografi itu masuk materi Ilmu Alam.
Karena materinya sekarang lebih terkait ke flora/fauna, relief tanah, gunung, danau, dan semacamnya.
…berkaitan dengan itu, sekarang Ilmu Alam juga dapat pelajaran Sejarah dan Mulok. Setidaknya di tempat saya.
Luar biasa!
Itu juga yang saya protes di sekolah menengah. Untungnya nggak dimarahi
Yah, saya kurang paham membagi-bagi kurikulum, sih, tapi saya percaya, dari sekian banyak pelajaran (yang sangat banyak) itu pasti ada yang kalah penting dengan teori fallacy
@ Kopral Geddoe
Ah, kalau menurut saya, sebetulnya materi tentang fallacy ini bisa dimasukkan ke kurikulum bahasa Indonesia. Pas saya kelas 3 dulu ada materi diskusi panel, harusnya bisa masuk di situ… (itu kurikulum 2004 yang sebelum KBK sih)
Bahasa Indonesia, ya…? Bisa juga. Walau ‘lubang’nya terbesarnya bagi saya justru di mata pelajaran Sejarah. Soalnya, sejak kelas 4 SD sampai tamat SMA, materinya itu-itu saja, diulang-ulang. Kutai, Tarumanegara, Punden Berundak-undak, Waruga, Dolmen, Zaman Majapahit, Kerajaan-kerajaan Islam, lalu Persiapan kemerdekaan, akhirnya Perang Dunia
logika jadi matkul wajib kok.
filsafat ilmu dan logika.
Fallacy juga diajarin. Untung dosennya bermutu dan paham betul soal logika, jadi kami2 bisa berharap supaya ga jd generasi yg ga mampu diskusi.
Ha… Bagus
Mari diperkukuh dengan diajarkan di sekolah menengah… Bukan hanya di perguruan tinggi
Eh, tapi itu udah bagus, sih
Pingback: Tunduk dan Patuh karena Status « Chaos_Region.html
wah ide bagus
coba saja saya mendukung
walaupun nggak, kan juga sebenarnya bisa otodidak kalau orangnya sadar diri
masalahnya itulah Mas gak sadar diri jadi ad hominem aja dijadiin dalil pamungkas
Masalahnya kalau fallacy itu ditujukan ke diri kita, mas. Walau kita kebal fallacy, bukan berarti lawan bicara kita juga mampu berdiskusi secara benar, ‘kan? Bisa jadi sebal juga
Hmmm…sekarang gw ngebales Haruhi aja deh
Objection!
Hoo, you get the joke
You, sir, are very wise
hm…bagus itu…sangat bagus..saya pengen banget ada kayak gini…
bakal enak banget kalo SMA ada kayak ginian…pasti saya pikirannya gak sedangkal sekarang…
Dan itu bakal menggantikan banyak pelajaran yang membosankan di SMA, ya? Solusi sempurna!
*jadi ingat masa-masa SMA*
*ditembak*
Hehehe..sebenarnya sih cuma terpengaruh tulisan diatas…tapi kalo bener2 bisa jadi yang kayak tulisan diatas…
mantaph dah…
Ayo dukung
*sok politis*
*dibunuh*
gak koq mas…pasti banyak yang setuju… (muridnya kayaknya yang banyak..)
jadi ingat quote kayak gini..
“Insanity is doing the same thing, but expect the different result..”
wakaka…
Tentu — murid ‘kan selalu ingin mencoba sesuatu yang baru *halah*
Nah makanya perlu ada perombakan kurikulu. Tapi,………..manfaat dan tidaknya pelajaran sangat subjektif. Tentunya berbeda2 bagi tiap anak. untuk si A mungkin sama sakali ga berguna, tapi bagi si B sangatlah berguna. Terus bagaimana dong??? Dan emangnya kita tahu saat kita belajar sesuatu bahwa hal kita pelajari akan berguna atau tidak suatu saat nanti.
Memang subyektif, dan gagasan ini juga subyektif menurut pendapat saya saja
Soalnya, menurut saya, pengembangan cara berpikir ilmiah lebih penting dari ilmu itu sendiri
Butuhkah? Kemampuan debat? Butuh juga… Tapi kalau yang saya tangkap dari poin-poin di atas memangnya teori ini bisa membuat pikiran menjadi “lebih jernih”?
Kalau iya boleh lah… saya tertarik. Bagus juga sepertinya. Jadi tidak usah terlalu banyak berkutat dengan hitung-hitungan trigonometri, limit, pajak, dsb…
*anak pemalas yang ikut-ikutan sekolah*
baidewei, kalau di sekolah menengah diajarkan filsafat bagaimana?
Banyak hal yang lain penting dipertimbangkan juga;
1. Buat apa diskusi tersebut, Cari kebenaran, OK, kebenaran dalam bentuk apa, sains, agama, politik, atau strategi.
2. Anggota diskusi, tentunya Limited Edition, gak bisa digenralisasi, Semua sama, semua OK, liat juga latarnya dong. sambungan ke NO 3.
3. Level anggota diskusi perlu diperhatikan juga, jangan sampai ASBUN (DC), tingkat akademis, pekerja, anak-anak, cendikiawan, philsuf, dll (jangan digabung)
4. Lagi pula tingkat pemahaman perlu dirangsang, makanya ada ilmu sejarah seperti tulisan di atas. Karena sesuatu itu perlu proses, makanya ada cerita candi2an, prasasti2an, dll.
5. Cara diskusi, sudah ada kok di pelajari di Sekolah. Nah banyak faktor lagi kenapa ini gak jalan. (cari sendiri kenapa)
6. Terus terang, kedewasaaan dan pengalaman mencover semuanya. Mudah-mudahan
@ Lemon S. Sile
Pasti. Wong hari ini saja saya sudha melihat banyak perbincangan yang sebenarnya nggak perlu terjadi kalau mereka paham dasar-dasar fallacy
Btw, bahaya kalau filsafat diajarkan di sekolah menengah. Dijamin bakal banyak paham komunis berkeliaran
Komunis ‘kan *katanya* bahaya laten
@ belumngantuk



1. Untuk menyelesaikan masalah. Kebenaran jangan dicari, nggak bakal nemu
2. Tepat. Pendidikan teori fallacy akan mengurangi segala faulty generalization
3. Lha, ini sudah tidak ada relevansinya lagi dengan topik
4. Ini saya setuju.
5. Karena teori fallacy tidak diajarkan?
6. Dan pendidikan teori fallacy akan mematangkan dua faktor itu secara lebih cepat.
Saya nggak melihat ada perbedaan dalam pandangan kita, kok, dalam masalah ini. Atau saya salah mengerti?
Kebenaran apa dulu…?? Objeknya gitu Loh
Kebenaran masalah, ex:Rumus Fisika, Matematika, Kayaknya bisa tuh…!!! atau guru saya yang salah nyuruh diskusi nurunin persamaan Kuadrat.(kan diskusi juga)
Kebenaran tak akan ketemu: bila diantara anggota diskusi di latari PRINSIP dasar yang berbeda, misal tentang Agama.
G bakal ketemu kebenaran menurt Kristen dan Yahudi, karena lnadasan PRINSIP mereka yang berbeda.
Lha, ini jelas diskusi non-eksakta. Kalau yang ilmiah, tentunya yang ada adalah adu formulasi ilmiah
Btw, diskusi yang saya maksud bukan untuk mencari kebenaran, melainkan pemecahan masalah. Mencari win-win solution
Pingback: Pelajaran Sejarah dan Degenerasi Pola Pikir « Deathlock
Pingback: Mengapa Ad Hominem ? « f e r t o b
Pingback: Belajar Menghindari Kekeliruan « Pacaran Islami
satu lagi, generasi yang berdiskusi dengan saling menghargai serta arif dan bijak (kapan munculnya ya?!)
Saat ini, saya merasa terpanggil kesini dan sepenuhnya sangat setuju bahwa teori fallacy sebaiknya diajarkan di sekolah menengah!
Terutama soal ad hominem (ini yang paling parah), misleading vividness, dan hasty generalization.
Hidup emang boolean, kan? Gak idup ya mati, masak hidup segan mati tak mau? He he he……Tapi mungkin perlu juga. Pokoknya setuju
Pingback: Mecucu dan Melotot | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!
Pingback: Tentang Cara Berbahasa Kita di Dunia Internet (Surat Kepada yang Mengaku Muslim & Muslimah) « Esensi
Pingback: Rahasia Selalu Menang Berargumentasi | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!
Sampean gemetaran toch... hayooo smedi dulu, biyar freshh lagih
maap, kopral…
mainan piaraan saya lepas rantainya. jadi nyasar sampe sini
Mahaf boss…
Lho khok @Raden Prabu Anin Bas Korong… ada disinih, apa sudah jinak gituh ?!
suka-suka saya donk ah. lagian kami juga rutin saling mengunjungi kok.
hayo haniifa, ayo balik ke kandang! jangan nakal di sini. nanti ndak saya kasih pedigree lagi lho
@Joesatch yang legendaris
Tapi sayah nggak suka sama sampean… Hua.ha.ha….. S1 idiot
saya malah khawatir kalo sampeyan ternyata suka sama saya 8) seidiot-idiotnya saya, kok saya tetap lebih pinter dari anda ya? kalo begitu apa sebutan yang layak buat anda?
Bweulll, sampean lebih pinter idiyotnyah… Hua.ha.ha…..
kontradiktif
Pingback: PELAJARAN SEJARAH dan DEGENERASI POLA PIKIR « Avenger's Blog