Rencana Sejuta Tahun ke Depan

yuki-usa Konon, dalam hidup dan kehidupan, dibutuhkan perencanaan. Mesti jelas, setahun ke depan, lima tahun ke depan, dan seterusnya, apa yang hendak diperbuat. Setahu saya, dari milyuner berwujud tub of lard yang mata duitan, ibu rumah tangga, sampai ustadz-ustadz yang gemar berlatih vokal di mimbar masjid sembari meninabobokan para jemaat, semuanya setuju dengan sentimen ini.

Apakah itu? Quick recap; perencanaan ke depan mesti ada.

Nah, setelah merenung sedikit, saya putuskan untuk menuliskan rencana saya sejuta tahun ke depan :P Mungkin agak ngawur, tapi mungkin nggak ada salahnya anda renungi.

Mau jadi apa saya sejuta tahun yang akan datang? Mari kita ukur dari berbagai kemungkinan yang bisa terjadi :) Saya asumsikan saja bahwa sejuta tahun lagi saya sudah mati. Walau, ya, nggak tertutup kemungkinan bahwa sejuta tahun lagi, saya ternyata masih bergentayangan dalam wujud manusia di muka bumi ini. Barangkali saya menemukan ajian untuk hidup abadi, atau terjadi revolusi biologis yang menyebabkan saya bisa menjadi cyborg, atau kebetulan memang sistem metabolisme saya yang sakti mandraguna. Tapi, for the sake of simplicity, asumsikan saja saya sudah mati.

  • Kalau saya masuk surga.
    Ah, happy ending? Mungkin. Memasuki tempat yang menyimpan kenikmatan infinit, siapa yang nggak mau? Anda juga berencana untuk masuk surga, ‘kan? :mrgreen:Pre-requisites: Berhasil melobi dan menjilat pada Sang Maha Kuasa.Kelebihan: Bisa berbuat seenak udhel, makan makanan enak tanpa khawatir kolesterol, mengunjungi sungai-sungai susu dan anggur, minum cocktail beralkohol tanpa cemas dilumuri dosa, bercinta beramai-ramai dengan bidadari, dan masih banyak lagi. Dan itu semua tanpa batas– saya akan hidup seperti itu selama-lamanya :D Intinya, segala keinginan duniawi manusia di sana akan tercapai.

    Kekurangan: Ahem, selain masalah kepekaan, saya sendiri mungkin nggak akan terlalu betah berada di surga melulu. Logikanya, saya juga nggak betah tinggal di hotel berbintang lima terus-terusan. Bosan. Lha, surga itu konon ‘kan statis. Nggak ada kesengsaraannya. Sedangkan bagi saya kesengsaraan itu mungkin diperlukan sebagai unsur penting dari kebahagiaan. Tapi nggak tahu juga, ya.

  • Kalau saya masuk neraka, tapi sementara saja.
    Ah, ini kalau rupanya Tuhan berniat untuk menggoreng saya untuk sementara waktu saja. Purgatorio. Mungkin seratus tahun, seribu, atau 70,000 tahun. Semoga nggak lama-lama. Tapi setelah itu, beliau akan memasukkan saya ke surga :PPre-requisites: Tidak terlalu berhasil melobi dan menjilat pada Sang Maha Kuasa, walau belum bisa dibilang gagal.Kelebihan: Akan masuk surga. Apalagi, status saya berarti ‘kan lulusan neraka. Kesannya lebih jantan dibandingkan penghuni surga yang lain ;)

    Kekurangan: Kekurangannya jelas, saya mesti dipanggang terlebih dahulu. Dipanggang, dicucuk telinganya, disetrika, dan seterusnya. Sakit, pastinya. Mungkin akan saya tahan saja. Atau, saya akan melihat perkembangan dulu di neraka; bagaimana caranya para sesama ahli neraka di sekitar menahan penderitaan. Atau, mungkin saya bisa berlatih sejak masih ada di dunia untuk meningkatkan tingkat toleransi tubuh terhadap panas.

  • Kalau saya masuk neraka, selama-lamanya.
    Nah, ini yang namanya siyal. Tidak terlepas kemungkinan kalau saya akan menyumpahi Tuhan di dalam sana. Ya namanya juga kalap? Dan efeknya pun sama saja, toh tidak bakal keluar-keluar.Pre-requisites: Gagal melobi dan menjilat pada Sang Maha Kuasa.Kelebihan: Banyak teman. Hanya sedikit orang hebat yang masuk surga. Makhluk-makhluk yang jenius semacam Newton, Galileo, Voltaire, dan Paine, yang revolusioner seperti Gandhi dan Attaturk, yang selebritis layaknya Cobain, Cornell, dan Reznor, sampai yang bohai a la Rena Tanaka, Yua Aida, dan Sora Aoi, semuanya kemungkinan besar ada di neraka :mrgreen:

    Kekurangan: Yang ini tentunya fakta bahwa anda bakal digoreng di neraka dan disiksa selama-lamanya. Walau sebenarnya anda tidak perlu khawatir juga– penderitaan itu relatif. Kemampuan sensorik dan sensibilitas manusia akan selalu mencoba mencapai equilibrium. Setelah seratus, seribu, atau sejuta tahun disiksa, lama-kelamaan kita akan terbiasa. Mungkin kita akan mampu mengobrol sembari disiksa? Atau, mungkin, nggak akan merasakan apa-apa lagi. Pandangan pun akan menjadi kosong. Jadi boneka yang kehilangan kemampuan untuk merasakan apapun. Mirip-mirip budak-budak seks yang kerap dijumpai di serial-serial hentai, hanya menerima perlakuan yang ditimpakan dengan pandangan melompong :P

  • Kalau tidak terjadi apa-apa.
    Wah, Tuhan ternyata nggak ada, atau beliau ada, tapi nggak membikin sistem afterlife. Jadinya, mati ya mati saja, habis perkara.Pre-requisites: Tuhan tidak ada, pernah ada tapi sudah lenyap, atau tidak membikin sistem afterlife.Kelebihan: Nggak masuk neraka.

    Kekurangan: Nggak masuk surga.

    Yah, pastinya, kita nggak bakal ada untuk menyesali kondisi di atas. Nggak perlu khawatir.

  • Kalau saya hidup kembali.
    Konsep ini agak luas. Mungkin reinkarnasi, mungkin melanjutkan hidup di dunia lain dengan wujud yang berbeda. Mungkin jadi hantu.Pre-requisites: Tuhan ada dan membikin sistem seperti ini, atau Tuhan tidak ada (baik pernah eksis ataupun tidak), dan sistem alamnya ternyata seperti ini.Kelebihan: Hidup lagi. Petualangan lagi. Rage and love lagi.

    Kekurangan: Hmm… Memang kita akan merasakan kesulitan seperti hidup di dunia lagi, tapi kayaknya itu bukan masalah besar.

    Ah, saya ingin lahir kembali di tengah-tengah dunia fantasi medieval, atau dunia sci-fi :P

Hmm… Ada yang saya lewatkan?

Yang pasti, sekarang sudah agak aman; saya sudah menghitung kemungkinan yang ada, dan sudah menyiapkan antisipasi kemungkinan terburuk ;) Anda bagaimana?

Wassalam… :P

In God We Trust. RosenQueen, company.

80 thoughts on “Rencana Sejuta Tahun ke Depan

  1. Sejuta taun lagi ya??
    Ma sih yang 20 taun lagi aja blom kepikiran,, mau mikirin yang sejuta taun lagi,,

    Pilihan pertama sih mau banget!!
    yang terakhir seru juga tuh,, :D

  2. saya inginnya yang pertama tapi kok ada rasa gk pantes
    saya gak terlalu suka yang terakhir
    kalau ada sih yang saya pilih yang keempat

  3. @ dnial
    Ya, mungkin dengan memuja-pujinya sampai nggak makan, nggak kerja, anak nggak sekolah, dan seterusnya :P Mungkin, lho.

    @ secondprince
    Itu namanya shift+delete, ya? :D

  4. hehe…. kalau yg ke 5 bobroklah moral kita…. walau banyak orang akan ber hurahura…hehe….

    pilih nomer…nomer…nomer berapa ya?? pilih nomer 10 aja deh… hehe (lha wong pilihannya cuma 5…)

  5. Ya, mungkin dengan memuja-pujinya sampai nggak makan, nggak kerja, anak nggak sekolah, dan seterusnya

    yang ngenes itu kalo ngirain itu cara ngejilat yang tepat dan bela belain begitu, eh ternyata ampe ke sono,, salah,,
    ngenes sejati deh,,

  6. Eeh, tunggu sebentar… yang bilang kita dipastikan masuk surga/neraka dalam satu juta tahun lagi itu siapa? Bisa aja masih 1.000.001 tahun lagi kan? :P

  7. @ sora9n

    Eeh, tunggu sebentar… yang bilang kita dipastikan masuk surga/neraka dalam satu juta tahun lagi itu siapa? Bisa aja masih 1.000.001 tahun lagi kan? :P

    For the sake of simplicity, selain alasan estetik :P

    BTW, saya rada setuju dengan kesan ‘jantan’ di pilihan no. 2. ;)

    Jelas, kapan sih saya pernah salah? :|

    *dibunuh*

    Heh, ada ego laki-laki yang berkata demikian :P

  8. Perencanaan untuk kondisi ideal yang mana ya? Pilihan yang pertama terlihat lebih baik, tapi ada yang kurangnya sih ya. :mrgreen:

    Apalagi, status saya berarti ‘kan lulusan neraka. Kesannya lebih jantan dibandingkan penghuni surga yang lain ;)

    kesan itu bisa relatif kan ya… :lol:
    Jangan-jangan di sejuta tahun itu nanti, pas dunia udah gak ada gitu, definisi-definisi ala dunia jadi beda, mungkin? :roll:

    Yang kedua kayanya lebih `membumi` dan lumayan `merakyat`? :mrgreen:

  9. Nomor empat mengingatkan akan eksterminasi roh oleh Quincy-nya Bleach. :|
    Mengerikan juga, jejaknya tak akan pernah tersisa.

    Saya sih maunya nomor 1, jelas, tapi akan lebih baik kalau yang nomor 5. :mrgreen:
    …meskipun mungkin saya akan dapat yang nomor 2.

  10. Bah…ini cuma tulisan bagi YANG PERCAYA TUHAN. SURGA dan NERAKA, serta REINKARNASI. kalau ga percaya….ngapain nulis gini….jadi….kamu asih percaya semuanya ya Nak? :D

    Oke, saya hargai kepercayaan kamu…
    kalau saya????? Misteri maaan…….itu urusan saya dengan JURAGAN saya……

  11. @ jejakpena
    Entahlah, mungkin tendensi middle ground? Ngaku mau masuk surga instan terlalu bombastis dan sok, masuk neraka selamanya, mungkin banyak yang memikirkannya saja sudah ngeri, juga dua pilihan terakhir lebih berbau freethought :P

    @ mrlekig
    Iya. Prinsip saya, mas, itu perfection is imperfection :D

    @ Xaliber
    Ah, ya. Soul Society adalah konsep yang sangat menarik. Reinkarnasi ad infinitum. Akan menyenangkan kalau jadinya memang seperti itu… Amin! :P

    @ Neo Forty-Nine
    Nggak, kok. Untuk pemahaman atheistik, ada opsi keempat… ;)

  12. hmm, rencana sara 10 taun ke depan, mungkin sudah punya keluarga, tinggal di rumah yang berbeda dengan sekarang, bersama anak-anak yang lucu, menanam bunga di sela-sela waktu kosong, bbq bersama keluarga, berkunjung ke rumah2 keluarga lainnya……….
    lho? kok jadi keinginan masa depan ya??? :lol:

  13. @ peyek
    Lha, ini bukan buat milih, pak. Ini cuma analisis supaya saya bisa menerima setiap kemungkinan yang ada. Semuanya bisa terjadi, dan saya tidak bisa memilih :)

    Kalau kata mas Eric Sasono sih, saya berusaha ‘menembak sandera’ :P

    @ saRe’
    Dengan siapa? Syaoran kah? :mrgreen:

  14. Pingback: Kitab Yang Dianggap Suci « Sebuah Perjalanan

  15. masih ada opsi lain: Kalau gak mati-mati? Misalnya karena ada senyawa radioaktif yang bikin orang gak bisa mati.

    opsi lain lagi: mati tapi tidak ke surga atau neraka alias gentayangan.

    rencana?

  16. Saya milih yang terakhir. Meskipun yang pertama juga tidak terlalu buruk.

    Kalau saya masuk neraka, tapi sementara saja.

    Maka Anda bisa menempa diri disana.

    Kalau saya hidup kembali.

    Maka furyoku Anda akan meningkat drastis dan kekuatan Anda akan meningkat setelah menjalani latihan di neraka. Selain itu Anda berhasil menerapkan ilmu Ahli Yin-Yang Agung, Hao Asakura.

    Versi Shaman King, nih. ;)

  17. konon, ged, di surga nanti tidak ada permintaan yg tidak dikabulkan. jadi kalo saya masuk surga besok, bakal ta’mohonkan kpd yg punya surga spy kamu dan teman2 hebat kita yg lain spy dimasukkan ke surga juga. policarpus tentu tidak termasuk.

    tapi kalo ternyata yg terjadi adlh yg sebaliknya, tolong mintakan hal yg sama buatku ya

  18. @ Kopral Geddoe

    Jelas, kapan sih saya pernah salah? :|

    Pas ente melanggar sumpah soal kritik agama. Itu kan tindakan yang tak dapat dibenarkan… :mrgreen:

    Heh, ada ego laki-laki yang berkata demikian :P

    Ah, saya cuma mengikuti teladan Mas Geddoe di postnya aja kok… :lol:

  19. @ Kopral Geddoe

    Jelas, kapan sih saya pernah salah? :|

    Pas ente melanggar sumpah soal kritik agama. Itu kan tindakan yang tak dapat dibenarkan… :mrgreen:

    Heh, ada ego laki-laki yang berkata demikian :P

    Ah, saya cuma mengikuti teladan Mas Geddoe di postnya aja kok… :lol:

  20. Sayaa piliiihhhh.. gabungan boleh gak??

    opsi pertama:
    yang pertama tapi ada Rena Tanaka ama Sora Aoi.. oh iya Miyu Hoshino juga boleh wakakakkaka..

    opsi kedua:
    reinkarnasi tapi deket dengan AVI lagi..

  21. @@ grahat: sekali lagi grahat, anda tidak perlu memilih, karena ini bukan opsi untuk di pilih.
    benar begitu, kopral? :mrgreen:

  22. Ever since I was in college, I don’t really care what happen to me after I die. Just live my life and pray to God for the best.

  23. @calupict
    hum.. saya rasa sih, punya ekspektasi termasuk setelah mati itu hal yang manusiawi..

  24. @ joesatch
    Kalau begitu, saya mau minta direinkarnasikan seperti pilihan terakhir :P

    @ sora9n
    Jangan mengungkit masalah lama :|

    Hohoho, biarin aja, biar komennya kelihatan banyak :lol:

    *dilempar kerak telor*

    @ grahat | grace
    Benar. Saya suka dengan surga gaya mas, tapi di sini memang bukan buat memilih :mrgreen:

    @ cK
    Jelas, saya… :lol:

    @ calupict
    What if God doesn’t exist? The utmost ken of human vision ought to include that sour possibility ;)

    @ s1w1
    Saya setuju :)

  25. @Grahat: For some part of people, yes; but not for other part of it. It depends on the person and it is their own private business. ;)

  26. Setelah seratus, seribu, atau sejuta tahun disiksa, lama-kelamaan kita akan terbiasa. Mungkin kita akan mampu mengobrol sembari disiksa?

    Katanya kemampuan kita untuk terbiasa akan sesuatu juga akan dihilangkan di neraka, katanya….

  27. Memori jangka pendeknya nggak bakal terpicu? Kalau hukumannya statis, boleh jadi nggak akan terlalu parah juga…

    Yah, bagaimanapun kita juga mesti bersiap-siap kalau-kalau mesti bertahan tanpa kemampuan untuk terbiasa :P

  28. ternyata mati juga punya opsi ya ? ;)

    tapi sudah tanya Tuhan dulu (kalau ada) kalau Kopral Geddoe mau dimasukin kemana ?

    *komen nggak jelas*

  29. Geddoe, udah pernah baca Journey of Souls (Dr. Newton ….ga inget)? berisi kisah2 yg berhasil dikorek melalui hipnoterapi mengenai afterlife, bhw setelah manusia mati, roh akan naik keatas menemui pembimbing spiritualnya utk membahas setiap detail kehidupan yg dijalani, dan kalau dirasa pelajaran yg didapat dari kehidupan belum cukup maka roh itu akan diturunkan lagi (reinkarnasi) utk menimba pelajaran kehidupan. Buku yg menarik, lumayan utk nambah wawasan ttg misteri kehidupan, dan sasaran sebenarnya yg hendak dicapai dalam kehidupan ber-manusia. :D

  30. ah hahaha…. mudah2an ada. soalnya gw googling berminggu2 ga dapet, terakhir krn penasaran gw beli aja lsg di Gramed. :D

  31. @CY
    saya pinjam bukunya, bisa difoto copy kan? halah kuliah banget.

    @Kopral
    Hati2 dengan tawaran 70.000 bidadari cantik, menyesatkan!!. nanti nek hamil (eh bidadari bisa hamil gak ya?)semua repot lho, saya punya satu baby aj dipaksa gak tidur tiap malam :)

  32. * pengennya nomor 1,
    * tp yg pasti nomor 2 nggak mungkin karena tidak ada ayat pendukung.
    * nomor 3 pasti untuk kebanyakan manusia, semoga sy tidak masuk di dalamnya
    * buat apa hidup menjalani kebajikan klo endingnya di nomor 4. not interested.
    * blm ketemu ayat yg cocok buat nomor 5, sebenernya ada sih klo mp di kait2kan, tp blm mateng ah

  33. Lah, mas ini memang seorang quranite, ya? :P Yep, konsep purgatory (neraka temporal) biasanya nggak didukung pemahaman Qur’aniyyun.

    Saya sempat tertarik dengan gerakan ini, tapi meninggalkannya karena gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan saya :P

  34. Saya ‘kan udah bilang;

    Saya asumsikan saja bahwa sejuta tahun lagi saya sudah mati. Walau, ya, nggak tertutup kemungkinan bahwa sejuta tahun lagi, saya ternyata masih bergentayangan dalam wujud manusia di muka bumi ini. Barangkali saya menemukan ajian untuk hidup abadi, atau terjadi revolusi biologis yang menyebabkan saya bisa menjadi cyborg, atau kebetulan memang sistem metabolisme saya yang sakti mandraguna. Tapi, for the sake of simplicity, asumsikan saja saya sudah mati.

    :P

Comments are closed.