Get a grip, this would be rather blasphemous…
…Or maybe not. But get a grip anyway, just to be safe.

Berdasarkan pengamatan saya selama hampir delapan belas tahun dicap sebagai orang Islam (terkecuali oleh beberapa yang memberi label kafir, tapi itu kita abaikan saja dulu), saya, dan seharusnya anda juga, tentunya sadar bahwa kultur Islam sudah distereotipkan dengan kultur Arab.
Nilai-nilai ‘Islami’ sendiri hanyalah campuran dari kebajikan universal dan kultur Arab. Ini tentunya berlaku pada semua agama. Kasih sedekah pakai sorban adalah spirit ‘Islami’. Kasih sedekah pakai crucifix adalah spirit ‘kasih Kristus’. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Ujung-ujungnya, kebaikan yang dibawa oleh agama adalah universal. Klise dan monoton. Berbuat baik — itu saja. Sisanya adalah produk budaya
Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Manusia ‘kan butuh identitas. Sedangkan sisi-sisi kebajikan universal adalah netral — relatif sama rata pada agama manapun, sehingga dengan memperkaya sisi ini ‘identitas’ tidak akan didapat. Akan sama saja, tidak peduli apakah anda seorang sunni, syiah, katolik, protestan, buddhis, hindi, salafi, sufi, gnostik, kejawen, mormon, saksi Yehovah, sikh, agnostik, pantheis, deis, atheis, ataupun penyembah setan
Nah, dari sinilah keinginan untuk mengeksploitasi sisi budaya dari agama muncul. Akhirnya mulailah jenggot dipanjangkan, celana dilipat, tanda salib dipajang di sekujur badan, dan seterusnya, dan seterusnya. Barulah kelihatan, kalau anda itu agamanya apa
Tapi saya tidak akan cuap-cuap mengenai itu. Saya bukan seorang penganut agama yang baik. Saya cuma akan menelaah dari kaca mata saya sebagai seorang seniman amatiran dan tukang khayal profesional
Pertanyaannya, kenapa Kristianitas jadi identik dengan katedral-katedral indah? Kenapa Islam jadi identik dengan budaya timur tengah? Sederhana, semuanya tergantung di mana agama-agama tersebut berkembang. Silakan anda bayangkan sendiri– kebudayaan setempat pun lama-lama terpatri dalam identitas agama itu sendiri.
Sudah cukup mukadimahnya
Sekarang mari mulai berkhayal. Bagaimana kalau seandainya nabi Muhammad SAW tidak terlahir di timur tengah?
Bagaimana kalau dulu Tuhan memilih untuk menurunkan sang Rasul di Jepang?
.
.
.
Berikut beberapa hipotesis, yang seterusnya bisa diupdate
*mulai mengkhayal*
- Umat Islam tidak akan menyapa sang Khalik dengan sebutan Allah– mungkin akan digantikan dengan nama Kamisama.
- Rasulullah tentunya tidak akan bernama Muhammad. Bisa jadi namanya akan menjadi Homeru.
- Nama Islam sendiri mungkin akan digantikan dengan nama… Hmm… Koofuku, mungkin? Atau Isramu?
- Al-Qur’an mungkin akan dikenal dengan nama Dokusho– tentunya tertulis dengan kaligrafi Jepang. Mengaji pun, akan menggunakan bahasa Jepang
- Jangan mengharapkan kubah di masjid-masjid. Yang ada adalah torii, layaknya yang terdapat di jinja-jinja.
- Ibadah haji akan diselenggarakan di sekitar gunung Fuji. Istilahnya akan menjadi naik Fuji, bukan naik Haji. Gelar yang didapat setelah melaksanakannya pun adalah Fuji. Guru-guru mengaji (dalam bahasa Jepang) pun akan dipanggil dengan sapaan Pak Fuji — Fuji Amir, Fuji Husin, dan seterusnya.
- Baju kebesaran para ulama tentunya tidak lagi celana di atas mata kaki, jenggot berjuntai-juntai, serta sorban. Melainkan kimono melar, waraji, lengkap dengan kepala botak a la samurai.
- Akan susah membedakan antara seorang otaku dengan kaum puritan Islam– namanya bakal sama-sama sok Jepang. Mas AntoSalafy misalnya, mungkin akan memakai nama Anto Asakura.
- Panganan buka puasa yang laris tentunya bukan kurma. Mungkin ibu kita akan membelikan botamochi untuk buka puasa.
- Baju lebaran pastinya bukan baju-baju a la baju kurung lagi. Jutaan umat Isramu akan memakai kimono untuk shalat ied.
- Kaligrafi Jepang “Kamisama” dan “Homeru” bakal digantung di
kuil-kuil Isramumasjid-masjid. - Istilah masjid sendiri mungkin akan diganti menjadi… *lihat-lihat etimologi*
Ah, mungkin menjadi hashira. - Shalat (inori) sendiri tentunya bakal berbahasa Jepang.
- Tukang bikin zina tidak akan dirajam. Melainkan disuruh seppuku.
- Terminologi jihad (versi peyoratifnya) tidak akan pernah populer. Yang ada adalah… Kamikaze, tentunya.
- Kiblat akan diarahkan ke Asia timur. Entah dimana. Atau mungkin tidak. Entahlah. Tokyo Tower mungkin?
- Aksi kaum ekstrimis Isramu bakal lebih canggih, dibumbui ilmu-ilmu ninjawi.
- Anime bakal lebih merakyat. Pasalnya bocah-bocah penerus bangsa sudah lumayan mahir membaca aksara-aksara Jepang dan memahami bahasa negeri Sakura sejak kecil. Untuk apa? Mengaji tentunya. Membaca
Al-Qur’anDokusho. - Jamaah Tabligh akan terlihat seperti gerombolan klan samurai tak bertuan. Tentunya akan menarik simpati lebih banyak anak muda…
- Mungkin, sudah banyak anime yang mengangkat tema perang Bad’r. Poster Hamzah ibn Abdul Muttalib yang bertampang bishonen akan banyak dijual di tepi-tepi jalan.
- Tunggu, tentunya beliau tidak akan bernama Hamzah. Pokoknya nama Jepang
Perang Bad’r-nya juga… Mungkin jadi Perang Harima.
*terbangun*
Ah, kalau ada yang berniat, silakan menambahkan. Nanti akan saya update
p. s. Perlu dibikin versi Tiongkoknya? Versi Latin? Maya? Afrika? 
Btw obrolan ini terinspirasi dari chat sama Mbak Hiruta.







PETAMAX????
Ya, PERTAMAX
Hmm….dasar budaya.
Btw, Ged. Contoh Mas Antosalafy sudah tidak valid tuh. Coba klik linknya.
Makanya link blog saat dia berkomentar di O-Mai-Gat bertitel http://abumaulid.wordpress.com
Malaikat belum ada ya Ged? Kalau gitu.. mungkin Malaikat malaikatnya adalah….
Tetsuya Harada
Shinja Nakano
Kenshinn Himura (Malaikat Pencabut Nyawa)
Maria Azawa (Penunggu Surga)
Akhirnya Penyaru kebenaran itu tumbang.
@ Neo Forty-Nine
Kenapa nyengir, mas? Gara-gara baru dapat nyonya?
Soal nama-nama malaikatnya, duh…
Btw, memangnya beliau itu penyeru kebenaran? Ini pertanyaan, lho, ya
@ Mihael Ellinsworth
Makanya — Kewarganegaraan nabinya melenceng sedikit saja, wajah agamanya setelah berabad-abad juga jadi beda.
Soal Mas Anto Asakura, ya, tahu. Tersadar waktu mau ngelink ke beliau tadi
Hush, haram.
Hmm….tipe sajadah ? dan topi kebesaran Arab akan diganti jadi eboshi ?
Sajadah pakai pola tenunan oriental tentunya
Topi kebesaran? Nggak pakai topi, barangkali. Botak, kayak samurai
Sakit jiwaaa!!!!!
gile keren banget inih!!!!! ahahahahahhahahaha,,
mana dipikirin sampe detil detilnya,, TOP!!
eh tapi kalo beneran,, artinya anak anak bakal lebih suka belajar agamanya dong,, kan dari anime dan manga,, dijamin jadi pada ahli agama semua tuuh!!!
ah … jepang … hmmmm, kok kayanya lebih menarik daripada arab ….
*berkhayal mode : ON*
@ Rizma
Masih sedikit, ya. Nanti akan saya update. Silakan menyumbang ide
Wah, kalau begitu, ya, salah-salah anime pun jadi identik dengan agama, ya?
@ Luna Moonfang
The grass is always greener on the other side…
But Japs’ grass is the greenest anyways
Hmm…kebanyakan orang di Jepang Atheis, benar. Kalau Rasul masuk sana, kemungkinan besar Jepang sudah menjadi sangat besar. Menaklukkan Daerah Russia dan China. Mungkin.
Hmm….
Saya berpikir Hentai akan dilarang di sana.
Saya berpikir PS3 dan Wii akan memunculkan game sholat – sholatan.
Daswar imajinasi…
Kebayang aja ada game simulation tentang kehidupan muslim,, yang endingnya ntar masuk surga,, Hmm,, lucu juga lho,,
@ DeBe
ga ada hentai?? Difo bisa nangis!
hahaha, setuju banget
wekekeke. malas nulis gituan,makanya pake
aja.
Jelas dong penyaru kebenaran…soalnya penyaru kebatilan kan sudah diambil Wadehel… masa ada dua penyaru kebatilan? emangnya penyaru kebatilan mau dipoligami????????
Ma jadi mikir lho,, Jepang bakal jadi tambah banyak cobaannya dong,, udah yang jaman dulunya aja begitu susah, tambah perang perang lainnya pula (perang perang agama gitu di Jepang),, kasian amat,, tapi apa malah jadi lebih keren lagi ya??
@ Farid
nyepet nih,,?? nyepeet???
Hei! Kamu ya! ayo ikut saya, kamu itu tempatnya di neraka! Islam ya Islam, turunnya diArab. Berani kamu berandai andai seperti ini ya! dan ketahuilah,adzab itu amatlah pedih, dn akan lebih edih sat kamu menuhankan akal…………
*kelojotan*
*kesembet roh pedagang agama*
@ Mihael Ellinsworth
Rasanya Jepang nggak menganut atheisme… Melainkan paham omnitheistik yang mengalir secara turun temurun. Mereka nggak ’sok tahu’ tentang teologi, kayaknya lebih ke agnostik. Menitikberatkan ke perbuatan dan moral… IMO.
Dan itu sangat bagus.
@ Rizma
Siapa yang menangis?
@ btyop
Setuju apanya, mas?
@ Neo Forty-Nine
Penyeru apa, ya? Penyeru-nyeru kafir sana sini?
@ Rizma
Bisa keren, bisa nggak. Terserah, sih. Saya sendiri nggak peduli. Kalau kelakuannya udah baik, ya nggak ada agama juga nggak apa-apa. IMO
Jadi ingat kata-kata orang aseli Amerika, agama cuma bikin rusuh
Makanya saya memilih moto di Y!M: Just be YOURSELF.
Itu karena dirimu adalah dirimu, dirinya adalah dirinya.
Jangan mau terpengaruh oleh budaya yang menghilangkan jati dirimu. Itu yang dikatakan ibu saya.
@ Abu Farid Al Ahlul Jannah
Ampun, akh…
@ p4ndu_Y4m4to
Jalankan wejangan itu!
gileee…mantaps wakakakakakkk…
sekalian nambahin!!! ntar pas lebaran, semuanya pada ke kuil wakakakakk…
Yah..cuma berkhayal….
tapi, aku malas ah..menghayal seperti itu..
gak ada juntrungannya..
Bukan di gunung Fuji kali ya…mungkin di “bukit belakang sekolah”-nya Nobita
Kok agak garing… Atau mungkin malah semua istilah itu berbalik???
@ cK
Kuil itu masjid-nya, lho
@ matahari pagi
Wah, kalau sebagai seniman amatiran sih, mengkhayal itu kebutuhan buat saya, sebagai inspirasi
@ deKing
Wallahualam, deh
@ Tendo-Soji
Berbalik seperti apa?
Ini cuma media saya memahami sinkretisasi budaya ke dalam agama
Apakah ada maksud kalau anda tidak puas dengan budaya arab dalam islam..??
eh..oh..silakan berkhayal lagi deh…
Di satu sisi, anda boleh bilang begitu. Sebab pada dasarnya saya memang tidak menyukai budaya yang dicampur baur dengan agama. Tapi itu ya pendapat pribadi saja. Saya bukan nabi, silakan tidak mengikuti
hahaha…aku tidak bilang apa2..hanya bertanya…
tapi, kalau sudah melekat bagaimana…?? apakah suatu rasa tidak suka harus dipaksakan…?? mungkinkah suatu rasa tidak suka bisa berubah menurut anda..??
atau akan ada pemberontakan, mungkin..??
Tidak apa, terserah, saya sendiri nggak terlalu peduli… Semua bisa berubah… Dan selama esensinya belum lenyap, saya nggak protes…
Tapi ada kerugiannya Ged: harem protagonist (berikut aktivisnya ala pengusaha chicken katsu wong solo) bakal ada di mana-mana di kehidupan nyata, bukan cuma di anime/manga/h-game aja
Hohoho, rasanya malah nggak, tuh. Mungkin hukum poligami malah nggak ada yang dipelintir-pelintir — monogami semua
Tapi nggak tahu juga, mas
Terus kalo kita mo sunat motongnya pake Katana
tinggal olor, kemudian CLESS !! langsung putus deh.
N pasti para samurai, bakal punya profesi sampingan sebagai tukang sunat
kekeke
Btw, khitan budaya arab bukan seeh ?
Khitanan sejak zaman batu udah ada, mas/mbak
Btw khitan pakai katana apa nggak terlalu sadis, tuh?
Lucu ya di sini, jadi lawakan…
Baru sekali mampir nih… takut OOT
@deking
Emang di Holland ada serial Nobita juga ya pak ?
Saya ber andai semoga Allah SWT tidak menurukan dazal terlahir melalui perut ibu mu..
@ Herianto
Tergantung dari sisi mana anda melihat, Pak. Buat saya, semua yang ada di atas adalah analogi dan alegori dari suatu pencerahan yang jauh lebih besar
@ Irwan
Terima kasih, mas. Komentarnya Islami sekali, semoga mas nanti masuk surga tanpa hisab
kalo ada di jawa…
serat centhini…
kanjeng…
gusti…
waaahhh, seperti utophia ajah…membayangkan something yang jelas2 gak akan terjadi…
*liat komen sebelum Geddhoe di atas ini*

dajjal?
@ Irwan
Kenapa kesimpulannya jadi menjurus ke sana ya?
Saya malah melihat ini sebagai pandangan cerdas bahwa ternyata tanpa sadar ada sebagian kita yang cenderung fanatik pada budaya Arab-nya bukan pada esensi Islam itu sendiri
@ Kopral Geddhoe
Walaah… pas jadi sistematis gini lumayan keren juga.
Ahem, kayanya terkesan ada yang menganggap ini seperti khayalan untuk `menggugat`, kenapa Islam ternyata harus turun di Arab ya.
Eeh… iya Difo, kan bangsa Arab itu terkenal jahiliyah dan ancur sebelum Islam datang sedangkan bangsa Jepang itu, dari dulunya (sampe sekarang juga) enggak sejahiliyah itu kondisinya makanya bisa jadi ini menjadi salah satu alasan kenapa bangsa di daratan Asia Timur ini tidak terpilih.
btw, kayanya kalau pas shalat pakai kimono, gak kebayang lho haru biru tersiksanya… *bletaak*
Wah, tulisan yang menarik. Jadi ingat sebuah buku yang mengangkat tema yang agak mirip, bagaimana kalau kondisi peristiwa lampau berbanding terbalik dengan sekarang (misalnya Jerman menang PD II).
Seandainya Islam tumbuh di Jepang, mungkin Jepang tidak akan berpartisipasi di PD II dengan fasisme.
Mungkin Kerajaan Aceh juga bukan tumbuh sebagai Kerajaan Islam.
Wah, sejarah benar-benar berubah.
…atau mungkin jika Islam tumbuh di Jepang, maka tidak ada yang namanya anime-manga? Kan tidak boleh menggambar makhluk bernyawa.
Rasanya sorban lebih keren daripada kabuto.
@ peyek
Ya kayak begitulah, pak. Namanya juga budaya
@ Nurina Purnama Sari
Hohoho, coba mbak lihat lebih dalam lagi
Seperti yang saya bilang, ini hanyalah usaha saya mendalami dan memahami sinkretisasi dan transmutasi yang terjadi dalam agama
@ jejakpena
Wah, barangkali ada yang berpendapat bahwa Arab adalah Islam… Tidak puas akan budaya Arab berarti mempertanyakan Islam…
Hmm, kalau menurut pandangan saya sih mungkin begitu. Bangsa yang paling grusa-grusu soal agama memang timur tengah bukan? Semua agama samawi turun di sana. Daratan Amerika kuno dan timur jauh tidak membutuhkan agama — mereka sudah damai dengan teologi natural mereka
@ Xaliber von Reginhild
Bisa jadi, bisa jadi. Perubahan kecil di masa lalu bisa memancing perubahan luar biasa di masa depan…
Jadi ingat Back to the Future
Yah, Tuhan itu tidak hanya bisa bahasa arab bukan?
Membaca artikel ini memberikan pemahaman kepada saya mengapa agama itu di bilang produk budaya.
Tapi jangan di Jepanglah, wong Jepang dah keren kok dengan Zen nya.
@ Dana
kalo ga di Jepang, di mana?? Indonesia??
eh Difo,, Ma baru inget,, sebenernya Allah itu bukan bahasa arab ga sih? bukannya Rabb? jadi mungkin itu ga bisa di-Jepang-kan ga ya??
@ Hiruta
iyah,, kebayang belibetnya pake kimono sambil solat,, atau mungkin ritual solatnya jadi beda ya??
oke,tulisan yang berisi..
di butuhkan banyak orang seperti anda..
ganbatte…..
………………
Pemikiran yang kreatif dan imajinatif. Tentunya seandainya Islam tidak turun di Arab 15 abad silam, mungkin 4000 tahun SM kebudayaan-kebudayaan pertama pun tidak boleh (tidak bisa, tidak mungkin, atau tidak ditakdirkan) muncul di Messopotamia, atau Mesir. Pusat peradaban dunia pada abad ke-7 bergeser ke Asia Timur. Tidak ada Yahudi, Tidak ada Kristen, dan mungkin agama-agama berbeda dengan yang kita kenal sekarang.
Tapi persoalannya mengapa peradaban pertama muncul di kawasan Timur Tengah? Kawasan ini subur dan produktif, memiliki berbagai kekayaan sumber daya alam sehingga populasi manusia berkembang pesat. Pelbagai entis lahir, saling berinteraksi, saling berkompetisi, menimbulkan persoalan-persoalan masyarakat kosmpolitan. Secara geografis letaknya pun strategis. Membentang horisontal di permukaan bumi dan relatif dekat dengan ekuator, kawasan ini sesungguhnya tidak mengalami hambatan-hambatan iklim secara berarti. (Bandingkan dengan Amerika Selatan yang peradaban Indiannya ketinggalan jauh sampai bangsa Eropa datang ke sana: peradaban berjalan lambat, jumlah suku bangsa lebih kecil, kompetisi lebih ringan, daya tahan penduduk terhadap penyakit lebih lemah, posisinya membujur vertikal dan mengalami hambatan iklim dan geografis untuk berkembang pesat)
Maka itu di kawasan ini kemunculan pelbagai bangsa dengan peracaban masing-masing lebih cepat ketimbang kawasan Timur Jauh di Jepang. Jepang sendiri terletak di pinggir, di pojok utara Asia. Kontaknya praktis hanya dengan bangsa-bangsa terdekatnya seperti Cina, Mongol, atau Korea. Letaknya yang terisoloasi membuat peradaban Jepang bergantung kepada Cina (aksara Jepang kan merupakan pengembangan aksara Cina begitu pula religi dan kepercayaan mendapat pengaruh Cina) dan didonimasi Cina. Jepang abad ke-8 atau ke-9 tertinggal dengan Indonesia pada era yang sama yang berhasil membangun banyak candi yang megah dan literatur yang indah — padahal Indonesia pun kawasan pinggiran. Jadi nyaris tidak mungkin, atau kondisinya tidak membuatnya mungkin agama-agama besar muncul di sana. Itulah sebabnya agama yang ada di Jepang konteksnya ajarannya sangat lokal dalam arti tidak ada motif-motif misionaris atau ekspansionis sebagaimana Islam atau Kristen. Tidak heran orang Jepang yang kala itu berwawasan sempit (disebabkan oleh cara berpikir dari generasi ke generasi dan letaknya yang terpencil) mengambil kebijakan politik isolasi sampai abad ke-19 karena ingin mempertahankan aspek kelolakalannya itu.
Untuk menjadi pusat peradaban kuno dunia, Jepang yang merupakan kepualauan terpencil itu harus menyatu dengan daratan Cina. Tapi dengan begitu, zaman es tidak boleh terjadi! Dan jika zaman es tidak pernah terjadi dengan demikian, mungkin dinosaurus, brontosaurus, tyerx tidak pernah punah. Dan jika hewan-hewan ganas itu tidak pernah punah, manusia tidak pernah ada! Sebab, manusia purba akan menjadi mangsa hewan-hewan yang liar dan ganas itu. Manusia akan kehabisan energi sebelum berhasil menciptakan peradaban pertama mereka.
See? Aku pikir Tuhan telah merencanakan segalanya. Subhanallah. Thank God. Puji Tuhan.
@ danalingga
Persis. Biarkan sajalah Jepang dengan Zen-nya
Agama-agama besar memang seyogyanya diturunkan buat kaum timur tengah dulu — mereka jauh lebih butuh
@ Rizma
Al-Ilah. Sang Ilahi
He-eh. Sinonim, sinonim
@ onoda
Berhasil read between the lines?
@ azaytun
@ Junarto
Tentu, tentu demografinya akan jauh berbeda. Di Indonesia saja, mungkin justru ‘kaum pendatang’ yang beragama Islam, sedang ‘pribumi’ mungkin beragama Kristiani
Tapi, saya sedang tidak membicarakan demografi — itu cuma ilustrasi tentang bagaimana agama itu bisa ‘dibudayakan’
Baru nyadar komenku ternyata ga nyambung.
Ah, mana… mana…
*cari anggota baru marga Asakura*
Kalau nabi Muhammad jadi lahir di Jepang, mungkin permainan rakyat bukan dakon, tapi diganti jadi go atau semacamnya.
Kok, larinya ke dakon…
Mas Geddoe. Meskipun secara pengucapan orang Jepang mampu mengatakan “isram”, tapi penulisannya biasanya “isuramu”. Pasti tau kan ya? Ide dekonstruksi ruang yang menarik
. Maaf dan trims, MSR
Soalnya belum ada yang menyinggung soal permainan tradisional.
Lho, dakon itu dari Arab, ya…?
Yg lebih parah lagi agama Buddha di Indo kok bisa2nya dilatarbelakangi budaya China, padahal datangnya dari India.
@Geddoe
Guru-guru mengaji (dalam bahasa Jepang) pun akan dipanggil dengan sapaan Pak Fuji — Fuji Amir, Fuji Husin, dan seterusnya.
salah dong, harusnya Fuji Honda, Fuji Kawasaki, Fuji Suzuki, Amir dan Husin itu kan nama Arab.
@Neo Forty-Nine
Eits… Maria Ozawa (penunggu surga)? maksudnya salah satu dari 70rb bidadari itu ya?
waaah,, ada yang ampe bahas demografinya gini,, kereen!
Budayalah yang harus mengikuti Islam, bukan sebaliknya…..
@ CY
Ah, boleh-boleh. Fuji Suzuki, Fuji Honda… Kayaknya bakal begitu
Btw Ozawa Maria jadi salah satu semok di surga? *ketawa mesum*
@ Rizma
Hohoho, mas Junarto, tuh…
@ Muhyie
Wah, kenyataan yang ada Islam (atau agama manapun) selalu mengikuti budaya, sampai citra budaya tersebut melekat — baru setelah itu, budaya-budaya yang kebetulan berbeda, dipaksa mengikuti ‘agama’ (baca: budaya yang ketiban duren runtuh telah diikuti oleh agama)
Tapi itu pandangan saya, lho
@ Junarto
Kereeenn Abissss
berharap lebih banyak lagi bahasan seperti ini?
jangan tanyakan kenapa?
tapi tanyakan kenapa sebenarnya?
… dalam rangka memahami kebijaksanaan dan maksud Tuhan …
satu kata,,,,
gila!
dulu pernah kepikiran ky gini, tapi ga smpe bikin detail2nya gini,…
keren keren
untuk junarto…
saya suka!
untuk komen lainnya..kayanya udh tersalurkan dr yg lain…
btw, kalo islam di jepang…”hime” panggilan buat apa ya?*mikir*
*OOT dulu, komen kemudian* Gambar cewenya lucuuuu!!!
Hohoho, saya bahkan pernah membayangkan seandainya Islam turun di Indonesia tercinta
Salam’alaikum
Berbagi dikit yah
Ya memang Islam di turunkan di Arab tepatnya di Saudi Arabia karena daerah itu memang strategis. Daerah itu adalah jalur perdaganan antara dunia timur dan dunia barat.
Mengenai Islam yang menjadi ‘budaya’, saya rasa itu kembali kepada diri kita masing-masing. Banyak juga yang berusaha untuk mendalami esensi dari Islam, karena esensi tidak terikat terhadap hal-hal yang tampak di luar seperti baju, penampilan fisik, dll. Nilai-nilai esensi inilah yang membimbing seseorang menuju Islam yang sesungguhnya.
Tak tinggalin sebuah kalimat dari seorang guru yang arif
“Each of us who came here with wisdom must learn from this school. Heaven does not come from building beautiful churches, mosques, and temples. Man must build his church, mosque, and temple within himself. The house of God must be built within. The place of worship must be seen within. The completeness of God must be built within the self. If man can understand his story and the story of God and then build a church within himself, that is victory.” – M. R. Bawa Muhaiyaddeen
Maaf atas ketidaksopanan saya
Semoga Cinta dan Kasih Sayang Tuhan selalu menaungi hatimu sahabatku. amin
Wassalam
*ga bermaksud hetrik, cuma nambahin*
Ga kebayang betapa tersiksanya sholat pake kebaya ma stagen *sweat drop*
Saya jadi agak terpaku dengan bagian ini :
Apakah perlu berimajinasi lebih banyak lagi ?
gyahahaha
gambarnya lucu!!!!
Hmm, bagus, bagus…
…
…Aha, tapi ada loophole. Kalau Islam turun di Jepun, maka nggak akan berkembang yang namanya anime, manga, dan bishonen. Kenapa?
Karena… tidak boleh menggambar bentuk makhluk bernyawa.
Hush. Jangan dibahas. Haram.
Azumi Kawashima jilbaban????
wooooogggghhhhhhhhh……tidaaaaaaaaaaaaakkkkkk!!!!!!!!
Wah… Sebuah pemikiran yg unik sekali…
(Neo Fourty-Nine) Maria Azawa (Penunggu Surga)
Hmm…. Aku mau masuk surga!!!
Tunggu… Azawa ato Ozawa nih?
wah rame juga ternyata, numpang lewat dulu deh
kafir kamu ™!
maria ozawa? :ngelap iler:
@ Fadli
Jadi? Diperbanyak?
@ hime-sama
Entahlah, pastinya jadi salah satu istilah ‘Islami’ juga
@ eucalyptica
[/ngayal]
[ngayal]Itu bakal calon istri saya, mas/mbak
Btw yang Islam turun di Indonesia itu anda mau tulis, nggak?
@ Dimas
Maaf, untuk poin pertama saya kurang sependapat. ‘Islam diturunkan di sekitar mediterania supaya dapat menyebar dengan baik’; implikasinya Tuhan sendiri menginginkan supaya agama itu ‘menyebar’. Artinya, akan ada ‘korban’ yang tidak mendapatkan ‘kebenaran’ karena ‘kebenaran’ itu ‘belum sampai ke tempatnya’
Dalam ideologi saya, kebenaran itu bukan hal yang ‘diperdagangkan’ oleh saudagar-saudagar mediteran seperti halnya selendang sutra, rempah, dan ikan asin. Kebenaran hakiki semestinya diambil dengan hati, bukannya datang ke pelabuhan mendengarkan orang asing mengoceh tentang agama di kampung halamannya
Sisanya saya setuju
Apalagi quotenya, keren, itu
Mari sama-sama mendoakan
@ Mihael Ellinsworth
Berminat…? Hahaha, lama-lama jadi basi, ah
@ saRe’
Seperti yang saya bilang, bakal calon istri
@ sora9n | Shelling Ford
Mungkin ya, mungkin tidak. Seperti yang kita tahu, banyak sekali teori-teori yang menyatakan bahwa hukum-hukum muamalah banyak dipengaruhi latar budaya timur tengah– termasuk Judaisme dan Kristianitas juga.
Jadi bisa jadi hukum-hukum seperti diatas jadi tidak ada… Tapi bisa juga ada. Saya agnostik dalam masalah itu
@ Bebek Jamuran…
Ozawa Maria…
*nyari lilin merah sama pecut*
@ aribowo
Silakan melihat-lihat, maaf nggak ada makanan
*usap-usap come-come cat*
@ antobilang
Selamat! Hetrik!
Hush, Ozawa melulu
Wong Edan!! Perang Bad’r kenapa ga sekalian jadi Perang Sekigahara??
Kalau yang terjadi begitu sih tentunya sejarah bakal berubah jauh banget dibanding sekarang. Maksudnya apakah bunuh diri akan tetap diharamkan?
Buat versi Jawa.
lagi keranjingan Jawa.
Bukankah agama itu bisa berbaur lewat budaya?
Ada kan islam kejawen, atau kristen kejawen yang masih merayakan hari raya panen. Dengan rasa syukur yang diubah kepada Tuhan bukan Dewi Sri tentunya?
Di film2 tentang Walisongo juga diceritakan seorang Sunan Kalijaga yang mengajar lewat wayang.
So?
. . . ___ ___ ___ . . . ?
Apakah setelah terjadi pembauran ini mereka (penganut) mulai mencari sesuatu yang “asli dari asalnya” agar terlihat “keren”?
@ D. A.
Tentunya bakal berubah jauh… Perubahan kecil saja bisa memicu perubahan super besar, lho. Di Back to the Future pt. II, misalnya, gara-gara Marty McFly meninggalkan seonggok buku murahan di masa lalu, politik, ekonomi, dan peta bisnis di masa depan berubah teramat jauh…
@ dnial
Ya. Memang tulisan ini boleh dibilang merupakan upaya penggambaran proses itu (sinkretisasi/transmutasi agama)
Bwakakakkaa…
pada pikiran yang jernih (by all mean ‘jernih’ ) dan ga terkontaminasi oleh pengetahuan atopun pengalaman.. aq pilih kamu jadi nabiku deh.. :p
Masalahnya nggak bisa, kultur dan indoktrinasi pasti membekas…
Manusia nggak bisa jernih lagi…
syukurlah Islam tidak turun di mordor …
Alhamdulillah, tempaty mengerikan begitu
Hehehe… mendingan turun di Mirkwood.. biar kuping kita runcing semua…. hehe…
Hehehe…. iya jug sih biasanya agama itu da bgianyang erupakan bias dari daerah setempat…hehe
Sangat bias malah
Anda (penulis) menuliskan seakan-akan manusia hanya ada yang bertipe “menebarkan budaya agama” dengan baju-nya, bentuk fisiknya, dll. Tapi, apakah Anda mengetahui bahwa ada juga orang yang menjadi semi “korban” dari bentuk budaya itu?
Apakah Anda mengetahui, ketika seseorang ikut ke sebuah “kajian”, memendekkan semua celananya, dan kemudian, ketika dia sudah tidak ikut kajian itu, orang-orang tetap menganggap nya ekstrim?
Sama hal nya dengan semua atribut, entah itu jenggot, kerudung dan lain-lain.
Apakah pernah ada pemikiran kesana?
Tapi, tentu saja akan sulit bagi Anda untuk memahaminya karena Anda mungkin bukan orang dari “golongan taat” itu. Tapi ketahuilah, gak semua orang bercelana cingkrang dan berjenggot itu berarti dia Islami banget.
Itu saja.
Salam kenal,
Blog yang menarik
tentu tidak.
saya memendekkan celana di kampus, sama seperti orang2 yg rajin ikut kajian itu. keliatan mata kakinya. tapi apa komentar yg saya terima?
“mau sholat kok pakaianmu seperti itu?”
padahal ini cuma perbedaan corak dan warna kain. celana saya warna biru muda gambar kembang2 warna kuning. boleh beli dari tanah kelahiran saya: denpasar.
emangnya Tuhan ga ngebolehin makhluknya pake celana pantai po?
bah, emangnya ada yg tau selera mode Tuhan itu seperti apa?
Sebagai manusia, ada hal -hal yang tidak bisa kita pikirkan atau masukkan ke dalam logika semuanya.
Islam itu luas, mencakup segala sisi kehidupan manusia. Ia adalah budaya, peradaban, konsep hidup, kehidupan bernegara, dll. Jika kita telah mengikrarkan diri sebagai Muslim, maka segala konsekwensi itu berlaku bagi kita.
Memang tak diharapkan sempurna,tapi setidaknya ada usaha perbaikan pemahaman dan juga perilaku.
maaf klo tak nyambung
brilian !!
pemahaman yang menurut saya sangat jarang. analogi yang bisa membuat otak mumet jadi tercerahkan. artikel yang bagus…
* Umat Islam tidak akan menyapa sang Khalik dengan sebutan Allah– mungkin akan digantikan dengan nama Kamisama.
Allah artinya tuhan, Sang Hyang artinya tuhan, Asmaul husna pun semuanya nama lain Allah. Jadi sama aja kita sebut ya Rahman, ya Allah, Ya Mannan, Ya Alim, Ya Tuhan, dll.
* Rasulullah tentunya tidak akan bernama Muhammad. Bisa jadi namanya akan menjadi Homeru.
Nama Muhammad tuh ada bukan karena lahir di Makkah. Tapi karena udah ditakdirkan oleh Allah, sebelum Allah menciptakan Bumi, Adam As, saya, anda, dan manusia semuanya.
* Jangan mengharapkan kubah di masjid-masjid. Yang ada adalah torii, layaknya yang terdapat di jinja-jinja.
Itu baru masalah budaya. Terserah mau ngasih kubah kotak, bundar, lonjong, terserah.
Wallahu A’lam bisshowab.
Hohoho boleh, boleh *mulai bekerja di Microsoft Word*
BTW saya termasuk kaum Hawa lho, coba liat profil saya (promosi, promosi)
Contoh paling mudah memang Back to the Future… Film jadul tapi seperti Star Wars… Melekat di hati futuris.
Jadi ingat kata-kata Mbah Xaliber, Ia pernah berandai seandainya Nazi yang menang PD 2.
@ nuragus
Tentu — oleh sebab itu saya menghindari menyalahkan oknum tertentu. Beragama dengan berbudaya pun tidak masalah, asalkan tetap menghormati kepercayaan yang lain dan tetap menerapkan kenajikan universal. Jadi kalau berhadapan dengan masyarakat umum tetap sekular
@ joesatch
Tepat sasaran, mas. Makanya saya nggak suka suatu pemahaman religius ‘dibudayakan’
@ mina mina
Yap, memang tatanan bermasyarakat yang disajikan Islam konon jauh lebih lengkap dan detil dibandingkan agama lain
…Walau sebaliknya, menurut saya pribadi, itulah yang merupakan kelemahan terbesar Islam
@ passya
Hee… Pokoknya dalam pandangan saya, kalau seandainya ada pembaca yang menganggap ‘agama’ yang saya ceritakan di atas adalah BERBEDA dengan agama Islam, maka pembaca tersebut mungkin selama ini hanya menganut budaya, bukan agama
*sujud hormat ke mas Passya*
@ sagung
Memang itu yang saya maksudkan
Tuhan itu cuma satu, tho?
@ eucalyptica
He? Maaf, mbak…
*sujud-sujud*
@ D. A.
Hehehe, btw saya cuma nonton yang part II, lho — bukan fan berat sih sebenarnya:lol:
Mohon dukungannya untuk project pendokumentasian secara online lirik-lirik lagu minang periode 1950-1995
Info selanjutnya silahkan klik link berikut ini
http://laguminanglamo.wordpress.com/about/
dan
http://laguminanglamo.wordpress.com/undangan-berkontribusi/
IMHO, sebenarnya nama Tuhan sendiri bukan Allah, katanya. Tapi Rabb. Katanya, lagi.
Jadi saya kira kalau beda kultur pun (mungkin) namanya akan berganti.
@ fadli
Wah, wah, dokumentasi lagu Minang lama?
Semoga sukses
@ Mihael Ellinsworth
Beliau namanya banyak, sih
gw gak setuju kalau Islam diidentikkan dengan Arab. pernah ada calon mualaf dari barat 2 orang. yang satu mundur karena adanya pemahaman Islam harus bergaya Arab. yang satu lagi maju karena setelah membaca dalam Al-qur an kalo gak salah….saat adam diciptakan, malaikat bertanya…mengapa Allah menciptakan calon makhluk hidup yang akan berbuat kerusakan di dunia…dari sini orang bule itu menerbitkan buku yang berjudul “Even Angel Ask”. jadi kita harus kristis thd ajaran. Jadi Islam tidak harus Identik dng Arab dalam kebudayaan, selama tidak menyalahi ajaran inti. Orang Arab Islam (ada yang non)sendiri ada yang tidak mengamalkan Islam….Peace. masalah simbol tergantung pemahaman yang pake….peace
@wedulgembez
Islammemang ga harus Arab, tapi yang jelas Islam itu turun di Arab
wa orang arab nih…
pertama jenggot bukan budaya arab, itu adalah budaya hampir sebagian besar komunitas peradaban kuno, mesir (yang jelas bukan arab), persia (juga bukan arab), yunani, cina (pernah liat gambar confucius?), india, dll
kudung dan jilbab bukan budaya arab, justru orang arab senang memamerkan rambutnya yang bergelombang hitam dan tebal (makanye orang arab kl liat tionghoa, sori ye cuma contoh, yang rambutnya lurus tipis pasti ga seneng). contoh lain pernah liat tari perut (tari bujel / pusar), itu budaya arab
celana yang dipendekkan, orang arab jaman jahiliyah dulu kalo bikin baju yang ampe ngalar2 (kaya penganten barat) : hiperbola. tapi memang budaya arab jahiliyah baju itu sampai menyentuh tanah
kubah bukan budaya arab, itu budaya constantine yang didopsi oleh orang arab. jd untuk masalah kubah itu benar. jika waktu itu mereka (arab jaman dulu) melihat banguna tionghoa/jepang lebih dulu ketimbang constantine mungkin sekarang masjid sprti masjid demak semua
kl masalah bahasa kan di quran udah disebutin, nabi2 itu diutus dengan bahasa kaum yang mereka diutus kepadanya, supaya kaumnya itu ngerti gitu lho. masa nabinya peke bahasa indonesia umatnya bahasa korea? gak nyambung nantinya mas
soal kenapa nabi terahir pake bahasa arab, bakal panjang penjelasannya. kalo mau bilang ntar diusahain
so justru sebenarnya budaya arab itu tunduk pada budaya islam, kl budaya islam yang tunduk ga mungkin nabi muhammad diusir2 segala, mau dibunuh lagi, dilempari batu, dll. itu sebenarnya bukti bahwa budaya islam itu bukan budaya arab
maap kepanjangan