Saudara-saudara,
Kita akan membicarakan tentang kemungkinan perlunya membunuh Tuhan.
Ya, membunuh Tuhan yang Maha Esa itu.

“Boys! Defeat God, then we’ll dine in paradise!”
* * *
Voltaire pernah berkata, bahwa kalaupun Tuhan itu seandainya tidak ada, maka mesti segera diciptakan. Sebab Tuhan itu, menurut Voltaire, mutlak diperlukan oleh manusia dan segala isi dunia. Namun pada kondisi-kondisi tertentu, mungkin Tuhan justru perlu dihabisi.
Iya. Mungkin pada situasi tertentu, manusia mesti bahu membahu untuk membunuh Tuhan. Tuhan yang menciptakan mereka. Atas nama kemanusiaan.
Situasi seperti apa?
Situasi di mana ternyata keberadaan Tuhan justru membahayakan manusia.
.
.
.
Bagian I : Sang Diktator
Sebuah sudut pandang
Saya tidak pernah bertemu dengan Tuhan secara langsung. Oleh sebab itu, saya tidak tahu seperti apa wujud beliau, dan seperti apa kepribadian beliau. Saya hanya bisa mereka-reka saja. Tuhan itu seperti apa? Saya pun mulai bertanya dengan berbagai orang yang bisa saya tanyakan pendapatnya. Responnya bermacam-macam.
Salah satu jawaban yang saya terima, membuat saya menjadi sedikit paranoid.
Kalau Tuhan ternyata memang seperti yang digambarkan oleh pernyataan tersebut, boleh jadi kita mesti bersiap-siap untuk perang melawan Tuhan.
Tuhan yang Maha Kejam
Menurut gambaran yang ditarik berdasarkan pendapat berbagai pemahaman yang tersebar di seluruh penjuru dunia, Tuhan adalah the ultimate dictator. Manifestasi segala komponen megalomaniak yang ada. Pemimpin yang paling brutal. Monster yang paling haus darah.
Ia menciptakan manusia-manusia yang lemah hanya untuk dijadikan sebagai mainan saja. Dan Ia juga sadis — Ia memerintahkan para manusia-manusia lemah itu untuk melakukan apa-apa yang Ia inginkan. Berikut bentuk-bentuk penindasan yang Ia lakukan;
- Pertama, Ia memerintahkan mainan-mainan-Nya tersebut untuk mencari sendiri ‘aturan main’ (baca: agama) dari permainan sadis-Nya. Dan itu tidak mudah. Memilih mana yang benar di antara sekian banyak agama tersebut sangatlah sukar — manusia-manusia yang berotak cemerlang pun masih belum dapat merumuskan satu jawaban pasti agama mana yang sebenarnya diinginkan Tuhan. Beberapa memilih agama A, beberapa memilih agama B, dan seterusnya. Di sisi lain, beberapa orang bahkan tidak perlu berpikir — karena kebetulan terlahir di lingkungan yang telah beruntung memilih agama yang benar.
- Lebih lanjut, setelah seseorang mampu meraih ‘jalan yang benar’, aturan yang diinginkan Tuhan untuk dilalui pun teramat terjal. Ia sengaja membuatkan hawa nafsu yang membara pada manusia-manusia bikinan-Nya dan memerintahkan mereka untuk tidak memenuhi hasratnya tersebut. Segalanya dilarang — ada saja yang salah. Maksudnya sendiri tidak jelas; mungkin supaya Ia lebih terhibur melihat penderitaan mereka.
- Akhirnya, kalau mainan-mainan-Nya tersebut gagal memenuhi apa yang Ia inginkan dengan sempurna, maka Ia akan menyiksa mereka dengan hukuman yang amat sangat berat. Ia tidak akan ragu sama sekali dalam menyiksa — termasuk merebus hidup-hidup seorang nenek tua tak berdaya yang kebetulan sial memilih agama yang salah ketika hidup, selama-lamanya.
Analogi
Mari berangkat lebih jauh.
Kebengisan Tuhan dalam gambaran beberapa kaum tertentu dapat dianalogikan menjadi seorang kaisar feudal yang keji dan barbar. Dalam skala yang lebih kecil, tentunya.
- Katakanlah sang kaisar memungut beberapa bocah-bocah budak tawanan perang yang sudah sekarat, lalu merawat mereka, dan memberikan mereka rumah dan pekerjaan. Ini adalah pekerjaan yang mulia — namun bukannya tanpa pamrih. Sang kaisar memerintahkan mereka untuk selalu memuji-mujinya setiap saat. Mereka harus tunduk dan patuh, kalau tidak, mereka akan disiksa oleh algojo-algojo kekaisaran. Jadi kalau misalnya mereka telat sedikit saja dalam upacara-upacara memuji-puja sang kaisar, mungkin jari mereka akan dipotong, atau mata mereka dicungkil keluar, atau dikastrasi, atau apalah.Hal ini mirip dengan sang Tuhan bengis. Ia menciptakan manusia, bukannya tanpa pamrih. Mereka harus melakukan apa yang ia inginkan, kalau tidak, akan disiksa– selama-lamanya di neraka. Tentunya jasa Tuhan lebih besar dari jasa sang kaisar, akan tetapi hukumannya juga lebih brutal. Namun makhluk-Nya yang percaya akan gambaran Tuhan yang semacam ini tetap bersikeras bahwa Ia telah berjasa besar dengan menciptakan mereka, dan tentunya mereka boleh diperlakukan-Nya semaunya. Mereka lupa, bahwa diciptakan untuk hidup di bawah permainan kejam seperti itu bukanlah suatu yang benar-benar bagus. Mungkin lebih bagus lagi kalau mereka tidak diciptakan.
- Nah, terkadang, sang kaisar berhasil dilenakan oleh bujuk rayu salah satu budaknya. Mungkin budak yang satu ini begitu patuhnya, sehingga permintaan-permintaan sang budak pun dituruti. Mungkin seekor kuda, atau perhiasan emas, atau harta lainnya. Perlu diingat bahwa budak yang patuh pada sang kaisar belum tentu berbudi pekerti. Boleh jadi ia hanya mencari muka — lembut pada sang kaisar, namun bengis pada sesama budak.Sang Tuhan bengis pun demikian. Hamba-Nya yang tidak kenal letih memuja-Nya, walau tidak berbuat apa-apa bagi orang lain, akan dikabulkan permohonannya. Serupa dengan kasus sang kaisar, walaupun sang hamba tidaklah banyak berbuat baik pada sesama dibandingkan hamba yang lain. Implikasinya? Seseorang yang memilih agama yang salah, lalu mati demi menyelamatkan seorang anak kecil dari tabrakan, akan digoreng di neraka selamanya. Sedang yang mengikuti jalan-Nya, sekalipun hanya sibuk berkomat-kamit memuji-Nya sepanjang hidup dan hobi mempergunjingkan orang yang tidak seiman dengannya, akan menikmati surga yang kekal.
Persamaannya? Baik sang kaisar maupun Tuhan versi bengis ini lebih menyukai hamba PENURUT daripada yang BERMORAL.
- Yang paling berbau paradoks dan oksimoron adalah bahwa sang kaisar masih menganggap dirinya sebagai pemimpin yang bijak dan pengasih.Sang Tuhan versi bengis? Hohoho, bahkan pakai atribut Maha-, padahal…
Ketika kita menemui kaisar seperti itu, kita menyebutnya ‘kejam’.
Namun untuk kasus Tuhan (versi yang bengis), kita menyebutnya ‘maha penyayang’.
Kenapa? Sudah terlanjur cinta? Mungkin tidak. Mungkin anda hanya takut.
Is it love, or is it fear?
Kalau anda tergolong yang menyembah Tuhan (yang katanya) seperti itu, ada baiknya mulai berpikir. Apa Tuhan seperti itu pantas dicintai? Jujur saja… Ditakuti, tentu. Dicintai? Nanti dulu.
Menyembah Tuhan yang seperti itu mirip dengan menjilat seorang kaisar yang barbar (seperti perumpamaan di atas) — kita memuja-muja dia supaya diberikan hadiah dan menghindari hukuman, dan terkadang (seringkali, bahkan) mengabaikan kompatriot-kompatriot kita demi keselamatan pribadi.
Dan, tentunya, berpura-pura dan membohongi diri sendiri bahwa Dia pantas dan patut diperlakukan demikian, karena merupakan sang Maha Pengasih. Yeah, right…
Bagian II : Pemberontakan
Deicide is the killing of a god or a divine being.
(Entry Wikipedia)
Kalau memang seperti itu yang terjadi, maka Tuhan mesti dibunuh.
Masuk akal, bukan?
Logis, bukan?
Ah, memang rencananya cukup baik, namun pelaksanaannya akan sangat sulit. Membunuh Tuhan tidak mudah.
Bagaimana caranya saya tidak bisa berpikir. Mungkin ketika kita disiksa di neraka, kita menyusun plot kudeta, mempersuasi para malaikat neraka dan setan-setan untuk bekerja sama dengan kita, dan menyerbu surga. Para penghuni surga diharapkan dapat mengalihkan perhatian sang Maha Diktator, dan kita akan berperang.
Berperang, supaya tidak ada lagi nenek-nenek tua yang dibakar tanpa akhir.
Berperang, supaya tidak ada lagi orang-orang kurang beruntung yang disiksa tanpa rasa kasihan.
Kalau kita kalah, mungkin kita akan lenyap. Atau dimasukkan ke neraka. Tapi kita tidak sendiri. Kalau kita menang, maka keadilan akan tegak.
Lalu kita tinggal mendirikan majelis demokrasi di surga. New World Order. Atau New Afterlife Order, atau apalah.
…Mungkin Nietzsche bisa menjadi presiden. Atau Ingersoll, Russel, atau Dawkins, atau malah Adrian Mutu *ngaco*…
Bagian III : Antiklimaks
Ah, tapi mungkin perang itu tidak perlu.
Tidak. Perang demi membunuh Tuhan itu tidak akan diperlukan.
Kita tidak akan perlu memprotes Tuhan.
Karena bagi saya, Tuhan tidak seperti itu.
Yang menganggap Tuhan itu bengis seperti di atas, sudah keliru. Tuhan tidak seperti itu. Namun ia tidak akan turun meluruskan persoalan. Ia hanya akan menghadiahi kita apa yang kita pantas dapatkan nanti. As you sow, so will you reap. Ia tidak akan mengganggu manusia saat ini, Ia tidak ingin terjadi anomali dalam proses pemikiran manusia. Biarkan saja. Bagi saya, yang menyiksa diri karena Tuhan (akibat salah mengira Tuhan sebagai sang Maha Bengis) pantas dihadiahi hadiah yang berlipat.
Sebab mereka takut pada Tuhannya.
Dan Tuhan akan menghadiahi mereka, sebagaimana seorang ayah haru melihat seorang anaknya begitu patuh padanya sampai-sampai melupakan kebahagiannya sebagai seorang anak.
Tuhan yang kejam itu hanya ilusi. Fatamorgana.
Tuhan yang mabuk puja puji itu hanya ilusi. Fatamorgana.
Tuhan yang gemar mengutuk itu hanya ilusi. Fatamorgana.
Segala ilusi itu terjadi akibat usaha manusia-manusia yang tidaklah sempurna demi mengenal Tuhannya. Mereka terus berusaha, selama ribuan tahun. Sejak dari muara sungai Nil di Mesir ribuan tahun sebelum masehi sampai meja-meja filsuf di antara timbunan pencakar langit.
Dan saya entah kenapa memperoleh impresi bahwa Sang Maha Bijak hanya terdiam saja. Ia tidak suka mempermasalahkan benar dan salah. Ia hanya suka melihat kelembutan di antara makhluk-makhluk-Nya.
Akhirnya dengan ini, saya pun mengurungkan niat saya menyusun strategi membajak neraka demi menyerbu surga di hari pembalasan nanti. Tidak perlu.
In God we trust.
.
.
.
“My God is not the one that you want to see.
Your God is a mirage, a conspiracy.”“Better hope you’ve been chosen to be saved,
Because your empathy only goes so far today.
Pay no mind to those in pain,
They just want souls that are willing to pay.…Your ‘God’ is not for me.”
(Pennywise – “My God”
from the album “Land of the Free?” (2001).)







Heh… kok nggak jadi sih? *penonton kecewa*
Tapi satu yang saya ketahui:
gimana? Masih mengurungkan niat?
Belum mampu, mas.
Ngebunuh Tuhan ya susah…
Serem ih post nya make bawa2 Tuhan…
Bagian akhirnya perasaan lumayan adem, tuh
Well, what if God is really evil? Kalo Ia adalah seperti yang digambarkan oleh Philip Pullman dalam trilogi “His Dark Materials”, gw rasa membunuhnya bakal segampang mencabut life support dari orang yang sekarat. Yah, itu kalo anda bisa mengalahkan Metatron
tumben posting tentang agama lagi? dapet pencerahan ya dood??
Ma cuma ga kebayang kalo Geddoe ga nulis bagian III itu,, udah officially halal darahnya tuh,,
(atau udah dari dulu ya???)
eh btw, analogi yang ada di no 1 itu mirip salah satu kumpulan quote yang dulu dulu itu,,
*berantakin blognya Geddoe*
ini kayanya,,
dududududu,, katanya ga mo nulis yang kaya begini lagi,, hehehe,,Anda benar-benar membuat saya teringat para Kira, brother…
ada sebuah quote :
@kopral
iya, susah sih, susah banget malah.
eh, benar memang bagian tiga itu antiklimaks
dan mengecewakan peontonTapi Tuhan seperti gambaran bagian I memang nyata ya, terlihat kok di kehidupan sehari-hari. Entah itu salah siapa?
Panjang bener Nak?
Ini usaha meboikot tuhan? usaha membela tuhan atau apa? Maklum saya ga ngerti…………..
@ Catshade
Iya, kalau menurut saya sih dystheisme itu benar-benar menjawab segala paradoks tentang Tuhan, lho. Dari problem of evil sampai problem of hell
Tapi premis yang itu saya tolak dulu, deh. Agak buru-buru soalnya
Saya sendiri menolak prinsip Tuhan yang omnipoten dan omnibenevolen. Tuhan itu sempurna dalam konteks ketuhanan, tapi bukan sempurna secara literal. Sama saja dengan ‘kemenangan yang sempurna’ pada pertandingan sepakbola — 500-0 adalah sangat ’sempurna’, tapi tidak infinit, bukan? Nah, Tuhan pun demikian, ia sangat kuat, sangat pemaaf, sangat penyayang, tapi bukannya tanpa batas. Maha bagi saya bukan berarti ‘tanpa batas’. Kalau memang tanpa batas, maka Tuhan adalah benar-benar skizofrenik
Jadi kalau bagi saya Tuhan itu lebih mirip guru kung-fu jenggotan di film-film daripada ’sang raja’. Terkadang mencurigakan, namun baik hati. Terkadang terkesan kejam, namun cuma ilusi. Problem of evil sendiri merupakan refleksi jiwa artistik beliau — penghapusan problem of evil (dan segala kekacauan lainnya seperti inconsistent revelations dan free will)berarti kekacauan secara artistik, di mana semua manusia berbuat dan bersifat 100% sama, karena ‘evil’ itu relatif
@ cK
Ini tentang Tuhan, mbak, bukan agama. Janji saya ‘kan nggak ngomong tentang agama. Teologi sih masih
@ Rizma
Sekali lagi saya katakan, saya cuma berhenti menulis tentang agama. Teologi jalan terus. Dan teologi bukan monopoli agama… Kesimpulannya, saya bakal nulis sebagai freethinker, bukan muslim. Sisi muslim saya suruh diam, sisi freethinker baru saya persilakan cuap-cuap.
@ Lee
Kira? Entah, ya, saya nggak nonton, tuh
@ Jurigs
Iya, mbak. Setuju
@ danalingga
Ah, atau jangan-jangan Tuhan itu seperti Deus di Xenogears?
*berhenti mengkhayal*
Eh? Salah siapa? Kalau kata Dan Brown sih, itu mah salah kebudayaan manusia
@ Neo Forty-Nine
Ini usaha jaga-jaga, mas, kalau-kalau Tuhan itu benar-benar seperti yang dikatakan para fundamentalis garis keras
pesen saya …
carilah Tuhannya tuhan …
wekekeke ….
*nyari*
Katanya mau mati separo? Kok hidup lagi, he…
Tapi saya sambut dengan kening berkerut kok, welcome back mind-destroyer…
Hohoho, ini bukan tentang agama lho, mas. Teologi secara umum saja
Kalau tentang agama secara eksplisit saya memang pensiun
Halah…
BTW, “Kira” yang dimaksud Li kayaknya bukan Kira Yamato, deh… mungkin KIRA yang di Death Note. (o_0)”\
Kira-kira siapa Kira yang dimaksud ya?
Soal “membunuh” Tuhan, gimana kalo kita melakukannya kepada orang yang bertindak layaknya Tuhan? Kan lebih gampang tuh…
@ sora9n
Eh, iya, ya. Saya sampai lupa ada Kira yang itu ^^’
@ p4ndu_Falen45
Lebih gampang, walau masih sulit…
Gimana, mau dibunuh?
@p4ndu_Falen45
lah … kok malah jadi memperebutkan jabatan tuhan …
apa sudah yakin kalau Tuhan sudah bener-bener mati ??
Akar-akar pagan masih ada kali mas/mbak, jadi masih ada yang berminat jadi Tuhan kedua, ketiga, dan seterusnya
keplok-keplok. ide pikirannya gila juga nih…
imajinatif tingkat tinggi yang disampaikan dengan bahasa menarik.
meski panjang, orang tertarik baca ampe akhir.
salut!
baru pertama kali mampir, itu karena Award Blog!
Walah, makasih kalau dianggap begitu
(awalnya cuma nulis rant doang sih…)
Saya sendiri menolak prinsip Tuhan yang omnipoten dan omnibenevolen. Tuhan itu sempurna dalam konteks ketuhanan, tapi bukan sempurna secara literal. Sama saja dengan ‘kemenangan yang sempurna’ pada pertandingan sepakbola — 500-0 adalah sangat ’sempurna’, tapi tidak infinit, bukan? Nah, Tuhan pun demikian, ia sangat kuat, sangat pemaaf, sangat penyayang, tapi bukannya tanpa batas. Maha bagi saya bukan berarti ‘tanpa batas’. Kalau memang tanpa batas, maka Tuhan adalah benar-benar skizofrenik
So…this ‘God’ person is not really God at all?
Memang konsep Tuhan yang tidak omni bisa mementahkan beragam paradoks ^^; (the famous one would be paradoks batu), tapi…yang anda maksud dengan ’sempurna dalam konteks ketuhanan’ ini apa sih sebenernya? Kalo baca di link sebelumnya, ada pelbagai pandangan tentang apa itu ‘omnipotent’. Nah, Tuhan yang anda percaya ini termasuk yang mana (atau anda punya kepercayaan sendiri)?
Oh, please. What is God anyway? Who defined God?
The church said he’s Mr. Omni.
Edison said He’s nonexistent.
Spinoza said He’s the world.
Epicurus said He’s the Devil.
Yah, bahkan untuk menciptakan dunia, menyelenggarakannya, dan membikin surga dan neraka, tidak dibutuhkan ketidakterbatasan dalam hal ini itu bukan?
Menurut saya sih Tuhan yang sempurna sebagai Tuhan itu adalah mampu menciptakan dunia dan menyelenggarakannya sebagus-bagusnya dan sekeren-kerennya sampai pada titik di mana semua makhluk-Nya bakal puas sudah pernah dibikin
Susah dijelaskan, sih. Socrates sampai Voltaire saja kurang fasih menjelaskan tentang Tuhan, apalagi Kopral Geddoe ini
wadoh,, kaget liat awal2nya,,
sara bukan termasuk orang yang bisa make otaknya buat mikir jauh dan banyak *ga biasa make otak buat mikir*, jadi sampe pertengahan (Analogi), sara nyambung dan baru mulai mikir,,
dan lagi-lagi,, sara jadi bingung (buntu dan pusing) sendiri,,
*kepala dan badan sara udah ngamuk2 karena tiba2 dipake mikir*
butuh tidur panjang lagi niiih~~~
wah, si kopral menyebarkan wabah kebingungan nih.
sepertinya perlu class actionIni termasuk khayalan tingkat tinggi, ya ?
Kalau di game dan Anime , Tuhan digambarkan sebagai :
1. Deus dalam Xenogears (The Gazel Ministry bisa diibaratkan ‘Malaikat’)
2. Adam dalam NGE (Atau Lilith ? Atau SEELE ?)
Kalau Tuhan versi itu, bisa dibunuh. Mungkin.
@ saRe’
Ingat, kalau Tuhan itu omniscient, tentunya Dia tahu yang mana-mana saja yang bakal masuk neraka — tapi toh dibikin juga. Kenapa?
@ danalingga
Wah, maksud saya bukan begitu…
Siapkan pengacara.@ Death Berry, Inc.
Jangan lupa dengan makhluk aneh di akhir game orisinil Shadow Hearts. Dan tentunya, Haruhi Suzumiya!
bukankah ada ‘katanya’ kalo manusia sendiri yang memilih,,
(walau tentu saja TUHAN sudah tau apa pilihan manusia tersebut)
jadi karena apa ya??
dan kalo ‘katanya’ dibuat tapi gagal lebih buruk daripada ketiadaan,
memang itu bisa dipastikan?? bukannya tanpa di’ada’kan, maka tidak bisa dibuktikan dan dibandingkan which one is worse antara ada yang buruk dan tidak?? jadi bagaimana??
kataNYA tidak berarti selalu sama dengan yang dilihat, dirasakan, dipikirkan oleh nya2 lainnya, karena nya2 lain punya keterbatasan, sedangkan kataNYA sudah diucapkan dengan kemampuannNYA…
memangnya kita mau ikutan mikir??
kenapa? karena manusia tidak pernah bersyukur.
(kalimat terakhir berkali2 diapus dan diketik ulang karena bingung,, kepala sara ga bisa diajak kompromi
dan kayaknya tetep kurang aja,, malah rada OOT,, hehe
)
Tapi konsep omniscient berarti mengetahui apapun, termasuk hasil akhir yang belum terjadi. Lalu kenapa masih mengizinkan ada makhluk yang masuk neraka?
Kenapa, apa karena manusia tidak bersyukur? Lho, ‘Tuhan’ ini kok jadi Tuhan bukannya tanpa pamrih, ya?
Hmm, itu cuma makanan filosofis harian — nggak usah terlalu dipikirkan
Mungkin krn jaman dulu banyak pemikiran2 seperti postingan di atas (Bag. I dan II) maka lahir kesimpulan adanya Karma dan Reinkarnasi. Dimana setiap perbuatan jahat akan dibalaskan karmanya di kehidupan sekarang maupun berikutnya. Dan neraka itu bukanlah berisi api dan pembakaran tetapi neraka adalah bila, misalnya seseorang bereinkarnasi bbrp kali jadi kecoa atau lalat dan dinjak2 org, atau jadi orang yg miskin banget sehingga menyelamatkan anaknya yg sakit sekalipun tidak sanggup shg hatinya begitu pedih.
Sama pedihnya kan neraka dgn kehilangan org yg paling kita sayangi shg kepikiran terus seumur hidup??
Jadi perhitungan seseorang masuk neraka bukan berdasarkan “menyelamatkan seorang anak kecil tapi memilih agama yg salah” tetapi berdasarkan setiap perbuatan dalam kehidupannya pada tiap reinkarnasi, sampai dia mencapai kesempurnaan.
Hehehe, saya sendiri nggak berani bilang kalau reinkarnasi itu ada apa nggak, tapi harus diakui konsep reinkarnasi itu indah, keren, dan mumpuni
gyahahahaha
*korslet*
ini nyampah?? bukan toh??
Relatif, ngelihatnya dari sudut mana
BAgus…bagus…
Semua hal bisa bagus tergantung dari sisi mana si pengamat memandang…
relativitas nih.
*siyul-siyul*
Setidaknya akuw masih bisa berjalan dengan menghirup udara dan disinari cahaya matahari-Nya ^^
btw, dari sisi teo mcdohl(halah)…tulisanmu bagus…salud^^
Ya, itu sudah patut kita syukuri. Dengan ikhlas tentunya, bukannya malah menjilat pada Tuhan
btw, akuw masih sulit membedakan yang namanya menjilat dan meminta nih…dan bisa deskripsikan maksud menjilat menurut kamu gak..?? (pengen tau mode : on)^^
dan kira2 apakag ada efek sampingnya..?? (memangnya obat^^)
Beribadah dengan hanya mengharap hadiah dan menghindari hukuman… Itu menjilat…
lalu, apakah menjilat disini memiliki arti yang sama antara menjilat kepada seorang raja dengan menjilat kepada Tuhan..??
Kita tahu bahwa beribadah itu ada 2. yaitu Vertikal dan Horizontal. Jika kita mengacu kepada beribadah Vertikal, tidak apa2kan kalau kita menjilat..?? toh tidak merugikan orang lain. diri sendiripun tidak, apalagi tuhan.
Nah, kalau hubungannya sudah horizontal. Hal seperti menjilat itu yang akuw sangat amat takutkan. Sudah dapat bayangannya kan..??
“Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.”
silakan untuk percaya ataupun tidak
@ matahari pagi
Yep, saya menekankan ke ibadah yang horizontal itu. Yang vertikal bagi saya semestinya dinilai dengan sangat minor…
@ watonist
Percaya, deh
minor atau major tergantung dari sisi mana dan alat apa yang digunakannya…^^
Alat…?
yaa..alat..!! alat apa itu..?? mari kita pikirkan sama-sama…^^
hmm..apakah panca indra bisa disebut alat..?? atau tubuh kita..?? kata-kata kita..??^^
…Entahlah…
kalo gw ga ampe selesay nacanya mungkin kalo gw ketemu loe di jalan gw bakal ngajak loe diskusi n membuka pikiran loe yang sebelah pihak…
lumayan (^-^)..
coba loe pikir kata-kata ini..
” berapa jarak antara gula dengan manisnya…, antara garam dengan asinnya…”?
begitulah kita dengan Tuhan…
Hmm… Nggak sampai selesai?
Sebaiknya… Selesaikan dulu, supaya nggak salah paham
Hm… Benar2 menarik. Gambaran Tuhan sebagai ’sesuatu’ yang brutal juga
Hanya gambaran…
jadi inget game xenogear, dimana mereka membunuh deus (god)
Ah, konsep Deus di Xenogears tidak omnipoten, oleh sebab itu bisa dibunuh
Cerita yang indah, ya
Fuck the Lord – yeeeahhhh!
Depends on what Lord do you have in mind.
Makanya Anda tertarik sama Star Ocean yang waktu itu saya bahas ya…
*baru baca entrinya dengan ngertos sekarang, telat*
Kalau seadainya dunia ini itu ternyata seperti yang di game itu gimana? masih mau bunuh Tuhan? Entri ini…keren, bikin puyeng cenderun provokatif tapi mencerahkan.
Penggambaran Tuhan sebagai Maha Bengis mungkin seperti usaha mengundang Tuhan ke dalam hajatan kita (manusia)
Hehehe…pikiran Geddoe yang lama. Sayang nih blog bakal dibumihanguskan.