*Wadehel mode On*
Saudara-saudara, pada hari yang berbahagia ini, saya akan menyampaikan beberapa titah petuah yang saya dapatkan setelah berpikir dan berpikir selama beberapa tahun saya hidup di dunia.
Dan dari sekian banyak hal yang ada di dunia yang akan saya petik pelajaran tentangnya adalah menyoal prasangka buruk. Menyoal tsuudzon. Tentunya anda sudah paham tentang hakikat perbuatan ini? Atau malah anda sudah menjalankannya sehari-hari?

“Graa! Selamat datang di dunia yang kejam!”
[UPDATE : Gambar telah disensor menyusul beberapa masukan
]
Hah? Kenapa? Tsuudzon adalah hal yang dilarang? Wah, Tuhan, para nabi dan rasul, serta orang-orang yang berpikiran luas memang berpikiran begitu. Tapi masyarakat sekarang sudah kreatif — status tsuudzon sekarang sudah bisa dilapis-lapis!
Pada sudut pandang masyarakat global yang multidimensi ini, tsuudzon adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan. Adapun menurut pandangan saya, pada zaman sekarang ini terdapat lima kasta dalam per-tsuudzon-an. Jadi, sekarang tsuudzon bukan hanya haram saja! Nah, berikut akan saya bahas satu per satu.
.
.
.
- Tsuudzon Haram
- Tsuudzon Makruh
- Tsuudzon Mubah
- Tsuudzon Sunnah
- Tsuudzon Wajib
Adalah tsuudzon yang dilarang di mata masyarakat saat ini. Tsuudzon jenis ini tidak diperbolehkan dalam masalah apapun dan dalam konteks apapun. Orang yang bertsuudzon haram akan menghadapi pandangan sinis oleh masyarakat sekitar, dan akan dicap bermacam-macam.
Tsuudzon haram ini adalah, tsuudzon pada sistem atau komponen yang sudah kokoh berkuasa.
Seorang yang tinggal di negara bersistem monarki, harom™ ber-tsuudzon pada sistem monarki. Ia tidak diperbolehkan meragukan demokrasi dalam sebuah kekuasaan absolut. Ia tidak boleh coba-coba berangan-angan negaranya dipimpin seorang presiden. Harom™! Atau tsuudzon terhadap Pak Haji — pemuka agama di RT kita yang sudah pernah menimba ilmu di Al-Azhar, Mesir. Ketika Pak Haji membaca suatu ayat Al-Qur’an berbeda dengan kita, kita jangan lancang berpikir bahwa Pak Haji salah membaca. Lebih baik berkaca dulu, barangkali kita yang membacanya dengan salah atau Al-Qur’an kita ternyata salah cetak. Lha, Pak Haji ‘kan berilmu lebih tinggi dari kita! Apalagi kalau cara memahami Al-Qur’an kita berbeda dengan Pak Haji dan para ustadz yang sudah bertahun-tahun menjaga surau di RT kita sampai dahinya menghitam. Wah, jangan lancang ber-tsuudzon bahwa mereka berpikiran sempit atau egois mempertahankan pendapat. Kita diwajibkan berpikir, barangkali kita yang masih hijau ini yang salah memahami Al-Qur’an. Pada saat seperti ini, kita wajib ber-tsuudzon pada diri sendiri!
Adalah tsuudzon yang dikerjakan tidak mengapa, tapi menghindarinya mendapat penghargaan dari masyarakat.
Tsuudzon makruh ini adalah, tsuudzon sebagai respon akan suatu musibah.
Bayangkan sekarang anda ditilang karena ngebut di jalan raya. Polisi akan datang dan menyita STNK anda. Setelah itu anda bisa mengumpat dan ber-tsuudzon bahwa polisi tersebut hanya iseng dan terlalu berlebihan dalam bertindak. Atau menuduh polisi tersebut mencari-cari kesalahan. Kalau anda mengumpat dan ber-tsuudzon ria, anda tidak akan dipersalahkan. Tapi kalau anda memilih untuk tidak mengumpat, orang bermental tidak sebagus anda akan terheran-heran dan memuji anda sebagai makhluk super sabar yang selalu berprasangka baik.
Adalah tsuudzon yang boleh dilakukan — tidak mendapat penghargaan atau cercaan sama sekali.
Tsuudzon mubah adalah, tsuudzon terhadap kaum lemah.
Yang termasuk jenis ini adalah membicarakan orang atau menggosip terhadap kaum lemah. Bos-bos yang ngerumpi dan berprasangka jelek-jelek terhadap bawahan, atau guru-guru yang senantiasa menganggap rendah dan menjelek-jelekkan muridnya yang sedikit badung. Masyarakat yang sudah menganut hukum rimba tidak akan menggubris tsuudzon jenis ini, sebab mereka sudah biasa melihatnya — mereka tidak akan mengutuk atau mendukung. Hanya menonton.
Adalah tsuudzon yang disarankan untuk dilakukan. Dilakukan ya bagus, tidak ya tidak apa.
Tsuudzon sunnah adalah, tsuudzon terhadap kaum kuat (tapi tidak berkuasa).
Contoh jelasnya adalah ber-tsuudzon terhadap pemerintah. Anggota dewan yang jujur sekalipun, sebaiknya anda cap korup dan mobilnya anda lempari telur, sebab masyarakat menganggapnya sunnah. Anda juga sebaiknya memasang prasangka tidak-tidak terhadap presiden dan kabinet, cap mereka makan uang rakyat, pemalas, dan semacamnya. Hasilnya, anda bisa dipandang sebagai kaum yang melek politik. Sebab stereotip orang melek politik sekarang adalah yang suka mengumpat pemimpin yang ‘tidak berkuasa’. Orang yang rajin memuji kinerja bagus pemerintah, itu akan dicap naif. Jadi yang begini ini sunnah. Dikerjakan, anda dipuji, tidak, ya, anda jadi orang biasa saja.
Adalah tsuudzon yang wajib dilaksanakan demi memperoleh ridha masyarakat. Harap dicatat bahwa saya tidak menjamin anda mendapat ridha Tuhan, sebab Tuhan tidak menyukai tsuudzon sama sekali.
Tsuudzon wajib adalah, tsuudzon terhadap musuh dan orang luar.
Contohnya adalah tsuudzon terhadap orang barat™, Amerika™, kafir™, dan Yahudi™. Belakangan muncul tren baru yaitu tsuudzon terhadap kristenisasi™ dan kaum liberal™. Kalau anda ingin dicap gaul di mata manusia, sebaiknya anda juga mengikutinya. Nah, karena hukumnya wajib, yang menjalankannya juga dari birokrat bobrok sampai orang ’suci’. Tidak penting apakah para oknum seperti Amerika Serikat dan kaum Yahudi itu terlibat atau tidak, yang penting anda mesti tsuudzon dulu, demi pengakuan masyarakat (sayangnya tidak pengakuan Tuhan)! Iya, kalau ada kasus apapun, dari perang, pemalsuan kitab suci, sampai yang tidak ada hubungannya sama sekali seperti kartun yang memojokkan agama tertentu, masyarakat (termasuk orang-orang ’suci’) akan ber-tsuudzon ria dengan menuduh bahwa semuanya adalah konspirasi barat™, Amerika™, dan Yahudi™ yang kafir™, dibantu dengan kaum liberal™ untuk menegakkan kristenisasi™. Tambahkan kualitas tsuudzon anda dengan menuduh bahwa mereka ingin memecah belah umat agama anda yang merupakan ’singa tertidur’. Walaupun terkesan ge-er karena umat anda nyatanya pemalas dan tidak bisa apa-apa, tiupkan saja tsuudzon itu dengan percaya diri. Kyai-kyai dan pemuka agama anda kebanyakan akan merestui, jangan khawatir! Anda memang tahu bahwa Tuhan tidak akan merestui, tapi silakan lakukan saja justifikasi bahwa Tuhan sebenarnya meridhai tsuudzon anda, sebab anda sedang ‘berjihad’.
.
.
.
Nah, demikianlah hasil perenungan saya, saudara-saudara. Semoga ada manfaatnya, dan menambah kemampuan anda dalam bertsuudzon. Mungkin anda akan bingung memilih antara Tuhan dan manusia-manusia busuk, tapi saya tidak akan bertanggung jawab sampai ke situ.
Wassalam



PERTAMAX
*dilempar sandal oleh Suhu G*
Argh! Tulisan yang sedikit membingungkan saya yang pemahaman istilah Islamnya masih lemah…
Jadi ingat seorang teman yang tinggal di Qatar. Ia malah sangat mengidolakan sistem monarki….
Belakangan (dan memang sejak lama), ada tsuudzon dari ‘kaum-fanatik’ terhadap Tionghoa. Huh…!
Padahal rasanya monarki itu kurang demokratis…
Hmm, iya, itu termasuk ‘tsuudzon wajib’ di kalangan orang berhati keruh…
Bukan kurang lagi, memang sangat tidak demokratis bagi Shan-in.
Mengebiri hak warna negara yang mempunyai kecapakan dan kemampuan menjadi pemimpin untuk menjadi pemimpin negara.
Justifikasi hitam-putih seperti ini yang sangat Shan-in benci. Ini yang membuat Shan-in sempat ‘gerah’, dulu…
Benar sekali. Bubarkan setiap kerajaan di dunia ini. Bentuk parlemen mutlak — kalau raja hanya menjadi simbol, lengserkan sekalian…
Mau saya sobek-sobek™…
Waduh…? Ini mah nggak perlu penggolongan “macam2 tsuudzon” kayak gitu…
Langsung aja bilang, “sebaik-baiknya tsuudzon adalah yang mengikuti otoritas dan mayoritas
sambil membebek buta“.Euh… ada kelemahan besar dari sistem parlementer, terutama kalau keputusan terakhir ditentukan dgn mekanisme voting (e.g. di Eropa atau Amerika).
Kalo generasi mudanya malas berpolitik (e.g. kayak anak2 gaul model sinetron), lebih mudah bagi kaum2 berniat busuk menginfiltrasi ke sistem tersebut. Anak2 pada umumnya malas + nggak punya idealisme; sementara mereka yang dikader dengan twisted-idealism dibentuk supaya aktif berpolitik. Jadi yang ngisi parlemen ya…
Garbage in garbage out, kalo gitu caranya mah.
gyakakakakakaka….!!!
tulisan bagus…tulisan bagus…
@ sora9n
Biar unik, mas. Pakai ‘kasta’
Euh, memang kayaknya saya berlebihan, ya. yang pasti sebaiknya hentikan mengkastakan manusia dengan sistem kerajaan… Terlepas dari handicap yang dimiliki sistem parlementer…
@ joesatch
Huehehehehe… Apa kurang satir, ya?
bingung di awal ndak beda di akhir hahahaha!
menerima semua bentuk tsuudzon!
lha gimana diskripsi melek politik yang seharusnya?
Namanya juga manusia, Pak. Saya juga sering tsuudzon. Buktinya saya tsuudzon dengan menulis tulisan ini. Tulisan ini ‘kan lebih kurang tsuudzon juga
Melek politik ya maksudnya, jangan hanya mencari kesalahan, dan jangan tsuudzon. Kalau bagus ya dipuji, jangan dicari jeleknya, kayaknya begitu…
urrrgghh gambarnya serem, meski boneka modelnya, ga suka aku, tulisannya bagus, baru tahu klo hukun tsuudzon ada lima, kirain balonku doang ada lima… halaaah…
Btw..btw.. klo tsuudzon iku khan berprasangka, klo udah ada buktinya namanya apa mister?
tidak tsuudzon kok, Calupict sudah ngaku sendiri, jadi bukan asal tuduh itu
@ Evy
Kalau sudah ada buktinya, ya tidak salah lagi, Bu. Menjadi halal
@ si kalem
Wah, entry ini ditulis sebelum ada kontroversi itu, lho. Rada nyambung, ya?
@ Mr. Geddoe
Setuju sama Bu Evy; gambarnya agak mature, tuh. Saya aja agak gimanaa gitu pas pertama kali ngeliatnya.
Huahahahaaa….
*peace yah v_(^_^) *
Gambarnya kelewat seram…? Apa diganti saja, ya?
Hohoho, iya, nih, kayaknya dikira entry buat mengomentari masalah trafik. Kena getahnya
jangan lupa!! Tsuudzan sama Komunis™ (Indonesia banget.. nyasar dikit dibilang komunis)…
Daripada nyuudzanin para orang barat™, Amerika™, kafir™, dan Yahudi™.mending nyuudzanin para pedagang dah (no offense). masak sekilo buah mahal banget!!
[kesambet setan jenggot]
Ini tulisan pasti hasil konspirasi barat™, Amerika™, dan Yahudi™ yang kafir™, dibantu dengan kaum liberal™ untuk menegakkan kristenisasi™. *ngelus-elus jenggot nabi sambil ngerutin jidad*
[/kesambet setan jenggot]
Gambarnya mantappps, anjritttt!!! Dapet nemu apa bikin sih ituh?
Eh, ide nya juga keren, dan bener bgt
*berhenti maen game, ikut ngorek2 komen buat inspirasi bikin tulisan*
@ ברתולומאוס
Oo, iya, saya lupa. Ada tsuudzon itu, ya. Itu tsuudzon mubah, tuh *ngelus-ngelus jenggot*…
Tsuudzon pada pedagang? Wah, kalau itu, tsuudzon makruh *ngelus-ngelus jenggot lagi*
@ wadehel
Huahahahaha, dapat nemu, oom
Wah, oom mau nulis satir lagi, nih? Ditunggu…
Jadi akhirnya sekarang familia tsuudzon sudah ada genusnya? Dunia ilmu pengetahuan selayaknya berterima-kasih!
oooooo, wedehel itu termasuk salah satu mode nulis di wp ya, kok punya saya gak ada, ama emang saya yang gaptek ya…
lam knal ya
@ Scrooge McDuck
Jadi kapan hadiah nobel akan diantar ke pintu kamar asrama saya?
@ ndarualqaz
Wah, nggak tahu, pak. Waktu menulis ini saya lagi kerasukan
Sama-sama, salam kenal
Jadi kalau tsuudzon (Kalau di indonesia malah jadi suudzon, parahnya lagi suujon) sesama kepercayaan itu masuk kedalam apa…?
Tergantung situasi dan kondisi, mas
Benar. Apalagi Indonesia kurang memahami perbedaan antara Sosialisme dan Komunisme. Masa orang sosialis dicap komunis? - -a
Parahnya lagi komunisme disamaratakan dengan ateisme…
Kata pak ustadz, tsu-udon (Lah, kok nyambungya ke udon??
) itu dosa lho.
Secara teori memang. Secara praktek, nanti dulu…
That’s right brother…
Komunisme mengamcam kehidupan beragama? Konyol benar.
Mas Empat Sembilan tuh, yang sakit hati komunisme dihujat
Yaa, itu ‘hikmah’-nya… kalau orang percaya sama yang dibilangin orang lain lagi, tanpa mengecek isinya dulu.
Kemaren ada lagi yang bilang, bahwa “teori evolusi menyatakan manusia berasal dari kera”… (o_0)
*duh~!*
Shan-in sendiri juga sakit hati. >
@ sora9n
Hohoho! Konformitas yang di-fuse sama kemalasan berpikir. Plus tsuudzon, voila! Masyarakat nggak mutu
@ Shan-in Lee
Jawaban sama dengan diatas
UPDATE
Menanggapi keluhan Bu Evy dan Mas Sora tentang image yang terlalu gory, sudah saya sensor
Sensornya aneh.
Biarin. ‘Kan berseni
kejem…:P
Apanya, nih? Gambarnya, ya?
wah… itu gambar pake meniru makhluk hidup..
ck..ck..ck.. ga baik tuh.. kalo ada anak kecil semacam saya yang melihat gimana ? hmm.. untung saya suka nonton sinetron.. jadi bisa cepet dewasa..
tambah Tsuudzon Ghoiru Muakkad :p
Wah, disensor nih gambarnya?
Sensornya kok ketawa gitu? Ga sensor burem kayak di tipi ato lainnya.
@ irdix
Hahaha, iya, ya. Eh, tsuudzon apaan lagi tuh?
@ p4ndu_454kura
Sensor ala GITS
mister, kalo soal politik mestinya belajarnya hujat-menghujat doang, lha gimana disumpal bukti nyata di mulut mereka selalu ada saja justifikasi yang nggak masuk akal dan seolah nggak ada habisnya.
Wah, saya nggak tahu, deh, Pak. Sumpah, saya nggak paham politik. Sedih, ya, bukti saja bisa dijustifikasi
Tapi mungkin iya, kalau kondisinya begini, menghujat yang baik mesti dibudayakan…
weleh tambah panjang, “menghujat yang baik?” gimana tuh mister, ada contoh nggak? sekalian belajar, sekalian untuk kecerdasan otak bebal saya
Gimana, ya… Aha, ‘menghujat yang pantas dihujat’!
Assalamualaikum wr wb..
masih boleh comment OOT ndak? he he he
Nggak apa-apa juga sih, saya lagi senang soalnya
Nah mister, gimana kriteria orang-orang yang pantas dihujat? bukankah ini subyektif? gimana kalo generalisasi, seperti koar-koarnya mereka di IPDN, yang selalu mengatakan “kan ndak semua” gimana tuh mister? tapi kita tanpa pandang bulu, sikat habis semuanya!!
Kedua, ma’af jadi mengotori rumah anda mr, kok jadinya monolog, jadi ikutan wak abdulsomad berjenggot!, dilanjut di postingan anda berikutnya
Ya nggak apa-apa Pak. Kalau menurut kita pantas dihujat, ya hujat. Maksud saya, yang nggak pantas itu menghujat hanya karena ikut-ikutan, tanpa tahu apakah yang dihujat itu pantas dihujat apa nggak. Atau menghujat karena mencari sensasi.
Kalau sudah jelad-jelas salah, diam adalah pengkhianatan, bukan?
Tzuudzon Ghoiru muakkad :
Tzuudon pada
bloggerorang yang cari duit lewat internet. :p*kabur*
Kalau itu tergantung, mas. Kalau kita ikut mencari uang sama-sama mereka, jadi tsuudzon haram. Kalau nggak, mungkin sunnah muakkad?
Bagus nich…. Salut untuk Mr Geddoe!
Hohoho, apakah sudah mirip Wadehel?
*dibakar massa*
Huahahaaaaa…
Maaf.. aku tidak bisa menahan senyum melihat logo Warai Otoko (The Laughing Man).
Oh yah..
untuk no. 1, setahuku ada warsh dan hafs, tetapi apakah mereka berbeda atau sama, aku belum tahu.
Hohoho! Warai otoko (itu ya namanya?) adalah metode sensor yang akan saya pergunakan di blog ini!
Eh? Warsh, hafs, apaan tuh mas?

untuk warsh dan hafs, silakan coba cari di google.. Bisa dibilang ‘versi’ tetapi ada juga yang mengatakan itu sekedar cara baca (qira’at) tetapi artinya sama, tetapi ada juga yang bilang, beberapa punya perbedaan…
Seberapa kecil perbedaannya.. aku tak tahu, bukan ahlinya.
Oke, sepertinya saya mesti belajar lagi…
Harap dicatat bahwa saya tidak menjamin anda mendapat ridha Tuhan, sebab Tuhan tidak menyukai tsuudzon sama sekali. –>
berkali-kali saya bolak balik masuk ke artikel ini. Masih memikirkan hadis yang menyatakan Allah mengikuti prasangkaan hambaNya.
Bisa lebih dijelaskan?
Maaf, saya tidak pernah mendengar dalil seperti itu…
Mr.Geddoe yang keren dalam menulis..^_^
Kalau masalah sangka menyangka [sangkaan buruk tentunya], rasanya itu memang bisa dikatakan sebagai penyebab orang bertikai. Satu pihak menyangka begini ttg pihak lainnya, dan juga sebaliknya. Makanya tidak baik kalau berprasangka buruk pada orang.
Tapi, saya pikir, dalam beberapa kasus ada hal yang memang sudah bukan prasangka lagi. Sudah nyata bahwa itu memang terjadi. Tapi ini juga tergantung dari sisi mana orang melihatnya, dan apa yang dipahaminya.
Kita berbaik sangka saja, bahwa orang yang suka berprasangka [terutama yg buruk] itu dikarenakan mereka belum tahu, blm paham. Supaya ktia tidak merasa diri paling benar.
Bagi saya sih, yang penting adalah jika seseorang itu tidak hanya pintar dan hebat dalam berbicara dan mengeluarkan wacana saja, tapi juga bagaimana cara dia berbuat secara nyata untuk kebaikan umat manusia.
wah, nyambung ga ya?….
Prinsip saya ya, berprasangka baik lebih baik dari berprasangka buruk…
Walau saya sendiri mungkin belum sempurna mengamalkannya.
Saya heran mengapa manusia ada yang kejam. Mungkin pertanyaan ini sekaligus keraguan yang nampkanya biasa tetapi apakah kita mampu menjawabnya. Mungkin benar apa yang dilontarkan Blaise Pascal (jadi saya teringat): manusia itu adalah homo absconditus, manusia tersembunyi, aneh. Sebab, ia adalah ciptaan Allah yang memang Deus Absconditus.
Rasa-rasanya klaim manusia yang menganggap diri sebagai makhluk sosial, saya ragukan: jangan-jangan manusia adalah makhluk anti sosial, homo homini lupus, kata Thomas Hobbes, sang materialisme yang sinis atas tindakan manusia kejam yang menurutnya ibarat “mesin” yang tunduk pada insting, naluriah, nafsu membunuh.
Manusia itu memang kayak begitu, homo homini lupus, saling menyerigalai. kalau mereka mau jadi sesuatu, mereka harus mengorbankan orang lain sebagai perbandingan.
Kalau mereka mau jadi orang tampan, tentunya harus menjelek-jelekkan yang lain dulu, supaya ada perbandingan. Begitu pula yang berambisi beriman, bakal hobi mengkafirkan.
Saya setuju dengan komentar no. 63 (dan juga artikelnya ini sangat bagus, insigtfull) Kita, seharusnya jangan tsuu’dzon (berprasangka buruk) tetapi lebih husnu’dzon (berprasangka baik). Mengapa? karena sifat tsuu’dzonlah yang melahirkan kebencian, kemarahan, bahkan tindakan kekerasan dan pembunuhan. Dalam filsafat India, ditekankan: satyagrahi: jangan benci, jangan suka kekerasan. Yang penting adalah “ahimsa” tanpa kekerasan. Sebab, kekerasan tetap kekerasan. Tetapi perlu kita refleksikan kata-kata Mahatma Gandhi: jika mata ganti mata, maka seluruh dunia akan menjadi buta.
Terima kasih, Sdr. Geddoe atas buah pikiran yang mencerahkanku.
Semoga banyak orang Indonesia yang membaca artikel ini sehingga semakin banyak dari kita yang berani menunjukkan dirinya sebagai orang yang ber-Tuhan dan bukan hanya sebagai orang beragama tanpa ber-Tuhan.
Ha, “Were it an eye for an eye, we’d all be blind”? Itu Gandhi, ya? Saya baru tahu… Saya dengarnya malah dari lagu Audioslave…
Ah, makasih, mas. Tapi kayaknya terlalu bombastis. Pengalaman saya, yang mengkritik konformitas bakal selalu dihujat…;)
Trekbeknya lumayan juga, ya. Apa perlu mendaftarkan hak cipta tsuudzon haram, sunnah, dkk, ya?
*nyampah*
Tsuudzon…?
Tsuudzon tuh apa yah? Ooh barangkali maksudnya Su’udzon.
Nulis Su’udzon aja belum gableg udah mau bahas tentang Su’udzon. Belajar dulu ilmu agamanya kang! Jangan asal cuap, bisa bahaya buat diri Anda sendiri. Bukan saya yang mengancam loh. Yang di atas sana di Arsy yang mengancam. Kalaupun saya mengancam itu cuma ancaman kosong, tidak akan terjadi. Maklum manusia. Tapi kalau yang diatas pasti terjadi.
Wah, kalau yang ada di Arsy itu mengancam-ancam saya gara-gara nulis begini doang mah, saya nggak merasa wajib menyembah penguasa sampah kayak beliau
Kalau, lho…
Btw, makasih komennya yang benar-benar Islami dan mencerahkan. Semoga anda masuk surga tanpa hisab
“Wah, kalau yang ada di Arsy itu mengancam-ancam saya gara-gara nulis begini doang mah, saya nggak merasa wajib menyembah penguasa sampah kayak beliau
Kalau, lho…
Btw, makasih komennya yang benar-benar Islami dan mencerahkan. Semoga anda masuk surga tanpa hisab :)”
Inilah komentar orang yang ilmunya sedikit tapi sok pinter.
Saya tidak mengatakan saya suci dan tidak pula saya merasa suci.
Poin-poin yang Anda tuliskan diatas, khususnya nomor 5, Anda dapat dari mana? Apakah Anda mendapatkannya dari sumber hukum Islam yang shahih? Atau hanya pendapat pribadi belaka? Jikalau itu cuma pendapat pribadi Anda saja, maka saya katakan hati-hati dalam bercuap. Salah-salah Anda bisa termasuk orang yang menyesatkan orang lain. Dan ancamannya nyata. Masih tidak sudi menyembah Beliau?
Beliau yang di atas tidak butuh Anda! Satu milyar, bahkan seluruh penghuni Bumi tidak mau menyembahNya pun, kekuasaanNya tidak berkurang sedikitpun tidak pula bertambah. KekuasaaNya mutlak.
Kita lah yang membutuhkan Beliau. Jadi ikutilah aturan-aturannya. Dimana kita bisa mendapatkan aturan-aturannya? Di Al Qur’an dan As Sunnah. Semuanya sudah ada disana. Ikuti. Insya4JJ1 kita semua akan selamat dan bertemu denganNya dalam keadaan diridhoi.
Sudah pernah baca Al Qur’an? Kalau sudah, mengertikah Anda dengan artinya? Kalau mengerti, fahamkah Anda dengan maknanya? Kalau belum, ayo mari sama-sama kita mengkaji Al Qur’an!
terlalu bercanda menurutku.
su’udzon itu masalah sulit. sulit dipahami.
kamu membahas su’udzon dan langsung mempraktekkannya.
——-
Tapi aku percaya kok, “Tuhan mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”
@ xcrest
Terima kasih banyak
Jadinya sekarang ceritanya anda merestui kebiasaan umat mengutuk-ngutuk umat lain? Merestui kebiasaan umat berprasangka buruk nggak jelas ke umat lain? Kalau begitu, ya silakan. Hanya saja kalau begitu saya tidak merasa perlu lagi menanggapi pendapat anda
Justru karena saya setia menyembah Beliau lah, saya menulis tulisan ini. Untuk mengkritik mereka yang menyembah agama, bukan Tuhan
Makanya. Umat juga nggak usah susah-susah misuh-misuh karena Tuhan. Wong Tuhannya sendiri anteng-anteng saja. Kekuasaan-Nya nggak akan berkurang hanya karena (konon) ‘dimusuhi’ oleh ‘musuh-musuh Islam’.
Lhaa, kalau menurut saya sih tulisan di atas makna tersiratnya sangat sangat sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang anda gadang-gadangkan itu
Mari. Tapi kalau bisa jangan pakai terjemahan Depag, ya
@ Bhanz
Tentu. Jangan lupa bahwa tulisan ini bercorak ironi
1. “Jadinya sekarang ceritanya anda merestui kebiasaan umat mengutuk-ngutuk umat lain? Merestui kebiasaan umat berprasangka buruk nggak jelas ke umat lain? Kalau begitu, ya silakan. Hanya saja kalau begitu saya tidak merasa perlu lagi menanggapi pendapat anda :mrgreen:”
Saya tidak sedang membahas itu. Bisa Anda katakan darimana sumbernya tulisan diatas! Pendapat pribadi atau ada sumbernya? Itu saja jawab dulu kalau Anda punya nyali. Mengerti, Dul*? Kalau Anda tidak mengerti pertanyaan saya diatas itu, maka tidak salah saya menyebut Anda kurang ilmunya.
* Jangan tersinggung dulu, maksud saya Abdul (hamba).
2. “Justru karena saya setia menyembah Beliau lah, saya menulis tulisan ini. Untuk mengkritik mereka yang menyembah agama, bukan Tuhan :P”
Kalau begitu Anda mengerti konsep menyembah? Apakah yang Anda maksud dengan menyembah itu ’sembah’, asal kata bahasa Jawa Kuno? Atau yang Anda maksud itu ‘ibadah’, asal kata ‘abid’ dari bahas Arab? Jawab saja dulu pertanyaan ini. Karena dari jawaban Anda, saya dapat memastikan dimana posisi Anda.
3. “Makanya. Umat juga nggak usah susah-susah misuh-misuh karena Tuhan. Wong Tuhannya sendiri anteng-anteng saja. Kekuasaan-Nya nggak akan berkurang hanya karena (konon) ‘dimusuhi’ oleh ‘musuh-musuh Islam’.”
Jawaban pernyataan ini kembali lagi kepada pemahaman Anda tentang menyembah tadi. Jadi akan saya tunda seperti halnya poin kedua diatas.
4. “Mari. Tapi kalau bisa jangan pakai terjemahan Depag, ya :lol:”
Ahh! Dari pernyataan Anda diatas, saya dapat menarik kesimpulan bahwa Anda belum mengerti arti Al Qur’an (jangan pakai terjemahan). Yang saya maksud dengan Anda mengerti artinya itu bukan dengan terjemahan, tetapi Anda bisa berbicara dalam bahasa Arab. Mungkin terkesan mengulang-ngulang, tapi semakin banyak Anda berbicara semakin tampak kekurangan ilmu Anda. Maaf jika Anda tersinggung.
* Topik baru.
Anda tentu pernah bersyahadat. Mungkin Anda mengulangnya sebanyak sembilan kali sehari semalam (jika shalat Anda tidak terlewat). Tapi apakah Anda paham, sekali lagi apakah Anda paham apa makna kalimat tersebut?
Terima kasih.
Mas numpang trekbek ya!
@ xcrest
1. Wah, jadinya yang di atas itu benar atau salah? Kalau benar, ya jadinya benar, entah itu cuma celotehan bajingan seperti saya atau kutipan ulama besar yang dipuja-puja. Begitu juga, kalau yang diatas salah, ya jadinya salah. Untuk apa dalil?
Btw, sumbernya ada di sekitar anda, kok. Di Qur’an juga ada. Qur’an itu mengajarkan kasih, bukan? Berarti senada dengan tulisan saya di atas
2/3. Kalau saya pakai ‘worship’ dari bahasa Inggris, gimana?
4. Huhuhu, mas/mbak ini baru membaca satu model tafsiran saja, ya?
Terjemahan Depag hanya salah satu saja dari pelbagai macam penafsiran. Ada yang pakai metode literal, metafor, ada juga yang pakai pendekatan Aramaik. Segumpal tumpukan kertas yang anda sebut Al-Qur’an itu sudah diterjemahkan menjadi berbagai makna yang berbeda…
—
Btw anda ini pernah dengan fallacy nggak, sih?
Komentar anda sih memang panjang-panjang, tapi isinya kok cuma ad hominem doang? Cuma cuap-cuap ‘udah baca qur’an belum? udah paham isinya belum?’, gitu-gitu doang. Woi, dunia, kalau tulisan di atas itu benar, ya benar, nggak perlu pakai meneliti yang menulisnya siapa; nggak usah pusing apa saya ini nabi, Tuhan, pendeta, godzilla, kucing buduk, kutu bangsat, atau raksasa bermata satu
@ eucalyptica
Tentu, silakan, silakan.
Wah wah semakin TOLOL saja jawaban Anda.
Kalau yang diatas itu benar, maka selamat buat Anda. Sekalipun Anda seorang bajingan sekalipun.
Kalau yang diatas itu salah, maka celaka untuk Anda. Sekalipun Anda ulama besar sekalipun.
Sederhana. Itu yang saya tanyakan kepada Anda. Sumbernya dari mana? Susah sekali menjawabnya. Kesana-kemari tidak karuan.
Worship? He he he. T O L O L. Percuma di lanjutkan diskusi ini.
Ternyata Anda menggunakan tafsiran-tafsiran yang lain. Sekarang saya tahu dimana posisi Anda.
——————————————————————————————–
“Btw anda ini pernah dengar fallacy nggak, sih?”
Anda mau adu ilmu filsafat dengan saya? Atau Anda merasa Anda seorang filsuf? Jangan sok pinter kalau sejatinya TOLOL.
Seperti saya katakan diatas, percuma dilanjutkan. This is going nowhere.
ps : jalan filsafat hanya membawa pada dua tujuan, …
silahkan lanjutkan kalau Anda merasa jago berfilsafat.
xcrest:::
si geddoe ini memang sesat, mas! dia kafir! udah, tinggalin aja…
dia tolol, kok
Foltaire:::
kamu kafir kan, ged? hahahahahahahaha
@ xcrest
Terima kasih orang jenius seperti anda sudi mampir ke kuil orang T O L O L seperti saya, semoga anda masuk surga tanpa hisab
Yah, terserah anda, tentunya
Btw saya kok semakin yakin kalau anda ini nggak paham fallacy
@ Shelling Ford
Ingat, mas, huruf kapital semua, dan ada spasinya per karakter 
Iya, mas. Kalau lewat parameter orang bijak seperti mas/mbak xcrest, saya ini memang kafir. Dan T O LO L
@geddoe
Sabar ged, tolol atau nggaknya sesorang kelihatan ko dari cara dia menulis komen
*isap rokok rasa stroberi dalam-dalam*
filsafat…fallacy…
filsafa…fallac…
filsaf…falla…
filsa..fall…
fils…fal…
fil…fa…
fi…f…
f…f…
eeeeugh…yang mirip cuma f-nya. fallacy itu filsafat, ya? oh iya, filosofi. merasa filsuf? apalagi hubungannya, neeh?
ilfal…ilfil…
beuh…bingung…
tanpa merasa filsuf, jalan apapun menurut saya juga cuma membawa pada 2 tujuan: ’surga’ atawa ‘neraka’, ohohohohoho…
Ssst, kita ngerokok aja sama-sama, damai…
ah, dajrumsuper seteah lunch memang enak…
@geddoe
serius ini, rokok rasa strawberry kuwi sejatino opo ged???
*penasaran mode*
dj mix rasa strawberry…
sayang di circle k jogja skrg udah ga jualan
ooo…
@ Shelling Ford
Silahken…
@ Abu Ganteng Al Narsisi
Maksudnya? Memang ada tho, yang rasa stroberi?
ada, dunk…ga gawul ah, ente
Udah, kok jadi misuh-misuh soal rokok?
mas gedd dan mas/mbak xcrest…koq battlenya udahan..?? padahal seru…
btw, nyang menang siapa tuh..?? wakaka..
Ya udahlah, mas/mbak
*ngisap rokok rasa stroberi lagi*
Kamu akan terbakar dan mengalami siksa kubur yang mengerikan dan begitu keji.
Wajahmu akan terbenan lumpur serta tubuhmu akan di tusuk tusuk , sehingga engkau akan menjadi sate kambing nyang nikmat apalagi di tambah acar bawang dan kerupuk udang ! nyam nyam … kok jadi laper saya ?
Tulisan yang bagus … bagusssssss TOP !!!
aku bingung….
perasaan suudzon itu nggak boleh v kenapa ada penggolongan segala
apalagi beberapa suudzon diperbolehkan, apa hal itu sama dengan husnuzan?
n aku nggak ngerti yang namanya tsuuzon sunnah n wajib, bukannya apa,, so’ waspada…
duch, bikin pusing aja!