Ternyata, Neraka Lebih Menarik Daripada Surga?

Suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh isi kepala saya sendiri. Pertanyaannya cukup bombastis; mana yang lebih menarik, neraka atau surga?

lalala... surga... neraka...
“Tentu, saya ingin ke surga.
Tapi, keinginan untuk pergi ke surga itu jauh lebih kecil,
dibandingkan dengan keinginan untuk menghindari neraka.”

Tentunya, pikiran cepat yang terlintas adalah surga. Pikiran itu terlintas begitu cepat — seakan-akan jawaban bahwa ‘surga itu lebih menarik daripada neraka,’ adalah sebuah aksiom sederhana. Bunyinya ya begitu; surga lebih menarik daripada neraka.

Apa benar?

Mungkin tidak.

Pada dasarnya, hal yang ‘menarik’ adalah hal yang lebih sering kita berikan perhatian. Pikiran kita sering didedikasikan supaya tertuju ke sana. Dan, konsekuensinya, telinga kita menjadi lebih sensitif apabila namanya disebutkan, serta intuisi kita menjadi lebih aktif menghubungkannya dengan peristiwa-peristiwa lain.

Kalau caranya seperti itu, jujur saja, neraka lebih menarik buat saya.

Sebab, pikiran saya jauh lebih sering digunakan untuk memikirkan neraka, ketimbang surga. Jauh lebih sering. Karena kenyataannya, saya tidak terlalu sering berkhayal tentang kenikmatan yang ditawarkan oleh surga — sebaliknya, saya sering sekali merasa cemas tentang siksaan yang kerap kali dipromosikan oleh neraka. Ini terkadang membuat saya berpikir. Barangkali, motivasi terbesar saya untuk menginginkan surga adalah semata-mata karena surga adalah satu-satunya alternatif neraka. Karena, kalau tidak mau ditendang ke neraka, satu-satunya jalan adalah meraih surga.

Surga sebagai pelarian

Coba kita buat satu alternatif lain selain surga dan neraka, barangkali penghapusan eksistensi? Ya, keyakinan ini dianut oleh beberapa aliran kepercayaan, seperti Jehovah’s Witnesses pada konteks Kristiani. Bagaimana kalau seandainya doktrin yang disuapkan ke mulut saya adalah yang seperti itu? Alternatifnya adalah masuk surga dan bahagia selamanya atau hilang sama sekali. Kalau sudah begitu, barangkali saya akan berbuat seenaknya di dunia ini. Sebab dosa itu nikmat. Tidak masuk surga pun tidak apa. Yang penting, tidak masuk neraka :)

Jadi, fungsi surga itu terkadang hanya sebagai pelarian supaya tidak nyungsep ke dalam api neraka. ‘Kebetulan’, surga itu menyediakan kenikmatan yang tiada tara. Padahal sebenarnya, kalaupun surga itu menyerupai dunia, tidak apa. Lebih baik bukan, ketimbang dipanggang di neraka? Hal ini menjadikan kenikmatan surga itu hanya sebagai ‘bonus’ saja. Sebab fungsi utama surga bagi banyak orang mungkin hanya sebagai alat supaya bisa menghindari siksaan. Sebagai suaka.

Surga dan neraka: Analogi duniawi

Apa konsep seperti ini bisa diterima? Bisa saja, misalnya dibawa ke konteks berorganisasi. Terdapat contoh sederhana; yaitu dalam bersekolah/berkuliah. Tapi mari kita ambil contoh rumit; bernegara. Pada keduanya, konsep ‘neraka’ juga berhasil unggul dibandingkan konsep ‘surga’.

Analoginya, berapa orang dari kita yang tertarik mendapatkan medali-medali penghargaan sebagai warga negara budiman? Kalaupun niat itu ada, tentunya ketertarikan itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan rasa takut menjadi buronan negara :lol:

Hal yang bisa disimpulkan sejauh ini, bahwa manusia cenderung lebih menghindari penderitaan, daripada meraih kebahagiaan. Mungkit sifatnya duniawi, tapi juga manusiawi — dan itu bakal terus dipakai sampai ke akhirat kelak.

Rahasia umum

Kebanyakan orang sudah menyadari kecenderungan ini. Gejala-gejalanya sudah tampak dari jauh-jauh hari. Para imam dan ustadz, atau pemuka agama secara keseluruhan, kebanyakan lebih tertarik mendakwahkan sekarung laknat — liang kubur yang terus merapat, mayat yang terlipat, serta jasad dengan belatung yang menggeliat. Dahsyat.

Umat pun terpana dibuatnya. Bayangan neraka pun (menurut saya) tervisualisasi melebihi kadar keperluannya. Imbasnya, penggambaran neraka (dan surga) pun menjadi lebih ‘duniawi’. Kesengsaraan neraka pun entah sejak kapan divisualisasikan sebagai siksaan a la dunia (dan kenikmatan surga pun menjadi kenikmatan a la dunia). Padahal, semuanya masih abstrak. Apa penyebabnya? Ketakutan. Paranoia.

Wajar, siapa yang mau dilaknat di neraka? Apalagi selama-lamanya. Bayangkan. Selama-lamanya. Penderitaan yang abadi.

Paradoks manusia

Sebenarnya kalau dipikirkan lebih jauh, mungkin tidak satupun dari kita yang pantas ditraktir selamanya menikmati surga. Tidak ada. Kuncinya adalah ‘selamanya’ itu. Hadiah tanpa batas hanya pantas diberikan pada amalan tanpa batas. Amalan tanpa batas hanya mungkin diwujudkan dengan waktu tanpa batas. Kesimpulannya, hanya orang yang hidup selamanya dan terus berbuat baik yang pantas dihadiahkan surga. Tapi, apabila dia hidup selamanya dan terus berbuat baik, kapan dia mesti dihadiahkan surga? Satu-satunya opsi yang memungkinkan adalah terus berbuat baik sambil mengamalkan surga. Tapi paradoks ini terus berlanjut — berusaha berbuat baik sebagai bentuk dari usaha, seharusnya tidak ada di surga.

Dan sebaliknya, tidak satupun dari kita yang pantas dihukum selamanya di neraka. Hukuman tanpa batas hanya pantas dijatuhkan atas dosa tanpa batas. Dosa tanpa batas hanya mungkin dilakukan dengan waktu tanpa batas. Lalu, tentunya hanya orang yang hidup selamanya yang pantas dihukum selamanya. Dan tidak mungkin, orang melakukan dosa (yang kebanyakan nikmat tersebut) sambil disiksa di neraka.

Pada saat seperti inilah, pandangan apa yang diambil tergantung pada pandangan kita pada yang Maha Penguasa sendiri. Ada dua atribut yang berperan di sini; atribut-Nya sebagai Maha Pengasih (dan Maha Pemaaf) serta sebagai Maha Adil. Segala bentuk hukuman dari Allah adalah refleksi dari sifat Maha Adil tersebut. Allah tidak kejam. Hukuman adalah konsekuensi dari keadilan. Lalu?

Berarti, suatu ketika pahala yang diperbuat penghuni surga akan impas dibayar Allah melalui jamuannya di surga.
Dan, suatu ketika dosa yang diperbuat penghuni neraka akan terbayar melalui siksaan yang diterimanya.

Sifat Maha Adil-Nya pun terpenuhi.

Setelah itu? Terserah pandangan anda tentang-Nya. Kalau menurut saya, saat inilah sifat Maha Pengasih-Nya akan berperan ;) Semuanya tergantung anda mau melihat Tuhan anda sebagai diktator megalomaniak yang punya kekuasaan tiada batas, atau sebagai zat Maha Segala-galanya yang mengandung segala kebaikan, tanpa batas.

Kalau saya boleh memilih

Katakanlah besok amalan saya tidak cukup dan saya sudah hendak dicemplungkan malaikat ke arah neraka. Kalau saya diperbolehkan untuk memilih, saya lebih memilih buat dihapus saja. Tuhan bisa membuat saya, tentu juga bisa menghapus selamanya. Hapus saja. Shift+delete, enter. Lenyap tanpa sisa. Kalau sudah dihadapkan pada yang seperti itu, saya sudah tidak peduli dengan yang namanya surga. Kalau saya ternyata hendak dilempar ke neraka selama-lamanya, kemungkinan saya tidak akan minta surga lagi. Persetan. Hapus saja saya, hilangkan. Saya lebih suka begitu.

* * *

Saya akui, saya lebih tertarik pada neraka dari pada surga. Saya lebih sering memikirkan neraka, dan berusaha menghindarinya, ketimbang memikirkan dan mendambakan surga. Tertarik tidak berarti menginginkan bukan? Analoginya barangkali aktivis wanita yang tertarik pada masalah kekerasan rumah tangga… Bukan berarti dia menyukai perbuatan bejat tersebut.

Jadi, begini. Saya ingin masuk surga. Ingin sekali. Tapi keinginan itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan keinginan saya untuk menghindari neraka. Jadi, kalau saya tidak akan dimasukkan ke surga, lebih baik hilangkan saja. Apa sulitnya menghilangkan sebuah eksistensi?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Catatan tidak penting:
Come about, I suppose the girl that represents hell in the above picture was a lot hotter than the one that represents heaven… :mrgreen:
Was it the fire background or her… The latter, perhaps :oops:

In God We Trust. RosenQueen, company.

164 thoughts on “Ternyata, Neraka Lebih Menarik Daripada Surga?

  1. Kurang ajar. Saya nunggu reply dengan sabar, yang datang malah pertamax. Ini bukan blog seleb :lol:

    Hohoho, eskatologi, eskatologi… :mrgreen:

  2. Katakanlah besok amalan saya tidak cukup dan saya sudah hendak dicemplungkan malaikat ke arah neraka. Kalau saya diperbolehkan untuk memilih, saya lebih memilih buat dihapus saja. Tuhan bisa membuat saya, tentu juga bisa menghapus selamanya. Hapus saja. Shift+delete, enter. Lenyap tanpa sisa. Kalau sudah dihadapkan pada yang seperti itu, saya sudah tidak peduli dengan yang namanya surga. Kalau saya ternyata hendak dilempar ke neraka selama-lamanya, kemungkinan saya tidak akan minta surga lagi. Persetan. Hapus saja saya, hilangkan. Saya lebih suka begitu.

    Jadi kita bisa menepis idiom orang – orang “Ke Surga aku tak mampu, ke Neraka aku tak mau.” :D

  3. Pingback: Dilema 'Pertamax' dan orang yang mengaku bukan seleb « Chaos Region

  4. Hukuman tanpa batas hanya pantas dijatuhkan atas dosa tanpa batas. Dosa tanpa batas hanya mungkin dilakukan dengan waktu tanpa batas.

    Kalau ‘dosa jariah’ gimana? Cukup dilakukan sekali, dan eksesnya nggak habis-habis sampai lama banget. :)

    Contohnya ya, ilmu yang salah/buruk, sudut pandang yang picik, dan pengajaran dogmatik sampai ke anak cucu. Malah, kalau beruntung, ‘dosa’ itu akibatnya nggak bakal habis sampai kiamat (e.g. dalam Kristen dosa asal oleh nabi Adam, walaupun dunia muslim memandangnya berbeda).

    Berarti, suatu ketika pahala yang diperbuat penghuni surga akan impas dibayar Allah melalui jamuannya di surga.
    Dan, suatu ketika dosa yang diperbuat penghuni neraka akan terbayar melalui siksaan yang diterimanya.

    Sifat Maha Adil-Nya pun terpenuhi.

    Definisi adil (menurut PPKn) kan, “meletakkan sesuatu pada tempatnya”. Dan itu bisa aja dipandang seperti begini:

    1) manusia sudah diingatkan ada neraka dan surga
    2) manusia diberi aturan
    3) jangan salahkan Saya (maksudnya, Tuhan) kalau kamu Saya kirim ke neraka. Lha, sudah saya ingatkan kok??

    Karena kita sudah diberi akal sebagai sarana memilih, dan sudah diingatkan sebelumnya, maka mengirim ke neraka selamanya bisa saja (terkesan) adil untuk dilakukan Tuhan.

    (doh, Puritan banget idenya euy… :P )

    Ps: Yang di atas itu sekadar sudut pandang lain soal keadilan Tuhan dan Manusia, lho. ;)

    Katakanlah besok amalan saya tidak cukup dan saya sudah hendak dicemplungkan malaikat ke arah neraka. Kalau saya diperbolehkan untuk memilih, saya lebih memilih buat dihapus saja.

    Hehehe… tahu nggak, bahwa hal itu sebetulnya -agak- mirip dengan meminta diri dijadikan malaikat sejak lahir?

    Malaikat sudah pasti masuk surga, tapi tidak bisa menikmatinya (karena hanya punya akal tetapi tidak punya nafsu). Biasa-biasa saja tuh di surga… menurut saya lho.

    Minta dihapus, berarti mengharapkan sesuatu yang -blass- kosong aja di akhirat. Enak enggak, sakit juga enggak. Kayaknya mirip? :P

    Btw, apa iya Tuhan mau ‘menghapus’ model gitu? Dia kayaknya tidak melakukan sesuatu dengan sia-sia deh. Apa gunanya diciptakan cuma buat dihapus lagi, tanpa akibat dan manfaat, pada akhirnya? :roll:

  5. Kelupaan,

    Come about, I suppose the girl that represents hell in the above picture was a lot hotter than the one that represents heaven…

    Masa sih? Sama aja.. nggak ada yang cakep atau lebih cakep ah… :mrgreen:

    *kabur*

  6. Geddoe sir, boleh tukeran link ga?
    “Let our mercy as deep as feitas and our authority as powerfull as the sun be revealed to the entire world”

  7. Penghapusan seperti itu sama saja dengan bilangan NOL yang berdiri sendiri…NOl (yg berdiri sendiri) itu hampa dan tidak bernilai…

  8. Walah, ternyata subbagian soal paradoks manusia dan teori penghapusannya lebih laris daripada entry awalnya :?

    Eskatologi selalu menarik, btw :)

    @ sora9n

    Kalau ‘dosa jariah’ gimana?

    Masalahnya, dosa se’jariah’ apapun, tidak mungkin sampai ke pada poin di mana dosa tersebut nilainya jadi infinit. Dia lalu boleh saja dihukum jutaan, milyaran, atau entah-sepuluh-pangkat-berapa tahun di neraka, tapi lama kelamaan, pasti dosanya akan terbayar. Hukumannya, seharusnya, tidak akan infinit.

    Definisi adil (menurut PPKn) kan, “meletakkan sesuatu pada tempatnya”

    Peletakan sesuatu pada tempatnya — ‘Tempat’ itu sendiri pasti dilandaskan atas satu asas baku; yaitu bahwa setiap orang akan menerima balasan sesuai perbuatannya. Yang saya pikirkan sekarang adalah hukuman tidak terbatas ini. Dari segi ‘Maha Adil’ mungkin saja pandangan ini bisa ditolak (walaupun bagi saya menghukum orang selamanya tidak akan pernah bisa adil), namun dari segi ‘Maha Pengasih’, ini jelas tidak sesuai.

    Hehehe… tahu nggak, bahwa hal itu sebetulnya -agak- mirip dengan meminta diri dijadikan malaikat sejak lahir?

    Malaikat sudah pasti masuk surga, tapi tidak bisa menikmatinya (karena hanya punya akal tetapi tidak punya nafsu). Biasa-biasa saja tuh di surga… menurut saya lho.

    Saya tidak merasa itu mirip, sih, yang jelas itu lebih adil.

    Hmm, katakanlah saya mengatakan ‘iya’? Lha, dari manusia ke malaikat bukankah downgrade — semestinya nggak sekurang ajar itu…? :mrgreen:

    Btw, apa iya Tuhan mau ‘menghapus’ model gitu? Dia kayaknya tidak melakukan sesuatu dengan sia-sia deh. Apa gunanya diciptakan cuma buat dihapus lagi, tanpa akibat dan manfaat, pada akhirnya? :roll:

    Lha, memang penciptaan kita pada hakikatnya useless, kok. Sebab, kita tidak mungkin mempengaruhi Tuhan sedikitpun bukan? Justru itu menurut pandangan saya lebih ‘Tuhan’ lagi, ketimbang memberi hukuman secara infinit… :?

    Masa sih? Sama aja.. nggak ada yang cakep atau lebih cakep ah… :mrgreen:

    Sialan, yang kiri cakep gitu kok… :oops:
    Yang kanan juga sih :oops:

    @ p4ndu_454kura

    Jika surga dan neraka tak pernah ada
    Masihkah kau sujud kepada-Nya?

    Pertanyaan yang sangat besar ;)

    Geddoe sir, boleh tukeran link ga?
    “Let our mercy as deep as feitas and our authority as powerfull as the sun be revealed to the entire world”

    Maksudnya tukaran link…? *bodoh, nih, saya* :(

    @ deKing
    Lha daripada disate di neraka selama-lamanya mendingan nggak ada… :P

  9. Pantas dulu pernah ngajak ngomong soal sorga dan neraka. Btw, eniwei, buswei, masalah neraka dan sorga emang pelik dan sampai sekarang g begitu jelas. Yang penting usaha deh; setidaknya biar dapet ‘sorga’ dunia. Urusan akhirat kan who knows juga.

    Shhht, tukean link itu maksudnya kamu pasang link ke blog dia di blogroll dan juga sebaliknya. Begitu. Btw, banner jangan lupa.

  10. Surga dan neraka ‘kan masalah ghaib, jadi kalau kita nggak diberikan penjelasan yang benar-benar memuaskan, ya wajar.

    Mirip-mirip main game, endingnya nggak dikasih tahu :P

    Soal tukaran link, ya siapa tahu ada makna lainnya… :roll:

  11. Soal tukaran link, ya siapa tahu ada makna lainnya… :roll:

    Kamu ngomong kayak gitu kok saya jadi ngeri.

  12. Hmm, katakanlah saya mengatakan ‘iya’? Lha, dari manusia ke malaikat bukankah downgrade — semestinya nggak sekurang ajar itu…? :mrgreen:

    Lah, lebih hebat mana, makhluk yang harus berjuang untuk survive dan berhasil, daripada makhluk yang langsung dijamin masuk surga? ;)

    Lha, memang penciptaan kita pada hakikatnya useless, kok. Sebab, kita tidak mungkin mempengaruhi Tuhan sedikitpun bukan? Justru itu menurut pandangan saya lebih ‘Tuhan’ lagi, ketimbang memberi hukuman secara infinit… :?

    Iya, betul. Tapi memangnya Tuhan setidakbertanggungjawab itu, menciptakan manusia cuma

  13. Sori, kepotong (submit-nya kepencet :P ). Lanjutannya:

    Iya, betul. Tapi memangnya Tuhan setidakbertanggungjawab itu? Ibaratnya, kita disuruh daftar tes TOEFL buat masuk pascasarjana (umpamanya), terus karena hasilnya jelek, kita minta UPT Bahasa membatalkan hasil tes tersebut? :???:

    Kayaknya agak kurang bertanggungjawab, untuk ukuran Tuhan yang selalu bertindak dengan ukuran… :roll:

  14. Btw, soal ide utamanya ya… memang sih ‘menghindari neraka’ itu lebih penting daripada ‘masuk surga’. Kayak anak SMA mau ujian nasional; yang paling penting lulus dulu. Habis itu, entah SPMB atau beasiswa keluar, dorongannya pasti lebih rendah daripada pas drive buat lulus UN.

  15. Eh, sori… bagian yang ini salah nanggepin:

    Hmm, katakanlah saya mengatakan ‘iya’? Lha, dari manusia ke malaikat bukankah downgrade — semestinya nggak sekurang ajar itu…? :mrgreen:

    Kan cuma menyatakan sekilas miripnya doang. Kalau di surga rasanya plain, apa jauh bedanya dengan betul2 dihapus?

    Kecuali mungkin karena malaikat masih bisa menggunakan akal di surga, sementara kalau dihapus kita betul2 kehilangan akal + nafsu. :???:

  16. @ p4ndu_454kura
    Kamu™ diam :mrgreen:

    sora9n
    Oalah, mborong komen, mas Sora? :)

    Lah, lebih hebat mana, makhluk yang harus berjuang untuk survive dan berhasil, daripada makhluk yang langsung dijamin masuk surga? ;)

    Hmm, tapi bukankah malaikat disuruh ‘bersujud’ pada Adam? ;)
    Derajat manusia, katanya sih lebih tinggi.

    Iya, betul. Tapi memangnya Tuhan setidakbertanggungjawab itu? Ibaratnya, kita disuruh daftar tes TOEFL buat masuk pascasarjana (umpamanya), terus karena hasilnya jelek, kita minta UPT Bahasa membatalkan hasil tes tersebut? :?

    TOEFL bisa dicoba lagi dong, tapi hidup nggak. Btw deletion ini seharusnya cuma berlaku buat hukuman di neraka selamanya, lho. Bukan yang temporary.

    Btw, soal ide utamanya ya… memang sih ‘menghindari neraka’ itu lebih penting daripada ‘masuk surga’. Kayak anak SMA mau ujian nasional; yang paling penting lulus dulu. Habis itu, entah SPMB atau beasiswa keluar, dorongannya pasti lebih rendah daripada pas drive buat lulus UN.

    Aha, akhirnya poin utamanya ditanggapi :mrgreen:

    Kayaknya masalah deletion ini justru mesti dibikin topik baru, ya? :roll:

    Kan cuma menyatakan sekilas miripnya doang. Kalau di surga rasanya plain, apa jauh bedanya dengan betul2 dihapus?

    Hmm, itu bisa jadi alternatif juga. Daripada dihapus secara utuh, dijadikan ‘malaikat’ saja? Tidak merasa sakit, tidak merasa apa-apa, hanya menyembah Allah saja sepanjang masa? Boleh juga, dengan begitu nggak sia-sia, bukankah makhluk memang diciptakan buat menyembah? ;)

    Setidaknya lebih baik daripada digoreng selamanya di neraka :mrgreen:

  17. TOEFL bisa dicoba lagi dong, tapi hidup nggak. Btw deletion ini seharusnya cuma berlaku buat hukuman di neraka selamanya, lho. Bukan yang temporary.

    Kalau tak salah, memang orang muslim (kecuali untuk yang menduakan-Nya :D ) hanya sekedar ‘ngontrak, bukan ‘beli rumah” di sana. :D

  18. Yup, Manusia yang Islam memang cuma “numpang mandi” di neraka….

    Bener juga sih kata seseorang, life is pointless. Kalau udah enak di Surga, terus kehidupan (atau kematian) jadi monoton donk?? hehe…. bozan…..

  19. @ Death Berry
    Uh, ini bukan masalah muslim apa nggak, sih. Kalau muslim gitu ya syukur. Tapi tetap saja rasanya nggak adil kalau ada yang dipanggang selamanya di neraka :roll:

    @ ברתולומאוס
    Memang, tapi kalau itu sih rahasia Tuhan. Bukan urusan kita lagi.

  20. tapi kalo aku, jujur, aku lebih sering mengkhayalkan kenikmatan surga daripada siksaan di neraka. mungkin gara2 keinginan menikmati tubuh perawan sepuasnya…yang belum bisa kunikmati di dunia nyata :P

  21. Menurutku dalam berbuat kita ga usah mikirin bakal dapet pahala supaya bisa beli ticket ke surga, trus menghindari dosa supaya ga nyebur neraka, tiap hari ngitung2 emangnya berdagang sama Allah? Aku lebih berprinsip melakukan segalanya karena aku mencintai Allah, kalaupun Allah masih beranggapan aku ga pantes di surga karena dalam mencintai itu aku tidak sempurna ya maklum aku manusia penuh cacat dankurang meski sudah berusaha pake otak, ya sudahlah… aku ikhlas.. dan tetap mencintaiNya. BTW mister kecil ulasannya dalem juga, aku banyak belajar dr mister, cuman gamabre emang kekanakan banget sih hehehehe… dimaklumin.

  22. @joesatch
    tapi kalo aku, jujur, aku lebih sering mengkhayalkan kenikmatan surga daripada siksaan di neraka. mungkin gara2 keinginan menikmati tubuh perawan sepuasnya…yang belum bisa kunikmati di dunia nyata …

    itulah mengapa iblis getol mengajak manusia ke neraka jahanam …
    biar bisa menikmati perawan surga sepuasnya …

    wakakkakaaa …

  23. @ Evy
    Iya, prinsip yang bagus, Bu. Ikhlas sajalah menyembah Allah :mrgreen: Ini yang sedang diusahakan :mrgreen:
    Gambarnya kekanakan? Wah, sudah jadi hobi, Bu. Susah dihilangkan ;)

    @ rajaiblis
    Mesuuum… :P

  24. @ joesatch

    tapi kalo aku, jujur, aku lebih sering mengkhayalkan kenikmatan surga daripada siksaan di neraka. mungkin gara2 keinginan menikmati tubuh perawan sepuasnya…yang belum bisa kunikmati di dunia nyata :P

    Jangan2 itu tujuanmu yg sebenarnya ya?

  25. Eh, ngomong2 soal kenikmatan surga, dulu pernah ada cerita tentang seorang syekh. Beliau bicara begini sama seseorang (entah syekh lain, atau mungkin muridnya sendiri):

    “Apakah kita di surga bisa melaksanakan shalat?”

    “Lho, untuk apa? Tidak perlu shalat; bukankah Allah akan menampakkan wajah-Nya di hadapan para penghuni surga?”

    “Sayang sekali kalau begitu; padahal hal yang paling menenangkan bagi saya di dunia ini adaah shalat.”

    Jadi?

    Apa surga itu isinya kenikmatan relatif untuk setiap orang, ya… :???:

  26. Heaven nor Hell…

    klo mnurut gw sih, yang namanya nraka itu ga da…
    klo mnurut gw sih, ‘orang yang ada di lantai 2′ itu ga da niat bikin neraka, klo ada neraka… knapa ‘orang2 itu’ bikin manusia klo sebenernya ‘orang2 itu’ pengen manusia masuk ‘lantai 2 dengan cat putih’???

    heheheh….

  27. Well, kalau neraka nggak ada, sebenarnya bagus. Tapi entahlah. Sudah saya bilang, saya miris kalau harus dimasukkan ke neraka :P

  28. should I say… :P
    ‘Mungkin’

    klo menurut pengalaman gw…
    kita tahu hal2 tsb dari hati…

    heheh…

  29. Teringat kata seseorang:”‘sudahlah diam saja”

    hehe….

    Mujngkin Surga-Neraka itu gunanya memberikan tujuan hidup bagi kita..hehehe….

    kalau tidak, itulah, life is pointless, walau sekarang juga…..

    haha…. daripada dikbilang hidup gak ada tujuan… mungkin kalau begitu kenyataannya, banyak yang udah nyimeng..wakakaka

  30. btw…
    [stelah beberapa detik memperhatikan...]

    cewe yang ngewakilin nraka itu topless yah.. ???
    lol

    [satu lagi alasan neraka lebi baik...]

    hehhe… :P

  31. Entahlah, bukan kewenangan manusia menunjuk-nunjuk sesamanya bakal dicemplungkan ke mana :mrgreen:

    Soal yang satu lagi, no comment :lol:

  32. hehehe….
    klo bgitu bagaimana nasibku… :P
    lol

    …Godless…

    duuluu bgt, gw sempet mikir…
    neraka itu cuman isepan jempol.. :D

    neraka itu strategy si kakek supaya cucunya tdk bandel…

    neraka itu strategy si orang baik untuk mencegah orang jht mlakukan kjahatan…

    heheheh… :P

  33. Kalo ga ada neraka maka ga ada gunanya ada “orang baik dan orang jahat”

    Bukannya apa….

    tapi kalau memang ada dan dapetnya neraka… ga bisa bayangin kayak apa sakitnya… tapi kalo dapet surga… ga bisa bayangin enaknya…

    Mungkin itu.. dan gw milih surga…

  34. suka postingnya,, untungnya itungan Allah ga sama sama itungan kita,, kalo sama ama itungan kita, dijamin banget ga bakal masuk surga,,

    pengennya sih bisa cinta tanpa embel embel dan anceman,, tapi agak susah,,

  35. Tuhan bisa membuat saya, tentu juga bisa menghapus selamanya. Hapus saja. Shift+delete, enter. Lenyap tanpa sisa.

    terus terang, itu kata-kata paling menakutkan.

    mungkin karena pada dasarnya manusia ingin ada?
    mengada?
    diadakan?

    rasanya pernah denger kata-kata ini dimana, ya..///

  36. @ p4ndu_454kura
    Ada benarnya. ‘Hukuman’ itu seharusnya ada. Konsep ini sebenarnya bisa diadopsi dari konsep Purgatory dari Divine Comedy-nya Dante Alighieri yang tersohor itu.

    Oh, saya bukan pengikut ajaran Dante atau Katolik Roma klasik, hanya menemukan kemiripan saja. Toh umat Islam mainstream yang konservatif sekalipun juga memakai konsep ini bukan? Walau dalam Islam neraka dan Purgatory tidak dibedakan.

    @ Rizma Adlia
    Neraka itu konsekuensi dari sifat Allah yang Maha Adil. Kita dihukum karena kita perlu mendapatkannya.

    Begini, kalau saya punya kekuasaan, saya akan masukkan semua manusia ke surga, dari Nabi sampai Diktator Fasis. Inilah sifat pengasih yang mungkin saya punya. Pertanyaannya, bagaimana dengan Sang Maha Pengasih? Apakah akan kurang rasa pengasihnya dari saya?

    Sayang kita harus berhadapan dengan atributnya yang lain yaitu Maha Adil. Rentenir, misalnya, jangan harap langsung bisa melenggang masuk surga. Itu makanya saya sampai saat ini berpegang pada prinsip neraka sebagai Purgatory, jadi ‘temporary dip’ ke kawah api… :P

    @ halludba72623
    Jadi hilang itu menakutkan. Horor-nya beda, saya paham.

    Tapi kalau itu harga yang mesti dibayar demi lepas dari siksaan abadi, akan saya bayar :)

  37. mungkin karena pada dasarnya manusia ingin ada?
    mengada?
    diadakan?

    Menyeramkan atau tidak, itu relatif.

    Tergantung siapa yang di-‘delete’. Apabila orang tersebut adalah orang yang haus eksistensi, maka dia mungkin rela mendapat ganjaran neraka daripada harus menghilang di tengah kegelapan.

  38. Mengingat pesatnya perkembangan paham ateisme, mestinya sudah banyak manusia yang mengesampingkan arti eksistensi. Toh sudah banyak yang percaya bahwa mati adalah akhir segalanya? :lol:

  39. ,,, Ga tau nih nyambung apa ga,,
    Ma jadi inget ada cerita tentang orang yang namanya Rabi’ah al Adawiyah,, di ceritanya dia bawa obor sama air, dan dia ditanya orang mau ngapain, trus dia jawab (kayanya ga persis gini d)
    ‘aku akan membakar surga dan memadamkan neraka agar manusia tunduk pada Allah karena cintanya, bukan karena takut pada Allah ataupun mengharap imbalan dariNya’

  40. Purgatory itu apa?? (sorry,,)

    Ma cuma ga kebayang aja kalo abis kematian ga ada apa apa lagi (atau Ma jadi percaya itu),, Ma bakal jadi gimana ya,,??

  41. Wah, saya pernah dengar soal memadamkan neraka itu… Entah valid atau palesu, saya nggak tahu, tapi ya, rasanya cukup menyejukkan hati :)

    Eh? Purgatory kalau nggak salah salah satu dogma Katolik Roma Klasik. Selain surga dan neraka yang abadi, ada Purgatory. Di sini kalau kata dogmanya, tempat penyucian dosa, jadi disiksa sementara dulu. Dan setahu saya, Protestanisme kebanyakan menolak dogma ini.

    Kalau dalam Islam pada umumnya, keduanya ‘kan nggak dibedakan, cuma di neraka ada yang kekal siksaannya, ada yang tidak. Uh, atau salah satu dari tujuh neraka itu berfungsi mirip Purgatory, saya kurang paham juga :?

    …Uh, Purgatory juga merupakan dungeon rahasia di game Shadow Hearts 3 yang katanya sangat susah… Walau saya menyelesaikannya dalam waktu singkat *nyombong* :lol:

  42. @ death berry :
    hayyuh. berarti saya termasuk orang haus eksistensi?

    @ mr. geddoe : harga yang dibayar ya….
    saya belum pernah merasakan neraka, jadinya…. :)

  43. terus kalau reinkarnasi itu gimana? apa mereka masuk surga/neraka dulu sebelum bereinkarnasi?

    atau topik ini cuma terbatas dalam sudut pandang islam/kristen aja ya?

    sori kalau salah tempat :)

  44. @ halludba72623
    Ya, coba saja dulu, kalau ternyata nggak bisa menahan siksa neraka, baru dihilangkan, hehehe :mrgreen:

    @ mardun
    Hmm, sebenarnya kita nggak bisa bilang semua umat Islam atau Kristiani menolak konsep reinkarnasi. Dalam Kristiani, konsep ini dianut beberapa gereja, dan dalam Islam, dianut sebagian aliran sufisme :?

    Dan kalau saya boleh berkomentar, rasanya topik ini berlaku buat semua yang percaya (walaupun nggak terlalu percaya, yang penting ada rasa percaya) akan adanya hereafter.

    Soal apa mereka reinkarnasi setelah atau sebelum dimasukkan ke surga/neraka, rasaya hampir semua kepercayaan (seenggaknya yang saya tahu) percaya kalau mereka reinkarnasi terlebih dahulu :)

    Saya…? Saya nggak mendalami hal itu… :P

  45. Sudah panjang ya…

    wacana di fikiran memang bisa beragam, apalagi tentang hal-hal yang baru akan terjadi di suatu titik waktu di masa akan datang dan diyakini banyak orang akan kepastiannya.

    Yang tentang waktu tanpa batas yang memungkinkan amal tanpa batas. Agaknya perhitungan dan legalitas Allah dengan memberi keabadian di surga itu bukan karena terbatas atau tanpa batasnya kualitas amal. Mmm, terlebih yang pasti logikanya pun bisa saja berbeda dengan yang kita fikirkan,

    Trus kan Geddhoe, bagi saya agak rancu nih… Kan surga dan neraka itu perolehan akhir setelah dinilai rekor hidup kita di dunia, jadi batas waktu penilaian itu diambil start dari adanya kita di dunia dan berakhirnya dunia sendiri. Begitu dunia usai perhitungan amal pun dimulai. Jadi keberlanjutan hidup di Hereafter ini sudah berbeda dengan dunia… jadi gak bisa dipakai parameter hidup tanpa bats termsuk dengan hidup dia sesudah di dunia karena konteksnya sudah lain.
    Hehe ini menurut saya sih, atau beda ya maksudnya?

    Menyangkut rahasia umum, memang agaknya perlu diluruskan persepsi banyak orang ini ya? Mestinya seimbang…

    Tapi, kalau dicerna lebih jauh lagi, (mungkin) Kan katanya kalau kita bisa paham kecintaan Tuhan pada hamba-Nya dan kita tulus saat beramal kita juga bisa bahagia (tanpa menutup mata bahwa kebanyakan dosa2 yang berpotensi dilakukan adalah “nikmat”) di dunia ini, dan di sana nanti, ada konsekuensi yang menunggu, Surga dan Neraka, (dan sayangnya gak ada Deletion, Geddhoe, hi hi, lagian ngeri deh).
    Pastinya Dia udah punya perencanaan paling matang dan Maha seperti sifat-Nya dimana Skenario-Nya itu tak tertebak oleh siapapun. Bisa jadi udah yakin bakal “temporary dip” tiba-tiba langsung legal masuk Surga (maunya :) ), atau sebaliknya, yakin banget udah beramal yang bisa mengantarkan ke Syurga gak tahunya harus masuk Neraka :(

    Hmm lalu saya? Sudahlah, keduanya sama-sama menarik. Oh ya, kayanya gambarnya sama-sama gak mewakili, :P
    *kaburr*

  46. Begini, mbak… :P

    Kita masuk ke surga -> Karena Allah Maha Penyayang, Maha Pengasih, dst.
    Kita masuk ke neraka -> Karena Allah Maha Adil. BUKAN karena Maha Kejam atau Maha Pemurka.

    Jadi, kalau menurut filosofi saya, balasan yang baik itu bisa melebihi apa yang dilakukan, balasan yang buruk seharusnya hanya menurut apa yang dilakukan… :?

    Soal gambar, memang nggak mewakili, sih… :lol:

  47. Numpang nimbrung nih Mas…
    Tulisan mantaf Bung! Teruuuus…
    Hm.. Kalo saya tangkap, inti tulisan Anda “orang lebih takut masuk neraka daripada mengharap surga”, bukan begitu?
    .
    Tapi, seperti diposting beberapa poster terdahulu, kayaknya kita ga bisa itung-itungan dengan Allah seperti itu Mas. Kata guru ngaji saya, “dengan Allah kok perhitungan? Ada hal2 yg ga bisa dihitung…”. Lagian, afaik surga itu ga ada padanannya di dunia, jadi mau dibayangin kayak gimana juga, ga bakalan nyampe imajinasi kita. Kalo kata kitab sih, ada sungai yang airnya susu, dsb…
    .
    Jadi inget komiknya Daikichi’s salesmanship, “menghindari kesengsaraan itu lebih sering dimiliki para pembeli dibandingkan mengharap kenikmatan”.

    Btw, itu gambarnya buat sendiri ya? Keren uy! Suka gambar ya?
    CMIIW :-)

  48. Makanya. Saya ini ceritanya sedang belajar untuk tidak hitung-hitungan sama Yang Maha Kuasa.

    Gambar? Iya, itu bikin sendiri (bohong), cuma lima menit selesai (tambah bohong) :lol:

  49. Mereka ‘kan percaya kalau yang mereka lakukan benar. Jadi mereka mikirnya dapat surga. Nggak mikir neraka.

    Prediksi ana, sih, begitu, ente gimana? :lol:

  50. iya,, kan itu ga salah,, itu sih cuma mereka yang bilang,,

    SCTV terlalu berlebihan!!!!!puluhan ribu alumni STPDN/IPDN telah mengabdi di tanah air Indonesia ini.apa hanya karena kematian 37 praja yang notabenenya belum tentu disebabkan pembinaan senior, SEKOLAH QTA DIBUBARKAN??????saya TDK SETUJU!!! (Testi yang ma comot dari FSnya mereka,,)

  51. Kalau dikosongkan sementara, tentu ketika dibuka kembali, semua adalah siswa baru. Tinggal dibentuk budaya tanpa plonco. Tidak ada dendam.

  52. Astaghfirullahula’zim,
    Masya’ Allah, macam manalah boleh terdapat soalan sebegini terdapat di sini. Apa nak jadi dengan dunia ini? SYURGA vs NERAKA. Semestinya SYURGA yang ingin diinginkan dengan syarat perbuatan yang dilakukan di dunia ini mestilah seperti yang diinginkan oleh Allah s.w.t. sebaliknya NERAKA harus kita hindari, jauhi, dan lari daripadanya. Jadi ini bermakna kita juga harus melarikan diri di dunia ini daripada melakukan maksiat, larangan, kemungkaran dan dosa. Memang ketika melakukan kejahatan nikmatnya memang dirasai. Tapi, nikmat itu bakal ditamatkan setelah kita dicabut nyawa oleh Malaikat Izrail. Walau bagaimanapun, kenikmatan hidup di dalam SYURGA lebih daripada segala nikmat yang dirasai di dunia ini dan tak tergambar rasanya juga rasanya melebihi jangkauan daripada akal fikiran kita yang kita bayangkan itu. Kesimpulannya, salah sangat pendapat sebuah teks itu disampaikan. Itu pendapat saya. Tapi, inilah yang saya rasa logik juga.

  53. Wah, bukan begitu. Maksud saya, saya lebih sering memikirkan neraka daripada surga. Saya lebih sering menggigil karena takut neraka daripada ngiler karena ingin surga… Begitu… :D

  54. Kalo di surga dapet nikmat, kalo di neraka dapet siksa…

    Hmm….

    Saya jadi kepikiran kayak gini: semisal saya di surga, kejatuhan nikmat berlimpah ruah, apakah saya akan melepaskan memori saya?

    I mean, segitu nikmatnya surga sampai2 saya melupakan masalah2 saya di dunia. Padahal di dunia banyak sekali kejadian2 yang tidak terlihat dan tidak boleh dilihat) oleh publik, termasuk saya. Jadilah, semakin banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Saya takut, ketika saya masuk surga nanti saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena terhapus oleh nikmat. Wasted.

    Padahal ‘nikmat surgawi’ dalam definisi saya adalah penjelasan tentang segala sesuatu yang terjadi di dunia mulai dari Kejadian sampai Hari Kiamat, tanpa terlewat satu hal pun.

    Sekian

    P.S: maaf kalo agak OOT. Cheers :D :D

  55. Itu sudah pernah saya pikirkan, Mas. Coba, contoh lainnya, bagaimana kalau kita masuk surga, tapi semua keluarga dan teman-teman kita masuk neraka, apa kita masih bisa bahagia?

    Atau surga itu cuma versi super kuat dari nge-fly? :mrgreen:

    Hahaha, tapi kalau menurut kepercayaan yang saya pilih untuk anut, surga dan neraka itu bukan sekadar taman serta api-api menyala seperti yang diartikan orang banyak :P Seharusnya konsep keduanya itu di luar persepsi manusia :D

  56. Pingback: Ngomong sendiri, mikir sendiri,, « Ma-Me-Ma,, Just being Me!!!!

  57. Pingback: Serdadu Bunuh Rakyat Kecil = Demokrasi Bunuh Komunis « Parking Area

  58. surga atau neraka? saya lebih cenderung memikirkan bagaimana saya bisa bermanfaat di dunia dulu. percuma menuntut surga atau neraka. yang hanya bisa menemani adalah amal ibadah yang ikhlas dari seseorang saja. dan bukan kita yang menilainya…

  59. wah yag lo bahas ini oke juga…baru sekarang gue mikir masalah ini, but honestly yang penting kuncinya kita mesti bisa menyelami PIKARAN PENCIPTA , karena DIALAH CREATOR ulung yang mengerti arti kenapa manusia di ciptakan, dan apa solusi terbaik bagi manusia dan gue rasa konsep neraka dan surga tidak sekedar apa yang lo bahas, jauh lebih dalam dari itu…dibutuhkan kesatuan yang mendalam dengan PENCIPTA sehingga kita akan memahami teori tentang neraka dan sorga.

    fren lo memang mantap memuka cakrawala persepsi manusia. tulisan ini penting buat kaum penceramah dan pengkotbah, sehingga mereka tidak berkotbah dengan cara menakut-nakuti jemaat atau jamaah just only with hell, but they try to open our mind how to use the chance of live in real world right now rightly.

Comments are closed.