Pernah terganggu oleh opini orang lain? Saya nyaris selalu mengalaminya. Memang, saya bertindak sesuai dengan apa yang saya anggap benar, tapi terkadang opini orang lain yang berseberangan dengan kita, terngiang-ngiang di kepala saya. Inilah kebiasaan jelek saya, segala yang kecil dan tidak penting dipikirkan terlalu dalam.
Contohnya? Yah, beberapa waktu belakangan saya kembali mempelajari kontroversi yang seperti ini. Memang, saya sudah lama menyatakan ketidaksetujuan saya akan vonis seperti itu. Tapi, adanya pihak lain yang bersikeras bahwa apa yang saya yakini adalah salah, terkadang memberi perasaan tidak tenang. Dan masih banyak sekali contoh lainnya.
Nah, beberapa waktu lalu saya membaca post ngawur di forum fanfic HotGame, yang dipost oleh seorang member senior; yang malah menuliskan sepenggal cerita hikmah tentang Luqman. Saya kemudian teringat, bahwa saya pernah mendengar cerita yang disampaikannya. Ternyata cerita inilah yang menenangkan hati saya , berkaitan tentang perbedaan pendapat.

“Yak, mengunyah Pocky seperti ini pun, bisa saja dianggap sebuah kedzaliman, tergantung sudut pandangnya!”
Lebih kurang, ceritanya seingat saya seperti ini. Mungkin beberapa sudah ada yang mendengar, sebab cerita ini cukup tersohor;
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Luqman memasuki pasar dengan anaknya — dan seekor keledai.
Ketika memasuki pasar, Luqman menaiki keledai, dan anaknya berjalan kaki.
Orang-orang di pasar pun mulai berkata-kata; “Orang tua yang kejam, anaknya dibiarkan berjalan kaki, dianya enak-enak di atas keledai.”Luqman pun terkejut. Padahal, ia tidak bermaksud mendzalimi anaknya. Ia pun kemudian turun, dan membiarkan anaknya menaiki keledai. Mereka pun berjalan kembali.
Namun, orang-orang di pasar malah berkata-kata; “Anak yang tidak berbudi! Ayahnya disuruh berjalan, dianya enak-enakan di atas keledai!”Semakin bingunglah Luqman; bukan maksudnya membuat anaknya terkesan durhaka. Ia pun kemudian naik bersama-sama anaknya. Dengan begini, masalah pun akan terpecahkan, gumamnya.
Namun orang-orang pun tetap mencibir; “Benar-benar kejam. Keledai mini begitu dinaiki berdua. Bisa pingsan, dia.”Luqman pun terpaku, dan akhirnya memutuskan agar ia dan anaknya berjalan saja. Dengan begitu, tidak ada yang dirugikan. Selesai masalah? Tidak, hujatan orang pun berubah haluan; “Nah, ini dia yang namanya bodoh. Punya keledai, tidak dinaiki.”
Akhirnya, Luqman pun menggotong keledainya, ketimbang menaikinya. Jelas, orang-orang pun langsung menganggap mereka berdua bodoh. Dan Luqman pun terus menggendong keledainya sampai keluar pasar…
Setibanya mereka di tujuan mereka, Luqman berkata pada anaknya;
“Kita tidak akan terlepas dari perkataan-perkataan orang. Maka, bagi orang-orang yang berakal, pertimbangannya hanya Allah saja. Pertimbangan bagi orang yang mengenal kebenaran, adalah kebenaran.”
Tentunya interpretasi anda bisa berbeda dengan saya, tapi, bagi saya, sepenggal cerita itu membuka mata saya bahwa karena sebenarnya yang Maha Adil, Maha Tahu, Maha Mengerti, serta Maha Penyayang itu cuma Tuhan saja, saya seharusnya bisa berbuat apa yang saya anggap benar (dengan catatan tanpa merugikan orang lain tentunya, sebab seutama-utama iman ialah, terpelihara manusia umum dari gangguanmu) walaupun ada pro-kontra terhadap apa yang saya kerjakan.
Pelajaran yang lain adalah, bahwa perbuatan apapun bisa saja salah apabila sudut pandangnya kita ubah. Misalnya gambar di atas. Katakanlah Mbak Saber diatas mengambil foto dirinya sambil mengunyah Pocky. Ada saja alasan yang bisa mengutuk perbuatan tersebut, misalnya uang yang dipakai buat membeli Pocky dan memotret itu lebih baik dipakai bersedekah, atau daripada berfoto dan sibuk urusan dunia, lebih baik dia mengaji, dan seterusnya
Padahal, tentu pikiran Tuhan yang Maha Luas itu tidak sesempit manusia-manusia hina bikinannya



Memang ….sudut pandang yang adil hanya milik Allah, SWT, tapi kita diberikan arahan melalui Rasul-Nya untuk melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Orang kaya dan miskin sama-sama mengemis di jalan, gimana hukumnya..apakah sama-sama masuk penjara dengan kurungan yang sama….?
Yang saya utarakan adalah supaya kita berani berbuat benar
Kalau kita merasa telah berbuat sesuatu yang benar, kita tidak perlu merasa takut, walaupun sebagian manusia ada yang memandang rendah perbuatan kita
Karena, kita tidak akan pernah lepas dari perkataan-perkataan manusia. Ah, tentunya dengan parameter ketat, tidak mengganggu manusia lainnya!
Sebab parameter kebenaran, adalah kebenaran. Komposisinya adalah hati yang ikhlas. Bukan manusia, siapapun manusianya — mbok penjual gudeg, dosen galak, Presiden, atau kiyai sejuta pesantren sekalipun
wah balik lagi aja ke Al-Quran dan hadist, klo ga ada disana ya ga usah di percaya, kok repot, itu kata wadehel khan Quran kudu di baca jangan cuman mentah2 nelen kata orang, hehehe sorry ya..iku nyeletuk belum kenalan
Betul, Bu. Memang segalanya berpulang ke hukum sempurna yang dimiliki Tuhan
Hehehe, cuma susahnya waktu hukum Tuhan dipelintir-pelintir…
Menurut sebuah buku yang ditulis Mahathir Mohamad, interpretasi Qur’an bisa beragam, dikarenakan oleh ketidaksempurnaan manusia. Sayangnya menurut pandangan saya banyak yang tidak memanfaatkan Qur’an sebagai media yang sangat baik untuk dibaca dan dipahami, melainkan hanya dipakai buat bahan jerit-menjerit
Hasilnya, terjadi monopoli interpretasi yang bisa menyesatkan. Oleh sebab itu, dalam mengkajinya, jangan enggan memakai hati dan logika. Jadi tidak hanya mentah-mentah menelan kata orang-orang
Salam kenal, Bu, makasih mampir
Saya juga pernah dengar cerita tentang itu…
YA begitulah manusia adanya…
Manusia sangat pandai dalam menghujat dan mencari kesalahan dan kelemahan orang lain…
Manusia juga terlalu angkuh memaksakan kebenaran subyektif versi sendiri…
Tetapi saya tetap bangga dan bahagia menjadi manusia…
Hahaha, memberi sedekah di masjid saja kalau dicari-cari kesalahannya bisa dihujat; yaitu tidak adil, hanya bersedekah di satu tempat, hanya bersedekah ketika di masjid, dan seterusnya.
Yak, saya juga bangga menjadi manusia biasa ^^
Lho? Kok ada Saber di sini!?
*ehem (serius)*
Katanya,
(kata mas wadehel)
Tapi, yang ini benar juga:
(modifikasi oleh mas antobilang)
Jadi??
Gimana dong!??

Biar lebih enak dilihat, mas
Makanya, itu yang mau saya bilang. Jangan mudah goyah dalam membela apa yang kita percayai.
Ini sebenarnya merupakan respon saya terhadap fakta bahwa ada makhluk hidup yang masih ngeyel ketika berhadapan dengan argumen-argumen yang kokoh. Hahaha ^^
Hi… Salam kenal semua….
Salam kenal juga

Ah, URL yang sangat bagus!
Ah…thanks pujiannya… tapi sori yah tadi tuh keliru, yang itu punya emakku
Maklum baru kemarin aku kenal wordpress sih…
Yang ini moga2 ga keliru lagi deh…
Ah, tidak apa, menambah ilmu saya
Wah, fan Suikoden ternyata…
interpretasi orang pasti berbeda, mengingat pengalaman, jenjang pendidikan, dan mood seseorang pasti berbeda2.
intinya, jangan terlalu serius ngurusin interpretasi orang dengan kita, yang penting menurut kita OK ya udah. jalalanin aja.
Setuju
tenang sobat…
itu biasa. saya juga sudah sering disebut sebagai ahlul bid’ah, kok
Lha, tidak berarti itu benar, ‘kan?
Lho, benar menurut pihak A kan belum tentu benar dari pihak B, kan?
Makanya, segala sesuatu di dunia ini bisa benar, tergantung dari sudut mana si pengamat melihat™, tapi kadang segala sesuatu di dunia ini bisa salah, tergantung dari sudut mana si pengamat melihat™.
Hehehehe…
@ p4ndu_454kura
Masalahnya, terkadang terjadi pemaksaan pendapat…
@ Death Berry
Makanya semestinya nggak perlu sewot, tho?
Numpang nimbrung nih Mas…
Kita lihat konteksnya sih Bung… Kalo untuk video kamera dan sebangsanya, saya ga mau komen ah, kurang ilmu..
.
Terkadang, pendapat orang di sekitar kita juga perlu kita dengar kan?
Betul. Apabila ada yang dipertentangkan, selain menggunakan akal, rujuklah pada orang yang berilmu. Misalnya para mujtahid.
Setelah mendengarkan masukan, barulah kita tetapkan posisi kita… Kalau semuanya sudah dipikirkan dan merujuk ke berbagai sumber, maka biarpun ijtihadnya berbeda-beda, umat tidak akan dibebankan sekarung laknat…
Setujuuuuu…
btw, itu gambar menurut saya mesum sekali, sangat sangat mesum!!!
hehe
Lha, mesum? Bagian mananya? Bagian mananya?
*pura-pura panik*
Selau ada kesalahan dalam tindakan yang sudah dianggap benar, jadi kebenaran di dunia ini relatif.
Bilang sama tukang ngotot sana…
aduh…itu gambar bersalaaaah!!!! jadi napsong™ kepengen beli pocky. pockyyy… nyam!
betul juga. semua itu tergantung dari sudut
matapandang si pengamat.ada contoh lain. seseorang sering memberi makan kucing jalanan. sementara orang yang melihat hal tersebut mempunyai pikiran yang berbeda-beda.
dan masih banyak pikiran lainnya.
jadiii…intinya
pengendalian dirisaya setuju kalau sudut pandang orang itu berbeda-beda. kadang positif,kebanyakankadang negatif.Pandangan saya, sih… Saya yakin saja kalau sudut pandang Tuhan itu lebih luas
Jadi kalau dicap macam-macam sama manusia, jangan takutlah… 
good…
kembali ke Yang Tidak Pernah Terdekonstruski…
Roger
Wah, tulisan-tulisannya bagus mas. Iya, yang penting open mind thd sudut pandang orang lain. Btw saya baru tahu kalau perang dalam dunia blog itu seru banget hihi. Met kenal mas ya..
Woh, sama-sama mas
Terkadang seru, ya? Yah, sebenarnya gontok-gontokan nggak enak juga sih…
Hehehe
…
yang pasti dlm pilihan2 yang pernah gw temui…
‘loe ga bakal pernah bisa membuat semua pihak senang…’
…
heheh…
Hukum tak tertulis…
Ya akhi, cerita Luqman di atas benar adanya. Wallahu a’lam. Namun, pengambilan contohnya yang–maaf–sedikit kurang tepat sasaran terhadap persoalan yang akhi hadapi (yakni hukum gambar bernyawa). Atau bisa jadi–maaf–sedikit kurang pas dalam mengambil faedah dari kisah tersebut (yakni bukan permasalah perbedaan pendapat). Saya yakin pembaca semua mengetahui bahwa kisah tersebut berisi berbagai perkataan orang yang berbeda-beda terhadap apa yang mereka lihat, tergantung dari sisi mana dia memandang. Namun, perhatikanlah nasihat Luqman di akhir paragraf (justru ini yang terpenting):
Setibanya mereka di tujuan mereka, Luqman berkata pada anaknya; “Kita tidak akan terlepas dari perkataan-perkataan orang. Maka, bagi orang-orang yang berakal, pertimbangannya hanya Allah saja. Pertimbangan bagi orang yang mengenal kebenaran, adalah kebenaran.”
Nah, ternyata yang menjadi ukuran kebenaran (bagi orang yang berakal) bukan perkataan orang per orang atau menurut perasaan kita, melainkan kebenaran itu diukur dari apa yang Allah (dan Rasul-Nya) katakan. Maka, jika kisah ini ingin (dipaksakan) dianalogikan dengan persoalan perbedaan pendapat, tentu tidak tepat. Oleh karena itu, masalah hukum gambar bernyawa (apa pun medianya), bukan masalah bagaimana orang per orang menimbangnya atau memandangnya atau bukan masalah perbedaan pendapat, melainkan masalah yang telah ditetapkan hukumnya oleh Allah (dan Rasul-Nya). Bagi orang yang berakal, dia akan menimbangnya dari syariat, yakni dalil-dalil yang menunjukkan larangan menggambar makhluk bernyawa (apa pun medianya). Silakan lihat dalil-dalilnya dari Kitabullah wa Sunnah yang telah diuraikan dengan sangat jelas oleh para ulama (di blog saya).
Insya Allah, penjelasan ini dapat sedikit menenteramkan hati akhuna. Barakallahu fiikum wa jazakallah khairan.
Pondok Gede, 27 Rabi’uts Tsani 1428/15 Mei 2007
Antosalafy
Hehehe, masalahnya prinsip dasar kita dalam beragama (atau berislam, lebih tepatnya) sangat berbeda, mas
Soalnya saya termasuk golongan yang mempertanyakan hegemoni dan keaslian dari literatur yang dipergunakan saat ini
Kasarnya, kalau dalil dan akal sehat saya beradu, saya memilih untuk jadi ’sombong’ dan menyalahkan dalilnya (dengan mengecap dalil tersebut tidak valid), sebab itulah prinsip saya, untuk menjadi non-konformis 
sebetulnya kalau antum tahu, tidak ada pertentangan kok antara dalil dengan akal sehat. Sebenarnya yang bertentangan itu bukan akal sehat, melainkan hawa nafsu diri kita. Karena setiap insan asalnya dibekali fitrah (kesucian hati) yang membenarkan perkataan Allah dan Rasul-Nya. Cuman, karena hawa nafsu lebih dominan maka kebenaran dari dalil itu terkalahkan. Buktinya, –maaf nih ambil samplenya–antum sendiri bilang: “Kasarnya, kalau dalil dan akal sehat saya beradu, saya memilih untuk jadi ’sombong’ dan menyalahkan dalilnya (dengan mengecap dalil tersebut tidak valid)”. Nah,–maaf ya– hawa nafsu antum yang dikedepankan. Kalau akal sehat antum yang dipakai, tentu antum akan meneliti kevalidan atau keabsahan dari dalil tersebut dan tidak buru-buru menyalahkan dalil. Karena dalil itu dari Alquran dan Hadits. Kalau dari Alquran, antum bisa telurusi surat apa dan ayat berapa. Kalau itu hadits, antum bisa telusuri riwayat siapa, shahih atau dhaif atau madhu’ seperti penjelasan ulama ahli hadits. Begitu kira-kira penjelasannya akhi. Semoga antum termasuk orang-orang yang suka menggunakan akal sehat. Mohon maaf jika ada kesalahan ucap. Terima kasih waktu diskusinya.
Wah, mas, masalahnya tidak sesederhana itu. Kalau saya tidak ‘mengedepankan hawa nafsu’ berarti saya harus mengakui bahwa Rasulullah SAW adalah orang barbar mata keranjang yang suka main perempuan dan berhati sempit…
Dan kalau saya harus memilih antara ‘mengedepankan hawa nafsu’ dan menghina nabi, saya pilih yang pertama
Btw diskusinya agak adem, ya
*gelar tiker bawa teh botol dan popcorn*
*usir penonton*
Saya nggak ngerti maksud kalimat antum: “Kalau saya tidak ‘mengedepankan hawa nafsu’ berarti saya harus mengakui bahwa Rasulullah SAW adalah orang barbar mata keranjang yang suka main perempuan dan berhati sempit…”
Boleh minta penjelasannya?
Silakan baca tulisan saya di sini
makanaaaaaan…… mana..mana..
Beli dong
Makan, makan…
jadi ngerasa kesindir …
dalam skala kecil atau besar … sering atau tidak … sayapun sering melakukan seperti halnya “orang-orang yang berceloteh kepada Luqman” tersebut … menilai sesuatu dan melakukan judgement hanya dari sudut pandang diri sendiri …
ahh … tapi kalaupun ada yang protes (baik orang lain maupun diri sendiri), saya masih punya senjata pamungkas “tenang … Tuhan kan maha pengampun dan maha mengetahui keterbatasan hamba-Nya” … hahahha …
Seharusnya, sih Beliau itu memang Maha Pengampun, ya