Saya Hebat

Ternyata tanpa saya sadari, semakin hari saya semakin hebat saja.

Barusan ini Mas Joe yang agung mengirimkan setetes wangsit melalui jasa instant messaging, bahwasanya blog yang diurusi oleh beliau ternyata termasuk dalam kasta atas dunia perblogan bumi pertiwi (entry yang bersangkutan bisa dipelototi di [sini]). Saya sendiri sudah membaca berita serupa lewat tulisannya Mas Anto, dan kemudian iseng melemparkan data blog sendiri. Hebatnya, ternyata blog saya yang belepotan dan tidak higienis ini juga tercantum di sana.


[sumber]

Padahal saya ngeblog murni demi kemajuan nusa, bangsa, dan agama saja. Karena saya tahu, pandangan orang seperti saya ini dibutuhkan. Sama sekali tidak mengharapkan hits, hanya mengharap ridha Yang Maha Kuasa.

Pengikut setia klik di sini. »

id-WP Blogger Awards, Akhirnya

Voila, inilah hasil Pemilu WP yang diadakan nyaris setengah tahun yang lalu. :P

Isi dari konten yang disertakan langsung dikupipes dari panitia.

*insert a click-to-view-esque sentence here*. »

The Art of Believing

Lagi, Fundamentalisme dan Kemanusiaan

Kupipes trilogi kasus perkosaan heboh di Saudi Arabia, dari Telegraph.

Masih berkaitan dengan Wahhabisme. »

There’s Always Another Semester

Desho?
(=w=) »

God Bless the Internet

Kalau saya perhatikan, ada satu plot twist stereotip dalam fiksi yang mungkin sudah sedikit meluntur kedigdayaannya. Perpisahan. Padahal, mungkin, bahkan sampai dekade yang lalu, perpisahan masih merupakan force majeure dalam kelangsungan plot sebuah cerita.

Perpisahan yang seperti apa? Yah misalnya, kalau dalam drama-drama platitudinal yang diproyeksikan untuk pasar remaja, perpisahan karena sang pacar tiba-tiba dijebloskan ke sebutir universitas di negeri bule. Atau kisah sedih seorang veteran perang yang menemukan istrinya menikah lagi sepulang main tembak-tembakan. Atau kasus-kasus long-distance relationship. Pokoknya yang seperti itu. Suatu dilema di mana komunikasi semestinya lumpuh, dan hati semestinya teriris-iris, melolong-lolong dan meraung-raung.

Nah, seefektif apa plot twist seperti ini, dengan setting mutakhir? »

“Don’t Drag Me Down”…?

Kita lupakan sejenak perkara hegemoni intelektual MUI. Lupakan dulu egoisme kalangan mayoritas yang memaksakan interpretasi versi mereka (atas teks yang memang bukannya tidak ambigu) pada kaum minoritas, sebuah tirani yang bisa jadi lebih berlandaskan tendensi konservativisme-autoritarian ketimbang pemahaman yang didedikasikan untuk mencari titik temu. Selain membuktikan kelemahan kadar sekularisme yang sedang diterapkan, memang insiden ini mencerminkan masih belum terjaminnya kebebasan tiap individu untuk menentukan apa yang semestinya ia percaya; menyedihkan, ketika butiran konsep thoughtcrime a la 1984 berlaku secara resmi. Bagaimana tidak, toh distopia intelektual a la Iran (yang katanya menganggap freethinking sebagai tindakan kriminal) saja bisa dicap positif atas basis solidaritas religius murni.

Lupakan juga soal kegagalan Inggris melenggang ke pentas Euro 2008. Atau soal manusia pohon, reog a la Malaysia, atau malah kembennya Dewi Persik. Lupakan semuanya.

Soalnya yang ini sedikit menarik… »

Goblok Teriak Goblok

Di kamar saya, ada TV.
Saya bosan.
TV saya nyalakan.
Klik.
Nyala.
HBO.

A lesson about goblokness. »

AC

Di kamar saya, ada AC.
York.
Casenya sudah kusam.
Saya nggak punya remotenya.

AC bangsat… »

Rencana Buat Masa Depan

Halaman Berikutnya »


Terms of Service

In God We Trust

RSS Rekomendasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Flyer

Enam Puluh Tiga Kosong

Malt Drink

Bangkai Kembang Api

Cap Doraemon

More Photos

Package

Advertising




Berdiskusilah secara dewasa...
Berhenti menggeneralisasi - dunia tidak sesederhana itu.
Separation of church and state!

Hotline



Catalog


Malu bertanya, sesat di jalan...

Arsip

Active Customers

web stats

Saldo

  • 66,555 potch